Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN KESUBURAN, PEMUPUKAN, DAN KESEHATAN TANAH BIOPORI, MOL (MIKRO ORGANISME LOKAL), METODE PEMUPUKAN,

PUPUK CAIR, PUPUK KOMPOS (DAUN DAN KOTORAN TERNAK) , SAMPLING TANAH, SOLUM TANAH DAN VERTIKAL CROPPING

DISUSUN : Dwihutami Agustiningrum (12308) Dessy Kushardiyanti (12313) Esi Asyani Listyowati (12328) Anugrah Putri Pratingkas (12352) Widya Rachmatika ( 12361) Golongan/kelompok : A5 Siang/ IV Asisten : Taufik Yoga LABORATORIUM KESUBURAN DAN KIMIA TANAH JURUSAN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

BIOPORI, MOL (MIKROORGANISME LOKAL), METODE PEMUPUKAN, PUPUK CAIR, PUPUK KOMPOS (DAUN DAN KOTORAN TERNAK), SAMPLING TANAH, SOLUM TANAH, DAN VERTICAL CROPPING ABTRAKSI
Praktikum lapangan Kesuburan, Pemupukan dan Kesehatan Tanah dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 26 Oktober 2013, di Laboratorium Kuningan, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tujuan dilaksanakan praktikum ini adalah untuk mengetahui cara bercocok tanam secara verti kultur, pembuatan pupuk serta aplikasinya, pembuatan biopori dan teknik pembuatan pupuk oraganik, dan teknik pengambilan sampel. Mengetahui metode pemupukan yang tepat sehingga memberikan hasil yang efektif dan efisien. Praktikum lapangan terdiri dari Praktikum lapangan terdiri dari pembuatan biopori dan mol, aplikasi pupuk, pembuatan pupuk kompos, sistem pertanaman vertikultur, serta pengambilan sampling dan solum tanah. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bor tanah, sendok, ember, botol, pisau, paralon, pacul, spritus, gergaji, corong, terpal, drum, ember, dan sumbu. Bahan yang digunakan adalah air kelapa, air cucian beras, air, jambu biji, gula pasir, pupuk cair, pupuk kompos, sampel tanah, seresah daun, starter, kotoran sapi, pasir, bibit tanaman cabe, dan jerami.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang sangat

Dalam dunia pertanian, tanah mempunyai peranan yang penting, tanah

dibutuhkan tanaman. Dengan bertambah majunya peradaban manusia yang sejalan dengan perkembangan pertanian dan disertai perkembangan penduduk yang begitu pesat, memaksa manusia mulai menghadapi masalah-masalah tentang tanah, terutama untuk pertanian sebagai mata pencaharian pokok pada waktu itu. Tanah adalah akumulasi tubuh tanah alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Dengan pertumbuhan penduduk yang semakin besar dari tahun ke tahun, luas tanah semakin berkurang, terutama dia daerah perkotaan. Vertikultur merupakan salah satu pemecahan masalah pertanian akibat pengurangan luas tanah. Lahan yang semakin sempit perlu adanya teknik budidaya agar memperoleh hasil maksimal dengan mengoptimalkan salah satunya faktor linkungan yaitu tanah. Untuk itu perlu adanya pengetahuan tentang bagaimana menjaga agar tanah tetap dapat memberi kehidupan dengan menjaga agar tanah tetap dalam kondisi subur. Tanah yang subur

akan dapat digunakan untuk menanam berbagai macam tanaman untuk kelangsungan hidup manusia. Tanah subur dapat diindikasikan pada tanaman yang tumbuh pada wilayah tersubut.

Pemupukan dapat dilakukan bila kesuburan tanah telah berkurang. Pengetahuan tentang pupuk haruslah dimiliki oleh petani agar petani dapat mandiri dalan usaha taninya. Misalnya dengan pembuatan pupuk kompos dan sebagai aktivato peatni dapat membuat sendiri mol (mikro organisme lokal). Dengan begitu petani tidak mengantungkan pada pupuk buatan pabrik. Namun perlu diperhatikan bahwa dalam pemupukan perlu adanya teknik-teknik tertentu agar pemupukan tidak sia-sia. Masingmasing jenis tanaman memiliki cara pengaplikasian pupuk yang berbeda beda. Hal tersebut juga berlaku bagi pupuk yang memiliki metode pengaplikasian berbeda beda. Untuk mencapai kedua hal tersebut

maka perlu dipelajari berbagai metode pemupukan sehingga pemberian pupuk efektif dan efisien.

B. 1. 2. 3. 4. 5.

Tujuan Mengetahui metode aplikasi pupuk untuk kondisi kebutuhan tanaman. Mempelajari pembuatan dan kegunaan biopori. Mengetahui teknik pembuatan pupuk kompos. Mempelajari teknik pembuatan mol (mikro organisme lokal). Mempelajari solum tanah dan teknik pengambilan sampling tanah dalam analisa kondisi tanah.

6.

Mempelajari teknik pembuatan vertikultur sebagai alternative budidaya.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Sistem irigasi diklasifikasikan sebagai : (1) aliran permukaan; (2) sprinkler dan (3) trip. Aliran permukaan digunakan pada daerah dengan sumber air melimpah seperti sungai, danau, dan waduk, sistem pengairan yang diterapkan umumnya adalah parit. Metode aliran permukaan mudah dilakukan pada kebun yang memiliki kemiringan cukup, letaknya relative lebih rendah dari sumber air, dan airnya berlimpah. Kelemahan dari metode ini yaitu kurang efisien dalam pemanfaatan air, tanah menjadi retak dan mengkerut setelah mereka kering. Sistem irigasi sprinkler sangat bermanfaatdidaerah berbukit dengan perataan tanah tidak ada. Pergerakan sistem diset dalam pipa alumunium atau pralon yang kaku

dilengkapi dengan konektor atau ditempatkan selang plastik yang fleksibel dapat ditarik melalui kebun. Kelemahannya yaitu kerentanannya terhadap kerusakan oleh perlengkapan. Irigasi drip digunakan pada daerah yang rata dan berbukit. Prinsipnya untuk mengairi bagian massa tenah tempat akar pohon berada. Sistem drip menghantarkan sejumlah air untuk mengganti yang hilang oleh transpirasi dan evaporasi dari permukaan tanah. Sistem ini dirancang untuk menghantarkan sejumlah kecil air dengan interval yang sering (Susila dan Poerwanto, 2013). Efektifitas pemupukan dipengaruhi oleh pemilihan jenis pupuk, pemakaian dosis yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, dan cara penempatan pupuk. Tujuan dari penempatan pupuk adalah sebagai berikut (Novizan, 2005): - Tanaman dapat memanfaatkan semaksimal mungkin unsur hara dari pupuk melalui minimalisasi terjadinya pencucian dan penguapan. - Cara aplikasi yang dipilih harus aman bagi tanaman biji yang ditanam. - Cara aplikasi yang tepat menjadikan jumlah pupuk yang ditebar sesuai dengan dosis yang diinginkan (akurat). - Pilih cara aplikasi yang paling efisien dalam memanfaatkan sumber daya tenaga kerja, waktu, alat, dan bahan.

