Anda di halaman 1dari 27

TOPIK V PENGUJIAN BAHAN

5. 1 PENDAHULUAN

Pengujian bahan bertujuan mengetahui sifat-sifat mekanik bahan atau cacat pada bahan/produk, sehingga pemilihan bahan dapat dilakukan dengan tepat untuk suatu keperluan. Cara pengujian bahan dibagi dalam dua kelompok yaitu pengujian dengan merusak (destructive test) dan pengujian tanpa merusak (non destructive test). Pengujian dengan merusak dilakukan dengan cara merusak benda uji dengan cara pembebanan/ penekanan sampai benda uji tersebut rusak, dari pengujian ini akan diperoleh informasi tentang kekuatan dan sifat mekanik bahan. Pengujian tanpa merusak dilaksanakan memberi perlakuan tertentu terhadap bahan uji atau produk jadi sehinga diketahui adanya cacat berupa retak atau rongga pada benda uji /produk tersebut. Pengujian dengan merusak ( destructive test) terdiri dari: 1. Pengujian Tarik (Tensile Test) 2. Pengujian Tekan (Compressed Test) 3. Pengujian Bengkok ( Bending Test) 4. Pengujian Pukul ( Impact Test ) 5. Pengujian Puntir ( Torsion Test) 6. Pengujian Lelah (Fatique Test) 7. Pengujian Kekerasan ( Hardness Test). Pengujian tanpa merusak ( non destruktive test) terdiri dari: 1. Dye Penetrant Test 2. Electro Magnetic Test 3. Ultrasonic Test 4. Sinar Rongent Pengujian Bahan untuk mengetahui struktur mikro dan komposisi bahan dilakukan dengan cara Metalografis dan Spectrograf. Pengujian tersebut diatas memerlukan piranti keras maupun piranti lunak yang baku dan

129 | P e n g u j i a n B a h a n

terstandar, sehingga hasil pengujian dapat diterima berbagai kalangan dan dapat dijadikan acuan sebagai data dalam perancangan sistem maupun produk.

5. 2 TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu : 1. Menjelaskan sifat-sifat dari bahan 2. Menjelaskan definisi pengujian bahan 3. Menjelaskan klasifikasi metode pengujian bahan 4. Menjelaskan metode pengujian kekerasan bahan 5. 3 PRASYARAT Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyusunan makalah ini yaitu sifat-sifat dari bahan, pengertian pengujian bahan, klasifikasi metode pengujian bahan, dan metode-metode pegujian kekerasan.

5. 4 URAIAN MATERI 5.4.1 Sifat-Sifat Mekanik Bahan Logam

Sifat-sifat mekanik bahan sangat dipengaruhi oleh jenis dan komposisi bahan logam serta perlakuan terhadap bahan tersebut. Sifat - sifat mekanik logam terebut antara lain, keras (Hardness), Liat ( ductile), lunak (malleable), tangguh (Toughness). Bahan logam dikatakan keras apabila memiliki ketahanan terhadap penetrasi terhadap logam lain atau bahan pembanding standar ( sebagai contoh bahan pembanding adalah intan - intan), atau memiliki kemampuan melakukan penetrasi terhadap logam lain. Bahan Logam

dikatakan Liat apabila memiliki kemampuan dibentuk dengan proses penarikan dingin tanpa putus (contohnya tembaga ). Bahan logam dikatakan lunak apabila mampu dibentuk dengan proses penekanan dingin tanpa pecah/retak ( contohnya timah). Bahan logam dikatakan tangguh apabila mampu menahan

pembebanan gabungan dan berulang dalam rentang waktu tertentu tanpa rusak. Sifat-sifat mekanik tersebut dapat dirubah apabila kita merubah komposisi

130 | P e n g u j i a n B a h a n

bahan tersebut atau memberikan perlakuan panas terhadap bahan tersebut. Bila dikaitkan dengan proses produksi , maka sifat bahan bisa dikategorikan mampu mesin (machine ability) atau tidak mampu mesin ,serta mampu bentuk atau tidak mampu bentuk. Apabila bahan dapat dikerjakan dengan mudah pada mesin konvensional ( mesin produksi yang mamakai alat potong dan menghasilkan tatal), disebut mampu mesin. Logam mampu bentuk apabila dapat dibentuk dengan proses penekanan tanpa retak atau pecah.

5.4.2

Definisi Pengujian Bahan

Secara umum pengujian bahan dapat didefenisikan sebagai suatu metode yang penting untuk mengetahui kualitas dan kuantitas dari suatu bahan yang akan kita gunakan untuk kepentingan dalam pembuatan produk yang baik. Dalam pengujian bahan yang berkaitan dengan penggunaan logam keras dan lunak ini, kita memaklumi bahwa teknologi yang berkembang saat ini di negara kita masih dalam tahap pengembangan teknologi tepat guna dan rekayasa industri yang tingkat resikonya tidak terlalu tinggi, sehingga ketelitian dalam perancangan pun menjadi rendah, sebab perancangan konstruksi mesin berteknologi sederhana tentunya jauh berbeda dengan perancangan konstruksi mesin berteknologi tinggi, dan yang pasti perancangan konstruksi mesin berteknologi tinggi memerlukan pengolahan logam yang berkualitas pula. 5.4.3 Metode-Metode Pengujian Bahan

Dalam pengujian bahan ada beberapa metode yang digunakan yaitu sebagai berikut: 5.4.3.1. Pengujian Kekerasan Pengujian kekerasan adalah satu dari sekian banyak pengujian yang dipakai, karena dapat dilaksanakan pada benda uji yang kecil tanpa kesukaran mengenai spesifikasi. Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical properties) dari suatu material.

