Anda di halaman 1dari 58

TRANSFORMASI STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA

KELOMPOK 2

DEFINISI
Struktur Ekonomi Yaitu komposisi peranan masingmasing sektor dalam perekonomian baik menurut lapangan usaha maupun pembagian sektoral ke dalam sektor primer, sekunder, dan tersier

Gambaran kondisi struktur ekonomi Indonesia dapat dilihat melalui kontribusi setiap sektor ekonomi terhadap pembentukan PDB. Struktur ekonomi dikatakan berubah apabila kontribusi /pangsa PDB dari sektor ekonomi yang mulanya dominan digantikan oleh sektor ekonomi lain. Sektor Ekonomi Indonesia di bagi menjadi 9 sektor, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pertanian Pertambangan Industry Pengolahan Listrik, Gas, Air minum Bangunan Transportasi dan Komunikasi Perdagangan

8.
9.

Keuangan dan Perbankan


Jasa

TINJAUAN STRUKTUR PEREKONOMIAN


TINJAUAN 1. TINJAUAN MAKRO SEKTORAL KETERANGAN Berdasarkan tinjauan makro sektoral, struktur perekonomian dapat terdiri dari sektor agraris (pertanian), sektor industri dan sektor perdagangan Berdasarkan tinjauan keruangan, suatu perekonomian ditinjau dari sektor tradisional (wilayah pedesaan)dan sektor perkotaan (sektor modern) dan dilihat bagaimana peran masing-masing sektor tersebut terhadap perekonomian secara keseluruhan Perekonomian dilihat dari siapa yang memegang peran penting di dalamnya. Apakah Pemerintah, rakyat pada umumnya, ataukah para pemodal. Dari hal tersebut dapat terlihat apakah perekonomian berstruktur etatis, egaliter atau borjuis Dari tinjauan ini, perekonomian terlihat sentralistis atau desentralisitis (terpusat atau daerah diberi kewenangan untuk mengatur perekonomian).

2. TINJAUAN KERUANGAN

3. TINJAUAN PENYELENGGARAAN KENEGARAAN

4. TINJAUAN BIROKRASI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

TRANSFORMASI STRUKTUR PEREKONOMIAN


Perubahan struktur ekonomi didefinisikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan yang lainnya dalam komposisi permintaan agregat, perdagangan luar negeri (ekspor dan impor), penawaran agregat (produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi yang diperlukan guna mendukung proses pembangunan dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Perubahan struktur ekonomi lazim disebut transformasi struktural (Tulus Tambunan, 2012)

Teori Arthur Lewis


Arthur Lewis membahas perekonomian dari tinjauan keruangan dimana proses pembangunan ekonomi terjadi di pedesaan dan perkotaan. Lewis mengasumsikam bahwa perekonomian suatu Negara teridir dari dua unsur, perekonomian tradisional di pedesaan dengan sektor pertanian yang mendominasi dan perekonomian modern di perkotaan yang didominasi oleh sektor industri. Di pedesaan jumlah penduduk tinggi, sehingga tenaga kerja melimpah dan mengalami surplus tenaga kerja sehingga MP=0. Artinya perekonomian mencapai suatu titik dimana setiap tambahan satu pekerja tidak akan menambah output dengan kata lain tidak menambah produktivitas. Dengan demikian tingkat produktivitas tenaga kerja menurun. Produktivitas menurun membuat tingkat upah menjadi rendah. Sementara itu di perkotaan terjadi sebaliknya. Perkotaan yang dominan dengan sektor industri mengalami kekurangan tenaga kerja. Dalam kondisi pasar tenaga kerja tersebut dan produktivitas yang tinggi menunjukkan bahwa fungsi produksi belumm mencapai tingkat optimal. Tingginya produktivitas dan kekurangan tenaga kerja membuat tingkat upah di perkotaan menjadi lebih tinggi. (Mengenai fungsi produksi, Anda bisa membaca lagi di buku-buku mikro ekonomi).