Menurut Brata dan Nelistya (2008) biopori adalah ruang atau pori di dalam tanah yang dibentuk oleh makhluk hidup, seperti mikroorganisme tanah dan akar tanaman. Bentuk biopori menyerupai liang (terowongan kecil) di dalam tanah dan bercabangcabang dan sangat efektif untuk menyalurkan air dan udara ke dalam tanah. Liang pori terbentuk oleh adanya pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman, serta aktivitas fauna tanah seperti cacing tanah, rayap, dan semut di dalam tanah. Pori-pori yang terbentuk dapat meningkatkan kemampuan tanah menahan air dengan cara menyirkulasikan air dan oksigen ke dalam tanah. Jadi semakin banyak biopori di dalam tanah, semakin sehat tanah tersebut. Teknologi ini dianggap lebih efektif dan mudah untuk meresapkan air ke dalam tanah dibandingkan dengan sumur resapan. Sumur resapan memiliki ukuran cukup besar serta bahan pengisinya tidak dapat dimanfaatkan oleh biota tanah sebagai sumber energi dalam penciptaan biopori. Bahan-bahan halus yang terbawa air dan tersaring oleh bahan pengisi menyumbat rongga bahan pengisi sehingga menyebabkan laju serapan menjadi lebih lamban. Selain itu,

diameter lubang yang besar menyebabkan beban resapan meningkat dan menurunkan laju serapan (Alimaksum, 2010) Pembuatan lubang resapan biopori (LRB) memberikan manfaat tidak hanya bagi manusia, tetapi juga tumbuhan, tanah, organisme bawah tanah dan komponen lingkungan lainnya. Tumbuhan mampu tumbuh subur karena didukung oleh pupuk kompos hasil pelapukan sampah organik. Sampah organik pun menjadi faktor penghidupan bagi organisme bawah tanah. Ketersediaan air di dalam tanah menjadi hal yang penting sebagai penopang daratan dan kelembaban tanah. Dengan teknologi biopori, upaya manusia untuk menyimpan air saat musim hujan dan mengambilnya kembali pada musim kemarau sangatlah mudah. Secara lebih rinci, manfaat LRB yaitu: (1) meningkatkan laju resapan air dan cadangan air tanah; (2) Meningkatkan peran biodiversitas tanah dan akar tanaman; (3) Mencegah terjadinya kerusakan tanah yang menyebabkan longsor dan kerusakan bangunan; (4) Memanfaatkan sampah organik menjadi kompos yang dapat menyuburkan tanah dan akar tanaman; (5) Mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah; dan (6) Mengurangi emisi gas rumah kaca CO2 dan Metan (Hermain, 2012). Untuk menahasilkan kompas yang bermutu, sebaikanya dasar bangunan diberi alas dengan semen atau diberi ubin tetapi hal ini baukan yang mutlak, yang palin penting adalah tidak tergenang air. Bila pengomposan dilakukan diatas tanah, sebaikanya diberi alas, misalnya platik , karung beras, atau dedaunan. Pupuk organik/kompos yang dihasilkan mempunyai beberapa keunggulan antara lain: 1. Mengandung nutrisi lengkap yang tersedia bagi tanaman,2. Mengandung senyawa antifungal/nantibiotik bagi patogen, 3. Mengandung horman tumbuh bagi pertumbuhan tanaman, 4. Mengandung mikroorganisme berguna seperti bacillus, trichoderma, P. Flourescens, dan penicilium (Tombe, M dan H. Sipayung. 2010). pengomposan merupakan proses penguraian senyawa-senyawa yang terkandun dalm sisasisa bahan organic (seperti jerami, daun-daunan, sampah rumah tangga dan sebagainya) dengan suatu perlakuan khusus. Tujuannya adalah agar lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman. Hasil pengomposan inilah yang biasanya disebut pupuk kompos. Kompos paling tidak mempunyai dua fungsi sebagai berikut: (santosa, 1998). 1. Soil conditioner Berfungsi memperbaiki struktur tanah, terutama bagi tanah kering dan lading.

2. Soil ameliorator berfungsi mempertinggi kemampuan penukaran kation KPK baik pada tanah lading amupun tanah sawah. Beberapa kentungan kompos adalah segai berikut: 1. Mampu mengembalikan kesuburan tanah melalui perbiakan sifat-sifat baik fisik, khemik, maupun biologik. 2. Mempercepat dan mempermudah penyerapan unsure nitrogen oleh tanaman karena telah diadakan perlakuan khusus sebelumnya 3. Mencegah infeksi yang disebabkan oleh biji-biji tumbuhan pengganggu. 4. Dapat disediakan secaar mudah, murah dan relatif cepat. Mikroorganisme merupakan makhluk hidup yang sangat kecil dengan kemampuan sangat penting dalam kelangsungan daur hidup biota di dalam biosfer. Mikroorganisme mampu

melaksanakan kegiatan atau reaksi biokimia untuk melangsungkan perkembangbiakan sel. Mikroorganisme digolongkan ke dalam golongan protista yang terdiri dari bakteri, fungi, protozoa, dan algae (Darwis dkk., 1992). Menurut Budiyanto (2002), mikroorganisme mempunyai fungsi sebagai agen proses biokimia dalam pengubahan senyawa organik menjadi senyawa anorganik yang berasal dari sisa tanaman dan hewan. Larutan MOL adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumber daya yang tersedia setempat. Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan, dan sebagai agens pengendali hama dan penyakit tanaman, sehingga MOL dapat digunakan baik sebagai dekomposer, pupuk hayati dan sebagai pestisida organik terutama sebagai fungisida. Larutan MOL dibuat sangat sederhana yaitu dengan memanfaatkan limbah dari rumah tangga atau tanaman di sekitar lingkungan misalnya sisa-sisa tanaman seperti bonggol pisang, gedebong pisang, buah nanas, jerami padi, sisa sayuran, nasi basi, dan lain-lain. Bahan utama dalam larutan MOL teridiri dari 3 jenis komponen, antara lain : Karbohidrat : air cucian beras, nasi bekas, singkong, kentang dan gandum ; Glukosa : cairan gula merah, cairan gula pasir, air kelapa/nira dan; Sumber bakteri : keong mas, buah-buahan misalnya tomat, pepaya, dan kotoran hewan (Herniwati dan Nappu, 2012).

Menurut Fardiaz (1992), semua mikroorganisme yang tumbuh pada

bahan-bahan tertentu

membutuhkan bahan organik untuk pertumbuhan dan proses metabolisme. Mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang pada suatu bahan dapat menyebabkan berbagai perubahan pada fisik maupun komposisi kimia, seperti adanya perubahan warna, pembentukan endapan, kekeruhan, pembentukan gas, dan bau asam (Hidayat, 2006). Dalam pertanian, tanah diartikan lebih khusus yaitu sebagai media tumbuhnya tanaman darat. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa-sisa bahan organik dan organisme yang hidup diatasnya atau didalamnya (Kononova,2002) Proses pelapukan adalah berubahnya bahan penyusun didalam tanah dari bahan penyusun batuan. Sedangkan proses perkembangan tanah adalah terbentuknya lapisan tanah yang menjadi ciri, sifat, dan kemampuan yang khas dari masing masing jenis tanah. Contoh proses pelapukan adalah hancurnya batuan secara fisik, sedangkan contoh untuk peristiwa perkembangan tanah adalah terbentuknya horison tanah, latosolisasi (Bailey ,2005). Dari kelima faktor tersebut yang bebas pengaruhnya adalah iklim. Oleh karena itu pembentukan tanah kering dinamakan dengan istilah asing weathering. Secara garis besar proses pembentukan tanah dibagi dalam dua tahap, yaitu proses pelapukan dan proses perkembangan tanah (Foth,2007) Enam horison utama penyusun profil tanah berturut-turut dari atas ke bawah yaitu : horison (O), A, E, B, C dan R ) 1. Horison O merupakan horison organik yang terbentuk diatas lapisan tanah mineral Horison ini ditemukan terutama pada tanah-tanah hutan yang masih utuh. 2. Horison A adalah horison dipermukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral berwarna lebih gelap daripada horison dibawahnya. 3. Horison E adalah horison mineral yang telah tereloviasi (tercuci) maksimum terhadap liat, Fe, Al, bahan organik. Berwarna pucat. 4. Horison B adalah horison illuviasi yaitu horison akumulasi bahan eluvial dari horison diatasnya.