131 | P e n g u j i a n B a h a n

Kekerasan suatu material harus diketahui khususnya untuk material yang dalam penggunaanya akan mangalami pergesekan (frictional force) dan dinilai dari ukuran sifat mekanis material yang diperoleh dari DEFORMASI PLASTIS (deformasi yang diberikan dan setelah dilepaskan, tidak kembali ke bentuk semula akibat indentasi oleh suatu menda sebagai alat uji. Dalam hal ini bidang keilmuan yang berperan penting mempelajarinya adalah Ilmu Bahan Teknik (Metallurgy Engineering). Mengapa diperlukan pengujian kekerasan? Di dalam aplikasi manufaktur, material terutama semata diuji untuk dua pertimbangan: yang manapun ke riset karakteristik suatu material baru dan juga sebagai suatu cek mutu untuk memastikan bahwa contoh material tersebut menemukan spesifikasi kualitas tertentu . Pengujian yang paling banyak dipakai adalah dengan menekankan penekan tertentu kepada benda uji dengan beban tertentu dan dengan mengukur ukuran bekas penekanan yang terbentuk diatasnya, cara ini dinamakan cara kekerasan dengan penekanan. Kekerasan adalah kemampuan bahan menahan penetrasi/ penusukan/ goresan dari bahan lainya ( biasanya bahan pembanding standar/ intan), sampai terjadi deformasi tetap. Kekerasan didefinisikan sebagai ketahanan sebuah benda (benda kerja) terhadap penetrasi/daya tembus dari bahan lain yang kebih keras penetrator). Kekerasan meru-pakan suatu sifat dari bahan yang sebagian besar dipengaruhi oleh un-sur-unsur paduannya dan kekerasan suatu bahan tersebut dapat berubah bila dikerjakan dengan cold worked seperti pengerolan, penarikan, pemakanan dan lain-lain serta kekerasan dapat dicapai sesuai kebutuhan dengan perlakuan panas. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil kekerasan dalam perlakuan panas antara lain; Komposisi kimia, Langkah Perlakuan Panas, airan Pendinginan, Temperatur Pemanasan, dan lain-lain Proses hardening cukup banyak dipakai di Industri logam atau bengkel-bengkel logam lainnya.Alat-alat 132 | P e n g u j i a n B a h a n

permesinan atau komponen mesin banyak yang harus dikeraskan supaya tahan terhadap tusukan atau tekanan dan gesekan dari logam lain, misalnya roda gigi, poros-poros dan lain-lain yang banyak dipakai pada benda bergerak. Dalam kegiatan produksi, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu produksi adalah merupakan masalah yang sangat sering dipertimbangkan dalam Industri dan selalu dicari upaya-upaya untuk mengoptimalkannya. Pengoptimalan ini dilakukan mengingat bahwa waktu (lamanya) menyelesaikan suatu produk adalah berpengaruh besar terhadap biaya produksi. Hardening dilakukan untuk memperoleh sifat tahan aus yang tinggi, kekuatan dan fatigue limit/ strength yang lebih baik. Kekerasan yang dapat dicapai tergantung pada kadar karbon dalam baja dan kekerasan yang terjadi akan tergantung pada temperatur pemanasan (temperatur autenitising), holding time dan laju pendinginan yang dilakukan serta seberapa tebal bagian penampang yang menjadi keras banyak tergantung pada hardenability. Langkah-langkah proses hardening adalah sebagai berikut : 1. Melakukan pemanasan (heating) untuk baja karbon tinggi 200-300 diatas Ac-1 pada diagram Fe-Fe3C, misalnya pemanasan sampai suhu 8500, tujuanya adalah untuk mendapatkan struktur Austenite, yang salah sifat Austenite adalah tidak stabil pada suhu di bawah Ac-1,sehingga dapat ditentukan struktur yang diinginkan. 2. Penahanan suhu (holding), Holding time dilakukan untuk mendapatkan kekerasan maksimum dari suatu bahan pada proses hardening dengan menahan pada temperatur pengerasan untuk memperoleh pemanasan yang homogen sehingga struktur austenitnya homogen atau terjadi kelarutan karbida ke dalam austenit dan diffusi karbon dan unsur paduannya. Pedoman untuk menentukan holding time dari berbagai jenis baja: Baja Konstruksi dari Baja Karbon dan Baja Paduan Rendah Yang mengandung karbida yang mudah larut, diperlukan holding time

133 | P e n g u j i a n B a h a n

yang singkat, 5 15 menit setelah mencapai temperatur pemanasannya dianggap sudah memadai. Baja Konstruksi dari Baja Paduan Menengah Dianjurkan menggunakan holding time 15 -25 menit, tidak tergantung ukuran benda kerja. Low Alloy Tool Steel Memerlukan holding time yang tepat, agar kekerasan yang diinginkan dapat tercapai. Dianjurkan

menggunakan 0,5 menit per milimeter tebal benda, atau 10 sampai 30 menit. High Alloy Chrome Steel Membutuhkan holding time yang paling panjang di antara semua baja perkakas, juga tergantung pada temperatur pema-nasannya. Juga diperlukan kom-binasi temperatur dan holding time yang tepat. Biasanya dianjurkan menggunakan 0,5 menit permilimeter tebal benda dengan minimum 10 menit, maksimum 1 jam. Hot-Work Tool Steel Mengandung karbida yang sulit larut, baru akan larut pada 10000 C. Pada temperatur ini kemungkinan terjadinya pertumbuhan butir sangat besar, karena itu holding time harus dibatasi, 15-30 menit. High Speed Steel Memerlukan temperatur pemanasan yang sangat tinggi, 1200-13000C.Untuk mencegah terjadinya pertumbuhan butir holding time diambil hanya beberapa menit saja. Misalkan kita ambil waktu holding adalah selama 15 menit pada suhu 8500 . 3. Pendinginan. Untuk proses Hardening kita melakukan pendinginan secara cepat dengan menggunakan media air. Tujuanya adalah untuk

mendapatkan struktur martensite, semakin banyak unsur karbon,maka struktur martensite yang terbentuk juga akan semakin banyak. Karena martensite terbentuk dari fase Austenite yang didinginkan secara cepat. Hal ini disebabkan karena atom karbon tidak sempat berdifusi keluar dan terjebak dalam struktur kristal dan membentuk struktur tetragonal yang

