Anda di halaman 1dari 6

Destilasi Uap dalam Proses Pembuatan Minyak Melati

Disusun oleh AISAH (1112016200010)


Dini Wulandari, Dita khoerunnisa, Fitri Ramadhiani, Ahmad Yandi

Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2014

ABSTRAK Minyak melati adalah minyak yang dihasilkan dari bunga melati (Jasminum sambac ). Sebagai bunga yang harum melati sangat potensial untuk bahan baku minyak melati. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui cara destilasi uap dari pembuatan minyak melati. Prinsip pada destilasi biasa adalah pemisahan dua zat atau lebih yang mempunyai perbedaan titik didih. Pada percobaan ini di peroleh tetesan minyak melati pertama yaitu pada suhu 880C dan terakhir menetes pada suhu 900C.

PENDAHULUAN Tanaman melati terdapat hampir disetiap daerah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, misalnya di daerah Pasuruan, Pamekasan, Banyumas, Purbalingga, Pemalang dan Tegal. Adapun jenis melati yang banyak terdapat di PulauJawa menurut Rukmana (1997) antara lain Jasminum sambac (melati putih), Jasminum multiflorum (star jasmine) dan Jasminum officinale (melati gambir). Bunga yang digunakan harus dalam kondisi kering karena bunga dengan kondisi basah yang biasa disebabkan karena embun dapat menimbulkan ketengikan pada lemak yang disebabkan oksidasi lemak karena adanya kandungan H2O. Kondisi bunga yang masih kuncup serta mekar penuh juga tidak dapat digunakan untuk menghasilkan minyak atsiri selain karena tidak dapat mekar dan tidak harum, bunga pada kondisi kuncup sangat sulit digunakan untuk proses enfleurasi karena bunga harus diletakkan dengan posisi seluruh bagian menempel pada lemak sehingga lemak dapat mengadsorbsi minyak di seluruh kelopak bunga (najma sabrina, 2012). Minyak atsiri merupakan salah satu produk bahan rempah-rempah. Minyak atsiri lazim disebut minyak yang mudah menguap (volatil oils). Minyak atsiri umumnya berwujud cair, diperoleh dari bagian tanaman akar, kulit batang, daun, buah, biji atau bunga dengan cara destilasi uap, ekstaksi atau dipres (ditekan). Minyak sereh, minyak daun cengkeh, minyak akar wangi, minyak nilam, minyak kenanga, minyak kayu cendana merupakan beberapa bahan ekspor minyak atsiri Indonesia. Minyak atsiri awalnya digunakan sebagai bahan pewangi, parfum, obat-obatan, dan bahan aroma makanan. Dalam perkembangan sekarang hasil sintesis senyawa turunanan minyak atsiri dapat digunakan sebagai feromon, aditif biodisel, antioksidan, polimer, aromaterapi, penjerap logam, sun screen block dan banyak lagi kegunaan lainnya (Asep, 2005)

Berbagai teknik pemisahan banyak digunakan pada masa kini, yang paling banyak digunakan dalam banyak penelitian yaitu metode ekstraksi dan metode destilasi. Ekstraksi merupakan pemisahan larutan berdasarkan perbedaan masa jenis, sedangkann destilasi adalah pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih. Prinsip pada destilasi biasa adalah pemisahan dua zat atau lebih yang mempunyai perbedaan titik didih. Jika zat-zat yang dipisahkan mempunyai perbedaan titik didih yang jauh berbeda, dapat digunakan metode isolasi biasa. Zat yang memiliki titik didih rendah akan cepat terdestilasi daripada zat yang bertitik didih tinggi. Uap zat yang bersifat volatil dan memiliki titik didih yang rendah akan masuk ke dalam pipa pada kondensator (terjadi proses pendinginan) sehingga akan turun berupa tetesan-tetesan yang turun ke dalam penampung atau disebut juga destilat (Sanagi, 2001) Metode destilasi yang umum digunakan dalam produksi minyak atsiri adalah destilasi air dan destilasi uap-air. Karena metode tersebut merupakan metode yang sederhana dan membutuhkan biaya yang lebih rendah jika dibandingkan dengan destilasi uap. Namun belum ada penelitian tentang pengaruh kedua metode destilasi tersebut terhadap minyak atsiri yang dihasilkan. Minyak atsiri dalam tanaman aromatik diselubungi oleh kelenjar minyak, pembuluhpembuluh, kantung minyak atau rambut granular. Sebelum diproses, sebaiknya bahan tanaman dirajang (dikecilkan ukurannya) terlebih dahulu. Namun dalam proses destilasi tradisional pada umumnya ukuran bahan yang digunakan tidak seragam, karena proses pengecilan ukurannya hanya melalui proses penghancuran sederhana (fuki, dkk, 2012) Pada prinsip ekstraksi dengan pelarut menguap minyak atsiri dilarutkan dalam bahan dengan pelarut organik yang mudah menguap. Cara ini sangat sederhana yaitu dengan merendam bunga di dalam pelarut dalam sebuah bejana dari plastik, kemudian ekstraksi berjalan secara sistematis pada suhu kamar. Pelarut akan berpenetrasi kedalam bahan dan melarutkan minyak bunga beserta beberapa jenis lilin dan albumin serta zat warna. Larutan tersebut selanjutnya diuapkan ke dalam evaporator dan minyak dipekatkan pada suhu rendah. Setelah semua pelarut diuapkan dalam keadaan vakum, maka diperoleh minyak bunga yang pekat. Suhu rendah selama proses ini berlangsung. Dengan demikian uap aktif yang

terbentuk tidak akan merusak persenyawan minyak bunga ( Najma sabrina, 2012)