5.

Horison C adalah lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk atau belum terjadi perubahan secara kimiawi. Sedikit terlapuk, sehingga lunak dan dapat ditembus akar tanaman.

6. R adalah bahan induk tanah yang terdiri dari batuan keras yang belum lapuk Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak dipermukaan sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor genetis dan lingkungan, yakni bahan induk, iklim, organisme hidup (mikro dan makro), topografi, dan waktu yang berjalan selama kurun waktu yang sangat panjang, yang dapat dibedakan dari cirri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik kimia, biologi, maupun morfologinya (Winarso, 2005). Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman danmenyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang danpenyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalampenyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman,yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan,industri perkebunan (Buckman ,2007) Tanah juga merupakan alat produksi untuk menghasilkan produksi pertanian. Sebagai alat produksi tanah memiliki peranan-peranan yang mendorong berbagai kebutuhan diantaranya adalah sebagai alat produksi, maka peranannnya yaitu sebagai tempat pertumbuhan tanaman, menyediakan unsur-unsur makanan, sumber air bagi tanaman, dantempat peredaran udara. Tanah mempunyai ciri khas dan sifat-sifat yang berbeda-beda antaratanah di suatu tempat dengan tempat yang lain. Sifat-sifat tanah itu meliputi fisika dan sifatkimia. Beberapa sifat fisika tanah antara lain tekstur, struktur dan kadar lengas tanah. Untuk sifat kimia menunjukkan sifat yang dipengaruhi oleh adanya unsur maupun senyawa yangterdapat di dalam tanah tersebut. Beberapa contoh sifat kimia yaitu reaksi tanah(pH), kadarbahan organik dan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK) (Henry ,2006) Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tetumbuhan yang setengah membusuk; oleh sebab itu, kandungan bahan organiknya tinggi. Tanah yang terutama terbentuk di lahan-lahan basah ini disebut dalam bahasa Inggris sebagai peat; dan lahan-lahan bergambut di berbagai belahan dunia dikenal dengan aneka nama seperti bog, moor, muskeg, pocosin, mire, dan lain-lain (Baver,2010)

Tanah gambut mempunyai pH yang rendah yang berkisar antara 3 - 5, dan menurun bersama jeluk.. Dijumpainya pH yang relatif tinggi (sekitar 5) adalah akibat seringnya dilakukan pembakaran seresah di atas tanah. Tanah gambut yang digenangi untuk budidaya padi sawah akan meningkat pH-nya. Ketersediaan unsur-unsur hara terutama hara makro N, P dan K dan sejumlah hara mikro dalam tanah gambut rendah sampai sangat rendah. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah gambut relatif tinggi (115 - 270 me.%), tetapi relatif rendah bila dihitung atas dasar volume tanah di lapangan. Kejenuhan basa tanah gambut relatif rendah, yakni 5,4 - 13,6 % sedangkan nisbah C/N relatif tinggi yakni berkisar antara 24,0 - 33,4 (Tan,2000). Contoh tanah tak terusik diperlukan untuk analisis penetapan berat jenis atau berat volum,agihan ukuran pori dan permeabilitas (Agus et.al,2008). Contoh tanah terusik diperlukan untuk penetapan kadar lengas, tekstur, tetapan Atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar lengas kritik, indeks patahan, konduktifitas hidroulik tak jenuh, luas permukaan, erodibilitas tanah menggunakan hujan tiruan (Kartasapoetra,2008). Pemberian pupuk dapat meningkatkan keanekaragaman mikroorganisme tanah. Secara umum, keanekaragaman mikroorganisme tanah tertinggi terlihat pada tanah yang diberi kompos dan pupuk kandang, serta terendah di tanah yang tidak menerima atau diberi pupuk anorganik (Sessitsch et al., 2001). Pupuk kompos dapat digunakan sebagai padatan, cair (kurang dari 4% padatan), atau bubur (4-10% padatan), tergantung pada penyimpanan dan sistem penanganan pupuk. Aplikasi pupuk kompos sebagai pupuk cair dan bubur memiliki keuntungan pada efektivitas biaya, ketersediaan peralatan untuk menangani volume besar, dan konservasi nutrisi yang lebih baik (Tabbara, 2003). Ide untuk penanaman vertical (vertikultur) muncul sebagai tanggapan terhadap model yang tidak memadai dari taman atap. Apabila diterapkan dalam skala besar, vertikultur dapat memecahkan beberapa masalah global. Dengan adanya vertikultur, penanaman di lahan sempit sudah bukan menjadi masalah lagi (Despommier, 2011).

III.

METODOLOGI

Pelaksanaan praktikum lapangan dibagi dalam beberapa acara, yaitu: 1. Teknik aplikasi pupuk

Kolom Fertigasi (Fertilizer + Irrigation)

Pada praktik aplikasi fertigasi tetes, pertama disiapkan kolom paralon dengan panjang 1 m. Pada bagian bawah paralon ditutup rapat dan diberi 2 lubang kecil, masingmasing dengan sumbu kompor dengan panjang 1 m (sebagai kapiler). Selanjutnya paralon diletakkan dekat dengan bibit atau batang pohon, sumbu kompor dimasukkan pada

perakaran dan diikat paralon pada tiang penyangga atau pada batang pohon. Kemudian dimasukkan kompos halus 1 kg dan diisi air samapi penuh lalu paralon ditutup supaya tidak menguap. Setiap seminggu sekali air dapat ditambahkan Metode Pemupukan yaitu: 1. Ke tanah Broadcasting : pupuk disebar merata di lahan Ring Placement : pupuk dimasukkan dalam parit sedalam 10-15 cm mengelilingi tanaman selebar tajuk terluar Spot placement : pupuk dimasukkan dalam lubang diantara tanaman sedalam 10cm dengan tugal Fertigasi : larutan encer pupuk disiramkan atau diteteskan ke tanah 2. Ke tanaman Foliar Application : larutan encer pupuk disemprotkan pada permukaan daun Infus : larutan encer pupuk diinfuskan pada batang pohon Injeksi : larutan pekat pupuk disuntikkan pada batang pohon Paku : batang pupuk dipakukan pada batang pohon

Pembuatan Pupuk Organik Cair (Teh Kompos) Pada pembuatan pupuk organik cair (teh kompos) alat dan bahan yang diperlukan, yaitu drum, sendok, kompos halus, air, dan inokulan. Adapun cara kerjanya sebagai berikut. Sebanyak 10 kg kompos halus dimasukkan dalam drum 200 liter. Kemudian ditambahkan 100 liter air dan 1 sendok makan inokulan. Setelah itu, dilakukan pengadukan setiap pagi dan sore selama 2 minggu. Pupuk organik cair siap digunakan.

2.

Pembuatan lubang biopori Lubang silindris dibuat secara vertical ke dalam tanah dengan diameter 10 cm.