134 | P e n g u j i a n B a h a n

ruang kosong antar atomnya kecil,sehingga kekerasanya meningkat. Proses pendinginan sendiri memiliki dua macam proses, yaitu : Proses Pendinginan Secara Langsung

Proses ini dilakukan dengan cara logam yang sudah dipanaskan hingga suhu austenite dan setelah itu logam didinginkan dengan cara mencelupkan logam tersebut ke dalam media pendingin cair, seperti air, oli, air garam dan lain-lain. Pada percobaan Jominy, kecepatan pendinginan tidak merata. Hal tersebut disebabkan karena hanya satu bagian/ujung (bagian bawah) dari benda uji diquench dengan semprotan air sehingga kecepatan pendinginan yang terjadi menurun sepanjang benda uji, dimulai dari ujung yang disemprot air. Perlu dibedakan pengertian kekerasan dengan kemampukerasan. Kekerasan adalah kemampuan dari suatu material untuk menahan beban samapai deformasi plastis. Sedangkan kemampukerasan adalah kemampuan suatu material untuk dikeraskan. Pendinginan di ujung yang disemprot dengan air pendinginannya lebih cepat dari pada ujung yang satunya karena bantuan udara/suhu ruangan. Jadi laju pendinginan terbesar terjadi di ujung benda uji yang disemprot air. Proses Pendinginan Secara Tidak Langsung

Proses ini dilakukan dengan cara, logam yang telah dipanaskan sampai dengan suhu austenite setelah itu logam didinginkan dengan cara menyemprotkan air pada salah satu ujung dari logam tersebut atau dengan cara didinginkan pada udara terbuka atau temperature kamar.

135 | P e n g u j i a n B a h a n

Adapun metode-metode pendinginan sebagai berikut : a. Quenching Quenching merupakan suatu proses pendinginan yang termasuk pendinginan langsung. Pada proses ini benda uji dipanaskan sampai suhu austenite dan dipertahankan beberapa lama sehingga strukturnya seragam, setelah itu didinginkan dengan mengatur laju pendinginannya untuk mendapatkan sifat mekanis yang dikehendaki. Pemilihan temperature media pendingin dan laju pendingin pada proses quenching sangat penting, sebab apabila temperature terlalu tinggi atau pendinginan terlalu besar, maka akan menyebabkan permukaan logam menjadi retak. Hasil quench hardening sebagai berikut: menghasilkan produk yang keras tetapi getas Menghasilkan tegangan sisa Keuletan dan ketangguhan turun. Fluida yang ideal untuk media quench agar diperoleh struktur martensit

b. Tempering Tempering dimaksudkan untuk membuat baja yang telah dikeraskan agar lebih menjadi liat, yaitu dengan cara memanaskan kembali baja yang telah diquench pada temperature antara 3000F sampai dengan 12000F selama 30 sampai 60 menit, kemudian didinginkan dengan temperature kamar. Proses ini dapat menyebabkan kekerasan menjadi sedikit menurun tetapi kekuatan logam akan menjadi lebih kuat. c. Annealing Proses ini dilakukan dengan memanaskan spesimen sampai di atas suhu transformasi, dimana keseluruhannya menjadi fasa austenite lalu

136 | P e n g u j i a n B a h a n

didinginkan perlahan-lahan di dalam tungku. Pada proses annealing ini proses pendinginan secara perlahan-lahan sehingga tidak terdapat martensit. d. Normalizing Proses memanaskan baja sehingga seluruh fasa menjadi austenite dan didinginkan pada temperature suhu kamar, sehingga dihasilkan struktur normal dari perlit dan ferit. Dapat disimpulkan bahwa dengan proses hardening pada baja karbon tinggi akan meningkatkan kekerasanya. Dengan meningkatnya kekerasan, maka efeknya terhadap kekuatan adalah sebagai berikut : Kekuatan impact (impact strength) akan turun karena dengan meningkatnya kekerasan, maka tegangan dalamnya akan

meningkat. Karena pada pengujian impact beban yang bekerja adalah beban geser dalam satu arah , maka tegangan dalam akan mengurangi kekuatan impact. Kekuatan tarik (tensile sterngth) akan meningkat. Hal ini disebabkan karena pada pengujian tarik beban yang bekerja adalah secara aksial yang berlawanan dengan arah dari tegangan dalam, sehingga dengan naiknya kekerasan akan meningkatkan kekuatan tarik dari suatu material. Proses kombinasi pemanasan dan pendinginan yang bertujuan mengubah struktur mikro dan sifat mekanis logam disebut Perlakuan Panas ( Heat Treatment) . Pada pengujian Jominy ini kita melakukan proses pendinginan secara langsungkarena pendinginan dilakukan dengan cara menyemprotkan logam dengan air pada salah satu ujungnya. Pada proses ini kita sebaiknya menghindari laju pendinginan yang cepat karena, pada prose pendinginan cepat akan mengakibatkan benda uji akan mengalami retak-retak, sedangkan pada laju pendinginan yang lambat

137 | P e n g u j i a n B a h a n

benda uji yang dihasilkan akan memiliki tingkat kekerasan yang tinggi dan keuletan yang baik. Kekerasan juga didefinisikan sebagai kemampuan suatu material untuk menahan beban identasi atau penetrasi (penekanan). Didunia teknik, umumnya pengujian kekerasan menggunakan 4 macam metode pengujian kekerasan, yakni: A. Kekerasan Brinell Pengujian kekerasan Brinell merupakan pengujian standard secara industri, tetapi karena penekannya terbuat dari bola baja yang berukuran besar dan beban besar, maka bahan lunak atau keras sekali tidak dapat diukur kekerasannya. Pengujian kekerasan Brinell dilaksanakan oleh alat uji Brinell, dengan memakai penetrator (identor) Bola Baja yang dikeraskan. Bola Baja tsb ditekan terhadap benda uji dengan beban standar, sampai menimbulkan bekas/tapak penekanan yang tetap. Ukuran kekerasan Brinell dihitung dengan cara beban yang diberikan dibagi luas tapak tekan. Kekerasan Brinell (Brinell Hardness Number/ BHN) : BHN = Kg/mm2 Dimana P = Beban ( Kg) dan A = Luas tapak tekan (mm2 ).

