Anda di halaman 1dari 71

BAB

VI. B.1

B.1. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN INTERIOR

Pasal 1 Pekerjaan Persiapan

Lingkup pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan, sehingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.

1.1 Pekerjaan Pembongkaran

1.1.1 Pekerjaan Pembongkaran.

a. Sebelum memulai pekerjaan pembongkaran, pelaksana pekerjaan harus memberitahukan kepada Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas (MK) dan pihak

terkait (Pengelola Gedung) guna pemeriksaan awal dan ijin pelaksanaan pekerjaan.

b. Waktu pemberitahuan minimal 2 x 24 jam sebelum memulai pekerjaan.

1.1.2 Pemeriksaan Tempat Kerja. Pelaksanaan pembongkaran sebelumnya harus yakin akan kesiapan dan segala akibat yang mungkin dapat timbul dalam proses pelaksanaan pekerjaan pembongkaran. Persetujuan ijin mulai pelaksanaan pekerjaan adalah setelah dilakukan pemeriksaan kondisi lokasi bersama-sama Konsultan Pengawas (MK), Perencana dan Pemberi Tugas.

1.1.3 Pengamanan/pemutusan Jalur-jalur Instalasi.

a. Amankan jalur-jalur air, listrik, gas, Air Conditioning (AC) atau instalasi lain

dengan menutupnya dengan bahan yang diijinkan atau disyaratkan oleh Konsultan Pengawas, Pemilik bangunan (Pengelola gedung) dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

1.1.4 Pembongkaran

a. Pembongkaran dilakukan dengan alat-alat yang mencukupi, tepat guna dan aman. Pengawasan agar dilakukan tehadap timbulnya debu, suara dan getaran yang mempengaruhi lingkungan sekitar/sekelilingnya.

b. Agar diusahakan alat-alat atau cara-cara pengamanan, baik untuk bangunan yang tidak dibongkar atau kesiapan-kesiapan pekerjaannya

c. Segala kerusakan yang terkadi menjadi Tnggung jawab pelaksana pembongkaran/kontaktor.

d. Puing-puing hasil pembongkaran harus segera dibuang dari lokasi pekerjaan (proyek).

e. Semua bongkaran berupa barang yang masih utuh (seperti lampu, dll) dan dapat digunakan kembali, disimpan dan diserahkan kepada Pemberi Tugas dengan diketahui oleh Konsultan Pengawas/MK dengan disertai daftra/list item barang- barang tersebut.

1.2 Pekerjaan Pengamanan. 1.2.1 Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan terdapat barang-barang kantor/peralatan di lokasi proyek, maka kontraktor wajib mengamankan/melindungi barang-barang tersebut dari akibat pekerjaan bongkaran. Material pelindung yang dipakai adalah

berupa plastik lembaran atau karton kardus atau material lain yang disetujui Konsultan

Pengawas/MK.

1.2.2 Pemasangan alat Bantu Scalf Holding atau bekisting atau tangga harus dipasang secara

hati-hati.

1.2.3 Area yang tidak menjadi bagian pekerjaan, harus dibangun pagar atau panel partisi pembatas setinggi ruangan atau sekat lainnya yang diizinkan/disetujui oleh Konsultan

Pengawas/MK.

1.3

Pemindahan Barang-barang. Pemindahan barang-barang di lokasi proyek harus disetujui dan disaksikan oleh Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas/MK.

1.4

Marking. Sebelum dimulainya pelaksanaan konstruksi di lokasi proyek, untuk menyamakan persepsi ukuran-ukuran yang akan dilaksanakan antara gambar perencanaan dengan ukuran sebenarnya di lokasi, perlu dilakukan marking oleh kontraktor untuk penentuan ukuran- ukuran yang akan dilaksanakan atas dasar kondisi sebenarnya di lokasi proyek. Hasil marking tersebut harus disetujui oleh Konsultan Pengawas/MK dan Perencana.

 

Pasal

2

Pekerjaan Dinding Partisi

2.1.

Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan dinding partisi gypsum, termasuk pemasangan rangka sesuai yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan

Pengawas.

2.2.

Persyaratan Bahan

a. Rangka :

Rangka vertikal dari besi hollow 4 x 4 cm/ 2 x 4 cm, tebal pelat besi hollow minimal 0,3 mm dan diberi meni. Rangka horizontal atas dan bawah dari metal runner berbahan steel galvanized, berupa profil kanal C (C-Channal).

b. Penutup partisi :

Digunakan Gypsum Board yang bermutu baik produk JAYA Plasterboard atau produk lain yang setara, tebal = 12 mm.

c. Bahan penutup sambungan partisi : Compound atau bahan plester ex UB400 atau produk lain yg setara. Paper tape yang berpori/berlubang dan bergaris tengah, serta Corner Bead berbahan metal, yaitu untuk penutup bagian sudut dinding partisi.

d. Bahan Insulasi Glasswool, tebal 4 cm density 28 kg/m3.

e. Kesemua bahan di atas harus disetujui oleh Konsultan Pengawas, Perencana dan Pemberi Tugas.

2.3.

Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan peil), termasuk mempelajari bentuk, pola lay-out / penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail sesuai gambar. Juga terlebih dahulu harus memeriksa untuk dikoordinasikan dengan pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan partisi gypsum, diantaranya adalah :

- Pekerjaan Instalasi pada dinding

- Pekerjaan Kosen, dan lain sebagainya yang terkait dalam terlaksananya pekerjaan ini.

b. Gypsum board yang dipasang adalah gypsum board yang telah dipilih dengan baik, bentuk dan ukuran masing-masing unit sama, tidak ada bagian yang retak, gompal atau cacat-cacat lainnya dan telah mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.

c. Sebelum pemasangan metal runner, dibuat tanda/marking terlebih dahulu di atas bidang lantai sesuai gambar rencana dan diajukan untuk diperiksa terlebih dahulu oleh Konsultan Pengawas dan Perencana.

d. Modul rangka vertikal besi hollow adalah setiap berjarak per as = 60 cm.

e. Rangka besi hollow dan metal runner harus siku, tegak, kaku dan kuat, kecuali bila dinyatakan lain, misal : permukaan merupakan bidang miring sesuai yang ditunjukkan dalam gambar.

f. Bahan penutup langit-langit adalah gypsum dengan mutu bahan seperti yang telah dipersyaratkan dengan pola pemasangan sesuai yang ditunjukkan dalam gambar. Gypsum board dipasang dengan sekrup khusus, dengan menggunakan alat bor listrik dan setiap pemasangan masing-masing sekrup sejajar minimal berjarak 300 mm.

g. Kepala sekrup yang terlihat diberi compund agar tertutup dan diamplas.

h. Sambungan partisi gypsum board diberi compound dengan sebelumnya diberi paper tape khusus gypsum. Setelah compound kering, diamplas sampai rata dan garis sambungan setiap unit gypsum board hilang.

i. Bagian sudut partisi gypsum board yang tidak terlindung oleh material lain, diberi corner bead dan dicompound dan diamplas dengan baik.

j. Setelah panel gypsum board terpasang, bidang permukaan partisi harus rata, lurus dan siku, dan antara unit-unit gypsum board tidak terlihat bergelombang dan sambungan. Kecuali bila dinyatakan lain, misal : permukaan merupakan bidang miring atau melengkung sesuai yang ditunjukkan dalam gambar.

k. Untuk menguji kesikuan/kerataan bidang partisi gypsum, dilakukan dengan menggunakan waterpas khusus, dan diperiksa bersama-sama Konsultan Pengawas/MK.

Pasal

3

Pekerjaan Dinding Bata

3.1

Lingkup pekerjaan

Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan dinding bata, termasuk acian dan plesteran dinding sesuai yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan

Pengawas/MK.

3.2

Persyaratan Bahan

a. Bata yang dipasang adalah jenis bata press sejenis HEBEL atau setara, dengan tebal = 8

cm.

b. Semen Portland (PC) yang bermutu I dan dari satu produk. Pasir bermutu baik dan air pencampur/pelarut/pengencer yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.

3.3

Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Campuran (aggregate) untuk plester, perekat naad antar bata dan acian halus harus

dipilih yang bersih dan bebas dari segala macam kotoran, dan melalui ayakan.

b. Campuran plesteran dan perekat antar bata adalah dengan perbandingan 1 PC : 5 Pasir

pasang.

c. Lebar atau tebal naad/siar-siar adalah sesuai petunjuk yang disyaratkan oleh produk bata

bersangkutan.

d. Untuk area basah adalah dinding trasraam/rapat air dengan ketinggian dari lantai setinggi 120 cm. Campurannya adalah 1 PC : 3 pasir pasang.

e. Tebal plesteran adalah minimal 1,5 cm, apabila tebal melebihi 2 cm harus diberi kawat ayam untuk membantu dan memperkuat daya lekat plesteran.

f. Perbandingan campuran plesteran acian halus adalah 1 PC : 3 pasir pasang. Diterapkan pada seluruh permukaan plesteran adukan 1 : 5 maupun 1 : 3 yang sudah kering benar.

g. Hasil akhir dinding adalah rata, tideak bergelombang.

 

Pasal

4

Pekerjaan Panel

4.1.

Lingkup Pekerjaan Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan panel kayu /plywood veneer dan panel MDF pada partisi gypsum dan plafon/ceiling/langit-langit, juga panel back-dropped sesuai yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas/MK.

4.2.

Persyaratan Bahan

a. Bahan panel kayu/plywood veneer yg digunakan pada partisi adalah :

- Plywood veneer Nyatoh dan Mega Sungkai tebal 3-4 mm bermutu baik.

- MDF tebal minimal 9 mm sebagai backing atau alas/dasar plywood veneer.

- Rangka plywood atau MDF sebagai penebal dan pengaku.

- Bahan perekat adalah lem putih setara Rakol atau di-stapler.

- Kayu solid sungkai yang kering dan bermutu baik untuk edging sekeliling panel

b. Bahan panel kayu MDF yang digunakan adalah :

- MDF dengan tebal 12 mm yang bermutu baik.

- Rangka plywood atau MDF sebagai penebal dan pengaku.

- Kayu solid sungkai yang kering dan bermutu baik untuk edging sekeliling panel.

c. Bahan panel Back-dropped adalah polyester resin dengan ketebalan 10 mm, motif

alabaster.

4.3.

Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Alas/backing/dasar untuk dipasangi panel, baik partisi maupun plafon/ceiling, harus merupakan permukaan yang bersih dan rata.

b. Bahan plywood veneer harus dipilih motif yang rata-rata sama dan tidak ada cacat serta bebas dari mata kayu.

c. Panel kayu/plywood adalah di-finish dengan melamic (lihat pasal melamic), sedangkan panel MDF di-finish wall cover (lihat pasal wall cover).

d. Panel kayu/plywood setelah selesai di-finish, diberi perlindungan agar tidak rusak/cacat oleh pekerjaan lainnya.

e. Panel polyester resin untuk back-dropped harus dikerjakan oleh tenaga yang ahli dan berpengalamam.

f. Panel polyester resin tidak terlalu pekat dan masih bisa ditembus oleh sinar cahaya lampu.

Pasal

5

Pekerjaan Wall Cover

5.1.

Lingkup Pekerjaan Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan wall cover pada bidang partisi, panel dan plafon/ceiling sesuai yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas/MK.

5.2.

Persyaratan Bahan

a. Bahan wall cover adalah ex Goodrich, tipe GE 3014, untuk tipe WC.1.

b. Bahan wall cover adalah ex Goodrich, tipe AZ 119 SU, untuk tipe WC.2.

c. Bahan wall cover adalah ex Goodrich, tipe PE 4006 Marco, untuk tipe WC 3

d. Bahan wall cover adalah ex Goodrich, tipe Symphoni Intermezzo AZ 506921 MZ, untuk

tipe WC 5.

e. Bahan wall cover adalah ex Goodrich, tipe GU 2536 Leather, untuk tipe WC.6.

f. Bahan wall cover adalah ex Goodrich, tipe Symphony Etude AZ 51004 ET, untuk tipe

WC.7.

g. Bahan wall cover adalah ex MATCH atau setara, untuk tipe WC.8.

5.3.

Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Pada permukaan dinding yang akan dilapisi wall covering, permukaannya harus rata, kering dan bersih (bebas debu dan kotoran lainnya).

b. Harus mengikuti aturan / persyaratan pabrik dalam mencampur dan menggunakan bahan pelapis dan perekat.

c. Sebelum pemotongan pola dan warna harus diperiksa dan dicocokkan dengan contoh yang telah disetujui Konsultan Pengawas/MK dan Perencana.

d. Semua bagian wall cover, terutama pada bagian tepi dan antar sambungan vertikal dengan wall cover selanjutnya, terpasang sama rekat dan hasilnya tidak bergelembung.

e. Pemotongan wall cover harus dilakukan secara hati-hati dan rapih dengan menggunakan alat potong (cutter) yang tajam.

f. Awal pemasangan dan sisa buangan harus dikoordinasikan dan disetujui oleh Konsultan Pengawas/MK.

 

Pasal

6

Pekerjaan Screeding

6.1.

Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini dilakukan meliputi area seluruh lantai beton yang tidak rata/level dan rusak sesuai yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk Konsultan

Pengawas/MK.

6.2.

Persyaratan Bahan Semen Portland (PC) yang bermutu I dan dari satu produk. Pasir bermutu baik dan air pencampur/pelarut/pengencer yang disetujui oleh Konsultan Pengawas/MK.

6.3.

Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Screeding lantai dilakukan bila dasar lantai yang merupakan beton plat lantai, dibersihkan dari segala bongkaran, kotoran, debu dan bebas dari pengaruh pekerjaan yang lain.

b. Bahan screeding merupakan campuran dari bahan PC dan pasir yang sudah diayak halus dan dilarutkan dengan air.

c. Tebal screeding disesuaikan dengan finishing pelapis lantai yang ditunjukkan oleh gambar rencana. Dan tergantung dari toleransi kerataan keseluruhan lantai beton.

d. Sebelum dilakukan screeding, alas/dasar lantai harus dibersihkan dengan air bersih. Setelah dibersihkan, lalu disiram dengan cairan air semen maksimum ditunggu selama 20 menit, setelah itu baru dilakukan pekerjaan screeding.

e. Pekerjaan dilakukan secara sekaligus pada masing-masing lokasi pemasangan/ruangan.

f. Permukaan lapisan screed harus dibasahi selama beberapa hari untuk kesempurnaan pengeringan.

g. Untuk pemasangan bahan-bahan finishing lantai dapat dilakukan setelah screeding benar- benar kering atau setelah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas/MK.

