Anda di halaman 1dari 7

Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia

Yogyakarta, 22 Februari 2011

ISSN 1693 4393

Kualitas Sifat-sifat Penyalaan dari Pembakaran Briket Tempurung Kelapa, Briket Serbuk Gergaji Kayu Jati, Briket Sekam Padi dan Briket Batubara

Siti Jamilatun
Program Studi Teknik Kimia, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Jl.Prof. Dr.Soepomo, Janturan, Yogyakarta, Telp.(0274)379418/381523, Fax (0274) 381523, sitijamilatun_uad@yahoo.com

Abstrak
Secara umum, proses pembakaran padatan terdiri dari beberapa tahap seperti pemanasan pengeringan, devolatilisasi dan pembakaran arang. Arang karbon bereaksi dengan oksigen pada permukaan partikel membentuk karbon monooksida dan karbon dioksida. Faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik pembakaran adalah kecepatan pembakaran yang diukur dari lama waktu nyala api sampai menjadi abu, nilai kalor, berat jenis dan banyaknya polusi atau kadar volatile yang dihasilkan dari pembakaran briket. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sifat-sifat penyalaan dari berbagai macam briket dari biomassa, dan batubara, meliputi lama waktu penyalaan awal atau mudah tidaknya penyalaan, asap(kadar volatile) yang dihasilkan, lama briket menyala sampai menjadi abu, nilai kalor dan lama waktu untuk mendidihkan 1 liter air. Data hasil penelitian ini untuk menentukan briket mana yang paling baik penyalaannya jika dibandingkan dengan batubara yang sudah biasa dikenal dan dipakai dimasyarakat. Dengan membakar 250 gram untuk setiap jenis briket, hasil yang paling optimum adalah paling lama menyala sampai menjadi abu, yakni dari tempurung kelapa 116 menit. Yang memiliki kadar volatile tertinggi adalah tempurung kelapa dilihat dari asap paling banyak, yang terendah adalah batubara dengan asap yang sedikit, yang asapnya cepat hilang adalah briket batubara yakni sekitar 4 menit. Yang paling mudah menyala adalah batubara sekitar 5 detik, sedangkan nilai kalor tertinggi dari briket biomassa adalah dari tempurung kelapa yakni 5.779,11 kal/gram dan untuk mendidihkan air 1 liter rata-rata memakan waktu yang hampir sama antara 5 sampai 7 menit. Briket tempurung kelapa adalah yang paling baik untuk bahan bakar dari biomassa meskipun asapnya banyak dan berwarna hitam tetapi nilai kalor tertinggi dan paling lama menyalanya dengan nyala yang cukup besar diantara briket biomassa yang lain. Kata kunci: Briket, biomassa, batubara, uji pembakaran ,kadar volatile dan nilai kalor

Pendahuluan Energi alternatif dapat dihasilkan dari teknologi tepat guna yang sederhana dan sesuai untuk daerah pedesaan, yaitu pembuatan briket dengan memanfaatkan limbah biomassa misalnya tempurung kelapa, sekam padi, serbuk gergaji kayu. Sejalan dengan itu, berbagai pertimbangan untuk memanfaatkan tempurung kelapa, serbuk gergaji kayu jati, sekam padi menjadi penting mengingat limbah ini sering, bahkan belum dimanfaatkan secara maksimal[1]. Uji kualitas pembakaran berbagai macam briket dari tempurung kelapa, gergaji kayu jati, bonggol jagung dan sekam padi jika dibandingkan dengan batubara yang biasa dipakai di masyarakat perlu dilakukan. Dari data yang didapatkan dapat digunakan untuk mengetahui briket mana yang lebih bagus kualitasnya dan baik untuk digunakan

oleh masyarakat dan dapat memperbaiki kualitas dari briket yang sifat penyalaannya kurang baik. Briket dengan kualitas yang baik diantaranya memiliki tekstur yang halus, tidak mudah pecah, keras, aman bagi manusia dan lingkungan dan juga memiliki sifat-sifat penyalaan yang baik, diantaranya adalah: mudah menyala, waktu nyala cukup lama, tidak menimbulkan jelaga, asap sedikit cepat hilang dan nilai kalor yang cukup tinggi. Lama tidaknya menyala akan mempengaruhi kualitas dan efisiensi pembakaran, semakin lama menyala dengan nyala api konstan akan semakin baik[4].

