Anda di halaman 1dari 45

TENTARA NASIONAL INDONESIA

MARKAS BESAR ANGKATAN LAUT

PERATURAN KEPALA STAF ANGKATAN LAUT

Nomor: Perkasal/39/V/2009
tentang
KEBIJAKAN DASAR PEMBANGUNAN TNI ANGKATAN LAUT
MENUJU KEKUATAN POKOK MINIMUM
(MINIMUM ESSENTIAL FORCE)
KEPALA STAF ANGKATAN LAUT

Menimbang :

Bahwa dalam rangka penyusunan


kekuatan tempur TNI Angkatan Laut untuk
mencapai kekuatan pokok minimum, perlu
menetapkan Kebijakan Dasar Pembangunan
TNI Angkatan Laut Menuju Kekuatan Pokok
Minimum (Minimum Essential Force).

Mengingat

1.
Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun
2002 tentang Pertahanan Negara.

2.
Undang-Undang RI Nomor 34 Tahun
2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.
3.
Keputusan Panglima TNI Nomor
Kep/2/I/2007 tanggal 12 Januari 2007 tentang
Doktrin Tentara Nasional Indonesia Tri
Dharma Eka Karma.
Memperhatikan:

1.
Keputusan Kasal Nomor Kep/06/VI/
2004 tentang Kebijakan Dasar Pembangunan
Kekuatan TNI Angkatan Laut sampai dengan

2
Tahun 2013 (Blue Print TNI Angkatan Laut
s.d. 2013).
2.
Keputusan Kasal Nomor Kep/2/II/2006
tentang Kebijakan Strategis Kasal dalam
Mewujudkan Postur TNI Angkatan Laut
sampai dengan tahun 2024.
3.
Surat Panglima TNI Nomor :
B/1435/V/2009 tanggal 18 Mei 2009 perihal
Direktif Panglima TNI tentang Pembangunan
Kekuatan Pokok Minimum TNI (Minimum
Essential Force)
MEMUTUSKAN

Menetapkan

: 1.
Kebijakan Dasar Pembangunan TNI
Angkatan Laut Menuju Kekuatan Pokok
Minimum
(Minimum
Essential
Force),
sebagaimana tercantum dalam lampiran
peraturan ini.
2.
Hal-hal yang belum diatur dalam
peraturan ini dan memerlukan pengaturan
lebih lanjut akan diatur dalam ketentuan
tersendiri.
3.
Peraturan ini berlaku sejak tanggal
ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 26 Mei 2009
Kepala Staf Angkatan Laut
Cap/tertanda

Distribusi:
A dan B

Tedjo Edhy Purdijatno, S.H.


Laksamana TNI
Autentikasi
Kepala Setumal
Dwi Widjajanto
Kolonel Laut (S) NRP 8346/P

3
RAHASIA
TENTARA NASIONAL INDONESIA
MARKAS BESAR ANGKATAN LAUT

Lampiran Peraturan Kasal


Nomor Perkasal/39/V/2009
Tanggal 26
Mei 2009

KEBIJAKAN DASAR PEMBANGUNAN TNI ANGKATAN LAUT


MENUJU KEKUATAN POKOK MINIMUM
(MINIMUM ESSENTIAL FORCE)
BAB I
PENDAHULUAN

1.

Umum.
a. TNI Angkatan Laut sebagai bagian integral dari TNI,
bertugas untuk melaksanakan tugas TNI matra laut di
bidang pertahanan, menegakkan hukum dan menjaga
keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai
dengan ketentuan hukum nasional dan hukum
internasional yang telah diratifikasi, melaksanakan tugas
diplomasi Angkatan Laut dalam rangka mendukung
kebijakan politik luar negeri yang ditetapkan oleh
pemerintah,
melaksanakan
tugas
TNI
dalam
pembangunan dan pengembangan kekuatan matra laut,
serta melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan
laut. Seiring dengan hal tersebut, TNI Angkatan Laut
melaksanakan
tugas-tugas
yang
merupakan
pengejawantahan dari tiga peran universal Angkatan Laut
yang meliputi Peran Militer, Peran Konstabulari dan
Peran Diplomasi. Keberhasilan pelaksanaan tugastugas TNI Angkatan Laut akan sangat bergantung kepada
terwujudnya kemampuan dan kekuatan sesuai dengan
postur TNI Angkatan Laut.
RAHASIA

4
b.
Pembangunan postur TNI Angkatan Laut yang
mencakup tingkat kemampuan, kekuatan dan pola gelar
kekuatan, pada hakikatnya diorientasikan kepada
pencapaian tugas-tugas TNI Angkatan Laut dalam rangka
menunjang kepentingan nasional.
Tugas-tugas TNI
Angkatan Laut di masa mendatang masih akan
dihadapkan pada keterbatasan anggaran pertahanan, di
sisi lain cepatnya perubahan lingkungan strategis akan
menambah semakin kompleksnya permasalahan dalam
penegakan dan pengamanan di laut.
TNI Angkatan
Laut sebagai komponen utama pertahanan di laut sesuai
amanat Undang-Undang RI Nomor 34 Tahun 2004
tentang TNI, memerlukan penyusunan kembali kekuatan
tempur TNI Angkatan Laut yang tidak hanya mengacu
kepada ancaman saja namun juga diorientasikan untuk
mencapai kemampuan tertentu (Capability based
planning).
c.
Penyusunan kekuatan tempur TNI Angkatan Laut
diarahkan untuk mencapai kekuatan pokok minimum
(minimum essential force/MEF). MEF adalah kekuatan
yang disusun berdasarkan kemampuan yang diperlukan
(capability design) untuk menghadapi segala bentuk
ancaman dalam rangka menegakkan kedaulatan dan
menjaga keutuhan NKRI dengan segala resiko yang
dihadapi.
MEF merupakan besaran kekuatan dan
kemampuan yang harus dibangun serta dimiliki oleh TNI
Angkatan Laut yang dalam perhitungannya juga
mempertimbangkan faktor eksternal maupun internal
serta menggunakan pendekatan tugas.
2.
Maksud dan Tujuan.
Maksud dari penulisan naskah
ini untuk memberikan gambaran tentang perhitungan MEF,
dengan tujuan untuk
digunakan dalam perencanaan
pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI Angkatan Laut.

5
3.
Ruang Lingkup. Penulisan ini meliputi pembahasan
perhitungan MEF dan pendekatan yang digunakan serta strategi
pencapaiannya, dengan tata urut sebagai berikut:
a. Bab I

Pendahuluan.

b. Bab II

Pertimbangan Perhitungan MEF.

c. Bab III

Kondisi Alut Sista dan Kemampuan TNI


Angkatan Laut saat ini.

4.

d. Bab IV

Pendekatan dan Perhitungan MEF.

e. Bab V

Strategi Pencapaian MEF.

f. Bab VI

Kemungkinan Resiko

g. Bab VII

Penutup.

Pengertian-pengertian.
a.
Minimum Essential Force (MEF) atau Kekuatan
Pokok Minimum adalah kekuatan yang dirancang
memiliki kemampuan tertentu (Capability Design) untuk
menghadapi ancaman dalam rangka menjaga dan
melindungi kedaulatan negara, keutuhan NKRI dan
keselamatan segenap bangsa.
Dengan kemungkinan
resiko yang akan dihadapi manakala ancaman lebih
besar dari kemampuan yang dirancang.
b.
Threat based planning. Perencanaan pembangunan kekuatan yang didasarkan pada pendekatan
prediksi ancaman yang dihadapi, perhitungan kebutuhan
kekuatan hanya mempertimbangkan kekuatan musuh
yang akan dihadapi.
c.
Capability based planning.
Perencanaan
pembangunan kekuatan untuk mencapai tingkat kekuatan

6
tertentu yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan
tugas dengan mempertimbangkan kemampuan dan aset
negara yang dimiliki.
BAB II
PERTIMBANGAN PERHITUNGAN MEF

5.
Umum. Dalam merumuskan kekuatan pokok minimum
perlu mempertimbangkan beberapa hal yang dapat dijadikan
dasar agar lebih realistis dan komprehensif serta dapat
dihadapkan pada prediksi ancaman.
6.