Perbedaan kondisi tenaga kerja, tingkat upah dan tingkat produktivitas ini, menyebabkan adanya perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian di pedesaan ke sektor industri di perkotaan dimana tingkat upah bisa mencapai lebih tinggi sekitar 30 persen. Perpindahan tersebut tidak akan mengurangi produktivitas di sektor pertanian karena tenaga kerja di sektor pertanian surplus. Perpindahan tersebut justru membuat tenaga kerja mendapatkan upah yang lebih tinggi di sektor industri. Peningkatan pendapatan akan meningkatkan pendapatan negara. Peningkatan pendapatan akan meningkatkan peningkatan permintaan bahan makanan, hal ini mnejadi pendorong utama pertumbuhan outout di sektor bahan makanan dan dalam jangka panjang pertumbuhan di sektor pertanian akan meningkat. Di lain sisi, masyarakat perkotaan mulai mengalami perubahan pola konsumsi dimana mereka mulai menyisihkan sebagian pendapatan untuk membeli produk industrial dan produk jasa. Permintaan ini juga menjadi pendorong naiknya prtumbuhan output.

Teori Holis Chenery


Kerangka pemikiran Chenery berusaha membuktikan secara empiris teori yang diajukan Lewis. Chenery bersama Syrquin (1975) melakukan pengujian secara empiris ke banyak negara (kurang lebih 101 negara selama tahun 1950 s.d 1970) terkait dengan perubahan struktural yang terjadi di negara tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejalan dengan peningkatan pendapatan perkapita masyarakat maka akan terjadi pergeseran atau perubahan struktur perekonomian. Perubahan tersebut meliputi: Terjadi pergeseran dari barang produksi pertanian ke produksi barang industri, peranan industri meningkat dan peranan sektor pertanian menurun. Hal ini ditunjukkan dengan persentase output sektor-sektor tersebut terhadap output perekonomian secara total Tingkat tabungan dan akumulasi modal, baik modal fisik maupun modal manusia (pendidikan) semakin meningkat. Terjadi perubahan dalam komposisi permintaan dalam negeri dimana pengeluaran masyarakat untuk pangan relatif menurun, pengeluaran untuk bukan pangan meningkat, pengeluaran untuk investasi dan untuk sektor pemerintah meningkat. Pada umumnya ekspor dan impor meningkat dan komposisi ekspor bergeser dari bahan mentah menjadi barang industri Terjadi pergeseran penggunaan faktor produksi tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa, sementara produktivitas sektor pertanian juga meningkat. Perubahan sosial: terjadinya urbanisasi, tingkat kelahiran dan tingkat kematian menurun, sekaligus distribusi pendapatan makin timpang. Jadi pada dasarnya, Chenery menjelaskan sekaligus mnedukung teori lewis dengan membuktikannya melalui penelitian empiris dan memang terbukti terdapat perubahan struktur ekonomi seiring dengan kenaikan pendapatan per kapita.

PROSES DALAM TRANSFORMASI STRUKTURAL


Proses Akumulasi Variabel Investasi (akumulasi modal fisik Indikator tabungan domestik/PDB (%) investasi domestik/PDB (%) modal asing/PDB (%) Belanja pemerintah untuk pendidikan/PDB (%) Angka kelulusan pendidikan dasar dan menengah Penerimaan pajak/PDB (%) Keterangan Modal asing/PDB seharusnya menurun dan indikator lain meningkat

Pendidikan (akumulasi manusia)

modal

Porsi belanja pendidikan pemerintah dan angka kelulusan seharusnya meningkat

Penerimaan pemerintah

Seiring peningkatan pendapatan masyarakat, penerimaan pajak seharusnya juga meningkat

lanjutan
Alokasi Struktur domestik permintaan Struktur internasional perdagangan Struktur produksi Investasi domestik/PDB (%) Konsumsi swasta/PDB (%) Konsumsi Pemerintah/PDB (%) Konsumsi makanan/PDB (%) Konsumsi nonmakanan/PDB(%) Ekspor/PDB (%) Ekspor barang primer/PDB (%) Eksor barang manufaktur/PDB (%) Ekspor jasa/PDB (%) Impor/PDB (%) Produksi sektor primer/PDB (%) Produksi sektor manufaktur/PDB (%) Produksi sektor jasa/PDB (%) Persentase konsumsi makanan thd PDB seharusnya mengalami penurunan sementara indikator yang lain meningkat

