Anda di halaman 1dari 15

BAB IV Lembaga-lembaga Peradilan dan Budaya Hukum Indonesia

Bab 4 ini akan mengkaji berbagai pola perubahan sistem hukum Indonesia masa revolusi, dengan tujuan menjelaskan mengapa dan bagaimana fungsi hukum di tanah jajahan itu ditangani oleh lembaga-lembaga yang bercorak lain dengan penanganan fungsi hukum di Negara merdeka. Dan juga akan mengkaji bagaimana lembaga-lembaga peradilan secara umum berkait dengan proses politik dan ekonomi, dan dengan nilai-nilai budaya. Hasil akhirnya akan dipakai sebagai awal penentuan kedudukan lembaga-lembaga hukum dan Negara dan masyarakat Indonesia. Jika pendekatan yang diterapkan disini ternyata sahih, pendekatan tersebut dapat menuntun kea rah generalisasi yang bermanfaat tentang proses-proses hukum dimanapun, setidak-tidaknya di Negara-negara baru dan beberapa ulasan terhadap hasil tersebut akan dibuat dalam bentuk sebuah simpulan singkat. Suatu sistem hukum terdiri dari berbagai proses formal, yang melahirkan lembaga-lembaga formal, bersama-sama dengan proses informal disekelilingnya. Dalam negara modern lembaga sentrl sistem hukum adalah birokrasi, termasuk pula di dalamnya pengadilan. Sumber kekuasaan suatu sistem hukum yang pertama-tama adalah sistem politik yang keabsahannya (atau ketiadaan keabsahannya) meluas ke aturan-aturan substansif yang diterapkan oleh sistem hukum, dan yang organisasi,

tradisi, dan gayanya menentukan seberapa jauh proses hukum tertentu digunakan (atau dapat digunakan) untuk menyelenggarakan pengelolaan sosial untuk mencapai berbagai tujuan bersama. Budaya hukum mempunyai kelebihan mampu menarik perhatian orang terhadap nilai-nilai yang terkait dengan hukum dan proses hukum tetapi secara analitis dapat dibedakan dengan hukum maupun proses hukum, dan sering dinyatakan berdiri sendiri. Unsur budaya hukum yang substansif terdiri dari anggapan dasar mengenai distribusi dan penggunaan sumber daya dalam masyarakat, benar dan salah di segi sosial, dan sebagainya. Karena anggapan-anggapan ini berubah-ubah dari waktu ke waktu, karena masyarakat itu sendiri pun berubah-ubah, konsep budaya hukum substansif memerlukan unsur yang dinamis.

A. Evolusi Tertib Hukum Nasional Sistem hukum nasional tidak terdapat di Indonesia sampai pada saat kekuasaan kolonial Belanda mendirikan negara yang mencakup segenap pulau di Nusantara. Hukum tertulis secara historis lebih merupakan ciri jenis masyarakat yang belakangan daripada masyarakat yang sebelumnya, dan boleh jadi juga lebih perlu, karena organisasi keluarga mengadakan kontrol sosial yang kurang ketat. Dimanapun di Indonesia tradisional hukum tertulis tidak memainkan peranan penting bagi terciptanya keterpaduan sosial. Kohesi (keterpaduan) sosial, pertama-tama tergantung

kepada organisasi kekerabatan atau kepada konsep-konsep status yang sangat maju yang mendukung elite aristokrasi. Islam memperkenalkan tradisi hukum baru ke Nusantara. Hukum Islam tidak pernah diterima dengan bulat dimanapun di dunia, suatu kenyataan yang mengecewakan yang menimbulkan ketegangan dalam pemikiran politik Islam. Dalam tiap kasus hukum, pertama hukum Islam dan kemudian hukum Eropa kontinental, ia menjalankan fungsi sebagai pemberi kepastian dan sebagai simbol, pemberi jenis baru hak yang abash yang dijamin oleh masyarakat melalui mana hak-hak tersebut berguna untuk mengenali jati diri. Pada pertamanya tertib hukum kolonial, seperti halnya tertib sosial, adalah tertib yang majemuk, yang secara diam-diam didasarkan atas anggapan

ketidaksamaan rasial. Sifat demikian, dengan sejumlah perbedaannya, melekat di semua tanah jajahan di jaman penjajahan. Sifat system hukum Hindia Belanda yang mencolok adalah keterkaitannya yang sangat kuat dengan logika internal masyarakat kolonial dan tujuan-tujuannya. Tolak ukur rasial hukum kolonial juga digambarkan oleh fungsi khusus golongan-golongan tertentu. Hubungan antara berbagai golongan hukum diatur oleh himpunan aturan perselisihan (antar golongan) yang sangat pelik. Untuk sebagian besar dari abad ke-sembilan belas orang Belanda yakin bahwa hukum adat Indonesia