E04-1

Tinjauan Pustaka Biomassa dan batubara adalah bahan bakar padat yang memiliki karakteristik yang berbeda saat dibakar. Lihat tabel dibawah ini Tabel 1. Perbandingan sifat batubara dan biomassa No Sifat Batubara Biomassa 1 Kadar Rendah,Dibawah Lebih tinggi, volatil 50% diatas 50% 2 Kadar C tinggi rendah tetap 3 Kadar sedang Tergantung abu jenis bahan4 4 Nilai Tinggi Sedang kalor ,tergantung jenis dan kadar airnya Biomassa pada umumnya mempunyai kadar volatil yang tinggi sehingga pembakarannya dimulai pada temperatur yang rendah [11]. Proses devolatisasi pada biomassa umumnya terjadi pada temperatur rendah dan hal ini mengindikasikan bahwa biomassa mudah dinyalakan dan dibakar, meskipun pembakaran yang diharapkan terjadi sangat cepat dan bahkan sulit dikontrol. Penelitian intensif pada briket campuran biomassa dan batubara telah dilakukan oleh beberapa peneliti [3,7,9,10]. Pembakaran campuran antara batubara dan biomassa terdapat beberapa keuntungan yang dapat diperoleh yakni dengan tingginya kadar zat volatil dari mayoritas biomassa dan tingginya kandungan karbon (fixed carbon) batubara dapat melengkapi satu sama lain. Namun dilain pihak karena beberapa jenis biomassa mempunyai kadar abu yang tinggi, penggunaan biomassa sebagai bahan bakar dapat menimbulkan kendala tersendiri. Secara umum pembakaran dapat didefinisikan sebagai proses atau reaksi oksidasi yang sangat cepat antara bahan bakar(fuel) dan oksidator dengan menimbulkan panas atau nyala. Reaksi pembakaran bahan bakar padat adalah sebagai berikut:
Bahan + O2 Bakar padat Gas buang + abu -H (1)

Tabel 2. Komposisi devolatisasi Sampel Pinus Lignin Cellulosa H2 16,19 17,10 19,28 CH4 15,36 17,30 13,38

gas

selama CO2 9,71 37,52 7,41

proses O2 6,58 1,25 6,16

CO 52,16 26,83 53,76

Setelah devolatilisasi akan terjadi oksidasi bahan bakar padat, laju pembakaran tergantung pada konsentrasi oksigen, temperature gas, ukuran dan porositas arang [8]. Kenaikan konsentrasi oksigen dalam gas menimbulkan laju pembakaran bahan bakar padat yang lebih tinggi. Temperature pembakaran bahan bakar padat yang lebih tinggi menaikkan laju reaksi dan menyebabkan waktu pembakaran bahan bakar padat yang lebih singkat. Kecepatan gas yang tinggi pada permukaan akan menaikkan laju pembakaran bahan bakar padat, terutama disebabkan karena laju perpindahan massa dari oksigen ke permukaan partikel yang lebih tinggi. Arang karbon bereaksi dengan oksigen pada permukaan partikel membentuk karbon monooksida dan karbon dioksida. Proses tersebut dinyatakan dalam reaksi-reaksi berikut: C + O2 CO + O2 C + CO2 C + H2O CO CO2 2 CO CO + H2 (2) (3) (4) (5)

Proses pembakaran padatan terdiri dari beberapa tahap seperti pemanasan, pengeringan, devolatilisasi dan pembakaran arang. Selama proses devolatisasi, kandungan volatile akan keluar dalam bentuk gas seperti: CO, CO2, CH4 dan H2. Menurut Pengmei LV,et al[7], komposisi gas selama devolatilisasi tergantung pada jenis bahan kayu yang digunakan, lihat table 2.

Spesifikasi bahan bakar yang perlu diketahui diantaranya adalah[12]: Nilai Kalor Nilai kalor merupakan ukuran panas atau energi yang dihasilkan., dan diukur sebagai nilai kalor kotor (gross calorific value) atau nilai kalor netto (nett calorific value). Volatile matter Volatile matter (VM) atau sering disebut dengan zat terbang, berpengaruh terhadap pembakaran briket. Semakin banyak kandungan volatile matter pada biobriket maka biobriket semakin mudah untuk terbakar dan menyala [3]. Kadar Air Kadar air ini merupakan kandungan air pada bahan bakar padat. Semakin besar kadar air yang terdapat pada bahan bakar padat maka nilai kalornya semakin kecil, begitu juga sebaliknya. Kandungan abu Abu yang terkandung dalam bahan bakar padat adalah mineral yang tidak dapat terbakar tertinggal setelah proses pembakaran dan reaksi-reaksi yang menyertainya selesai. Abu berperan menurunkan mutu bahan bakar padat karena dapat menurunkan nilai kalor.