Persentase ekspor barang primer thd PDB seharusnya mengalami penurunan, sementara indikator-indikator yang lain mengalami peningkatan Persentase produksi sektor primer seharusnya mengalami penurunan sementara indikator lain mengalami peningkatan

lanjutan
Distribusi pendapatan dan Penduduk Alokasi tenaga kerja Tenaga kerja sektor primer/total tenaga kerja (%) Tenaga kerja sektor manufaktur/total tenaga kerja (%) Tenaga kerja sektor jasa/total tenaga kerja (%) Persentase penduduk perkotaan terhadap total penduduk Koefisien Gini Persentase tenaga kerja sektor primer thd total tenaga kerja seharusnya mengalami penurunan sedangkan indikator yang lain mengalami peningkatan Persentase penduduk perkotaan thdp total penduduk akan meningkat Terjadi ketimpangan

Urbanisasi

Distribusi Pendapatan

Kurva Kuznets

FAKTOR PENENTU PERUBAHAN STRUKTUR PEREKONOMIAN

Perbedaan insentif

Produktivitas tenaga kerja per sektor secara keseluruhan

Perbedaan tingkat pertumbuhan ekonomi antar sektor usaha

Perubahan Struktur Perekonomian Indonesia

Kebijakan pemerintah

Dampak Transformasi Struktural Perekonomian


Dampak positif
Peningkatan produksi pertanian yang dirangsang oleh perubahan sistim pertanian (Lama-modern) Penyerapan tenaga kerja di perkotaan pada industriindustri baru Percepatan arus uang dan barang yang merangsang percepatan pendapatan perkapita masyarakat, yang memperbaiki tingkat kesejahteraannya

Dampak Negatif
Hilangnya lahan pertanian (sawah dan non sawah), yang mengakibatkan para petani dan buruh penggarap kehilangan mata pencaharian Munculnya pengangguran struktural yang tidak mungkin tertampung seluruhnya pada sektor industri dan jasa

Tingginya laju urbanisasi yang menjadikan beban kota semakin berat serta menimbulkan masalah-masalah sosial lainnya

Bagaimana dengan transformasi struktur perekonomian Indonesia??

Transformasi Struktural Perekonomian dan Permasalahannya

Pergeseran Struktur PDB pada Sektor Pertanian , Pertambangan, Industri dan Jasa Periode Tahun 1960-Sekarang
Tahun 1970 : Struktur Perekonomian Indonesia masih di dominasi oleh sektor Pertanian Tahun 1970-1985 : Struktur perekonomian Indonesia di dominasi oleh sektor pertambangan Tahun 1990-2000 : Struktur perekonomian Indonesia di dominasi oleh sektor industri Tahun 2000-sekarang : Struktur perekonomian Indonesia didominasi oleh sektor Jasa

Pendapatan Perkapita

Tahun 2004 1.177 US $

Tahun 2009 2.299 US $

Tahun 2012 3.592 US $

Dengan semakin meningkatnya PDB indonesia dalam sepuluh tahun terakhir kemampuan indonesia untuk meningkatkan produktivitasnya pun akan semakin meningkat. Tercerimin pada peningkatan pendapatan per kapita masyarakat dan meningkatkanya jumlah kelas menengah di tanah air.

Target Tahun 2030 18.000 US $

Aspirasi Pencapaian PDB Indonesia

Sumber : MP3EI 2011

PROSES AKUMULASI
Proses Akumulasi yaitu penggunaan sumber daya untuk memningkatkan kapasitas produksi suatu perekonomian. 3 jenis modal yang dibutuhkan dalam proses akumulasi untuk mendongkrak kapasitas produksi perekonomian nasional: 1. Stock Modal fisikal (capital stock), terlihat dari rasio pembentukan modal tetap bruto terhadap produk domestik bruto (PMTB/PDB) 2. Modal Insani (Human Capital), tercermin dari angka partisipasi sekolah dan pengeluaran pendidikan 3. Modal Sosial (Social Capital)

PERKEMBANGAN FISKAL

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) adalah pengeluaran untuk barang modal yang mempunyai umur pemakaian lebih dari satu tahun dan tidak merupakan barang konsumsi. Rasio PMTB terhadap PDB Indonesia 2000-2012

Dari grafik diatas terlihat rasio pembentukan modal tetap bruto terhadap PDB mengalami kenaikan. Pada 2000, rasio PMTB/PDB masih 22 persen, namun pada 2012 sudah mencapai 35 persen.