banyak didasarkan pada hukum Islam, dan wewenang pengadilan agama Islam juga dianggap meliputi masalah-masalah hukum keluarga yang sangat bermacam ragam. Pengembangan masyarakat hukum Indonesia yang bertingkat nasional yang disini berarti semua fungsi hukum yang terkait dalam sistem hukum lebih erat dikaitkan dengan droit ecrit daripada dengan droit countumier. Pemerintah kolonial pada keyataannya mendasarkan diri pada rule of law suatu istilah yang digunakan menurut makna yang dikemukakan oleh Weber sebagai organisasi negara yang rasional sesuai dengan hukum. Dalam negara yang merdeka, kesemuanya itu lenyap. Struktur pemerintahan yang diwaris oleh negara baru itu secara tegas didasarkan pada konsep-konsep kontrak (perjanjian) dan gagasan yang berkait dengan rule of law, tetapi politik jauh lebih merupakan masalah status. B. Lembaga-lembaga Kemerdekaan : Merasuknya Politik dan Melemahnya Hukum Sistem hukum kolonial mulai berantakan semasa pendudukan Jepang. Terjadilah perubahan semangat hukum tatkala hukum diterapkan oleh pemerintahan militer, dan langkah pertama yang sangat berarti ke arah penyatuan terjadi pada saat itu, antara tahun 1942 dan 1945. Bagi kaum birokrat, Revolusi menjanjikan perbaikan posisi sosial dan ekonomi. Karenanya pegawai negeri, seperti halnya anggota masyarakat yang lain, diorganisasi oleh kementrian untuk mendesakkan tuntutan-tuntutan perbaikan nasib

atau untuk mempertahankan diri terhadap tuntutan-tuntutan dari para pesaing yang mungkin timbul. Di antara perselisihan-perselisihan yang lain, hakim, jaksa, dan polisi mulai bertngkar sebelum revolusi berakhir. Dampak kekacaubalauan persengketaan mengenai sistem hukum formal tersebut bersifat mematikan. Semua sumber daya yang tersedia dimobilisasi oleh kubu yang saling bermusuhan itu. Dengan meluasnya pertentangan politik, alasan logis ekonomi yang terdapat di balik sistem hukum yang diwaris dari kekuasaan kolonial mulai berantakan, dan fungsi ekonomi para pejabat hukum formal terhapus perlahan-lahan atau berubah. Sifat pertikaian politik dan ideologi di masa pasca perang di Indonesia membuat orang jadi jauh lebih sulit untuk melepaskan ikatannya dengan satuan sosial yang lebih kecil dan lebih aman itu. Sebagai akibatnya, bukan hanya alasan logis ekonomi melainkan juga alasan logis sosial dan budaya untuk menopang tertib hukum mulai lenyap. Posisi para ahli hukum, seperti halnya juga posisi sebagian besar kelompok yang berketerampilan di sembarang masyarakat, tergantung kepada seberapa luas nilai-nilai keahlian mereka diterima secara umum oleh subsistem kelembagaan. Gambaran umum permainan politik adalah bahwa politik tidak berjalan sesuai dengan aturan hukum, tetapi berlangsung sesuai dengan aturan pengaruh, uang, keluarga, status sosial, dan kekuasaan militer. Pegawan negeri professional maupun masyarakat hukum formal, keduanya memiliki hubungan yang erat dengan masa kolonial yang silam.

Orientasi para pemimpin politik dan ahli hukum, dilihat dari tipe-tipe sikapnya, sama sekali bertentangan. Pihak yang akan menang adalah pihak yang dapat merebut hati pendukung lebih besar, tidak ada pertanyaan sama sekali tentang hasilnya.

Sistem Peradilan Formal : Upaya Mencari Status dari Hubungan Internal Hakim dan advokat secara bersama-sama merupakan inti masyarakat hukum Indonesia yang berpendidikan. Badan Kejaksaan (prosecution) menampilkan gambaran yang lain dengan kehakiman dan pembelaan (advocacy). Polisi adalah persoalan lain. Angkatan kepolisian yang terorganisasi dan terlatih dengan baik terdapat di tanah jajahan itu, dan dengan datangnya masa pendudukan banyak orang Jawa yang naik ke posisi yang tinggi dalam kepolisian. Pada masa kemerdekaan, regenerasi hakim, jaksa, dan polisi ke dalam posisi yang ditinggalkan oleh pejabat-pejabat Belanda menjadi lebih mudah oleh adanya berbagai macam perubahan hukum: penyatuan sistem pengadilan selama masa pendudukan, penggantian kitab undang-undang hukum acara Eropa (rechts vordering dan strafvordering) dengan HIR yang kini berlaku umum, dan timbulnya tertib yang lain, serta yang terpenting tidak terelakannya penurunan kriteria penerimaan orang ke dalam profesi hukum.