Sejarah Operasi dan Latihan.


a.
Trikora/Operasi Mandala.
Dalam merebut
kembali Irian Barat, ALRI (TNI Angkatan Laut saat itu)
mengerahkan kekuatan sejumlah 126 KRI berbagai jenis,
10 pesawat udara berbagai jenis, KKO (Marinir)
sejumlah 3 BTP dengan berbagai jenis Ranpur.
b.
Integrasi Timor-Timur/Operasi Seroja. Dalam
rangka mendukung terlaksananya proses integrasi Timor
Leste menjadi bagian dari Republik Indonesia pada tahun
1976, TNI Angkatan Laut menggelar gugus tugas untuk
mendukung operasi amfibi dengan kekuatan sebesar 26
KRI berbagai jenis, 5 Pesawat Udara (Patrol maritim dan
heli), 1 BTP Marinir dengan berbagai jenis Ranpur.
c.
Latihan.
Latihan puncak TNI Angkatan Laut
Armada Jaya dan latihan gabungan TNI merupakan tolok
ukur dalam pembangunan TNI AL ke depan karena
dalam latihan tersebut menggelar kekuatan skala besar
dengan skenario sesuai kemungkinan datangnya
ancaman.

7
7.
Ancaman. Berdasarkan kecenderungan perkembangan
lingkungan strategis global, regional dan nasional, maka
kemungkinan ancaman yang harus diantisipasi oleh TNI
Angkatan Laut, yaitu:
a.
Ancaman yang dihadapi oleh TNI Angkatan Laut
dalam rangka menjalankan tugas TNI yaitu :
1)

Agresi.

2)
Pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh
negara lain.
3)
Pemberontakan bersenjata, yaitu suatu
gerakan bersenjata yang melawan pemerintah
yang sah.
4)
Sabotase dari pihak tertentu untuk merusak
instalasi penting dan objek vital nasional.
5)
Spionase yang dilakukan oleh negara lain
untuk mencari dan mendapatkan rahasia militer.
6)
Aksi Teror bersenjata yang dilakukan oleh
teroris internasional atau bekerja sama dengan
teroris dalam negeri atau oleh teroris dalam
negeri.
7)
Keamanan di laut atau udara yurisdiksi
nasional Indonesia, yang dilakukan pihak-pihak
tertentu.
b.
Ancaman yang dihadapi oleh TNI Angkatan Laut
dalam rangka menjalankan tugas TNI Angkatan Laut
yaitu :

8
1)
Mengantisipasi
kekerasan.
2)

ancaman

tindakan

Mengatasi ancaman navigasi.

3)
Mengatasi pelanggaran hukum di wilayah
laut yurisdiksi nasional.
8.
Geografi. Kondisi Geografi perairan Indonesia tidaklah
homogen tetapi sebaliknya heterogen bahkan memiliki
kompleksitas yang tinggi akibat pengaruh dua benua dan dua
samudera.
Konstelasi geografi Indonesia yang terdiri dari
wilayah perairan dengan luas mencapai 5,8 juta km 2, panjang
garis pantai sekitar 81.000 km dan pulau yang berjumlah lebih
dari 17 ribu pulau. Di wilayah perbatasan, sebagian besar garis
pantai berada sangat dekat dengan Negara tetangga. Wilayah
pantai rentan terhadap perubahan lingkungan dan bencana
alam karena pengaruh besar dari daratan dan lautan seperti
banjir, tsunami, kenaikan muka air laut (Sea Level Rise) di mana
bila hal tersebut terjadi senantiasa memerlukan penanganan
segera dan tepat dari Pemerintah.
Karakteristik perairan
Indonesia meliputi Laut terbuka; merupakan perairan yang
berhubungan langsung dengan Samudera Hindia dan
Samudera Pasifik, Laut setengah tertutup; merupakan
Perairan Indonesia sedangkan Laut tertutup meliputi semua
Perairan Kepulauan Indonesia (Archipelagic Water) dengan
kondisi geografis tersebut maka akan mempengaruhi tipe,
susunan kekuatan dan kemampuan yang harus dimiliki oleh
TNI Angkatan Laut dalam melaksanakan tugas.
9.

Doktrin.
a.
Doktrin Pertahanan Negara.
Berdasarkan
Strategi Pertahanan Negara yang ada, maka pertahanan

9
digelar secara berlapis disesuaikan dengan peran dan
fungsi yang ada dalam menghadapi ancaman nir militer
dan militer meliputi:
1)
Lapis Diplomasi.
Melalui kebijakan
pemerintah yang umumnya dilaksanakan oleh
Departemen Luar Negeri dan Departemen
Pertahanan.
2)
Lapis Perlawanan rakyat secara spontan.
Melalui
kebijakan
Departemen
Pertahanan
memobilisasi kekuatan pengganda dengan
melibatkan komponen cadangan dan pendukung.
3)

Lapis Pertahanan Militer:


a)

Untuk menghadapi agresi militer.


(1)
Pertahanan
tujuan preventif.

militer

untuk

(2)
Pertahanan
tujuan pre-emptif.

militer

untuk

(3)
Pertahanan
militer
menghadapi musuh yang
masuk wilayah Indonesia.

untuk
sudah

b)
Untuk menghadapi ancaman yang
bukan agresi militer.
(1)
Digelar oleh matra tunggal
atau gabungan ketiga matra (Tri
Matra Terpadu).

10
(2)
Besar
kekuatan
derajat,
bentuk
dan
ancaman.
b.

sesuai
besaran

Doktrin TNI Tri Darma Eka Karma (TRIDEK).


1)
Pembinaan Kemampuan TNI meliputi:
Kemampuan Intelijen, Pertahanan, Keamanan,
Pemberdayaan
Wilayah
Pertahanan
dan
Dukungan.
2)
Penggunaan Kekuatan TNI meliputi OMP
dan OMSP.
3)
Strategi Pertahanan Nusantara
Deterrence dan Layered Defense.

berupa

c.
Doktrin TNI Angkatan Laut Eka Sasana Jaya.
Doktrin ini menerapkan Strategi Pertahanan Laut
Nusantara (SPLN), sebagai berikut:
1)
Strategi Penangkalan. Mencegah niat pihak
lawan untuk mengganggu kedaulatan dan keutuhan NKRI, melalui beberapa kegiatan operasi:
a)
Naval Diplomacy. Berupa port visit,
pameran bendera/ kekuatan di laut, latihan
bersama dan patroli terkoordinasi.
b)
Naval Presence. Kehadiran di
wilayah perbatasan atau di daerah rawan.
c)
Pembangunan Kekuatan. Berupa
modernisasi peralatan tempur yang dapat
memberi efek penangkalan (deterrence).
2)
Strategi Pertahanan Berlapis (Layered
Defense).
Meniadakan atau menghancurkan

11
ancaman
yang
timbul
pertahanan di laut, dengan:

melalui

lapis-lapis

a)
Penggelaran kekuatan gabungan laut
dan udara untuk mencegah gerak maju
lawan.
b)
Penggelaran kekuatan pada medan
pertahanan penyanggah, medan pertahanan
utama dan medan/daerah perlawanan.
c)
Penggelaran
kekuatan
Forward defence concept.

sesuai

3)
Strategi
Pengendalian
Laut
(Dalla).
Menjamin penggunaan laut untuk kepentingan
sendiri dan mencegah penggunaan laut oleh lawan
atau untuk kepentingan lawan. Kegiatan operasi
yang dilaksanakan berupa:
a)
Operasi
pemutusan
perhubungan laut lawan.

garis

b)
Operasi Laut sehari-hari, seperti
operasi keamanan laut dan penegakan
hukum di laut maupun operasi laut lainnya.
c)
Operasi siaga tempur laut, berupa
operasi untuk peran naval diplomacy dan
naval presence untuk memberikan efek
penangkalan.
10.
Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut Nomor :
Kep/06/VI/2004 tanggal 22 Juni 2004 tentang Kebijakan
Dasar Pembangunan Kekuatan TNI Angkatan Laut sampai
dengan Tahun 2013 (Blue Print TNI Angkatan Laut s.d.
2013). Merupakan kebijakan yang dibuat sebagai pedoman
dalam pembangunan kekuatan TNI Angkatan Laut sampai
dengan tahun 2013 yang berisi upaya pengadaan alutsista yang

