Anda di halaman 1dari 22

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN STATUS EKONOMI DENGAN PERILAKU MEROKOK Studi terhadap Warga Dusun Tempel

Desa Girirejo Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang pada bulan Juli 2013

Oleh:

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2013

KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN STATUS EKONOMI DENGAN PERILAKU MEROKOK Di Dusun Tempel Desa Girirejo Kecamatan Kaliangkrik

Yang dipersiapkan dan disusun oleh

ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara konsumen tembakau terbesar di dunia. Secara nasional, konsumsi rokok di Indonesia pada tahun 2002 berjumlah 182 milyar batang yang merupakan urutan ke-5 diantara 10 negara di dunia dengan konsumsi tertinggi pada tahun yang sama (Depkes RI, 2004). Menurut survey Badan Kesehatan Dunia (WHO) 75% pria dan 5% wanita di Indonesia adalah perokok (dalam Amalia, 2000). WHO memperkirakan tingkat kematian dunia akibat konsumsi rokok pada tahun 2030 akan mencapai 10 juta orang setiap tahunnya dan sekitar 70% terjadi di Negara berkembang termasuk Indonesia. Rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan kimia yang berbahaya. Asap satu batang rokok mengandung 4.000 bahan kimia yang

sangatberbahayabagikesehatan (Levinthal, 1996). Perilaku merokok tidak berkurang meski peringatan akan bahaya merokok telah tertulis secara jelas dan besar di setiap bungkus rokok yang diproduksi. Aktivitas merokok banyak menyebabkan hal yang negatif seperti penyakit kanker, gangguan kardiovaskuler, gangguan kehamilan dan janin. Peningkatan jumlah perokok akan sangat membahayakan status kesehatanmasyarakat di masadepan. Status kesehatan yang menurun akibat dampak merokok dapat

meningkatkan kemungkinan terkena berbagai jenis penyakit yang dapat

menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Selain itu, merokok akan menciptakan beban ganda yang harus ditanggung, karena merokok akan mengganggu kesehatan sehingga akan lebih banyak lagi biaya yang dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya. Pada banyak negara berkembang, prevalensi perilaku merokok menjadi lebih besar pada kelompok sosial ekonomi rendah. Menurut Paavola, dkk., pada 2004, keadaan sosial ekonomi yang terdiri dari tingkat pendidikan dan penghasilan memegang peranan penting dalam perilaku merokok. Di daerah dusun tempel, desa girirejo, kabupaten Magelang, merokok telah menjadi kebiasaan yang sangat lazim di antara para warganya yang masih memiliki karakteristik berbagai macam latar tingkat pendidikan dan status ekonomi. Hal ini mendasari dilakukannya penelitian analitik observasional untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pendidikan dan status ekonomi terhadap perilaku merokok guna mengambil tindakan

penanggulangan lebih lanjut sebagai langkah intervensi perilaku merokok masyarakat dusun tempel des girirejo kabupaten magelang jawa tengah. 1.2. Perumusan Masalah Dari latar belakang di atas, maka dapat dibuat perumusan masalah: Apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan perilaku merokok di Dusun Tempel Desa....?

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan perilaku merokok di Dusun Tempel..... 1.3.2. Tujuan Khusus i. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan perilaku merokok di ..... ii. Untuk mengetahui hubungan antara status ekonomi dengan perilaku merokok...... iii. Untuk mengetahui variabel yang memiliki keeratan hubungan (RP) tertinggi dengan perilaku merokok...... 1.4. Manfaat 1.4.1. Manfaat Teoritis i. Kajian bagi penelitian selanjutnya mengenai hubungan antara tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan

perilaku merokok. ii. Memberikan informasi tentang hubungan antara tingkat

pendidikan dan status ekonomi dengan perilaku merokok.

1.4.2.

Manfaat Praktis iii. Menambah pengetahuan masyarakat tentang hubungan tingkat pendidikan dan status ekonomi yang dimungkinkan

sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku merokok.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Dampak Perilaku merokok Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan, berbentuk silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah (Sitopoe, 2000; Wikipedia, 2008). Merokok atau yang biasa disebut sebagai tobacco dependency sendiri dapat didefinisikan sebagai perilaku penggunaan tembakau yang menetap, biasanya lebih dari setengah bungkus rokok per hari, dengan adanya tambahan distres yang disebabkan oleh kebutuhan akan tembakau secara berulang-ulang (Ogawa dalam Triyanti, 2006). Perilaku merokok adalah aktivitas seseorang yang merupakan respons orang tersebut terhadap rangsangan dari luar yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk merokok dan dapat diamati secara langsung (Istiqomah, 2003). Masalah merokok merupakan masalah yang serius karena menyangkut berbagai aspek, yaitu: aspek kesehatan, aspek ekonomi, dan aspek sosial. Kebiasan merokok telah terbukti berhubungan dengan sedikitnya 25 jenis penyakit dari berbagai alat tubuh manusia, seperti kanker paru, bronkitis kronik, emfisema dan berbagai penyakit paru lainnya (Aditama, 1997). Rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan kimia yang berbahaya. Asap satu batang rokok mengandung 4.000 bahan kimia yang sangat berbahaya bagi

kesehatan (Levinthal, 1996). Peningkatan jumlah perokok akan sangat membahayakan status kesehatan masyarakat di masa depan. Status kesehatan yang menurun akibat dampak merokok dapat meningkatkan kemungkinan terkena berbagai jenis penyakit yang dapat menurunkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Selain itu, merokok akan menciptakan beban ganda yang harus ditanggung, karena merokok akan mengganggu kesehatan sehingga akan lebih banyak lagi biaya yang dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya. WHO memperkirakan tingkat kematian dunia akibat konsumsi rokok pada tahun 2030 akan mencapai 10 juta orang setiap tahunnya dan sekitar 70% terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.

2.2 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku merokok Menurut Levy (1984) setiap individu mempunyai perilaku merokok yang berbeda dan biasanya disesuaikan dengan tujuan mereka merokok. Pendapat tersebut didukung oleh Smet (1994) yang menyatakan bahwa seseorang merokok karena faktor-faktor sosio cultural seperti kebiasaan budaya, kelas sosial, gengsi, dan tingkat pendidikan. Selain itu, menurut Komalasari dan Helmi (2000), perilaku merokok selain disebabkan dari faktor dalam diri (internal) juga disebabkan faktor dari lingkungan (eksternal).

a) Faktor Diri (internal) Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit dan kebosanan. Merokok juga memberi image bahwa merokok dapat menunjukkan kejantanan (kebanggaan diri) dan menunjukkan kedewasaan. Individu juga merokok dengan alasan sebagai alat menghilangkan stres (Nasution, 2007). Remaja mulai merokok berkaitan dengan adanya krisis psikososial yang dialami pada perkembangannya yaitu pada masa ketika mereka sedang mencari jati dirinya (Komalasari dan Helmi, 2000).

b) Faktor Lingkungan (eksternal) Menurut soetjiningsih (2004), faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku merokok remaja adalah keluarga atau orang tua, saudara kandung maupun teman sebaya yang merokok, dan iklan rokok. 1) Orang Tua Perilaku remaja memang sangat menarik dan gaya mereka pun bermacammacam. Ada yang atraktif, lincah, modis, agresif dan kreatif dalam hal-hal yang berguna, namun ada juga remaja yang suka hura-hura bahkan mengacau. Pada masa remaja, remaja memulai berjuang melepas ketergantungan kepada orang tua dan berusaha mencapai kemandirian sehingga dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa. Pada masa ini hubungan keluarga yang dulu sangat erat sekarang tampak terpecah. Orang tua sangat berperan pada masa remaja, salah satunya adalah pola asuh keluarga akan sangat berpengaruh pada perilaku remaja. Pola

asuh keluarga yang kurang baik akan menimbulkan perilaku yang menyimpang seperti merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obat terlarang dan lain-lain (Depkes RI, 2005). 13 2) Teman Sebaya Pengaruh kelompok sebaya terhadap perilaku beresiko kesehatan pada remaja dapat terjadi melalui mekanisme peer sosialization, dengan arah pengaruh berasal kelompok sebaya, artinya ketika remaja bergabung dengan kelompok sebayanya maka seorang remaja akan dituntut untuk berperilaku sama dengan kelompoknya, sesuai dengan norma yang dikembangkan oleh kelompok tersebut (Mutadin, 2002). Remaja pada umumnya bergaul dengan sesama mereka, karakteristik persahabatan remaja dipengaruhi oleh kesamaan: usia, jenis kelamin dan ras. Kesamaan dalam menggunakan obat-obatan, merokok sangat berpengaruh kuat dalam pemilihan teman. (Yusuf, 2006). 3) Iklan Rokok Banyaknya iklan rokok di media cetak, elektronik, dan media luar ruang telah mendorong rasa ingin tahu remaja tentang produk rokok. Iklan rokok mempunyai tujuan mensponsori hiburan bukan untuk menjual rokok, dengan tujuan untuk mengumpulkan kalangan muda yang belum merokok untuk mencoba merokok dan setelah mencoba merokok akan terus berkelanjutan sampai ketagihan (Istiqomah, 2004).