E04-2

Karakteristik pembakaran Samsiro,M.[8] , meneliti biobriket, dari hasil penelitiannya didapatkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik pembakaran biobriket, antara lain : 1. Laju pembakaran biobriket paling cepat adalah pada komposisi biomassa yang memiliki banyak kandungan volatile matter (zat-zat yang mudah menguap). Semakin banyak kandungan volatile matter suatu biobriket maka semakin mudah biobriket tersebut terbakar, sehingga laju pembakaran semakin cepat. Laju pembakaran dapat diukur dari perubahan berat briket dari sebelum dan sesudah dibakar dengan lamanya waktu yang dibutuhkan sampai briket menjadi abu.
Laju pembakaran[5] : rA atau dmA/dt, dimana mA adalah berat briket. Maka : -rA= - dmA/dt = kmnA Dimana : k = konstanta laju pembakaran n = pangkat reaksi pangkat pertama adalah n = 1, dan pangkat kedua n = 2

Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah dengan mengetahui kualitas sifat-sifat penyalaannya, meliputi mudah tidaknya waktu penyalaan awal, asap yang ditimbulkan, lama waktu briket menyala sampai menjadi abu dan waktu yang dibutuhkan 250 gram berbagai macam briket briket untuk mendidihkan 1 liter air, maka akan bisa membandingkan kualitas pembakaran masingmasing jenis briket. Dengan mengetahui kelemahan sifat pembakaran, maka dapat memperbaiki sifat briket yang memiliki sifat-sifat yang kurang baik dan bisa membuat briket biomassa dengan sifat penyalaan yang baik dalam skala besar. Metodologi Penelitian Alat Dan Bahan Bahan : a. Tempurung kelapa, serbuk gergaji kayu jati, sekam padi, batubara b. Tepung tapioka c. Air d. Minyak tanah Alat : a. Dapur pengarangan b. Alat penumbuk arang c. Ayakan d. Alat pencetak briket e. Oven f. Timbaan analitis g. kompor h. Tungku briket, panci, ember, pengaduk i. Korek api

E04-3

2.Kandungan nilai kalor yang tinggi pada suatu biobriket saat terjadinya proses pembakaran biobriket akan mempengaruhi pencapaian temperatur yang tinggi pula pada biobriket, namun pencapaian suhu optimumnya cukup lama. 3. Semakin besar berat jenis (bulk density) bahan bakar maka laju pembakaran akan semakin lama. Dengan demikian biobriket yang memiliki berat jenis yang besar memiliki laju pembakaran yang lebih lama dan nilai kalor lebih tinggi dibandingkan dengan biobriket yang memiliki berat jenis yang lebih rendah. Makin tinggi berat jenis biobriket semakin tinggi pula nilai kalor yang diperolehnya. 4. Penggunaan biobriket untuk kebutuhan seharihari sebaiknya digunakan biobriket dengan tingkat polusinya paling rendah dan pencapaian suhu maksimal paling cepat. Dengan kata lain, briket yang baik untuk keperluan rumah tangga adalah briket yang tingkat polutannya rendah, pencapaian suhu maksimalnya paling cepat dan mudah terbakar pada saat penyalaannya. Penelitian ini bertujuan untuk: a. Mengetahui sifat-sifat penyalaan briket biomassa seperti dari tempurung kelapa, serbuk gergaji kayu jati, sekam padi, dan sifat penyalaan briket batubara b. Sifat-sifat penyalaan meliputi mudah tidaknya waktu penyalaan awal, asap yang ditimbulkan, lama briket menyala sampai menjadi abu c. Membandingkan sifat-sifat penyalaan briket biomassa tersebut, kemudian dapat menentukan briket mana yang paling baik jika dibandingkan dengan batubara yang sudah biasa dipakai dimasyarakat.