Kedalaman tanah kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah bila air

tanahnya dangkal. Jarak antar lubang yang digunakan sekitar 50-100 cm. Mulut lubang dapat diperkuat dengan cetakan dari semen atau batako dan dinding lubang dapat diperkuat dengan paralon 20-100 cm dibuat lubang-lubang kecil disekeliling paralon sera dilengkapi dengan tutup di atasnya. Lubang yang telah dibuat kemudian diisi dengan sampah organik yang berasal dari dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau pangkasan rumput. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.

3.

Pembuatan pupuk kompos Untuk pembuatan kompos seresah daun, pertamatama disiapkan kantong plastik

di kebun. Sampah dimasukkan secara bertahap ke dalam kantong dengan ketebalan 10cm. Kemudian larutan inokulum 2% (1 sendok makan dalam 1 L air) disiramkan secara merata. Dimasukkan lagi selapis sampah dan disiramkan lagi larutan inokulum sampai kantong penuh (1m). Kantong plastik ditutup. Setelah satu bulan isi kantong diperiksa, kompos yang sudah jadi ditandai dengan struktur yang remah. Seresah daun yang belum terombak dimasukkan lagi kedalam kantong. Kompos yang sudah jadi dapat digunakan langsung, atau disimpan pada kantong yang lain. Untuk pembuatan kompos pupuk kandang pertama tama disiapkan cetakan dari bilah kayu dengan ukuran panjang 1m, lebar 1m dan tebal 20 cm. Cetakan diletakkan pada tempat yang datar, diberi alas plastik / terpal. Bahan bahan yang akan dikomposkan dimasukkan pada cetakan tersebut sampai merata, bahan yang terlalu kasar / besar perlu dirajang terlebih dahulu. Kemudian larutan inokulum 2% (1 sendok makan dalam 1 L air) disiramkan secara merata. Cetakan diangkat keatas tumpukan yang sudah dibuat lalu dimasukkan bahan lainnya kedalam cetakan tersebut kemudian disiramkan larutan inokulum. Pekerjaan ini dihentikan ketika tinggi gundukan sekitar 1m. Lalu gundukan ditutup dengan plastik / terpal. Setelah satu bulan gundukan dibongkar, kompos yang sudah jadi ditandai dengan struktur yang remah. Bahan yang belum terombak, dimasukkan kembali kedalam cetakan. Kompos yang sudah jadi dapat digunakan langsung, atau disimpan pada kantong yang kedap.

4.

Pembuatan mikro organisme local (MOL) Botol dicuci sampai bersih. Air cucian beras, air kelapa, dan gula pasir dimasukkan

kedalam ember dan diaduk. Buah jambu dipotong kecil-kecil dan dimasukkan dalam ember dan diaduk kembali. Setelah itu larutan dalam ember tersebut dimasukkan dalam botol, kemudian botol ditutup. Setelah 14 hari, MOL sudah bisa digunakan. Keberhasilan MOL bisa diketahui dari aromanya yang alkoholis seperti wangi cairan tape. 5. Pengamatan solum dan sampling tanah a. Sampel tanah utuh permukaan atas tanah dibersihkan ,lalu rring kedalam tanah sampai permukaan ring tertutup oleh tanah ,ring diambil kembali.Permukaan atas dan bawah ring dibersihkan dengan pisau carter.Permukaan atas dan bawah ring ditutup dengan tutup gallon. b. Sampel tanah terganggu tanah 5kg diambil dengan menggunakan bor denagn kedalaman 30cm.lalu Dimasukkan kedalam plastic, pindahkan tanah kedalam nampan.Dianginkan selama 1 minggu. c. Metode Bongkah Digali tanah dengan menggunakan cangkul sampai kedalaman yang diinginkan,Diambil contoh tanah agregat utuh pada permukaan tanah.Diambil contoh tanah yang masih berbentuk gumpalan-gumpalan tanah yang masih dibatasi belahan alami ,Dimasukkan contoh tanah ke dalam kotak kayu.Ditulis lokasi, tanggal pengambilan, dan kedalaman.Dimasukkan.Pengangkutan contoh tanah dengan hati-hati ke dalam kantong plastik.Dimasukkan contoh tanah dalam plastik dan kotak kayu agar tanah tidak hancur 6. Vertikultur Pada vertikultur, alat dan bahan yang diperlukan, yaitu pralon lampu spirtus, gergaji, palu, tanah, pupuk kompos dan sekam, serta bibit tanaman. Adapun cara kerjanya sebagai berikut. Pipa paralon sepanjang 1-2 m disiapkan, lalu dibuat lubang pada samping kanan dan kiri pipa dengan cara dipotong dan dipanasi, jarak antar lubang 20-30 cm. Setelah itu, bagian bawah pipa ditutup dan diisi dengan media tanam (campuran kompos dan pasir halus). Kemudian pipa diletakkan pada tempat terbuka sehingga cukup mendapatkan

cahaya matahari Pipa dapat dirangkai atau diikatkan pada tiang penyangga. Setelah itu, bibit tanaman ditanam pada lubang yang sudah disiapkan.

IV. 1. Aplikasi pemupukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

FERTIGASI TETES Secara umum terdapat berbagai metode aplikasi pupuk cair dan pupuk padat yang digunakan oleh para petani. Salah satu metode aplikasi pupuk cair yaitu fertigasi. Fertigasi merupaka metode pemupukan dengan memanfaatkan sistem irigasi. Aplikasi fertigasi sangat cocok untuk daerah dengan jumlah air terbatas.Daerah daerah yang meliputi daerah yang mendukung untuk penggunaaan metode fertigasi tetes yaitu : a) Derah yang ketersediaan airnya terbatas atau sangat mahal. b) Derah dengan tanah berpesir, berbatu atau sukar didatarkan. c) Daerah dengan nilai ekonomis tinggi. Setaip penggunaan suatu metode akan mendatangkan sisi positif yaitu berupa keuntungan dan sisi negatif yaitu kerugian. Keuntungan atau kelebihan dari penggunaan fertigasi tetes disbanding penggunaan metode lainnya, yaitu: a) Meningkatkan nilai guna air b) Penggunaan air pada metode ini lebih sedikit jika dibanfingkan dengan metode lainnya. Penghematan ait bisa terjadi karena pemberian air yang bersifat local dan jumlah yang sedikit sehingga akan menekan evaporasi, aliran permukaan, dan hany terbatas disekitar tanaman. c) Meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil d) Fluktuasi kelembaban tanah yang tinggi dapat dihidari dengan metode ffertigasi ini dan kelembaban tanah dapat dipertahankan pada tingkat yang optimal bagi

pertumbuhan tanaman.

e) Meningkatkan efesien dan efektifitas pemberian f) Pemberian pupuk dengan metode ini dicampur dengan air irigasi, sehingga pupuk yang digunakan menjadi lebih sedikit, frekuensi pemberian lebih tinggi dan

distribusinya disekitar daerah perakaran lebih tinggi dan ditribusinya hanya disekitar perakaran. g) Menekan resiko penumpukkan garam h) Pemberian air yang dilakukan secara terus menerus akan melarutkan dan

menjauhkan garam dari area perakaran. i) Menghemat tenaga kerja j) Pengoperasian secara otomatis dari sistem irigasi tetes menyebabkan tenaga kerja yang diperlukan menjadi lebih sedikit. Tenaga kerja pada bagian pekerjaan

pemupukan, pemberantasan hama, dan penyiangan dapat dikurangi. k) Menekan pertumbuhan gulma Pemeberian air dengan sistem irigasi tetes hanya terbatas disekitar tanaman saja, sehingga pertumbuhan gulma dapat ditekan. Sedangkan kerugian atau kelemahan dengan menggunakan sistem irigasi tetes yaitu: a. Penumpukan garam Apabila air yang diberikan melalui fertigasi tetes mengandung garam yang tinggi dan diberikan pada daerah yang kering, maka akan menimbulkan resiko pemupukan garam yang tinggi. b. Keterbatasan biaya dan teknik Pada pembangunan sistem irigasi tetes memerlukan investasi yang tinggi dalam pembangunannya. Pada sisi lain, pembuatan fertigasi tetes memerlukan teknik yang tinggi dalam perancangannya, pengoperasiannya, dan memeliharanya. c. Membatasi pertumbuhan tanaman Pada metode irigasi tetes, sistem ini hanya memberikan pengairan pada daerah yang terbatas saja. Hal ini akan menimbulkan resiko kekurangan air bila perhitungan kebutuhan air kurang teliti atau kurang cermat. d. Memerlukan perawatan yang intensif