Badan Advokasi dan Sistem Peradilan Di Indonesia, di masa kolonial, seperti halnya di Eropa kontinental dan di berbagai masyarakat lainnya yang aktif di bidang perniagaan, advokat menjadi mata rantai penghubung yang penting antara kegiatan masyarakat swasta dengan system peradilan, sementara dengan datangnya kemerdekaan peranan penghubung ini makin dianggap kurng penting. Pada hakekatnya, advokat terus menerus ditolak sebagai peserta yang absah dalam proses pengadilan. Mereka merupakan ancaman tidak hanya terhadap para hakim dan jaksa yang korup, melainkan juga terhadap para hakim yang tidak memahami hukum dengan baik. Sejauh pelaksanaan dalam hal tugas peradilan untuk membentuk sistem yang dapat dikenal dan teratur, maka sistem ini cenderung menekankan pentingnya hubungan antara hakim dan jaksa dengan tidak menyertakan para advokat. Sama pentingnya, pertentangan antara hakim dan advokat memperlebar jarak yang memisahkan mereka satu sama lain di mana sesungguhnya masing-masing merupakan sekutu dan unsur yang penting dari masyarakat hukum.

Perubahan Politik dan Masyarakat Hukum Formal Kiranya akan dapat diperoleh gambaran terbaik tentang itu dengan memusatkan perhatian kembali kepada pengadilan dan pembelaan dimuka pengadilan, inti formal sistem pengadilan.

Pertama, pemerintahan sipil di negeri itu kurang tertib, pihak pengadilan kurang mendapat dukungan dri negara hukum birokratis. Lebih daripada itu, walaupun kurang penting daripada butir yang terakhir di atas, pengadilan sendiri tergantung pelayanan birokrasi untuk melaksanakan keputusan sepenuhnya dan secara benar, dan disini kadang-kadang martabat pengadilan direndahkan. Kedua, sistem politik tidak mendukung terciptanya pengadilan yang kuat. Tindak politik seringkali keras karena aturan politik belum mntap, dan belum tersedia kekuatan yang cukup di mana pun untuk menegakannya. Ketiga, peranan formal hakim dan pembela, terutama lebih dipahami dalam konteks perekonomian swasta yang kuat, tidak cukup menggambarkan dukungan dari perekonomian. Akhirnya, bersama dengan dukungan politik dan ekonominya yang lemah, struktur peradilan formal Indonesia memperoleh penopang minimum dari sumbersumber sosial dan budaya. Titik berat budaya dalam penyelesaian perselisihan sebaliknya cenderung menjauhkan orang dari pengadilan pemerintah. Penghindaran dari peradilan formal menimbulkan pertanyaan yang sangat penting tentang bagaimana berbagai perselisihan lazimnya ditangani.

Proses dan Semangat Hukum Disemua masyarakat yang kompleks terdapat jarak pemisah antara struktur formal dan prosedur kelembagaan. Di Indonesia seperti halnya di berbagai negara bekas jajahan, ketiadaan keterpaduan seperti itu sangat mencolok. Penyelesaian Perselisihan secara Kekeluargaan (konsiliasi) Sebagian besar Indonesia berada di sisi lain dari kontinum penyelesaian melalui keputusan formal dan penyelesaian secara kekeluargaan. Walaupun hanya sedikit data yang dapat dijumpai untuk mendukung pendapat tersebut, ciri-ciri demikian itu tampaknya lebih banyak terdapat di Jawa dan Bali daripada di sebagian besar Indonesia selebihnya. Gaya penyelesaian perselisihan yang dianjurkan oleh nilai-nilai tersebut adalah gaya yang dalam istilah hukum lebih memperlihatkan prosedur dripada substansinya. Tidak banyak yang perlu dituturkan mengenai proses konsiliasi yang sebenarnya di desa-desa dan kampong-kampung perkotaan Indonesia. Karena pengaruh penting hubungan pribadi dan adanya kepentingan bersama, kadang-kadang lebih menerapkan sesuatu yang dipaksakan daripada sebagai kenyataan-campur tangan pihak luar dalam penyelesaian perselisihan desa akan menimbulkan luka yang dalam. Pengaruh politik dari luar dapat lebih besar lagi, karena hal itu memperlemah kemampuan desa untuk mengatasi perselisihannya sendiri. Desa dapat dibagi