10

2.3 Hubungan antara Perilaku merokok

Tingkat Pendidikan dan Status Ekonomi dengan

Keadaan sosial ekonomi orang tua yang terdiri dari tingkat pendidikan, penghasilan, dan pekerjaan (Paavola dkk., 2004) memegang peranan penting dalam perilaku merokok. Pada banyak negara berkembang, prevalensi perilaku merokok menjadi lebih besar pada kelompok sosial ekonomi rendah. Perbedaan tingkat perilaku merokok ditinjau dari status sosial ekonomi ini menjadi lebih tinggi pada para remaja dibandingkan generasi-generasi lain yang lebih tua (Cavelaars dkk. dalam Paavola dkk., 2004). Dalam sebuah penelitian yang melibatkan para pelajar dari enam sekolah di Finlandia Timur ditemukan bahwa anak-anak dari para pekerja kerah biru (buruh) lebih banyak yang merokok dibandingkan anak-anak dari para pekerja kerah putih (pegawai kantor) atau petani (Paavola dkk., 2004). Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa status sosial ekonomi khususnya tingkat pendidikan mempunyai keterhubungan yang kuat dengan perilaku merokok. Pada subjek kelompok usia 13 tahun, 10% anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merokok sementara pada anak-anak yang melanjutkan hanya 4% yang merokok. Pada subjek kelompok usia 28 tahun, 63% subjek yang hanya mengenyam pendidikan wajib merokok sementara yang mengenyam bangku kuliah hanya 12% yang merokok. Rachiotis dkk. (2008) menemukan bahwa usia yang semakin tua, jenis kelamin pria, tingkat pendidikan orang tua yang semakin rendah, dan

11

ketersediaan uang saku yang cukup banyak pada masa remaja berhubungan secara signifikan dengan perilaku merokok saat ini. Kurt Lewin (dalam Komalasari & Helmi, 2000) berpendapat bahwa perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan oleh faktor lingkungan. Dalam konteks ini, maka dapat

disimpulkan bahwa perilaku merokok selain disebabkan oleh stres juga disebabkan oleh status sosial ekonomi secara bersama-sama.

2.4 Kerangka Teori


Faktor Individu/Internal Faktor Lingkungan/Eksternal

1. Status ekonomi 1. Stress psikososial 2. Kebanggaan 3. Kedewasaan 2. Tingkat Pendidikan 3. Orangtua 4. Teman Sebaya 5. Iklan

Kebiasaan Merokok

Gambar 2.1. Kerangka Teori

12

2.5

Kerangka Konsep Variabel bebas Tingkat Pendidikan kebiasaan merokok Status Ekonomi

Gambar 2.2. Kerangka Konsep 2.6 Hipotesis 2.6.1. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan .... Ada hubungan antara status ekonomi dengan perilaku merokok di Dusun Tempel Desa ...

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan penelitian cross sectional.

3.2. Variabel dan Definisi Operasional 3.2.1. Variabel 3.2.1.1. Variabel Bebas a. Tingkat pendidikan b. status ekonomi. 3.2.1.2. Variabel Tergantung Perilaku merokok. 3.2.2. Definisi Operasional variabel 3.2.2.1. Tingkat Pendidikan a. Definisi Adalah tingkat pendidikan formal terakhir yang telah ditempuh responden penelitian yang dinyatakan dengan ijazah. b. Cara Mengetahui Tingkat pendidikan diketahui dari wawancara menggunakan kuesioner. c. Skala Pengukuran

27

28

Skala: Ordinal d. Kategori: i. Rendah : maksimal tamat SD ii. Tinggi: minimal tamat SLTP

3.2.2.2. Tingkat pendapatan a. Definisi Adalah jumlah pendapatan per bulan responden penelitian. b. Cara Mengetahui Pendapatan per bulan kepala keluarga diketahui dari wawancara menggunakan kuesioner di Dusun Tempel 27 Juni 2013. c. Skala Pengukuran Ordinal d. Kategori: i. Rendah: < rata-rata penghasilan per bulan dari KK (Rp 1.200.000) ii. Tinggi: > ...... (Rp 1.200.000) 3.2.2.3. Perilaku merokok a. Definisi Adalah kebiasaan merokok yang dilakukan oleh responden penelitian.

