Anda di halaman 1dari 8

PENGGUNAAN TEKNOLOGI DALAM PRAKTEK KEPERAWATAN DI RUMAH (HOMECARE) PADA PASIEN CRONIC HEART FAILURE

Lia Mulyati*
*Mahasiswa Magister Keperawatan Kekhususan Keperawatan Medikal Bedah Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Abstrak
Latar belakang : Gagal jantung merupakan masalah kesehatan masyarakat dan merupakan penyakit nomor satu yang memicu terjadinya kematian. Penyakit gagal jantung sering menyebabkan ketidakmampuan dan penurunan kualitas hidup penderitanya. Metode Telehealth saat ini dikembangkan untuk meningkatkan layanan perawatan di rumah. Tulisan ini menggambarkan tentang penggunaan teknologi dengan rancangan telehealth dalam pelaksanaan perawatan di rumah pada pasien dengan gagal jantung kronik. Dimana dengan menggunakan telehealth pemberi pelayanan kesehatan dan pasien dapat berkomunikasi dan bertukar informasi secara jarak jauh serta pasien dapat melakukan monitoring secara mandiri. Telehealth ini ditujukan untuk menyokong aplikasi praktek pelayanan kesehatan secara profesional yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.. Tujuan : menganalisis perkembangan teknologi kesehatan/ keperawatan mutakhir dalam melakukan perawatan di rumah untuk penderita penyakit kronik khusunya CHF. Hasil dan kesimpulan: Dengan menggunakan telehealth dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pasien dan mengurangi frekwensi rehospitalisasi. Penggunaan telehealth tidak mengurangi kualitas pelayanan dan tidak mengurangi tingkat kepuasan pasien.

A. Latar Belakang Gagal jantung merupakan masalah kesehatan masyarakat yang banyak terjadi di jaman kekinian dimana penyakit ini merupakan penyakit nomor satu yang memicu terjadinya kematian. Perkembangan penyakit gagal jantung ditunjang dengan adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang menimbulkan beberapa kondisi yang memicu terjadinya penyakit kardiovaskuler seperti; meningkatnya kadar kolesterol darah, peningkatan tekanan darah, tingginya kadar gula darah, dan obesitas. Penyakit gagal jantung merupakan sindrom dengan gejala unik yang terkadang kurang disadari oleh penderita. Gagal jantung dapat berasal dari penyakit jantung koroner, hipertensi, kardiomiopathy atau dysfungsi valvular, kondisi ini menyebabkan terjadinya perubahan bentuk jantung (remodeling). Pada jantung kiri akan terjadi dysfunsi systolik ventrikuler dan semakin lemahnya ventrikel kiri dan
1

membesar, serta ventrikel semakin menebal. Kegagalan pada kedua sisi jantung menyebabkan dypsnoe dan kelelahan. Tanda dan gejala lain meliputi edema perifer, sulit tidur pada posisi supine, batuk dan ketidakmampuan melakukan aktivitas seharihari dan berat badan yang tiba-tiba naik akibat dari retensi cairan.

European Society of Cardiology mencatat dari 900 juta penduduk di United state, sekitar 15 juta orang meninggal dengan gagal jantung. Prevalensi gagal jantung meningkat tajam pada usia 75 tahun. Menurut Nukman(1), di Indonesia data prevalensi gagal jantung secara nasional memang belum ada. Namun, sebagai gambaran, di ruang rawat jalan dan inap Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta pada 2006, didapati 3,23 persen kasus gagal jantung dari total 11.711 pasien. Management yang sering dilakukan pada pasien dengan CHF meliputi intervensi farmakologi, restriksi cairan dan nutrisi, dan rekomendasi modifikasi gaya hidup. Menurut Numan(1) Hampir 50% pasien dengan gagal jantung mengalami penurunan kualitas hidup karena menimbulkan ketidakmampuan secara fisik, oleh karena itu, gagal jantung dan penyebab penyakitnya harus dikenali sejak awal untuk dicegah dan mendapat tata laksana sedini mungkin, hal ini dimaksudkan untuk menghindari penurunan kualitas hidup, mortalitas dan beban ekonomis yang tinggi. Dengan melihat gambaran pasien dengan CHF di atas sangat diperlukan adanya pelayanan perawatan di rumah (homecare) sebagai tindak lanjut dari perawatan di rumah sakit. Tujuan program homecare ini adalah meningkatkan pencapaian tujuan pasien dan menurunkan kejadian dirawat kembali serta menurunkan cost. Namun pada kenyataannya tidak terlalu mudah untuk melakukan follow-up atau kunjungan rumah, ada beberapa kendala yang dihadapi diantaranya adalah keterbatasan tenaga kesehatan, belum adanya koordinasi yang baik antar multidisiplin ilmu dalam melakukan perawatan di rumah dan letak geografis tempat tinggal pasien yang memerlukan waktu dan tenaga untuk mencapainya. Sehingga yang sering terjadi pada pasien CHF adalah pasien mendapatkan perawatan yang sangat baik selama fase akut dan setelah di rumah pasien kembali lagi datang ke rumah sakit dengan kondisi yang sama atau lebih buruk lagi. Hasil study(2), dari 67,1% pasien yang dirawat di ruang penyakit dalam dan 51,5% pasien dari ruang bedah, menunjukan rata-rata pasien masuk kembali ke ruang perawatan setelah dipulangkan sebanyak 19,6% dari 11.855.702 dalam jangka waktu 30 hari,
2