12
meliputi KRI/KAL, Pesud dan Ranpur Marinir serta Pangkalan
sesuai kebutuhan. Kekuatan ideal yang diharapkan adalah 190
KRI, 157 KAL, 67 Pesud dan 488 Ranpur Marinir.
11.
Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut Nomor :
Kep/2/II/2006 tanggal 27 Februari 2006 tentang Kebijakan
Strategis Kasal dalam Mewujudkan Postur TNI Angkatan
Laut sampai dengan tahun 2024. Merupakan kebijakan yang
disusun untuk dapat memproyeksikan kekuatan ke darat tiga
Batalyon Tim Pendarat (BTP) pada dua Trouble Spot/Hot Area
dalam waktu yang bersamaan.
Selain itu juga harus mampu
melakukan kegiatan penegakan hukum, penjagaan keamanan
laut dan tugas-tugas OMSP serta dukungan lainnya.
Kebijakan ini selain menggunakan pendekatan ancaman juga
mempertimbangkan
SPLN
dan
strategi
perimbangan.
Kekuatan yang digunakan adalah sesuai dengan Postur TNI
Angkatan laut s.d. 2024 meliputi 274 KRI,137 Pesud dan 890
Ranpurmar.
12.
Krisis ekonomi global dan dampaknya terhadap
anggaran pertahanan.
Gejolak moneter yang melanda
Amerika Serikat (AS) tidak saja mengguncang sendi-sendi
ekonomi AS, tetapi menimbulkan krisis global. Dampak krisis
ekonomi global mengakibatkan perlambatan ekonomi nasional
dan menurunnya kemampuan pemerintah dalam mengalokasikan dukungan anggaran pertahanan. Keterbatasan anggaran
tersebut
berimplikasi
terhadap
perencanaan
strategis
pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI Angkatan Laut,
sehingga diperlukan langkah-langkah TNI Angkatan Laut berupa
evaluasi dan revisi terhadap perencanaan pembangunan
kekuatan yang sudah ada.
13.
Teori Perencanaan Strategis dan Pembangunan
Kekuatan. Beberapa teori yang digunakan dalam penyusunan
MEF TNI Angkatan Laut ini merupakan teori yang
dikembangkan oleh Naval War College Newport, Rhode Island

13
terkait dengan pembangunan kekuatan pertahanan dan
perencanaan strategis (Strategy And Force Planning). Adapun
teori yang digunakan adalah:
a.
The Strategy and Force Planning Framework dari
PH Liotta dan Richmond M Lloyd, yang menjelaskan alur/
kerangka berfikir secara konseptual untuk menyelenggarakan dan mengevaluasi faktor-faktor penentu dalam
perencanaan pembangunan kekuatan serta pengambilan
keputusan di masa yang akan datang.
b.
The Art of Strategy and Force Planning dari Henry
C Bartlett, G Paul Halman Jr, Timothy E Somes, yang
menjelaskan tentang beberapa pendekatan yang
digunakan dalam penyusunan rencana pembangunan
kekuatan.
BAB III
KONDISI ALUTSISTA DAN KEMAMPUAN TNI ANGKATAN LAUT
SAAT INI

14.
Umum.
Saat ini, kondisi Alutsista yang dimiliki TNI
Angkatan Laut sebagian besar telah berusia tua yang
seharusnya sudah dihapus karena biaya pemeliharaan tidak
sepadan lagi dengan nilai gunanya.
Dari jumlah Alutsista
yang dimiliki saat ini, 41 % berusia 25-50 tahun dan 5 % berusia
di atas 50 tahun.
Sesuai dengan persyaratan, usia 30 tahun
adalah batas usia bagi kapal untuk laik laut, khususnya untuk
kapal perang pada usia tersebut combat capability-nya
menurun.
15.
Kekuatan Alutsista TNI Angkatan Laut saat ini.
Jumlah Alutsista yang dimiliki TNI Angkatan Laut saat ini masih
sangat kurang bila dihadapkan pada tugas yang harus diemban
dan cakupan luas wilayah yang harus diamankan serta kondisi

14
teknis yang masih kurang memadai untuk siap operasi, adapun
jumlah dan kondisi teknisnya sebagai berikut :
a.
Unsur Striking Force berjumlah 18 KRI dengan
kondisi baik 15 KRI (83%) dan kondisi rusak 3 KRI (17%).
b.
Unsur Supporting Force berjumlah 56 KRI dengan
kondisi baik 24 KRI (43%) dan kondisi rusak 32 KRI
(57%).
c.
Unsur Patroling Force berjumlah 72 KRI dengan
kondisi baik 49 KRI (68%) dan kondisi rusak 23 KRI
(32%).
kondisi tersebut tidak hanya dialami oleh KRI, tetapi juga pada
Alutsista lainnya seperti pesawat udara dan peralatan tempur
Korps Marinir. Hal ini berpengaruh terhadap kemampuan TNI
Angkatan Laut dalam pelaksanaan tugas di lapangan. Adapun
kekuatan Alutsista TNI Angkatan Laut saat ini sebagai berikut:
a.
KRI berjumlah 146 buah, terdiri dari 1 Kapal
Markas (MA), 14 Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR), 15
Kapal Perusak Kawal (PK), 2 Kapal Selam (SS), 4 Kapal
Cepat Rudal (KCR), 2 Kapal Cepat Torpedo (KCT), 44
Kapal Patroli Cepat (PC)/Fast Patrol Boat (FPB), 4 Kapal
Penyapu Ranjau (PR), 2 Kapal Buru Ranjau (BR), 28
Kapal Angkut Tank (AT), 2 Kapal Angkut Serba Guna
(ASG), 5 Kapal Tanker (BCM), 1 Kapal Tunda Samudera
(BTD), 5 Kapal Hidro-Oseanografi (BHO), 3 Kapal Bantu
Umum (BU), 3 Kapal Bantu Angkut Personel (BAP), 4
Kapal Cepat Angkut Pasukan (CAP), 2 Kapal Latih (LAT)
dan 1 Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) serta 4 Landing
Platform Dock (LPD).
b.
KAL dan Patkamla berjumlah 328 buah berbagai
jenis dan ukuran.

15
c.
Pesawat udara berjumlah 64 buah, terdiri dari 13
Cassa NC-212/Angkut Taktis, 3 Cassa NC-212200/Patmar, 21 Nomad N-22/24, 1 Bonanza F-33 A, 3
Tampico/TB-9, 5 Tobago/TB-10, 5 NBell-412, 10 BO-105
dan 3 Colibri EC-120B.
d.
Kendaraan Tempur Marinir. 413 buah kendaraan
tempur terdiri dari : 68 Tank PT-76, 54 Tank PT-76 (M),
12 Tank AMX 10 PAC, 1 Tank Recovery, 3 Tank
Recovery BREM-2, 25 Pansam AMX-10 P, 25 Pansam
BTR-50 P, 69 Pansam BTR-50 P (M), 34 Pansam BTR50 PK, 5 Kapa K-61, 26 Kapa K-61 (R), 9 Kapa PTS, 8
Pansrod BTR-152, 12 BTR-80A, 27 KPR BM 14/17, 1
Sizu NA-140, 21 BVP-2, 2 BVP-2K, 2 VPV/ Recovery dan
9 Rocket RM 70/85 Grad Long Kal 122.
Alutsista TNI Angkatan Laut saat ini terdiri dari berbagai
jenis dan tipe yang beragam. Hal ini berpengaruh pada tingkat
kesiapan operasional yang cenderung menurun karena
permasalahan pemeliharaannya yang sulit. Tingkat kesiapan
unsur umumnya hanya pada tingkat siap berlayar, tidak siap
tempur. Beberapa kapal patroli yang dimiliki saat ini juga
merupakan kapal yang terbuat dari bahan fiberglass dan tidak
sesuai dengan spesifikasi militer (milspec).
Dari komposisi
Alutsista yang ada, maka kekuatan KRI dan Pesud belum
sepenuhnya mampu untuk melaksanakan tugas penegakan
kedaulatan negara di laut secara optimal, karena saat ini jumlah
kapal-kapal patroli jauh lebih banyak dibandingkan kapal-kapal
pemukul, sehingga kemampuan yang dominan adalah
kemampuan penjagaan keamanan laut.
16.
Kemampuan. Berdasarkan pada Doktrin TNI Tridek dan
Doktrin TNI Angkatan Laut Eka Sasana Jaya, maka kemampuan

