Anda di halaman 1dari 15

pylon Suramadu

Ditulis pada 12 Juni 2009

Rate This

Minggu ini berita tentang jembatan Suramadu banyak mengisi media tanah air ini, maklum baru saja peresmiannya oleh bapak SBY, Presiden Indonesia. Peristiwa tersebut dapat dicatat sebagai suatu hal yang penting, karena menjadi tonggal bangsa ini masuk dalam era jembatan penghubung antar pulau. Harapannya agar kesuksesan pembangunan jembatan Suramadu ini memicu dibangunnya jembatanjembatan bentang panjang penghubung antar pulau yang lain. Semoga. Daftar tunggu berikutnya tentunya adalah jembatan selat Sunda, yang menurut Prof. Wiratman saat kami bertemu kemarin di seminar Inkindo tempo hari menyatakan bahwa saat ini masalahnya hanya tinggal mendapatkan investor-nya yang sesuai. Wah padahal masalah investor itu adalah masalah biaya, dan masalah biaya itu adalah hal yang paling utama. Jadi bisa kapan ya bisa dibangun. Mungkin nanti jika KPK sudah nggak punya pekerjaan lagi, karena sudah nggak ada yang korupsi di negara ini. Kelihatannya selama KPK masih banyak pekerjaannya, maka ide-ide ideal tersebut masih tetap akan jadi ide doang. Mari kita semua mendukung KPK. Maksudnya, kinerjanya memberantas korupsi gitu lho, bukan yang lain. Lho koq jadi cerita tentang KPK, mari kita balik ke jembatan lagi. Informasi tentang keberadaan jembatan Suramadu ternyata menjadi subyek paling menarik bagi media berita. Ini mungkin respons dari adanya peresmian tersebut di atas. Siapa saja yang punya info menarik tentang jembatan tersebut kelihatannya diburu oleh para pembuat berita. Termasuk penulis blog ini. Maklum ada beberapa tulisanku yang mengulas jembatan tersebut. Meskipun secara personal belum pernah ke jembatan tersebut, tetapi informasi yang ada bisa-bisa lebih banyak dari yang pernah melihatnya langsung. Nggak percaya ?

Ya sudah, nggak apa-apa. Baca terus tulisanku ini. Para mahasiswaku beberapa bulan yang lalu telah melakukan kerja praktek di sana, yaituYosua Tanijaya, Vicky dan Eindrick. Hanya tiga orang, tetapi saya bilang itu luar biasa, karena mereka ke sana adalah karena uang niat mereka pribadi sebagai hasil provokasiku sebelumnya. Maklum, sebagian besar mahasiswaku selama ini hanya melakukan kerja praktek pada proyek-proyek bangunan gedung dan biasanya hanya di sekitar Jabotabek saja. Karena belum ada yang di proyek jembatan sebelumnya maka mereka merupakan PIONEER khususnya bagi adik-adik kelasnya di jurusan teknik sipil UPH. Harapanku sih moga-moga ada penerusnya, maklum kesuksesan kakak kelasnya belum tentu diteruskan ke adik-adik kelasnya, contohnya seperti keikut sertaan mereka dalam lomba KJI-5 kali ini, memprihatinkan ! Menurut saya, pengalaman mahasiswa di luar kelas terhadap hal-hal yang relatif berkaitan dengan bidang studinya adalah sangat penting. Itu dapat mewarnai motivasi lulusan dalam berkarirnya nanti. Secara terstruktur dalam kurikulum sudah ada, yaitu mata kuliah kerja praktek, yang saya bimbing selama ini. Tetapi mestinya tidak hanya kerja praktek, acara-acara lomba seperti yang diadakan oleh PNJ yaitu KJI-5 tentu juga termasuk itu. Sayang, sudah dua periode ini team mahasiswa UPH tidak bisa berpartisipasi pada acara tersebut. Tapi syukurlah, karena tiga mahasiswaku di atas maka boleh saja aku sedikit terhibur, karena ternyata masih ada juga muridku yang dapat dibanggakan. :) Tentang muridku, ada yang menarik dari Yosua, yang menceritakan bahwa dia baru saja diwawancarai per telpon, setengah jam lebih oleh wartawan. Maklum di UPH khan banyak selibritinya, jadi kalau yang seperti itu mungkin bukan sesuatu yang aneh jika kemudian ditemui wartawan untuk diwawancarai. Tapi si Yosua ini bukan selibiriti dan hanya mahasiswa biasa di jurusan teknik sipil UPH. Koq bisa ? Ternyata pengalamannya yang kutulis di blog ini tentang kerja prakteknya di proyek jembatan Suramadu telah menarik minat seorang wartawan untuk mengorek informasi tentang proyek tersebut. Kreatif juga wartawan tersebut, tanpa perlu datang langsung tetapi bisa mendapatkannya via mahasiswaku. Kreatif gimana pak Wir. Khan hanya mahasiswa. Jika wartawan tersebut kreatif, mestinya mereka menghubungi langsung orang-orang di lapangan, yang kompeten begitu. He, he, mungkin juga sudah begitu. Biasanya wartawan mendapat informasi khan tidak dari satu sumber saja, tapi dari banyak sumber. Jadi mahasiswaku tersebut menjadi salah satu nara-sumbernya begitu. Jadi jangan sewot ya. :)