selebihnya 34% dirawat kembali dalam 90 hari dari waktu dipulangkan dari rumah sakit. pasien yang dirawat di ruang medical surgical. Permasalahan diatas merupakan tantangan tersendiri bagi petugas pemberi pelayanan kesehatan untuk menemukan strategi yang efektif untuk menolong pasien dengan penyakit kronik khususnya CHF yang merupakan penyakit nomor satu penyebab kematian. Apakah Telehealth merupakan solusinya?

B. Tinjauan Teori 1. Homecare & Permasalahannya Penyakit CHF merupakan penyakit kronis yang menyebabkan berbagai gangguan lain dan merupakan penyakit yang mengancam jiwa, oleh sebab itu pasien CHF memerlukan perawatan di rumah sakit dengan membutuhkan biaya yang sangat besar. Meskipun selama perawatan kualitas hidup dapat ditingkatkan, namun belum dapat dipastikan peningkatan kualitas hidup dapat dipertahankan secara konsisten. Sehingga peran pemberi perawatan di rumah (homecare) sangat penting sebagai tindak lanjut perawatan di rumah sakit. Komponen penting pada perawatan klien dengan CHF adalah managemnent terapi medis yang direkomendasikan, konseling dan edukasi terkait dengan modifikasi aktifitas, kegiatan yang direkomendasikan, self monitoring, prognosis, keterampilan kopping, sosial support, dan kebutuhan spiritual. Homecare merupakan salah satu jenis dari perawatan jangka panjang (Long term care) yang dapat diberikan oleh tenaga profesional maupun non profesional yang telah mendapatkan pelatihan(3). Homecare juga merupakan suatu komponen rentang pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan

komprehensif diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan serta memaksimalkan tingkat kemandirian, sehingga yang perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan homecare ini adalah keberhasilan proses discharge planning pasien yang perlu diperhatikan selama pasien dalam perawatan dan koordinasi yang terjalin dengan baik antara pemberi pelayanan kesehatan di rumah sakit dengan tim pemberi pelayanan kesehatan di komunitas. Pasien dan anggota keluarga merupakan bagian yang penting dalam discharge

planning. Ketidakadekuatan discharge planning dan follow-up merupakan penyebab kembalinya pasien ke ruang rawat dalam waktu cepat. Perawatan kesehatan di rumah bertujuan : (1) Membantu klien

memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidupnya, (2) Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan masalah kesehatan dan kecacatan, (3) Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga, (4) Membantu klien tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan yang diperlukan, rehabilitasi atau perawatan paliatif, (5) Biaya kesehatan akan lebih terkendali. Secara umum lingkup perawatan kesehatan di rumah dapat di kelompokkan sebagai berikut ; (1) Pelayanan medik dan asuhan keperawatan, (2) Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik, (3) Pelayanan rehabilitasi dan terapi fisik, (4) Pelayanan informasi dan rujukan, (5) Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan, (6) Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan, (7) Pelayanan perbaikan untuk kegiatan sosial Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Medicare (Stewart at.al 1995), tentang efek intervensi berbasis rumah terhadap rehospitalisasi pada pasien dengan CHF dengan hasil intervensi berbasis rumah efektif menurunkan kunjungan ke rumah sakit yang tidak terencana. Pasien yang diberikan intervensi berbasis rumah dapat menurunkan frekwensi kunjungan ulang ke rumahsakit yang tidak terencana sebesar 5,2% dari pada pasien CHF yang tidak mendapatkan tindakan intervensi berbasis rumah Di balik keberhasilan pelaksanaan homecare dalam mengatasi masalahmasalah pasien dengan penyakit kronik, terdapat permasalahan lain yang mengganggu efektivitas pelaksanaan perawatan di rumah diantaranya adalah; (1) Terbatasnya tenaga kesehatan (2) Adanya panggilan kunjungan yang tidak diperlukan, hal ini akan membuang waktu, tenaga dan biaya, (3) Hambatan yang datang dari pasien dan keluarga (4) Ketergantungan penderita dan atau keluarga, (5) untuk kolaborasi dengan tim profesional lain membutuhkan waktu yang cukup lama, (6) letak geografis yang jauh dapat mempengaruhi efektivitas pelayanan dan cost yang diperlukan.