Pasal

7

Pekerjaan Lantai Karpet

7.1. Lingkup Pekerjaan Pekerjaan ini dilakukan meliputi area seluruh lantai karpet tile sesuai yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk Konsultan Pengawas/MK.

7.2. Persyaratan Bahan Pekerjaan ini dilakukan meliputi area seluruh lantai karpet tile sesuai yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk Konsultan Pengawas/MK.

a. Bahan Carpet Tile adalah CA.1 = ex C & A tipe Moxie.

b. Bahan Carpet Tile adalah CA.2 = ex C & A tipe Mayhem.

c. Bahan Carpet Tile adalah CA.3 = ex C & A atau setara.

d. Ketiga bahan carpet tile di atas memiliki beberapa persyaratan, yaitu:

Product definition/construction : tufted textured loop

Yarn / fibre : 100 % Nylon

Colour system : Solution / Yarn Dyed

Pile thickness : 3,50 mm – 5,00 mm

Tile size : 450 x 450 mm – 500 x 500 mm

Backing structure : Synthetic

Protective treatment : soil / stain protection

Face weight : 25 oz – 30 oz , untuk tipe carpet CA1 dan CA.2

Face weight : 20 oz – 25 oz , unutk tipa carpet CA.3.

7.3. Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Pelaksana harus meneliti keadaan permukaan lantai sebelum pekerjaan dimulai.

b. Permukaan lantai harus dalam keadaan kering, rata, bersih dan bebas dari cacat

c. Pelaksana harus memberitahukan secara tertulis kepada direksi lapangan bila keadaan lapangan tidak memuaskan untuk penyelesaian pekerjaan secara sempurna. Pekerjaan tidak boleh dimulai bila kerusakan / kekurangannya belum diselesaikan.

d. Permukaan dasar lantai karpet (leveling screed) harus cukup halus, rata dan datar.

e. Pemasangan karpet harus dilaksanakan sendiri oleh suppliernya, sebagai orang yang ahli di dalam bidang tersebut.

f. Setiap pertemuan lantai karpet dengan material lain, harus diberi list pancing dari profil aluminium atau material lain sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar detail rencana.

g. Hasil pemasangan karpet harus rata, kuat, tidak menggelembung dan bebas noda akibat pekerjaan lain. Sambungan-sambungan yang terjadi harus rapi dan tidak terlihat.

h. Setelah pemasangan, seluruh karpet harus dibersihkan dengan alat vacuum dan siap untuk dipakai. Apabila masih ada pekerjaan lain di lokasi yang sudah dipasang karpet, harus diberi pelindung/proteksi agar tidak rusak dan kotor. Pelaksana/kontraktor bertanggungjawab atas kerusakan-kerusakan yang terjadi.

i. Untuk setiap jenis dan warna dari bahan-bahan lunak disediakan sisa minimal sebesar 5% untuk cadangan penggantian apabila ada kerusakan dan diserahkan kepada pihak Pemberi Tugas.

Pasal

8

Pekerjaan Lantai Parquet

8.1.

Lingkup Pekerjaan Pekerjaan ini dilakukan meliputi area seluruh lantai karpet parquette/parket sesuai yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk Konsultan Pengawas/MK.

8.2.

Persyaratan Bahan

a. Bahan yg digunakan adalah :

- Laminated Parquet LOKAL ex TEKA LANTEKAYU tipe LINE Kempas atau produk lain

yang setara dan bermutu baik.

- Underlayer menggunakan polyfoam dgn tebal 3mm.

- Bahan perekat adalah lem putih setara Rakol.

b. Warna dan motif akan ditentukan kemudian atau seperti yg ditunjukkan pada detail gambar.

c. Kesemua bahan di atas harus disetujui oleh Konsultan Pengawas/MK, Perencana dan Pemberi Tugas

d. Lokasi pemasangan finishing lantai parquet: sesuai dengan yang sudah disebutkan / ditunjukkan dalam detail gambar.

8.3.

Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Alas dari parquet harus merupakan permukaan screed yang keras dan diaci halus, dan setelah itu diberi underlayer berupa polyfoam dengan tebal minimal 3 mm. Underlayer polyfoam tsb. diletakkan di atas permukaan screed yg sudah halus dan benar-benar rata.

b. Parquet tiles direkatkan langsung di atas permukaan underlayer yg sudah bersih dengan lem putih setara Rakol.

c. Teknik pemasangan parquet harus diperhatikan dan dikoordinasikan dengan Konsultan Pengawas/M dan harus dilakukan oleh ahli yang berpengalaman dalam pemasangan parquet.

d. Awal pemasangan dan sisa buangan harus dikoordinasikan dan disetujui oleh Konsultan Pengawas/MK.

e. Bagian ujung/tepi dari lantai parquet yang berbatasan atau bertemu dengan lantai berbahan lain, dipasang list pancing, berupa profil stainless steel. Ukuran dan bentuk profil ditunjukkan pada gambar kerja untuk pelaksanaan.

Pasal 9 Pekerjaan Marmer

9.1

Lingkup Pekerjaan

a. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.

b. Pekerjaan pedestal marmer termasuk meja vanity marmer serta seluruh peralatan bantu yang digunakan. Pekerjaan marmer ini dilakukan meliputi seluruh detail yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar.

9.2

Persyaratan Bahan

a. Bahan marmer dari produk IMPOR atau setara yang bermutu baik, berjenis NERO MARQUINA dan SERPEGIANTE.

b. Bahan untuk marmer yang digunakan tebal minimum 20 mm.

c. Bahan pengisi siar Liticrete 3701 dan Laticrete seri 500.

d. Bahan perekat terdiri dari 2 bagian Laticrete 4237 : 3 Bagian PC : 3 Bagian pasir dan Sealant atau Epoxy (utk di meja Vanity).

e. Warna akan ditentukan kemudian atau seperti yg ditunjukkan pada detail gambar, warna harus seragam, warna yang tidak seragam akan ditolak.

f. Kesemua bahan di atas harus disetujui oleh Konsultan Pengawas, Perencana dan Pemberi Tugas.

9.3

Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini, sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan contoh-contohnya kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan

persetujuan, minimal 2 (dua) produk pabrik. Pengajuan / penyerahan harus disertai brosur / spesifikasi dari masing-masing pabrik yang bersangkutan.

b. Alas dari pasangan pedestal adalah dinding bata yang permukaannya telah diratakan, dan multiplex 18mm untuk meja vanity wastafel. Adapun dasar pemasangan marmer merupakan plesteran atau multiplex yang rata dan tegak.

c. Bahan dipasang dengan adukan pengikat atau perekat (sealant atau epoxy) sesuai dengan syarat tersebut diatas. Pemasangan adukan pengikat dan perekat ini harus mencakup seluruh permukaan pasangan secara merata tanpa ada bagian yang berongga.

d. Bahan harus bebas dari segala cacat dan berstruktur padat dan halus pada setiap permukaan yang exposed dan siku sisi-sisinya.

e. Pemotongan dari unit-unit bahan harus menggunakan alat potong khusus (mesin pemotong elektrik) sesuai ketentuan dari pabrik.

f. Sebelum dilakukan pemasangan, unit-unit dari bahan harus dibeberkan terlebih dahulu supaya marmer dapat disusun sedemikian rupa sehingga pola / warna teratur.

g. Jarak antara masing-masing unitnya, diisi dengan bahan grouting yang telah disyaratkan. Hasil pemasangan harus sama dan membentuk garis-garis yang lurus dan sejajar, pada perpotongan siar-siarnya harus saling berpotongan tegak lurus sesamanya.

h. Bidang permukaan pasangan harus rata, semua unit-unitnya terpasang kuat (tidak goyang), sisi-sisi dan sudutnya utuh (tanpa cacat, retak dan gompal).

i. Siar-siar harus diisi dengan bahan pengisi khusus, sesuai yang disyaratkan. Pengisian siar-siar dilakukan setelah pasangan cukup kuat, minimum 10 (sepuluh) hari setelah pemasangan selesai.

j. Sesudah pemasangan selesai, permukaan lantai harus dibersihkan dan dipolish dengan mesin wash / polish.

k. Lantai yang telah dipasang harus dihindarkan dari sentuhan / benturan, selama 3x24 jam dan untuk seterusnya dilindungi dari kemungkinan cacat akibat pekerjaan lain.

Pasal

10

Pekerjaan Pintu/Jendela Kayu

10.1 Lingkup Pekerjaan Pekerjaan pembuatan kusen kayu dan daun pintu/jendela meliputi seluruh detail yang dinyatakan / ditunjukkan dalam gambar.

10.2 Persyaratan Bahan

a. Bahan kusen dari kayu Nyatoh dan Kamper yang telah dikeringkan / oven mutu kelas A, kelas kuat I-II dan kelas awet I.

b. Pengawetan kayu Seluruh bahan kayu diawetkan dengan cara-cara yang diusulkan oleh Kontraktor dan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan Pengawas/MK.

c. Ukuran finish kusen sesuai detail gambar.

d. Kayu yang dipakai harus cukup tua, lurus, kering dengan permukaan rata, bebas dari cacat seperti retak-retak, mata kayu dan cacat lainnya.

e. Bahan-bahan penutup daun pintu/jendela adalah :

- Panel penutup daun pintu adalah plywood 6mm dan lapisan terluar decorative NYATOH dan MEGA SUNGKAI Plywood 3mm dua muka. Diberi edging kayu nyatoh solid atau kayu solid sungkai di sekeliling daun pintu.

- Rangka dalam adalah kayu kamper solid (bukan Plywood) mutu kelas A, kering dan sudah di oven.

f. Kesemua bahan di atas harus disetujui oleh Konsultan Pengawas/MK, Perencana dan Pemberi Tugas.

g. Accessories daun pintu/jendela lihat di pasal pekerjaan Hardware.

10.3 Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk mempelajari bentuk, pola, layout / penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail sesuai

gambar.

b. Sebelum pemasangan, penimbunan kayu di tempat pekerjaan harus ditempatkan pada ruang / tempat dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkena cuaca langsung dan terlindung dari kerusakan dan kelembaban.

c.

Harus diperhatikan semua sambungan dalam pemasangan klos-klos, baut, angker-angker dan penguat lain yang diperlukan hingga terjamin kekuatannya dengan memperhatikan / menjaga kerapihan terutama untuk bidang-bidang tampak tidak boleh ada lubang-lubang atau cacat bekas penyetelan.

d. Semua kayu tampak harus diserut halus, rata, lurus dan siku-siku satu sama lain sisi- sisinya dan dilapangan sudah dalam keadaan siap untuk penyetelan / pemasangan, kecuali bila ditentukan lain.

e. Semua ukuran harus sesuai ukuran gambar dan merupakan ukuran jadi. Pemotongan dan pembuatan profil kayu dilakukan dengan mesin di luar tempat pekerjaan / pemasangan.

f. Kusen yang terpasang harus sesuai petunjuk gambar dan diperhatikan ukuran, bentuk profil, type kusen dan arah pembukaan pintu / jendela.

g. Detail kusen dan sambungan dengan material lain harus disesuaikan dengan type pintu / jendela yang akan terpasang.

h. Pembuatan dan penyetelan / pemasangan kusen-kusen harus lurus dan siku, sehingga mekanisme pembukaan pintu / jendela bekerja dengan sempurna.

i. Kusen tidak diperkenankan dipulas dengan cat, vernis, meni atau finishing lainnya sebelum diperiksa dan diteliti oleh Konsultan Pengawas/MK.

j. Semua kusen yang melekat pada dinding beton / bata diberi penguat angker diameter minimum 10 mm. Pada setiap sisi kusen pintu yang tegak dipasang 3 angker dan untuk sisi kusen jendela 2 angker.

k. Setelah kusen dan daun pintu/jendela dipasang, antara kusen dan daun pintu/jendela tidak terjadi gap/jarak yang besar, maksimal toleransi adalah 2mm.

l. Pola serat decorative plywood adalah sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar kerja.

m. Setelah terpasang perlu diberi pelindung terhadap benturan dan pengotoran dari pelaksanaan pekerjaan lain.

n. Penutup rangka panel pintu menggunakan plywood dengan ketebalan yang diijinkan (6+3mm) pemasangan menggunakan lem khusus serta bahan pembantu paku yang ditumpulkan ujungnya, kemudian ditutup dengan dempul. Bahan penutup plywood yang sudah dinyatakan kerataannya baru dilapis cat sesuai spesifikasi dan setelah disetujui Konsultan Pengawas/MK.

Pasal

11

Pekerjaan Pengecatan Dinding & Plafon

11.1 Lingkup Pekerjaan.

Definisi pekerjaan cat adalah semua pelapisan permukaan pada berbagai material untuk maksud-maksud perlindungan, pemberian warna, pemberian teksture. Penggunaan :

1. Untuk Interior (Permukaan dinding, kolom-kolom, atau sesuai petunjuk pada gambar

kerja).

2. Untuk Plafond dan plester/aci halus (skim coat) yang ditunjukkan dalam gambar kerja.

3. Untuk pengecatan kembali acoustic ceiling exisiting.

11.2 Persyaratan Bahan.

- Bahan yang digunakan adalah cat Emusion Paint water base ex CATYLAC.

- Tipe atau jenis yang dipilih ditentukan kemudian atau yang sudah ditunjukkan pada gambar kerja.

- Pengecatan seluruh pekerjaan harus sesuai dengan NI-3 dan NI-4 atau sesuai dengan spesifikasi dari pabrik cat yang digunakan.

- Standard dari bahan prosedur cat ditentukan pabrik pembuat cat dan kontrak tidak dibenarkan merubah standar dengan jalan mencampur dan mencairkan yang tidak sesuai dengan instruksi pabrik atau tanpa ijin dari Konsultan Pengawas.

- Kontraktor diwajibkan membuat mock-up cat yang akan dipakai pada semua penggunaannya , yaitu pada bidang yang lebih besar di salah satu ruangan proyek. Dan harus diajukan dan disetujui oleh Konsultan Pengawas/MK, Perencana dan Pemberi Tugas.

11.3 Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Plamur yang digunakan adalah plamur tembok Danplamur wall putty 550-1967 merk Danapaint.

b. Sebelum dinding plamur, plesteran sudah harus betul-betul kering, tidak ada retak-retak dan Kontraktor meminta persetujuan kepada Konsultan Pengawas/MK.

c.

Pekerjaan plamur dilaksanakan dengan pisau plamur dari plat baja tipis dan lapisan plamur dibuat setipis mungkin sampai membentuk bidang yang rata.

d. Sesudah plamur kering, diamplas, kemudian dibersihkan dengan bulu ayam sampai bersih betul. Selanjutnya dinding dicat dengan menggunakan Roller.

e. Lapisan pengecatan dinding dalam terdiri-dari 3 (tiga) lapis dengan kekentalan cat sebagai berikut :

- Lapisan I encer yaitu dengan tambahan 20% air bersih.

