Anda di halaman 1dari 13

A. Definisi Tuberkolosis (TBC) merupakan infeksi Mycobacterium tuberculosis ( batang tahan asamalkohol/ acid alcohol-fast bacillus / AAFB).

Infeksi Mycobacterium tuberculosis terutama mengenai paru, kelenjar getah bening, dan usus ( Rubenstein, D.2005). Sindrom-Sindrom TBC Tuberkolisis Primer merupakan sindrom yang disebabkan oleh infeksi M.tuberkolisis pada pasien non sensitive, yaitu mereka yang sebelumnya belum pernah terinfeksi. Respon radang ringan pada tempat infeksi (subpleura pada bagian tengah paru, dalam faring atau di ileum terminal), diikuti penyebaran ke kelenjar getah bening regional (hilus, servikal, dan mesenterika). Satu atau dua minggu setelah infeksi, terjadi onset sensitivitas tuberculin.Onset ini menyebabkan adanya perubahan reakasi jaringan pada focus dan pada kelenjar getah bening, menjadi bentuk granuloma kaseosa yang khas.Pasien biasanya tanpa gejala. Sindrom ini akan mengalami penyembuhan dengan fibrosis, dan seringkali timbul klasifikasi tanpa pemberian terapi. Kelenjar getah bening yang membesar bias tampak jelas di leher atau menyebabkan obstruksi bronkus yang mengakibatkan kolaps-konsolidasi. Tuberkolisis Postprimer merupakan sindrom yang disebabkan oleh infeksi M. tuberkolosis pada pasien yang pernah terinfeksi dan oleh karenanya pasien sensitive terhadap tuberculin. Sindrom ini mengakibatkan reinfeksi yang diikuti respons granulomatosa singkat segera yang cenderung menunjukkan tempat penyakit dan jarang mengenai kelenjar getah bening regional. Sindrom ini kemungkinan dapat 1.) sembuh dengan fibrosis ; 2.) rupture ke dalam bronkus dan menyebabkan bronkopneumonia tuberkolisus ; 3.) menyebar melalui darah dan menyababkan tuberculosis miier pada hati , limpa, paru, koroid, tulang dan/atay meningen. B. Keluhan utama pasien TBC Gejala timbul relative lambat dan oleh karenanya timbul pada saat penyakit sudah menetap. Gejala-gejala paling awal bersifat nonspesifik, seperti malaise, kelelahan, anoreksia, dan penurunan berat badan. Gejala yang lebih spesifik pada umumnya adalah batuk yang disertai sputum mukoid. Gejala lain diataranya adalah hemoptisis ringan berulang, nyeri pleura, demam ringan atay kadang kadang sesak saat aktivitas. Diagnosis dapat ditegakkan sebelum timbul gejala-gejala tersebut dengan pemeriksaan rontgen toraks rutin.

C. Diagnosis Kecurigaan klinis khususnya harus tinggi pada kelompok risiko tinggi, yaitu 1. Penghuni asrama yang padat dan pecandu alcohol 2. Imigran dari Pakistan dan India ( TBC kelenjar getah bening banyak ditemukan pada pasien India dan Pakistan) 3. Pengidap diabetes 4. Pasien dengan AIDs 5. Pasien yang mendapat terapi imunosupresi (steroid atau obat sitotoksik) 6. Pekerjaan yang berisiko , dokter dan perawat. Penegakan diagnosis TBC ditegakkan dengan pemeriksaan AAFB dalam sputum berulang dan apus bronkus langsung atau kultur. Spesimen yang diperlukan 6 12 spesimen. Diagnosis terkadang hanya dapat ditegakkan secara radiologis. D. Penatalaksanaan 1. Isolasi pasien yang sputum positif 2. Skrining rontgen toraks dan/atau tes Heaf sesuai usia dan status imuniasasi BCG pada orang yang kontak erat dengan penderita 3. Terapi jika ditemukan AAFB dalam sputum.

Terapi Farmakologi
A. Tujuan Terapi

Tujuan terapi TBC adalah untuk menyembuhkan penyakit dan mencegah persebaran penyakit TBC yang lebih meluas.