2. Penggunaan teknologi dalam praktek keperawatan di rumah Di era kesejadatan ini peningkatan perkembangan teknologi berbanding lurus dengan percepatan informasi. Dimana saat ini sedang terjadi revolusi digital, data, suara, gambar diam dan gambar gerak dapat dicampur sehingga mendapatkan gambaran yang cocok dan dapat dikirim dengan berbagai jenis saluran. Hal ini menunjukan bahwa sejumlah besar informasi dapat disimpan pada chip yang lebih kecil dan dapat diaplikasikan dalam pembuatan database medis . Telehealth menunjukkan kecenderungan umum yang dapat mempengaruhi masa depan. Interoperabilitas, konektivitas, skalabilitas dan mobilitas merupakan fitur kunci untuk teknologi telehealth. Telehealth merupakan penyediaan layanan kesehatan dan informasi yang terkait melalui teknologi telekomunikasi. Telehealth dapat menggunakan telepon, atau dengan menggunakan

videoconference. Telehealth merupakan perluasan dari telemedicine, dimana perbedaannya adalah telemedicin berfokus pada pengobatan/kuratif sedangkan telehealth menitikberatkan pada aspek preventif, promotif dan kuratif. Telehealth saat ini dijadikan solusi teknologi dalam melaksanakan menejemen kesehatan pasien. Dengan menggunakan telehealth pemberi layanan kesehatan kesehatan dapat melakukan monitoring pasien dari jarak jauh, seperti; memonitor tandatanda vital pasien, berat badan, tekanan darah, nadi dan indikasi lain yang

merupakan tanda-tanda yang emergensi serta keluhan pasien dan obat-obatan. Pasien yang berada di rumah dapat berkomunikasi dengan pemberi layanan kesehatan, interaksi ini dapat diilakukan dengan berbagai cara diantaranya; realtime atau off line, atau dalam bentuk video, voice-video dan dapat juga dalam bentuk telephone dan internet [Dellifraine, 2008; Tran, 2008]. Berdasarkan American Telehealth Association (ATA) ada beberapa metode yang digunakan dalam penerapan home care technology dan telehealth diantaranya adalah:
1. Home Telehealth; dititk beratkan pada perawatan jarak jauh atau monitoring

pasien di luar gedung pelayanan kesehatan


2. Interactive Home Telehealth; interaksi dengan menggunakan audio-video

antara pemberi pelayanan kesehatan dan pasien. Biasanya pelayanan yang diberikan adalah; assement, edukasi, atau pengumpulan data.
5

3. Telemonitoring; digunakan untuk melakukan pengumpulan data klinik pasien,

contoh penggunaan telemonitoring pada pasien CHF adalah penggunaan alat EKG yang menggunakan transmisi wireless sehingga hasil dapat di monitor oleh petugas pelayanan kesehatan, monitor EKG dapat juga dengan menggunakan Bluetooth.

Gambar di ambil dari http://www.google.co.id/imglanding=telecardiolog Keterangan : Alat EKG ditempelkan pada dada kiri Mobile phon akan mencatat dan menyimpan sinyal EKG melalui wireless Sinyal catatan EKG dapat dikirim ke dokter untuk di analisa

4. Self monitoring; monitoring yang dilakukan secara periodic dan terjadwal

untuk mendapatkan data klinik yang dilakukan oleh pasien sendiri, seperti tekanan darah, glukosa, berat badan, temperature.