10

pertama-tama menurut garis agama, sosial, dan ekonomi yang akan jadi sulit penyelesaiannya bila perselisihan dipengaruhi oleh unsur-unsur di luar pembagian seperti itu. Konsiliasi dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyelesaikan perselisihan hanya jika pemerintah tidak berkepentingan atas pokok perselisihan, atau tidak mampu berbuat sesuatu untuk menyelesaikannya. Pilihan Yurisdiksi Keikutsertaan pihak luar yang resmi dalam menyelesaikan perselisihan mungkin dikehendaki dan dampaknya semakin sering karena berbagai alasan. Akan tetapi pengadilan negeri, bukan satu-satunya pihak, dan bahkan mungkin juga bukan pihak yang paling penting untuk menyelesaikan perselisihan. Para pejabat pemerintah karenanya memainkan peranan penting dalam penyelesaian perselisihan, bantuan yang seringkali memang sangat berguna apabila konsepsi birokrasi negara sangat kuat. Di bidang peradilan sendiri, adanya pengadilan sekuler dan pengadilan agama secara berdampingan melahirkan masalah wewenang untuk mengadili yang lain. Pihak-pihak yang dirugikan dapat saja menghadap ke pengadilan dalam upaya mereka untuk memperoleh kemungkinan yang lebih baik. Akan tetapi pengertian umum dari kekuatan kekuasaan, status, pengaruh, dan karenanya juga kewenangan terpusat diberbagai tempat.

11

Petani dan Pengadilan : Prokol Bambu sebagai Pialang Hukum Seorang petani yang menghadap ke pengadilan bukannya berhubungan

dengan unsur yang sama sekali tidak dikenalnya atau masuk ke dunia yang baru dan asing, sebagaimana sementara orang menyangkanya demikian. Seperti halnya panitera pengadilan, prokol bambu mempermudah dunia peradilan dapat dipahami oleh para pihak yang berperkara yang belum memperoleh penjelasan dan tidaklah heran bila banyak diantar prokol bambu yang berhasil adalah mantan panitera di pengadilan. Dalam bentuknya kini, prokol bambu mungkin dapat dilacak kembali asal mulanya ke abad kesmbilan belas, yang tumbuh sebagai tanggapan atas kebutuhan akan seorang yang dapat menangani prosedur asing yang diterapkan dalam lembagalembaga yang didominasi oleh pihak asing. Prokol bambu berkembang biak jumlahnya sejak kemerdekaan, sebagian karena semakin banyaknya jumlah perkara dan sebagian karena, seperti para pemintas jalur birokrasi, keahlian mereka banyak diperlukan. Akan tetapi selama terdapat kesenjangan yang dalam antar prosedur formal dengan pengertian orang awam terhadap prosedur itu, pelayanan prokol bambu rasanya tidak kan berakhir sama sekali.

12

C. Substansi : Kedudukan Undang-Undang dan Perubahan Hukum Hukum Indonesia terus menerus mengalami perubahan sejak tahun 1942. akan tetapi system hukum dimasuki makna dan tujuan baru. Perbedaan pentingnya adalah semangat hukum sudah berubah, walaupun bunyinya kadang-kadang masih pro forma. Yang termasuk ke dalam semangat hukum yakni, hal-hal yang merupakan nilai penting, pengertian umum peranan hukum, berbagai proses, struktur, dan hubungan-hubungan dalam negara baru sulit untuk disebutkan. Sejak hukum telah secara formal menjadi kekuatan sosial di Indonesia, kekuatannya sangat diperlemah oleh datangnya revolusi, dan oleh terjadinya pergolakan politik yang menyusul. Lagi pula, isi hukum formal tetap menanggapi perubahan sosial dan politik, dan hukum tetap digunakan secara terbatas untuk mendorong perubahan. Keadilan dan Legalitas Konsepsi keadilan lazimnya dinyatakan dengan tegas manakala orang dihadapkan pada situasi ketidak-adilan. Konsepsi-konsepsi ini dapat dibagi secara analitis kedalam unsur-unsurnya yang bersifat prosedural dan substansif. Unsur yang pertama berkait dengan gaya system hukum; the rule of law dan negara hukum (rechtstaat) adalah konsep-konsep prosedural. Masyarakat yang adil sekurangkurangnya mempunyai ciri tidak ada perselisihan yang tidak dapat diselesaikan, yang pertama-tama diselenggarakan orang-orang yang menjalankan fungsi politik dan