138 | P e n g u j i a n B a h a n

Pengujian Brinell diperuntukan menguji bahan-bahan logam lunak, non ferro atau baja lunak /mild steel, jangan dipakai untuk logam keras ( diatas 400 BHN) sebab akan merusak identor. Untuk menghasilkan pengujian yang akurat, harus tepat dalam memilih identor dan pembebanan serta

memperhatikan syarat syarat tertentu. Pemilihan Identor terhadap tebal benda uji:
Tebal Benda uji 3 6 mm 6 10 mm Lebih 10 mm Diameter Identor 2,5 mm 5 mm 10 mm

Penentuan beban penekanan terhadap jenis bahan yang diuji dan waktu pembebanan.
Bahan benda uji Baja Lunak Logam non Ferro Dan paduannya Logam Lunak (Timah) P = 2,5 D2 100 detik Beban ( Kg) P = 30 D2 P = 5 D2 Waktu 15 detik 30 detik

Dari proses penekanan akan dihasilkan tapak tekan pada permukaan benda uji, tapak tekan tersebut diproyeksikan pada layar mesin dengan perbesaran 10 kali sampai 50 kali, diameter tapak tekan kemudian diukur pada layar dengan memakai alat ukur dengan skala yang sesuai. Pengukuran dilakukan smpai tapak tekan membekas dengan permanen .Selanjutnya dihitung luas tapak tekan dengan rumus: =
(

(
)

139 | P e n g u j i a n B a h a n

Hal yang harus diperhatikan agar pengujian akurat: Benda uji dipersiapkan dengan baik, permukaannya harus halus , rata, sejajar dan terbebas dari kotoran. Pemilihan bola baja, Beban dan tebal benda uji harus sesuai. Waktu Pembebanan harus sesuai. Pengujian lebih dari 3 kali penekanan, jarak penekanan satu dengan lainya harus lebih besar dari 1,5 diameter. Identor. Pengukuran tapak tekan harus cermat. Temuan empirik berlaku khusus untuk baja lunak : terdapat hubungan Kekuatan Tarik dan kekerasan Brinell; B. Kekerasan Rockwell Uji kekerasan Rockwell ini paling banyak dipergunakan di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan oleh sifatsifatnya yaitu : cepat, bebas dari kesalahan manusia, mampu untuk membedakan perbedaan kekerasan yang kecil pada baja yang diperkeras, dan ukuran lekukannya kecil sehingga bagian yang mendapat perlakuan panas yang lengkap dapat diuji kekerasannya tanpa menimbulkan kerusakan. Uji ini menggunakan kedalaman lekukan pada beban yang konstan sebagai ukuran kekerasan. Metoda pengujian kekerasan Rockwell yaitu mengindentasi material contoh dengan indentor kerucut intan atau bola baja. indentor ditekan ke material dibawah beban minor/terkecil pada umumnya 10 kgf. Ketika keseimbangan telah dicapai, suatu indikasi terlihat pada alat, yang mengikuti pergerakan indentor dan demikian bereaksi terhadap perubahan kedalaman penetrasi oleh indentor, ini merupakan angka posisi pertama. Beban kedua atau beban utama ditambahkan tanpa menghilangkan beban awal, sehingga akan meningkatkan kedalaman penetrasi (Gambar 2.2.b). Saat keseimbangan kembali tercapai, beban utama dihilangkan tetapi beban = 0,35 BHN.

140 | P e n g u j i a n B a h a n

awal masih tetap diberikan. Dengan hilangnya beban utama maka akan terjadi recovery parsial dan terjadi pengurangan jejak kedalaman (Gambar 2.2.c). Peningkatan kedalaman penetrasi akhir sebagai hasil aplikasi ini dan kehilangan beban utama digunakan untuk menentukan nilai kekerasan Rockwell HR = E e (2-7) Dimana : F0 = beban awal minor (kgf) F1 = beban tambahan utama (kgf) F = beban total (kgf) e = peningkatan kedalaman akhir dari penetrasi dimana E = konstanta yang bergantung pada indentor, HR = angka kekerasan Rockwell

Adapun skala kekerasan Rockwell dapat dilihat pada table 5.3 berikut ini: Tabel 5.3 Skala Kekerasan Rockwell
Minor Load Major Load Total Load Value of F0 F1 F E kgf kgf kgf 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 50 90 140 90 90 50 140 50 140 50 90 140 50 90 140 60 100 150 100 100 60 150 60 150 60 100 150 60 100 150 100 130 100 100 130 130 130 130 130 130 130 130 130 130 130

Scale A B C D E F G H K L M P R S V

Indenter Diamond cone 1/16" steel ball Diamond cone Diamond cone 1/8" steel ball 1/16" steel ball 1/16" steel ball 1/8" steel ball 1/8" steel ball 1/4" steel ball 1/4" steel ball 1/4" steel ball 1/2" steel ball 1/2" steel ball 1/2" steel ball

141 | P e n g u j i a n B a h a n

Uji kekerasan Rockwell sangat berguna dan mempunyai kemampuan ulang (reproducible) asalkan sejumlah kondisi sederhana yang diperlukan dapat dipenuhi. Sebagian besar hal-hal yang disusun berikut dapat diterapkan dengan baik pada uji kekerasan yang lain: Penumbuk dan landasan harus bersih dan terpasang dengan baik Permukaan yang akan diuji harus bersih dan kering, halus, dan bebas dari oksida. Permukaan yang agak kasar biasanya dapat menggunakan uji Rockwell. Permukaan harus datar dan tegak lurus terhadap penumbuk. Uji untuk permukaan silinder akan memberikan hasil pembacaan yang rendah, kesalahan yang terjadi tergantung pada lengkungan, beban, penumbuk, dan kekerasan bahan. Juga telah dipublikasikan koreksi secara teoritis dan empiris. Tebal benda uji harus sedemikian hingga tidak terjadi gembung pada permukaan dibaliknya. Dianjurkan agar tebal benda uji 10 kali kedalaman lekukan. Pengujian dilakukan pada bahan yang tebalnya satu macam. Daerah di antara lekukan-lekukan harus 3 hingga 5 diameter lekukan. Kecepatan penerapan beban harus dibakukan. Hal ini dilakukan dengan cara mengatur daspot pada mesin Rockwell.