Angka Partisipasi Sekolah (%)


120 100 Axis Title 80 60 40 20 0 SD SMP SMA PT 2003 96.42 81.01 50.97 11.71 2004 96.77 83.49 53.48 12.07 2005 97.14 84.02 53.86 12.23 2006 97.39 84.08 53.92 11.38 2007 97.64 84.65 55.49 13.08 2008 97.88 84.89 55.5 13.29 2009 97.95 85.47 55.16 12.72 2010 98.02 86.24 56.01 13.77 2011 97.58 87.78 57.85 14.26 2012 97.95 89.66 61.06 15.84

Sumber: BPS-RI, Susenas 2003-2012

Dampak terhadap peningkatan angka Partisipasi Sekolah : Meningkatkan keterampilan atau skill tenaga kerja. Meningkatkan penguasaan, penggunaan, dan pengembangan teknologi.

Berdasarkan data-data tersebut terlihat bahwa peran serta masyarakat


dalam pembentukan modal tetap maupun pengeluaran pendidikan tetap memegang peran penting.

PROSES ALOKASI
Proses Alokasi : penggunan sumberdaya untuk kegiatan produksi maupun konsumsi. Menurut Chenery & Syrquin (1975) terdapat asumsi yang mendasari perubahan struktur yang diakibatkan oleh proses alokasi yaitu : (1) Permintaan; (2) Produksi; (3) Perdagangan Internasional (ekspor-impor). Esensi dari proses alokasi adalah keterkaitan antara perubahan keunggulan komparatif dengan perubahan permintaan suatu negara. Interaksi kedua faktor inilah yang menentukan alokasi sumber daya pada suatu negara.

PERTUMBUHAN EKONOMI 2013

Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Berdasarkan Sektor

Ekspor

Sumber : Kementrian Perindustrian

Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Berdasarkan Sektor Impor

Sumber : Kementrian Perindustrian

Perubahan struktur permintaan domestik


Permintaan domestik terdiri dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi swasta dan investasi pemerintah. Untuk Indonesia, analisis mengenai pengeluaran konsumsi rumah tangga paling tidak biasanya meliputi:
perkembangan rasio pengeluaran konsumsi terhadap PDB

Proporsi Pengeluaran Rumah Tangga (%PDB)


70 60 50 40 30 20 10 0 1999 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 untuk makanan bukan makanan

Sumber : BPS, 2013

pengeluaran konsumsi untuk makanan dan bukan makanan. mengenai pengeluaran konsumsi makanan dan bukan makanan, hal ini tidak dapat dilepaskan dari hasil penelitian empiris Engel pada 1857 yang dikenal sebagai Engels Law. Esensi dari Engels Law menyebutkan bahwa peningkatan pendapatan per kapita biasanya disertai dengan perubahan pola konsumsi rumah tangga, baik makanan maupun bukan makanan.

Terlihat proporsi pengeluaran rumah tangga untuk makanan di Indonesia mengalami penurunan dari 62,9 persen pada 1999 menjadi 47,7 persen pada 2012. Sebaliknya proporsi pengeluaran untuk bukan makanan meningkat dari 37,1 persen menjadi 52,3 persen pada periode waktu yang sama.

PROSES DISTRIBUSI
Proses Distribusi : Pemerataan pendapatan Menurut Chenery & Syrquinn (1975), distribusi pendapatan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, struktur produksi dan ketersediaan anggaran pemerintah untuk redistribusi Proses distribusi dipengaruhi oleh : 1. Pertumbuhan sektoral secara relatif modal produksi (modern atau tradisional) 2. Pertumbuhan pada jumlah, tingkat pendidikan, dan distribusi sektoral angkatan kerja 3. kepemilikan aset pada tingkat tabungan secara relatif dari setiap kelompok yang berbeda 4. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendukung mekanisme pemerataan (subtitusi faktor produksi, pendidikan, dan redistribusi asset)