Masalah yang sering terjadi pada sistem fertigasi tetes yaitu terjadinya penyumbatan. Hal tersebut akan dapat mempengarruhi debit dan keeseragaman pemberian air. Oleh karena itu diperlukan suatu perawatan intensif dari jarigan irigasi tetes agar dapat meminimumkan penyumbatan. Oleh karena itu dalam penggunaan fertigasi tetes diperlukan pertimbangan pertimbangan di atas. Irigasi tetes atau yang dikenal dengan sebutan fertigasi tetes, dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok. Pembedaan ini didasarkan atas jenis cucuran air. Berdasarkan penggolongan ini fertigasi tetes dibedakan menjadi: a. Air merembes sepanjang pipa (viaflo) b. Air menetes atau memancar melalui alat aplikasi yang dipasang pada pipa lateral c. Air menetes atau memancar melalui lubang lubang pada pipa lateral

APLIKASI PEMUPUKAN Pupuk merupakan material yang ditambahkan ke dalam media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan oleh tanaman sahingga tanaman dapat berproduksi dengan baik. Sehingga secara sederhana pemupukan dapat diartikan sebagai proses dari pemberian pupuk. Kegiatan pemupukan mencakup beberapa hal, antara lain pengaturan jenis pupuk, berapa jumlah atau dosis yang harus diberikan, kapan harus diberikan, agaimana cara pemberian pupuk tersebut, dan ketepatan tempat pemberian pupuk bagi tanaman. Dalam praktikum telah dilaksanakan berbagai metode pemberian pupuk. Masing masing metode tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan yang harus dipertimbangkan dalam praktik di dunia nyata yang sebenarnya. Metode pemupukan yang pertama yaitu broadcasting. Metode ini memilik pengertian sebagai suatu cara pemupukan dengan penebaran pupuk secara merata di atas permukaan tanah, yang dapat dilakukan saat sebelum dan sesudah tanam. Metode broadcasting dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: a. Top dressing Top dressing merupakan penebaran pupuk menurut alur alur sempit atau tanpa alur secara merata di permukaan tanah. b. Side dressing

Side dressing merupakan penebaran pupuk yang dilakukan di samping alur benih atau tanaman. Metode broadcasting secara umum memiliki kelemahan dan kelebihan.

Kelamhan dari metode ini antara lain: kontak antara tanah dan pupuk menjadi besar, sehingga menyebabkan fiksasi pupuk oleh unsur unsur yang membentuk senyawa tidak larut dalam tanah besar; apabila turun hujan maka pupuk dapat terbawa arus hujan; apabila pupuk telah larut maka akan cepat tumbuh gulma di atas lahan tersebut dikarenakan unsur hara yang tersedia sangat banyak;dan pemakaian pupuk urea pada tanah alkalis dan kering akan dapat menyebabkan terjadinya penguapan ammonium (NH4) menjadi bentuk gas ammonia (NH3). Sedangkan kelebihan dari metode broadcasting antara lain mudah dilakukan; secara ekonomi termasuk hemat; aplikasi pupuk dengan dosis besar tidak dikhawatirkan merusak tanaman; permukaan tanah yang terkena pupuk semakin luas; kelarutan hara dan ketersediaan hara yang didapat juga lebih lebar dan luas. Metode pemupukan broadcasting akan lebih efektif apabila sistem pertanaman atau jarak tanamnya rapat; sistem perakaran yang merata pada volume tanah bagian atas; dan jumlah atau dosis pupuk yang besar. Metode kedua yaitu metode ring placement. Metode ini merupakan metode pemberian pupuk yang dilakukan dengan cara ditabur disekeliling tanaman atau pada parit yang dibuat melingkari tanaman, pupuk dimasukkan dalam parit tersebut kemudian parit ditutup kembali dengan tanah. Sama dengan metode yang lain, metode ring placement juga memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dari metode ini yaitu kandungan unsur hara yang diberikan hanya akan memenuhi kebutuhan hara pada area disekeliling parit atau temapat penebaran pupuk tersebut. Sedangkan kelebihan dari metode ini yaitu apabila terjadi turun hujan maka pupuk yang ditaburkan tidak akan terbawa air hujan. Metode ketiga yaitu metode spot placement. Pada metode ini pupuk

ditempatkan pada suatu titik atau lubang didekat tanaman. Setelah pupuk dimasukkan dalam lubag, kemudian ditutup kembali dengan tanah. Penutupan ini bertujuan untuk menghindarkan pupuk terbawa air hujan. Pemberian pupuk dengan metode placed akan efekti apabila pertanaman renggang dan perakaran sedikit, kesuburan tanah rendah dan jumlah pupuk sedikit atau dosis pupuk rendah.

Metode selanjutnya yaitu fertigasi. Metode ini merupakan metode pemberian pupuk dengan cara irigasi. Pembahasan tentang kelebihan dan kekurangan dari metode ini telah disampaikan di awal dari pembahasan laporan ini. Metode pemberian pupuk ke tanaman yang pertama yaitu foliar application. Metode ini merupakan metode pemberian pupuk yang dilangsung disemprotkan pada daun. Penyerapan hara lewat daun dinilai lebih cepat dikarenakan daun memiliki tomata yang dapat mebuka dan menutup secara mekanis yang diatur oleh tekanan turgor dari sel sel penutup. Apabila pupuk cair disemprotkan pada daun maka tekanan turhor akan naik dan menyebabkan stomata membuka dan menyerap cairan pupuk yang disemprotkan tersebut untuk menggantikan cairan yang hilang. Pada metode ini juga memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dari metode ini yaitu secara ekonomi biayanya akan lebih mahal; daun dapat mengalami kerusakan apabila dosis pemupukan terlalu tinggi, utamanya pada musim kering; dan tidak semua pupuk daun dapat digunakan untuk tanaman yang langsung dikonsumsi seperti sayuran dan buah berkulit tipis. Sedangkan kelebihan dari metode ini antara lain yaitu; kelarutan pupuk daun lebih baik jika dibandingkan dengan pupuk akar; pemebrian dapat lebih merata; kepekatannya dapat diatur sesuai pertumbuhan