- Lapisan II dan III kental yaitu dengan tambahan 10% air bersih.

f. Setelah pekerjaan cat selesai, bidang dinding dan plafond merupakan bidang utuh, rata, licin, tidak ada bagian yang belang dan bidang dinding dijaga terhadap pengotoran- pengotoran.

g. Untuk pengecatan acoustic ceiling existing, kontraktor wajib memperhatikan metode kerja yang akan digunakan dan sudah disetujui oleh MK. Semua komponen/armatur di luar acoustic yang terdapat pada permukaan/bidang ceiling harus terhindar dari akibat pekerjaan pengecatan acoustic ceiling.

h. Setelah pekerjaan pengecatan acoustic ceiling selesai, semua komponen/armatur tesebut harus bersih dari hasil pekerjaan pengecatan. Komponen/armatur tersebut adalah : rangka plafond (main tee dan cross tee), komponen fire fighting (sprinkler, smoke detector, dsb), armatur penerangan/lighting existing dan baru, grill/diffuser AC, komponen indoor antenna, dsb.

Pasal

12

Pekerjaan Finishing Melamic

12.1 Lingkup Pekerjaan. Digunakan pada semua finishing kayu pintu/jendela, panel-panel atau pada bagian-bagian sesuai yang ditunjukkan pada gambar kerja untuk pelaksanaan.

12.2 Persyaratan Bahan.

a. Wood Filler, Stain, Base Coat dan Top Coat : ex IMPRA atau produk lain yang setara.

b. Thinner dengan kualitas no. 1

c. Warna dari melamic adalah ditentukan dalam Tabel/Skema Material yang ditunjukkan oleh Perencana.

d. Tingkat kilap dari melamic adalah SEMI GLOSS (tidak terlalu mengkilap).

e. Kontraktor wajib membuat contoh/sample melamic di atas material yang akan dipakai dalam proyek ini dan diajukan dan disetujui Konsultan Pengawas/MK, Perencana dan Pemberi Tugas.

12.3 Syarat-syarat Pelaksanaan.

a. Melamic harus dilaksanakan oleh tenaga-tenaga yang trampil dalam pekerjaan ini dan pekerjaan ini harus dipimpin oleh seorang mandor yang betul-betul ahli dan berpengalaman.

b. Sebelum pekerjaan finishing mellamic / polyurethane dimulai harus dipastikan bahwa tersedia ventilasi / sirkulasi udara bersih dalam ruangan yang akan dicat.

c. Permukaan kayu yang retak-retak, lubang-lubang atau bercelah harus digosok dengan amplas kayu, dicat dasar di dempul kemudian diamplas kembali sehingga benar-benar halus permukaannya.

d. Permukaan plywood veneer sebaiknya diamplas secukupnya agar serat kayu pada lembaran veneer tidak habis dan serat masih terlihat baik.

e. Setiap mata kayu yang besarnya lebih dari 1 cm harus dipotong dan diganti dengan kayu yang mulus, atau permukaannya diperbaiki dengan potongan kayu.

f. Mata kayu yang besarnya kurang dari 1 cm cukup diberi 2 lapis plamir yang tipis.

g. Setiap lubang paku dan lubang-lubang atau cacat-cacat lainnya harus didempul.

h. Semua permukaan kayu/plywood yang hendak di-melamic dibersihkan dari debu minyak dan kotoran yang mungkin melekat disitu.

i. Sesudah betul-betul bersih, digosok dengan amplas kayu, agar supaya seluruh permukaan kayu rata dan licin, tidak lagi terdapat serat kayu yang tidak rata pada permukaan kayu tersebut.

j. Apabila seluruh permukaan kayu/plywood sudah licin, pori-pori kayu harus ditutup dengan wood filler secukupnya dengan menggunakan kape, sampai pori-pori tertutup sempurna.

k. Permukaan kayu/plywood yang telah diplamur dengan wood filler tersebut, setelah kering dihaluskan dengan amplas duco yang halus, kemudian debu bekas amplas tersebut dibersihkan.

l. Setelah bersih permukaan kayu/plywood diberi Stain (pewarna), dengan menggunakan Spray gun atau kuas, dan diratakan dengan kain bal setelah kurang lebih 30 detik mengering. Warna akan ditentukan kemudian oleh perencana.

m. Setelah itu diberi Base Coat/Cat Dasar atau sanding sealer. Dibutuhkan minimal 2 lapis cat dasar setiap lapisan, dan setiap lapisan harus diamplas sempurna sehingga diperoleh permukaan yang halus dan rata.

n. Lapis pertama Top-Coat/Cat diulaskan dengan rata sampai sempurna dan diamplas sempurna, kemudian ulaskan top coat lapis ke 2 dan yang terakhir lapis 3 adalah lapisan finished tidak perlu diamplas.

o. Hasil pekerjaan melamic ini harus merupakan suatu hasil pekerjaan yang rata dan jelas menunjukkan serat kayunya serta tidak cacat.

p. Setelah pekerjaan melamic kayu selesai harus dijaga terhadap kemungkinan kerusakan terkena benda lain atau noda-noda dan sebagainya.

q. Lindungi pekerjaan ini dan juga pekerjaan atau material lain yang dekat dengan pekerjaan ini seperti fitting-fitting, kosen-kosen dan sebagainya dengan cara menutup / melindungi bagian tersebut selama pekerjaan pengecatan berlangsung.

Pasal

13

Pekerjaan Kaca & Cermin

13.1 Lingkup Pekerjaan. Lingkup penggunaan bahan yang dimaksud untuk pelaksanaan sesuai dengan rincian pekerjaan seperti yang tercantum pada gambar kerja untuk konstruksi dan dengan tata cara penanganan pekerjaan seperti tersebut pada persyaratan teknis pelaksanaan dokumen teknis

13.2 Persyaratan Bahan. Bahan yang dipakai adalah :

- Kaca lembaran bening (Clear Float Glass)

- Kaca tempered (Tempered Glass)

- Kaca cermin.

- Kaca adalah benda terbuat dari bahan glass yang pipih, mempunyai ketebalan yang sama dalam satu lembarnya, mempunyai sifat tembus cahaya.

- Khusus untuk kaca lembaran bening (clear float glass) adalah kaca yang dihasilkan dengan proses tarik, kemudian dipotong menjadi lembaran dengan ukuran tertentu. Kedua permukaan rata licin dan bening.

- Produksi ex lokal PT. MULIA GLASS atau produk yang setara.

- Untuk cermin, pelindung belakang adalah non-paperback, yaitu menggunakan cat bahan tembaga (copper back)

13.3 Syarat-syarat Pelaksanaan.

1. Batas Toleransi :

Untuk kaca lembaran toleransi panjang, lebar, ketebalan, kesikuan dan cacat mengikuti pada Standar Industri Indonesia (SII – 0891 –78).

2. Untuk cermin, sesuai dengan gambar rencana. Menggunakan bahan perekat khusus (3 m double active achesive) dan dilaksanakan oleh tenaga ahli yang berpengalaman.

3. Hasil pemasangan kaca harus dalam alur rangkanya rapat, kuat / tidak goyang dan dijamin kerapihannya.

4. Pertemuan atau sambungan setiap unit kaca, memakai silicone sealant dengan warna ditentukan kemudian. Atau warna tsb. diajukan terlebih dulu ke Konsultan Pengawas/MK, Perencana dan Pemberi Tugas.

5. Pada pemasangan dinding kaca tanpa kusen atau frameless, bagian tepi menggunakan profil besi galvanized atau aluminium profil U ukuran lebih besar dari tebal kaca tsb. Ditanam pada bagian konstruksi, dan jarak atau gap yang terjadi antara metal profil U dengan kaca, diberi silicone sealant warna putih atau bening.

6. Hasil pemasangan kaca (khususnya kaca bening/clear) yang sudah selesai dan sudah diterima oleh Konsultan Pengawas/MK diberi tanda agar tidak tertabrak oleh pekerja atau orang lain

Pasal

14

Pekerjaan Hardware

14.1

Lingkup Pekerjaan. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan yang berhubungan dengan semua daun pintu/jendela dan furniture yang akan dipasang dalam proyek ini dan ditunjukkan dalam table/door schedule serta gambar kerja untuk konstruksi.

14.2

Persyaratan Bahan. Bahan , type dan merk yang digunakan pada proyek ini ditunjukkan oleh Tabel atau Door Schedule. Semua hardware yang akan digunakan harus diajukan dulu dan dimintakan persetujuannya ke Konsultan Pengawas/MK, Perencana dan Pemberi Tugas.

14.3

Syarat-syarat Pelaksanaan.

 

a.

Tenaga Pekerjaan ini harus dilakukan / dikerjakan oleh tenaga-tenaga ahli yang betul-betul

 

berpengalaman dan menguasai teknologi pemasangan, serta mempunyai keahlian khusus dalam pekerjaannya.

 

b.

Pelaksanaan

 

1. Hardware harus terpasang dengan baik, sempurna, kokoh dan siku, sesuai dengan yang dipersyaratkan dan disetujui Konsultan Pengawas. Termasuk pemasangan kunci dan alat-alat bantu yang digunakannya

2. Beberapa hal yang harus dihindarkan dalam pemasangan lock case yaitu : jangan memasang spindle dengan cara dipukul dengan palu, jika lubang dead bolt tidak pas, jangan ditekan secara paksa, jangan melubangi lock case dan jangan memberi beban berlebih pada handel pintu.

3. Seluruh pemasangan Hardware dilaksanakan di lokasi pekerjaan, dengan mempergunakan peralatan lengkap sesuai untuk pekerjaan tersebut.

4. Semua sistem mekanis dari Hardware harus dapat bekerja dengan baik dan sempurna.

5. Kontraktor harus menjaga pekerjaan Hardware yang sudah selesai dilaksanakan, sehingga terhindar dari kejadian-kejadian yang bisa menimbulkan kerusakan.

6. Hasil pekerjaan pemasangan Hardware harus dapat berfungsi dengan sempurna dan tidak cacat.

 

Pasal

15

 

Pekerjaan Sanitary Fittings/Fixtures

15.1

Lingkup Pekerjaan. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan yang berhubungan dengan semua kamar mandi dan toilet yang ada dalam proyek ini yang ditunjukkan dalam tabel/schedule spesifikasi Sanitair, serta lokasi penempatannya ditunjukkan dalam gambar kerja untuk konstruksi.

15.2

Persyaratan Bahan. Merk yang dipakai adalah ex TOTO atau setara. Bahan , type dan merk yang digunakan pada proyek ini ditunjukkan oleh gambar detail rencana yang dibuat oleh Perencana.

15.3

Syarat-syarat Pelaksanaan.

a. Pekerjaan ini harus dilakukan / dikerjakan oleh tenaga-tenaga ahli yang betul-betul berpengalaman dan menguasai teknologi pemasangan, serta mempunyai keahlian khusus dalam pekerjaannya.

b. Sanitair harus terpasang dengan baik, sempurna, dan kokoh, sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam petunjuk pemasangan produk sanitair bersangkutan dan disetujui Konsultan Pengawas.

c. Semua sistem dari Sanitair harus dapat bekerja dengan baik dan sempurna.

d. Kontraktor harus menjaga pekerjaan Sanitair yang sudah selesai dilaksanakan, sehingga terhindar dari kejadian-kejadian yang bisa menimbulkan kerusakan

e. Hasil pekerjaan pemasangan Sanitair harus dapat berfungsi dengan sempurna dan tidak cacat.

f. Perbedaan letak/posisi plumbing yang terjadi di lapangan, harus segera dilaporkan ke Konsultan Pengawas agar segera dibuatkan shop drawingnya oleh Kontraktor. Dan

semuanya harus diajukan dan disetujui oleh Konsultan Pengawas/MK, Perencana dan Pemberi Tugas.

Pasal

16

Pekerjaan Plafond Gypsum Board dan Acoustic Ceiling

16.1 Lingkup Pekerjaan Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan plafond gypsum board termasuk pemasangan rangkanya dan penyetelan kembali atau re-kondisi leveling acoustic ceiling existing, sesuai yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas/MK.

16.2 Persyaratan Bahan

a. Rangka :

Rangka dari besi hollow 4 x 4 cm/ 2 x 4 cm, tebal pelat besi hollow minimal 0,3 mm dan diberi meni.

b. Penutup langit-langit :

Digunakan Gypsum Board yang bermutu baik produk Jaya Plasterboard atau produk lain yang setara, tebal = 9mm

c. Bahan penutup sambungan plafond : Compound atau bahan plester ex UB400 atau produk lain yg setara. Dan paper tape yang berpori/berlubang dan bergaris tengah.

d. Kesemua bahan di atas harus disetujui oleh Konsultan Pengawas/MK, Perencana dan Pemberi Tugas.

16.3 Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan peil), termasuk mempelajari bentuk, pola lay-out / penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail sesuai gambar.

b. Gypsum board yang dipasang adalah gypsum board yang telah dipilih dengan baik, bentuk dan ukuran masing-masing unit sama, tidak ada bagian yang retak, gompal atau cacat-cacat lainnya dan telah mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas/MK.

c. Pemasangan rangka plafond besi hollow disesuaikan dengan kondisi ruangan dan dengan pola yang ditunjukkan / disebutkan dalam gambar dengan memperhatikan modul pemasangan penutup langit-langit yang dipasangnya

d. Modul rangka besi hollow adalah 600 x 600 mm.

e. Rangka penggantung bisa menggunakan besi hollow 2x4 cm, konstruksi ke pelat dak beton di fisher dan sekrup atau dengan paku tembak-dyna bolt.

f. Bidang pemasangan bagian rangka langit-langit harus rata, tidak cembung, kaku dan kuat, kecuali bila dinyatakan lain, misal : permukaan merupakan bidang miring / tegak sesuai yang ditunjukkan dalam gambar.

g. Setelah seluruh rangka langit-langit terpasang, seluruh permukaan rangka harus rata, lurus dan waterpas, tidak ada bagian yang bergelombang.

h. Bahan penutup langit-langit adalah gypsum dengan mutu bahan seperti yang telah dipersyaratkan dengan pola pemasangan sesuai yang ditunjukkan dalam gambar. Plafond gypsum board dipasang dengan sekrup khusus dan setiap pemasangan masing-masing sekrup sejajar minimal berjarak 300 mm.

i. Hasil pemasangan penutup langit-langit harus rata, tidak melendut.

j. Sambungan plafond gypsum board diberi compound dengan sebelumnya diberi paper tape khusus gypsum. Setelah compound kering, diamplas sampai rata dan garis sambungan setiap unit gypsum board hilang.

k. Setelah plafond gypsum board terpasang, bidang permukaan langit-langit harus rata, lurus, waterpas dan antara unit-unit gypsum board tidak terlihat.bergelombang dan sambungan

l. Pada beberapa tempat tertentu harus dibuat manhole / access panel ukuran 60x60 cm di langit-langit yang bisa dibuka, diberi engsel tanpa merusak gypsum board disekelilingnya, untuk keperluan pemeriksaan / pemeliharaan M & E.

m. Pelaksanaan pekerjaan penyetelan level plafond ceiling acoustic harus dilakukan secara hati-hati terhadap semua komponen yang terdapat di bagian dalam atau dibalik plafond acoustic, yaitu semua komponen instalasi Mekanikal & Elektrikal existing dan yang baru.