B. Terapi Farmakologis Obat lini pertama Rifampisisn 400-600 mg/hari Isoniazid (INH) 300 mg/hari (dengan piridoksin 10 mg) Pirazinamid 1,5 2,0 g/hari Etambutol 15 mg/kg/hari Tiasetazon 150 mg/hari Streptomisin 1 g/hari Etionamid Sikloserin Asam para-aminosalisilat Obat lini kedua

Terapi Komplementer
Terapi komplementer pada pasien TBC ditujukan untuk terapi suportif. Utamanya pasien TBC harus tetap diobati dengan menggunakan obat peresepan yang merupakan terapi utama. Hal tersebut ditujukan untuk mencegah bakteri yang resisten terhadap obat dan mencegah persebaran penyakit TBC yang lebih meluas karena ketidakteraturan pasien dalam mengonsumsi obat. Salah satu terapi komplementer yang ditujukan untuk terapi komplementer TBC adalah terapi Bekam. Oleh karena itu, akan dibahas lebih lanjut mengenai terapi bekam ini. A. Bekam Bekam adalah suatu teknik pegobatan yang menstimulasi titik meridian tertentu dengan cara memberikan tekanan negative (cupping) beberapa menit, melukai dengan jarum steril dan dilanjutkan dengan pemberian tekanan negative lagi sehingga ada darah yang keluar dari bekas tusukan jarum tersebut. A.1 Manfaat Terapi Bekam 1. Bekam meningkatkan elastisitas dinding eritrosit melewati celah kapiler untuk menghantarkn O2. 2. Bekam meningkatkan antioksidan alam , yaitu glutathione perosidase dan catalase. 3. Bekam merangsang eritropoeisis (peningkatan produksi sel darah merah di tulang/ginjal 4. Meningkatkan jumlah makrofag 5. Meningkatkan sel Natural Killer 6. Meningkatkan limfosit T CD8+ 7. Menurunkan radikal bebas. A.2 Urutan Proses Bekam : 1. Wawancara dengan pasien. 2. Pengecekan kondisi pasien.

3. Awali dengan doa. 4. Lakukan Pemilihan Titik Bekam 5. Minta pasien untuk berbaring atau duduk agar siap untuk dilakukan proses pembekaman

6. Awalilah proses pembekaman tersebut dengan melaksanakan teknik relaksasi yang dilakukan dengan pijatan ringan pada bagian yang akan ditentukan sebagai titik bekam dengan cara menggunakan tangan langsung dari pembekam tanpa menggunakan sarung

tangan dan masker ataupun alat-alat keselamatan pembekam lainnya, pemijatan dilakukan dengan peremasan dan penekanan pada bagian pundak pasien dan punggung pasien secara keseluruhan dengan menggunakan medium minyak zaitun sebagai pelumas tubuh sampai batas pinggangnya demikian juga dengan pemijatan pada bagian betis apabila dirasakan perlu untuk pasien yang akan dilakukan pembekaman pada bagian betis tersebut. Pada saat ini pasien dianjurkan sudah membuka bajunya agar proses pemijatan berjalan dengan nyaman

7. Pembekam mulai mempersiapkan alat-alat keselamatan pembekaman setelah melakukan pemijatan tersebut dengan mencuci tangannya terlebih dahulu menggunakan sabun dan kemudian mengeringkannya dengan handuk yang bersih dan kering. 8. Pembekam memakai sarung tangan, masker, kopiah / peci / jilbab rapi. Apron (celemek), dan kacamata sebagai alat keselamatan. 9. Pembekam mempersiapkan alat yang akan digunakan sebagai proses pembekaman dengan rapi di meja bekam. 10. Pembekam meneteskan atau menyemprotkan minyak zaitun pada daerah yang akan dibekam setelah sebelumnya menentukan titik yang akan dilakukan pembekaman. 11. Pembekam mengambil alat pompa bekam dan kop dan kemudian meletakkannya pada punggung ataupun bagian yang akan dilakukan pembekaman di tubuh pasien.

12. Pembekam melakukan penyedotan alat bekam dengan pompa bekam dengan jumlah tarikan yang disesuaikan dengan tingkat kenyamanan pasien namun demikian jika pasien menunjukkan gejala kurangnya sensitifitas sarah sehingga kurang rasa sakitnya, pembekam dianjurkan untuk menarik alat penyedot maksimal 2 s/d 3 kali saja. 13. Pembekam menunggu proses kop awal tersebut selama 3 s/d 5 menit atau ketika dilihat kulit sudah berubah warna menjadi kemerahan atau lebih gelap lagi. 14. Setelah itu pembekam membuka alat kop tersebut dengan cara menarik ujung klep alat bekam dan meletakkan alat kop tersebut pada tempat menyimpan alat pada baskom stainless steel yang telah disiapkan.

15. Kemudian pembekam mengambil alat lancing device (pena lancet) yang telah disiapkan sebelumnya dengan jarum yang sudah dibuka. 16. Pembekam melakukan perlukaan pada titik bekam yang telah ditentukan dengan menggunakan alat lancing tersebut dengan penusukan berputar berlawanan arah jarum jam dari arah tengah titik bekam tersebut keluar, penusukan juga dilakukan dengan tidak terlalu menekan permukaan kulit titik bekam tersebut / alat lancing agak mengambang.

17. Pembekam kemudian meletakkan kembali kop bekam di titik yang telah dilakukan perlukaan dengan alat lancing tersebut dan melakukan penyedotan kembali dengan alat pompa bekam sebanyak 2 s/d 3 kali atau sesuai dengan kenyamanan pasien. 18. Pembekam kemudian meletakkan alat lancing yang telah digunakan tadi pada tempat mangkok (bengkok) yang disediakan secara terpisah dari alat kopnya. 19. Keseluruhan proses dari point nomor 14 sampai dengan nomor 18 diulangi sampai ke titik bekam yang terakhir. 20. Setelah selesai melakukan proses nomor 14 sampai dengan 19, pembekam bersiap untuk membuang limbah bekam yang telah dikeluarkan berupa darah tersebut. 21. Pembekam membuka kembali klep alat kop bekam yang telah digunakan untuk menarik kembali titik bekam yang telah dilukai dan menahannya dengan salah satu tangannya agar limbah bekam yang berupa darha tersebut tidak tumpah untuk kemudian melakukan gerakan tertentu sehingga limbah darah tersebut akan terkumpul di dalam alat kop tersebut dengan menjaga di bawah titik bekam dengan kain kassa yang ditempelkan di kulit di bawah titik bekam

untuk menjaga agar darah tidak tertumpah. Kemudian pembekam membuang limbah bekam tersebut pada tempat sampah yang dapat ditutup yang telah disiapkan plastik berwarna hitam dengan ketebalan yang cukup agar limbah darah bekam tersebut tidak bocor.

22. Proses pada nomor 17 sampai dengan nomor 21 diulang sekali lagi. 23. Setelah selesai pembekam membersihkan semua titik bekam tersebut dengan menggunakan kapas pada titik bekam tersebut yang sebelumnya telah diteteskan atau disemprot minyak zaitun untuk memudahkan pembersihan. 24. Setelah selesai semua proses tersebut pembekam berkewajiban untuk menanyakan proses pembekaman apakah merasakan pusing ataupun keadaan-keadaan lainnya yang dirasakan. 25. Proses pembekaman diakhiri dengan berdoa syukur. Kemudian pasien diminta untuk tidak mengenakan bajunya lebih dulu selama 5 menit agar minyak zaitun dapat terserap dengan baik pada kulit di titik bekam tersebut. 26. Setelah pembekaman selesai, berikan pijatan ringan di sekitar titik bekam.

27. Bersihkan atau sterilkan peralatan dan rapikan 28. Berikan pasien minum air madu hangat atau minuman hangat yang lain. 29. Menganjurkan pasien untuk mengkonsumsi supplement / herba untuk menunjang kesehatannya setiap hari A.3 Titik Bekam untuk pasien TBC = Titik Bekam Akhdain Di bawah garis batas rambut kepala belakang.Sekitar otot sternocleidomastoideus dan playsma, atau di sekitar Vena Jugularis Interna A.4 Alat-alat Bekam 1. Cupping Therapy

Fungsi: Menarik kulit dan darah dari tubuh pasien Cara pake: - Tentukan titik bekam, sedot 2-3 kali untuk pasien pemula, atau 3-5 kali untuk pasien yang sering bekam atau disesuaikan dengan daya tahan tubuh pasien.

1. Pompa Bekam Fungsi: Untuk menyedot udara di kop Cara pake: - Tempelkan ujung pompa pada ujung kop, kemudian tarik beberapa kali. 2. Pena Lanchet / Lancing Device Fungsi: Tempat jarum lancet untuk melukai kulit Cara pake: Buka penutup dan masukkan lancet. Kemudian setting ukuran kedalaman lancet. Tekan pemantik pena lancet pada kulit dengan kemiringan 45 derajat sebanyak sekitar 18 tusukan. Kulit dilukai dari dalam lingkaran kop memutar searah jarum jam.

3. Lancets Fungsi: Melukai kulit Cara pake: Masukkan gagang lancet. Pastikan sudah masuk dengan sempurna. Kemudian buka kepala jarum.

4. Sarung Tangan Fungsi: Melindungi kontak langsung antara penterapi bekam dengan pasien dari zatzat atau materi berbahaya. Cara pake: Pake sarung tangan sebelum melakukan proses bekam. 6. Masker Fungsi: Sebagai media untuk proteksi terhadap penyebaran patogen dari pasien atau dari penterapis. Cara pake: Sangkutkan karet yang berada di kedua sisi masker pada kedua telinga. Untuk yang model tali, bisa dipake untuk penterapis bekam akhwat yang pake jilbab.

Tuberkulin A sterile liquid containing proteins extracted from cultures of tubercle bacilli and used in tests for tuberculosis