Anda di halaman 1dari 108

ANALISA PRESSURE BUILD-UP TEST DENGAN MENGGUNAKAN METODE HORNER MANUAL DAN SAPHIR 3.20 UNTUK IDENTIFIKASI KERUSAKAN FORMASI PADA SUMUR “KB” LAPANGAN “D”

SKRIPSI

FORMASI PADA SUMUR “KB” LAPANGAN “D” SKRIPSI Disusun oleh : INDIRA PRATIWI ANDEKA 113040033 PROGRAM STUDI

Disusun oleh :

INDIRA PRATIWI ANDEKA

113040033

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

2011

i

ANALISA PRESSURE BUILD-UP TEST DENGAN MENGGUNAKAN

METODE HORNER MANUAL DAN SAPHIR 3.20 UNTUK

IDENTIFIKASI KERUSAKAN FORMASI PADA SUMUR “KB”

LAPANGAN “D”

SKRIPSI

Disusun oleh : INDIRA PRATIWI ANDEKA 113040033/TM
Disusun oleh :
INDIRA PRATIWI ANDEKA
113040033/TM

Disetujui untuk Program Studi Teknik Perminyakan

Fakultas Teknologi Mineral

UPN “Veteran” Yogyakarta

Ir. Drs. Herianto, M.sc.Ph.D. Pembimbing I

ii

Ir. Sayoga Heru, MT. Pembimbing II

RINGKASAN

Kerusakan formasi dapat terjadi sepanjang waktu sebagai akibat negatif dari aktifitas-aktifitas yang terjadi atau yang dilakukan pada sumur mulai dari aktifitas pemboran, penyemenan, komplesi sumur dan perforasi serta pada saat sumur itu berproduksi. Terjadinya kerusakan formasi ini akan menyebabkan mengecilnya harga permeabilitas dan menurunnya produktivitas suatu sumur, sehingga q o akan turun. Pada dasarnya analisa Pressure Build-Up dilakukan pertama-tama dengan memproduksi sumur selama suatu selang waktu tertentu dengan laju aliran yang tetap (konstan), kemudian menutup sumur tersebut. Penutupan sumur ini menyebabkan naiknya tekanan yang dicatat sebagai fungsi waktu (tekanan yang dicatat ini biasanya adalah tekanan dasar sumur). Tahapan-tahapan analisa Pressure Build-Up dengan metode Horner adalah persiapan data pendukung seperti data produksi (tp, qo, rw, Pwf), data PVT (µo, Bo, Ct), data reservoir (Φ,h) dan data PBU (Pws, t). Kemudian membuat grafik log-log plot dengan plot Δt vs ΔP. Dari hasil plot tersebut dapat diperoleh nilai end of wellbore storage ditambah 1-1,5 cycle untuk menentukan awal dari tekanan yang tidak terpangaruh wellbore storage. Kemudian membuat grafik semilog plot (Horner plot) dengan plot Pws vs

tp

t

Δ

t

. Dari hasil Horner Plot dan end of wellbore storage diperoleh harga

slope, P1jam dan tekanan reservoir (P*) yang akan digunakan untuk menghitung harga permeabilitas, skin, produktivitas indeks, dan flow efficiency. Analisa PBU dilakukan pada sumur “KB” lapangan “D”, hasil analisa Pressure Build-Up test dengan menggunakan metode Horner secara manual pada sumur “KB” adalah Pi = 2451.7 psi, k = 5.24 md, skin = +24.89, Δpskin = 212.21 psi sedangkan hasil analisa Simulator Saphir 3.20 adalah Pi = 2456.49 psi, k = 4.74 md, skin = +23.1, Δpskin = 212,538. Dengan menggunakan simulator saphire 3.20 dapat dihasilkan model reservoirnya Homogen, dengan boundary infinite, akan tetapi hasil analisa yang di dapatkan kurang akurat karena pada kurva Log-log Plot (derivatif) tidak menunjukkan bentuk radial flow. Berdasarkan kurva IPR diperoleh laju produksi maksimal minyak pada FE=0.25 adalah 363.9 bopd, sedangkan laju produksi maksimal minyak pada FE=1 adalah 909.6 bopd. Perbedaan harga produksi minyak ini disebabkan karena adanya kerusakan disekitar lubang formasi ditandai dengan nilai skin yang berharga positif.

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkah dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul “ Analisa Pressure Build -Up Test Dengan Menggunakan Metode Horner Manual Dan Saphir 3.20 Untuk Identifikasi Kerusakan Formasi Pada Sumur “KB” Lapangan “D”. Yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Pada Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Dalam kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. H. Didit Welly Udjianto, Msi., selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

2. DR. Ir. S. Koesnaryo, Msc, selaku Dekan Fakultas Teknologi Mineral.

3. Ir. Anas Puji Santoso, MT., selaku Ketua Jurusan Teknik Perminyakan.

4. Ir. Avianto Kabul P., MT., selaku Sekretaris Jurusan Teknik Perminyakan.

5. Ir. Drs. Herianto, M.sc.Ph.D., selaku pembimbing I.

6. Ir. Sayoga Heru, MT., selaku Pembimbing II.

7. Ir. Dr. Nur Suhascaryo, M.T., selaku Dosen Wali angkatan 2004.

8. Staf pengajar dan pegawai jurusan Teknik Perminyakan.

9. Rekan-rekan mahasiswa Teknik Perminyakan angkatan 2004, ( BOC “04).

10. Semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya Tugas Akhir ini.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna, untuk itu sangat diharapkan saran-saran guna perbaikan dan kesempurnaan di

masa yang akan datang. Semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.

Yogyakarta, Agustus 2011

v

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

 

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

iii

HALAMAN PERSEMBAHAN

iv

KATA PENGANTAR

 

v

RINGKASAN

vi

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR GAMBAR

ix

DAFTAR TABEL

xi

DAFTAR LAMPIRAN

xii

BAB I.

PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang Masalah

1

1.2. Permasalahan

2

1.3. Maksud dan Tujuan

2

1.4. Metodologi

 

2

1.5. Hasil Yang Diharapkan

3

1.6. Sistematika Penulisan

3

BAB II. DASAR TEORI

 

4

 

2.1.

Aliran Fluida Dalam Media Berpori

4

2.2.

Pressure Build-Up (PBU)

8

 

2.2.1. Prinsip Super Posisi

8

2.2.2. Teori Pressure Build-Up

9

2.2.3. Karakteristik Kurva Pressure Build-up Test

14

 

2.3.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Bentuk Kurva Tekanan

17

 

2.3.1. Wellbore Storage

17

2.3.2. Redistribusi Fasa Dalam Lubang Bor (Gas Hump)

18

2.3.3. Heterogenitas Reservoir

18

 

2.4.

Cara Kerja Alat

19

2.5.

Analisa Pressure Build-Up

20

 

2.5.1.

Langkah Kerja Metode Horner

20

 

2.6.

Pressure derivative

23

2.7.

Tekanan Reservoar

24

vii

DAFTAR ISI

(Lanjutan)

Halaman

 

2.8. Flow Efficiency

25

2.9. Skin Effect

26

2.10. Productivity Index (PI)

27

2.11. Inflow Performance Relationship (IPR) Metode Standing

30

BAB III. TEORI DASAR SIMULATOR SAPHIRE

32

 

3.1.