C.

Kekerasan Vickers Permukaan benda uji ditekan dengan penetrator intan berbentuk

piramida dasar piramida berbentuk bujur sangkar dan sudut antara dua bidang miring yang berhadapan 136. Sudut ini dipilih, karena nilai tersebut mendekati sebagian besar nilai perbandingan yang diinginkan antara diameter lekukan dan diameter bola penumbuk pada uji kekerasan Brinell. Karena bentuk penumbuknya piramid, maka pengujian ini sering dinamakan uji kekerasan piramidsa intan. Angka kekerasan piramida intan (DPH), atau angka kekerasan Vickers (VHN atau VPH), didefinisikan sebagai beban dibagi luas permukaan

142 | P e n g u j i a n B a h a n

lekukan. Pada prakteknya, luas ini dihitung dari pengukuran mikroskopik panjang diagonal jejak. DPH dapat ditentukan dari persamaan berikut: Dimana : P = Beban yang digunakan (kg) d = Panjang diagonal rata-rata dari bekas penekanan (mm) = Sudut antara permukaan intan yang berlawanan (136o) Uji kekerasan Vickers banyak dilakukan pada pekerjaan penelitian, karena metode tersebut memberikan hasil berupa skala kekerasan yang kontinu, untuk suatu beban tertentu dan digunakan pada logam yang sangat lunak, yakni DPH-nya 5 hingga logam yang sangat keras, dengan DPH 1500. Dengan uji kekerasan Rockwell, yang atau uji kekerasaan Brinell, biasanya diperlukan perubahan beban atau penumbuk pada nilai kekerasan tertentu, sehingga pengukuran pada suatu skala kekerasan yang ekstrem tidak bisa dibandingkan dengan skala kekerasan yang lain. Karena jejak yang dibuat dengan penumbuk piramida serupa secara geometris dan tidak terdapat persoalan mengenai ukurannya, maka DPH tidak tergantung kepada beban. Pada umumnya hal ini dipenuhi, kecuali pada beban yang sangat ringan. Beban yang biasanya digunakan pada uji Vickers berkisar 1 hingga 120 kg, tergantung kepada kekerasan logam yang diuji. Hal-hal yang menghalangi keuntungan pemakaian metode Vickers adalah: uji kekerasan Vickers tidak dapat digunakan untuk pengujian rutin karena pengujian tersebut lamban memerlukan persiapan permukaan benda uji yang hati-hati dan terdapat pengaruh kesalahan manusia yang besar pada penentuan panjang diagonal.

143 | P e n g u j i a n B a h a n

Ketelitian pengukuran diagonal bekas penekanaan cara Vickers akan lebih tinggi dari pada pengukuran diameter bekas penekanaan Brinell. Cara Vickers dapat digunakan untuk material yang sangat keras. D. Micro Hardness (Namun Jarang Sekali Dipakai-Red) Mikro hardness test tahu sering disebut dengan knoop hardness testing merupakan pengujian yang cocok untuk pengujian material yang nilai kekerasannya rendah. Knoop biasanya digunakan untuk mengukur material yang getas seperti keramik. Pada pengujian ini identor nya menggunakan intan kasar yang di bentuk menjadi piramida. Bentuk lekukan intan tersebut adalah perbandingan diagonal panjang dan pendek dengan skala 7:1. Pengujian ini untuk menguji suatu material adalah dengan menggunakan beban statis. Bentuk idento yang khusus berupa knoop meberikan kemungkinan membuat kekuatan yang lebih rapat di bandingkan dengan lekukan Vickers. Hal ini sangat berguna khususnya bila mengukur kekerasan lapisan tipisatau emngukur kekerasan bahan getas dimana kecenderungan menjadi patah sebanding dengan volume bahan yang ditegangkan. Hardenability adalah sifat yang menentukan dalamnya daerah logam yang dapat dikeraskan. Pendinginan yang terlalu cepat dapat dihindarkan karena dapat menyebabkan permukaan logam (baja) retak.. 5.4.3.2. Pengujian Pukul Pengujian Pukul bertujuan untuk mengetahui ketahanan bahan menerima energi pukulan secara tiba-tiba. Prinsip pengujian pukul adalah dengan memberikan Energi pukulan dihasilkan dari ayunan palu pemukul yang dtumbukan tehadap benda uji standar sampai patah. Energi ayunan yang mematahkan benda uji merupakan enerji yang diterima, energi inilah yang kemudian dipakai untuk menentukan ketahanan pukul benda uji, dihitung dengan dibagi luas penanmpang benda uji, ketahanan pukul tersebut disebut 144 | P e n g u j i a n B a h a n

Impat Strenght ( IS). Impact Strenght (IS) merupakan kemampuan bahan menahan/meredam enerji pukulan untuk tiap satuan luas penempang bahan. Impact Strenght (IS) dihitung dengan cara: Enerji pukul yang diterima/diredam benda uji dibagi luas penampang benda uji. Energi ayunan yang diberikan : Eb = G X R cos Kgm Energi ayunan Terbuang : Et = G X R cos Kgm Energi ayunan yang diterima : Ei = G X R ( cos cos ) Kgm Luas Penampang benda uji standar : Ao = Lebar X tebal = 10 X 5 = 50 mm2
. ( )