13

sosial yang selayaknya dari kelas-kelas darimana mereka dilahirkan. Dimasa sesudah merdeka tindakan politik mempunyai makna penting dalam pembentukan konsepsi hukum dan keadilan. Pengerahan perasaan keagamaan, kesukuan, dan juga kesadaran kelas tidak memungkinkan keabsahan politik dianggap sebagai sesuatu yang benar, dengan akibat bahwa pencapaian keadilan memperoleh ciri pencarian Ratu Adil. Konsep-konsep keadilan yang bersifat politik tersebut selalu mempersempit konsep keadilan lain yang bersifat prosedural. Namun gagasan hukum nasional dianggap benar sebagai perlengkapan negara yang tidak dapat diganggu gugat. Sekulerisasi Sekulerisasi adalah sebuah tema yang sangat kentara dalam evolusi politik Indonesia yang dapat memperkokoh pengaruh hukum formal. Kerangka hukum negara Indonesia adalah sekuler, walaupun konsepsi-konsepsi politik dan hukum adatnya tidaklah demikian. Meskipun demikian konsepsi hukum sekuler dan peranan-peranan resmi yang merupakan penjabarannya sama cocoknya dengan sifat politik dan sosial kehidupan nasional sebagaimana yang berlaku pada masa kolonial. Penitik beratan pada negara hukum sejak akhir tahun 1965, betapapun lemahnya kontrol hukum, dapat mencerminkan perhatian untuk menyempurnakan suatu medium hubungan politik dan sosial nasional yang lebih bersifat sekuler.

14

Integrasi Dorongan kuat untuk mewujudkan kesatuan merupakan kebijaksanaan yang terus-menerus dianut oleh pemerintah Indonesia dimasa sesudah revolusi. Lembagalembaga warisan masa penjajahan lainnya lebih sulit ditangani karena lembagalembaga itu melayani golongn minorotas; catatan sipil dan balai harta peninggalan (wekamer), misalnya, tidak disukai karena pelayanan khususnya, satu hal yang mengingatkan kepada hak-hak istimewa bagi golongan Eropa, Cina, dan Kristen. Pada tahun-tahun terakhir ini pengadilan juga melangkah lebih jauh dari hukum adat dengan menguji sah tidaknya aturan-aturan hukum perkawinan yang termaktub dalam BW. Perkembangan ini dirangsang oleh adanya pernyataan Mahkamah Agung tahun 1963 bahwa BW untuk selanjutnya hanya dianggap sebgai pedoman hukum adat bagi orang-orang sebelumnya yang tunduk kepada BW. Sekalipun demikian, pengadilan yang lebih rendah, seperti halnya satuansatuan administrasi, dapat dikesampingkan dari kepentingan lokal mungkin akan protes, seperti yang dilakukan oleh para pemimpin. Yang lebih penting adalah bahwa lembaga-lembaga nasional dan pandangan yng didesakkannya sudah tersedia, dan sewaktu-waktu terjadi perubahan sosial besar-besaran, dapat diduga kedua-duanya akan dimanfaatkan dengan kegairahan yang lebih besar. Begitu ia digunakan, lembaga-lembag tersebut mau tidak mau dipengaruhi oleh permintaan yang tertuju kepadanya untuk melayani kepentingan dan nilai-nilai local

15

D. Batas-Batas Hukum Ada tidaknya sIstem hukum dan tekanan budaya yang kuat pada proses hukum saja kurang menjelaskan mutu kehidupan sosial politik. Hal ini tidak menyebabkan hukum jadi kurang menarik sebagai ajang penelitian atau kurang penting artinya sebagai sumber daya sosial yang terpendam, tetapi hal demikian lebih menempatkan hukum pada tempat yang rendah, tidak mandiri dalam kehidupan masyarakat yang menjadi wadahnya. Sumbangan utama ilmuwan sosial terhadap pemahaman mengenai lembagalembaga hukum pertama-tama bertolak dari persepektif yang lebih luas yang ia terapkan pada hukumnya karena hal ini dikaitkan dengan landasan penting kekuasaan politik, perilaku ekonomi, struktur sosial, dan kebudayaan. Hubungan-hubungan ini tidak dapat lebih jelas diamati selain di negara-negara baru, yang lembaga-lembaga hukum warisan masa silamnya dipaksa menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang bgerubah secara mendasar