Gambar 1. Alat pencetak briket

Gambar 2 . Briket biomassa

adonan itu dicetak, hasil cetakan dikeringkan beberapa hari dengan sinar matahari. Setelah benarbenar kering, masing-masing jenis briket di analisis kadar airnya, kadar volatil matter, kadar karbon, berat jenis dan nilai kalornya. Kemudian dilakukan pembakaran berbagai jenis briket dengan mengamati sifat-sifat penyalaannya, yakni lama waktu untuk penyalaan awal, lama nyala api sampai menjadi abu, banyak sedikitnya asap/volatil matter, waktu yang dibutuhkan untuk mendidihkan 1 liter air. Pengujian briket: Lama nyala briket sampai menjadi abu, dengan mengukur menggunakan stop watch, dengan data ini untuk selanjutnya dapat untuk menghitung kecepatan pembakaran. Berat jenis,dengan menghitung bobot briket dan volumenya. Kadar air, dengan menghitung berat air yang menguap dengan berat briket mula-mula Kadar volatil, dengan mengukur jumlah zat yang menguap dengan berat briket mula-mula dilakukan dalam furnace dengan suhu sekitar 970oC. Nilai kalor, dilakukan dengan oxygen bomb calorimeter Berat sisa briket setelah dibakar dengan menimbang sisa bahan yang tersisa atau menjadi abu Hasil dan Pembahasan 1. Pengaruh Jenis Briket dengan lamanya waktu nyala sampai menjadi abu Tabel 3.Hubungan jenis briket dengan lamanya waktu briket menyala sampai menjadi abu No Jenis Briket Berat briket yang terbakar,gr 220,51 221,22 Lama penyalaan sampai jadi abu,menit 116,1 71,05

Gambar 3. Pembakaran briket

1 2

Gambar 4. Pengipasan pada pembakaran briket Cara Penelitian Penelitian dimulai dengan membersihkan, menyiapkan bahan-bahan untuk pembuatan briket, yakni tempurung kelapa, serbuk gergaji kayu jati, sekam padi, batubara. Setelah itu biomassa diarangkan dengan cara menurut jenis biomassanya, dihaluskan dengan ukuran tertentu, kira kira 60 mesh, kemudian dicampur dengan perekat tepung kanji yang sudah dilarutkan dengan air panas sehingga menjadi bubur dengan perbandingan arang biomassa: perekat adalah 80:20. Setelah itu

4 5 6

Tempurung kelapa Serbuk Gergaji kayu jati Sekam padi Batubara terkarbonisasi Batubara non karbonisasi

233,25 229,91 228,99

103,57 60,57 83,53

Dari tabel 3 hasil percobaan dapat diketahui bahwa lamanya bara menyala sampai menjadi abu yang paling lama adalah briket tempurung kelapa dengan waktu 116,1 menit, sedang yang paling cepat habis nyala baranya adalah briket batubara terkarbonisasi dengan waktu

E04-4

60,57 menit, saat penyalaan menggunakan bantuan kipas dengan kecepatan angin yang cukup rendah. Tempurung kelapa dan serbuk gergaji kayu jati yang kadar airnya dan kadar karbon terikat cukup tinggi dengan struktur kayu yang keras menghasilkan nyala api besar dan yang paling lama, meski kalau dihitung briket yang terbakar dibagi dengan waktu yang dibutuhkan untuk pembakaran adalah cukup kecil yang berarti kecepatan pembakaran cukup rendah. Untuk batubara dan sekam padi dari data penelitian memiliki kecepatan pembakaran relatif lebih besar. Kecepatan pembakaran juga dipengaruhi struktur bahan, kadar karbon terikat, keras dan lunaknya bahan meskipun secara teori jika kadar volatilnya tinggi maka akan mudah terbakar dan kecepatan pembakaran lebih tinggi 2. Pengaruh Jenis Briket dengan Asap(kadar volatil) yang ditimbulkan Tabel 4. Hubungan jenis briket dengan asap yang ditimbulkan No Jenis Briket Kadar zat menguap, % 44 43,9 Asap yang ditimbulkan, lama asap hilang,mnt Banyak(hitam) , 37,04 Banyak(putih), 20,08 Banyak(hitam) , 29,49 Banyak(putih, 4,59 Banyak(putih), 4,06

pembakaran yang semakin tinggi pula. Namun kecepatan pembakaran juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lainnya, diantaranya adalah kadar karbon terikat, sturktur bahan, keras lunaknya bahan, berat jenis bahan, suhu dan tekanan pembakaran. 3. Pengaruh Jenis Briket dengan Mudah tidaknya Penyalaan Dari tabel 5, hasil percobaan di atas dapat diketahui bahwa penyalaan awal yang paling mudah adalah batubara dengan waktu sekitar 6 detik , dan briket yang penyalaannya paling susah adalah briket tempurung kelapa dengan waktu 53.57 detik. Karena pada briket batubara kandungan airnya sangat sedikit (kering), sehingga mudah dalam penyalaannya. Pada briket tempurung kelapa yang paling lama , kemungkinan disebabkan bentuknya yang paling kompak, rapat, keras, berat jenisnya paling besar dan kandungan airnya yang masih cukup besar, hal ini bisa diatasi dengan pengeringan semaksimal mungkin. Tabel 5. Hubungan jenis briket dengan lamanya penyalaan awal No Jenis Briket Kadar air, mL/gram 9,32 8,73 Lama penyalaan awal, sampai timbul api,detik 53,57 10