Ketahanan pukul : IS =

5.4.3.3. Pengujian Tarik Tujuannya untuk mengetahui kekuatan tarik maksimum/ tegangan maksimum bahan (Ultimate Tensile Strenght (UTS)). Setelah dilakukan pengolahan data hasil pengujian tarik dapat diketahui pula, Tegangan lumer (Yield strenght), Tegangan Putus (Fracture Streng), Regangan (Strain)). Secara kasar dapat pula diketahui apakah logam tersebut termasuk liat, keras, atau lunak, setelah kita menganalisa grafik pengujian tarik yang terekam dan bekas patahan benda uji tersebut. Pelaksanaan pengujian tarik dilakukan pada mesin uji tarik dengan kekuatan hidrolik sampai 20 Ton (20 KN). Benda uji tarik standar ditempatkan pada alat pencekam di kedua ujungnya, pembebanan tarik dilukan searah sumbu benda uji tarik, laju pembenanan diatur melalui panel kontrol hidrolik, panarikan dilakukan sampai benda uji putus. Data hasil pengujian akan terekam pada grafik hasil uji tarik, berupa besar pembebanan, Pertambahan Panjang (Elongation), Pengecilan Penampang (Reduction of area) dan Elastisitas Bahan.

145 | P e n g u j i a n B a h a n

Dari benda uji tarik dapat diketahui dia bahan setelah putus dan panjang benda setelah putus. Data hasil pengujian tersebut kemudian diolah ( dihitung ) dengan menggunakan rumus-rumus sbb: Tegangan Lumer : Beban Lumer dibagi luas penampang asal benda uji = kg/mm2 kg/mm2

Tegangan Tarik : Beban Maksimum dibagi luas penampang asal benda uji = =

Tegangan Putus : Beban Putus dibagi luas penampang putus benda uji = kg/mm2

Regangan : Pertambahan panjang dibagi pajang asal benda uji 100 (%)

Pengecilan Penampang : Selisih/beda luas penampang asal dan penampang putus dibagi luas penampang asal. 100 (%) Elastisitas : Tegangan Tarik dibagi Regangan Elastisitas adalah Kemampuan bahan =

melawan

kg/mm2

perubahan

bentuk/deformasi permanen akibat pembebanan.. Bila batas elastis ini dilewati maka bahan akan mengalami perubahan/deformasi permanen, walaupun beban dihilangkan, biasa disebut plastis. A. Mesin Uji Tarik Mesin uji tarik dimana memiliki secara spesifik didisain memiliki agar dapat

karakteristik tersendiri,

konstruksinya

memberikan gaya axial sepanjang bahan uji yang masing-masing ujungnya dijepit pada ujung masing-masing spindle yang terdiri dari bagian spindle tetap dan spindle panarik, gaya tarik ini dapat diperoleh dari power Hydraulic atau dengan motor listrik melalui transmisi roda gigi dan ulir, akan tetapi yang paling penting bahwa gaya yang diberikan untuk melakukan penarikan pada specimen ini dapat terindikasi dalam penunjukan ukuran sebagai prilaku specimen akibat penarikan tersebut. Pada beberapa jenis mesin dengan power 146 | P e n g u j i a n B a h a n

hydraulic, gaya tarik yang dikeluarkan untuk menarik specimen ini dapat terlihat secara langsung pada penunjuk tekanan hydraulic (Pressure

gauge), namun bagaimana perubahan bentuk yang terjadi karena penarikan ini harus diperlihatkan melalui grafik yang disebut grafik diagram tegangan regangan (akan dibahas berikut). Dalam perkembangannya apapun sistem tenaga yang digunakan dalam penarikan ini sekarang sudah dapat terbaca secara difgital dengan graphic secara elektronik yang dipat dicopy dan diduplikasikan sebagai dokumen pengujian. Prilaku bahan uji (Test piece) selama proses penarikan

dalam pengujian tarik, dimana pembebanan yang diberikan secara axial pada arah yang berlawanan, maka pertambahan panjang pada setiap penambahan gaya tarik akan terindikasi pada pangukur perpanjangan (Extensometer), melalui grafik akan terlihat hubungan antara pertambahan panjang dengan pertambahan gaya tarik . Penambahan gaya tarik yang perlahan-lahan ini menunjukkan kesebandingan antara peningkatan gaya tarik dengan

pertambahan panjang secara proporsional, dan jika gaya tarik ini dilepaskan, maka bentuk dan ukuran kembali kepada bentuk serta ukuran semula, kondisi ini yang disebut perubahan bentuk elastis atau yang disebut sebagai deformasi elastis . B. Benda Uji Tarik Benda uji tarik , bentuk dan ukurannya sudah terstandar, dalam kasus - kasus tertentu dijingkan memakai bentukdan ukuran benda uji tidak standar. Bentuk dan ukuran benda uji terstandar disebut juga benda uji proporsional, dan yang tidak terstandar disebut juga benda uji non proporsional. Bentuk penampang benda uji dapat berbentuk lingkaran atau bentuk segi empat. Ukuran benda uji yang biasa dipakai standar DP 5 atau DP 10.

147 | P e n g u j i a n B a h a n

DP 5 artinya perbandingan penampang benda uji terhadap panjang benda uji 1/5. DP uji 1/10. DP : : = atau =5

DP 10 : perbandingan penampang benda uji terhadap panjang benda = 10 atau


Lo 25 mm 100 mm

Tabel : Benda Uji Tarik Standar Penampang Bulat


Specimen DP 5 DP 10 Do 5 mm 10 mm Lt Min 10 mm Min 20 mm D1 10 mm 15 mm R 2,5 mm 2,5 mm

= 10

Tabel : Ukuran Benda Uji Tarik Standar Penampang Segi Empat


Specimen DP 5 DP 10 Tebal (a) 1 mm 1,5 mm Lebar (b) 10 mm 10mm Lo 50 mm 150 mm Lt 20 mm 25 mm Lebar B 15 mm 15 mm R 2,5 mm 2,5 mm

Syarat benda uji Tarik 1. Tidak ada cacat terutama pada daerah panjang pengujian. 2. Tidak terjadi deformasi pada saat proses pembuatan ( akibat temperatur, maupun benturan). 3. Pengerjaan teliti ukuran dan halus permukaannya.

