Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan mengatur tentang standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan. Dalam aturan tersebut ditetapkan pula kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kalender pendidikan/akademik yang berlaku dalam satu tahun pelajaran. Pendidikan juga dapat dipandang sebagai kegiatan antisipatoris di masa depan. Artinya, semua kegiatan tersebut untuk menyongsong perkembanganperkembangan yang diperhitungkan akan terjadi di masa depan (Buchori, 1994: 44). Sementara masa depan yang akan dihadapi peserta didik penuh dengan tantangan dan persaingan yang semakin kompleks dengan semakin canggihnya IPTEK. Oleh karena itu seorang guru dituntut untuk mengembangkan diri dan mengoptimalkan profesionalitas secara memadai dengan mengembangkan disiplin kerja, dan motivasi kerja yang dapat dicontoh peserta didiknya. Selain tersebut di atas seorang pendidik juga dituntut untuk dapat menciptakan kondisi baru, memotivasi diri dan mengembangkan diri di dalam kehidupan yang berbasis pengetahuan, hingga dapat menghasilkan pengetahuan yang bermakna (useful meaning). Dalam menciptakan pengetahuan yang bermakna (useful meaning

knowledge) seorang guru harus mengembangkan diri melalui disiplin kerja, dan motivasi kerja yang seimbang dalam pencapaian kinerja yang profesional. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, serta menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat, terutama bagi pendidikan di Perguruan Tinggi (UU No. 20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2: 22). Namun dalam satuan pendidikan luar biasa tenaga kependidikan terdiri atas tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan, pengawas, peneliti dan pengembang di bidang pendidikan, pustakawan, laboran dan teknisi sumber belajar (PP 72 Tahun 1991 Pasal 20 ayat 1). Adapun tugas utama guru adalah mengajar, membimbing dan melatih peserta didik serta menilai hasil pembelajaran. Untuk itu, guru merupakan salah satu komponen pendidikan yang mempunyai peranan dalam proses peningkatan mutu pendidikan serta menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan. Mengajar bukanlah suatu hal yang mudah karena merupakan proses kegiatan yang sangat kompleks. Mengajar perlu direncanakan dengan baik agar mencapai tujuan yang ditetapkan, pelaksanaannya harus ditunjang oleh kemampuan guru dalam menetapkan strategi yang efektif, hasilnya perlu dievaluasi secara obyektif. Di samping mengajar, salah satu masalah yang menuntut perhatian guru di sekolah adalah masalah disiplin kerja. Oleh karena itu, kemampuan profesional dan disiplin kerja seorang guru mempengaruhi pencapaian tujuan pendidikan. Disiplin kerja seorang guru mempunyai pengaruh besar terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Hal ini

ditegaskan dalam GBHN (1993: 97) bahwa salah satu ciri tenaga kerja yang berkualitas adalah disiplin, yang berarti setiap tenaga pelaksana termasuk guruguru di Sekolah Luar Biasa Negeri Kota Bengkulu (selanjutnya disebut SLB Negeri Kota Bengkulu) harus mempunyai disiplin dalam melaksanakan tugasnya. Sementara disiplin kerja guru dilihat sebagai satu hal yang penting dalam mencapai tujuan pengajaran, tampaknya banyak kesenjangan di lapangan, khususnya yang dihadapi oleh guru-guru di SLB Negeri Kota Bengkulu. Pengamatan sementara peneliti melihat banyak guru yang berprestasi, namun tidak sedikit guru yang bekerja tanpa adanya motivasi dan disiplin kerja yang memadai. Hal ini akan memberikan dampak terhadap tugas guru-guru menciptakan disiplin kerjanya dalam mengemban tugas. Di samping itu, juga guru-guru di SLB Negeri Kota Bengkulu mempunyai perasaan positif dan negatif terhadap fungsi dan tugasnya. Dimana perasaan positif tersebut muncul karena adanya respon yang diberikan itu memberikan kepuasan pada guru yang bersangkutan, sedangkan munculnya perasaan negatif guru, karena respon yang diberikan itu tidak memberi kepuasan bagi guru tersebut, terhadap faktor-faktor yang berkaitan dengan pekerjaannya. Salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja guru adalah supervisi yang dilakukan kepala sekolah. Hal ini dijelaskan oleh Ubben dan Hughes yang menyatakan bahwa "principals could create a school climate that improves the productivity of both staff and students and that the leadership style of the principal can foster or restrict teacher effectiveness" (Kelley, et al., 2005: 19).

Supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Supervisi mempunyai peran mengoptimalkan tanggung jawab dan semua program. Supervisi bersangkut paut dengan semua upaya penelitian yang bertujuan pada aspek yang merupakan faktor penentu keberhasilan. Dengan mengetahui kondisi aspek-aspek tersebut secara rinci dan akurat, dapat diketahui dengan tepat pula apa yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas organisasi yang bersangkutan. Supervisi akademik adalah segenap rangkaian kegiatan untuk membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran dengan esensi bahwa kegiatan supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru, walaupun kegiatan ini memang tidak bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam pengelola pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan

profesionalismenya. Kegiatan supervisi atau pengawasan sekolah pasti harus diawali dengan penyusunan program kerja. Dengan adanya program kerja maka kegiatan kepengawasan dapat terarah dan memiliki sasaran serta target yang jelas. Segala aktivitas pengawasan termasuk ruang lingkup, output yang diharapkan serta jadwal pengawasan dituangkan dalam program yang disusun. Hal ini sekaligus menjadi dasar acuan dan pertanggung jawaban kepala sekolah dalam bekerja. Sebagai seorang supervisor atau pengawas pendidikan kepala sekolah haruslah memahami prinsip-prinsip kepengawasan agar dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi atau tupoksi-nya sebagai supervisor atau pengawas dapat

mencapai tujuan pengawasan sesuai yang diharapkan, Masruri, dkk. (2002: 21) menyebutkan prinsip umum supervisi yang meliputi: (1) supervisi merupakan bagian terpadu dari program pendidikan yang berbentuk kerja sama dan kelompok; (2) seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah membutuhkan serta terkait dengan supervisi. Oleh karena itu supervisi hendaknya memberi keuntungan bagi seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam pengembangan proses pembelajaran, serta pelaksanaan administrasi sekolah yang mendukungnya; (3) supervisi hendaknya membantu menjelaskan tujuan dan sasaran pendidikan dan membimbing implementasinya dalam pembelajaran, yang didukung dengan administrasi yang memadai; (4) supervisi hendaknya membantu sikap dan hubungan manusiawi antar staf sekolah dan mendorong berkembangnya hubungan masyarakat yang lebih efektif; (5) supervisi hendaknya membantu pula dalam menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler; (6) dalam supervisi diperlukan rencana jangka panjang maupun jangka pendek, yang dalam penyusunannya melibatkan personalia sekolah, pengawas, dan pihak lain yang terkait; (7) pengawas hendaknya mampu menafsirkan dan mempraktikkan hasil penemuan riset pendidikan dan pembaharuan dan mengitroduksikan kepada sekolah; dan (8) efektivitas program supervisi hendaknya mendapat penilaian dari mereka yang terkait/terlibat dalam kegiatan supervisi, seperti guru, bukan hanya oleh atasan kepala sekolah. Untuk dapat menyusun program pengawasan dengan baik, seorang supervisor perlu memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai lingkup tugasnya, menguasai prosedur penyusunan program kerja, serta kemampuan berpikir sistematis untuk merancang program dan kegiatan yang akan

dilaksanakan sehingga produktif dan memberi kontribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan. Ragam kegiatan dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi kepala sekolah sebagai supervisor meliputi: (1) pelaksanaan analisis kebutuhan; (2) penyusunan program kerja supervisi sekolah; (3) penilaian kinerja guru, dan kinerja tenaga kependidikan lain (TU, Laboran, dan pustakawan); (4) pembinaan guru, dan tenaga kependidikan lain; (5) supervisi kegiatan sekolah serta sumber daya pendidikan yang meliputi sarana belajar, prasarana pendidikan, biaya, dan lingkungan sekolah; (6) pengolahan dan analisis data hasil penilaian, pemantauan, dan pembinaan; (7) evaluasi proses dan hasil pengawasan; (8) penyusunan laporan hasil supervisi/pengawasan; dan (9) tindak lanjut hasil pengawasan untuk pengawasan berikutnya. Namun dari hasil uji kompetensi di beberapa daerah menunjukkan kompetensi pengawas sekolah masih perlu ditingkatkan terutama dimensi kompetensi supervisi manajerial, supervisi akademik, dan evaluasi pendidikan (Depdiknas, 2008: 11). Program pengawasan atau supervisi sekolah adalah rencana kegiatan pengawasan yang akan dilaksanakan oleh kepala sekolah dalam kurun waktu atau satu periode tertentu. Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, kepala sekolah harus mengawali kegiatannya dengan menyusun program kerja pengawasan yang jelas, terarah, dan berkesinambungan dengan kegiatan pengawasan yang telah dilakukan pada periode sebelumnya. Dalam konteks manajemen, program kerja pengawasan sekolah