tanaman; pupuk daun dapat memberikan hara sesuai kebutuhan tanaman dikarenakan lebih sering diberikan dengan dosis rendah; dan pupuk yang diberikan ke tanah tidak seluruhnya mencapai kar tanaman dikarenakan adanya beberapa kendala baik dari sifat kimia pupuk atau sifat fisik tanah. Penyemprotan pupuk pada daun dilakukan pada daun bagian daun yang menghadapa kebawah. Hal ini dikarenakan umumnya daun memiliki mulut menghadap ke bawah atau pada bagian punggung daun. Penyemprotan pada daun tidak boleh dilakukan malam hari, panas terik atau saat menjelang hujan. Pelarangan penyemprotan pada malam hari dikarenakan kalau disemprot malam hari keadaan stomata sedang tertutup sehingga pupuk tidak akan terserap. Jika dilakukan pnyemprotan pada siang hari yang terik maka sinar matahari yang terik akan menyebabkan air cepat menguap dan pupuk hanya akan menempel dipermukaan daun dan tidak terserap bahkan daun dapat terbakar karena pupuk daun bersifat higroskopis. Apabila pupuk disemprotkan saat sebelum hujan, maka pupuk

akan larut terbawa air hujam. Penyemprotan pupuk pada daun yang tepat adalah pada pagi hari sekitar pukul 08.00 10.00 atau pada sore hari pukul 15.00 17.00. Metode selanjutnya yaitu infus. Metode ini disebut juga sebagai metode batang pohon injection atau implan. Metode ini merupakan metode yang dapat dijadikan solusi untuk masalah besi atau masalah mangan. Pada daerah daerah dengan pH tanah yang merugika, hubungan kelembaban tinggi, metoe ini dinilai sebagai metode yang paling memuaskan dalam memperoleh hasil yang diinginkan, meskipun harus menggunakan peralatan khusus. Pembuatan Pupuk Organik Cair (Teh Kompos) Pupuk organik cair merupakan pupuk orgnik yang diaplikasikan dalam bentuk cairan. Pupuk ini dibuat dengan mencampurkan pupuk organik, seperti kompos, dengan air dan starter. Proses fermentasi diperlukan agar pupuk benar-benar berbentuk cair. Hal ini menyebabkan larutan pupuk lebih stabil dan tidak membentuk endapan. Menurut Anonim (2013), jenis pupuk yang dilarutkan bisa berupa pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos atau campuran semuanya. Pupuk cair lebih mudah dicerna oleh tanaman daripada pupuk padat. Pupuk cair akan lebih efektif dan efesien apabila diaplikasikan pada daun, bunga dan batang. Sebelum diginakan, pupuk harus diencerkan dengan air bersih terlebih dahulu kemudian disemprotkan pada tanaman.

2. Pembuatan biopori Biopori adalah pori berbentuk liang (terowongan kecil) yang dibentuk oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman. Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10-30 cm, kedalaman 100 cm atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang kemudian diisi sampah organik untuk mendorong terbentuknya biopori. LRB merupakan teknologi tepat guna ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dan sampah dengan cara: 1. Meningkatkan daya resap air. 2. Mengubah sampah organik menjadi kompos. 3. Memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman.

4. Mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria. 5. Sebagai karbonsink untuk membantu mencegah terjadinya pemanasan global. Prinsip utama LRB adalah menghindari air hujan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan membiarkannya terserap ke dalam tanah melalui lubang serapan tersebut (Brata dan Nelistya, 2008). Lokasi pembuatan LRB dapat dibuat di saluran pembuangan air, kontur taman, sekeliling pohon, tepi taman dengan bidang kedap, serta sisi pagar. Agar LRB lebih efektif dalam meresapkan air hujan dan jika dirasa sampah organik yang dihasilkan cukup banyak, perlu dibuat LRB lebih dari satu. Jumlah LRB yang akan dibuat hendaknya disesuaikan dengan luasan tanah yang ada, berupa halaman depan atau halaman belakang. Jumlah LRB pada setiap luasan dapat dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut (Kamir dan Nelistya, 2008).

Sebagai contoh, suatu daerah memiliki intensitas hujan 50 mm/jam, bisa dikategorikan sebagai hujan lebat. Kemudian, didaerah tersebut akan dibuat LRB pada luas bidang kedap 100 m2. Sementara laju peresapan air per lubang di daerah tersebut 3 liter/menit atau 180 liter/jam. Dengan demikian, jumlah LRB yang perlu dibuat adalah sebagai berikut.

Bila lubang yang dibuat berdiameter 10 cm kedalaman 100 cm, setiap lubang dapat menampung 7,8 L sampah organik, berarti tiap lubang dapat diisi sampah organik dapur 23 hari. Dengan demikian 28 lubang baru dapat dipenuhi sampah organik yang dihasilkan selama 56-84 hari, dimana dalam kurun waktu tersebut lubang perlu diisi kembali. Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi efektifitas LRB. 1. Jenis Tanah Jenis tanah dapat mempengaruhi jumlah dan aktivitas organisme dalam tanah. Setiap jenis tanah memiliki laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi yang berbeda. Laju infiltrasi diantaranya dipengaruhi oleh tekstur, struktur, dan porositas tanah. Tekstur tanah

berhubungan dengan distribusi ukuran pori, sedangkan struktur tanah berkaitan dengan kemantapan ruang pori sehingga air lebih mudah bergerak tanah. 2. Jenis Sampah Organik Proses dekomposisi bahan organik tergantung kepada jenis bahan, usia, ukuran partikel dan dan kadar Nitrogen yang terkandung di dalamnya. Bahan yang berasal dari sisa tanaman yang mengandung banyak air dan masih muda akan lapuk dengan cepat dibandingkan akar. Tanaman gula, tepung, asam amino dan protein yang mengandung jaringan muda dalam jumlah besar terlapuk dengan sangat cepat terutama hemicellulose dan lignin (Alimaksum, 2010). Penelitian oleh Sibarani dan Bambang (2010) membuktikan bahwa variasi umur dan jenis sampah berpengaruh terhadap kinerja biopori dengan meningkatkan laju resap air. Variasi umur sampah menunjukkan angka yang berbeda untuk dua tempat penelitian yang berbeda. Untuk jenis sampah didapatkan hasil sampah kulit buah lebih efektif daripada sampah daun dan sampah sayuran. Hal ini disebabkan aroma kulit buah yang sangat kuat dan terasa manis sehingga mampu menarik lebih banyak mikroba atau hewan pengurai lain seperti cacing, semut, rayap menuju sampah. Selain itu permukaan kulit yang licin / angka kekasarannya yang sangat kecil juga berpengaruh dalam melewatkan air menjadi lebih mudah. Sedangkan massa daun jauh lebih ringan / kecil daripada sampah sayuran kangkung yang memiliki batang yang tebal dan lebih lama untuk mengurainya. Manfaat dari penerapan lubang resapan biopori ini terbagi menjadi dua yaitu untuk konservasi air dan untuk konservasi mikroba tanah. Konservasi air yang dimaksud adalah dapat digunakan untuk menambah cadangan air tanah dan mengurangi genangan akibat hujan yang deras. Sementara itu, konservasi mikroba tanah yang dimaksud adalah dengan pemberian seresah pada lubang resapan yang dibuat maka menjadi sumber makanan bagi mikroba tanah yang ada sehingga jumlah mikroba tanah semakin bertambah. Dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Oleh karena itu, bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya dalam meresapkan air sehingga dapat menambah cadangan air tanah sekaligus mengurangi genangan. Bila lingkungan bebas dari genangan air yang tidak diinginkan maka kebersihan lingkungan akan terjaga dan kita dapat terhindar dari mewabahnya penyakit malaria, demam berdarah, dan kaki gajah (filariasis).