148 | P e n g u j i a n B a h a n

5.4.3.4.

SKALA MOSH Mohs telah menetapkan urutan skala kekerasan beberapa bahan

sebagai berikut:
Bahan Grafit Talk Kapur Batu Kapur Spaat lumer Apatit Baja Lunak Spaat Kwarsa Topaz Baja dikeraskan Korundum Intan Skala kekerasan 0,5 1 1 2 3 4 5 Kira-kira 6 6 7 8 Kira-kira 8 9 10

Daftar diatas menunjukan bahwa Intan merupakan bahan paling keras dengan skala kekerasan 10, artinya intan mampu melukai/menggores bahan lainya secara permanen. Jadi bahan dengan skla kekerasan tinggi mampu melakukan penetrasi terhadap bahan lainya dengan skala kekerasan lebih rendah. Dalam pengujian kekerasan seperti pada pengujian statik lainnya, diukur ketahanan terhadap deformasi. Tetapi ukuran penekan, beban dan ukuran penekanan, derajat pengerasan regangan, berbeda. Jadi pertama korelasi antara kekerasan yang diperoleh dengan berbagai cara pengujian kekerasan menjadi permasalahan.

149 | P e n g u j i a n B a h a n

Tidak ada cara lain kecuali mendapatkan hubungan tersebut secara eksperimen, jadi kekerasan yang diperoleh dengan berbagai cara ditulis sebagai tabel konversi kekerasan. Tetapi hal yang diutarakan di atas berbeda menurut bahan, oleh karena itu untuk baja atau paduan tembaga perlu memakai tabel yang berlainan sesuai dengan paduan mesing-masing. Sejumlah data tersedia berkenaan dengan hubungan antara kekerasan dan kekuatan tarik atau kekuatan lelah. Hubungan ini sangan memudahkan untuk mengetahui kekuatan bahan dengan pengujian sederhana dari kekerasan. Tetapi karena hubungan itu memuat banyak faktor variabel, perlu berhati-hati dalam penggunaannya. Sebagai tambahan dalam penggunaan bagi bahan yang sama jenisnya, disarankan untuk memperhatikan metalografinya. 5. 5 RANGKUMAN Dari makalah ini dapat dirangkumkan sebagai berikut: 1. Pengujian bahan merupakan suatu metode yang penting untuk

mengetahui kualitas dan kuantitas dari suatu bahan yang akan kita gunakan untuk kepentingan dalam pembuatan produk yang baik dan berkualitas pula. 2. Pengujian bahan bertujuan mengetahui sifat-sifat mekanik bahan atau cacat pada bahan/produk, sehingga pemilihan bahan dapat dilakukan dengan tepat untuk suatu keperluan. Cara pengujian bahan dibagi dalam dua kelompok yaitu pengujian dengan merusak (destructive test) dan pengujian tanpa merusak (non destructive test). 3. Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical properties) dari suatu material. Kekerasan didefinisikan sebagai ketahanan sebuah benda (benda kerja) terhadap penetrasi/daya tembus dari bahan lain yang kebih keras penetrator). Kekerasan meru-pakan suatu sifat dari bahan yang sebagian besar dipengaruhi oleh un-sur-

150 | P e n g u j i a n B a h a n

unsur paduannya dan kekerasan suatu bahan tersebut dapat berubah bila dikerjakan dengan pengerolan, penarikan, pemakanan dan lain-lain. 4. Pengujian kekerasan Brinell merupakan pengujian standard secara industri, tetapi karena penekannya terbuat dari bola baja yang berukuran besar dan beban besar, maka bahan lunak atau keras sekali tidak dapat diukur kekerasannya. 5. Metoda pengujian kekerasan Rockwell yaitu mengindentasi material contoh dengan indentor kerucut intan atau bola baja. indentor ditekan ke material dibawah beban minor/terkecil pada umumnya 10 kgf. 6. Kekerasan Vickers didefinisikan sebagai beban dibagi luas permukaan lekukan. Pada prakteknya, luas ini dihitung dari pengukuran mikroskopik panjang diagonal jejak. 7. Mikro hardness test tahu sering disebut dengan knoop hardness testing merupakan pengujian yang cocok untuk pengujian material yang nilai kekerasannya rendah. Knoop biasanya digunakan untuk mengukur material yang getas seperti keramik. 8. Pengujian Pukul bertujuan untuk mengetahui ketahanan bahan menerima enerji pukulan secara tiba-tiba. Prinsip pengujian pukul adalah dengan memberikan Enerji pukulan dihasilkan dari ayunan palu pemukul yang dtumbukan tehadap benda uji standar sampai patah. 9. Pengujian tarik adalah untuk mengetahui kekuatan tarik maksimum/ tegangan maksimum bahan (Ultimate Tensile Strenght (UTS)). Setelah dilakukan pengolahan data hasil pengujian tarik dapat diketahui pula, Tegangan lumer (Yield strenght), Tegangan Putus (Fracture Streng), Regangan (Strain)). Secara kasar dapat pula diketahui apakah logam tersebut termasuk liat, keras, atau lunak.

151 | P e n g u j i a n B a h a n

5. 6 PERTANYAAN 1. Sebutkan persamaan dan perbedaan dari 4 metode pengujian kekerasan? 2. Sebutkan pengertian dari metode-metode pengujian bahan? 3. Bagaimana cara menghitung skala mosh? 4. Apa perbedaan metode charpy dengan izod? 5. Bagaimanakah yang dimaksud dengan deformasi? 6. Coba anda jelaskan 4 macam metode pengujian kekerasan? 7. Bagaimana yang dimaksud dengan mampu mesin, dan mampu mampat? 8. Sebutkan contoh bahan yang memenuhi syarat uji tarik?

