Anda di halaman 1dari 11

1

Mata, Persepsi, Ruang


Manusia diciptakan dengan memiliki dua buah bola mata. Dengan adanya dua mata tersebut, manusia mampu merasakan pengalaman ruang berdasar jarak. Dengan dua mata manusia mampu merasakan jarak, mampu menentukan posisi objek yang berada dalam wilayah pandang secara presisi. Dengan kedua mata ini pun manusia mampu merekam dan berkarya. Namun terdapat suatu batasan dalam berkarya yang memaksa manusia untuk berinovasi, apakah? Berkarya, merupakan suatu bentuk penuangan rekaman imajinasi dan rekaman penglihatan yang nyata. Mungkin kata berkarya terlalu luas maknanya, bisa jadi berbagai bidang mulai dari karya seni; seni musik, seni lukis, seni patung, karya tulis, karya fotografi, hingga karya arsitektur. Agar pembahasan lebih sempit, fokus pembahasan akan diarahkan pada karya-karya dua-dimensi. Seperti karya seni lukis, karya cetak, dan fotografi. Seperti yang sudah dijelaskan di bagian awal tulisan ini, manusia mampu mengalami ruang, mampu mengenali jarak, jauh-dekat, posisi, dan sebagainya dengan dua buah mata yang dimiliki. Kemampuan ini cenderung ditranslasikan dalam kata tiga-dimensi. Pengalaman seperti itu adalah suatu halangan ketika harus direkam dan dituangkan pada suatu media dua-dimensi. Yang mana hanya dapat dinikmati dari satu sisi. Lain halnya dengan karya tiga-dimensi seperti karya patung atau karya musik yang mampu menuangkan suatu pengalaman sesuai dengan apa yang direkam dan dialami oleh pembuat karya dan dapat dinikmati dari berbagai sisi. Lalu, mengapa harus bertahan pada karya dua-dimensi?

Contoh karya dua-dimensi; lukisan (atas), dan foto tragedi 98 (bawah)

Karena efisien. Baik dari segi biaya pembuatan, penggunaan material, hingga ruang yang dibutuhkan untuk penyimpanan. Dibandingkan dengan karya-karya seperti karya patung, penggunaan material cenderung lebih sedikit karena keterbatasan karya itu sendiri yang hanya bisa dinikmati dari satu sisi. Hal ini kemudian berimbas pada efisiensi biaya. Sedangkan efisiensi terhadap ruang, tentu sudah jelas lebih baik jika dibandingkan karya tiga-dimensi lain apalagi karya arsitektur yang jelas-jelas merupakan karya skala manusia dan memiliki kemampuan untuk dimasuki manusia. Karenanya manusia memaksa diri untuk berinovasi agar pengalaman ruang atau pengalaman tiga-dimensi tersebut dapat dituangkan dalam media dua-dimensi.

Perbandingan pemakaian ruang karya dua-dimensi, tiga-dimensi, dan arsitektur

Cara paling tradisional yang dilakukan manusia untuk menimbulkan persepsi ruang atau persepsi tiga-dimensi adalah menggunakan teknik yang disebut perspektif. Dalam teknik ini, manusia bergantung pada ilmu matematika. Untuk menimbulkan persepsi jauh dekat, dilakukan pengukuran-pengukuran hingga didapat besar kecil suatu objek yang terlihat sesuai dengan jarak dan posisinya terhadap mata pembuat karya. Meski paling tradisional, teknik ini masih digunakan terutama untuk merepresentasikan ide di bidang arsitektur meskipun di masa sekarang teknik ini sudah berkembang, yaitu dengan menggunakan perhitungan komputer untuk mendapatkan karya dua-dimensi dengan pengalaman jarak yang sesuai dengan yang sebenarnya.

Cara berikutnya adalah teknik

yang sedang berkembang dengan sangat pesat dan sedang sangat hangat dibicarakan; pencitraan tiga dimensi, lebih spesifik lagi biasa disebut stereoscopic-3d. Teknik ini bekerja pada dasarnya dengan cara menggabungkan dua gambar atau foto sama akan tetapi diambil pada sudut yang sedikit berbeda. Biasanya disesuaikan dengan sudut mata. Tiap gambar menjadi representasi rekaman salah satu mata. Karenanya gambar yang digunakan adalah dua. Sebelum mencapai teknik pencitraan tiga-dimensi menggunakan monitor LED seperti yang ada sekarang, teknik ini lahir sebagai suatu teknik cetak yang menggabungkan dua gambar. Dimana kedua gambar tersebut diletakkan berhimpitan satu dengan lainnya, dan dicetak menggunakan warna kontras. Teknik ini biasa disebut anaglyph-3d. Untuk dapat melihat gambar yang menimbulkan persepsi tiga-dimensi, harus ada perantara yang mengolah gambar tersebut hingga diterima mata, pada kasus ini sebuah kacamata berwarna. Kacamata ini yang kemudian menipu mata sehingga kedua mata menerima gambar yang berbeda masing-masingnya, dan secara otomatis otak mampu menafsirkan persepsi jarak dan posisi pada karya dua-dimensi tersebut.

