Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA II
Viskositas Cairan
15 April 2014



Disusun oleh :
Septiwi Tri Pusparini
1112016200035

KELOMPOK 3
Ade Ira Nurjanah (1112016200015)
Ira Nurpialawati (1112016200029)






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2014
I. ABSTRAK
Praktikum kali ini akan membahas tentang viskositas cairan. Dimana viskositas
cairan adalah kerapatan cairan. Dapat juga dinyatakan sebagai tahanan aliran fluida yang
merupakan gesekan antara molekul-molekul cairan satu dengan yang lain. Suatu jenis
cairan yang mudah mengalir dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah, dan juga
sebaliknya. Setiap cairan memiliki viskositas yang berbeda-beda. Untuk itu dilakukan
percobaan ini agar lebih memahami bagaimana cara penentuan viskositas suatu cairan
dengan menggunakan metode Ostwald dan falling ball.

II. PENDAHULUAN
Viskositas adalah property suatu fluida untuk menahan laju ketika deformasi
terjadi apabila fluida dikenaigaya-gaya geser. Seperti fluida, viskositas bergantung pada
temperature, komposisi, dan tekanan fluida, tetapi tidak bergantung pada laju regangan
geser. (James R.Welty, 2002).
Viskositas suatu fluida merupakan daya hambat yang disebabkan oleh gesekan
antar molekul-molekul cairan, yang mampu menahan aliran fluida sehingga dapat
dinyatakn sebagai indikator tingkat kekentalannya (Warsito,2012).
Viskositas berhubungan dengan besarnya gaya gesekan antarlapis zat cair itu, dan
juga antara zat cair dengan dinding pipanya. Fluida cair yang mengalir didalam pipa,
jenis alirannya dapat berupa aliran laminar atau aliran turbulen. Kedua jenis aliran ini
terkait dengan nilai (viskositas), massa jenis () dan kelajuan alir (v) zat cair serta
diameter pipa (D) dimana fluida itu mengalir (Bambang Murdaka, 2010).
Aliran cairan dapat dikelompokkan ke dalam dua tipe. Yang pertama adalah aliran
laminar atau aliran kental, yang secara umum menggambarkan laju aliran kecil melalui
sebuah pipa dengan garis tengah kecil. Aliran yang lain adalah aliran turbulen yang
menggambarkan laju aliran yang besar melalui pipa dengan diameter yang lebih besar
(Dogra, 2009).
Metode Ostwald waktu yang dibutuhkan untuk mengalirnya sejumlah tertentu cairan
dicatat, dan q dihitung dengan hubungan
( )
VL
t R P
8
4
A
=
t
q
Metode Bola Jatuh: metode bola jatuh menyangkut gaya gravitasi yang seimbang dengan
gerakan aliran pekat, dan hubungannya adalah:
v
g d d r
b b
9
) ( 2
2

= q
dimana b merupakan bola jatuh atau manik-manik dan g adalah konstanta gravitasi.


III. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Viskometer
2. Piknometer
3. Gelas ukur
4. Corong
5. Bulp
6. Neraca ohauss
7. Kelereng
8. Stopwatch
9. Mistar

Bahan :
1. Aquades
2. Etanol
3. Minyak tanah
4. Oli

Langkah kerja :
1. Masukkan air ke dalam picknometer sampai penuh.
2. Kemudian timbang picknometer berisi sampel tersebut di neraca ohauss
3. Ulangi dengan mengganti sampel dengan etanol, minyak, oli.

Metode Ostwald
1. Bersihkan viskometer dengan menggunakan pelarut yang sesuai (bisa dengan etanol
2. Ukur larutan air sebanyak 40 ml kemudian masukkan ke dalam viscometer
3. Tandai tinggi larutan pada A dan B
4. Sedot air menggunakan bulp yang diletakkan pada pipa B (selama proses penyedotan
pipa B, tutup pipa A)
5. Lepas bulp pada pipa B sehingga air kembali ke posisi semula (dari m ke n), catat
waktu yang dibutuhkan air sampai ke posisi semula
6. Ulangi langkah 1-5 dengan sampel etanol, minyak dan oli