3. Pembuatan pupuk kompos Pembuatan pupuk kompos: bahan yang digunakan antara lain pupuk kandang, jerami, air, dan EM 4. Pupuk kandang sering digunakan sebagai pupuk organic karena memiliki kandungan unsur lengkap yang diperlukan bagi tanaman. Jerami digunakan sebagai penambah unsure N (nitrogen) dalam pupuk organic. EM 4 digunakan sebagai pengurai agar pupuk cepat matang, EM4 dilarutkan dalam air untuk dapat dicampurkan dalam bahan-bahan pembuat pupuk organic. Pupuk organic biasanya digunakan sebagai pupuk tanaman hortikultura. Selain itu pupuk organic juga dapat digunakan pada tanah kering agar tanah menjadi subur kembali. Pada pelaksanaan prkatikum lapangan juga diprkatikan cara pembuatan pupuk daun. Pupuk daun berasal dari dedaunan yang telah gugur, dikumpulkan dan dimasukkan dalam wadah yang tertutup yang telah dicampur dengan starter. Kemudian ditunggu hingga matang dan siap digunakan ketika pupuk sudah tercium seperti bau tanah dan tidak panas. Adapun ketentuan pembuatan pupuk daun untuk memenuhi kebutuhan unsure hara pada tanaman perlu kombinasi jenis dauan yang dicampurkan, misalnya untuk unsure K menggunakan daun lamtoro, N digunakan jerami dan P digunakan pelepah pisang. Dengan mencampur berbagai macam daun diharapkan pemenuhan unsure dapat tertenuhi. Dalam pembuatan pupuk daun perlu tempat yang kedap udara agar mikroorganisme dapat bekerja dengan baik.

4. Pembuatan mikro organisme local (MOL) Mikroorganisme lokal (MOL) adalah mikroorganisme yang dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik padat maupun pupuk cair. Prinsip kerja dari MOL adalah mengembangbiakkan mikroorganisme yang ada pada bahan seperti sayuran dan buah-buahan. Bahan utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat,

glukosa, dan sumber mikroorganisme. Bahan dasar untuk fermentasi larutan MOL dapat berasal dari hasil pertanian, perkebunan, maupun limbah organik rumah tangga. Karbohidrat sebagai sumber nutrisi untuk mikroorganisme dapat diperoleh dari limbah organik seperti air cucian beras, singkong, gandum, rumput gajah, dan daun gamal.

Sumber glukosa berasal dari cairan gula merah, gula pasir, dan air kelapa, serta sumber mikroorganisme berasal dari kulit buah yang sudah busuk, terasi, keong, nasi basi, dan urin sapi. MOL dapat dikatakan salah satu jenis pupuk cair. Mol juga memiliki kandungan unsur hara dan unsur hara mikro. MOL sangat berperan dalam perangsang tanaman dan sebagai pengendalian hama dan penyakit tanaman. MOL merupakan pemanfaatan bakteri yang bermanfaat di sekitar yang berguna sebagai dekomposer. MOL dapat berasal dari hasil pembusukan yang telah difermentasikan. Semakin busuk dan halus bahan yang difermentasikan maka akan semakin cepat menjadi MOL. MOL yang berasal dari buahbuahan yang telah atau hampir busuk merupakan pembuatan MOL yang relatif cepat dan efisien karena buah tersebut memiliki daging buah yang halus sehingga mudah untuk busuk. Dalam pembuatan MOL yang lebih cepat maka bakteri dalam larutan MOL membutuhkan glukosa, sumber bakteri, dan karbohidrat. Dalam pelaksanaan praktikum lapangan, digunakan beberapa bahan yang memiliki fungsi masing-masing dalam pembuatan MOL. 1. Glukosa Glukosa berperan dalam sumber energi dalam mikroba yang bersifat spontan, artinya lebih mudah untuk dimakan. Glukosa yang dibuat dalam praktikum ini adalah gula pasir dan air cucian beras. 2. Mikroorganisme lokal atau sumber bakteri Sumber bakteri dalam MOL yang diperoleh berasal dari buah-buahan yang telah busuk, dalam praktikum ini buah yang digunakan adalah jambu biji. 3. Air Kelapa Air kelapa berfungsi sebagai penyedia ion-ion supaya berlangsung reaksi kimia dalam campuran bahan. Selain itu, air kelapa juga berfungsi dalam menjaga pH medium yang dibuat agar mikrobia tetap bisa hidup. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan MOL adalah saat proses fermentasi, botol perlu dibuka pada saat-saat tertentu, misalnya 3 hari sekali dari total waktu fermentasi. Fungsi dari dibukanya tutup botol ini adalah untuk menghilangkan gas beracun

didalam larutan MOL, biasanya gas tersebut berupa gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Manfaat dari pembuatan MOL adalah sebagai berikut : 1. 2. Menyediakan ketersediaan unsur hara yang sangat cepat karena sudah berupa larutan. Dapat disemprotkan langsung oleh tanaman, sehingga diserap melalui dedaunan tanaman. 3. 4. 5.
6.

Dapat digunakan sebagi dekomposer dalam pengomposan. Mengendalikan hama dan penyakit dan tanaman. Mengurangi penggunaan pestisida yang dapat menurunkan kualitas tanaman. Dengan adanya MOL maka buah-buahan yang busuk ataupun yang lain dapat dimanfaatkan.

7. 8.

Mendukung pertanian yang ramah lingkungan. Dapat mengatasi permasalahan pencemaran limbah pertanian dan limbah rumah tangga.

9.

Mengandung unsur kompleks dan mikroba yang bermanfaat dalam produk pupuk dan dekomposer organik yang dihasilkan.

10. Memperkaya keanekaragaman biota tanah. 11. Memperbaiki kualitas tanah dan tanaman. 12. Merupakan salah satu upaya meningkatkan kemandirian petani supaya tidak tergantung dengan produk pabrikan. 5.Pengamatan solum dan sampling tanah a. Solum tanah Solum tanah adalah kedalaman lapisan tanah dari permukaan hingga bahan induk tanah.Solum tanah adalah penampang tanah dimulai dari horizon A hingga horizon B Kedalaman solum tanah sangat bervariasi tergantung perkembangan tanah, mulai dari 5 cm 10 M. Kegunaan mengetahui solum tanah adalah bahwa ketebalan solum tanah sangat menentukan perkembangan akar, bila solum tanah tipis makan perkembangan akar akan terhambat dan sebaliknya Tata nama horizon & sifatnya

Horizon O yaitu : Horizon organik tanah-tanah mineral : 1. terbentuk di atas tanah mineral 2. Didominasi oleh bahan organik yg segar atau sebag telah terdekomposisi 3. Mengandung >30% B.O. jika fraksi lempung > 50%, atau >20% B.O. jika tidak mengandung fraksi lempung Horizon A : lapisan mineral yg terdiri atas : 1. horizon dimana B.O. terakumulasi 2. horizon yg kehilangan lempung, Fe, Al, (horizon eluviasi) sehingga tinggal mineral 2x yang resisten seperti kuarsa 3. transisi antara horison B & C Horizon B memiliki 1 atau lebih sifat-sifat seperti di bawah ini : (1) Merupakan horizon illuviasi (horizon Pengendapan) lempung, silikat, Fe, Al, atau humus yang berasal dari Horison A (2) Adanya akumulasi sesquioksida dari lempung silikat, karena terlindinya karbonat^2 atau garam-garam terlarut (3) Adanya coating (mantel) mineral^2 sesquioksida (becak0becak) yg berwarna gelap, atau kemerahan (4) Mulai terbentuknya struktur granuler, gumpal atau prisma karena adanya proses alterasi yaitu terbentuknya lempung- lempung silikat ataupun pembebasan oksida^2 Horizon C : Merupakan lapisan mineral yg sifat-sifatnya masih menyerupai bahan induknya . Atau batuan induk yang telah mengalami pelapukan Horizon R : Lapisan batuan induk ,Solum tanah tidak dapat direkayasa, karena kedalaman solum tanah sangat tergantung dari perkembangan tanah (umur tanah), sehingga solum tanah merupakan faktor yang permanen.