Penggunaan telehealth dalam praktek keperawatan khususnya sangat efektif hal ini terbukti dari hasil penelitian yang di lakukan oleh Pennsylvania Homecare Association mengenai efektivitas penggunaan telehealth yang dilakukan pada 178 agency yang menggunakan telehealth sebagai kelompok intervensi dan sebagai 300 agency sebagai kelompok control tidak menggunakan telehealth. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan signifikan pada kelompok agensi yang menggunakan telehealth rata-rata pasien yang dirawat kembali sebesar 10% sebangkan pada kelompok yang tidak menggunakan telehealt sebesar 28%. Biaya yang dikeluarkan oleh pasien yang menggunakan telehelt jauh lebih sedikit yaitu $ 87,327 sedangkan kelompok yang tidak
6

menggunakan telehealth $ 232,872. Hasil penelitian kualitatif menunjukan bahwa penggunaan tehelth tidak mengurangi kualitas dan tingkat kepuasan pasien.

3. Kesimpulan Gagal Jantung kongestif merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama. Tidak adanya follow-up menyebabkan pasien mengalami perburukan kondisi yang menyebabkan pasien perlu di rawat ulang. Kondisi ini yang memicu tingginya angka kematian pada pasien CHF. Hal tersebut memerlukan suatu pendekatan manajemen penyakit yang terkoordinasi dapat dilakukan dengan cara melakukan penilaian awal/ deteksi dini tanda dan gejala, pendidikan yang komprehensif, dan modifikasi perilaku dalam rangka meningkatkan manajemen penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Perawat (homecare) merupakan penyedia integral terlibat dalam mendidik, pembinaan, pengawasan dan mendukung pasien dan keluarganya selama proses penyakit CHF. Penggunaan telehealth dalam praktek perawatan di rumah sangat efektif, dengan telehealth kondisi perubahan-perubahan klinik pasien dapat segera terdeteksi dan dapat segera di komunikasikan dengan pemberi pelayanan kesehatan sehingga kondisi-kondisi yang memerlukan tindakan emergensi dapat segera dilakukan. Selain itu dengan menggunakan telehealth dapat menurunkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien untuk perjalanan dan menurunkan tingkat ketidaknyamanan pasien selama perjalanan. Telehealth sangat cocok diterapkan di Indonesia, mengingat letak geografis Indonesia berbentuk kepulauan dan banyak pegunungan menyebabkan masyarakat Indonesia banyak yang kesulitan mencapai tempat pelayanan kesehatan, dengan penggunaan telehealth pasien dapat dengan mudah mendapatkan pelayanan kesehatan. Namun demikian aplikasi penggunaan telehealth di Indonesia harus diiringi dengan pengadaan alat-alat yang diperlukan untuk melakukan monitoring dan membangun jaringan untuk accses penyaluran sinyal ke tempat pelayanan kesehatan serta pemberian informasi kepada pasien dan keluarga yang akan menggunakan metode telehealth. Mimpi ini dirasa akan lebih mudah terwujud jika ditunjang dengan kebijakan pemerintah.

Daftar Pustaka

Atzmon, O., (2006). Tele-Cardiology Services in the UK Improve Patient Care and Save Costs, VP Business Development Aerotel Medical Systems _______.(2007).Economic Benefits of e-Technology in Managing Congestive Heart Failure. American Association of Homes and Services for the Aging. Betty A. L., Ellen M., Tang M.J. H. (2006). Home Monitoring of Congestive Heart Failure Patients Proceedings of the 1st Distributed Diagnosis and Home Healthcare. Conference Arlington. Virginia. USA. Benack R.T.(2008).Congestive Heart Failure Conference Arlington. USA. the Patient and the Community,

Chao1, K-M., Anane1, J., Plumley, N., Godwin1, R. (2004). A mobile agent framework for telecardiology, Data and Knowledge Engineering Research Group (DKERG), School of Mathematical and Information Sciences, Coventry University, UK Chetney, R., (2003). Home Care Technology and Telehealth The Future Is HERE, Home Healthcare Nurse vol. 21(10). Maglaveras1, V- N., Koutkias1, S., Meletiadis1, I., Chouvarda1, E-A, (2006). The Role of Wireless Technology in Home Care Delivery, Aristotelian University, The Medical School, Lab of Medical Informatics, 54006 Thessaloniki, Macedonia, GREECE Quaglietti., Atwood, J-E., Ackerman, L., Froelicher, V.(2000). Management of the Patient With Congestive Heart Failure Using Outpatient, Home and Palliative Care, Progress in Cardiovascular Diseases. 43. 259-274 Sawo, D., Cherofsky, N., (2005). Telehealth in adult patients with congestive heart failure in long term home health care: A systematic review. Smeletzer Suzzane ett all,(2008)Brunner & Suddarth Texbook of medical-surgical nursing, 11 th.ed. Lippincott William & Wilkins