16
TNI/TNI Angkatan Laut yang harus tetap dimiliki dan dipelihara
adalah meliputi:
a.
Kemampuan Intelijen TNI Angkatan Laut.
Kemampuan Intelijen TNI Angkatan Laut saat ini pada
umumnya masih memerlukan peningkatan terutama
sarana dan prasarana pendukungnya, adapun rinciannya
diarahkan pada kemampuan untuk mengatasi, mencegah
dan menindak yaitu:
1)
Spionase yang dilakukan oleh negara lain
untuk mencari dan mendapatkan rahasia militer.
2)
Sabotase dari pihak tertentu untuk merusak
instalasi penting dan objek vital nasional.
3)
Aksi teror bersenjata yang dilakukan oleh
teroris internasional atau bekerja sama dengan
teroris dalam negeri atau oleh teroris dalam negeri.
b.
Kemampuan
Pertahanan.
Kemampuan
pertahanan merupakan gabungan dari profesionalitas
prajurit dan kesiapan Alutsista untuk melaksanakan
kegiatan penegakan kedaulatan dalam rangka menjaga
keutuhan wilayah NKRI, kondisi kemampuan pertahanan
sebagai berikut:
1)
Kemampuan
peperangan
permukaan,
bawah permukaan, pernika kurang memadai,
sebagai akibat dari menurunnya daya gerak dan
kondisi teknis Sewaco, kurang berfungsinya
peralatan ranjau, terlampauinya batas usia pakai
rudal dan torpedo.

17
2)
Kemampuan peperangan amfibi dan
pertahanan pantai terutama proyeksi kekuatan dua
BTP Marinir terhadap dua sasaran amfibi secara
serentak kurang memadai.
Hal ini disebabkan
dari keterbatasan kualitas dan kuantitas Alutsista
yang dimiliki.
3)
Kemampuan peperangan khusus yang
meliputi antara lain kemampuan peperangan anti
nubika, anti teror, anti atau lawan sabotase
atas/bawah air masih harus ditingkatkan, terutama
pemenuhan kebutuhan peralatan pasukan khusus
yang belum memadai.
4)
Kemampuan Anglamil untuk mendukung
Serpas dan Serlog dalam operasi laut sudah cukup
memadai, dalam arti mampu mendukung
pergeseran pasukan dan logistik TNI serta tugastugas kemanusiaan.
c.

Kemampuan Keamanan.
1)
Kemampuan penegakan hukum di laut dan
pengamanan lalu lintas laut kurang memadai
karena keterbatasan sarana kapal patroli.
2)
Kemampuan untuk membantu pelaksanaan
operasi militer selain perang serta bantuan kepada
Polri dan otoritas sipil dalam upaya mewujudkan
keamanan dalam negeri cukup memadai.
3)
Kemampuan anti perompakan dan tindak
kekerasan di laut guna menurunkan angka
perompakan dan kegiatan ilegal lainnya di laut
dalam rangka menyelamatkan kekayaan negara,

18
serta memperbaiki citra bangsa dan negara di
mata internasional cukup memadai dalam arti
jumlah angka perompakan dan kegiatan ilegal
lainnya telah dapat diturunkan.
d.
Kemampuan
Pemberdayaan
Wilayah
Pertahanan Laut (Dawilhanla).
Berupa kemampuan
yang
diarahkan pada peningkatan kemampuan
pemberdayaan potensi maritim nasional maupun
kewilayahan seperti industri dan jasa maritim strategis
serta berbagai komponen cadangan lainnya guna
mendukung kemampuan pertahanan negara di laut masih
belum optimal.
e.
Kemampuan Dukungan. Pembinaan kemampuan
dukungan pada satuan operasi meliputi kemampuan
sebagai berikut:
1)
Kemampuan Surta Hidro-Oseanografi guna
mendukung satuan operasi dengan data yang
akurat tentang situasi medan, menyangkut data
hidrografi, oseanografi dan meteorologi daerah
operasi kurang memadai karena keterbatasan
sarana kapal survei dan prasarana pendukungnya.
2)
Kemampuan dukungan logistik operasi
meliputi dukungan fasilitas pangkalan, dukungan
perbaikan
dan
pemeliharaan,
dukungan
perbekalan serta dukungan perawatan personel
kurang memadai karena terbatasnya kemampuan
dukungan pangkalan saat ini hanya dua pangkalan
(Surabaya dan Jakarta) yang dapat memberikan
dukungan penuh terhadap satuan operasi.

19
3)
Kemampuan pembinaan Komando, Kendali,
Komunikasi, Komputerisasi, Informasi, Pengamatan dan Pengintaian (K4IPP) guna mendukung
kegiatan pengerahan unsur, pengamanan gerakan
unsur, pengamatan, laporan, penerusan dan
pelaksanaan perintah operasi belum optimal
karena keterbatasan peralatan.
4)
Kemampuan lembaga pendidikan untuk
mencetak personel sesuai kebutuhan baik secara
kuantitas
maupun
kualitas
masih
perlu
ditingkatkan.
5)
Kemampuan penelitian dan pengembangan
guna mengoptimalkan pengoperasian alutsista
masih perlu ditingkatkan terutama sarana
laboratorium dan prasarana pendukungnya.
6)
Kemampuan dalam mendukung operasi
kemanusiaan dan bantuan akibat bencana alam
(Humanitarian Assistance and Disaster Relief)
maupun kecelakaan di laut serta kegiatan SAR
cukup memadai.
7)
Pelaksanaan kegiatan pemeliharaan KRI,
KAL, pesawat udara dan kendaraan tempur, dapat
dilaksanakan secara terbatas.
8)
Faswatpers, Fasharkan dan Fasdik masih
perlu ditingkatkan.
17.

Penggelaran.
a.
Mabes TNI Angkatan Laut di Jakarta terdiri atas:
Eselon Pimpinan, Eselon Pembantu Pimpinan, 20
Kedinasan di Jakarta, Puspenerbal di Surabaya, 2 Lemdik
(Jakarta dan Surabaya), 3 Kotama Binops (Jakarta dan

20
Surabaya), 2 Kotama Pembinaan (Jakarta dan Surabaya)
serta Polisi Militer Angkatan Laut.
b.

Kotama Pembinaan dan Operasional.


1)

Koarmabar.
a)

Makoarmabar di Jakarta.

b)

Guspurlabar di Jakarta.

c)

Guskamlabar di Batam.

d)

KRI dan KAL.


(1)
Satkorarmabar
di Jakarta.

7 KRI

(2)
Satfibarmabar
di Jakarta.

6 KRI

(3)
Satranarmabar
di Mentigi.

2 KRI

(4)
Satrolarmabar
di Belawan.

: 14 KRI

(5)
Satbanarmabar
di Jakarta.

3 KRI

(6)
Satpaska 6 Den berada di
Jakarta.
(7)
e)

3 KAL di Jakarta.

Pangkalan.
(1)

Pangkalan Kelas A.

21
(a)
Lantamal I Belawan : 3
KRI jenis PC dan 5 KAL serta
50 Patkamla.
(b)
Lantamal II Padang : 1
KRI, 4 KAL dan 8 Patkamla.
(c)
Lantamal III Jakarta : 2
KRI jenis PC dan 6 KAL serta
44 Patkamla.
(d)
Lantamal IV Tanjung
Pinang : 3 KRI jenis PC dan 4
KAL serta 46 Patkamla.

(2)

(3)

Pangkalan Kelas B.
(a)

Lanal Sabang.

(b)

Lanal Batam.

(c)

Lanal Ranai.

(d)

Lanal Pontianak.

(e)

Lanal Lampung.

(f)

Lanal Dumai.

(g)

Lanal Banten.

(h)

Lanal Bangka Belitung.