mengandung makna sebagai aplikasi fungsi perencanaan dalam bidang pengawasan sekolah. Dari aspek manajemen, khususnya fungsi kepengawasan,

maka fungsi pengawasan sangat berperan karena mengingat beberapa hal penting yaitu: (1) masa transisi yang kini masih berjalan, perubahan dari paradigma lama (sentralisasi) menuju paradigma baru (otonomi) yang membutuhkan pemusatan tenaga dan pikiran, bagaimana agar perubahan tersebut berlangsung mulus; (2) masa transisi memerlukan sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi di segala bidang manajemen, khususnya bidang manajemen pendidikan; dan (3) masa transisi memerlukan sumber dana yang sangat besar dan pengelolaan dana yang besar itu membutuhkan pertanggungjawaban dan akuntabilitas terhadap masyarakat dan orang tua peserta didik. Kepala sekolah selaku supervisor pendidikan memiliki fungsi

mengarahkan, membimbing dan mengawasi seluruh kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan guru yang didukung oleh tenaga administrasi di sekolah. Kepala sekolah hendaknya melakukan pengamatan yang berkelanjutan tentang kondisi-kondisi dan sikap-sikap di kelas, di ruangan guru, di ruang tata usaha dan pada pertemuan-pertemuan staf pengajar. Ini dimaksudkan untuk memberikan bantuan pemecahan atas kesulitan-kesulitan yang dialami guru serta melakukan perbaikan-perbaikan baik langsung maupun tidak langsung mengenai kekurangan-kekurangannya. Sehingga secara bertahap kualitas dan produktivitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh staf kepala sekolah, guru di kelas, kinerja wali kelas, dan tata usaha akan menjadi semakin baik secara berkelanjutan. Supervisi akademik terkait dengan tugas pembinaan guru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah terhadap guru sangat penting dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui proses pembelajaran yang baik. Dengan demikian, esensi supervisi akademik bukan menilai kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan profesionalismenya. Sardiman (2005: 125) mengemukakan bahwa guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru yang merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam hal ini guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik yang melakukan transfer nilai-nilai sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar. Dalam kultur masyarakat Indonesia sampai saat ini pekerjaan guru masih cukup tertutup. Bahkan atasan guru seperti kepala sekolah dan pengawas sekalipun tidak mudah untuk mendapatkan data dan mengamati realitas keseharian performance guru di hadapan siswa. Memang program kunjungan kelas oleh kepala sekolah, tidak mungkin ditolak oleh guru. Akan tetapi tidak jarang terjadi guru berusaha menampakkan kinerja terbaiknya baik pada aspek perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran hanya pada saat disupervisi atau

dikunjungi, kadang tanpa persiapan yang matang serta tanpa semangat dan antusiasme yang tinggi (Depdiknas, 2008 : 1). Dengan kemampuan profesional supervisi akademik, kepala sekolah diharapkan dapat menyusun program sekolah yang efektif, menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan membangun unjuk kerja personel sekolah serta dapat membimbing guru melaksanakan proses pembelajaran. Di sekolah, kepala sekolah senantiasa berinteraksi dengan guru bawahannya, memonitor dan menilai kegiatan mereka sehari-hari. Rendahnya kinerja guru akan berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas yang pada gilirannya akan berpengaruh pula terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Rendahnya kinerja guru harus diidentifikasi penyebabnya. Supervisi akademik yang baik harus mampu membuat guru semakin kompeten, yaitu guru semakin menguasai kompetensi, baik kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Dengan adanya pelaksanaan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah diharapkan memberi dampak terhadap terbentuknya sikap profesional guru. Sikap profesional guru merupakan hal yang amat berpengaruh pada perilaku dan aktivitas keseharian guru. Perilaku profesional akan lebih diwujudkan dalam diri guru, apabila institusi tempat ia bekerja memberi perhatian lebih banyak pada pembinaan, pembentukan dan pengembangan sikap profesional 215). Kinerja guru akan menjadi optimal, bilamana diintegrasikan dengan komponen sekolah baik kepala sekolah, iklim sekolah, guru, karyawan, maupun (Euis 2013 :