Pasal 17 Pekerjaan Horizontal dan Roll Blind

17.1

Lingkup Pekerjaan Lingkup pelaksanaan pekerjaan pemasangan horizontal dan roll blind hanya pada jendela gedung atau/dan sesuai yang ditunjukkan pada gambar rencana dan ruang-ruang yang tercakup dalam lingkup renovasi.

17.2 Persyaratan Bahan

a. Horizontal blind terbuat dari bilah-bilah bahan aluminium yang ringan, lebar daun 25mm

dengan mekanisme penggerak khusus di bagian atas, untuk mengatur pencahayaan yang masuk.

b. Roll Blind adalah terbuat dari bahan lembaran seperti kain, berupa bahan khusus yang tidak mudah sobek. Mempunyai mekanisme penggerak khusus di bagian atas, berfungsi untuk menggulung roll blind dan mempunyai mekanisme berhenti yang unik, agar blind yang tergulung tidak jatuh ke bawah atau berhenti pada ketinggian tertentu sesuai keinginan pemakai.

c. Horisontal blind yang disyaratkan adalah ex Tachikawa, tipe T 9013 25 mm perforated atau setara.

d. Roll blind adalah ex Tachikawa, tipe SS M850-2 atau setara.

17.3 Syarat-syarat Pelaksanaan

a. Kontraktor/ pemborong harus mengajukan data dan spesifikasi produk, cara pemasangan dan pengoperasian sesuai dengan ketentuan yang diajukan dan mengajukan contoh/ mock up horizontal dan roll blind, yang dapat memperlihatkan cara kerja dengan baik dan benar.

b. Pelaksanaan

1. Kontraktor/Pemborong harus mengukur di lapangan tempat-tempat/jendela-jendela yang akan dipasang horizontal blind untuk fabrikasinya.

2. Semua perakitan dilakukan di pabrik, perubahan-perubahan kecil saja yang bisa dilakukan dilapangan.

3. Posisi penempatan rumah atau penggerak mekanisme horizontal/roll blind harus pada bidang yang kuat agar tidak ambruk dan harus dikoordinasikan dan disetujui Konsultan Pengawas/MK dan Perencana. Dihindarkan pemasangan rumah penggerak pada kusen/mullion jendela kaca gedung.

4. Posisi pemasangan tongkat/tuas/rantai penggerak blind harus dikoordinasikan dan disetujui oleh Konsultan Pengawas/MK dan Perencana.

5. Apabila ditemukan kejanggalan sebelum pemasangan, harus segera diinformasikan kepada Konsultan Pengawas.

6. Pemasangan sesuai dengan petunjuk pemasangan dari pabrik.

7. Pemasangan dilakukan dengan mempergunakan sekrup bukan paku.

c. Garansi

1. Kontraktor /Pemborong menjamin barang yang dikirim adalah asli dan baru serta

belum pernah dipasang ditempat lain.

2. Kontraktor/Pemborong bertanggung jawab untuk perawatan selama masa garansi masih berlaku.

BAB VI. B.2

B.2. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN FURNITURE

Pasal 1 Pekerjaan Custom Made Furniture

1. PERSYARATAN UMUM

1.1. Batasan Lingkup Kerja : Penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan, disiapkan untuk membuat custommade furniture, seperti yang dispesifikasikan dan tertera dalam gambar desain.

2. PRODUK

2.1. Bahan / Material 2.1.1. Jenis : jenis bahan / material yang digunakan dalam pembuatan furniture adalah sebagai berikut :

a. Bahan utama 1 : Plywood veneer dan kayu padat.

b. Bahan utama 2 : Plywood dan MDF untuk finishing dengan HPL.

c. Bahan pengikat & perekat.

d. Bahan finishing 1 : Melamic .

e. Bahan finishing 2 : High Pressure Laminate ( HPL ) .

f. Bahan finishing 3 : pelapis kain/kulit (upholstery).

g. Bahan pelengkap/Hardware.

h. Dan bahan / material lain seperti yang tercantum dalam gambar

rancangan/desain, seperti : marmer ex Impor tipe Nero Marquina dan Serpegiante, kaca bening tebal minimal 8 mm, dan stainless steel ( baik pelat maupun profil ).

2.1.2. Persyaratan : Pemilihan jenis bahan / material dan sumbernya harus sesuai dengan

spesifikasi.

2.1.3. Pengajuan Alternatif : Apabila karena suatu hal, Pelaksana akan mengganti jenis bahan / material atau sumber yang telah dispesifikasikan, pengajuan alternatif tersebut harus memenuhi persyaratan yang ada dan mendapat persetujuan Konsultan Pengawas/MK dan Perencana.

3. SYARAT PELAKSANAAN

3.1. Plywood Veneer dan Kayu Padat

3.1.1. Persyaratan : Jenis plywood veneer yang dipakai adalah plywood nyatoh dan plywood mega sungkai atau sesuai yang tercantum dalam gambar desain.

3.1.2. Kayu padat/solid yang dipakai adalah sama/sejenis dengan plywood veneer yang dipakai dalam satu barang/item tersebut.

3.1.3. Ukuran-ukuran yang tertera pada gambar desain adalah ukuran jadi artinya ukuran kayu sesudah diserut dan diproses atau diberi finishing.

3.1.4. Kedap air : kayu harus melalui proses tertentu supaya mempunyai kedap air yang cukup, terutama bila digunakan untuk jenis furniture sebagai berikut :

3.1.5. Kualitas / Mutu Kayu : Kayu yang digunakan harus memiliki kualitas / mutu yang sesuai standard yang ada dan sesuai dengan tujuan penggunaannya.

3.1.6. Kelembaban Kayu : Persyaratan kelembaban kayu yang dipakai harus memenuhi syarat NI-5 (PPKI tahun 1961). Untuk pekerjaan ini, kelembaban kayu yang dijinkan, baik kayu padat maupun kayu lapis tidak boleh melebihi 12% WMC. Khusus untuk kayu Kamper atau kayu Kapur tidak diperkenankan melebihi 10% WMC.

3.1.7. Pola Serat Kayu : Harus diperhatikan pola serat kayu pada pekerjaan kayu dekoratif, baik yang bersifat “veneer matching”, “cross veneer inlay”, ataupun “banding”, harus sesuai dengan desain dan pola yang tertera pada gambar desain, serta sesuai dengan contoh warna pada Material color board. Pengerjaan harus dilakukan sebaik-baiknya

sehingga menghasilkan permukaan dekoratif yang betul-betul rata, sejajar, halus dan menghasilkan daerah-daerah pertemuan yang rapi.

3.1.8. Metode : Semua pekerjaan kayu di tempat pengerjaan harus sebaik mungkin, dalam ruang yang kering, sirkulasi udara baik dan dijaga agar tidak terkena cuaca / udara langsung. Pencegahan kerusakan oleh benturan amat mutlak, baik sebelum maupun sesudah terpasang.

3.2. Alat Pengikat & Bahan Perekat – Meja

3.2.1. Alat Pengikat : Sediakan alat-alat pengikat kayu yang diperlukan seperti angkur, paku, sekrup, baut dan jenis lain yang disetujui. Penggunaan pengikat ini harus tampak rapi, tidak menimbulkan keretakan dan harus menunjang konstruksi furniture agar kuat dan kokoh. Bila perlu kayu harus dibor agar permukaannya tidak retak.

3.2.2. Metode : Pembuatan, persiapan dan pemasangan alat-alat pengikat yang terbuat dari logam / “iron mongery” pada kayu harus dikerjakan dengan mesin kayu sehingga tercapai kerapian dan ketepatan yang setinggi-tingginya.

3.2.3. Bahan Perekat : Perekat yang digunakan harus disetujui dan tidak berpengaruh bagi kesehatan. Penggunaan perekat ini harus menunjang konstruksi furniture agar kuat dan kokoh, permukaan kayu harus tampak rapi dan tidak meninggalkan noda (terutama bila di-spesifikasikan bahwa permukaan kayu diberi “clear / transparent finish”).

3.3. Bahan Finishing 1 - Melamic

3.3.1. Persyaratan : Finishing melamic yang dipakai adalah warna yang sesuai dengan skema warna dan material yang dikeluarkan oleh Perencana dengan syarat intensitas warna sama antara masing-masing bagian bidang permukaan kayu/plywood. Contoh warna melamic, harus diajukan terlebih dulu oleh kontraktor, untuk disetujui Konsultan Pengawas/MK dan Perencana.

3.3.2. Lapisan akhir : seluruh kayu/plywood bagian top harus diberi lapisan akhir dengan jenis polyurethane, atau sesuai dengan ditunjukkan dalam gambar rencana.

3.3.3. Semua bagian kayu yang terlihat (exposed) harus difinish, termasuk semua permukaan yang terlihat bila pintu dan laci dibuka dan ditutup.

3.3.4. Pekerjaan finishing kayu harus dilaksanakan sebagai berikut :

- Digosok dengan amplas no. 2 sampai 0

- Diberi wood filler, ICI atau Nippon paint dan dikerjakan spray gun.

- Digosok dengan amplas duco

- Diberi bahan pewarna (wood stain) dengan teknik spray gun sesuai dengan warna yang ditentukan Perencana. Bahan pewarna : IMPRA, NIPPON PAINT atau sejenis.

- Sanding sealer dengan spray gun. Bahan sanding sealer : IMPRA, NIPPON PAINT atau sejenis

- Digosok dengan amplas ducco

- Melamic coating dengan spray gun, ICI, NIPPON PAINT atau sejenis.

3.4. Bahan Finishing 2 - HPL

3.4.1. Persyaratan : High Pressure Laminate ( HPL ) yang dipakai adalah ex Grassmerino motif kayu dan warna solid atau Setara, warna sesuai dengan skema warna dan material yang dikeluarkan oleh Perencana.

3.4.2. Tebal HPL yang disyaratkan adalah minimum 0,8 mm. Untuk finishing HPL dengan profil post forming adalah dengan ketebalan maksimal 0,8 mm.

3.4.3. Proses laminasi sebaiknya dipress secara hydrolis (High Pressure system ) di bengkel / work-shop Kontraktor.

3.4.4. Arah serat dari HPL, sesuai yang ditunjukkan dalam gambar rencana/desain.

3.4.5. Permukaan HPL dilarang keras diamplas.

3.4.6. Bagian tepi (edging) dari daun pintu, bidang atas/top meja /credenza, diberi edging berbahan PVC tebal minimal 2 mm. Warna disesuaikan dengan warna HPL nya atau sesuai petunjuk gambar rencana/desain.

3.5. Bahan Finishing 3 - Pelapis / “Upholstery”

3.5.1. Persyaratan : Tekstur bahan pelapis harus konsisten, polanya rapi dan teratur dan tidak bercacat. Kondisinya harus kuat, tidak menyusut. Mempunyai warna yang awet, tidak luntur / “colorfast” dan mempunyai daya tahan terhadap sinar matahari / “UV resistant.

3.5.2.

Tahan api : Harus mempunyai daya tahan terhadap api dan memenuhi standard keselamatan.

3.5.3. Anti noda : Bahan pelapis tersebut harus sudah diberi lapisan anti noda yang sesuai dan memenuhi standard.

3.6. Bahan Pelengkap / Hardware

3.6.1. Jenis : Bahan pelengkap / hardware yang digunakan untuk furniture ini adalah produk Hafele ex Jerman, Blum ex Austria atau Stanley.

3.6.2. Untuk handel laci/pintu lemari digunakan ex Vogel atau setara, metal/besi dengan diameter handel 12mm panjang + 15 cm, kecuali disebutkan lain dalam gambar rencana/desain ( misal dengan finger pull, dll ).

3.6.3. Glides untuk kaki meja/kursi/sofa/credenza : Berbahan plastik atau karet keras harus berasal dari sumber yang disetujui Perencana / KP dan dianggap memenuhi persyaratan penggunaan setelah pihak Pelaksana mengajukan contohnya.

3.6.4. Tacon : Bila digunakan plastik dalam bentuk Tacon ex Jerman atau setara untuk bahan penutup permukaan BAGIAN BAWAH meja, lemari simpan dan lain-lain, dipersyaratkan dengan kwalitas yang baik dan warna merata.

3.6.5. Hardware : Pemasangan rel laci, rel laci, engsel, handel dan kunci dll, harus kuat dan tepat, sehingga mudah digunakan dan mudah dibuka – tutup.

3.6.6. Elemen Lepasan : Pemasangan elemen lepasan harus tepat dan sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan. Kesalahan dalam ukuran yang berakibat pada kerapihan bentuk dan desain harus dihindari. Bila hal itu terjadi, Pelaksana harus mengganti sebagian atau seluruh bagian yang tidak sesuai.

3.7. Mock Up

3.7.1. Penyerahan : Bila jenis furniture yang dibuat berjumlah 10 (sepuluh) buah / unit atau

lebih, maka dalam pelaksanaannya diwajibkan untuk membuat 1 (satu) contoh / mock up.

3.7.2. Penilaian : Mock up tersebut dinilai dan diuji oleh Perencana dan Konsultan Pengawas/MK. Hasil penilaian mengikat di dalam proses pengerjaan selanjutnya.

3.7.3. Revisi : Bila diperlukan, maka revisi yang menyangkut pekerjaan konstruksi, metode pelaksanaan atau ukuran-ukuran masih dapat dilakukan oleh Pelaksana, dengan mempertimbangkan penilaian dan pengarahan dari Perencana dan Konsultan Pengawas/MK.

3.8. Penyesuaian dan Pembersihan

3.8.1. Penyesuaian : Sebelum dan setelah pengiriman ke site, perlu dilakukan penyesuaian /

penyetelan untuk menguatkan konstruksi furniture yang sudah dibuat.

3.8.2. Pembersihan : Setelah penyetelan selesai dilakukan dan sebelum penyerahan barang, Pelaksana harus membersihkan seluruh noda, bekas goresan maupun kotoran bekas tangan pekerja. Penyerahan furniture harus dalam kondisi yang baik dan sempurna.

4. SYARAT PEMELIHARAAN

4.1. Perbaikan : Pelaksana diwajibkan memperbaiki furniture yang rusak, cacat atau ternoda.

4.2. Pengamanan : harus diberi perlindungan agar tidak rusak, karena pekerjaan lain yang mungkin dapat menyebabkan rusaknya furniture.

4.3. Pelaksana bertanggung jawab untuk menyimpan dan memelihara seluruh furniture, sebelum dilakukan penyerahan resmi kepada pihak Pemberi Tugas.

4.4. Finishing ulang : adanya perbedaan suhu di bengkel dan di proyek / site akan mempengaruhi kadar kelembaban dan finishing dari furniture. Apabila setelah ditempatkan di site diperlukan finishing kembali, maka biaya yang timbul ditanggung oleh Pelaksana.

Pasal 2 Pekerjaan Work Station

1. PERSYARATAN UMUM

1.1. Batasan

1.1.1.

Lingkup Kerja : Work station untuk spesifikasi ini termasuk penyediaan bahan untuk pemasangan dan penghubungan work station alat-alat, perlengkapan-perlengkapan, perangkat keras untuk pekerjaan furniture dan asesoris lainnya untuk membuat sistem menjadi sempurna.

1.1.2. Pelaksanaan : Semua pekerjaan work station dan finishing harus dilaksanakan di luar site (work shop) hanya pekerjaan perbaikan kecil-kecilan serta penyetelan boleh dilakukan di site.

1.2. Rekomendasi Pabrik Persyaratan : Menggunakan seluruh bahan / peralatan harus dengan memperhatikan petunjuk spesifikasi teknis bahan / peralatan tersebut yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatannya.

1.3. Ajuan

1.3.1. Teknik Ajuan : Detail data ukuran teknis dan spesifikasi bahan dari semua bagian work station sebagai berikut :

1.3.1.1. Panel / partisi

1.3.1.2. Rangka

1.3.1.3. Sistem bongkar pasang

1.3.1.4. Perlengkapan-perlengkapan per satuan work station, seperti meja,

moveable drawer, credenza, keyboard tray, dan lain-lain.

1.3.2. Ajuan foto dan brosur : sesuai dengan standar produksi pabrik pembuatnya.

2.

PRODUK

2.1. Tingkat Kwalitas

2.1.1. Produk yang dijadikan acuan pekerjaan work-station adalah ex Post-Mo. Alternatif

ajuan produk selain Post-Mo adalah harus setara dan dengan mutu terbaik.

2.1.2. Semua assesoris untuk penghubung furniture, panel / partisi dan penataan kabel harus merupakan sistem yang terpadu.

3. SYARAT PELAKSANAAN

3.1. Panel / Partisi

3.1.1. Rangka dalam panel adalah metal (aluminium atau besi), yang dipasang sangat kuat antar sambungan.

3.1.2. Bahan rangka dalam tersebut dan pengikat (sekrup, dll) adalah berbahan metal yang

anti karat/korosi.

3.1.3. Rangka bagian dalam, mempunyai lubang-lubang, sebagai tempat /jalur kabel yang akan melewatinya baik dari samping, atas dan dari bawah.

3.1.4. Sambungan antara panel harus dengan konstruksi yang baik dan kuat.

3.1.5. Plint bawah untuk penempatan outlet elektirkal, terbuat dari bahan metal yang kuat dan cukup tebal, dan di-finish anodized. Bisa dilepas pasang dengan mudah.

3.1.6. Penutup/capping bagian tepi atas dan samping adalah Aluminium dengan finishing

anodized.

3.1.7. Tebal total panel adalah berkisar 30 mm sampai dengan 70 mm.

3.1.8. Tinggi total panel untuk Senior Staf dan Staf adalah 1200 mm.

3.1.9. Jenis penutup panel yang digunakan adalah :

3.1.9.1. Panel MDF dengan ketebalan minimal 6 mm dilapis fabric ex Ateja.

3.1.9.2. Fabric Ateja adalah tipe Riverside WR dan Spring, dipasang dengan baik kencang, dan tidak berkerut.

3.1.9.3. Panel dengan variasi kaca bening.

3.1.9.4. Penutup panel (panel MDF lapis fabric) tersebut harus bisa dilepas-pasang dengan mudah.

3.2. Meja dan Credenza/open cabinet.

3.2.1. Work top atau Top table, terbuat dari bahan MDF, dengan tebal total minimal 25

mm.

3.2.2. Semua bagian dilapis dengan HPL, kecuali bagian bawah meja dan yang tidak terlihat, diperbolehkan dengan lapisan yang lebih tipis ( tacon, melamin atau setara) atau melaminto putih.

3.2.3.

HPL yang dipakai adalah ex Grasmerino motif kayu dan warna solid atau setara ( lihat Pasal 1 ).

3.2.4. Proses finishing HPL bisa dilihat pada Pasal 1.

3.2.5. Seluruh sistem memakai sistem knock down / bongkar pasang.

3.2.6. Pelubangan meja untuk kabel dibuat serapih mungkin dan ditutup dengan cable cap (grommet).

3.3. Mobile Drawer – Pedestal

3.3.1. Bahan dasar pedestal adalah MDF dengan finishing HPL.

3.3.2. Kunci central lock pada sisi muka.

3.3.3. Mempunyai 3 laci terdiri dari : pencil drawer, paper drawer dan hanging map file drawer.

3.3.4. Castor/roda di bagian bawah pedestal adalah berbahan Nylon keras bermutu baik, dan secara keseluruhan pedestal dapat bergerak dengan lincah dan baik.

3.3.5. HPL yang dipakai adalah ex Grasmerino motif kayu dan warna solid atau setara ( lihat

Pasal 1 ).

3.3.6. Proses finishing HPL bisa dilihat pada Pasal 1.

3.4. Keyboard Tray Mekanisme dapat didorong dan ditarik dengan mudah untuk ditempatkan di bawah meja / work top, berbahan plastik keras.

3.5. Fabrikasi

3.5.1. Semua komponen konstruksi dikerjakan dengan mesin potong di pabrik agar dapat dihasilkan ukuran yang tepat sama dari setiap komponen untuk mendapatkan sambungan yang tepat

3.5.2. Setiap panel yang dilapis/ditutup dengan kain pelapis, pembuatannya harus

dikerjakan di pabrik.

3.6. Bobot Komponen Work Station Bobot komponen lokal work station minimum 60% dan komponen impor maksimum 40%.

3.7. Mock Up

3.7.1. Pelaksana diwajibkan membuat contoh prototype / mock-up.

3.7.2. Prototipe / mock-up tersebut dibuat berdasarkan spesifikasi dan gambar rencana/desain. Pilihan tipe work-station untuk dibuat mock-up tersebut akan ditunjukkan oleh Perencana.

3.7.3. Contoh prototype/mock-up tersebut dijadikan standard dalam pemasangan work- station selanjutnya.

3.8. Tenaga dan Peralatan

3.8.1. Ahli Pemasangan : Pemasangan harus dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman dalam merakit atau memasang work station, dengan menunjukkan hasil pekerjaan yang sudah pernah dilaksanakan.

3.8.2. Pemasangan harus disesuaikan dengan gambar lay out dan gambar rancangan.

3.8.3. Perakitan harus mengikuti aturan atau persyaratan pabrik pembuatnya.

3.9. Kebersihan

3.9.1. Semua permukaan panel harus bebas dari cacat, goresan dan noda.

3.9.2. Semua panel harus dilindungi dari kotor dan kerusakan sampai pemasangan selesai.

3.9.3. Kotoran-kotoran yang ditimbulkan dari pemsangan work station harus segera dibuang ke luar site atas tanggungan Pelaksana.

4. SYARAT PEMELIHARAAN

4.1. Perbaikan : Pelaksana wajib memperbaiki pekerjaan work station yang rusak sebelum serah terima pekerjaan I.

4.2. Pengamanan : Work station yang sudah terpasang harus diberi perlindungan agar tidak rusak, karena pekerjaan lain yang mungkin dapat menyebabkan rusaknya work station

4.3. Pelaksana bertanggung jawab untuk menyimpan dan memelihara seluruh work station yang dibuat sebelum dilakukan penyerahan resmi kepada Pemberi Tugas.

Pasal 3 Pekerjaan Kursi Kerja, Kursi Hadap dan Kursi Rapat

1.

PERSYARATAN UMUM

1.1. Batasan Lingkup kerja : Penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan, disiapkan untuk menyediakan kursi kerja, kursi hadap dan kursi rapat seperti yang dispesifikasikan dan tertera dalam gambar desain.

1.2. Rekomendasi Pabrik Persyaratan : Menggunakan seluruh bahan / peralatan dengan memperhatikan petunjuk spesifikasi teknis bahan / peralatan tersebut yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya.

1.3. Hak Cipta

1.3.1.

Persyaratan : Harus dipastikan bahwa tidak ada hak cipta yang dilanggar. Penggunaan hasil ciptaan orang lain harus mengikuti seluruh cara / kondisi yang disyaratkan pihak pencipta.

1.4. Ajuan

1.4.1.

Teknik ajuan : Detail data ukuran teknis dan spesifikasi bahan kursi kerja

1.4.2.

Ajuan foto dan Brosur : sesuai dengan standard produksi pabrik pembuatnya.

2.

PRODUK

2.1. Tingkat Kwalitas

2.1.1. Semua material harus dengan mutu terbaik.

2.1.2. Semua komponen harus mendukung kekokohan kursi kerja

2.2. Jenis Kursi Kerja Persyaratan : Jenis kursi kerja yang digunakan disesuaikan dengan peringkat penggunaan kursi tersebut, dengan ketentuan seperti tertera dalam Dokumen 2 Gambar dan Spesifikasi.

2.3. Bahan Pelapis Kursi / Upholstery

2.3.1. Persyaratan : Tekstur bahan pelapis harus konsisten, polanya rapi dan teratur dan tidak bercacat. Kondisinya harus kuat, tidak menyusut. Mempunyai warna yang awet, tidak luntur / colorfast dan mempunyai daya tahan terhadap sinar matahari / U.V. resistant.

2.3.2. Jahitan : Harus dipastikan bahwa kualitas jahitan kuat dan tidak rusak bila dicuci / dibersihkan. Benang jahit yang digunakan sebagai berikut

 

2.3.2.1. Panjang tiap jahitan : disesuaikan dengan jenis bahan pelapis dan bahan isian

2.3.2.2. Warna : sesuai dengan bahan pelapis

2.3.2.3. Bagian ujung / pojok dan sambungan : jahitan yang aman dan terkunci.

 

2.3.3. Jenis dan warna : disesuaikan dengan skema warna yang dikeluarkan oleh

 

Perencana.

3.

SYARAT PELAKSANAAN

3.1. Umum

3.1.1. Persyaratan : Pembuatan dan perakitan seluruh kursi harus dalam ukuran yang tepat, dan sesuai dengan data-data yang telah dispesifikasikan pabrik.

3.1.2. Persetujuan : Semua kursi kerja harus diperiksa dan mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas/MK.

.

3.2. Mock Up

3.2.1. Semua Kursi ( kursi kerja, kursi hadap, dan kursi rapat ), diwajibkan diajukan contoh

prototype/mock-up nya oleh Kontraktor.

3.2.2. Persetujuan : Semua kursi di atas harus diperiksa dan mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas/MK , Perencana dan Pemberi Tugas.

3.3. Penyesuaian dan Pembersihan Kursi

3.3.1. Penyesuaian : Sebelum dan setelah pengiriman ke site, perlu dilakukan penyesuaian / penyetelan untuk menguatkan konstruksi kursi kerja yang sudah dibuat. 3.3.2. Pembersihan : Setelah penyetelan selesai dilakukan dan sebelum penyerahan barang, Pelaksana harus membersihkan seluruh noda, bekas goresan maupun kotoran bekas tangan pekerja. Penyerahan furniture harus dalam kondisi yang baik dan sempurna.

4. SYARAT PEMELIHARAAN

4.1. Perbaikan : Pelaksana diwajibkan memperbaiki furniture yang rusak, cacat atau ternoda.

4.2. Pengamanan : harus diberi perlindungan agar tidak rusak, karena pekerjaan lain yang mungkin dapat menyebabkan rusaknya furniture.

4.3. Pelaksana bertanggung jawab untuk menyimpan dan memelihara seluruh furniture, sebelum dilakukan penyerahan resmi kepada pihak Pemberi Tugas.

BAB VI. B.3

B.3. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

1.1. Umum.

1.1.1.

Uraian pekerjaan. Uraian ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan pembongkaran dan pemasangan, pekerjaan instalasi pengkabelan, kabel daya, stop kontak serta instalasi pengkabelan untuk penerangan. Pekerjaan yang diuraikan adalah pekerjaan yang berkaitan diantaranya :

a. Pekerjaan instalasi.

b. Pekerjaan armature lampu.

c. AC dan exhaust fan.

d. Telepon.

e. Plumbing / sanitasi

Kontraktor bertanggung jawab pada aspek design detail yang dilaksanakan sesuai regulasi yang berlaku (design & build).

1.1.2.

Ketentuan.

a. Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh tenaga ahli yang berpengalaman dan mengerti teknik-teknik instalasi listrik dan pengujian.

b. Kontraktor harus menyediakan peralatan kerja untuk pelaksanaan dan pengujian yang diperlukan guna kelancaran dan terlaksananya pekerjaan menurut persyaratan yang berlaku.

c. Standar referensi yang dipakai adalah :

Peralatan umum instalasi listrik (PUIL) tahun 2000, SNI 04-0225-2000 (SK Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No: KEP-174/MEN/2002). Peraturan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik nomor 023/PRT/1973 tentang Peraturan Instalasi Listrik (PIL). Peraturan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik nomor 024/PRT/1973 tentang Syarat-syarat Penyambungan listrik (SPL). Standar atau peraturan teknis dari negara lain/ internasional yang dijadikan pegangan antara lain :

AVE Belanda. UDE/ DIN Jerman. British Standard Associates. JIS Japan Standard. NFC Perancis. NEMA USA.

d. Pelaksanaan teknis. Sebelum melaksanakan pekerjaan-pekerjaan instalasi, kontraktor/ pemborong harus terlebih dahulu membongkar sebagian atau seluruh instalasi lama sesuai rencana yang berkaitan dengan penambahan instalasi pengkabelan yang baru.

e. Pengujian. Sebelum mengoperasikan stop kontak dan instalasi lampu, kontaktor/ pemborong harus melakukan pengujian instalasi untuk membuktikan bahwa

pekerjaan tersebut baik. Pengujian tersebut berupa pengukuran tahanan isolasi kabel terhadap instalasi yang bersangkutan.

f. Pelaksanaan pemasangan. Pada prinsipnya pemasangan seluruh instalasi pengkabelan harus dilakukan oleh ahli dalam hal ini perusahaan yang memiliki SIKA dan SPI yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Selain itu pemasang instalasi dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman di bidangnya.

g. Termasuk dalam lingkup kerja kontraktor adalah sebagai berikut (sesuai BQ, gambar dan kondisi eksisting):

Pembongkaran, pembersihan dan pemasangan kembali ceiling speaker Pembongkaran dan pemasangan kembali head sprinkler, termasuk relokasi Pembaongkaran dan pemasangan kembali CCTV Pembongkaran dan pemasangan kembali antenna indoor jaringan seluler

Pasal 1 PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK DAN LAMPU

1.2. Pekerjaan instalasi listrik dan armature lampu. 1.2.1. Umum.

a. Uraian pekerjaan.

Pekerjaan system listrik ini mencakup persyaratan teknis untuk pelaksanaan pembongkaran dan pemasangan serta pengujian, perlatan dan tenaga kerja sehingga seluruh system listrik dapat beroperasi dengan sempurna.

b. Lingkup pekerjaan. Lingkup pekerjaan listrik ini mencakup pengadaan dan pemasangan instalasi listrik dan armature sesuai dengan gambar.

c. Ketentuan. Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh tenaga ahli yang berpengalaman dan mengerti teknik instalasi dalam bank, serta pancingan kawat penggantung untuk kabel data sesuai gambar. Kontraktor/ pemborong harus menyediakan peralatan bantu untuk pelaksanaan dan pengujian yang diperlukan guna kelancaran dan terlaksanya pekerjaan menurut persyaratan yang berlaku.

Standar dan referensi yang dipakai adalah :

Peralatan umum instalasi listrik (PUIL) tahun 2000, SNI 04-0225-2000 (SK

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No: KEP-174/MEN/2002) Peraturan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik nomor 023/PRT/1973 tentang Peraturan Instalasi Listrik (PIL).

Peraturan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik nomor 024/PRT/1973 tentang Syarat-syarat Penyambungan listrik (SPL). Pelaksanaan teknis. Sebelum melaksanakan pekerjaan-pekerjaan instalasi, kontraktor/ pemborong harus terlebih dahulu membongkar sebagian atau seluruh instalasi lama sesuai rencana yang berkaitan dengan penambahan instalasi pengkabelan baru yang tertera pada gambar serta merapikan kembali sesuai dengan fungsinya masing-masing. Kontraktor/ pemborong listrik harus bekerja sama dengan kontrakto/ pemborong power untuk komputer yang ada di banking hall dan back office dengan diawasi oleh pengawas. Pemindahan kabel grounding harus memperhatikan estetika interior.

1.2.2.

Pengujian. Sebelum mengoperasikan stop kontak dan instalasi lainnya, kontaktor/ pemborong harus melakukan pengujian instalasi untuk membuktikan bahwa pekerjaan tersebut sudah memenuhi syarat dan siap dioperasikan. Pekerjaan tersebut berupa pengukuran tahanan isolasi.

Pelaksanaan pemasangan.

Pada prinsipnya pemasangan seluruh instalasi pengkabelan harus dilakukan oleh tenaga ahli listrik dalam hal ini perusahaan yang memiliki SIKA dan SPI yang dikeluarkan olh instansi yang berwenang. Selain itu pemasang instalasi dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman di bidangnya. Material.

a. Instalasi pengkabelan dari panel menuju stop kontak, saklar, stop kontak computer dan untuk instalasi penerangan memakai jenis kabel NYM 3×2,5 mm dengan arde.

b. Setiap sambungan kabel tidak diperkenankan menggunakan selotip, tetapi harus menggunakan konektor khusus/ lasdop.

c. Jaringan listrik dalam dinding harus ditanam dalam pipa PVC pada belokan menggunakan pipa fleksibel.

d. Pada setiap cabang pengkabelan harus menggunakan boks lengkap dengan tutupnya.

e. Setiap armature lampu/ saklar/ stop kontak harus menggunakan boks dus dengan mutu yang bagus sebagaimana standar kelistrikan.

f. Merek kabel yang disyaratkan adalah bahan : Kabelindo, Kabel Metal, Tranka Kabel dan Supreme.

g. Armature lampu sesuai dengan jenis penggunaan, sesuai gambar buatan pabrik Artolite atau Lomm atau setara.

h. Komponen lampu yang digunakan adalah merek Philips atau Osram, atau setara.

i. Saklar lampu sesuai dengan jenis penggunaan sesuai gambar, ada yang tunggal, seri, triple, dan saklar kelompok. Semua komponen tersebut merek Clipsal atau setara.

j. Stop kontak yang digunakan adalah buatan Clipsal atau setara.

k. Stop kontak normal 2 (dua) gang maupun stop kontak UPS 4 (empat) gang menggunakan merek German.

l. Stop kontak lantai yang digunakan adalah merek Legrand.

m. Out-let telepon buatan Cipsal atau setara.

n. Pipa PVC 20 mm produksi Ega atau Clipsal.

o. Protektor kabel merek Ega atau Clipsal.

p. AC Split yang digunakan adalh merek Panasonic atau Daikin.

Pasal 2 PEKERJAAN INSTALASI AC dan EXHAUST

2.3. Pekerjaan Relokasi Air Condition (AC) diffuser dan Exhaust fan.

2.3.1. Lingkup pekerjaan

a. Pembongkaran, relokasi dan perapihan kembali supply diffuser AC

b. Penambahan flexible duct yang disesuaikan dengan ukuran existing

2.3.2. Syarat pelaksanaan dan material

a. Sebelum melakukan pekerjaan kontaktor harus membuat gambar shopdrawing yang disesuaikan dengan gambar desain dan kondisi lapangan

b. Ducting utama tidak dirubah sehingga perubahan posisi supply diffuser harus

diikuti dengan penambahan flexible duct

c. Flexible duct harus dilapisi insulasi dan aluminium foil

d. Ukuran flexible duct yang dugunakan disesuaikan dengan kondisi existing

e. Kontraktor/pemborong harus membersihkan kembali bekas pekerjaan dan material sisa di lapangan

Pasal 3 PEKERJAAN INSTALASI TELEPON, DATA DAN OUTLET TV

3.4. Pekerjaan instalasi telepon.

3.4.1. Lingkup pekerjaan.

Lingkup pekerjaan telepon adalah dari outlet telepon, instalasi kabel hingga ke terminal box tiap lantai, selanjutnya dari terminal per lantai ke MDF di ruang PABX.

3.4.2. Masa Jaminan. Semua perkerjaan instalasi maupun peralatannya harus dijamin akan bekerja dengan sempurna. Semua peralatan yang masuk dalam lingkup pekerjaan diatas harus diberi masa pemeliharaan cuma-cuma Setelah penyerahan pekerjaan tersebut, terutama untuk material utama seperti TRO/ key telephone (letter of guaranty dari pabrik). Setelah masa pemeliharaan cuma-cuma selesai, kontraktor/ pemborongdapat saja mengajukan usulan untuk mengadakan kontrak pemeliharaan kepada pemilik, kecuali apabila ditentukan oleh

pemilik.

3.4.3. Syarat-syarat pelaksanaan. a. Kontraktor/ pemborong harus meyakinkan pemberi tugas, bahwa pekerjaan dilaksanakan oleh tenaga-tenaga yang berpengalaman dan mengikuti syarat- syarat yang telah dikeluarkan oleh PT. Telekomunikasi Indonesia.

b. Kontraktor/ pemborong harus menjamin bahwa pemasangan akan disahkan oleh PT. Telekomunikasi Indonesia sehingga penyambungan saluran dari instansi terkait sampai di bangunan tidak menemui kesulitan baik prosedur teknis maupun non-teknis.

c. Selama pemasangan/ instalasi kontraktor/ pemborong harus menempatkan seorang ahli yang mengawasi pelaksanaan.

d. Kontraktor/ pemborong harus mengganti kembali material-material yang rusak, sehingga syarat-syarat fisik maupun teknis tetap dapat dipenuhi.

e. Kontraktor/ pemborong harus membersihkan kembali sisa-sisa/ bekas-bekas

pekerjaan yang berupa potongan-potongan kayu, kabel, metal, bekas bobokan baik pada tembok/ beton maupun pada dinding dan lantai serta memperbaiki finishing seperti keadaan semula.

f. Kontraktor/ pemborong harus mengadakan testing, start up dimana segala ketentuan untuk ini adalah menjadi tanggung jawab dan biaya kontraktor/ pemborong.

3.4.4. Manual, Spare part dan instruksi. Kontraktor/ pemborong wajib menyerahkan manual, keterangan spare part serta instruksi-instruksi yang dianggap perlu terhadap semua peralatan yang dipasang.

3.4.5. Built-in Insert. Kontraktor/ pemborong harus menyediakan semua “Insert” serta peralatan- peralatan tambahan lain yang dibutuhkan yang harus dipendam dalam beton maupun cara pemasangan yang lain

3.4.6. Finishing. Semua material yang dipasang harus sudah dalam keadaan difinish dengan baik sesuai yang disyaratkan , finishing setelah terpasang adalah disyaratkan dan ini mencakup segala perbaikan pada material tersebut maupun pekerjaan lain sebagai akibat pemasangan instalasi tersebut termasuk didalamnya perbaikan, pengecatan

kembali, pembersihan dan lainnya.

3.4.7. Key Telephone/ TRO

3.4.8. Hubungan antara kabel pesawat teleppon dengan kabel instalasi harus dengan outlet tidak boleh dengan terminal strip. Outlet telepon dipasang secara “flush- mounted” pada dinding.

3.4.9. Pemasangan .

a. Kabel yang keluar dari MDF (Main Distribution Frame) ke CTB (cable Terminal Box) sampai ke pesawat dengan jumlah pair seperti tertera pada gambar, dari kabel berisolasi PVC dengan pita pelindung statis (sesuai dengan ketentuan VDE 0815 atau Perumtel K.9-1-011). Sedangkan untuk kabel di luar bangunan menggunakan kabel tanah. Seluruh instalasi kabel telepon dalam conduit unit (High Impact Conduit) dan setiap pencabangan harus dilakukan dalam junction box dari bahan besi tuang (bahan metal).

b. Untuk instalasi di dalam bangunan di beberapa tempat, kabel telepon dalam conduit PVC high impact diletakkan bersama-sama kabel listrik dalam jalur kabel/ race-way. Selain itu terdapat juga instalasi telepon di dalam conduit yang menempel di dinding. Maupun yang tertanam di dalam beton lengkap dengan terminal maupun junction box.

c. Kabel-kabel ari CTB ke setiap outlet dapat juga menggunakan kabel 1 (satu)

par atau multi pair untuk beberapa outlet asalkan disambung melalui outlet/ terminal.

3.4.10. Konduit, junction box, MDF dan CTB selain konduit yang ditanam pada dinding atau pilar/ beton maka terdapat konduit untuk telepon di atas langit-langit. Pipa-pipa konduit telepon dari MDF sampai CTB, dan dari CTB sampai outlet telepon adalah dari bahan PVC high impact. Konduit telepon di atas ceiling/ plafon/ langit-langit dari MDF ke CTB, atau dari CTB ke setiap outlet telepon yang penyambungannya dilakukan secara rapi dan kuat dengan penyambung yang sesuai untuk conduit telepon. Bagian ujung dari konduit ini harus ditanahkan (yaitu pada CTB). Kontraktor/ pemborong harus membuat gambar detail/ gambar kerja untuk sistem pentanahan (gounding) pada CTB, MDF dan untuk key telepon. Penghubung konduit yang berada diatas plafon dengan konduit vertical (pada pilar/ kolom/ dinding) atau dengan conduit ara 90º dengan lainnya harus

dilakukan melalui junction box dari bahan cast iron dan penyambungan harus dengan “brass compression gland”. Konduit untuk telepon dari CTB ke pesawat dan lain-lain harus terpasang di dinding atau tertanam di tiang beton. Kontraktor/ pemborong harus meneliti dengan sempurna pada gambar. Pda pemasangan kontraktor/ pemborong harus menyesuaikan letak dari konduit tersebut dengan gambar instalasi dilengkapi dengan junction box dan aksesoris lain sekalipun pada gambar tidak dinyatakan dengan jelas. Semua belokan dan cadangan harus melalui junction box. Segala syarat dan cara pemasangan outlet telepon serta dan penginstalasiannya menjadi tanggungan kontraktor/ pemborong telepon. Outlet-outlet yang dipasang harus sudah lengkap dengan kabel sampai ke CTB. Semua konduit yang terpasang di plafon atau di tempat lain secara out-bow harus dilapisi dengan cat dasar dan cat akhir yang warnanya akan ditentukan kemudian oleh konsultan perencana. Kotak-kotak CTB atau MDF harus terbuat dari plat besi dengan ketebalan minimal 1,5 mm dengan difinished dengan cat dasar dan cat akhir dengan warna yang ditentukan kemudian. Semua cat CTB dan MDF harus dilengkapi dengan kunci ”Master key type”.

akhir dengan warna yang ditentukan kemudian. Semua cat CTB dan MDF harus dilengkapi dengan kunci ”Master
akhir dengan warna yang ditentukan kemudian. Semua cat CTB dan MDF harus dilengkapi dengan kunci ”Master
akhir dengan warna yang ditentukan kemudian. Semua cat CTB dan MDF harus dilengkapi dengan kunci ”Master
akhir dengan warna yang ditentukan kemudian. Semua cat CTB dan MDF harus dilengkapi dengan kunci ”Master

3.4.12. Persyaratan bahan/ material.

a. Semua material yang di suplai dan di pasang oleh kontraktor/ pemborong harus baru dan material tersebut khusus untuk pemasangan di daerah tropis serta sebelum pemasangan harus mendapatkan ijin tertulis dari konsultan pengawas.

b. Kontraktor/ pemborong harus bersedia mengganti material yang tidak disetujui karena menyimpang dari spesifikasi atau hal lainnya, dimana penggantian tersebut tanpa biaya ekstra.

c. Komponen-komponen dari material mungkin sering diganti harus dipilih yang

mudah diperoleh di pasaran bebas. d.Daftar material Kabel telepon dari outlet ke terminal box tiap lantai menggunakan kabel telepon Supreme 2 pair. Kabel dari terminal box tiap lantai ke MDF menggunakan kabel telepon Supreme multipair sesuai dengan kebutuhan tiap lantai

No

PERALATAN/ MATERIAL

BUATAN PABRIK/ MERK

1.

TB

- LOKAL

2.

KABEL

- SUPREME

3.

KABEL DARI IB-HANDSET

- LAPP CABLE

4.

OUTLET TELEPON

- BROCO

- MERTEN

- SETARA

5.

KONDUIT PVC

- EGA

- CLIPSAL

- GILFLEX

6.

RACK KABEL

- LOKAL

3.5. Pekerjaan instalasi data.

3.5.1. Lingkup pekerjaan. Lingkup pekerjaan instalasi data adalah mulai dari outlet (modular); instalasi kabel sampai ke patch panel pada wall mounted rack tiap lantai.

3.5.2. Persyaratan bahan/ material.

Kabel yang dipakai Belden cat. 5E, modular & faceplate AVAYA; patch panel AVAYA

3.6. Pekerjaan outlet TV.

3.6.1. Lingkup pekerjaan. Lingkup pekerjaan outlet TV adalah instalasi kabel dari terminal antenna TV hingga ke posisi outlet tiap lantai.

3.6.2. Persyaratan bahan/ material. Kabel yang digunakan adalah kabel Coaxial 75 ohm merk Belden dan outlet dari

Clipsal.

Pasal 4 PEKERJAAN INSTALASI PLUMBING / SANITASI

4.7. Instalasi Plumbing/ Sanitasi.

4.7.1. Umum.

a. Semua material yang disuplai dan dipasang oleh kontraktor/ pemborong harus baru (New product) dan material tersebut khusus untuk pemasangan di daerah tropis serta sebelum pemasangan harus mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.

b. Kontraktor/ pemborong harus bersedia mengganti material yang tidak disetujui

karena menyimpang dari spesifikasi atau hal lainnya, dimana penggantian tersebut tanpa biaya tambahan/ extra cost dari pemilik.

c. Komponen-komponendari material yang mungkin seringa diganti harus dipilih yang mudah diperoleh di pasaran bebas.

4.7.2. Lingkup pekerjaan.

a. Pengadaan dan pemasangan instalasi air bersih, air buangan, air bekas dan instalasi air kotor.

b. Bahan/ material yang dipakai / digunakan adalah produk/ merek Wavin, Rucika kelas AW.

c. Pengadaan bahan dan pemasangan seluruh sanitair dan aksesoris serta tenaga kerja komplit beserta alat-alat pendukungya.

d. Kontraktor/ pemborong wajib membuat shop drawing untuk instalasi plumbing dan harus sudah disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai.

4.7.3. Ajuan. Pengajuan contoh warna sanitair yang akan dipakai sesuai dengan tipe yang telah ditentukan oleh Konsultan pengawas pada detail gambar perencanaan.

4.7.4. Pengiriman, penyimpanan dan penanganan barang

a. Semua barang yang dikirim harus dalam keadaan baik, bebas dari cacat pabrik yang diakibatkan yang diakibatkan waktu pembuatan maupun cacat lain seperti robek, kotor atau menunjukkan noda lainnya.

b. Semua barang yang dikirim harus dibungkus dengan rapi, komplit dengan label atau keterangan lainnya termasuk dengan segel asli dari pabrik.

c. Penyimpanan barang/ bahan harus ditempatkan oada tempat khusus tidak tercampur dengan barang-barang lain yang dapat mengakibatkan kerusakan seperti cat, minyak kayu, besi, atau barang cair/ padat lainnya.

d. Kondisi tempat penyimpanan harus dalam keadaan bersih dan kering.

4.7.5. Bahan/ material.

a. Tipe lihat gambar detail perencanaan.

b. Bahan yang dipakai ex. TOTO warna standard White (lihat gambar detail perencanaan).

c. Bahan perekat sesuai dengan yang direkomenasikan dari pabrik.

4.7.6. Pelaksanaan.

a. Kontrol/ pemeriksaan.

b. Pemerikasaan lokasi/ bidang yang akan dipasang harus dilakukan oleh

kontraktor sebelum pekerjaan pemasangan dilakukan.

c. Bila dalm pemeriksaan diketemukan bidang yang tidak memenuhi syarat untuk dipasang, Kntraktor dapat memperbaiki sendir atau melaporkan kepada Konsultan Pengawas.

4.7.7. Pemasangan.

a. Kondisi ruangan sebelum dan sesudah pemasangan harus lebih bersih dan terhindar dari debu yang berlebihan.

b. Pemasangan sanitair dan aksesoris harus sesuai dengan ketentuan pabrik dan harus dihindari kebocoran pada lantai dan dinding yang dapat mengakibatkan rembesan air kelantai di bawahnya.

c. Setelah selesai terpasang maka kontraktor/ pemborong wajib mencoba beberapa waktu/ periode dan memastikan peralatan yang terpasang tersebut

berfungsi dengan baik.

4.7.8. Kebersihan.

a. Kontraktor/ pemborong harus selalu menjaga kebersihan lokasi pemasangan dari sisa hasil pemasangan.

b. Sisa sampah bekas pemasangan harus dibuang sendiri setiap hari oleh kontraktor/ pemborong atas biaya sendiri.

4.7.9. Perlindungan. Perlindungan harus diberikan pada sanitair dan aksesoris yang sudah terpasang dengan baik. Kerusakan yang diakibatkan karena kontraktor/ pemborong menjadi tanggungan kontraktor/ pemborong atas biaya sendiri.

4.7.10. Perbaikan/ garansi/ Masa pemeliharaan.

a. Kontraktor/ pemborong diharuskan mengadakan perbaikan jika ada kerusakan/ kebocoran yang diakibatkan dari kelalaian dalam pemasangan/ kerusakan lain atas biaya sendiri.

b. Selama pemeliharaan dimulai sesuai dengan perjanjian dengan pemberi tugas.

c. Selama itu pula kontraktor/ pemborong berkewajiban untuk merawat dan memperbaiki kerusakan dengan biaya sendiri.

BAB VI. E.1

E.1. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL

Pasal E - 1 Pekerjaan Sistem Elektrikal

1.

Pekerjaan Sistem Distribusi Listrik

1.0

Lingkup Pekerjaan

1.0.1

Lingkup pekerjaan ini termasuk pengadaan dan pemasangan semua material, peralatan, tenaga kerja dan lain-lain untuk pemasangan, pengetesan, commissioning dan pemeliharaan yang sempurna untuk seluruh instalasi listrik seperti dipersyaratkan dalam buku ini dan seperti ditunjukkan dalam gambar-gambar rancangan listrik. Dalam Pekerjaan ini harus termasuk sertifikat keaslian produk pabrik dari peralatan yang akan dipakai, jaminan garansi, petunjuk operasi dan pekerjaan-pekerjaan kecil lain yang berhubungan dengan pekerjaan ini yang tidak mungkin disebutkan secara terinci di dalam buku ini tetapi dianggap perlu untuk keselamatan dan kesempurnaan fungsi dan operasi sistem distribusi listrik.

1.0.2

Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelas-kan baik dalam spesifikasi teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar-gambar perencanaan, dimana bahan dan peralatan yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini. Bila ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang dengan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban Kontraktor untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut sehingga sesuai dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya. Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

a. Transformator Daya,

Pemerisaan dan pengetesan transformator daya eksisting yang terpasang sehingga dapat berfungsi sesuai dengan gambar perencanaan.

b. Panel-Panel Daya Tegangan Rendah,

Pekerjaan ini meliputi perbaikan panel MDP existing agar sesuai dengan gambar perencanaan dan pengadaan panel SDP Panel Daya, Panel Penerangan Umum, Panel Daya Pompa – pompa, AHU dan lain sebagainya sesuai dengan gambar perencanaan, termasuk seluruh peralatan proteksi dan peralatan bantu lainnya yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem distribusi daya listrik.

c. Kabel-Kabel Feeder Daya Tegangan Rendah.

Pekerjaan ini meliputi kabel utama dari busduck (existing) dari MDP (existing) ke SDP bangunan MDP(baru) yang melayani Panel Hydrant, Panel Genset, Panel Pompa. Juga sudah termasuk seluruh peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem jaringan instalasi listrik.

d. Instalasi Daya,

Pekerjaan ini meliputi seluruh instalasi listrik yang digunakan untuk menghubungkan panel- panel daya dengan outlet-outlet daya dan peralatan-peralatan listrik, seperti Exhaust Fan, Motor-motor Listrik pada peralatan Sistem Mekanikal serta peralatan lain sesuai dengan Gambar rancangan dan Buku Persyaratan Teknis.

e. Instalasi Penerangan,

Pekerjaan ini meliputi seluruh instalasi listrik yang menghubung-kan panel-panel penerangan dengan fixture lampu, baik di dalam maupun di luar bangunan, sesuai dengan Gambar rancangan dan Buku Persyaratan Teknis.

f. Fixture Lampu,

Yang termasuk di dalam pekerjaan ini adalah armature lampu, fitting, ballast, starter, capasitor, lampu-lampu dan peralatan-bantu lainnya yang berhubungan dengan item pekerjaan sesuai dengan standard pabrik yang dipilihdan sesuai gambar rancangan.

g. Sistem Pembumian Pengaman,

Yang termasuk di dalam pekerjaan sistem pengebumian meliputi batang elektroda pengebumian yang menghubungkan setiap panel daya listrik yang harus dikebumikan dengan elektroda pembumian termasuk seluruh peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem ini seperti yang ditunjukan dalam gambar perencanaan.

h. Peralatan Penunjang Instalasi,

Pekerjaan ini meliputi junction box, conduit, sparing, doos outlet daya, doos saklar, doos penyambungan, doos pencabangan, elbow, flexible conduit, klem dan peralatan-peralatan lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan jaringan instalasi yang terpa-sang meskipun peralatan-peralatan ini tidak disebutkan dan digambarkan dengan jelas di dalam Gambar rancangan.

i. Peralatan bantu/pendukung lainnya yang diperlukan untuk kesempurnaan kerja sistem, meskipun peralatan tersebut tidak disebutkan secara jelas atau terinci di dalam Gambar Rancangan dan Persyaratan Teknis.

1.1

Kemampuan Operasi Sistem Distribusi Listrik

1.1.1

Sistem Distribusi Listrik

1.1.1.1

Pada keadaan normal, seluruh beban dilayani oleh sumber catu daya listrik utama yang berasal dari Jaringan Tegangan Menengah PLN (20 kV, 3 phasa, 50 Hertz). Sumber Daya yang bersumber dari jaringan PLN dengan dua buah trafo penurun tegangan seperti ditunjukan dalam gambar perencanaan.

1.1.1.2

Pada saat sumber catu daya utama dari PLN mengalami gangguan, secara otomatis beban daya dilayani oleh sumber catu daya cadangan yang berasal dari Diesel Generating Set (existing).

1.1.1.3

Pada keadaan darurat (terjadi kebakaran), secara otomatis seluruh beban dimatikan oleh signal listrik yang dikirimkan dari sentral Sistem Pengindera Kebakaran (FACP) kecuali daya listrik untuk mencatu beban-beban khusus seperti Electric Fire Pump, Fuel Pump lift kebakaran, control sprinkler dan peralatan bantu evakuasi seperti gambar rancangan.

1.2

Sistem Penerangan

1.2.1

Klasifikasi Lampu Penerangan.

Lampu-lampu penerangan di dalam gedung dikategorikan sebagai berikut :

a. Lampu penerangan normal (normal lighting) yaitu lampu penerangan buatan dengan intensitas penerangan yang disesuai-kan berdasarkan jenis kegiatan pada masing – masing area bangunan rumah sakit seperti gambar rancangan.

b. Lampu penerangan darurat (emergency lighting) yaitu lampu penerangan buatan sebagai pengganti bila lampu penerangan normal terganggu (mati) lampu ini akan menyala baik pada kon-disi normal maupun darurat. Lampu penerangan dalam gedung terdiri dari :

Escape lighting yaitu lampu penerangan darurat untuk menjamin kelancaran dan keamanan evakuasi pada saat terjadi darurat kebakaran emergency. Emergency Exit lighting yaitu lampu penerangan darurat untuk penunjuk jalan keluar yang aman pada saat terjadi darurat kebakaran.

1.2.2

Pada setiap ruangan kecuali Tangga, koridor dan tempat – tempat umum disediakan saklar- saklar setempat untuk menyalakan atau mematikan lampu. Sedangkan untuk penerangan kios menjadi beban pengguna kios dengan dibatasi oleh MCB sebelum meter seperti ditunjukan dalam gambar perencanaan.

1.3

Persyaratan Pekerjaan Panel Tegangan Rendah

1.3.1

Konstruksi Box Panel

a.

Yang melaksanakan pembuatan panel harus sub Kontraktor panel (panelmaker) yang telah berpengalaman dalam pembuatan/ pabrikasi panel dengan menunjukkan bukti sertifikat yang telah diakui oleh Badan terkait dalam hal ini PLN dan mempunyai workshop yang terkait dengan pabrikasi panel.

b.

Panel terbuat dari plat baja dengan rangka terbuat dari besi siku dengan ukuran minimal 600 x 400 x 400 mM (free standing) atau plat besi yang terbentuk (wall mounted).

c.

Rangka utama harus diberi tutup dari bahan plat baja dengan dengan ketebalan sebagai berikut :

Panel

Dinding

Pintu

 

SDP, SDP-FH

20 mM

3,0 mM

LP, PP

1,6 mM

2,0 mM

c.

Plat tutup harus dikerjakan dengan baik dan setiap siku dari plat tutup ini harus benar- benar 90 o . Plat penutup kerangka panel harus disekrup dengan rapi yang dilengkapi cincin plastic sebelum cincin besi terhadap kerangka panel. Plat penutup ini harus dapat dilepas- lepas.

d.

Panel dilengkapi dengan tutup atas atau tutup bawah yang dapat dilepas-lepas dan harus disiapkan lubang serta Compression Cable Glad untuk setiap incoming dan outgoing feeder.

e.

Pada dinding belakang atau/dan samping diperlukan membuat lubang-lubang ventilasi yang cukup. Lubang ventilasi ini harus dibuat dengan cara punch dan rapi. Pada bagian dalam dari dinding yang diberi ventilasi harus dilengkapi tambahan dinding yang diberi lubang punch, hal ini untuk menjaga masuknya benda-benda/binatang bagian yang bertegangan dari peralatan panel.

f.