PROSES DEMOGRAFI
Proses Demografi : Perkembangan kependudukan senantiasa diiringi oleh adanya
urbanisasi. Adanya urbanisasi secara langsung akan memperburuk kesenjangan struktural antara desa dan kota dari sisi penawran dan permintaan. Indonesia merupakan negara terpadat ke empat di dunia karena berpenduduk lebih dari 310 juta orang. Penyebaran penduduk tidak merata (2/3 tinggal di P. Jawa), sebagian besar hidup di pedesaan (pertanian), bermata pencairan sebagai petani kecil dan burah tani dengan upah sangat rendah.

Mutu SDM rendah : 80% angkatan kerja berpendidikan SD. Produktivitas rendah
karena taraf hidup yang rendah: konsumsi rata-rata penduduk Indonesia RP 82.226 per bulan (1993), namun 82% penduduk berpendapatan di bawah RP 60.000 per bulan per kapita (Sjahrir, 1996).

RASIO GINI

SEJAK TAHUN 2009, BPS MERUBAH CARA PERHITUNGAN RASIO GINI

ANGKATAN KERJA

LAPANGAN PEKERJAAN UTAMA

Keempat proses tersebut tidak harus terjadi secara berurutan, dan suksesnya proses proses tersebut sangat ditentukan oleh : - Initial endowment - Jangka waktu pembangunan yang dijalankan - Kebijakan-kebijakan yang dibuat, dll.

PROSES TRANSFORMASI STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA: SEBUAH INDIKATOR

lanjutan

lanjutan

lanjutan

Pembagian Sektor Dalam Perekonomian


Sektor Primer Sektor Sekunder Sektor Tersier 1. sektor perdagangan, hotel, restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi 2. sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan 3. sektor jasa-jasa

1. Sektor pertanian 2. Sektor peternakan, kehutanan dan perikanan 3. Sektor pertambanga n dan penggalian

1. sektor industri pengolahan 2. sektor listrik, gas dan air 3. sektor konstruksi

STRUKTUR PDB INDONESIA

PERANAN SEKTORAL UNTUK WILAYAH JAWA DAN NON JAWA

PROFIL SPASIAL TERHADAP PDB INDONESIA

DISTRIBUSI PDRB PROVINSI BERDASARKAN HARGA BERLAKU


Provinsi 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011*) 2012**)

1 Aceh 2 Suma tera Uta ra 3 Suma tera Ba ra t 4 Ria u 5 Ja mbi 6 Suma tera Sela ta n 7 Bengkulu 8 La mpung 9 Kepula ua n Ba ngka Belitung 10 Kepula ua n Ria u Sumatera 11 DKI Ja ka rta 12 Ja wa Ba ra t 13 Ja wa Tenga h 14 DI. Yogya ka rta 15 Ja wa Timur 16 Ba nten Jawa 17 Ba li Jawa & Bali 18 Ka lima nta n Ba ra t 19 Ka lima nta n Tenga h 20 Ka lima nta n Sela ta n 21 Ka lima nta n Timur Kalimantan 22 Sula wes i Uta ra 23 Sula wes i Tenga h 24 Sula wes i Sela ta n 25 Sula wes i Tengga ra 26 Goronta lo 27 Sula wes i Ba ra t Sulawesi 28 Nus a Tengga ra Ba ra t 29 Nus a Tengga ra Timur 30 Ma luku 31 Ma luku Uta ra 32 Pa pua Ba ra t 33 Pa pua Nusa Tenggara, Maluku & Papua Jumlah 33 Provinsi

2.28 5.34 1.69 5.17 0.84 2.91 0.37 1.63 0.53 1.66 22.41 16.99 13.83 8.75 1.00 15.43 3.33 59.32 1.31 60.63 1.35 0.83 1.27 6.05 9.49 0.71 0.66 2.02 0.46 0.13 0.17 4.16 1.00 0.59 0.18 0.11 0.30 1.12 3.30 100.00

2.13 5.23 1.67 5.21 0.84 3.05 0.38 1.53 0.53 1.54 22.12 16.25 14.58 8.78 0.95 15.11 3.17 58.84 1.27 60.11 1.27 0.79 1.19 6.75 10.00 0.70 0.64 1.94 0.49 0.13 0.17 4.07 0.96 0.55 0.17 0.10 0.30 1.63 3.71 100.00