10

anak didik. Pidarta dalam Saerozi (2005: 2) mengemukakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya yaitu : (1) Kepemimpinan kepala sekolah; (2) Iklim sekolah; (3) Harapan-harapan, dan (4) Kepercayaan personalia sekolah. Dalam pelaksanaan tugasnya mendidik, guru memiliki sifat dan perilaku yang berbeda, ada yang bersemangat dan penuh tanggung jawab, juga ada guru yang dalam melakukan pekerjaan itu tanpa dilandasi rasa tanggung jawab, selain itu juga ada guru yang sering membolos, datang tidak tepat pada waktunya dan tidak mematuhi perintah. Kondisi guru seperti itulah yang menjadi permasalahan disetiap lembaga pendidikan formal. Dengan adanya guru yang mempunyai kinerja rendah, sekolah akan sulit untuk mencapai hasil seperti yang diharapkan. Kepala sekolah sebagai seorang manager dalam organisasi tingkat sekolah memiliki kewenangan dalam mengontrol kinerja guru di dalam satuan pendidikan, salah satu kewenangan dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan adalah dengan melakukan supervisi kepada tenaga kependidikan di lingkungan yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan mengadakan supervisi kepada setiap guru maka diharapkan seorang guru dapat bekerja secara maksimal dan profesional di dalam belajar mengajar. SLB Negeri Kota Bengkulu merupakan lembaga pendidikan formal yang ditujukan kepada peserta didik yang mengalami kelainan, baik kelainan fisik, mental-inteligensi, sosial, emosi, serta komunikasi di jenjang pendidikan SDLB, SMPLB dan SMKLB. Perkembangan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang mengalami kelainan terus berkembang seiring dengan perkembangan

11

ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mendorong lahirnya berbagai kebijakan pemerintah khususnya dalam bidang pendidikan. Perkembangan atau perubahan istilah Anak Luar Biasa (ALB) seiring dengan perubahan peraturan pemerintah tentang pendidikan nasional khususnya Pendidikan Luar Biasa (PLB). Kenyataannya kualitas sumber daya manusia yang ada sekarang relatif lebih rendah. Melalui sistem pendidikan yang baru melalui peningkatan kinerja guru diharapkan dapat membangkitkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di pasar global. Berdasarkan kajian teoritis sebagaimana terdeskripsi di atas, ada beberapa alasan yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian ini. Pertama, kemajuan di bidang pendidikan khususnya di Sekolah Luar Biasa membutuhkan administrator pendidikan yang mampu mengelola satuan pendidikan dan mampu meningkatkan kinerja guru dalam mencapai tujuan pendidikan. Kedua, persepsi masyarakat selama ini memposisikan guru sebagai kunci utama keberhasilan atau kegagalan pendidikan. Padahal, seorang guru hanyalah salah satu komponen dalam satuan pendidikan di sekolah. Di samping guru, kepala sekolah adalah pihak yang memegang peranan tidak kalah penting. Ketiga, kajian empiris dengan tema ini menarik untuk dilakukan mengingat perkembangan ilmu dan teori manajemen, khususnya manajemen pendidikan, yang berjalan dengan pesat. Berdasarkan uraian di atas peneliti akan meneliti tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Guru di SLB Negeri Kota Bengkulu.