Tapi omong-omong, jangan remehkan mahasiswaku itu lho. Emangnya kalau mahasiswa nggak bisa kasih informasi yang berbobot. Mungkin keraguan tadi benar untuk mahasiswa yang lain, tapi bukan kepada ketiga mahasiswaku itu lho. Maklum, mereka kerja praktek tidak asal kerja praktek, mereka adalah dibawah bimbinganku langsung. Meskipun sama-sama melaporkan tentang satu proyek saja, yaitu jembatan Suramadu, tetapi fokus masalah yang dibahasnya berbeda. Mereka dibawah arahanku mencoba mengulas proyek tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Jadi meskipun mereka belum berpengalaman tentang proyek (khan baru kerja praktek) tetapi khan ada dalang-nya. He, he, he . . . Karena tulisanku itu maka Yosua dikontak wartawan, dan mendapat wawancara yang cukup lama. Itu khan menunjukkan bahwa si Yosua mempunyai sesuatu yang berharga untuk ditanya. Mana ada orang biasa dapat merespons lama suatu pertanyaan, jika nggak ada isinya pasti deh wawancara itu nggak terjadi. Artinya yang lain, bahwa ternyata mahasiswaku ada isinya. :) He, he, itu khan pekerjaan guru, yaitu membuat muridnya berisi. Betul nggak. Tentang hal tersebut, jika dari Yosua kurang, maka informasi dari Vicky dan Eindrik juga berharga lho. Laporannya juga berbeda koq, tidak hanya copy-and-paste. Tetapi mungkin belum kutuliskan maka orang belum tahu siapa mereka. Maka ada baiknya aku mencoba mengungkap hasil kerja si Vicky dan Eindrik, datanya dalam bentuk CD cukup banyak juga lho dan berbeda dengan data Yosua. Saling melengkapi begitulah. Ketika scanning CD data dari Vicky dan Eindrik ada informasi yang menarik yaitu tentang pylon Suramadu.

Ini foto sebelum jembatan diresmikan. Kalau sekarang, setelah jembatan dibuka tentu lebih susah untuk mendapatkan foto seperti ini, maklumnya jalannya sudah dilalui kendaraan. Kalau berhenti ditengah-tengah jematan untuk mendapatkan foto seperti itu maka jalan bisa-bisa ditabrak kendaraan begitu.

Kalau melihat pylon dari luar seperti itu tentu kesan yang diperolehnya adalah bahwa pylonnya langsing. Selanjutnya tentu ada pertanyaan apakah didalamnya pejal atau berongga. Sebelum menjawab itu ada baiknya mengetahui dimensi luar pylon tersebut secara detail terlebih dahulu sbb:

Ternyata tinggi juga pylon tersebut, bagian puncaknya adalah 146 m. Jadi lebih tinggi dari Tugu Monas Jakarta yang hanya 137 meter. Pylon tersebut berongga, ini penting selain untuk efisiensi bahan, sehingga massa pylon menjadi lebih ringan. Suatu struktur yang ringan maka resiko terhadap gempa akan lebih berkurang, karena gaya-gaya gempa adalah berbanding lurus dengan massa

maupun kekakuannya. Dari sisi pengecoran beton dengan adanya rongga juga dikurangi masalahnya, coba jika pylon tersebut solid pejal, maka pada saat pengecoran bisa-bisa terjadi peningkatan temperatur karena menyangkut volume massa beton yang besar. Bisa-bisa retak karena panas internal yang timbul pada saat pengecoran saja. Jadi membuatnya berongga pylon tersebut adalah sangat penting. Ini elevasi rongga di dalam pylon tersebut secara detailnya.