2.22 5.14 1.70 5.36 0.84 3.08 0.37 1.58 0.51 1.48 22.27 16.09 15.17 9.04 0.94 15.09 3.14 59.48 1.20 60.68 1.21 0.79 1.11 6.40 9.51 0.68 0.62 1.95 0.49 0.13 0.16 4.04 0.92 0.54 0.16 0.09 0.29 1.50 3.50 100.00

2.00 5.11 1.68 5.91 0.90 3.09 0.36 1.71 0.50 1.46 22.73 15.93 14.80 8.79 0.93 15.10 3.45 58.99 1.24 60.23 1.22 0.79 1.11 6.26 9.38 0.68 0.65 1.95 0.50 0.13 0.17 4.09 0.94 0.54 0.16 0.09 0.29 1.56 3.58 100.00

1.72 5.01 1.66 6.47 0.96 3.13 0.35 1.73 0.50 1.37 22.90 15.85 14.83 8.60 0.89 14.55 3.27 57.99 1.22 59.21 1.15 0.77 1.07 7.37 10.36 0.67 0.67 1.99 0.52 0.14 0.19 4.19 0.83 0.51 0.15 0.09 0.33 1.44 3.34 100.00

1.55 5.08 1.65 6.39 0.95 2.95 0.35 1.91 0.49 1.37 22.69 16.28 14.82 8.55 0.89 14.76 3.28 58.58 1.30 59.88 1.17 0.80 1.11 6.14 9.21 0.71 0.70 2.15 0.55 0.15 0.20 4.46 0.95 0.52 0.15 0.10 0.39 1.65 3.76 100.00

1.49 5.19 1.65 6.53 1.02 2.98 0.35 2.05 0.50 1.35 23.12 16.28 14.57 3.24 8.40 0.86 14.70 58.06 1.27 59.33 1.14 0.80 1.13 6.08 9.15 0.70 0.70 2.23 0.54 0.15 0.21 4.52 0.94 0.52 0.15 0.10 0.51 1.66 3.88 100.00

1.46 5.22 1.64 6.86 1.05 3.03 0.35 2.12 0.50 1.33 23.57 16.30 14.29 3.19 8.28 0.86 14.68 57.59 1.23 58.81 1.11 0.81 1.13 6.49 9.55 0.69 0.74 2.28 0.53 0.15 0.21 4.61 0.81 0.52 0.16 0.10 0.60 1.27 3.46 100.00

1.43 5.22 1.64 6.97 1.08 3.07 0.36 2.15 0.51 1.36 23.77 16.40 14.07 3.16 8.27 0.85 14.88 57.62 1.25 58.87 1.11 0.83 1.13 6.23 9.30 0.70 0.76 2.37 0.54 0.15 0.21 4.74 0.74 0.52 0.17 0.10 0.64 1.16 3.32 100.00

Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010-2012


Lapangan Usaha
Pertanian Industri (Pertambangan,Industri, Listrik, Gas&Air, Bangunan)

2010
72.84

2011
65.78

2012
63.53

5.29

5.72

0.71

Jasa-Jasa (Perdagangan, Angkutan, Keuangan, Jasa kemasyarakatan)

21.87

28.50

35.76

Sektor Pertanian

Pertanian merupakan kegiatan yang melibatkan pemanfaatan sumberdaya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi serta untuk mengelola lingkungan hidupnya

Tanaman Pangan

Perikan an

SEKTOR PERTANIAN

Perkebu nan

Peternak an

Kehutan an

Permasalahan dalam Sub Sektor Pertanian


TANAMAN PANGAN DAN PERKEBUNAN

KEHUTANAN Penebangan liar; Semakin meluasnya hutan gundul; Semakin banyak lahan yang digunakan untuk industri.

PETERNAKAN Kurangnya pengetahuan masyarakat akan teknologi pengolahan hasil peternakan; Kurangnya modal; Lahan peternakan yang semakin sedikit; Penyakit pada hewan ternak.