Shapire 3.20 Simulator

32

 

3.1.1. Cara Kerja Saphire 3.20 Simulator

36

3.1.1.1. Inisialisasi

36

3.1.1.2. Interprestasi Tahap Pertama

39

3.1.1.3. Interprestasi Tahap Kedua

43

3.1.1.4. Algoritma

45

BAB IV. ANALISA DATA PRESSURE BUILD-UP TEST

47

 

4.1. Analisa Pressure Buid-Up pada sumur “KB” Dengan Metode Horner

48

4.2. Analisa Pressure Buid-Up pada Sumur “KB” Menggunakan Saphir 3.20 simulator

54

4.3. Inflow Performance Relationship (IPR)

62

BAB V.

PEMBAHASAN

65

BAB VI. KESIMPULAN

69

DAFTAR PUSTAKA

70

DAFTAR SIMBOL

71

LAMPIRAN

 

73

viii

Gambar

DAFTAR GAMBAR

Halaman

2.1.

Idealisasi beberapa Pola Aliran yang terjadi di Reservoar

5

2.2.

Sejarah Produksi Berdasarkan Laju Alir dan Tekanan Dasar Alir Sumur dengan Fungsi Waktu

9

2.3.

Laju Alir Ideal dan Sejarah Produksi untuk Pressure Build-Up Test

10

2.4.

Sejarah Laju Alir untuk Ideal Pressure Build-Up Test

12

2.5.

Grafik Pressure Buld-Up untuk Reservoir Ideal

13

2.6.

Tipe Pressure Build-up Bawah Lubang untuk Produksi Pseudo Steady State Sebelum Shut-in

15

2.7.

Grafik Pressure Build-up Test Sebenarnya

16

2.8.

Grafik P vs t pada Kertas Log-log

18

2.9.

Panex Pressure

Gauge

19

2.10.

Buffer Tube

20

2.11.

Grafik IPR yang Linear

29

2.12.

Grafik IPR untuk Aliran Dua Fasa

30

3.1.

Diagram Alir Perangkat Lunak Saphire 3.20

36

3.2.

Layar Main Options (Simulator)

37

3.3.

Layar Information (Simulator)

37

3.4.

Layar Pemilihan Satuan (Simulator)

38

3.5.

Layar Input Data PVT (Simulator)

38

3.6.

Layar Interprestasi Main Screen (Simulator)

39

3.7.

Layar Pemilihan Data (Simulator)

40

3.8.

Layar Load P (Pressure) Sumur (Simulator)

40

3.9.

Layar Ekstraksi Parameter Delta P (Simulator)

41

3.10.

Layar Proses Matching

42

3.11.

Layar Fleksibel Plot

44

ix

Gambar

DAFTAR GAMBAR ( Lanjutan )

Halaman

3.12.

Tampilan Layar Horner Plot

45

4.1.

Grafik Log-Log pada Sumur “KB”

48

4.2.

Grafik Horner Plot pada Sumur “KB”

49

4.3.

Layar Main Options Sumur “KB”

54

4.4.

Layar information Sumur “KB”

54

4.5.

Layar Pemilihan Satuan Sumur“KB”

55

4.6.

Layar Input Data PVT Sumur “KB”

55

4.7.

Layar Interpretasi Main Screen Sumur “KB”

56

4.8.

Layar Pemilihan Data Sumur“KB”

56

4.9.

Layar Load P (Pressure) Sumur “KB”

57

4.10.

Layar Load Q (Rate) Sumur “KB”

57

4.11.

Layar Ekstraksi Parameter Delta P Sumur “KB”

58

4.12.

Layar Hasil Ekstraksi Delta P Sumur “KB”

58

4.13.

Layar Pemilihan Model Reservoir Sumur “KB”

59

4.14.

Layar Improve Sumur“KB”

59

4.15.

History Plot P vs t (atas) dan Q vs t (bawah) pada Sumur “KB”

60

4.16.

Semi-Log Plot P vs t pada Sumur “KB”

60

4.17.

Log-log plot pada Sumur “KB”

61

4.18.

Kurva IPR Sumur “KB” ( Manua l)

64

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

A. Model-model kurva Derivatif

76

B. Analisa Perhitungan Pressure Build-Up Sumur ”KB” (pws, Δt, ΔP, dan (tp+Δt)/Δt)

91

C. Saphir Simulation Report

95

xii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

IV-1.

Hasil Perhitungan Saphir 3.20 Sumur “KB” (Simulator )

61

IV-2.

Hasil Perhitungan q o Untuk Berbagai Pwf Pada Sumur “KB”

63

xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Konfigurasi lubang bor menembus formasi serta geometri dan karakteristik reservoirnya menyebabkan pola aliran fluida yang terjadi berbeda- beda. Dengan memproduksi suatu sumur yang menghubungkan permukaan dengan reservoir, akan menyebabkan ketidakseimbangan tekanan dalam reservoir, sehingga akan menimbulkan gradien tekanan yang akan menyebabkan fluida dalam media berpori itu mengalir kesegala arah. Besaran-besaran yang diakibatkan oleh aliran fluida dalam media berpori ke lubang sumur dipengaruhi oleh sifat fisik batuan dan sifat fisik fluida formasi. Apabila perubahan tekanan diplot sebagai fungsi waktu, maka akan dapat dianalisa pola aliran yang terjadi dan juga besaran karakteristik reservoirnya. Aliran fluida dalam media berpori menuju lubang sumur didasarkan atas hukum Darcy. Pola aliran radial adalah yang paling lazim digunakan untuk menggambarkan aliran fluida dalam media berpori. Dengan menentukan kinerja aliran, kita bisa mengetahui tentang karakteristik reservoir seperti Permeabilitas (k), Geometri Aliran dan Produktivitas Formasi. Produktivitas formasi didefinisikan sebagai kemampuan reservoir untuk mengalirkan fluida dari formasi ke sumur-sumur produksi, dan dapat dinilai berdasarkan perbandingan antara laju produksi terhadap perbedaan tekanan antara tekanan statik formasi dengan tekanan alir dasar sumur. Dalam menganalisa data, kita menggunakan Pressure Build Up Test, yang merupakan suatu teknik pengujian transien yang dilakukan dengan cara memproduksi sumur selama suatu selang waktu tertentu dengan laju alir yang tetap, kemudian menutup sumur tersebut sehingga tekanan menjadi naik dan dicatat sebagai fungsi waktu (tekanan yang dicatat biasanya tekanan dasar sumur).

1

2

Dari hasil Pressure Build Up test, dapat diketahui karakteristik formasi yang dapat digunakan untuk menentukan produktivitas formasi, sehingga dapat diketahui kemampuan suatu sumur untuk berproduksi.

1.2. Permasalahan

Kerusakan formasi dapat diakibatkan oleh adanya skin yang akan menyebabkan produktivitas suatu sumur menurun. Analisa uji tekanan sangat diperlukan untuk mengetahui tingkat kerusakan formasi, yang selanjutnya dapat ditentukan kemampuan formasi tersebut untuk berproduksi

1.3. Maksud dan Tujuan

Maksud dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk menganalisa besarnya parameter-parameter reservoir dan karakteristik formasi dari sumur kajian seperti

permeabilitas, faktor skin, tekanan mula-mula, flow efficiency, produktivitas formasi, kinerja aliran fluida berdasarkan analisa Pressure Bulid Up Test baik secara manual maupun dengan menggunakan software simulator Saphire 3.20.

Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui kinerja aliran fluida yang nantinya akan berpengaruh terhadap produktifitas formasi dari sumur “KB” lapangan “D”.

1.4. Metodelogi

Pressure build-up test pada prinsipnya dilakukan dengan cara memproduksikan sumur selama selang waktu tertentu dengan laju produksi yang tetap, kemudian menutup sumur tersebut. Penutupan ini menyebabkan naiknya tekanan yang dicatat sebagai fungsi waktu. Data tekanan yang diperoleh dari test tersebut dan data-data pendukung lainnya dikumpulkan dan kemudian dianalisa. Analisa dengan metode horner secara manual yaitu dengan cara memplot data tekanan (P ws ) pada saat penutupan sumur (shut in) vs Horner time ((tp + Δt ) / Δt ),

dari plot ini didapatkan harga m, P 1jam dan P*. Penggunaan metode horner secara manual dalam penerapannnya sering kali dijumpai kesulitan, terutama bila data tekanan sebagian besar didominasi oleh efek wellbore storage dan skin efect

3

sehingga tidak dapat menginterpretasikan sifat reservoir yang sebenarnya. Kesulitan-kesulitan ini dapat ditanggulangi dengan memakai software saphir 3.20 yang dapat meningkatkan akurasi data yang dihasilkan. Dalam menganalisa Pressure Build-up Test dengan menggunakan metode pressure derivative secara simulator saphir 3.20. Pertama-tama melakukan define yaitu pendiskripsian lapangan dan sumur kemudian dilakukan prepare data untuk memasukkan data tekanan, laju alir dan waktu, langkah selanjutnya adalah properties untuk memasukkan data sifat fisik batuan dan fluidanya, kemudian dilakukan analyse dimana pada langkah ini didapatkan kurva history plot, plot log-log dan plot horner yang kemudian dilakukan analytic fit guna menyelaraskan kurva tersebut.

1.5. Hasil yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dari metode Horner secara manual dan analisa dengan aplikasi komputer (Saphir) adalah dapat memberikan keakuratan hasil yang lebih mendekati dengan kondisi lapisan sebenarnya dalam memperkirakan tekanan reservoir, permeabilitas formasi, harga skin dan flow efficiency pada interval kedalaman yang dianalisa. Sehingga dari informasi tersebut dapat memberikan gambaran secara menyeluruh yang dapat mewakili kondisi lapisan untuk menentukan rencana dari sumur tersebut selanjutnya

1.6. Sistematika Penulisan

Penulisan hasil penelitian ini menggunakan sistem pembagian per bab dengan sistematika sebagai berikut, pada Bab I yaitu pendahuluan yang berisi penjelasan secara umum mengenai latar belakang masalah, maksud dan tujuan, hasil dan sistematika penulisan. Bab II yaitu teori dasar pressure build up test, bab ini berisi teori-teori dan persamaan yang menjadi dasar dalam menganalisa test pressure build up. Bab III yaitu teori dasar tentang simulator saphire 3.20. Bab IV yaitu berisikan tentang analisa test pressure build up menggunakan metode Horner manual dan metoda pressure derivative secara simulator Saphir. Bab V merupakan pembahasan. Bab VI berisikan tentang kesimpulan yang didapatkan dari analisa PBU test ini.

BAB II DASAR TEORI PRESSURE BUILD UP

Tujuan utama dari suatu pengujian sumur hidrokarbon adalah untuk menentukan kemampuan suatu lapisan atau formasi untuk berproduksi. Apabila pengujian ini dirancang secara baik dan memadai dan dianalisa secara tepat maka akan banyak sekali informasi- informasi yang sangat berharga akan didapatkan seperti permeabilitas efektif fluida, kerusakan atau perbaikan formasi disekeliling lubang bor yang diuji, tekanan reservoir, batas suatu reservoir, bentuk radius pengurasan, dan keheterogenan suatu lapisan. Prinsip dasar pengujian ini sangat sederhana yaitu dengan memberikan suatu gangguan keseimbangan tekanan terhadap sumur yang diuji. Dengan adanya gangguan ini, impuls perubahan tekanan (pressure transient) akan disebarkan keseluruh reservoir dan ini diamati setiap saat dengan mencatat tekanan lubang bor selama pengujian berlangsung. Sebagai titik tolak, akan dibahas persamaan- persamaan dasar yang menerangkan aliran fluida dimedia berpori yang akan menjadi basis teori transien tekanan.

2.1. Aliran Fluida Dalam Media Berpori

Konfigurasi lubang bor menembus formasi serta geometri dan karakteristik reservoirnya menyebabkan pola aliran fluida yang terjadi berbeda-

beda. Dengan memproduksi suatu sumur yang menghubungkan permukaan dengan reservoir, akan menyebabkan ketidakseimbangan tekanan dalam reservoir, sehingga akan menimbulkan gradien tekanan yang akan menyebabkan fluida dalam berpori itu mengalir kesegala arah. Pola aliran radial paling lazim digunakan untuk menggambarkan aliran fluida dalam media berpori. Ini diawali oleh solusi Van Everdigen & Hurst pada tahun 1949. Kemudian berkembang model-model lainnya untuk lebih dapat mempresentasikan kondisi reservoir yang sebenarnya.

4

5

Besaran-besaran yang diakibatkan oleh aliran fluida dalam media berpori

ke lubang sumur dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : jumlah fasa yang

mengalir, sifat fisik dari batuan formasi, sifat fisik dari fluida formasi, konfigurasi

di sekitar lubang bor (adanya lubang prforasi, skin, gravelpack, dan rekahan hasil

perekahan hidraulik), kemiringan lubang sumur pada formasi produktif, dan

bentuk daerah pengurasan . Apabila perubahan tekanan diplot sebagai fungsi

waktu, maka akan dapat dianalisa pola aliran yang terjadi dan juga besaran

karakteristik reservoirnya. Dari faktor tersebut di atas secara ideal harus diwakili

dalam setiap persamaan perhitungan kelakuan aliran fluida dari formasi masuk ke

lubang sumur, tetapi hingga saat ini belum tersedia suatu persamaan yang praktis

untuk memperhitungkan dari faktor di atas.