BAHAN DAN METODE Bahan 1 perangkat destilasi uap 1 buah Gelas kimia 1 buah Termometer 2 pasang statif dan klem Bunga mawar Bunga melati Air

Metode Perangkat destilasi uap dirangkai sedemikian rupa seperti pada gambar di modul praktikum Isi labu destilasi dengan air sebanyak setengah dari volume labu tersebut serta mengisinya dengan beberapa batu didih. Timbang bunga melati menggunakan neraca ohauss lalu memasukannya ke dalam labu destilasi Menjalankan air melalui kondensor Kemudian panaskan labu sampai air mendidih Memasang gelas kimia untuk menampung tetesan uapnya. Serta mencatat suhu tetesan pertama dan tetesan terakir

HASIL DAN PEMBAHASAN Bila ditinjau dari metode destilasi yang digunakan, rendemen destilasi uap-air ukuran gilingan kasar yaitu sebesar 0,456% berbeda nyata (lebih tinggi) terhadap rendemen destilasi air ukuran gilingan kasar sebesar 0,240%. Hal tersebut menunjukkan bahwa perbedaan metode destilasi yang digunakan mempengaruhi randemen minyak atsiri bunga melati yang dihasilkan. Pada destilasi uap-air, antara air dan minyak atsiri dalam bunga melati tidak menguap secara bersama-sama. Pada awalnya air akan menguap setelah proses pemanasan dilakukan, setelah mencapai suatu keseimbangan tekanan tertentu maka uap air akan masuk ke dalam jaringan dalam
4

bahan dan mendesak minyak atsiri ke permukaan. Kemudian minyak atsiri akan ikut menguap bersama uap air menuju kondensor. Menurut Harris (1987) dalam Zulnely (2008) pada penyulingan sistem kukus (destilasi uap-air) letak bahan baku yang diambil minyaknya terpisah dengan air pembawa, sehingga penguapan air dan minyak dari tumbuhan yang disuling tidak bersamaan, selain itu pada destilasi uap-air mempunyai suhu proses yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan destilasi air. Perbedaan suhu yang relatif lebih tinggi tersebut yang menyebabkan proses ekstraksi minyak atsiri pada destilasi uap-air akan berjalan lebih baik dibandingkan pada destilasi air. Harris (1987) dalam Zulnely (2008) juga mengemukakan bahwa persentase senyawa yang terdapat dalam minyak hasil destilasi uap-air mempunyai nilai yang lebih besar dari pada minyak hasil destilasi air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada minyak hasil destilasi uap-air memiliki randemen yang lebih tinggi karena senyawa-senyawa yang terekstrak lebih banyak. Menurut Guenther (1987), dibandingkan dengan destilasi air, destilasi dengan uap-air lebih unggul karena proses dekomposisi minyak lebih kecil (hidrolisa ester, polimerisasi, resinifikasi, dan lain-lain). Pada destilasi air beberapa jenis ester misalnya linalil asetat akan terhidrolisa sebagian, persenyawaan yang peka seperti aldehid, mengalami polimerisasi karena pengaruh air mendidih. Sedangkan pada destilasi air, minyak atsiri dari bahan akan keluar ke media pembawa (air), kemudian baru akan menguap bersama-sama dengan air setelah proses pemanasan dilakukan. Oleh karena itu banyak kandungan minyak atsiri yang masih tertinggal dalam air, sehingga randemen minyak atsiri menjadi tidak maksimal. Hal tersebut juga sesuai dengan yang dikemukakan oleh Harris (1987) dalam Zulnely (2008) bahwa pada penyulingan rebus (destilasi air) bahan yang akan diambil minyak atsirinya dimasak dengan air, sehingga proses penguapan air dan minyak berlangsung bersamaan. Walapun penyulingan ini seolah-olah mudah penanganannya, tetapi ternyata menyebabkan kehilangan hasil akibat sebagian minyak larut dalam air tetapi tidak ikut menguap. Menurut Lutony dan Rahmayati (1999), destilasi air menyebabkan banyaknya randemen minyak yang hilang, sedangkan randemen minyak atsiri pada proses destilasi uap-air cukup memadai.

KESIMPULAN Prinsip pada destilasi biasa adalah pemisahan dua zat atau lebih yang mempunyai perbedaan titik didih. Perbedaan suhu yang relatif lebih tinggi tersebut yang menyebabkan proses ekstraksi minyak atsiri pada destilasi uap-air akan berjalan lebih baik dibandingkan
5

pada destilasi air. Uap zat yang bersifat volatil dan memiliki titik didih yang rendah akan masuk ke dalam pipa pada kondensator, sehingga akan turun tetesan- tetesannya yang berupa minyak melati.

DAFTAR PUSTAKA Kadarohman, Asep. 2005. MINYAK ATSIRI SEBAGAI TEACHING MATERIAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN KIMIA. http://repository.usu.ac.id. Sanagi, Mohd Marsin. 2001. Teknik Pemisahan dalam Analisis Kimia. Johor: Universitas Teknologi Malaysia Sani, N Sbrina, dkk. 2012. Pengambila minyak atsiri dari melati dengan metode enfleurasi dan ekstraksi pelarut menguap. (http://digilib.its.ac.id/public/ITS-paper-23898-

2310105004-Paper.pdf)

Yuliarto, Fuki Tri, dkk. 2012. Pengaruh ukuran bahan dan metode destilasi (destilasi air dan destilasi uap-air) terhadap kualitas minyak atsiri kulit kayu manis (cinnamomumm burmanni). http://www.ilmupangan.fp.uns.ac.id. Jurusan teknologi hasil pertanian fakultas pertanian, Universitas Sebelas Maret.

Anda mungkin juga menyukai