Bahkan kecuali dari unsur efisiensi maupun permasalahan mutu, maka keberadaan rongga tersebut diperlukan untuk memasang kabel strand-nya, yang ternyata dari dalam pylon tersebut. Jadi rongganya besar bukan. Bisa dibayangkan, bagaimana orang menuju ke bagian atas sewaktu memasang kabel. Padahal rongga di dalam pylon-nya tidak ada jendelanya, jadi gelap dan tentu saja tidak disediakan lift. Untuk ke atas ketika harus memasang kabel stressing harus memakai tangga, yang memang ternyata telah disediakan oleh perencananya. Ini gambar potongan pylon dengan tampak tangga di dalamnya.

Bayangkan naik tangga, di rongga tertutup, gelap. Wah ternyata jadi engineer itu tidak hanya otak, tetapi perlu juga otot dan jantung yang kuat ya. Juga keberanian lho, kayaknya kalau aku juga nggak sanggup koq naik tangga seperti itu. :(

Elevasi potongan tangga di bagian puncak pylon, bayangkan untuk naik pada ketinggian pylon seperti itu yaitu sewaktu memasang kabel stressing maka pekerjanya harus naik tangga tersebut juga ketika harus membawa peralatannya juga, yaitu untuk stresding. Wah berat juga bukan. Untuk melihat betapa sempitnya rongga pada pylon yang ada anak tangganya maka perlu dilihat detail potongan pylon tersebut.

Perhatikan rongga pada pylon tersebut relatif sangat sempit, seluas anak tangga itu sendiri. Tangganya sendiri terbuat dari baja, sifatnya permanen. Tangga tersebut diperlukan untuk proses pemasangan kabel stressing yang dipertimbangkan untuk diganti setiap beberapa puluh tahun sekali. Kalau nggak salah tiap 30 tahun. Ini membuktikan bahwa untuk perancangan jembatan tersebut, aspek perawatan , keberlanjutan di masa mendatang juga menjadi pertimbangannya. Ini membuktikan bahwa dalam perencanaan jembatan seperti itu maka faktor-faktor yang dipertimbangkan cukup banyak, dan tidak hanya faktor strength, stiffness dan ductile saja. Pemahaman tentang adanya faktor-faktor seperti untuk perawatan yaitu dengan menyediakan konstruksi tangga dan juga bagaimana kondisinya agar pekerja di dalamnya dapat bekerja dengan selamat (bayangkan rongga tersebut khan tertutup, jangan-jangan pekerjanya kehabisa oksigen). Akan lebih baik jika mengacu pada bukti-bukti empiris yang sudah ada. Latar belakang seperti itulah yang menunjukkan bahwa untuk menjadi engineer yang efektif maka salah satu caranya adalah bekerja magang terlebih dahulu pada institusi atau orang yang sudah berpengalaman sebelumnya.

Jika itu tidak ada, maka proses trial-and-error yang perlu dilakukan akan memerlukan waktu yang lebih lama.

Rongga tempat stressing kabel di bagian puncak pylon Suramadu. Pada gambar terlihat anchoring plate, yaitu struktur baja khusus yang digunakan sebagai tempat pertambatan kabel di atas pylon. Tampak samping anchoring plate dapat dilihat sebagai berikut.

Lha disini terlihat jelas struktur baja yang dimaksud, jika demikian dapat diketahui bahwa gaya tarik horintal akibat adanya kabel dari kiri dan kanan akan diteruskan via element baja tersebut, dalam hal ini struktur dinding beton hanya menerima reaksi vertikal dari kabel yang diterima oleh corbel. Jadi pada kondisi balance dari kabel, maka pylon hanya menerima gaya aksial saja. Detail pemasangan anchoring plate di atas tentu jumlah sebanyak jumlah kabel yang dipasang. Karena tempatnya yang memenuhi rongga pylon itulah yang menyebabkan bentuk tangga yang disediakan adalah lurus. Inilah konfigurasi elevasi anchor plate untuk stressing pada pylon.

Elevasi penempatan anhor plate dan detail pengangkuran kabel di bagian atas pylon.

Inilah bentuk jacking untuk pengangkuran kabel dari pylon. Berbeda ya dengan prestressing biasa. Dari pylon yang satu maka dapat dilihat dengan jelas pylon sisi lain. Pemandangannya cukup indah, rasanya ini tidak akan ada lagi yang bisa melihat dari sisi ini ketika jembatan telah diresmikan, jadi patut ditampilkan.

Wah ini dari sisi mana ya.