Aliran fluida dalam media berpori menuju lubang sumur didasarkan atas

hukum Darcy. Kemudian dikembangkan model-model aliran yang terjadi pada

pori-pori reservoir yaitu pola aliran radial, pola aliran linier, pola aliran spherical,

aliran bilinier, aliran semi linier dan gradien flow model. Aliran-aliran tersebut

dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Aliran-aliran tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1. Gambar 2.1. Idealisasi beberapa Pola Aliran yang terjadi di

Gambar 2.1. Idealisasi beberapa Pola Aliran yang terjadi di Reservoir 1)

6

Idealisasi Reservoir dengan Pola Aliran Radial Untuk memulai suatu analisa atau perencanaan, pertama-tama kita harus

membuat penyederhanaan atas pemodelan suatu reservoir. Pada reservoir dengan pola aliran radial ini, persamaan differensialnya diturunkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut :

1. Hukum Kekekalan Massa Hukum Kekekalan Massa biasa disebut juga dengan Persamaan Difusivitas

Radial. Persamaannya adalah :

1

∂ ⎛ ∂ P

r

⎟=

φμ

c

P

r

r

r

0.000264

k

t

(2-1)

Persamaan (2-1) dikenal sebagai persamaan diffusivitas radial. Sedangkan asumsi-

asumsi yang digunakan untuk memperoleh persamaan tersebut adalah :

Aliran radial dan horizontal

Aliran laminar

Ketebalan formasi konstan

Aliran isothermal

Aliran satu fasa kompressibilitas fluida kecil dan konstan

Viskositas fluida konstan

Permeabilitas konstan

Gaya gravitasi diabaikan

Porositas kecil

Gradien tekanan kecil atau diabaikan

2. Persamaan Kontinuitas

Untuk aliran di dalam media berpori, hukum konservasi massa yang

dikenal pula sebagai persamaan kesinambungan (continuity equation) menyatakan

bahwa untuk sistem berlaku :

Laju aliran massa

lam elemen selama

yang masuk keda

interval waktu

Δ

t

Laju aliran massa

elemen selama in ⎥ ⎢

yang keluar dari

terval waktu Δ t

=

Laju dari akumu

elemen selama in ⎥ ⎢

lasi massa dalam

terval Δ t

7

1

r

r

(

ρ

r

u

r

)

=−

t

(φρ)

(2-2)

Persaman (2-2) disebut sebagai persaman kontinuitas atau persaman kekekalan massa dari pola radial.

3. Persamaan Darcy

Hukum Darcy menyatakan bahwa kecepatan aliran fluida di dalam media berpori adalah sebanding dengan gradien potensial dalam arah aliran pada titik tersebut. Secara sistematis sebagai berikut :

 

kρ

u =− ∇Φ

(2-3)

μ

Keterangan :

 

u

= Kecepatan volumetrik

Φ

= Potensial

∇Φ

= Gradien potensial

μ

= Viscositas

ρ

= Berat jenis fluida

k

= Permeabilitas Persamaan tersebut hanya berlaku untuk aliran yang laminar dan tanda

negatif

di dalam persaman ini menyatakan bahwa aliran yang terjadi berlawanan

arah dengan penurunan potensial. Dalam satuan lapangan Persamaan diatas

menjadi :

Q =

0.00708

kh ( Ps

Pwf

)

μ o

B o

ln

r e r w
r
e
r
w

+ s

(2-4)

4. Persamaan Keadaan

Hukum persamaan keadaan menyatakan hubungan antara massa jenis

fluida dengan tekanan dan temperatur, atau hubungan antara viskositas fluida

dengan tekanan dan temperatur yang secara sistematis dinyatakan sebagai berikut:

c

=

1 ⎛ ∂ ⎞

⎜ ⎜

ρ

ρ

p

T

(2-5)

8

2.2. Pressure Build-Up (PBU)

PBU adalah suatu teknik pengujian transien tekanan yang paling dikenal

dan banyak diilakukan orang, pada dasarnya pengujian ini dilakukan pertama-

tama dengan memproduksi sumur selama suatu selang waktu tertentu dengan laju

aliran yang tetap (konstan), kemudian menutup sumur tersebut. Penutupan sumur

ini menyebabkan naiknya tekanan yang dicatat sebagai fungsi waktu (tekanan

yang dicatat ini biasanya adalah tekanan dasar sumur).

Dari data tekanan yang didapat kemudian dapat ditentukan permeabilitas

formasi, daerah pengurasan saat itu, adanya kerusakan atau perbaikan formasi.

Dasar analisa PBU ini diajukan oleh Horner (1951), yang pada dasarnya adalah

memplot tekanan terhadap suatu fungsi waktu. Prinsip yang mendasari analisa ini

adalah yang dikenal dengan prinsip superposisi (superposition principle).

2.2.1. Prinsip Superposisi

Teori yang mendasari secara matematis menyatakan bahwa penjumlahan

dari solusi-solusi individu suatu persamaan differential linier berorde dua adalah

juga merupakan solusi dari persamaan tersebut. Misalkan suatu kasus dimana

sebuah sumur berproduksi dengan seri laju produksi tetap untuk setiap selang

waktu seperti diperlihatkan pada Gambar 2.2.

Untuk menentukan tekanan lubang sumur (P wf ) pada t n sewaktu laju saat

itu q n , dapat dipakai prinsip superposisi dengan metode sebagai berikut :

q 1 dianggap berproduksi selama t n

q 2 dianggap berproduksi selama t n – t 1

q 3 dianggap berproduksi selama t n – t 2

q 4 dianggap berproduksi selama t n – t 3

-

q n dianggap berproduksi selama t n – t n-1

9

9 Gambar 2.2. Sejarah Produksi Berdasarkan Laju Alir dan Tekanan Dasar Alir Sumur dengan Fungsi Waktu

Gambar 2.2. Sejarah Produksi Berdasarkan Laju Alir dan Tekanan Dasar Alir Sumur dengan Fungsi Waktu 1)

2.2.2. Teori Pressure Build-Up

Setelah mengetahui prinsip superposisi diatas, maka pressure build up

akan lebih mudah dimengerti, Gambar 2.3. memperlihatkan suatu sejarah

produksi suatu sumur. Mula-mula sumur diproduksi dengan laju tetap (q), selama

waktu (tp), kemudian sumur ditutup selama waktu Δt .

P P

i

ws

=

70.6

B ⎧ ⎪ ⎛ ⎛

q

μ

kh

ln

1688

φμ

c r

t

w

2

p

t

(

k t

)

2

s

70.6

(

0 q B

)

μ

⎧ ⎛ ⎛

⎜ ⎜

1688

φμ

c r

t

w

2

kh

k

. Δ

t

ln

2

s

Kemudian persamaan (2-6) disusun menjadi :

Atau :

P

ws

P

ws

=

=

Pi

Pi

B

μ

t +Δ ⎤

t

70.6

q

162.6

kh

ln

q

B

μ

p

t

Δ

t +Δ ⎤

t

p

t

kh

Δ

log

(2-6)

(2-7)

(2-8)

10

10 Gambar 2.3. Laju Alir Ideal dan Sejarah Produksi untuk Pressure Build Up Test 1 )

Gambar 2.3. Laju Alir Ideal dan Sejarah Produksi untuk Pressure Build Up Test 1)

Persamaan (2-8) memperlihatkan bahwa P ws , shut-in BHP, yang dicatat

selama penutupan sumur,apabila diplot terhadap log

dengan kemiringan :

m =

162.6 q μ B

kh

,psi/cycle

t

t

Δ t

merupakan garis lurus

(2-9)

Contoh yang ideal dari pengujian ini dapat dilihat dari Gambar 2.4. Jelas

bahwa perbeabilitas (k), dapat ditentukan dari slope “m”, sedangkan apabila garis

ini diekstrapolasikan keharga Horner Time sama dengan satu (equivalent dengan

penutupan yang tidak terhingga lamanya), maka tekanan pada saat ini teoritis

sama dengan tekanan awal reservoir tersebut.