Gambar ini dapat dilihat secara tiga dimensi menggunakan kacamata anaglyph

Anaglyph-3d ini pun kemudian berkembang menjadi pencitraan tigadimensi menggunakan kacamata terpolarisasi. Teknik ini hingga sekarang masih digunakan untuk menampilkan persepsi tiga-dimensi pada film-film di bioskop. Cara kerjanya pada dasarnya sama dengan stereoscopic-3d lainnya, yang berbeda adalah untuk menampilkan dua gambar berbedanya menggunakan proyektor film yang menembakkan dua film yang berbeda gelombang. Kemudian menggunakan kacamata terpolarisasi untuk menyaring kedua film tersebut ke masing-masing mata, tiap film mewakili salah satu mata. Pencitraan tiga-dimensi terpolarisasi ini lebih nyaman digunakan karena tidak seperti anaglyph-3d yang mengeluarkan gambar yang berwarna kemerah-biruan (atau hijaumagenta), teknik ini mampu mengeluarkan warna yang tidak terbatas. Stereoscopic-3d terus berkembang hingga menjadi salah satu fitur standar pada televisi rumah. Cara kerja pencitraan tiga-dimensi pada televisi rumah sedikit berbeda dengan yang ada pada bioskop (tiga-dimensi terpolarisasi), ada dua cara yang sampai sekarang secara umum digunakan yaitu menggunakan shutter dan teknik yang mirip polarisasi. Teknik polarisasi, biasa disebut passive-3d, mungkin sama dengan yang ada di bioskop, yang berbeda hanyalah bagaimana gambar ditampilkan. Jika pada bioskop menggunakan dua proyektor, pada televisi menggunakan LED dan untuk menampilkan dua gambar secara berdampingan menggunakan frekuensi berbeda pada masing-masing gambar, yang kemudian disaring menggunakan kacamata terpolarisasi. Sedangkan teknik yang menggunakan shutter, biasa disebut active-shutter-3d, layar televisi menampilkan dua gambar yang bergantian secara sangat cepat. Kemudian kacamata akan menyaring dengan cara menutup salah satu mata ketika salah satu gambar muncul, bergantian terus kiri-kanan sesuai dengan gambar yang dimunculkan. Sesuai namanya, menggunakan shutter atau penutup. Kacamata yang digunakan harus memiliki sumber daya sendiri baik menggunakan baterai atau menggunakan kabel yang terhubung soket listrik.

Teknik-teknik di atas adalah metode pencitraan tiga-dimensi yang sering digunakan untuk gambar bergerak atau video. Bagaimana dengan percetakan? Bagaimana jika tanpa perantara atau kacamata? Manusia butuh yang praktis, bukan?

Lenti-kular
Manusia saat ini sudah mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, metode yang dapat menciptakan citra tiga-dimensi tanpa harus menggunakan kacamata sebagai perantara, tipis tidak menghabiskan ruang seperti proyektor bioskop ataupun televisi; teknik cetak lentikular.

Lenticular-printing atau teknik cetak lentikular merupakan teknik cetak yang sebenarnya sudah berusia cukup tua. Pertama kali ada di sekitar tahun 1940. Teknik cetak ini dimasa kecilnya digunakan untuk menampilkan dua gambar berbeda, yang berubah ketika dilihat dari sisi berbeda. Ketika itu hal ini merupakan suatu penemuan yang sangat mutakhir, karena mampu membuat suatu gambar berubah pada satu media yang sama, dengan hanya berpindah posisi melihatnya. Teknik ini pun berkembang menjadi suatu media untuk menampilkan gambar bergerak. Karena teknik ini tidak hanya mampu menampilkan dua gambar berbeda, akan tetapi mampu menampilkan hingga enam gambar berbeda. Lenticular-printing hingga kini masih digunakan sebagai suatu media iklan, halaman depan buku dan majalah, hingga suvenir atau bonus dari makanan kemasan seperti sereal untuk anak-anak.

