Anda di halaman 1dari 4

Premedikasi1,3,4 Premedikasi adalah pemberiaan obat sebelum anestesi agar dapat memperlancar induksi, pemeliharaan dan pemulihan estesi.

Mengingat kondisi setiap pasien tidak sama, maka pemberian premedikasi tiap pasien mungkin berbeda. Namun demikian tujuan yang ingin dicapai secara umum adalah sama, yaitu: a.Menghilangkan kegelisahan Hal ini dapat dilakukan dengan tanya dan memberi simpati kepada pasien. Cara pendekatan tersebut akan mengurangi rasa khawatir dan takut b.Memberikan ketenangan Pemberian sedativa akan menurunkan aktifitas mental, menumpulkan imajenasi, dan menurunkan reaksi terhadap rangsang. Rasa takut diiharapkan akan hilang dan ketegangan emosi bisa diredakan sehingga pasien akan merasa tenang. c.Memberiakan analgesia Analgetik narkotik (morphin, mepiridin) akan dapat menghilangkan rasa sakit sebelum, selama, dan sesuai operasi, namun golongan obat tersebut dapat memperlama masa pulih sadar dan mendepresi respirasi. d.Memberikan amnesia Hal ini diperlukan karena ada kemungkinan pasien tidak dapat menerima pengalaan sebelum dn setelah operasi dengan emosi yang stabil. Banyak obat yang menyebabkan amnesia misalnya hiosin, diazepam, dan midazolam. e.Mengurangi sekresi kelenjar saluran nafas Hal ini penting karena selama anestesi dapat terjadi penigkatan sekrei oleh obat anestesi ataupun karena pemasangan pipa endotrakea. Sekresi kelenjar saluran nafas yang berlebih akan mengganggu jalan nafas. Untuk hal itu dapat diberikan obat antikolinergik seperti : atropin dan hiosin f.Menaikan pH dan mengurangi volume cairan lambung Dapat dilakukan dengan pemberian antasida / H2 bloker. g.Mencegah reaksi alergi Premedikasi untuk tujuan ini terutama dilakukan pada pasien dengan riwyat alergi. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian anti histamin, antagonis reseptor H1 dan H2, lebih baik lagi bila disertai pemberian kortikosteroid

h.Mencegh relfeks vagal Dapat dilakukan dengan pemberian antikolonergik seperti sulfas atropin i.Mempermudah induksi Dahulu sering dipakai morfin atau pethidine. Namun dengan adanya obat induksi intravena dan pelumpuh otot, fungsi premedikasi ini tidak lagi menjadi maslah utama. j.Mengurangi kebutuhan obat anestesi Pemberian premedikasi berat (narkotik atau hipnotik) akan mengurangi dosis obat anestesi, namun akan memperlambat masa pulih sadar. Pada umumnya premedikasi ringan lebih disukai karena masa pulih sadar akan singkat sehingga mengurangi beban kerja di ruan pulih sadar. k.Mencegah mual muntah Dapat dilakukan dengan pemberian premedikasi droperidol, metokloperamid, dan obat sejenis. Hal ini penting untuk mencegah aspirasi pasca bedah. Waktu dan cara pemberian obat premidikasi4 Pada kasus darurat obat dapat diberikan secara intravena, tetapi bila operasi belum akan dilakukan dalam 1 jam, dianjurkan pemberian premedikasi intarmuskuler. Pada kasus darurat premedikasi diberikan secara intravena (pelan atau diencerkan) yan gefektif sebelum induksi. Mengingat tujuan premedikasi seperti yang disebut diatas, maka bila memungkinkan maka pemberian premedikasi dilakukan diruang perawatan sehingga pasien masuk kamar operasi dalam kondisi yang optimal. Obat-obat untuk premedikasi 1. Barbiturat Kini barbiturat jarang digunakan untuk premedikasi, kecuali phenobarbital yang masih dipakai pada pasien epilepsi anak-anak dan dewasa. Sebanyak 24 persen phenobarbital di eksresi dalam urin tanpa mengalami perubahan5. 2. Belladonna Alkaloids (beserta substitusinya)