Sesaat sumur ditutup akan berlaku hubungan :

Ρ wf

= Ρi + 70.6

= Ρi + 162

qμB

kh

ln

1688

φμ

c r

t

w

2

k . t

p

qμB

kh

log

1688

φμ

c r

t

w

2

k . t

p

2 s

0.869

s

11

=

Ρ+ i

m

log

1688

φμ

c r

t

w

2

k . t

p

0.869

s

(2-10)

Pada saat waktu penutupan = Δt , berlaku hubungan :

Ρ

ws

= Ρ − log + Δ / Δ

i

m

p

[(t

t) t]

(2-11)

Kalau persamaan (2-10) dan (2-11) dikombinasikan, maka dapat dihitung harga

skin (s), sehingga :

s

= 1.151

⎛Ρ −Ρ ⎞

m

1688

φμ

c r

t

w

2

t

p

t

ws

wf

⎟ +

Δ t

k

t

p

1.151log

+

1.151log

.(2-12)

Didalam industri perminyakan biasanya dipilih Δt = 1 jam sehingga P ws

pada persamaan (2-12) menjadi P 1jam . P 1jam ini harus diambil pada garis lurus atau

t

garis ekstrapolasinya. Kemudian faktor

⎜ ⎜

p

Δ

t

t

dapat diabaikan sehingga :

s = 1.151

⎡ ⎛Ρ −Ρ ⎞

⎢ ⎣ ⎝

1 jam

wf

⎟ −

m

log

k

2

(

)

φμ

c r

t

w

+

3.23

(2-13)

dimana skin harus berharga positif.

Apabila harga s ini berharga positif berarti ada kerusakan (damaged) yang

pada umumnya dikarenakan adanya filtrat lumpur pemboran yang meresap

kedalam formasi atau endapan lumpur (mud cake) di sekeliling lubang bor

pada formasi produktif yang kita amati. skin yang negatif menunjukkan

perbaikan (stimulated), biasanya ini terjadi setelah dilakukan pengasaman

(acidizing) atau perekahan (hydraulic fracturing).

Sedangkan adanya hambatan aliran yang terjadi pada formasi produktif

akibat adanya skin effect, biasanya diterjemahkan kepada besarnya

penurunan tekanan, ΔPs yang ditentukan menggunakan persamaan :

ΔPs = 0.87 m s , psi

Maka besarnya produktifitas formasi (PI) dan atau flow effisiensi (FE)

(2-14)

berdasarkan analisa pressure build-up ini dapat ditentukan menggunakan

persamaan :

12

PI =

Dan

FE =

q

P

P

wf

−Δ

P

s

,BPD / Psi

P

P

wf

−Δ P

s

P

P

wf

x100%

(2-15)

(2-16)

Sedangkan untuk mengetahui besarnya radius of investigation (ri) dapat

ditentukan menggunakan persamaan :

ri = 0.03

Keterangan :

c t

kt φμ c t
kt
φμ
c
t

, ft

: kompresibilitas , psi -1

(2-17)

Untuk reservoir yang bersifat infinite acting, tekanan rata-rata reservoir ini

adalah P* = Pi = P ave .

rata-rata reservoir ini adalah P* = Pi = P a v e . Gambar 2.4. Sejarah

Gambar 2.4. Sejarah Laju Alir untuk Ideal Pressure Buildup Test 1)

1. Pressure Build-Up yang Ideal

Seperti terlihat pada persamaan sebelumnya, plot antara Pws vs

log

t

p

t

Δ t

merupakan garis lurus. Ini merupakan hal yang ideal tanpa adanya

pengaruh awal dari wellbore storage dapat dilihat pada Gambar 2.5 berikut :

13

13 Gambar 2.5. Grafik Pressure Buld Up untuk Reservoir Ideal 1 ) 2. Wellbore Storage Efek

Gambar 2.5. Grafik Pressure Buld Up untuk Reservoir Ideal 1)

2. Wellbore Storage

Efek dari wellbore storage akan mendominasi data awal dari suatu pengujian sumur, dimana lama pengaruh wellbore storage sangat tergantung kepada ukuran maupun konfigurasi lubang bornya. Rangkaian pengerjaan analisa pressure build-up dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Terlebih dahulu buat plot log P = (P ws - P wf ) vs log t.

2. Wellbore storage effect terlihat dengan adanya unit slope yang dibentuk oleh data awal. Dari unit slope tersebut dapat diperkirakan wellbore storage coefficient (C s ) di dalam satuan

C

s

qB Δ t

=

(2-18)

24 ΔΡ Dari unit slope tersebut dapat diperkirakan wellbore storage coefficient (C s ) di dalam satuan

C

s

qB Δ t

=

24 ΔΡ

(2-19)

14

Keterangan :

q

= Laju alir,

STB/Day

B

= Faktor folume formasi, bbl/STB

t = Waktu, jam P = Tekanan, psia Dimana t dan P tersebut berasal dari sembarang titik yang dipilih pada unit slope.

3. Dari titik data yang mulai meninggalkan unuit slope kemudian diukur

1 atau 1.5 log cycle. Data yang terletak diluar jarak tersebut adalah yang bebas dari pengaruh well bore storage.

4. Membuat Horner plot, (t + t)/t vs P ws . Horner straight line dibentuk dari titik-titik data yang bebas dari wellbore storage diatas. Kemudian berdasarkan garis lurus yang terbentuk tersebut dianalisa harga- harganya seperti k, P*, s, dan FE.

Gambar 2.6 menjelaskan Tipe Pressure Build-up Bawah Lubang untuk Produksi Pseudo Steady State Sebelum Shut-in.

2.2.3. Karakteristik Kurva Pressure Buildup Test

Karakteristik kurva Pressure Buildup Test dapat mengambarkan bagian- bagian dari ulah tekanan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.7. Dari gambar tersebut terlihat bahwa ulah tekanan dapat dibagi menjadi tiga bagian yang meliputi :

1. Segmen Data Awal (Early Time)

2. Segmen Data Tengah (Middle Time)

3. Segmen Data Lanjut (Late Time)

15

15 Gambar 2.6. Tipe Pressure Build-up Bawah Lubang untuk Produksi Pseudo Steady State Sebelum Shut-in 1

Gambar 2.6. Tipe Pressure Build-up Bawah Lubang untuk Produksi Pseudo Steady State Sebelum Shut-in 1)

1. Segmen Data Awal (Early Time)

Mula-mula sumur ditutup, pressure buildup test memasuki segmen data awal, dimana aliran didominasi oleh adanya pengaruh wellbore storage, skin dan

phase segregation (gas hump). Bentuk kurva yang dihasilkan oleh bagian ini merupakan garis melengkung pada kertas semilog, dimana mencerminkan penyimpangan garis lurus akibat adanya kerusakan formasi di sekitar lubang sumur atau adanya pengaruh wellbore storage seperti terlihat pada Gambar 2.7.

2. Segmen Waktu Pertengahan (Middle Times)

Dengan bertambahnya waktu, radius pengamatan akan semakin jauh menjalar kedalam formasi. Setelah pengaruh data awal terlampaui maka tekanan akan masuk bagian waktu pertengahan. Pada saat inilah reservoir bersifat infinite

16

acting dimana garis lurus pada semilog terjadi. Dengan garis lurus ini dapat ditentukan beberapa parameter reservoir yang penting, seperti: kemiringan garis atau slope (m), permeabilitas effiktif (k), storage capacity (kh), faktor kerusakan formasi (s), tekanan rata-rata reservoir.

faktor kerusakan formasi (s), tekanan rata-rata reservoir. Gambar 2.7. Grafik Pressure Build-up Test Sebenarnya 1

Gambar 2.7. Grafik Pressure Build-up Test Sebenarnya 1)

3. Segmen Waktu Lanjut (Late Times)

Bagian akhir dari suatu kurva setara tekanan adalah bagian waktu lanjut (late times) yang dinampakan dengan berlangsungnya garis lurus semilog mencapai batas akhir sumur yang diuji dan adanya penyimpangan kurva garis lurus. Hal ini disebabkan karena respon tekanan sudah dipengaruhi oleh kondisi batas reservoir dari sumur yang diuji atau pengaruh sumur-sumur produksi maupun injeksi yang berada disekitar sumur yang diuji. Periode ini merupakan selang waktu diantara periode transient (peralihan) dengan awal periode semi steady state. Selang waktu ini adalah sangat sempit atau kadang-kadang hampir tidak pernah terjadi.

17

2.3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Bentuk Kurva Tekanan

Pada kenyataannya kurva respon tekanan tidaklah ideal. Banyak faktor

yang mempengaruhi bentuk kurva tersebut. Adanya penyimpangan dari asumsi-

asumsi yang berbeda dari kondisi idealnya. Sebenarnya disinilah letak manfaat

dari asumsi-asumsi yang diberikan, karena terjadinya anomali kurva respon

tekanan yang terjadi akan memberikan gambaran adanya kelainan, faktor-faktor

tersebut antara lain pengaruh wellbore storage, redistribusi fasa dalam lubang bor

maupun heterogenitas reservoir.

2.3.1 Wellbore Storage

Pengaruh dari wellbore storage akan mendominasi data awal dari suatu

pengujian sumur, dimana lamanya pengaruh wellbore storage ini tergantung pada

ukuran maupun konfigurasi lubang bor serta sifat–sifat fisik fluida maupun batuan

formasinya. Untuk menentukan kapan wellbore storage berakhir maka dibuat plot

antara ΔP = (P ws – P wf ) vs Δt pada kertas log–log, seperti terlihat pada Gambar

2.8.

Garis lurus dengan kemiringan 45º (slope = 1) pada data awal

menunjukkan adanya pengaruh wellbore storage. Dari garis ini, tentukan titik

awal penyimpangan dan ukur 1 - 1,5 cycle dari titik tersebut untuk menentukan

awal dari tekanan yang tidak dipengaruhi oleh wellbore storage (end of wellbore

storage).

Dengan diketahuinya wellbore storage yang terlihat dengan adanya unit

slope tersebut dapat diperkirakan wellbore storage coefficient (c s ) dalam satuan

bbl/psi.

c

s

=

q

× B ×Δ

t

24

×Δ

P

Keterangan :

q

= laju produksi, STB/D

B

= faktor volume formasi, bbl/STB

t

= waktu, jam

(2-20)

P = perbedaan tekanan, psi

P dan t berasal dari sembarang titik yang dipilih dari unit slope.

18

18 Gambar 2.8. Grafik ∆ P vs ∆ t pada Kertas Log-log 5 ) 2.3.2. Redistribusi

Gambar 2.8. Grafik P vs t pada Kertas Log-log 5)

2.3.2. Redistribusi Fasa Dalam Lubang Bor (Gas Hump)

Fenomena redistibusi fasa dalam lubang bor terjadi ketika penutupan sumur dipermukaan dimana gas, minyak dan air mengalir bersama-sama di dalam tubing. Karena adanya pengaruh gravitasi maka cairan akan bergerak ke bawah sedangkan gas akan bergerak naik ke permukaan. Oleh karena cairan yang relatif tidak dapat bergerak serta gas tidak dapat berkembang di dalam sistem yang tertutup ini, redistribusi fasa ini akan menambah kenaikkan tekanan pada lubang bor sehingga dapat mencapai keadaan yang lebih tinggi dari tekanan formasinya sendiri dan menyebabkan terjadinya hump disaat awal.

2.3.3. Heterogenitas Reservoir

Salah satu sifat heterogenitas reservoir yang mempengaruhi bentuk kurva ulah tekanan untuk uji sumur adalah ketidakseragaman permeabilitas. Pengecilan permeabilitas dapat disebabkan oleh penyumbatan dari scale atau kotoran, maupun hydrasi clay dan swelling, sedangkan pembesaran permeabilitas dapat dikarenakan oleh adanya stimulasi pada sumur seperti pengasaman ataupun hydraulic fracturing.

19

2.4. Cara Kerja Alat

Peralatan dalam melakukan Uji tekanan di lapangan antara lain SRO (Surface Read Out). SRO terdiri dari Panex Pressure Gauge yang dimasukkan melalui Sinker Bar, alat ini akan mengolah tekanan dan temperatur setiap detik

atau jam sesuai yang ditentukan. Di dalam Panex Pressure Gauge terdapat Buffer Tube yang berisi cairan silikon 1000 cp, jadi pressure tidak langsung ke elemen tetapi melewati Buffer Tube. Kemudian peralatan dikontrol dipermukaan sehingga mendapatkan data secara langsung sehingga peralatan ini disebut SRO (Surface Read Out). Cara melakukan Uji tekanan bentuk (PBU)adalah

1. Masukkan Sinker Bar kedalam sumur untuk mengetahui kondisi lubang sumur aman.

2. Masukkan rangkaian SRO dan ukur gradien tekanan alir setiap kedalaman tertentu.

3. Tutup sumur untuk ulah tekanan bentuk (PBU) sampai tercapai kestabilan tekanan.

4. Cabut SRO sampai permukaan sambil ukur gradien tekanan statik atau alir.

5. Pengukuran selesai, kembalikan sumur pada status semula.

Gambar

2.9

dan

Gambar

2.10

pengujian tekanan di lapangan.

adalah

alat

yang

digunakan

dalam

dan Gambar 2.10 pengujian tekanan di lapangan. adalah alat yang digunakan dalam Gambar 2.9. Panex Pressure

Gambar 2.9. Panex Pressure Gauge 6)

20

20 Gambar 2.10. Buffer Tube 6 ) 2.5. Analisa Pressure Build Up Untuk menganalisa data–data hasil

Gambar 2.10. Buffer Tube 6)

20 Gambar 2.10. Buffer Tube 6 ) 2.5. Analisa Pressure Build Up Untuk menganalisa data–data hasil

2.5. Analisa Pressure Build Up

Untuk menganalisa data–data hasil pengujian di dasarkan pada teori analisa ulah tekanan bentuk (Pressure Build-Up Curve), yang dikemukakan oleh Horner,

dimana untuk memberlakukan teori ini digunakan anggapan sebagai berikut :

1.

Sumur berproduksi pada laju aliran tetap dari pusat reservoir tak terbatas

dengan tekanan yang tetap pada batas luar reservoir.

2.

Aliran fluida hanya satu fasa.

3.

Kompressibilitas dan viscositas fluida konstan pada interval tekanan dan temperatur yang bervariasi.

4.

Sumur ditutup pada muka batupasir dan tidak terjadi aliran after flow production kedalam lubang sumur.

5.

Formasi mempunyai permeabilitas homogen dalam arah aliran.

2.5.1.

Langkah Kerja Metode Horner

Pressure buildup test pada prinsipnya dilakukan dengan cara memproduksikan sumur selama selang waktu tertentu dengan laju produksi yang tetap, kemudian menutup sumur tersebut. Penutupan ini menyebabkan naiknya tekanan yang dicatat sebagai fungsi waktu. Data tekanan yang diperoleh dari test tersebut dan data-data pendukung lainnya dikumpulkan dan kemudian dianalisa. Analisa dengan metode horner secara manual yaitu dengan cara memplot data tekanan (P ws ) pada saat penutupan sumur (shut in) vs Horner time ((tp + Δt ) / Δt ),

dari plot ini didapatkan harga m, P 1jam dan P*. Penggunaan metode horner secara manual dalam penerapannnya sering kali dijumpai kesulitan, terutama bila data

21

tekanan sebagian besar didominasi oleh efek wellbore storage dan skin efek sehingga tidak dapat menginterpretasikan sifat reservoir yang sebenarnya.

Pressure Build-Up Test dengan

menggunakan metode Horner adalah sebagai berikut :

Tahapan–tahapan interpretasi

1.

2.

Siapkan data–data pendukung, antara lain :

- Kumulatif Produksi

- Produksi rata–rata

- Porositas

- Kompressibilitas batuan

- Jari–jari sumur

- Faktor Volume Formasi

- Viscositas fluida

- Ketebalan lapisan produktif

Hitung berapa lama sumur telah diproduksikan dengan rumus

tp =

Np, kumulatif produksi

qo, produksi rata - rata terakhir sebelum test

3.

4.

5.

Buat tabel data uji tekanan dasar sumur (P ws ), waktu penutupan (dt),

((tp + dt)/ dt), dan P ws – P wf , dimana P wf adalah tekanan dasar sumur

pada waktu t = 0.

Plot antara ΔP = (P ws – P wf ) vs log t pada kertas log-log. Garis lurus

dengan kemiringan 45˚ (slope = 1) pada data awal menunjukkan

adanya pengaruh wellbore storage. Dari garis ini, tentukan titik awal

penyimpangan dan ukur 1 – 1,5 cycle dari titik tersebut untuk

menentukan awal dari tekanan yang tidak terpengaruh oleh wellbore storage.

Pengaruh wellbore storage terlihat dengan adanya unit slope yang

dibentuk oleh data awal. Dari unit slope tersebut dapat diperkirakan wellbore storage coefficient (c s ) dalam satuan bbl/psi.

c

s

=

q

× ×Δ

B

t

24

×Δ

P

22

6. Buatlah Horner plot antara log ((tp + dt)/ dt) vs P ws . Tarik garis lurus dimulai dari data yang tidak dipengaruhi oleh wellbore storage. Tentukan sudut kemiringan (m) dicari dengan membaca harga kenaikan tekanan (ΔP) untuk setiap satu log cycle. P* diperoleh dengan mengekstrapolasikan garis lurus tersebut hingga mencapai harga waktu penutupan (dt) tak terhingga atau harga ((tp + dt)/ dt) = 1.

7. Hitung harga permeabilitas (k) dengan persamaan :

k

o

=

162,6

×

q

o

×

μ

×

B

o

m

×

h

8. Baca P ws pada dt = 1 jam.

9. Hitung harga faktor skin dengan persamaan :

S

= 1,151

(

P

P

wf

)

1jam

m

log

k

φ μ

×

()

× c × r

t

w

2

+

3,23

10. Hitung r i (radius of investigation) dengan persamaan :

r =

i

k

×

t

948

×

φ μ

×

×

c

t

1 2
1
2

11. Hitung Flow Efficiency (FE) dengan persamaan :

−Δ

(

P

*

P

WF

)

Pskin

FE =

(

p

*

P

WF

)

Keterangan :

FE < 1 menunjukkan permeabilitas formasi disekitar lubang sumur mengecil akibat adanya kerusakan. FE > 1 menunjukkan permeabilitas formasi disekitar lubang sumur telah diperbaiki dan harganya lebih besar dari harga semula

12. Hitung Productivity Index (PI) dengan persamaan :

PI

=

q

o

P

*

P

wf

23

2.6. Pressure Derivative

Pada tahun 1980 muncul suatu instrument yang beresolusi tinggi karena lebih unggul dengan menggunakan media elektronik. Instrument ini membantu kita untuk memperoleh tekanan yang lebih teliti dari pada instrument standart bourdon tube yang telah digunakan sejak tahun 1930. Akhirnya, resolusi ini lebih dikenal dengan “pressure derivative” yang akhir-akhir ini lebih digemari dari pada analisa yang lainnya. Pada masa sekarang, derivative digunakan secara rutin dalam menganalisa pengukuran tekanan. Metode ini pertama kali diperkenalkan pada buku ground water hydrologi oleh Chow (1952). Di dalam industri perminyakan, metoda derivative pertama kali diaplikasikan dan diperkenalkan oleh Jones (1957). Dia tertarik pada kontak fluida dan keberadaan dari batas. Pada tahun 1962 ia melanjutkan idenya untuk uji batas reservoir. Carter (1966) menggunakan gagasan Jones untuk menghitung volume reservoir, Prasad (1979) telah menghitung volume reservoir dengan menggunakan analisa PBU. Metoda pressure derivative ini muncul oleh karena pada penentuan akhir dari efek wellbore storage dengan menggunakan metoda analisa Horner tidak dapat memberikan harga yang tepat dan juga metoda analisa Horner tidak bisa memberikan hasil yang akurat apabila digunakan untuk menganalisa reservoir yang begitu kompleks. Pada metoda analisa Horner, penentuan akhir dari efek wellbore storage ditandai dengan perubahan deviasi (pembelokan) pada kurva tekanan atau yang biasa disebut dengan unit slope, kemudian unit slope ini ditambahkan dengan satu setengah cycle. Umumnya plot kurva pressure derivative terdiri dari dua bagian. Bagian pertama merupakan plot antara beda tekanan penutupan (P ws ) dengan tekanan aliran dasar sumur (P wf ) yang dinyatakan sebagai ΔP terhadap waktu penutupan (Δt) pada kertas grafik log-log, plot kurva pertama ini berfungsi untuk mengetahui

flat curve, disamping mengetahui berakhirnya wellbore storage. Bagian kedua merupakan plot antara slope (m) terhadap waktu penutupan (Δt) juga pada kertas grafik log-log. Untuk kurva ke dua secara praktis derivative dari perubahan tekanan berdasarkan fungsi superposisi waktu. Dari persamaan PBU, dapat dinyatakan :

24

P = f (ln H )

Jika P ws dinyatakan sebagai :

P

ws

=

P

i

70.6

q

μ

B

k h

ln(H )

(2-21)

(2-22)

Persamaan diatas identik dengan persamaan garis lurus :

y = a + mx

(2-23)

Perolehan slope dari kurva kedua ini berdasarkan cara statistik cara least

square, yang merupakan garis seminimumkan jumlah pangkat dua penyimpangan,

dengan syarat : untuk meminimumisasi fungsi, turunan pertamanya haruslah nol,

ini menghendaki turunan pertama terhadap a (P i ) sama dengan nol dan turunan

pertama pertama terhadap slope (a) juga sama dengan nol. Slope suatu garis

berdasarkan superposisi titik sebelumnya dinyatakan :

m =

n

− ∑

(ln

H

i

P

i

)

+∑ ∑

(

P

i

)

(ln

H

i

)

 

(

ln

H

i

)

2

− ∑

n

(ln

H

i

)

2

Keterangan :

P i

: tekanan penutupan dari data ke i, psi.