5. 7 MODEL JAWABAN 1. Persamaan dan perbedaan 4 metode pengujian kekerasan yaitu: Pengujian kekerasan dengan metode Brinnel bertujuan untuk menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap bola baja (identor) yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut (spesimen). Idealnya, pengujian Brinnel diperuntukan untuk material yang memiliki permukaan yang kasar dengan uji kekuatan berkisar 500-3000 kgf. Identor (Bola baja) biasanya telah dikeraskan dan diplating ataupun terbuat dari bahan Karbida Tungsten. Pengujian kekerasan dengan metode Rockwell bertujuan

menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap indentor berupa bola baja ataupun kerucut intan yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut. Untuk mencari besarnya nilai kekerasan dengan menggunakan metode Rockwell dijelaskan pada gambar 4, yaitu pada langkah 1 benda uji ditekan oleh indentor dengan beban minor (Minor Load F0) setelah itu ditekan dengan beban mayor (major Load F1) pada langkah 2, dan pada langkah 3 beban mayor diambil sehingga yang tersisa adalah minor load dimana pada kondisi 3 ini indentor.

152 | P e n g u j i a n B a h a n

Pengujian kekerasan dengan metode Vickers bertujuan menentukan kekerasan suatu material dalam yaitu daya tahan material terhadap indentor intan yang cukup kecil dan mempunyai bentuk geometri berbentuk piramid seperti ditunjukkan pada gambar 3. Beban yang dikenakan juga jauh lebih kecil dibanding dengan pengujian rockwell dan brinel yaitu antara 1 sampai 1000 gram. Angka kekerasan Vickers (HV) didefinisikan sebagai hasil bagi (koefisien) dari beban uji (F) dengan luas permukaan bekas luka tekan (injakan) dari indentor(diagonalnya) (A) yang dikalikan dengan sin (136/2). Mikrohardness test tahu sering disebut dengan knoop hardness testing merupakan pengujian yang cocok untuk pengujian material yang nilai kekerasannya rendah. Knoop biasanya digunakan untuk mengukur material yang getas seperti keramik. 2. Pengertian dari metode-metode pengujian adalah: Tujuannya untuk mengetahui kekuatan tarik maksimum/ tegangan maksimum bahan (Ultimate Tensile Strenght (UTS)). Setelah dilakukan pengolahan data hasil pengujian tarik dapat diketahui pula, Tegangan lumer (Yield strenght), Tegangan Putus (Fracture Streng), Regangan (Strain)). Secara kasar dapat pula diketahui apakah logam tersebut termasuk liat, keras, atau lunak, setelah kita menganalisa grafik pengujian tarik yang terekam dan bekas patahan benda uji tersebut. Pengujian Pukul bertujuan untuk mengetahui ketahanan bahan menerima energi pukulan secara tiba-tiba. Prinsip pengujian pukul adalah dengan memberikan Energi pukulan dihasilkan dari ayunan palu pemukul yang dtumbukan tehadap benda uji standar sampai patah.

153 | P e n g u j i a n B a h a n

Pengujian kekerasan adalah satu dari sekian banyak pengujian yang dipakai, karena dapat dilaksanakan pada benda uji yang kecil tanpa kesukaran mengenai spesifikasi. Kekerasan

(Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical properties) dari suatu material. 3. Cara menghitung skala mosh adalah Skala Mohs adalah sebuah skala pengukuran yang digunakan untuk mengukur tingkat kekerasan suatu mineral. Skala ini ditemukan oleh mineralogis Jerman, Friedrich Mohs tahun 1812. Mohs mendefinisikan 10 tingkatan kekerasan mineral, yang waktu itu telah ditemukan semuanya kecuali batu permata. Skala itu menunjukkan 1 untuk "terlunak" dan 10 untuk "terkeras". Kekerasan suatu bahan diukur dengan mencari bahan terkeras yang dapat digores oleh bahan yang diukur, dan/atau bahan terlunak yang dapat menggores bahan yang diukur. Sebagai contoh, jika suatu bahan dapat digores oleh apatit tetapi tidak bisa digores oleh fluorit, maka tingkat kekerasan bahan tersebut pada skala Mohs adalah 4,5. 4. Perbedaan metode charpy dengan izod adalah Metoda charpy dapat memakai mesin yang sama, tetapi cara penjepitan (Clamping) benda uji yang berbeda. Pada Metoda Charpy benda kerja dijepit/ditumpu pada kedua ujungnya, posisi benda uji mendatar, pukulan diarahkan pada bagian tengah panjang benda uji. Pada metoda Izod benda uji dijepit pada salah satu ujungnya, benda uji posisi tegak, pukulan diarahkan pada ujung benda uji yang bebas/tidak dijepit. 5. Deformasi adalah perubahan bentuk atau wujud dari yang baik menjadi kurang baik. 6. Lihat saja jawaban nomor 1. 7. Yang dimaksud dengan mampu mesin, mampu bentuk dan mampu mampat adalah sifat-sifat mekanik tersebut dapat dirubah apabila kita merubah komposisi bahan tersebut atau memberikan perlakuan panas terhadap bahan tersebut. Bila dikaitkan dengan proses produksi , maka

154 | P e n g u j i a n B a h a n

sifat bahan bisa dikategorikan mampu mesin (machine ability) atau tidak mampu mesin ,serta mampu bentuk atau tidak mampu bentuk. Apabila bahan dapat dikerjakan dengan mudah pada mesin

konvensional ( mesin produksi yang mamakai alat potong dan menghasilkan tatal), disebut mampu mesin. Logam mampu bentuk apabila dapat dibentuk dengan proses penekanan tanpa retak atau pecah. 8. Contoh bahan yang memenuhi syarat uji tarik adalah intan, tembaga, dan timah.

155 | P e n g u j i a n B a h a n