Alasan pemberian atropin sebelum operasi yakni karena masa kerja yang cepat. Beberapa obat antikolinergik juga banyak digunakan, tetapi hingga saat ini belum ada yang mampu menggantikan atropin atau skopolamin. Salah satu agen terbaru yakni senyawa amonium kuarterner glikopirolat. Menurut Young & Sun, Franko dkk, Wyant & Kao, Salem dkk, agen tersebut bersifat aman dan efektif, memerlukan separo dosis atropin untuk memberi efek yang sama dengan atropin serta memiliki efek antikolinergik yang lebih baik untuk jangka panjang. Namun Salem dkk mengingatkan bahwa agen tersebut memicu sekret asam lambung dan sebaiknya menggunakan dosis rendah. Gillick menunjukkan bahwa obat ini tidak menembus sawar otak sehingga tidak menimbulkan iritasi atau depresi sistem saraf pusat.6

Sekitar 20-50 persen dosis atrofin ditemukan dalam tanpa mengalami perubahan di urin atau dalam bentuk metabolit aktif. Hal yang sama juga ditemukan pada glycopyrrolat. Sehingga dapat terjadi akumulasi obat-obat tersebut pada pasien dengan gagal ginjal, pada dosis tunggal tidak menyebabkan masalah klinis. Skompolamin hanya 1/10 yang ditemukan dalam urin dalam bentuk atrofin . Karena efek terhadap sistem syaraf pusat yang tidak menguntungkan, skopolamin sebaiknya tidak digunakan sebagai pengganti atrofin atau glycopyrrolate saat dosis tinggi atau dosis ulangan obat anti muskarinik diperlukan. Sebagai premedikasi skopolamin memuaskan untuk pasien gagal ginjal5. 3. Senyawa Phenothiazin dan Benzodiazepin Phenothiazin dan derivat benzodiazepine dimetabolime di hepar sebelum dieksresi. Sehingga, setiap peningkatan nyata durasi atau intensitas aksinya yang berhubungan dengan pemberian adalah karena efek sistemik umum daripada efek spesifik obat tersebut. Kerugian dari derivat phenotiazin adalah blokade alpha adrenergik, sehingga dapat menyebabkan ketidak stabilan kardiovaskular pada pasien yang baru menjalani dialisa yaitu terjadi hipovolemi.5. 4. Opioids Ikatan protein dengan morfin menurun sekitar 10% pada gagal ginjal. Masalah ini tidak mengakibatkan suatu perubahan penting dalam fraksi bebas morfin, karena biasanya ikatan

protein hanya kecil (23-42%) dengan volume distribusi yang besar. Morfin hampir seluruhnya dimetabolisme dihepar menjadi bentuk inaktif yaitu glukoronida, yang diekstresikan lewat urin.Sehingga pemberian pada pasien dengan gagal ginjal terutama pada dosis analgesia tidak menyebabkan depresi yang memanjang. Meskipun demikian, terdapat laporan depresi respirasi dan kardiovaskular pada pasien dengan gagal ginjal pada pemberian morfin dosis tunggal 8 mg. Distribusi, ikatan protein dan eksresi meperidin mirip dengan morfin. Akumulasi metabolit normeperidin dapat menghasilkan efek eksitasi sistem syaraf pusat yaitu terjadinya konvulsi. Fentanyl juga dimetabolisme dihepar, hanya 7 % dieksresi tanpa mengalami perubahan diurin. Ikatan dengan protein plasma moderat (fraksi bebas, 19 persen) dan volume distribusinya besar. Sehingga fentanyl cocok untuk premedikasi pada pasien dengan gagal ginjal. Farmakokinetik dan farmakodinamik sufentanil dan alfentanil tidak berbeda secara signifikan pada pasien dengan pengurangan fungsi ginjal dibandingkan dengan individu normal5.

1. Stoeling, Robert K. Phychological Preparation Preoperative Medication. In : Anestesia, ed : Miller RD, 2nd ed. Churhill Livingstone. 1986 : 381-7 2. Snow JC. Choice of Anesthesia and Preanestesia Medication. In : Mannual of Annetesia, asian edition, Igaku Shoin Ltd. Tokyo. 1980 : 11-23 3. Atkinson RS, Rushman GB, Alfred J. Preanesthethic Assestment. In : A Synopsis of Anesthesia, 10th edition, John Wright & Sons Ltd. Bristol. 1987 : 107-93 4. Iskandar S. Premedikasi. Dalam : Anestesiologi FKUI. Jakarta. 1989 : 45-8 5. Miller, R. D., 2000, Anesthesia, Fifth edition, Churchil Livingstone 6. Bell C, Rain ZN. The pediatric anesthesia hand book. 2nd ed. Philadelphia: Mosby, 1997: 21-31.