Terkait dengan pencitraan tiga-dimensi, teknik ini mampu menciptakan gambar dengan persepsi kedalaman yang lebih baik dibandingkan teknik-teknik pada stereoscopic-3d. Karena seperti yang sudah disebutkan sebelumnya teknik ini mampu menampilkan hingga 6 gambar berbeda. Sehingga persepsi jarak, kedalaman, dan posisi akan lebih baik daripada stereoscopic-3d yang hanya mampu menampilkan dua gambar secara bersamaan.

Bagaimana cara kerja teknik cetak lentikular? Produk dari teknik ini terdiri dari dua bagian yang berhimpit satu sama lain, karenanya lebih baik kita sebut dua lapisan. Lapisan pertama merupakan lapisan yang merupakan gambar yang akan dijadikan citra tiga-dimensi. Gambar ini merupakan gambar yang telah diiris-iris sehingga dapat ditumpuk satu sama lain. Lapisan kedua adalah lapisan yang disebut lensa lentikular. Lapisan ini biasa terbuat dari material plastik. Lapisan ini yang nantinya menyaring gambar-gambar tersebut sehingga dapat menimbulkan persepsi tiga-dimensi bagi mata. Ketika dilihat dari sisi berbeda, lensa ini bertugas memberi gambar sesuai sudut penglihatan.

Metode ini kemudian juga diterapkan pada layar monitor untuk menciptakan citra tiga-dimensi tanpa harus menggunakan kacamata. Dengan mengganti media yang dicetak menjadi monitor sebagai media tempat meletakkan gambar, gambar yang dihasilkan pun dapat menjadi citra tiga-dimensi yang bergerak (video). Sayangnya penerapan ini masih dalam tahap pengembangan karena biaya yang terlalu mahal untuk menjadi barang produksi masal.

Graffiti dan pesan


Dua gambar menjadi satu, beda sisi beda gambar, beda gambar beda pesan. Inilah yang menjadi fokus penerapan metode-metode yang sudah dijelaskan di bagian sebelumnya. Metode lentikular dan stereoscopic dapat diterapkan pada karya mural atau gambar dinding. Karya mural yang biasa disebut sebagai graffiti merupakan media penyampaian aspirasi yang tidak mungkin atau tidak sampai dipesankan oleh media massa. Meski sering dianggap sebagai suatu bentuk tindakan yang anarki atau merusak, namun tindakan ini merupakan metode yang efektif untuk menyampaikan pesan dan aspirasi masyarakat. Yang unik adalah, karya-karya mural cenderung mengandung unsur estetis dan eye-catching. Sehingga ketika diarahkan, karya ini akan menjadi ornamen urban yang indah. Sebuah ornamen yang memiliki fungsi penyampai pesan. Bagaimana penerapannya? Graffiti atau karya mural biasanya hanya dapat dinikmati dari satu sisi; sisi depan dari karya. Padahal kenyataannya karya-karya mural ini dilihat sambil lalu. Karena biasanya graffiti terletak di pinggir jalan, sehingga penikmat graffiti pejalan kaki maupun pengendaratidak dapat menikmati karya ini secara sebenarnya. Teknik lentikular akan menjadi solusi menikmati graffiti secara sebenarnya. Karena itu penerapan ini saya sebut Lenti-cool-lar.

10

Keren. Karya mural dibagi menjadi bagian-bagian yang kecil, menjadi bilah-bilah gambar. Kemudian dibuat pada bilah-bilah yang disusun miring secara berdampingan.

Dengan demikian karya mural yang biasanya hanya dapat dinikmati ketika diam di depan karya, kini dapat dinikmati secara maksimal sambil berjalan. Apakah harus membuat bilah-bilah gambar? Tentu tidak. Pembuat karya dapat memanfaatkan pintu-pintu toko berjenis pintu harmonika. Selain sebagai penyampai pesan aspirasi, tentunya ketika memanfaatkan pintu toko, media ini sekaligus dapat menjadi media iklan yang efektif karena langsung dapat dinikmati sambil lalu. Bahkan pagar pun dapat digunakan sebagai media lenti-cool-lar ini. Penerapan metode ini dapat dilakukan secara skala besar. Sebagai media iklan di suatu jalan raya atau jalan tol. Atau dapan menjadi gerbang kota, penyambut warga yang keluar kota tersebut maupun pengunjung yang datang ke kota tersebut. Kemungkinan penerapan sangat luas. The possibilities is endless.