PERIKANAN Sarana yang kurang memadai; Larangan mengoperasikan pukat harimau; Adanya pencurian ikan secara besarbesaran oleh kapal asing; Rendahnya produktivitas lahan perikanan darat.

Rendahnya produktivitas lahan; Rendahnya tingkat penggunaan lahan; Semakin berkurangnya lahan untuk pertanian; Standar mutu benih/bibit masih kurang baik; Pengelolaan yang masih tradisional; Kegagalan panen; Kegagalan intensifikasi pertanian; Tingginya tingkat susutan pasca panen.

Hambatan Dalam Sektor Pertanian


Usaha pertanian di Indonesia masih didominasi oleh usaha skala kecil Modal yang terbatas Penggunaan teknologi yang masih sederhana Sangat dipengaruhi oleh musim Wilayah pasarnya lokal Umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pemgangguran tersembunyi) Akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah Pasar komoditi pertanian yang sifatnya mono atau oligopsoni yang dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga terjadi eksploitasi harga yang merugikan petani Pembaharuan agraria (konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian)

Hanya terfokus pada sektor usaha tani

Lemahnya dukungan kebijakan makro

Pendekatannya yang sentralistik

Solusi untuk Sektor Pertanian


Optimalisasi program pertanian organik secara menyeluruh di Indonesia serta menuntut pemanfaatan lahan tidur untuk pertanian yang produktif dan ramah lingkungan Bimbingan lanjutan bagi lulusan bidang pertanian yang terintegrasi melalui penumbuhan wirausahawan dalam bidang pertanian berupa pelatihan dan pemagangan yang beorientasi pada life skill, entrepreneurial skill dan kemandirian usaha Pemberantasan mafia pertanian

Regulasi konversi lahan dengan ditetapkannya kawasan lahan abadi yang eksistensinya dilindungi oleh undang-undang
Perbaikan infrastruktur pertanian dan peningkatan teknologi tepat guna Peningkatan mutu dan kesejahteraan penyuluh pertanian Mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia

Sektor Industri
Industri merupakan suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah
jadi untuk menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan Faktor-faktor yang mendorong proses industrialisasi (Chenery & Syrquin, 1975) :

Sebagai akibat dari adanya subtitusi impor

Adanya perkembangan permintaan untuk barang-barang jadi

Adanya kenaikan dalam permintaan barang setengah jadi

Kontribusi sub sektor terhadap Sektor Industri Periode tahun 2010

Permasalah Dalam Sektor Industri


Segi Struktural
Basis Ekspor dan pasar yang sempit Ketergantungan pada impor yang sangat tinggi Konsentrasi regional (industri tidak sepenuhnya berkembang secara merata)

Segi Organisasi
Masalah organisasi, hukum, dan GCG Masalah biaya dan pendanaan Masalah kemampuan penguasaan cross funtional area

Tidak adanya industri yang berteknologi menengah


Lemahnya kapasitas untuk menyerap dan mengembangkan teknologi.

Masalah suku cadang dan enterpreneurship


Masalah kepemimpinan Masalah change management Lemahnya SDM

Strategi Pengembangan Industri


Strategi Pokok Strategi Operasional

Memperkuat keterkaitan antara industri hulu dan hilir maupun antara industri besar dengan industri kecil menengah. Meningkatkan value added dari sector industri Meningkatkan sumber daya yang digunakan industri Menumbuhkembangkan industri kecil dan menengah

Menumbuhkembangkan lingkungan bisnis yang nyaman dan kondusif Penetapan prioritas industri dan penyebarannya Pengembangan industri dilakukan dengan pengembangan cluster. Pengembangan kemampuan inovasi teknologi.

