Anda di halaman 1dari 2

ESTETIKA oleh Ira Rahmawati, 1106023070 Fakultas Ilmu Keperawatan

Estetika adalah paparan yang lebih mau menekankan pengalaman si subyek mengenai yang indah tanpa mau mengamati apakah asalnya dari obyek kesenian alami atau dari karya cipta manusia. Filsafat keindahan dipandang dengan pendekatan filsafati berarti mau menanyakan apa yang menjadi dasar radikal bahwa sesuatu itu dinamai atau dialami indah. Kritik kesenian adalah tolok ukur penilaian obyektif suatu karya apakah bisa disebut karya seni atau tidak. Sumber pokok estetika adalah pengamatan pancaindra dan diolah dalam rasa, lalu dicoba-ekspresikan dalam berbagai bentuk pengucapan. Selain itu, terdapat sejarah pembahasan pengertian seni dalam alam pikiran barat. Plato mengemukakan bahwa seni adalah mimesis dari yang sejati, yaitu apa-apa yang berada di dunia idea yang jauh lebih unggul sedangkan karya seni adalah indah. Aristoteles mengemukakan bahwa keindahan atau estetika adalah harmoni, keseimbangan, atau tata dalam ukuran material sedangkan karya seni adalah creatio, proses penciptaan dengan pencolokan nilai universal, yang khas manusia dan berlaku dimana-mana. Fungsi kesenian itu sendiri adalah kamarsis: bersifat membersihkan, mencairkan seluruh kekecewaan, pengalaman-pengalaman sedih gembira melalui libatan pantas yang menyatukan penonton.

Tiga pandangan pokok mengenai keindahan (dari masa kuno dan abad pertengahan) a. b. c. Keindahan adalah tata, harmoni dalam ukuran (Pytagoras, Plato, Thomas Aquinas) Keindahan merupakan jalan kontemplasi dan sang INDAH sendiri berada di seberang manusia. Keindahan ditemukan dalam pengalaman manusia.

Pendekatan estetika Pertama, langsung meneliti keindahan dalam karya-karya seni atau alam-alam indah (menyoroti pengalaman estatis dengan cirri berkaitan dengan rasa dan berhubungan dengan indah huruf besar dengan yang Numinosum fascinans. Kedua, menyoroti pengalaman keindahan dalam diri orang yang mengalami (kontemplasi rasa indah).

Masa Modern sampai akhir abad ke-19 Pada masa renaissance, penciptaan kesenian mesti bertolak dari ilham (inspirasi) seniman dan pengertian mendalam terhadap tubuh manusia, alam, realitas. Perhatian pada manusia memuncak, sesudah renaissance lalu estetika masuk berturut-turut dalam aliran pikiran zamannya: dari rasionalisme menuju idealisme: keindahan merupakan saat secara dialektis perkembangan roh menuju kesempurnaan yang bisa ditemukan dalam pengalaman manusia.

Pada abad ke-19: sebagai reaksi terhadap romantika estetis dengan seni untuk seni muncul sosialisasi kesenian artinya: kesenian, tak pernah bertujuan untuk diri sendiri tetapi mesti bertolak dari masyarakat demi untuk masyarakat. Pada abad 20 sosiologis kesenian didaratkan lebih seimbang dan matang dalam pertanyaan relevansi kesenian dengan keprihatinan terhadap kenestapaan sesama.

Perkembangan estetika dari akhir abad 19 sampai abad 20 Estetika muncul dalam impresionisme yang menegaskan keluarnya kelompok ini dari aturan kesenian (terutama lukis) yang sudah mapan. Yang ditonjolkan adalah kesan dalam suatu bayang dan terang yang bereaksi atas patokan warna gelap (hitam) dan terang yang sudah mapan. Setelah itu muncul aliran ekspresionisme yang mau membahasakan pengalaman rasa indah dalam ekspresi (ungkapan ke luar). Kedua aliran ini menajamkan pokok-pokok pembahasan mengenai jati diri seni, peran kesenian dalam masyarakat dan tugas sang seniman.

Estetika pada abad ke-20 Pada abad ke-20 terdapat aliran-aliran yang berkembang, yakni: simbolisme, fauvisme, kubisme, seni abstrak, aliran kritik masyarakat, aliran fenomenologi dan eksistensialisme dan dufrenne.

Benedetto Croce 1866-1952 Croce mengenal keindahan dalam empat tahap pemikiran yakni: Pertama, pengalaman estetis itu merupakan pengalaman pengetahuan konseptual-intuis dimana pada tahap ini estetikailmu pengetahuan ekspresi dan linguistik umum. Kedua, intusi tadi dibahasakan, diungkapkan ke sesama, cirinya lirico (lirik). Ketiga, intuisi dan ekspresi puitis (puisi ini) diletakkan pada manusia universal, yaitu ungkapan roh universal dalam diri pribadi Hic et nunc. Keempat, ekspresi estetis mencapai puncak dalam seni syair. R.G. Collingwood 1889-1943 Collingwod memaparkan lima dasar pengetahuan manusia mengenai kebenaran. Lima dasar pengetahuan tersebut adalah kesenian (Art), kesenian menimbulkan agama (religion), ilmu pengetahuan (science), sejarah dan filsafat. George Santayana 1863-1952 George mengemukakan bahwa keindahan itu sebagai nilai yang digemari, diminati dirasai banyak orang, sedangkan karya seni yang baik, yang disenangi banyak orang. Jose Ortega Y. Gasset 1883-1955 Jose menaruh ke depan peran manusia dalam pengalamannya dalam estetika. Seni yang kurang memperhatikan manusia merosot.

Anda mungkin juga menyukai