Hi :

⎛ Δ+ t t p

⎟ ⎟ waktu horner untuk data ke i.

Δ

t

m : slope kurva.

a : tekanan initial, psi.

n : jumlah data.

(2-24)

Gambar atau model dari kurva derivative dapat dilihat pada Lampiran A.

2.7.

Tekanan Reservoir

Tekanan reservoir adalah tekanan yang diberikan oleh zat yang mengisi

rongga

reservoir baik berupa gas, minyak, atau air. Tekanan reservoir ini hanya

diberikan oleh fluida yang ada dan bergerak dalam pori-pori batuan. Dengan

adanya tekanan reservoir ini akan menyebabkan terjadinya aliran fluida didalam

formasi kedalam lubang sumur yang mempunyai tekanan relatif rendah dan

besarnya tekanan reservoir ini akan berkurang jika adanya kegiatan produksi.

25

Tekanan yang bekerja didalam reservoir pada dasarnya disebabkan oleh

tiga hal, yaitu :

1. Tekanan Hidrostatik

Adalah tekanan yang berasal dari fluida yang berada didalam pori-pori batuan

formasi. Faktor yang mempengaruhi tekanan hidrostatik adalah jenis dari fluida

itu sendiri dan kondisi geologi.

2. Tekanan Kapiler

Tekanan kapiler disebabkan oleh adanya gaya-gaya yang dipengaruhi

tegangan antar permukaan antar fluida yang bersinggungan, besar volume dan

bentuk pori serta sifat kebasahan batuan reservoir.

3. Tekanan Overburden

Tekanan overburden adalah tekanan yang terjadi akibat berat batuan yang

berada diatasnya. Besarnya pertambahan tekanan overburden sebanding dengan

bertambahnya kedalaman.

2.8. Flow Efficiency

Flow efficiency adalah perbandingan antara selisih tekanan statik reservoir

dengan tekanan alir reservoir jika disekitar lubang tidak terjadi perubahan

permeabilitas (ideal drawdown) terhadap besar penurunan sebenarnya (actual

drawdown). Secara matematis dinyatakan sebagai berikut :

J

FE = ⎜

actual

J

ideal

Dimana :

J actual

J ideal

Sehingga :

FE

=

=

q

=

P

Pwf

q

P

Pwf

−Δ

skin

P

Pwf

−Δ

P

skin

P

Pwf

(2-25)

(2-26)

(2-27)

(2-28)

Dimana, ΔP skin = Kehilangan tekanan pada zone damage.

26

Dengan mengetahui harga FE maka dapat diperkirakan kondisi formasi di

sekitar lubang bor yaitu dengan adanya kerusakan formasi, maka besarnya FE

akan berkurang. Harga laju produksi maksimum yang dihasilkan adalah harga laju

produksi maksimum pada harga skin sama dengan nol.

2.9. Skin Effect

Skin adalah suatu besaran yang menunjukkan ada atau tidaknya kerusakan

pada formasi sebagai akibat dari operasi pemboran. Biasanya ini diakibatkan oleh

adanya filtrat lumpur pemboran yang masuk kedalam formasi atau adanya

endapan lumpur (mud cake) disekeliling lubang bor pada formasi produktif

tersebut. Secara matematis besarnya perubahan skin dapat dinyatakan dengan

persamaan berikut ini :

s

ws

wf

⎟ +

1688

φμ

c r

t

w

2

t

p

t

 

m

1.151log

k

Δ

t

⎟ = 1.151log

t

p

⎛Ρ −Ρ ⎞

⎞ ⎟ +Δ ⎞

⎟ ⎟ ⎠

= 1.151

(2-29)

Biasanya harga Δt dipilih satu (1) jam, sehingga P ws pada persamaan (2-30)

menjadi P 1jam . P 1jam ini harus diambil pada garis lurus atau garis ekstrapolasinya.

Kemudian faktor log

s

=

1.151

⎛ Ρ −Ρ

1

jam

wf

m

⎜ ⎜ ⎝

t

p

+Δ ⎞

⎟ ⎠

t

t

p

dapat diabaikan sehingga :

log

k

2

(

)

φμ

c r

t

w

+

3.23

(2-31)

Dimana, harga m harus berharga positif.

Apabila s berharga positif maka dalam formasi produktif tersebut terjadi

kerusakan (damaged), bila s = 0 maka tidak terdapat kerusakan maupun perbaikan

pada formasinya, dan bila s berharga negatif maka formasi produktif tersebut

menunjukkan adanya perbaikan (stimulated) yang biasanya setelah dilakukan

pengasaman (acidizing) atau suatu perekahan hidraulik (hydraulic fracturing).

27

2.10. Produktivity Index (PI)

Produktivity indeks (PI) adalah indeks yang digunakan untuk menyatakan

kemampuan dari suatu sumur untuk berproduksi pada suatu kondisi tertentu

secara kwalitatif. Secara definisi PI adalah perbandingan antara laju produksi (q)

suatu sumur pada suatu harga tekanan alir dasar sumur tertentu (Pwf) dengan

perbedaan tekanan statik formasi (Ps). Secara matematis dapat dituliskan dalam

persamaan :

PI

=

q

bbl / hari

(P

s

Pwf )

psi

(2-32)

Keterangan :

PI

=

Produktivity index, bbl/day

q

=

Laju produksi, bbl/day

P s

=

Tekanan statik reservoir, psi

Pwf

=

Tekanan alir dasar sumur, psi

Faktor-faktor yang

mempengaruhi harga PI dapat ditentukan dengan

penurunan

persamaan

PI

dari

persamaan

Darcy,

untuk

aliran

radial

dapat

berbentuk:

(

0.007082 kh P P

s

wf

)

r

B ln

μ

e

r

w

q =

Jika yang dialirkan minyak, maka persamaan menjadi :

0.007082 kh

q =

μ

o

B

o

r

ln

e

r

w

Bila yang dialirkan terdiri dari minyak dan air maka persamaan menjadi :

k

0.007082

kh

k

o

q =

μ

o

B

o

r

ln

e

r

w

μ

o

B

o

μ

w

B

w

+

w

Keterangan :

k

= Permeabilitas, md

k o

= Permeabilitas minyak, md

(2-33)

(2-34)

(2-35)

28

k w

μ

μ

w

o

=

Permeabilitas air, md

=

Viscositas minyak, cp

= Viscositas air, cp

B

o

= Faktor volume vormasi minyak, bbl/STB

B

w

= Faktor folume formasi air,bbl/STB

r e

=

Jari-jari pengurasan, ft

r w

=

Jari-jari sumur, ft

h

= Ketebalan formasi, ft

Bentuk lain yang sering digunakan untuk mengukur produktivitas sumur