Sektor Jasa
Jasa (Payne, Adrian) merupakan aktifitas ekonomi yang mempunyai sejumlah elemen (nilai atau manfaat) integibel yang berkaitan dengannya yang melibatkan sejumlah interaksi dengan konsumen atau dengan barang-barang milik, tetapi tidak menghasilkan transfer kepemilikan Perubahan dalam kondisi bisa saja muncul dan produksi suatu jasa dapat memiliki atau bisa juga tidak mempunyai kaitan dengan produk fisik

Kontribusi Sektor Jasa dalam PDB Periode Tahun 2004-2013

Kesiapan Daya Saing Perdagangan Jasa


Kontribusi sektor jasa dalam perekonomian Indonesia cukup tinggi Maskapai nasional cukup banyak tapi dari segi kualitas pelayanan maupun bandara pendukung masih kalah dengan negara lain Kualitas Help Care di Indonesia cukup baik namun hanya terbatas di kota besar Tingkat kunjungan turis ke Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara Asean lainnya, meskipun Indonesia memiliki potensi pariwisata yang ada sangat besar baik berupa kekayaan alam, budaya maupun peninggalan sejarah Kualitas tenaga kerja yanga da di Indonesia relatif masih lebih rendah bila dibandingkan dengan negara asean lainnya.

PERGESERAN STRUKTUR EKONOMI INDONESIA


1. Tinjauan Makro-Sektoral Bila dilihat secara makro-sektoral, perekonomian Indonesia mulai bergeser dari struktur agraris ke struktur industri dan jasa. Pada tahun 1990 PDB Indonesia masih didominasi oleh sektor pertanian yaitu sebesar 47%, sedangkan di tahun 2013 sumbangan PDB lebih di dominasi oleh sektor industri 5.56% dan jasa 5.46% dibandingkan sektor pertanian yang menyumbang 3.54%. Namun struktur ekonomi Indonesia masih bersifat campuran, karena baik sektor pertanian, industri, maupun jasa belum ada yang bersifat dominan. 2. Tinjauan Keruangan

Secara spasial, perekonomian Indonesia telah bergeser dari semula berstruktur pedesaan/ tradisional menjadi kini berstruktur kekotaan/ modern. Jumlah penduduk yang tinggal di kawasan pedesaan menjadi lebih sedikit bukan sematamata karena urbanisasi, akan tetapi juga karena pemekaran dan perkembangan kota-kota. Kehidupan sehari-hari yang semakin modern tercermin tidak hanya dari perilaku konsumsi masyarakat, tetapi juga dari tekhnologi produksi yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan.

3. Tinjauan Penyelenggaraan Kenegaraan

4. Tinjauan Birokrasi Pengambilan Keputusan


Struktur perekonomian Indonesia selama era pembangunan jangka panjang tahap pertama adalah sentralis, dimana pembuat keputusan sebagian besar ditetapkan oleh pemerintah pusat. Pada era orde baru dan reformasi terjadi perubahan struktur perekonomian yang tadinya sentralisasi menjadi desentralilsasi. (diberlakukannya UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah)

Bila dilhat secara politik, sejak awal orde baru hingga pertengahan dasawarsa 1990-an perekonomian Indonesia berstruktur etatis. Pemerintah atau Negara, dengan BUMN-BUMN dan BUMD-BUMD sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah merupakan pelaku utama dari perekonomian di Indonesia. Namun semenjak era reformasi, peran pemerintah dalam perekonomian mulai berkurang dan kalangan swasta mulai mendominasi

Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia Tahun 1983-2010

Sektor Primer
kontribusi sektor primer terhadap PDB pada tahun 1983 adalah sebesar 43,64 persen dan pada tahun 2010 tinggal 26,49 persen.

Sektor Sekunder
kontribusi sektor sekunder yang semula hanya sebesar 19,08 persen pada tahun 1983 menjadi sekitar 35,89 persen pada tahun 2010.

Sektor Tersier
sektor tersier mengalami perubahan yang relatif konstan, kontribusi sektor ini terhadap PDB pada tahun 1983 sebesar 37,29 persen dan pada tahun 2010 sebesar 37,62 persen, tidak jauh berbeda dengan tahun 1983.

Kesimpulan
Terlihat bahwa telah terjadi perubahan pada struktur ekonomi Indonesia. Hal ini terlihat dari semakin menurunnya pangsa sektor primer dan semakin meningkatnya pangsa sektor nonprimer terhadap PDB dari periode 1983-2010. Perkembangan kontribusi sektor ekonomi terhadap PDB pada periode sebelum krisis ekonomi (1983-1996) menunjukkan bahwa dominasi produk yang dihasilkan perekonomian Indonesia mulai bergeser dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier.