Anda di halaman 1dari 19

FILUM ANNELIDA

LAPORAN PRAKTIKUM

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Zoologi Invertebrata yang diampu oleh: Dra. Ammi Syulasmi, M. S.

oleh : Kelompok 6 Pendidikan Biologi A Ai Nurlaelasari Rusmana Mega Laeni Nur Imam Ramdhani Rivani Dwi Nurrachmani Rizky Ayu Kania Yayu Maria Ulfah 1304116 1300997 1301964 1300388 1301315 1300676

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2014

A. Judul Filum Annelida B. Tujuan Kegiatan praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat: 1. Mengenal keanekaragaman hewan-hewan Annelida. 2. Mengamati morfologi dan struktur hewan-hewan Annelida. 3. Mengelompokkan hewan-hewan Annelida ke dalam classis yang berbeda berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri. 4. Mengamati dan mengidentifikasi ciri-ciri khas setiap species. C. Landasan Teori Annelida berarti cincin-cincin kecil. Hal ini mengacu pada kemiripan tubuh Annelida dengan serangkaian cincin yang menyatu. Annelida adalah cacing beruas yang hidup di lautan, di sebagian besar habitat air tawar dan di tanah yang lembap. Annelida merupakan selomata dan panjangnya berkisar dari 1 mm hingga lebih dari 3 m (Campbell, Reece, 2008). Tubuh Annelida bilateral simetris, panjang dan jelas bersegmen-segmen. Disamping bersegmen, tubuhnya juga tertutup oleh kutikula yang merupakan hasl sekresi dari epidermis. Tubuh annelida sudah memiliki sistem saraf, sistem kardiovaskuler tertutup dan sudah ada rongga tubuh atau selom (Kastawi, 2005). Berikut beberapa sistem pada cacing tanah: 1. Sistem gerak Dinding tubuh cacing tanah mempunyai dua lapis otot, yaitu stratum cilculare (lapisan otot sebelah luar) dan stratum longitudinal (lapisan otot sebelah dalam). Jika otot ini berkontraksi maka akan menimbulkan gerakan

menggelombang dari cacing tanah itu sehingga ia bergerak. Dinding intestin juga mempunyai lapisan otot, yaitu stratum longitudinale. Jika otot ini berkontraksi maka akan timbul gerakan peristaltik yang mendorong makanan dalam saluran pencernaan dan mendorong keluar sisa-sisa pencernaan. Ada juga otot di dalam dinding-dinding pembuluh darah, di dalam pipa-pipa muscular pada nephridia dan di bagian luar berkas saraf. Pada faring juga ada otot yaitu otot yang melekatkan faring pada dinding tubuh. Sementara itu, setae (bulu-bulu halus) digerakkan oleh

dua berkas otot, yaitu musculus protactor yang mendorong setae keluar dan musculus recractor yang menarik kembali setae masuk ke dalam rongganya. Kedua berkas musculi ini melekat pada ujung-ujung dalam dari setae. Jadi cacing tanah bergerak dengan setae dan kontraksi otot-otot dinding tubuh (Kastawi, 2005). 2. Sistem respirasi Cacing tanah bernapas dengan kulitnya, sebab kulitnya bersifat lembab, tipis dan banyak mengandung kapiler-kapiler darah (Kastawi, 2005). 3. Sistem pencernaan makanan Saluran pencernaan cacing tanah sudah lengkap dan sudah terpisah dari sistem kardiovaskuler. Saluran pencernaan ini terdiri atas mulut, faring, esophagus, proventiculus, ventriculus, intestin dan anus (Kastawi, 2005). Sementara menurut Ammi, dkk (2011:31) sistem pencernaan makanan pada cacing tanah (Pheretima sp.) terdiri dari mulut, faring, esophagus, crop (tembolok), gizzard (lambung yang menebal untuk menggiling makanan), intestin dan anus. 4. Sistem sirkulasi Sistem sirkulasi (peredaran darah/kardiovaskular) cacing tanah adalah sistem peredaran darah tertutup. Sistem kardiovaskular meliputi darah, pembuluhpembuluh darah dan limfa. Darah teardiri atas bagian cair yang disebut plasma dan sel-sel darah atau korpuskula. Korpuskula terdapat di dalam plasma darah. Pembuluh darah terdiri atas aorta dorsalis dan aorta ventralis. Aorta dorsalis terletak di sebelah dorsal saluran pencernaan dan mudah terlihat dari luar. Di daerah esophagus terdapat lima pasang cabang-cabang aorta dorsalis yang membesar dan berfungsi sama dengan cor (jantung) pada hewan tingkat tinggi. Jantung ini mengelilingi esophagus dan berhubungan dengan aorta ventralis yang terletak di sebelah ventral saluran pencernaan dan di sebelah dorsal truncus nervosus. Plasma darah dan beberapa corpuscula membentuk limfa yang keluar dari aliran darah melalui kapiler-kepiler menuju ke jaringan-jaringan. Limfa mengangkut oksigen darah ke jaringan-jaringan dan mengangkut karbondioksida dan sisa-sisa metabolisme masuk ke dalam peredaran darah melalui kapiler-kapiler darah (Kastawi, 2005).

5. Sistem eksresi Sistem eksresi cacing tanah berupa nephridia (nephridios=ginjal). Pada setiap segmen tubuh terdapat sepasang nephridia, kecuali tiga segmen yang pertama dan segmen yang terakhir. Tiap nephridium terdiri atas suatu bangunan berbentuk corong dan bersilia (nephrostoma) dan saluran atau pipa yang berkelok-kelok. Jika silia itu bergetar akan timbul aliran cairan tubuh yang mengandung sisa-sisa metabolisme dari selom masuk ke dalam saluran eksresi. Kemudian cairan ini keluar dari tubuh cacing melalui nephridioporus, yaitu sebuah lubang kecil yang merupakan muara keluar dari saluran eksresi dan terletak pada permukaan ventral tubuh cacing. Diantara nephrostoma dan saluran eksresi terdapat sekat yang disebut septum intersegmentale (Kastawi, 2005). 6. Sistem saraf Sistem saraf cacing tanah terletak di sebelah dorsal faring di dalam segmen ketiga dan terdiri atas ganglion cerebrale dan berkas saraf ventralis dengan cabangcabangnya (Kastawi, 2005). 7. Sistem reproduksi Cacing tanah bersifat hermaphrodit. Sepasang ovarium menghasilkan ova dan terletak dalam segmen ke-13. Kedua oviductnya juga terletak di dalam segmen ke-13 dan infundibulumnya bersilia. Oviduct melalui septum yang terletak diantara segmen ke-13 dan ke-14 dan di segmen ke-14 membesar membentuk kantong telur. Testes: ductus spermaticus atau vas deferentia masing-masing ada dua pasang, sedang vesicula seminalisnya ada tiga pasang. Testes terletak di dalam suatu rongga yang dibentuk oleh dinding-dinding vesicula seminalis (Kastawi, 2005). Menurut Ammi, dkk (2011:30) filum ini dibagi ke dalam tiga classis, yaitu: 1. Polychaeta (poly=banyak, chaeta=rambut) Bagian luar dan dalam tubuhnya bersegmen, ruas-ruas/segmen yang disebut somites sama besar. Pada bagian lateral terdapat embelan berambut yang disebut parapodia. Di bagian kepala terdapat tentakel, tidak mempunyai klitelum dan sebagian besar hidup di laut.

2. Oligochaeta (oligos=sedikit, chaeta=rambut) Bagian luar dan dalam tubuhnya bersegmen, memiliki klitelum yang jelas, tidak ada kepala dan parapodia (embelan), pada setiap somite terdapat setae, hermaphrodit, hidup di air tawar atau tanah yang lembab. 3. Hirudinae (Hirudo=lintah) Tubuh berpigmen, umumnya pipih, mempunyai dua alat pengisap (pada bagian posterior lebih besar dari anterior), tidak mempunyai tentakel dan parapodia, hermaphrodit, hidup di laut, air tawar atau di darat. D. Metode Praktikum 1. Alat dan bahan a. Alat 1) Mikroskop 2) Bak bedah 3) Pisau bedah 4) Jarum pentul 5) Cawan petri 6) Gelas piala 7) Alat tulis (pensil dan buku) b. Bahan 1) Cacing tanah segar 2) Beberapa contoh awetan basah Annelida 3) Sayatan melintang dan membujur Lumbricus terrestris 2. Cara kerja Untuk pengamatan morfologi beberapa Polychaeta, Oligochaeta dan Hirudinea : 1. Beberapa awetan cacing Polychaeta (Nereis virens, Arenicola cristata, Amphitrite sp.) diamati, beberapa bagian seperti tentakel pada kepalanya, somite berupa ruas tubuh, lalu parapodia yang berupa tonjolan berdaging yang berambut halus juga diamati. Lalu diamati, apakah ada ruasnya atau tidak, dan jika ada, ruasnya kemudian dihitung. 2. Cacing tanah ukuran besar disiapkan diatas bak bedah, lalu bagian ventral dan dorsalnya kemudian dibedakan, lalu seluruh ruasnya dihitung, kemudian bagian

klitelumnya dicari dan ditentukan pada ruas ke berapa. Selain itu, bagian lubang genitalnya dicari di dekat klitelum, bagian anus juga ditentukan, yaitu pada posteriornya. 3. Awetan basah Hirudinea diamati morfologinya, meliputi : a. Anterior dan Posterior b. Ruas tubuhnya dihitung c. Sucker pada bagian anterior dan posterior, kemudian ditentukan perbedannya. d. Mulut dan anus Pengamatan anatomi dari Pheretima sp. dan Lumbricus sp. 1. Cacing tanah (Pheretima) disiapkan, kemudian dicuci dengan air dan dimasukkan kedalam alcohol 70% lalu diletakkan di atas bak bedah. Cacing itu kemudian dibedah pada bagian dorsalnya mulai dari anterior, kemudian bagian-bagiannya ditentukan, seperti: a. Sistem pencernaan, yang terdiri dari: mulut faring esophagus crop gizzard - intestin anus. b. Pembuluh darah dorsal dan ventral c. Septum (sekat antar ruas pada bagian dalam) d. Spermatheca, kemudian dihitung ada berapa pasang dan ditentukan letaknya pada ruas berapa. e. Vesikula seminalis, dihitung jumlahnya dan ditentukan pada ruas berapa. 2. Dengan menggunakan mikroskop, preparat sayatan melintang dan membujur Lumbricus sp., kemudian ditentukan bagian-bagian, seperti: a. Kutikula, epidermis b. Otot circular c. Otot longitudinal d. Selom e. Pembuluh darah dorsal f. Pembuluh darah ventral g. Intestin h. Syaraf, Nephridium, Setae

E. Hasil pengamatan Tabel E. 1 Identifikasi Phyllum Annelida berdasarkan struktur tubuh


Simetri Tubuh Simetris bilateral Simetris bilateral Simetris bilateral Simetris bilateral Simetris bilateral Simetris bilateral Simetris bilateral Simetris bilateral Bentuk Tubuh Oval memipih Bulat memanjang Oval memipih Bulat memanjang Bulat memanjang Bulat memanjang Bulat memanjang Bulat memanjang Ruas Tubuh Parapodia Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Setae Klitelum atau rambut Ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Hirudinea Sucker Tentakel Classis

No

Nama Species

1.

Haemadipsa sp.

Ada

2.

Nereis virens Hirudo medicinalis Sipunculus sp.

Ada

Ada

Polychaeta

3.

Ada

Ada

Hirudinea

4.

Ada

Ada

Gephyra

5.

Nereis sp. Lumbricus terrestris Megascolides sp.

Ada

Ada

Polychaeta

6.

Ada

Ada

Oligochaeta

7.

Ada

Ada

Ada

Oligochaeta

Pheretima sp.

Ada

Ada

Ada

Oligochaeta

Tabel E. 2 Tabel Klasifikasi Awetan Basah Phyllum Annelida No 1 Klasifikasi Kingdom: Animalia Phyllum: Annelida Classis: Oligochaeta Ordo: Haplotaxida Familia: Lumbricidae Genus: Lumbricus Species: Lumbricus terrestris
Gambar E.2.1 Lumbricus terrestris (Mega, 2014)
Gambar E.2.2 Lumbricus terrestris (Ayu, 2012)

Gambar Observasi

Gambar Internet

Kingdom: Animalia Phyllum: Annelida

Classis: Polichaeta Ordo: Umicolae Familia: Mycostomidae Genus: Nereis Species: Nereis virens

Gambar E.2.3 Nereis virens (Mega, 2014)

Gambar E.2.4 Nereis virens (Cristiyoda, 2009)

Kingdom: Animalia Phyllum: Annelida Classis: Polichaeta Ordo: Umicolae Familia: Mycostomidae Genus: Nereis Species: Nereis sp.
Gambar E.2.5 Nereis sp. (Mega, 2014) Gambar E.2.6 Nereis sp. (Sarban, 2014)

Kingdom: Animalia Phyllum: Annelida Classis: Gephyra Ordo: Sipuncluliformes Familia: Sipunculidae Genus: Sipunculus Species: Sipunculus sp.
Gambar E.2.7 Sipunculus sp. (Mega, 2014) Gambar E.2.8 Sipunculus sp. (UC Museum of Paleontology, 2009)

Kingdom: Animalia Phyllum: Annelida Classis: Hirudinea Ordo: Arhynchobdellae Familia: Hirudinidae Genus: Hirudo Species: Hirudo medicinalis
Gambar E.2.9 Hirudo medicinalis (Mega, 2014) Gambar E.2.10 Hirudo medicinalis (Ayu, 2012)

Kingdom: Animalia Phyllum: Annelida Classis: Oligochaeta Ordo: Opisthopora Familia: Megascolecidae Genus: Megascolides Species: Megascolides sp.
Gambar E.2.11 Megascolides sp. (Mega, 2014) Gambar E.2.12 Megascolides sp (Yeates, 2012)

Kingdom: Animalia Phyllum : Annelida Classis : Clitellata Order: Arhynchobdellida Familia : Haemadipsidae Genus: Haemadipsa Species: Haemadipsa sp.

Gambar E.2.13 Haemadipsa sp. (Mega, 2014)

Gambar E.2.14 Haemadipsa sp. (Agbayani, 2008)

Kingdom: Animalia Phyllum: Annelida Classis: Oligochaeta Ordo: Opisthopora Familia: Megascoleides Genus: Megascolex Species: Megascolex sp.
Gambar E.2.15 Megascolex sp. (Mega,2014) Gambar E.2.16 Megascolex sp. (Agbayani, 2010)

Kingdom: Animalia Phyllum: Annelida Classis: Polychaeta Ordo: Familia: Arenicolidae Genus: Arenicola Species: Arenicola cristata
Gambar E.2.17 Arenicola cristata (Mega, 2014) Gambar E.2.18 Arenicola cristata (Agbayani, 2004)

Tabel E.3 Pengamatan Sayatan Melintang dan Membujur pada Phyllum Annelida No 1 Klasifikasi Kingdom: Animalia Phyllum: Annelida Classis: Oligochaeta Ordo: Haplotaxida Familia: Lumbricidae Genus: Lumbricus Species: Lumbricus
Gambar E.3.2 Sayatan melintang Gambar E.3.1 Sayatan Melintang Lumbricus terrestris (Jantan) (Ayu, 2014)

Gambar Observasi

Gambar Internet

terrestris

Lumbricus terrestris (Zoology Dasar, 1989)

No 2

Klasifikasi Kingdom: Animalia Phyllum: Annelida Classis: Oligochaeta Ordo: Haplotaxida Familia: Lumbricidae Genus: Lumbricus Species: terrestris Lumbricus

Gambar Observasi

Gambar Internet

Gambar E.3.3 Sayatan Membujur Lumbricus terrestris (Ayu, 2014)

Gambar E.3.4 Sayatan membujur Lumbricus terrestris (Hidayati, 2011)

F. Pembahasan Berdasarkan hasil praktikum, species yang diamati terdiri dari 10 jenis, diantaranya: 1. Lumbricus terrestris a. Pengamatan morfologi Lumbricus memiliki tubuh yang bulat memanjang, simetri tubuhnya bilateral, kepalanya tidak begitu jelas, mulut terletak pada bagian anterior dan anus terletak pada bagian posterior, warna pada bagian dorsal lebih gelap dibandingkan dengan bagian ventral, segmen tubuhnya lebih dari 100 buah yang masing-masing dengan 4 pasang rambut. Pada bagian ujung depan (anterior) ada suatu bagian/tojolan daging yang disebut prostomium, prostomium ini biasanya keluar masuk mulut Lumbricus ini, sementara yang membatasi bagian ventral mulut disebut peristomium dan merupakan segmen pertama. Klitelum terletak pada segmen ke 32-37 dan terlihat jelas pada bagian dorsal dan ventralnya. Pada setiap segmen terdapat empat pasang setae kecuali segmen pertama dan terakhir. Dan terdapat genital pore di dekat klitelum dan anus pada bagian posterior (Kastawi, 2005). b. Pengamatan anatomi Menurut Kastawi (2005) Dinding tubuh Lumbricus terrestris ini terdiri dari kutikula, epidermis, otot melingkar, dan otot memanjang, rongga tubuh (selom) sudah berkembang dari pada filum nematelminthes, pada Lumbricus ini rongga

tubuhnya sudah schizocoelom. Bagian selom memisahkan dinding tubuh dengan intestin, antara segmen yang satu dengan segmen yang lain dipisahkan oleh sekat pemisah vertikal, selaput yang membatasi dinding tubuh sebelah dalam disebut peritonium. Di sebelah dorsal saluran pencernaan terdapat aorta dorsalis,

sedangkan pada bagian ventral terdapat aorta ventralis. Untuk saluran pencernaan yaitu intestine merupakan lanjutan ke ujung dari ventrikulus. Dinding intestine bagian dorsal melekuk kedalam lumen intestine dan bagian ujung lekukan ini membesar sehingga terjadilah bangunan sebagai kantong. Sistem saraf pada cacing tanah terletak disebelah dorsal faring didalam segmen yang ketiga dan terdiri atas ganglion cerebrale, yang terdiri atas dua kelompok sel saraf dengam comissura. Berkas saraf ventralis dengan cabang-cabangnya, ganglion celebrale terletak disebelah dorsal faring, didalam segmen ketiga. Dari kelompok sel-sel tersebut terdapat: (a) saraf-saraf yang menginnervasi daerah mulut dan berpangkal pada ujung anterior tiap kelompok sel-sel tersebut, (b) cabang saraf yang menuju ke ventral dan melingkari faring, saraf ini disebut comissura circum phangeale yang berhubungan dengan berkas saraf ventralis. 2. Hirudo medicinalis a. Pengamatan morfologi Hirudo medicinalis banyak didapatkan di rawa-rawa. Tubuhnya berbukubuku, pipih, namun jika terisi darah ukurannya membesar menjadi bulat gilik. Warna hitam kecoklatan. Memiliki dua alat hisap satu di bagian anterior dan satu di bagian posterior. Perbedaanya yaitu jika alat hisap pada anterior untuk menghisap sementara pada bagian posterior untuk menempel. Mulut terletak di anterior dikelilingi sucker anterior dan anus terletak dibagian posterior yang dikelilingi oleh sucker posterior (Syamsuri, 2004). 3. Nereis virens a. Pengamatan morfologi Hidup di perairan estuari maupun laut lepas. Secara morfologi pada bagian kepala memiliki tentakel serta somite yang merupakan ruas tubuh yang sama besar dan sepasang parapodia disepanjang bagian lateral tubuhnya. Tampak pula

terlihat setae yang melekat pada parapodianya. Tidak terlihat klitelum di sepanjang tubuhnya (Intan, 2012). 4. Sipunculus sp. a. Pengamatan morfologi Hewan ini termasuk kedalam filum Annelida karena tubuhnya yang beruasruas (somite) walaupun memiliki pola seperti jaring. Memiliki mulut pada bagian 1/3 anteriornya. Namun belum diketahui jika hewan ini memiliki sucker seperti pada kelas hirudinea (Intan, 2012). 5. Megascolides sp. a. Pengamatan morfologi Termasuk kedalam kelas oligochaeta karena memiliki setae disepanjang tubuhnya serta klitelum yang terlihat jelas. Ukurannya sangat besar dan panjang. Hewan ini tidak memiliki alah hisap (sucker) (Yholandre, 2012). 6. Haemadipsa sp. a. Pengamatan morfologi Tidak mempunyai parapodia dan setae, mempunyai alat penghisap (sucker) di bagian anterior maupun posterior. Tubuhnya pipih. Metamerisme sudah sangat tereduksi: segmen-segmen ujung anterior (biasanya kecil) dan posterior (lebih besar) termodifikasi manjadi alat penghisap yang digunakan untuk menempel dan bergerak. Jumlah segmen tetap, yaitu 34, walau lapisan cincin sekunder di luarnya (annuli) menyamarkan segmentasi primer tersebut. Klitelum dibentuk segmen-segmen 9, 10 atau 11 (Yholandre, 2012). 7. Arenicola cristata a. Pengamatan morfologi Hewan ini termasuk kedalam kelas polichaeta karena memiliki parapodia walaupun tak memiliki setae pada setiap pasangan parapodia pada bagian lateral tubuhnya. Memiliki warna kecoklatan dan tidak memiliki klitelum (Glori, 2013). 8. Megascolex sp. a. Pengamatan morfologi Megascolex memiliki bentuk belateral simetris, selnya terdiri dari 3 lapisan (triploblastik), tubuhnya bulat memanjang dan bersegmen, kepalanya tidak

begitu jelas, mulut dibagian ujung anterior sementara anus dibagian ujung yang berlawanan (posterior), di kepala terdapat prostomium (bagian pada mulut) yang dapat keluar masuk bagian mulut. Setiap ruas kecuali ruas yang terakhir memiliki empat pasang setae. Faringnya tidak dapat dikeluarkan, jumlah ruas biasanya tidak lebih dari 200 (Susilowarno, 2007). 9. Nereis sp. a. Pengamatan morfologi Nereis sp. pada bagian kepala memiliki tentakel serta somite yang merupakan ruas tubuh yang sama besar dan sepasang parapodia disepanjang bagian lateral tubuhnya. Tampak pula terlihat setae yang melekat pada parapodianya (Intan, 2012). 10. Pheretrima sp. a. Pengamatan anatomi Memiliki sistem pencernaan yang lengkap mulai dari rongga mulut terletak pada ruas satu sampai dengan tiga, faring terletak pada ruas ke empat sampai dengan enam, esophagus pada ruas ke enam sampai dengan 14, crop (proventriculus) terdapat pada ruas 15 sampai dengan 16, gizzard (ventriculus) berdinding tebal terletak pada ruas 17 sampai dengan 18, intestin terletak pada ruas-ruas 19 dan berakhir pada anus yang terdapat di segmen terakhir. Makanannya adalah sisa dedaunan yang dikeluarkan oleh getah pencernaan secara ekstrasel. Cacing tanah dapat mencerna senyawa organik tersebut menjadi molekul yang sederhana yang dapat diserap oleh tubuhnya. Sisa pencernaan makanan dikeluarkan melalui anus (Yholandre, 2012). Sistem reproduksi yang dimiliki seperti testes: ductus spermaticus atau vasadeferentia masing-masing ada dua pasang sedang vesikula seminalisnya ada tiga pasang (Kastawi, 2005).

F. JawabanPertanyaan 1. Dapatkah anda menemukan persamaan yang dimiliki oleh setiap species yang anda temukan? Tuliskan persamaan-persamaan tersebut! Jawaban: Persamaan yang dimiliki oleh setiap species yaitu sama-sama memiliki setae, ruas tubuh dan tubuhnya simetris bilateral. 2. Dapatkah anda menemukan perbedaan yang dimiliki oleh setiap species tersebut sehingga dimasukkan pada classis yang berbeda? Tuliskan perbedaan-

perbedaannya! Jawaban: Perbedaannya terletak pada ada tidaknya parapodia, tentakel, sucker, klitelum dan banyaknya setae. 3. Tuliskan ciri khas dari tiap-tiap classis pada kolom berikut: Classis Memiliki Polychaeta Ciri Khas parapodia yang bersetae,

memiliki tentakel di bagian kepala, tidak memiliki klitelum.

Oligochaeta

Memiliki klitelum yang jelas, memiliki setae yang sedikit. Memiliki sucker di bagian anterior dan

Hirudinea

posterior,

tubuhnya

berpigmen

dan

berbentuk pipih. 4. Tuliskan kegunaan dan manfaat dari anggota Annelida yang anda temukan: Jawaban: Manfaat dari phyllum Annelida, diantaranya: a. Hirudo medicinalis (lintah), dalam bidang kedokteran zat hirudin digunakan untuk mencegah proses pembekuan darah untuk membantu proses operasi. Zat hirudin yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai zat antikoagulan. b. Eunice viridis (cacing palolo), dapat dikonsumsi sebagai sumber protein hewani

c. Pheretima sp. (cacing tanah), memenguraikan sampai dan menggemburkan tanah sehingga menjadi subur, dapat dijadikan obat untuk penyakit thypus, dapat dijadikan sebagai pakan ternak. 5. Dari Teori perkuliahan atau buku sumber yang anda peroleh mengenai Phyllum Annelida, lengkapilah tabel berikut ini: Phyllum Annelida Pencernaan Sistem pencernaan pada Phyllum Annelida sudah lengkap. Pada classis Polichaeta pencernaan makanan ekstrasel, holozoik atau saprozoik, sisa pencernaan dikeluarkan melalui anus. Untuk classis Oligochaeta sistem pencernaannya terdiri dari:mulutfaringesophagus- cropgizzardintestine- anus. Ekskresi Ekskresi pada Phyllum Annelida berupa nephridia Pernapasan Pada hewan Annelida, respirasinya melalui permukaan tubuhnya. Pada cacing tanah (classis Oligochaeta) dapat bernapas dengan kulitnya, sebab kulitnya bersifat lembab dan tipis. Sistem Syaraf Sistem saraf: proses stimulusrespon: Stimulus sel sensoris tali saraf lateral ganglion ruasnerve cord ganglion subfaringeal tali saraf penghubung ganglion suprafaringeal respon tali saraf transversal tali saraf longitudinal efektor. Reproduksi Reproduksi pada classis Polichaeta yaitu fertilisasi eksternal di air, berumah dua, memiliki bentuk larva yang disebut trocophore. Pada classis Oligochaeta, reproduksinya fertilisasi eksternal dalam cocoon, hermaprodit tetapi tidak dapat melakukan pembuahan sendiri. Pada classis Hirudinea sistem reproduksinya mirip dengan sistem reproduksi

Dan pada classis Hirudinea makanannya berupa cairan tubuh organisme lain, memiliki crop yang sangat besar untuk menyimpan makanan yang diserapnya.

pada Oligochaeta.

G. Kesimpulan 1. Keanekaragaman hewan-hewan Annelida yang telah diamati diantaranya: Lumbricus terrestris, Nereis virens, Hirudo medicinalis, Arenicola cristata. 2. Hewan-hewan Annelida memiliki tubuh bulat memanjang dengan segmen yang menyerupai cincin kecil atau somite, appendages kecil berupa setae, pada classis Polichaeta terdapat tentakel di bagian kepala dan setiap ruas terdapat parapodia dengan banyak setae, tubuh Annelida ditutupi kutikula tipis dan lembab, dinding tubuh disusun oleh lapisan otot circular dan longitudinal. 3. Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa hewan-hewan Annelida terbagi ke dalam tiga classis yang didasari oleh perbedaan jumlah ruas yang menyusun ketiga classis tersebut dan berdasarkan keberadaan parapodia, tentakel, sucker, klitelum dan banyaknya setae. Ketiga classis tersebut yaitu Polichaeta, Oligochaeta, dan Hirudinea. 4. Classis yang pertama yaitu Polichaeta memiliki parapodia dan setae yang jumlahnya banyak, faring atau proboscis dapat dikeluarkan untuk mengambil makanan. Classis yang kedua yaitu Oligochaeta memiliki setae yang jumlahnya sedikit, faring tidak dapat dikeluarkan untuk mengambil makanan. Classis yang ketiga yaitu Hirudinea memiliki sucker yang mengelilingi mulut dan anusnya.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku: Campbell, Reece, Michael. (2008). Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Kastawi, Y. (2005). Zoologi Avertebrata. Malang: Universitas Negeri Malang Press. Sumarjito. (2012). Panduan Belajar Biologi dan Kimia. Yogyakarta: Primagama. Susilowarno, R.G. (2007). Biologi untuk SMA/MA Classis X. Jakarta: Grasindo. Syamsuri, I. (2004). Biologi untuk SMA. Malang: Erlangga. Syulasmi, A., Sriyati, S., Peristiwati. (2011). Petunjuk Praktikum Zoologi Invertebrata. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Sumber Internet: Glori. (2013). [Online]. Tersedia di: http://glorimerkristivita.blogspot.com/2013/04/laporan-praktikum-annelida.html. Diakses pada tanggal 09 April 2014. Intan, U. (2012). Laporan Praktikum Zoologi Invertebrata. [Online]. Tersedia di: http://intanulfa.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-zoologi-invertebrata.html. Diakses pada tanggal 09 April 2014. Yholandre. (2012). Annelida. [Online]. Tersedia di: http://yholandre3ssmartboy.blogspot.com/2012/10/zoology-invertebrate-filumannelida.html. Diakses pada tanggal 09 April 2014. Sumber Gambar: Gambar E.2.2 Lumbricus terrestris: http://de-fairest.blogspot.com/2012/08/peranan-animalia-tingkat-rendah.html. [14 Agustus 2012]. Gambar E.2.4 Nereis virens: http://christiyoda.blogspot.com/2009/01/nereis-virens.html. [2009]. Gambar E.2.6 Nereis sp.: http://learningbiology.edublogs.org/category/diversity-in-livingorganisms/. [2014].

Gambar E.2.8 Sipunculus sp.: http://gulfcoast.harc.edu/Biodiversity/GulfofMexicoBiodiversity/MarineWorms/tab id/2295/Default.aspx. [2009]. Gambar E.2.10 Hirudo medicinalis: http://de-fairest.blogspot.com/2012/08/peranan-animalia-tingkat-rendah.html. [14 Agustus 2012]. Gambar E.2.18 Arenicola cristata: http://www.sealifebase.fisheries.ubc.ca/identification/SpeciesList.php?famcode=23 8&areacode=99&c_code=&spines=&fins. [30 November 2004].
Gambar E.2.12 Megascolides sp.: http://www.TeAra.govt.nz/en/photograph/15495/megascolecid-worm. [21 September 2012].

Gambar E.2.14 Haemadifsa sp.: http://www.pbase.com/image/102652379. [26 Juli 2008]. Gambar E. 2.16 Megascolex sp.: http://www.mscwbif.org/earthworm/home.html. [2010]. Gambar E.3.2 Sayatan melintang Lumbricus terrestris: http://hikmat.web.id/wp-content/uploads/2013/03/penampang-melintang.jpg [1989]. Gambar E.3.4 Sayatan membujur Lumbricus terrestris: http://ezzahhidayati.blogspot.com/2011/05/bab-iv-invertebrata.html. [2011].