Pangkalan Kelas C.
(a)

Lanal Sibolga

(b)

Lanal Lhok Seumawe

22
(c)

(4)

Lanal Palembang

(d)
Lanal
Karimun

Tanjung

Balai

(e)
Lanal
Asahan

Tanjung

Balai

(f)

Lanal Dabo Singkep

(g)

Lanal Tarempa

(h)

Lanal Bengkulu

(i)

Lanal Cirebon

1 Lanal Khusus Bandung.

(5)
86 Posal dan Pos Pengamat
serta Posal Satrad yang berada di
Wilayah Barat.
(6)
4 Fasharkan : Fasharkan
Sabang,
Fasharkan
Belawan,
Fasharkan Mentigi dan Fasharkan
Jakarta.
(7)
2)

4 Yonmarhanlan.

Koarmatim
a)

Makoarmatim di Surabaya

b)

Guspurlatim di Surabaya

c)

Guskamlatim di Biak.

d)

KRI dan KAL

23
(1)
Satkorarmatim
di Surabaya

: 14 KRI

(2)
Satselarmatim
di Surabaya

(3)
Satfibarmatim
di Surabaya

: 15 KRI

(4)
Satkatarmatim
di Surabaya

6 KRI

(5)
Satranarmatim
di Surabaya

4 KRI

(6)
Satrolarmatim
di Surabaya

: 15 KRI

(7)
Satbanarmatim
di Surabaya

: 12 KRI

2 KRI

(8)
Satpaska 6 Den berada di
Surabaya
(9)
e)

1 KAL di Surabaya.

Pangkalan.
(1)

Pangkalan Kelas A.
(a)
Lantamal V Surabaya :
2 KRI jenis PC dan 6 KAL
serta 24 Patkamla.
(b)
Lantamal VI Makassar :
1 KRI jenis PC dan 4 KAL
serta 47 Patkamla.
(c)
Lantamal VII Kupang : 1
KRI, 4 KAL dan 10 Patkamla.

24
(d)
Lantamal VIII Manado :
3 KRI jenis PC dan 5 KAL
serta 16 Patkamla.
(e)
Lantamal IX Ambon : 2
KRI jenis PC dan 4 KAL serta
6 Patkamla.
(f)
Lantamal X Jayapura :
4 KRI jenis PC dan 3 KAL
serta 8 Patkamla.
(g)
Lantamal XI Merauke :
4 KAL dan 6 Patkamla.

(2)

Pangkalan Kelas B.
(a)

Lanal Semarang

(b)

Lanal Bali

(c)

Lanal Mataram

(d)

Lanal Kendari

(e)

Lanal Balikpapan

(f)

Lanal Tarakan

(g)

Lanal Palu

(h)

Lanal Cilacap

(i)

Lanal Maumere

(j)

Lanal Tual

(k)

Lanal Sorong

(l)

Lanal Tahuna

(m)

Lanal Ternate

(n)

Lanal Biak

25
(3)

Pangkalan Kelas C.
(a)

Lanal Tegal

(b)

Lanal Banyuwangi

(c)

Lanal Aru

(d)

Lanal Kota Baru

(e)

Lanal Banjarmasin

(f)

Lanal Sangatta

(g)

Lanal Toli-Toli

(h)

Lanal Gorontalo

(i)

Lanal Timika

(j)

Lanal Nunukan

(k)

Lanal Batuporon

(l)

Lanal Pulau Rote

(4)
2 Lanal Khusus yaitu Lanal
Malang dan Lanal Yogyakarta.
(5)
106 Posal dan Pos Pengamat
serta Posal Satrad yang berada di
wilayah Timur.
(6)
5 Fasharkan : Fasharkan
Surabaya, Fasharkan Makassar,
Fasharkan Manokwari, Fasharkan
Bitung dan Fasharkan Ambon.
(7)
3)

6 Yonmarhanlan.

Kolinlamil.
a)

Mako Kolinlamil Jakarta

26

c.

b)

Satlinlamil Jakarta

: 11 KRI

c)

Satlinlamil Surabaya

: 8 KRI

Dua Kotama Pembinaan.


1)

Marinir.

Mako Kormar berada di Jakarta.

a)
Pasmar 1 di Surabaya terdiri atas:
Mako Pasmar-1, Brigif 1 Mar Mako di
Surabaya, Yon 1, 3 dan 5 di Surabaya,
Resimen Kavaleri-1 Marinir, Resiman
Artileri-1 Marinir, resimen Bantuan Tempur1 Marinir, Yon Taifib-1 Marinir dan Lanmar
Surabaya.
b)
Pasmar 2 di Jakarta terdiri dari: Mako
Pasmar-2, Brigif 2 Mar Mako di Jakarta,
Yon 2, 4 dan 6 di Jakarta, Resimen
Kavaleri-2 Marinir, Resimen Artileri-2
Marinir, Resimen Bantuan Tempur-2
Marinir, Yon Taifib-2 Marinir dan Lanmar
Jakarta.
c)
Brigif 3 Mar BS Mako di Piabung,
Yon 7 dan 9 di Piabung sedangkan Yon 8
di Pangkalan Brandan.
d)

Kolatmar di Surabaya

e)

Detasemen Jalamangkara di Jakarta.

f)
Rumkitalmar
Surabaya

di

Jakarta

dan

2)
Kobangdikal dengan Mako Kobangdikal
berada di Surabaya membawahi: 3 Komando

27
Pendidikan terdiri dari : Kodikopsla, Kodikdukum
dan Kodikmar serta STTAL, Puslatlekdalsen,
Puslatdiksarmil dan Puspeknubika.
d.

Dua lembaga pendidikan yaitu:


1)
KAL.

Akademi Angkatan Laut di Surabaya : 4

2)
Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan
Laut di Jakarta.
e.

Puspenerbal.
1)

Mako Puspenerbal di Surabaya.

2)

Pesawat udara.
a)
Wing Udara-1 : 55 Pesud berbagai
jenis berada di Lanudal Juanda Surabaya.
b)
Wing Udara-2 : 9 Pesud berbagai
jenis berada di Lanudal Tanjung Pinang.

3)
Pangkalan.
Membawahi 9 Lanudal terdiri
dari 1 Lanudal kelas A (Juanda Surabaya), 6
Lanudal kelas B (Lanudal Sabang, Jakarta,
Tanjung Pinang, Kupang, Manado dan Biak), dan
2 Lanudal kelas C (Lanudal Matak dan Aru).
f.
Dishidros di Jakarta :
KAL.

5 KRI berbagai jenis dan 2

18.
Dukungan Anggaran. Dukungan anggaran pemerintah
yang diberikan untuk belanja pegawai dan belanja barang U.O.
TNI Angkatan Laut tidak ada peningkatan, sehingga hanya

28
mampu melaksanakan pemeliharaan dalam rangka mempertahankan kondisi teknis Alutsista.
BAB IV
PENDEKATAN DAN PERHITUNGAN MINIMUM ESSENTIAL
FORCE

19.
Umum.
Untuk mendapatkan komposisi kekuatan
pertahanan TNI Angkatan Laut pada taraf Minimum Essential
Force maka dapat dilaksanakan melalui berbagai pendekatan
sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Henry C Bartlett
maupun Richmond M Turnner tentang Force Planning
Framework.
Beberapa pendekatan yang akan digunakan
adalah berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 34 Tahun 2004
tentang TNI pasal 9 dan Peraturan Panglima TNI Nomor
Perpang/26/V/2008 tanggal 5 Mei 2008 tentang Operasi Laut.
20.

Pendekatan
a.

Tugas-tugas TNI Angkatan Laut.