Metode Falling Ball
1. Ukur panjang gelas kimia
2. Ukur jari-jari kelereng
3. Masukkan air ke dalam gelas kimia ukuran 100 ml (usahakan agar air penuh)
4. Masukkan kelereng ke dalam gelas kimia tersebut
5. Putar gelas kimia 180 sehingga kelereng bergeser
6. Catat waktu yang dibutuhkan kelereng jatuh ketika gelas kimia diputar 180
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sampel Piknometer
kosong (gram)
Piknometer +
sampel (gram)
Volume (L) Massa jenis
(gr/l)
Aquades 22 46,35 0,249 97,79
Etanol 22 42,05 0,249 80,52
Minyak tanah 22 42,55 0,249 82,53
Oli 22 43,6 0,249 86,74

=


Aquades =


Aquades = 97,791

Etanol =


Etanol = 80,52

Minyak tanah =


Minyak tanah = 82,53

Oli =


Oli = 86,74


Metode Ostwald
Sampel
Volume
sampel (ml)
jari-jari pipa
(cm)
panjang pipa
(cm)
waktu
(sekon)
Aquades 0,03 0,85 12,2 6,54
Etanhol 0,03 0,85 12,2 3,47
Minyak tanah/kerosin 0,03 0,85 12,2 3,30
Oli 0,03 0,85 12,2 62


q =koefisien viskositas (poise)
R = jari-jari pipa (m)
t = waktu (detik)
V= volume (liter)
L= panjang pipa (cm)
P = tekanan (dyne/cm
2
)
Diketahui: P = 1 atm = 1,013.10
6
dyne/cm
2
V = 0,03 liter = 30 cm
3
L = 12,2 cm
R = 0,85 cm

aquades
=



aquades
=


= 3708,65 Poise

etanol
=



etanol
=


= 1969,74 Poise

kerosin
=



kerosin
=


= 1871,34 Poise

Oli
=



Oli
=


= 35158,48 Poise

Metode Falling Ball
Sampel
jari-jari kelereng
(dm)
tinggi tabung (dm) waktu (sekon)
Aquades
0,85 23,2 1,09
Etanhol 0,85 23,2 0,77
Minyak tanah/kerosin 0,85 23,2 0,83
Oli 0,85 23,2 2,07



v = kecepatan (dm/s)
l = jarak (dm)
t = waktu (detik)

99 , 1
2 , 23
Aquades
= v = 11,65 dm/s
77 , 0
2 , 23
Ethanol
= v = 30,12 dm/s
83 , 0
2 , 23
Kerosin
= v = 27,95 dm/s
07 , 2
2 , 23
Oli
= v = 11,20 dm/s

t
l
v =
3
3
4
r v
kelereng
t =

3
) 85 , 0 .(
7
22
.
3
4
=
= 2,5711 cm
3

= 0,002571 dm
3

Diketahui: massa kelereng = 3 gram
3
002571 , 0
3
dm
gram
kelereng
=
= 1166,86 gr/dm
3



v
g d d r
b b
9
) ( 2
2

= q

) 65 , 11 ( 9
) 79 , 97 86 , 1166 ( ) 85 , 0 ( 2
2

=
aquades
q = 14,73gr/dm s = 0,14 gr/cm s = 0,14 Poise
) 12 , 30 ( 9
) 52 , 80 1166,86 ( ) 85 , 0 ( 2
2
tan

=
ol e
q = 5,7907 gr/dm s = 0,57907 gr/cm s = 0,5797 Poise
) 95 , 27 ( 9
) 53 , 82 1166,86 ( ) 85 , 0 ( 2
2
min

=
yak
q =6,2288 gr/dm.s = 0,6228gr/cm.s= 0,6228 Poise
) 20 , 11 ( 9
) 74 , 86 1166,86 ( ) 85 , 0 ( 2
2