29

b. Cara Mengetahui Perilaku merokok kepala keluarga diketahui dari wawancara menggunakan kuesioner. c. Skala Pengukuran Nominal 3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga dusun Tempel pada bulan Juli tahun 2013. 3.3.2. Sampel Sampel penelitian adalah populasi dengan kriteria sebagai berikut: 3.3.2.1. Inklusi i. ii. Kepala keluarga Berdomisili di Dusun Tempel

3.3.2.2. Eksklusi i. Tidak ada di tempat saat penelitian

Metode sampling yang dipakai adalah total sampling dengan jumlah total 69 kepala keluarga.

3.4. Instrumen dan Bahan Penelitian

30

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil survey di Dusun Tempel 27 Juni 2013 yang berisi diantaranya data kepala keluarga, tingkat pendidikan, dan status ekonomi.

3.5. Cara Penelitian Penelitian dilaksanakan oleh peneliti dengan cara sebagai berikut: i. Perencanaan Perencanaan meliputi: menetapkan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai, mendeskripsikan variabel penelitian, menentukan populasi terjangkau dan sampel penelitian serta cara untuk menentukan subjek penelitian dan menganalisis data. ii. Pelaksanaan penelitian Pelaksanaan penelitian meliputi: pengumpulan data, dimana data primer yang digunakan adalah kuesioner tentang tingkat pendidikan, status ekonomi dan perilaku merokok yang dibagikan dan diisi oleh kepala keluarga dusun Tempel, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. 3.6. Tempat Dan Waktu 3.6.1. Tempat Penelitian dilaksanakan di Dusun Tempel Desa Girirejo 3.6.2. Waktu Penelitian dilaksanakan pada tanggal 27 Juni s/d ...... 2013. 3.7. Analisis Data

31

Analisis data kuesioner tentang tingkat pendidikan, status ekonomi dan perilaku merokok dilakukan dengan program Statistical Package for Social Science (SPSS) for Windows 14.0. Data tersebut disajikan dalam bentuk deskriptif. Selanjutnya, untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan status ekonomi denga perilaku merokok di Dusun Tempel, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang digunakan uji Chi Square. Selanjutnya keeratan hubungan dengan menghitung Ratio Prevalens (RP).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian Penelitian dilakukan di Dusun Tempel dengan populasi seluruh kepala keluarga Dusun Tempel, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang sejumlah 69 orang. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

4.1.1. Karakteristik Sampel Penelitian Sampel penelitian didapat dengan berbagai karakteristik status ekonomi dan tingkat pendidikan. Tabel 4.1. Karakteristik Sampel Penelitian Menurut Status Ekonomi Tingkat Penghasilan Tinggi (di atas 1.200.000) Rendah (di bawah 1.200.000) Jumlah (jiwa) 22 47 % 31,88% 68,12%

Tabel 4.2.Karakteristik Sampel Penelitian menurut tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan Rendah (Tidak Sekolah & SD) Tinggi (SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi) Jumlah Jumlah 39 30 69 % 56,5 43,5 100

53

54

4.1.2. Distribusi Perilaku Merokok Berdasarkan hasil kuesioner, diketahui bahwa 25 kepala keluarga tidak merokok (36,23%), dan 44 kepala keluarga merokok (63,77%).

Tabel 4.3 Jumlah Kepala Keluarga yang Merokok dan Tidak Merokok Perilaku Merokok Ya Tidak Jumlah (jiwa) 44 25 % 63,77% 36,23%

4.1.3. Hubungan antara Usia, Tingkat Pendidikan dan Status Ekonomi dengan Perilaku Merokok Untuk melihat hubungan antara tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan perilaku merokok, maka dilakukan tabel silang antara tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan perilaku merokok, seperti yang terlihat pada Tabel 4.3

55

Tabel 4.3. Tabel Silang antara Tingkat Pendidikan dengan Perilaku Merokok

Merokok Ya n Tk. Pendidikan Rendah Tk. Pendidikan Tinggi Jumlah 44 63,77 25 36,33 13 18,84 17 24,64 31 % 44,93 n 8 Tidak % 11,59

RP

IK 95%

1.834 0.002

1.182

2.846

Tabel 4.4. Tabel Silang antara Tingkat Pendapatan dengan Perilaku Merokok

Merokok Ya n Tk. Pendapatan Rendah Tk. Pendapatan Tinggi Jumlah 44 63,77 25 36,33 7 10,15 15 21,74 37 % 53,62 N 10 Tidak % 14,49

RP

IK

56

4.2. Pembahasan Hasil