1 2

4 5 6

Tempurung kelapa Serbuk Gergaji kayu jati Sekam padi Batubara terkarbonisasi Batubara non karbonisasi

1 2

28,3 22,1 24,3

4 5 6

Tempurung kelapa Serbuk Gergaji kayu jati Sekam padi Batubara terkarbonisasi Batubara non karbonisasi

7,95 6,12 5,99

15 6,1 6,08

Dari tabel 4 dapat diketahui bahwa yang paling lama asap hilang adalah briket tempurung kelapa, sedang yang paling cepat asapnya hilang adalah briket batubara. Jika dilihat dari kadar zat menguap tempurung kelapa dan gergaji kayu jati memiliki kadar yang paling besar. Kadar zat menguap dari biomassa relatif cukup tinggi jika dibandingkan dengan batubara dan sekam padi. Hampir semua jenis briket pada pembakarannya timbul asap yang cukup banyak, yang berwarna putih asapnya adalah briket serbuk gergaji kayu jati dan batubara. Sedang yang asapnya berwarna hitam adalah briket tempurung kelapa. Banyak sedikitnya asap, warna yang hitam atau putih dipengaruhi oleh komposisi/kandungan dari bahan biomassa untuk pembuatan briket dan dipengaruhi kadar air briket. Menurut Sulistyanto,A.,2000, briket dengan kadar zat menguap yang semakin tinggi semakin mudah terbakar dan memiliki kecepatan

Untuk briket serbu gergaji kayu jati, sekam padi relatif mudah menyala, rapat massanya lebih rendah dibanding briket tempurung kelapa, bentuknya lebih renggang, hingga tdk terlalu rapat seperti pada briket tempurung kelapa. Penyalaan awal dibantu dengan kapas yang dibasahi minyak tanah kemudian dinyalakan, apinya akan merambat ke briket. 4. Pengaruh Jenis Briket dengan Lamanya waktu pendidihan Tabel 6. Hubungan jenis briket dengan lamanya waktu pendidihan air 1 liter No 1 2 4 Jenis Briket Tempurung kelapa Serbuk Gergaji kayu jati Sekam padi Lama waktu pendidihan, menit 7,19 6,19 5,15

E04-5

5 6

Batubara terkarbonisasi 5 Batubara non 5,01 karbonisasi Dari tabel 6, hasil percobaan dapat diketahui bahwa waktu pendidihan air yang paling mudah adalah dengan bahan bakar briket batubara dengan waktu 5 menit. Karena bahannya cukup kering, maka mudah terbakar dengan api yang besar, sehingga mudah mendidih. Tapi kalau dilihat waktunya hampir semua briket untuk memanaskan air 1 liter membutuhkan waktu yang hampir sama pada kisaran 5-7 menit, dengan suhu maksimal 100oC. Dilihat dari lama tidaknya untuk memanaskan air relatif tidak dipengaruhi oleh jenis briketnya, panas yang dihasilkan dari pembakaran briket masih cukup banyak yang hilang ke lingkungan. 5. Pengaruh Jenis briket dengan nilai kalor Dari tabel 7 dapat dilihat nilai kalor berbagai macam briket biomassa, briket batubara, kalor tertinggi adalah briket batubara sekitar 6.058,62 kal/gram, sedangkan dari briket biomassa adalah briket dari tempurung kelapa, sekitar 5780 kal/gram, kalor terendah adalah dari sekam padi yakni sekitar 3.072,76 kal/gram. Briket dari serbuk gergaji kayu jati juga cukup tinggi yakni 5.478,99 kal/gram. Nilai kalor yang tinggi akan membuat pembakaran menjadi lebih efisien karena briket yang dibutuhkan menjadi lebih hemat. Tabel 7. Pengaruh jenis briket terhadap nilai kalor No 1 2 4 5 6 Jenis Briket Tempurung kelapa Gergaji kayu jati Sekam padi Batubara terkarbonisasi Batubara non karbonisasi Nilai Kalor, kal/gram 5.780 5.479 3.073 6.158 6.058 Nyala api Besar Besar Besar Sedang Sedang

3.