Antara badan panel tempat dudukan peralatan listrik yang bertegangan dengan pintu panel harus dilengkapi dengan dinding pengaman pelindung peralatan listrik dengan material yang sama, sehingga pada saat pintu panel dibuka yang tampak hanya tuas – tuas peralatan listrik, sedangkan jaringan/montase kabel terlindung oleh dinding pengaman tersebut.

g.

Engsel yang digunakan harus kuat dan tidak menonjol dan harus tersembunyi serta rapi. Kunci dan handle pintu harus dari type Spagnolet dengan tungkai penguat bawah dan atas dan dari bahan yang dilapisi vernikel. Kontraktor/subkon./ Panel harus dilengkapi “master key” yang bisa membuka seluruh panel yang terpasang.

h.

Rangka, penutup, cover plate dan pintu seluruhnya harus diberi cat dasar dan dilapisi dengan powder coating warna abu-abu atau warna yang dipilih oleh Pemberi Tugas melalui DIREKSI PENGAWAS/MK. Kontraktor sebelum pekerjaan pengecatan dilaksanakan harus terlebih dahulu menyerahkan contoh warna dan metoda pelaksanaan pada DIREKSI PENGAWAS/MK untuk dimintakan persetujuan.

i.

Panel yang berada di luar bangunan harus mempunyai index protection (IP) 557, sedangkan untuk dalam bangunan IP 540 sesuai standad yang dipersyaratkan.

j.

Ukuran panel diusahakan standart ukuran panel dan disediakan ruang yang cukup apabila terdapat penambahan peralatan.

k. Dalam box panel harus disediakan sarana pendukung kabel yang diketanahkan (grounding) dan busbar pentanahan, yang berfungsi untuk dudukan ujung kabel pentanahan sehingga pada saat pintu panel dibuka dalam keadaan aktif kemungkinan adanya muatan kapasitif dapat dihindari.

l. Pada circuit breaker, sepatu kabel, kabel incoming dan outgoing serta terminal penyambungan kabel harus diberi indikasi/label/ sign plates mengenai nama beban atau kelompok beban yang dicatu daya listriknya. Petunjuk tersebut berupa diagram system satu garis dan label ini harus terbuat dari plat aluminium atau sesuai standard DIN 4070.

m. Pada bagian atas panel (dari ambang atas sampai dengan 12 cM dibawah ambang atas panel atau disesuaikan dengan kebutuhan harus disediakan tempat untuk pemasangan lampu indikator, fuse dan alat-alat ukur. Bagian tersebut merupakan bagian yang terpisah dari pintu panel dan kedudukannya menetap (fixed).

1.3.2 Busbar dan Terminal Penyambungan.

a. Panel harus sesuai untuk sistem 3 phasa, 4 kawat dan mem-punyai 5 busbar dimana busbar pentanahan terpisah. Kecuali panel untuk ruang operasi yang dilengkapi dengan “trafo Isolasi” Kontraktor harus melaksanakan seperti gambar ranca-ngan atau jika ada hal yang bertentangan dengan system agar dikonsul-tasikan dengan DIREKSI PENGAWAS/MK untuk men-dapatkan persetujuan.

b. Busbar dari bahan tembaga yang digalvanisasi dengan bahan perak. Galvanisasi ini, termasuk pula bagian-bagian yang menempel pada busbar, seperti sepatu kabel dan peraltan Bantu lainnya.

c. Pemasangan kabel (untuk semua ukuran luas penampang kabel) pada busbar dan terminal penyambungan harus menggunakan sepatu kabel.

d. Busbar dan terminal penyambungan harus disusun dan dipegang oleh isolator dengan baik, sehingga mampu menahan electro mechanical force akibat arus hubung singkat terbesar yang mungkin terjadi.

1.3.3 Circuit Breaker.

a. Circuit breaker yang digunakan dari jenis MCB, MCCB, ACB, yang dilengkapi dengan thermal overcurrent release dan electromagnetic overcurrent release yang rating ampere trip-nya dari type adjustable dari salah satu bagian jaringan untuk jarak jaringan kabel yang pendek, sedangkan untuk jaringan kabel yan panjang kedua belah sisi pengamannya harus dari type adjustable atau seperti yang ditunjukan gambar rancangan.

b. Outgoing circuit breaker dari Panel khusus untuk motor-motor harus dilengkapi dengan proteksi kehilangan arus satu phasa. Dan system jaringan yang dilengkapi DOL atau Y - atau seperti gambar rancangan tergantung besar – kecilnya beban daya listrik. Jika dalam gambar rancangan tidak terindikasi sudah merupakan kewajiban Kontraktor untuk melengkapinya seperti yang dipersyaratkan oleh standard yang berlaku tanpa mengakibatkan adanya biaya tambah.

c. Circuit Breaker untuk proteksi motor-motor listrik harus meng-gunakan Circuit Breaker yang dirancang khusus untuk penga-man motor (Circuit Breaker tipe M).

d. Breaking capacity dan rating CB yang digunakan harus sebesar yang tercantum dalam Gambar rancangan.

e. Tipe Circuit Breaker yang digunakan adalah,

Icu = Ics ( arus komulatif = arus short circuit) 32 Ampere tipe MCB, 40 sampai dengan 63 Ampere tipe MCCB Fixed, 80 Ampere tipe MCCB Adjustable.

f. Pemasangan MCB harus menggunakan Omega Rail sedangkan pemasangan MCCB dan komponen komponen lain, seperti magnetic contactor, time switch dan lainnya harus

menggunakan dudukan plat. Pemasangan komponen-komponen tersebut harus rapi dan kokoh sehingga tidak akan epas oleh gangguan mekanis.

g. Jika di dalam Gambar rancangan dinyatakan ada spare, maka spare tersebut harus terpasang secara lengkap atau sesuai dengan keterangan gambar rancangan

h. Semua Circuit Breaker harus diberi label/signplate yang terbuat dari Alumunium mengenai nama beban atau kelompok beban yang dicatu daya listriknya. Label itu harus terbuat dari plat alumunium atau sesuai standard DIN-4070.

1.3.4 Alat Ukur/indikator.

a. Panel panel dilengkapi dengan alat-alat ukur, seperti :

Volt meter &, Ampere meter, Cosphi meter, Frequensi meter,

Trafo arus, Selector switch

kWh yang terpasang pada setiap kios

KVAR meter, yang terpasang pada sisi developer.

Indicator lamp & mini fuse,

Tidak semua panel dilengkapi dengan peralatan seperti di atas, melainkan harus disesuaikan dengan gambar rancangan

b. Volt meter dilengkapi dengan selector switch yang mempunyai mode 7 (tujuh) posisi :

kali phasa terhadap netral,

kali phasa terhadap phasa,

posisi Off.

c. Amperemeter yang dipasang pada panel utama selain mempunyai pointer (jarum penunjuk) untuk menunjukkan besarnya arus listrik yang ada dilengkapi juga dengan pointer lain yang berfungsi sebagai "Maximum Demand Indicator"

d. Lampu indikator yang digunakan adalah :

Warna hijau untuk phasa

R,

Warna kuning untuk phasa

S,

Warna merah untuk phasa

T,

Lampu-lampu indikator harus diproteksi dengan menggunakan mini fuse.

1.3.5 Tipe Panel.

a. Berdasarkan cara penggunaannya dan pemasangannya, panel-panel tegangan rendah di klasifikasikan dari type free standing dan wall mounting.

b. Panel jenis Free Standing dipasang pada lantai kerja dengan lokasi seperti pada Gambar rancangan. Pemasangan panel harus menggunakan dudukan konstruksi baja dan harus diperkuat dengan mur baut atau dynabolt sehingga tidak akan berubah posisi oleh gangguan mekanis.

c. Panel jenis wall mounting dipasang flush mounting pada dinding tembok dengan lokasi sesuai Gambar rancangan. Pemasangan panel pada dinding harus diperkuat dengan baut tanam (anchor bolt) sehingga tidak akan rusak oleh gangguan mekanis.

d. Box panel dan semua material yang bersifat konduktif yang berada di sekitar panel listrik harus dihubungkan ke Sistem Pembumian Pengaman.

1.3.6 Gambar Skema Rangkaian Listrik.

a. Panel harus dilengkapi dengan gambar skema rangkaian listrik, lengkap dengan keterangan mengenai bagian instalasi yang diatur oleh panel tersebut.

b. Gambar skema rangkaian listrik dibuat dengan baik, dilaminasi plastik dan ditempelkan pada pintu luar panel bagian dalam.

1.4

Persyaratan Pekerjaan Kabel Tegangan Rendah

1.4.1

Ketentuan Umum.

a. Persyaratan teknis ini berlaku untuk :

 

Kabel daya,

Instalasi daya, dan

Instalasi penerangan.

b. Yang dimaksud dengan kabel daya adalah kabel yang meng-hubungkan antara panel satu dengan panel ( MDP ke SDP) dan yang lainnya termasuk peralatan bantu yang dibutuhkan.

c. Yang dimaksud dengan instalasi daya adalah kabel yang menghubungkan panel-panel daya dengan beban-beban stop kontak, peralatan Sistem Tata Udara dan Penghawaan (Smoke Vestibule Ventilator, Exhaust Fan), peralatan Sistem Pemadam Kebakaran (Fire Hydrant Pump, Jockey Pump, Fuel Transfer Pump), Pompa Air Bersih, Elevator, sesuai dengan Gambar rancangan. Didalam instalasi daya ini harus sudah termasuk outlet daya, conduit, sparing, doos untuk outlet daya/ penyam-bungan/pencabangan, flexible conduit dan peralatan - peralatan bantu lainnya yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem instalasi daya.

d. Yang dimaksud dengan instalasi penerangan adalah kabel-kabel yang menghubungkan antara panel-panel penerangan dengan fixture-fixture lampu penerangan buatan. Di dalam instalasi penerangan ini harus sudah termasuk semua jenis/tipe saklar, conduit, sparing, doos untuk saklar/penyambungan/ pencabang-an, metal flexible conduit dan peralatan- peralatan bantu lainnya yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem instalasi pene- rangan buatan.

1.4.2

Jenis Kabel.

a. Kabel listrik yang digunakan harus sesuai dengan standard SII dan SPLN atau standard- standard lain yang diakui di negara Republik Indonesia serta mendapat rekomendasi dari LMK.

b. Ukuran luas penampang kabel untuk jaringan instalasi listrik Tegangan Rendah yang digunakan minimal harus sesuai dengan Gambar rancangan.

c. Kabel listrik yang digunakan harus mempunyai rated voltage sebesar 600 Volt/1000 Volt.

d. Tahanan isolasi kabel yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga arus bocor yang terjadi tidak melebihi 1 mA untuk setiap 100 M panjang kabel.

e. Kecuali untuk instalasi yang harus beroperasi pada keadaan darurat (seperti lift dan lain- lain seperti ditunjukkan di dalam Gambar Perencanaan) kabel-kabel yang digunakan adalah kabel PVC dengan jenis kabel yang sesuai dengan fungsi dan lokasi pemasangannya seperti tabel di bawah ini :

No.

Pemakaian

Jenis Kabel

1.

Ins. Penerangan dalam bangunan

NYA/NYM

2.

Ins. Penerangan luar bangunan

NYY/NYFGbY

3.

Ins. Dan kabel daya dalam bangunan

NYY

4.

Ins. Daya luar bangunan

NYFGbY

5.

Ins. daya khusus (emergency)

Tahan api

f. Kabel yang digunakan untuk instalasi daya listrik yang dioperasikan pada saat terjadi kebakaran antara lain :

Smoke Vestibule Ventilator Elevator emergency, Contactor dan Electric Strike, Fire Pump,

dari jenis kabel tahan api (Flexible Mineral Insulated Fire Resis-tant) yang dapat menahan temperatur 950 o C selama 3 jam dan lulus Impact Test on Fire.

g. Pada kabel instalasi harus dapat dibaca mengenai merk, jenis, ukuran luas penampang, rating tegangan kerja dan standard yang digunakan.

h. Pada ujung kabel-kabel daya utama harus diberi label/sign-plate yang terbuat dari alumunium mengenai nama beban yang dicatu daya listriknya atau nama sumber yang mencatu daya kabel/beban tersebut.

1.4.3 Persyaratan Pemasangan.

a. Pemasangan kabel instalasi tegangan rendah harus memenuhi peraturan PLN dan PUIL 2000 atau peraturan lain yang diakui di negara Republik Indonesia.

b. Kabel harus diatur dengan rapi dan terpasang dengan kokoh sehingga tidak akan lepas atau rusak oleh gangguan gangguan mekanis.

c. Pembelokan kabel harus diatur sedemikain rupa sehingga jari-jari pembelokan tidak boleh kurang dari 15 kali diameter luar kabel tersebut atau harus sesuai dengan rekomendasi dari pabrik pembuat kabel.

d. Setiap ujung kabel harus dilengkapi dengan sepatu kabel tipe press, ukuran sesuai dengan ukuran luas penampang kabel serta dililit dengan “excelcior tape” dan difinish dengan bahan isolasi ciut panas yang sesuai.

e. Penyambungan kabel pada kabel daya, kabel instalasi daya dan instalasi penerangan tidak diperkenankan kecuali untuk pencabangan pada kabel instalasi daya dan instalasi penerangan. Penyambungan kabel untuk pencabangan harus dilakukan di dalam junction box atau doos sesuai dengan persyaratan.

f. Penarikan kabel harus menggunakan peralatan-peralatan bantu yang sesuai dan tidak boleh melebihi strength dan stress maximum yang direkomendasikan oleh pabrik pembuat kabel.

g. Sebelum dilakukan pemasangan/penyambungan, bagian ujung awal dan ujung akhir dari kabel daya harus dilindungi dengan 'sealing end cable', sehingga bagian konduktor maupun bagian isolasi kabel tidak rusak.

h. Pemasangan kabel di dalam bangunan dapat dilakukan,

Pada rak kabel,

Di dalam dinding yang dilengkapi conduit

Di plat lantai atap yang dilengkapi conduit.

i. Pemasangan kabel pada rak kabel harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Kabel harus diatur rapi Kabel harus diperkuat dengan klem pada setiap jarak 40 cM dengan perkuatan mur baut pada dudukan/struktur rak. Untuk kabel instalasi daya dan penerangan harus dilindungi dengan conduit PVC type High Impact. Tidak diperkenankan adanya sambungan kabel di dalam conduit kecuali di dalam kotak sambung atau kotak cabang.

j. Pemasangan kabel dalam dinding harus memperhatikan hal hal sebagai berikut :

Kabel harus dilindungi dengan sparing. Sparing (pipa pelindung kabel yang ditanam dalam High Impact Conduit) sebelum ditutup tembok harus disusun rapi dan diklem pada setiap jarak 60 cM. Jika sparing