1)
Melaksanakan tugas TNI matra laut di
bidang pertahanan. Untuk melaksanakan tugas
ini TNI Angkatan Laut harus memiliki kemampuan
memproyeksikan kekuatan ke darat baik bersifat
tempur maupun administrasi, memutus garis
perhubungan laut lawan dan mempertahankan
garis perhubungan laut sendiri, mengerahkan
kekuatan reaksi cepat sebagai respon awal serta
mengerahkan kekuatan untuk melaksanakan
peperangan asimetris.
2)
Menegakkan
hukum
dan
menjaga
keamanan di wilayah laut Yurisdiksi Nasional

29
sesuai dengan Hukum Nasional dan Hukum
Internasional yang telah diratifikasi.
Untuk
melaksanakan tugas ini TNI Angkatan Laut harus
memiliki kemampuan mengamankan dan menjaga
perairan yurisdiksi nasional.
3)
Melaksanakan tugas Diplomasi Angkatan
Laut dalam rangka mendukung kebijakan politik
luar negeri yang ditetapkan oleh pemerintah.
Untuk melaksanakan tugas ini TNI Angkatan Laut
harus mampu menggelar kekuatan untuk
penangkalan melalui implementasi konsep Naval
Influence Politic and Naval Power Politic (Naval
Aid, Operational and Goodwil Visits) .
4)
Melaksanakan
tugas
TNI
dalam
pembangunan dan pengembangan kekuatan
matra laut. Untuk melaksanakan ini TNI Angkatan
Laut harus mampu melakukan pembinaan
kemampuan dan kekuatan terhadap personel dan
materiil .
5)
Kemampuan
Pemberdayaan
Wilayah
Pertahanan Laut (Dawilhanla). Untuk melaksanakan tugas ini TNI Angkatan Laut harus memiliki
kemampuan membina potensi maritim untuk
digunakan sebagai komponen pendukung maupun
cadangan.
b.
Peraturan Panglima TNI Nomor Perpang/
26/V/2008 tanggal 5 Mei 2008 tentang Operasi Laut.
1)

Operasi Militer untuk Perang (OMP)


a)

Operasi Penghancuran.

30

2)

b)
Operasi
Pemutusan
Perhubungan Laut Lawan (PGPLL)

Garis

c)
Operasi
Perlindungan
Perhubungan Laut Sendiri (PGPLS)

Garis

d)

Operasi Amfibi.

e)

Operasi Ratmin.

f)

Operasi Pertahanan Pantai.

g)

Operasi Peranjauan.

h)

Operasi Lintas Laut Militer.

i)

Operasi Kamla.

j)

Operasi Bantuan Tempur Laut.

k)

Operasi Khusus.

Operasi Militer Selain perang (OMSP)


a)
Operasi untuk mengatasi gerakan
sparatis.
b)
Operasi untuk mengatasi pemberontakan bersenjata.
c)
Operasi untuk mengatasi
teorisme di Laut (Maritime Terrorism).
d)
Operasi
untuk
wilayah perbatasan.

aksi

mengamankan

e)
Operasi untuk mengamankan obyek
vital nasional yang bersifat strategis.

31
f)
Operasi untuk melaksanakan tugas
perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan
politik luar negeri.
g)
Operasi
Presiden dan
keluarganya.

untuk
mengamankan
Wakil Presiden beserta

h)
Operasi
untuk
memberdayakan
wilayah
pertahanan
dan
kekuatan
pendukungnya secara dini sesuai dengan
sistem pertahanan semesta.
i)
Operasi untuk
pemerintah daerah.

membantu

tugas

j)
Operasi untuk membantu Polri dalam
rangka tugas keamanan dan ketertiban
masyarakat yang diatur dalam undangundang.
k)
Operasi untuk mengamankan tamu
negara setingkat kepala negara dan
perwakilan pemerintah asing yang berada di
Indonesia.
l)
Operasi untuk membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian
dan pemberian bantuan kemanusiaan.
m)
Operasi untuk membantu
pertolongan dalam kecelakaan (SAR).

dan

n)
Operasi untuk membantu pemerintah
dalam pengamanan pelayaran terhadap
pembajakan, perompakan dan penyelundupan.

32
21.
Kemampuan Operasi yang harus dimiliki oleh TNI
Angkatan Laut yaitu:
a.
Mampu melaksanakan Opslagab di dua tempat
terpisah/pengendalian laut.
b.
Mampu melaksankan Operasi Amfibi dengan satu
BTP Marinir (1.745).
c.
Mampu melaksanakan Operasi Ratmin Dengan
satu BTD.
d.
Mampu melaksanakan Operasi PPRC dengan
satu BTP Marinir (1.300).
e.
Mampu melaksanakan peran diplomasi dengan
menghadirkan kekuatan/ Naval Presence.
f.

Mampu melaksanakan Operasi Kamla.

g.
Mampu melaksanakan Operasi Khusus : Intelijen,
sabotase dan infiltrasi.
h.
Mampu
melaksanakan
dukungan
pembinaan kemampuan dan kekuatan.
22.

dalam

Perhitungan MEF.
a.

Unsur PGPLL.
1)
Sub Komando Tugas Gabungan Laut
Gabungan (Subkogasgablagab) 1/Timur. Dalam
rangka memutus garis perhubungan laut lawan
dengan skenario pergeseran kekuatan laut lawan
dari pangkalan laut di Teluk Sepanggar (Sabah
Malaysia Timur) menuju Hot Area (Ambalat)
melalui Laut Sulawesi dengan kekuatan 2 KS, 6

33
Korvet, 4 KCR, 1 BCM dan beberapa kapal bantu
lainnya.
Untuk memutus kekuatan laut lawan
tersebut maka dibutuhkan unsur-unsur 19 KRI
berbagai jenis terdiri : 4 PKR, 8 KCR, 1BCM, 2 KS,
2 PR/BR, 2 Trimaran dan 6 pesud terdiri dari 2
Pesud Patmar serta 4 Heli AKPA/AKS, diperkuat
dengan 2 Tim Paska.

2)
Sub Komando Tugas Gabungan Laut
Gabungan (Subkogasgablagab) 2/Barat. Dalam
rangka memutus garis perhubungan laut lawan
dengan skenario pergeseran kekuatan laut lawan
dari pangkalan laut di Lumut (Semenanjung
Malaysia Barat) menuju Teluk Sepanggar (Sabah
Malaysia Timur) melalui Laut Natuna/Laut Cina
Selatan dengan kekuatan 2 Fregat, 5 Korvet, 4
KCR dan 1 BCM. Untuk memutus kekuatan laut
lawan tersebut maka dibutuhkan unsur-unsur 19
KRI berbagai jenis terdiri : 4 PKR, 8 KCR, 1 BCM,
2 KS , 2 PR/BR, 2 Trimaran dan 6 pesud terdiri
dari 2 Pesud Patmar serta 4 Heli AKPA/AKS,
diperkuat dengan 2 Tim Paska.

b.
Sub Komando Tugas Gabungan Amfibi
(Subkogasgabfib). Untuk melaksanakan operasi amfibi
pada satu trouble spot dibutuhkan kekuatan 1 BTP
Marinir yang terdiri dari : 1.745 personel, 17 Tankfib, 50
Ranratfib, 10 Kapa, 14 Kendaraan Arhanud, 9 Meriam
105/122, 6 Meriam, Albes, Ranmor dan Rantis lainnya.
Untuk mengangkut kekuatan 1 BTP Marinir maka

34
dibutuhkan unsur-unsur 24 KRI berbagai jenis dengan
rincian sebagai berikut: 6 AT, 1 MA, 2 LPD, 1 BAP, 2
BCM, 1 BRS, 1 TDS, 2 BR, 6 PKR, 2 PK, 8 Pesud
bebagai jenis terdiri dari 4 Heli Angkut, 2 Pesawat Angkut
Taktis dan 2 heli escort. Untuk Operasi Khusus / Operasi
Aju dibutuhkan 3 Tim Pasukan Laut Khusus TNI
Angkatan Laut (Paska/Taifib/Denjaka).

c. Sub Komando Tugas Gabungan Pendaratan


Administrasi (Subkogasgabratmin). Untuk melaksanakan operasi Ratmin pada satu trouble spot dibutuhkan
kekuatan 1 BTD TNI AD (1.000 s.d. 1.500 personel) yang
diangkut dengan unsur-unsur 16 KRI berbagai jenis
dengan rincian sebagai berikut : 5 AT, 1 LPD/MA, 1 BAP,
5 PK, 1 BCM, 1 TDS, 1 ASG, 1 BU serta 2 Heli Angkut
Taktis.

d. PPRC.
Untuk melaksanakan operasi PPRC
dibutuhkan kekuatan 1 BTP Marinir (1.300 personel)
dengan rincian 35 Ranpur sebagai berikut : 5 Tankfib, 15
Ranratfib, 5 Ran Arhanud, 5 Kapa, 5 Roket Multi Laras.
Dibutuhkan unsur-unsur angkut terdiri dari 10 KRI (4 AT,
1 LPD/MA, 1 BCM, 2 PKR dan 2 PK), 6 Pesud (2 heli
angkut, 2 heli escort dan 2 heli AKPA/AKS) serta 2 Tim
Taifib.
e.
Operasi dalam rangka Kehadiran di laut (Naval
Presence).
Menggunakan kekuatan dari unsur-unsur
Subkogasgablagab timur dan barat serta kekuatan
perbantuan.

35
f.
Operasi Keamanan Laut.
Dalam rangka
mewujudkan penegakan hukum di laut, maka perlu
dilaksanakan kegiatan operasi Kamla/Penegakan Hukum
sebagai jaminan keamanan pelayaran di laut. Susunan
kebutuhan kekuatan tersebut adalah terdiri dari 44
FPB/PC dan 9 Pesud Patmar. Kebutuhan kapal-kapal
tersebut dipadukan dengan rencana pemanfaatan 18
stasiun radar pantai yang akan dioperasikan oleh TNI
Angkatan Laut (coastal surveillance system yang
tergabung dalam IMSS/Integrated Maritime Surveillance
System).
g.

Kekuatan Paslasus.
1)

Denjaka : 1 Detasemen.

2)
Kopaska : 2 Satuan terdiri dari masingmasing 12 Detasemen.
3)

Taifib

: 2 Yon.

h.
Operasi yang bersifat Perbantuan.
Dalam
rangka mendukung operasi militer selain perang (OMSP)
dan sebagai kekuatan cadangan maka dibutuhkan
kekuatan yang sewaktu-waktu siap ditugaskan ke daerah
operasi dengan rincian kekuatan sebagai berikut : 19 KRI
(4 AT/Repair, 2 BAP, 4 KCR, 3 BHO, 3 LAT, 1 BRS/AT
Container Medis, 1 BU, 1 ASG), 17 Pesud (2 Pesud
Patmar, 5 Pesud Angkut, 6 Pesud Latih dan 4 Heli Latih)
dan 86 Ranpur (46 Tankfib, 15 Ranratfib, 10 kendaraan
Arhanud, 10 KAPA dan 5 Roket Multi Laras).
i.
Cadangan
Kekuatan
Pasukan
Marinir.
Kekuatan Marinir yang disiapkan untuk sewaktu-waktu
ditugaskan menghadapi situasi krisis, sebagai berikut:

36
1)
1 BTP (1.745 personel) dilengkapi dengan
50 Ranpur berbagai jenis.
2)
1 Batalyon Infanteri Siaga Ibu Kota (Stand
by Force) terdiri dari 250 personel dilengkapi
dengan 15 Ranpur berbagai jenis.
3)
1 Batalyon Tugas Kamdagri/Tugas Lainnya
terdiri dari 914 personel dilengkapi dengan 50
Ranpur berbagai jenis.
j.
Kekuatan Pangkalan.
Dibutuhkan pangkalanpangkalan yang mampu mendukung kegiatan operasi di
jajaran Lantamal III, IV, V, VI, VIII dan XI.
k.
Kekuatan Yonmarhanlan. Dibutuhkan batalyonbatalyon Marinir di Lantamal III, IV, V, VI, VIII dan XI yang
dapat melaksanakan pertahanan pangkalan dengan
kemampuan persenjataan yang lengkap.

BAB V
STRATEGI PENCAPAIAN MEF

23.
Umum. Guna mewujudkan pencapaian pembangunan
kekuatan TNI Angkatan Laut sesuai MEF ditengah keterbatasan
dukungan alokasi anggaran pemerintah, maka perlu
dilaksanakan strategi pencapaian berupa : Pengadaan Alutsista
yang mengutamakan pemberdayaan Industri dalam negeri dan
mengupayakan pemanfaatan pinjaman dalam negeri (PDN),
peningkatan kemampuan Alutsista yang ada serta penghapusan
Alutsista yang sudah tidak efektif lagi dan berusia tua untuk
menghindari beban anggaran pemeliharaan.
24.
Tujuan. Pencapaian MEF bertujuan mewujudkan
susunan kekuatan TNI Angkatan Laut yang mampu :

37
a.
Melaksanakan proyeksi kekuatan ke darat baik
bersifat tempur maupun administrasi, memutus garis
perhubungan laut lawan dan mempertahankan garis
perhubungan laut sendiri, mengerahkan kekuatan reaksi
cepat sebagai respon awal serta mengerahkan kekuatan
untuk melaksanakan peperangan asimetris.
b.
Melaksanakan tugas TNI Angkatan Laut untuk
mengamankan dan menjaga perairan yurisdiksi nasional.
c.
Menggelar kekuatan untuk penangkalan melalui
implementasi konsep Naval Influence Politic and Naval
Power Politic (Naval Aid, Operational and Goodwil
Visits).
d.
Melakukan pembinaan kemampuan dan kekuatan
terhadap personel dan materiil.
f.
Membina potensi maritim untuk digunakan sebagai
komponen pendukung maupun cadangan.
25.

Sasaran.
a.
Terwujudnya susunan kekuatan yang mampu
melaksanakan proyeksi kekuatan ke darat baik bersifat
tempur
maupun
administrasi,
memutus
garis
perhubungan laut lawan dan mempertahankan garis
perhubungan laut sendiri, mengerahkan kekuatan reaksi
cepat sebagai respon awal serta mengerahkan kekuatan
untuk melaksanakan peperangan asimetris.
b.
Terwujudnya susunan kekuatan yang mampu
melaksanakan tugas TNI Angkatan Laut untuk
mengamankan dan menjaga perairan yurisdiksi nasional.
c.
Terwujudnya susunan kekuatan yang mampu
menggelar kekuatan untuk penangkalan melalui imple-

38
mentasi konsep Naval Influence Politic and Naval Power
Politic (Naval Aid, Operational and Goodwil Visits).
d.
Terwujudnya susunan kekuatan yang mampu
melakukan pembinaan kemampuan dan kekuatan
terhadap personel dan materiil.
e.
Terwujudnya susunan kekuatan yang mampu
membina potensi maritim untuk digunakan sebagai
komponen pendukung maupun cadangan.
26.
Metode. Metode yang digunakan untuk memenuhi MEF
Alutsista dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan:
pengadaan, peningkatan kemampuan, pengalihan fungsi dan
penghapusan.

27.

Upaya Pencapaian MEF Alutsista KRI.


a.

Pengadaan 2 KS dari luar negeri.

b.
Pengadaan 2 PKR dan peningkatan kemampuan 6
Van Speijk dengan pemasangan Rudal Anti Permukaan
dan Rudal Anti Udara.
c.
Pengadaan 16 KCR dan 4 KCR tipe Trimaran dari
dalam negeri.
d.
Pengadaan 12 AT, 4 BCM serta 1 ASG dari dalam
negeri
e.
Pengadaan 1 Kapal Latih, 2 BAP dan 2 BHO dari
luar negeri.
f.
Peningkatan kemampuan PK dengan pemasangan
9 sonar dan 2 PR/BR dengan pemasangan PAP.

39
g.
Penghapusan 12 AT (5 USA, 3 Korea, 4 Frosch), 4
CAP, 3 BCM, 1 BU, 1 ASG, 1 BAP dan 3 PC (fiber)
h.
PC.
28.

Pengalihan fungsi 4 BHO menjadi 1 TDS dan 3

Upaya Pencapaian MEF Alutsista Pesud.


a.
Pengadaan 6 CN-235 MPA dan peningkatan
kemampuan 6 NC-212 menjadi versi Patmar.
b.

Pengadaan 10 heli AKPA/AKS

c.

Pengadaan 3 heli angkut.

d.
Pengalihan fungsi 1 heli intai taktis menjadi 1 heli
latih.
e.
Peningkatan kemampuan 4 heli intai taktis menjadi
4 heli escort.
f.
Penghapusan 21 Nomad, 1 Cassa, 1 Bonanza, 3
Tampico, 1 Tobago, 3 Heli Bolkow, 1 Heli N-Bell 212.
29.

Upaya Pencapaian MEF Ranpur Marinir.


a.

Pengadaan 68 Tankfib BMP-3 F.

b.
Pengadaan 4 Pansam BTR-50 P (M) dan 7 buah
BVP-2.
c.
Pengadaan 16 Kendaraan Roket Multi Laras RM70 Grad.
d.
Penghapusan 7 Tankfib PT 76, 8 Pansrod BTR152, 27 KPR BM 14/17 dan 1 Sizu NA-140.
30.

Upaya Pencapaian MEF Pangkalan.

40
a.
Peningkatan kemampuan Lantamal ,Lanal serta
Lanudal yang berada dekat dengan hot area (Lantamal
IV, VI, dan VIII, Lanal Tarakan, Palu , Sangatta dan
Lanudal Manado).
b.
Pembangunan 10 CSS yang menghadap Laut
Sulawesi dan Laut Halmahera, sesuai Project IMSS FY07 dan 08.
c.
Pembangunan pangkalan kapal selam di Palu,
pembangunan dermaga di Tarakan, peningkatan
kemampuan Fasharkan Mentigi, Merauke dan Bitung.
d.
Pembangunan
Yonmarhanlan
di
Merauke,
peningkatan kemampuan Yonmarhanlan di Lantamal III,
IV, V, VI, VIII dengan melengkapi persenjataan : Meriam
PSU, Rudal AL-1, Meriam 20 mm dan Ranmor serta
Rantis lainnya. Peningkatan Mako Yon-8 Marinir di
Pangkalan Brandan.
31.
Upaya Pencapaian MEF Pasukan Laut Khusus TNI
Angkatan Laut.
a.
Pengadaan 4 buah Combat boat untuk operasi
khusus.
b.
Melengkapi kekuatan setiap 1 Detasemen terdiri
dari 4 tim.
c.

Penyempurnaan Yon Taifib menjadi Sat Ipam.

d.
Meningkatkan kemampuan personel dan Matsus
Denjaka, Kopaska serta Taifib.
e.
Kerjasama Litbang kapal selam mini dengan BPPT
dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT)

41
untuk keperluan Operasi Khusus penyusupan Pasukan
Laut Khusus TNI Angkatan Laut.
f.

Pengadaan KCR Trimaran untuk Operasi Khusus.


BAB VI
KEMUNGKINAN RESIKO

32.
Beberapa Kemungkinan Resiko.
Kemungkinankemungkinan resiko yang akan dihadapi adalah sebagai berikut:
a.

Apabila MEF tercapai.


1)
Kekuatan MEF hanya mampu mengcover
ancaman militer yang berasal dari kawasan utara
(satu arah ancaman dengan dua poros
ancaman) saja. Namun apabila terdapat ancaman
yang berasal dari arah kawasan lain (barat atau
selatan) secara bersamaan, besar kemungkinan
kekuatan MEF tidak akan mampu menghadapinya.
2)
Dalam operasi keamanan laut kekuatan
MEF hanya mampu mengamankan dan menjaga
perairan yurisdiksi nasional di beberapa focalfocal area pelanggaran hukum saja, namun di
luar area tersebut akan sulit untuk diamankan dan
dijaga.
3)
Dalam melaksanakan operasi di pulaupulau terluar dan wilayah perbatasan, wilayahwilayah yang mampu melaksanakan operasi
secara optimal baik unsur laut maupun dukungan
pangkalan hanya di wilayah kerja beberapa
Lantamal yang dekat dengan hot area, yaitu

42
Lantamal IV, VI, VIII dan XI. Sedangkan diwilayah
kerja pangkalan angkatan laut yang lain,
pelaksanaan operasi akan terbatas dan tidak
optimal.
4)
Kekuatan MEF hanya mampu membangun
daya tangkal pada tingkat minimum.
b.

Apabila MEF tidak tercapai.


1)
Resiko yang akan dihadapi adalah kekuatan
yang ada hanya mampu menghadapi ancaman
dari satu poros kemungkinan kekuatan musuh
akan datang. Apabila dihadapkan dengan
banyaknya celah yang memungkinkan masuknya
kekuatan musuh, maka situasi ini akan
membahayakan kedaulatan NKRI.
2)
Dengan tidak tercapainya MEF maka
kekuatan yang ada hanya mampu mengamankan
dan menjaga focal area pelanggaran hukum
terpilih.
3)
Tidak tercapainya MEF mempengaruhi
daya tangkal bangsa dimana penangkalan
merupakan cara untuk mencegah pihak lawan
menggunakan kekuatannya atau mencegah
timbulnya ancaman yang berwujud kontijensi.
4)
Akan berpengaruh terhadap kelangsungan
hidup bangsa, kedaulatan dan persatuan
bangsa. Disamping itu negara tidak akan memiliki
kebebasan dan kemampuan dalam pengambilan
keputusan nasional dengan adanya tekanan dari
negara lain.

43
5)
Dengan terbatasnya dukungan untuk
alutsista, peralatan dan perlengkapan serta
pendidikan, berdampak pada menurunnya
profesionalisme prajurit matra laut.
6)
Apabila dukungan untuk pemeliharaan dan
penggantian alutsista belum dapat dipenuhi, maka
kondisi alutsista akan terus mengalami
penurunan, bahkan tidak akan berfungsi sama
sekali.
7)
Apabila dukungan untuk peningkatan
Teknologi persenjataan tidak dapat diwujudkan,
maka kemampuan persenjataan yang kita miliki
tidak akan mempunyai kemampuan yang berarti
untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dan
negara.
8)
Apabila kemampuan komponen utama
pertahanan negara sangat terbatas maka jaminan
untuk mempertahankan kondisi stabilitas tersebut
juga mengalami keterbatasan, yang pada akhirnya
dapat mengganggu kelangsungan program
pembangunan pemerintah.

BAB VII
PENUTUP

33.
Keseluruhan
jumlah dan komposisi kekuatan TNI
Angkatan Laut yang dibutuhkan dalam tataran MEF adalah
kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi ancaman
terhadap kedaulatan negara dari satu arah kawasan (utara)
yaitu Subkogasgabfib (kekuatan 1 BTP Marinir 1.745 personel
Pasrat, 24 KRI, 8 Pesud, 100 Ranpur), dua gugus tugas laut

44
gabungan Timur (19 KRI dan 6 Pesud) dan Barat (19 KRI dan 6
Pesud) dan Subkogasgabratmin (kekuatan 1 BTD, 16 KRI, 2
Pesud), PPRC (10 KRI, 6 Pesud dan 35 Ranpur), kekuatan
untuk melaksanakan tugas penegakan hukum dan menjaga
keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional serta mendukung
tugas OMSP (44 KRI dan 9 Pesud), kekuatan untuk kebutuhan
diplomasi Angkatan Laut (menggunakan kekuatan Opslagab
dan Dukungan)
serta kebutuhan kekuatan yang bersifat
perbantuan untuk kepentingan survei, latihan dan sebagai
kekuatan cadangan dibutuhkan 19 KRI, 17 Pesud dan 86
Ranpur berbagai jenis. Dengan demikian, jumlah kekuatan
yang dibutuhkan untuk memenuhi kriteria MEF adalah: 151 KRI,
54 pesawat udara dan 310 Ranpur yang memiliki kondisi
siap tempur dan teknologi terkini serta kekuatan pasukan 3
BTP Marinir, 1 Yonif Siaga Ibu Kota, 1 Yonif Kamdagri, dan
peningkatan kemampuan pangkalan yang dilengkapi
dengan 18 CSS.
Perhitungan MEF dilaksanakan agar pembangunan
kekuatan pertahanan TNI Angkatan Laut ke depan lebih realistis
yang dihadapkan pada keterbatasan anggaran. Untuk itu, perlu
adanya penyesuaian Rencana Jangka Pendek, Menengah dan
Jangka Panjang.
Diharapkan pada tahun 2024 seluruh
kebutuhan MEF sudah dapat terpenuhi.
Demikian Naskah Kebijakan Dasar Pembangunan TNI
Angkatan Laut Menuju Kekuatan Pokok Minimum (Minimum
Essential Force) ini disusun agar dapat digunakan sebagai
pedoman dalam perencanaan pembangunan kekuatan dan
kemampuan TNI Angkatan Laut.

Kepala Staf Angkatan Laut


Cap/tertanda

45
Tedjo Edhy Purdijatno, S.H.
Laksamana TNI
Autentikasi
Kepala Setumal
Dwi Widjajanto
Kolonel Laut (S) NRP 8346/P