4.

5.

6.

briket batubara sekitar 4 menit. Banyak sedikitnya asap yang ditimbulkan menandakan kadar volatil matter dari masing-masing jenis briket dan dapat menentukan mudah tidaknya bahan terbakar. Yang paling mudah dinyalakan, cepat dalam penyalaan awal adalah batubara sekitar 5 detik. Untuk mendidihkan air sebanyak 1 liter rata-rata membutuhkan waktu yang sama ,yakni 5 sampai dengan 7 menit dan besarnya nyala api untuk berbagai macam briket cukup besar dan hampir seragam. Sebagai alternatif bahan bakar masyarakat dari biomassa yang paling optimum jika dibandingkan dengan briket batubara adalah briket tempurung kelapa, dengan nilai kalori yang cukup tinggi yakni 5780 kal/gram, dengan nyala api yang paling besar dan lama yakni 116 menit, relatif mudah dinyalakan dan kadar volatil yang tinggi dapat dikondensasi dan dapat dimanfaatkan untuk membuat asap cair sebagai pengawet. Kelemahan dari sifat-sifat penyalaan dalam pembakaran briket biomassa ini dapat dicarikan solusi, diantaranya dengan mencampur biomassa dengan batubara.

Daftar Pustaka [1]Amin,S.,2000,Penelitian berbagai jenis kayu limbah pengolahan untuk pemilihan Bahan Baku briket Arang, Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia 2000, Vol 2,no 1 hal 41-46. /HUMAS_BPPT/ANY, www.klipingut.wordpress.com(20 Maret 2008) [2] Borman, G.L. dan Ragland, K.W. Combustion Engineering, McGrawHill Publishing Co, New York, 1998. [3] Bahillo. A., Cabanillas. P.A, Gayan. L.P., De Diego. L., dan Adanez, J., Co-combustion of coal and biomass in FB boilers : model validation with experimental results from CFB pilot plant, Energy Agency-Fluidized Bed Conversion, 2003. [4]Hartoyo, A .dan Roliadi H., 1978, Percobaan Pembuatan Briket Arang dari Lima Jenis Kayu,Laporan Penelitian hasil Hutan,Bogor. [5] Levenspiel, O., Chemical Reaction Engineering, John Wiley & Sons, 2nd Edition, Singapore 1972 [6] Pengmei Lv, Chang, J., Wang, T., dan Wu, C. A Kinetic Study on Biomass Fast Catalytic Pyrolysis. Energy & Fuels 2004, vol 18 hal. 1865-1869.

Kesimpulan 1. Dari berbagai macam briket diketahui bahwa briket tempurung kelapa dari mulai pembakaran awal sampai menjadi abu yang paling lama nyalanya , yakni 116 menit dengan kecepatan pembakaran lebih rendah dibandingkan briket yang lainnya. 2. Briket yang asapnya putih adalah briket serbuk gergaji kayu jati dan batubara, yang asapnya berwarna hitam adalah briket sekam padi, tempurung kelapa. Briket yang asapnya paling cepat hilang adalah

E04-6

[7]Saptoadi, H.., The best composition of coalbiomass briquettes, A two day Collaboration Workshop on Energy, Enviromental, and New Trend in Mechanical Engineering, Department of Mechanical Engineering Brawijaya University_ Keio University, 2004. [8] Syamsiro, M. dan Harwin Saptoadi, 2007, Pembakaran Briket Biomassa Cangkang Kakao : Pengaruh Temperatur Udara Preheat. Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007) Yogyakarta, [9]Saptoadi, H., Cofiring of agriculture wastes for small and medium scale industries, International Conference on Integrated Renewable Energy for Regional Development, Bali, Indonesia, 2001. [10]Saptoadi, H., Energy from Indigenous for Enhancing the Regional Competitiveness, the 2nd Asean Science congress and Subcomitte Conferences, 7th ASTW, 5-7 August 2005, Indonesa. [11]Werther, J., Saenger, M., Hartge, E.U., Ogad, T., Siagi, Z., Combustion of Agricultural Residues, Progress in Energy and Combustion Science, 2000, vol 26. [12] Williams, F.A., Combustion Theory, AddisonWesley Publishing Company, Canada, 1985.