=
oli
q = 15,4838gr/dm s = 1,5483 gr/cm.s = 1,5483 Poise

Viskositas suatu fluida merupakan daya hambat yang disebabkan oleh gesekan antar
molekul-molekul cairan, yang mampu menahan aliran fluida sehingga dapat dinyatakn
sebagai indikator tingkat kekentalannya (Warsito,2012). Cara menentukan viskositas suatu
zat menggunakan alat yang dinamakan viskometer. Ada beberapa tipe viskometer yang biasa
digunakan antara lain yaitu viscometer Ostwald dan falling ball. Dalam metode Ostwald
viskositas dari cairan ditentukan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan
tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika mengalir karena gravitasi melalui viscometer
Ostwald. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi
suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat 2 tanda tersebut.
Pada percobaan metode bola jatuh, metode ini dipengaruhi oleh adanya gravitasi pada
kelereng. Kelereng yang telah dimasukkan ke dalam gelas kimia mengalami gaya gravitasi
akibat gelas kimia diputar 180. Metode ini kurang tepat digunakan untuk menghitung nilai
viskositas. Hal ini karena alat dan bahan sederhana yang digunakan pada metode ini
menyebabkan nilai viskositas yang akan dicari kurang teliti, selain itu waktu yang dihitung
selama kelereng jatuh akan tidak tepat. Oleh karena itu diperlukan pencatatan waktu otomatis
yang akan mencatat waktu yang diperlukan kelereng untuk jatuh ketika diputar 180. Agar
nilai viskositas cairan (ketika menggunakan metode bola jatuh) dapat diketahui, diperlukan
massa jenis kelereng, massa jenis zat cairan serta jari-jari kelereng yang digunakan.
Dari hasil pengamatan, didapatkan bahwa masing-masing cairan mempunyai kecepatan
yang berbeda untuk mengalir dalam viscometer. Semakin tinggi viskositas, semakin sulit
suatu jenis cairan mengalir, semakin rendah viskositas, semakin mudah suatu jenis cairan
mengalir. Oli dan minyak termasuk viskositas tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh
sukarnya/lamanya waktu fluida oli/minyak kembali ke posisi semula, sedangkan air dan
etanol termasuk viskositas rendah ditunjukkan dari mudahnya aquades dan etanhol mencapai
posisi semula dengan waktu yang lebih cepat.
Nilai viskositas yang didapatkan dari praktikum menggunakan metode bola jatuh untuk
aquades yaitu sebesar 0,14 Poise, viskositas etanol yaitu sebesar 0,5797 Poise, viskositas
minyak tanah sebesar 0,6228 Poise, dan viskositas oli yaitu sebesar 1,5483 Poise. Nilai
viskositas yang didapatkan ini jauh lebih besar nilainya dibandingkan dengan teori yang ada.
Kesalahan ini dapat terjadi karena kekurangtelitian praktikan. Percobaan viskositas ini
membutuhkan ketelitian agar hasil yang didapat lebih akurat. Karena cairan yang digunakan
berbeda-beda, kebersihan alat dalam percobaan juga perlu diperhatikan.

V. KESIMPULAN
Dari hassil percobaan dapat disimpulkan bahwa:
1. Viskositas adalah kerapatan suatu cairan.
2. Viskositas setiap cairan berbeda-beda.
3. Semakin tinggi viskositas suatu cairan, semakin semakin sulit suatu fluida mengalir
dan sebaliknya
4. Viskositas oli lebih besar daripada aquades,etanol dan minyak tanah.

VI. DAFTAR PUSTAKA
S. K. Dogra dan S. Dogra, 2009. Kimia Fisik dan Soal-Soal terj Umar Mansyur,
UI Press: Jakarta, hlm. 209-210.
Welty, James R, 2002. Dasar-Dasar Fenomena Transport Edisi Keempat.
Jakarta: Erlangga.
Murdaka, Bambang, 2010. Penyetaraan Nilai Viskositas terhadap Indeks Bias
pada Zat Cair Bening. http://ejournal.unri.ac.id/index.php/JN/article/viewFile/839/832
Diakses pada tanggal 22 April 2014 pukul 16.05 WIB.
Warsito, 2010. Jurnal Natur Indonesia.
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/berkala_fisika/article/download/2786/pdf Diakses
tanggal 22 April 2014 pukul 15.30 WIB.