12

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah umum penelitian ini adalah bagaimana supervisi akademik kepala SLB Negeri Kota Bengkulu. Rumusan masalah khusus penelitian ini: 1. Bagaimanakah kepala sekolah menyusun program supervisi akademik ? 2. Bagaimanakah kepala sekolah melaksanakan supervisi akademik ? 3. Bagaimanakah kepala sekolah monitoring dan evaluasi supervisi akademik ? 4. Apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat dalam melaksanakan supervisi akademik ? 5. Bagaimana upaya mengatasi faktor penghambat dalam supervisi akademik ?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan supervisi akademik kepala SLB Negeri Kota Bengkulu.

2. Tujuan Khusus Tujuan khusus penelitian ini untuk mendeskripsikan: 1. Penyusunan program supervisi akademik kepala sekolah. 2. Pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah. 3. Monitoring dan evaluasi supervisi akademik. 4. Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam supervisi akademik. 5. Upaya mengatasi rendahnya kinerja guru di SLB Negeri Kota Bengkulu.

13

D. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk: 1. Manfaat teoritis, dapat memberikan informasi kepada dunia pendidikan di kota Bengkulu khususnya kepala sekolah mengenai supervisi akademik, serta memberikan informasi dan gambaran mengenai kepala sekolah dalam supervisi akademik pada perencanaan, pelaksanaan,

pengorganisasian, monitoring dan evaluasi. 2. Manfaat praktis, diharapkan dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah dalam mengelola supervisi akademik, mengidentifikasi faktor penghambat dan faktor pendukung dalam supervisi akademik oleh kepala sekolah serta memberikan solusi cara mengatasi hambatan tersebut.

E. Ruang Lingkup Masalah Dari sejumlah permasalahan yang dikemukakan di atas, maka pembahasan dalam penelitian ini dibatasi mengenai supervisi akademik kepala sekolah di SLB Negeri Kota Bengkulu yang mencakup: 1. Penyusunan program supervisi akademik kepala sekolah. 2. Pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah. 3. Monitoring dan evaluasi supervisi akademik. 4. Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam supervisi akademik. 5. Upaya mengatasi rendahnya kinerja guru di SLB Negeri Kota Bengkulu.

14

F. Definisi Konsep a. Supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. b. Kepala sekolah adalah salah satu pemimpin pendidikan yang memiliki cakupan bidang tugas dalam bidang manajerial, supervisi dan

kewirausahaan. Kepala sekolah juga merupakan pejabat profesional dalam organisasi sekolah yang mengatur semua sumber daya yang memiliki peran dan tanggung jawab sebagai manajer pendidikan, pemimpin pendidikan, supervisor pendidikan, administrator pendidikan serta sebagai pendidik, motivator dan inovator di sekolah. c. Supervisi kepala sekolah merupakan segala tindakan dan usaha seorang kepala sekolah yang telah direncanakan dan berbentuk pengawasan terhadap komponen sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. d. Supervisi akademik adalah segenap rangkaian kegiatan untuk membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran dengan esensi bahwa kegiatan supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru, walaupun kegiatan ini memang tidak bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran, melainkan membantu guru

mengembangkan kemampuan profesionalismenya. Supervisi akademik merupakan kegiatan terencana yang ditujukan pada aspek kualitatif sekolah

15

dengan membantu guru melalui dukungan dan evaluasi pada proses belajar dan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar, artinya supervisi akademik adalah supervisi yang esensinya berkenaan dengan tugas kepala sekolah untuk membina guru dalam meningkatkan mutu pembelajarannya, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. e. Evaluasi adalah merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil pelaksanaan dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya. Evaluasi kemudian akan tersedia informasi mengenai sejauh mana suatu kegiatan tertentu telah dicapai sehin ga bisa diketahui bila terdapat selisih antara standar yang telah ditetapkan dengan hasil yang bisa dicapai. Evaluasi supervisi kepala sekolah adalah penilaian yang dilakukan kepala sekolah terhadap kinerja guru. f. Kinerja guru adalah wujud perilaku guru yang direfleksikan pada kegiatan guru dalam proses pembelajaran yaitu bagaimana seorang guru

merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan menilai hasil belajar dan berhubungan dengan kualitas guru dalam menjalankan tugasnya seperti; (1) bekerja dengan siswa secara individual, (2) persiapan dan perencanaan pembelajaran, (3) pendayagunaan media pembelajaran, (4) melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman belajar, dan (5) kepemimpinan yang aktif dari guru.