b. Sampling tanah Contoh Tanah adalah suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian tubuh tanah (horison/lapisan/solum) dengan cara-cara tertentu disesuaikan dengan sifat-sifat yang akan diteliti secara lebih detail di laboratorium. Pengambilan contoh tanah dapat dilakukan dengan 2 teknik dasar yaitu pengambilan contoh tanah secara utuh dan pengambilan contoh tanah secara tidak utuh. Sebagaimana dikatakan dimuka bahwa pengambilan contoh tanah disesuaikan dengan sifat-sifat yang akan diteliti. Untuk penetapan sifat-sifat fisika tanah ada 3 macam pengambilan contoh tanah yaitu : 1. Contoh tanah tidak terusik (undisturbed soil sample) yang diperlukan untuk analisis penetapan berat isi atau berat volume (bulk density), agihan ukuran pori (pore size distribution) dan untuk permeabilitas (konduktivitas jenuh) 2. Contoh tanah dalam keadaan agregat tak terusik (undisturbed soil aggregate) yang diperlukan untuk penetapan agihan ukuran agregat dan derajad kemantapan agregat (aggregate stability) 3. Contoh tanah terusik (disturbed soil sample), yang diperlukan untuk penetapan kadar lengas, tekstur, tetapan Atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar lengas kritik, Indeks patahan (Modulus of Rupture:MOR), konduktivitas hidroulik tak jenuh, luas permukaan (specific surface), erodibilitas (sifat ketererosian) tanah menggunakan hujan tiruan (rainfall simulator) Untuk penetapan sifat kimia tanah misalnya kandungan hara (N, P, K, dll), kapasitas tukar kation (KPK), kejenuhan basa, dll digunakan pengambilan contoh tanah terusik. Salah satu sifat kimia tanah adalah keasaman atau pH (potensial of hidrogen), pH adalah nilai pada skala 0-14, yang menggambarkan jumlah relatif ion H+ terhadap ion OH- didalam larutan tanah. Larutan tanah disebut bereaksi asam jika nilai pH berada pada kisaran 0-6, artinya larutan tanah mengandung ion H+ lebih besar daripada ion OH-, sebaliknya jika jumlah ion H+ dalam larutan tanah lebih kecil dari pada ion OH- larutan tanah disebut bereaksi basa (alkali) atau miliki pH 8-14. Tanah bersifat asam karena berkurangnya kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium. Unsur-unsur tersebut terbawa oleh aliran air kelapisan tanah yang lebih bawah atau hilang diserap oleh tanaman. Ada 3 alasan utama nilai pH tanah sangat penting untuk diketahui :

1. Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman, pada umumnya unsur hara mudah diserap oleh akar tanaman pada pH tanah netral 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara mudah larut dalam air. 2. pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumanium yang selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah asam unsurunsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu besar, akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman. 3. pH tanah sangat mempengaruhi perkembangan mikroorganisme di dalam tanah. Pada pH 5.57 bakteri jamur pengurai organik dapat berkembang dengan baik

Contoh tanah tidak terusik berarti tanah tersebut belum pernah digunakan kegiatan budidaya tanaman atau kegiatan lainnya seperti pertambangan atau yang lainnya. Tanah tanah yang berada disekitar jalan atau disekitar parit/selokan juga tidak termasuk contoh tanah tidak terusik, sehingga contoh tanah yang tidak terusik adalah contoh tanah yang telah diambil dari lahan yang masih virgin atau masih belum pernah disentuh atau digunakan manusia untuk berbagai macam kegiatan. Contoh tanah tidak terusik diperlukan untuk menganalisis penetapan berat isi atau berat volume, agihan ukuran pori, dan untuk permeabilitas. Contoh tanah terusik berarti tanah tersebut telah pernah digunakan untuk kegiatan budidaya tanaman atau kegiatan lainnya. Tanah-tanah disekitar jalan atau disekitar parit termasuk contoh tanah yang terusik. Terusik bisa diartikan bahwa tanah tersebut telah terganggu baik itu terganggu oleh kegiatan pertanian maupun kegiatan lainnya seperti pertambangan atau perminyakan. Contoh tanah terusik diperlukan untuk penetapan kadar lengas, tekstur, tetapan atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar lengas kritik, indeks patahan, konduktivitas hidroulik tak jenuh, luas permukaan, erodibilitas tanah menggunakan hujan tiruan.

6. Vertikultur Penanaman vertical atau biasa disebut vertikultur merupakan penanaman yang dilakukan secara vertikal. Penanaman vertikultur dapat dilakukan dengan menggunakan

rak bertingkat ataupun dengan menggunakan pot tegak. Selain itu, penanaman dengan sistem vertikultur tidak memerlukan lahan yang luas. Hal ini disebabkan oleh penanamannya yang secara bertingkat. Adapun jenis tanaman yang dapat ditanam dengan sistem vertikultur, yaitu tanaman hortikultura semusim. Penerapan vertikultur cukup mudah. Pot tegak dapat dibuat dari pipa paralon atau bambu yang memiliki diameter besar. Pada praktikum ini digunakan pipa paralon yang diletakkan secara vertikal. Kemudian pipa dilubangi pada kedua sisi dengan jarak 20cm perlubang. Lubang dibuat bertingkat untuk member ruang lebih luas bagi masingmasing tajuk dan untuk alasan keindahan. Vertikultur tahan terhadap cuaca dan anasir iklim lain yang dapat menghambat produksi makanan karena umumnya berada di dalam ruangan. Selain itu, tanaman juga dapat lebih termonitor sehingga tingkat pertumbuhannya dapat optimal (Despommier, 2011). Akan tetapi, perlu biaya yang cukup mahal dan sedikit keterampilan pada tahap pembuatan vertikultur.

V. A. Kesimpulan

PENUTUP

1. Aplikasi pupuk memerlukan teknik yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan tanaman maupun kondisi tanah untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan efisien dari segi kebutuhan pupuk. 2. Pembuatan biopori merupakan teknik untuk menanggulangi genangan air dan menjaga agar tanah tetap terpelihara kesuburannya. 3. Pupuk kompos sebagai pupuk organik yang dapat digunakan dan dibuat sendiri oleh petani untuk usaha tani, sehingga dapat menghemat biaya usaha tani dan menjaga kesuburan dan kesehatan tanah, maupun dalam rangka memperbaiki struktur tanah. 4. Pembuatan mol dapat membantu dalam mempercepat pembusukan/dekomposisi dalam pembuatan pupuk kompos, sehingga dapat efisien waktu. 5. Solum dan sampling tanah membantu dalam analisa kondisi tanah, sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam penentuan teknik budidaya secara tepat dan perlakuan terhadap tanah untuk mendapatkan produksi maksimal.

6. Vertikultur sebagai salah satu alternative teknik budidaya untuk menatasi permasalahan akibat pengurangan lahan pertanian terutama didaerah perkotaan.

B.

Saran Pembuatan vertikultur merupaka salah satu alternative yang dapat digunakan untuk

menanam tanaman hortikultura di pekarangan dengan kondisi lahan sempit. Hal tersebut perlu diperhatikan ketika pembuatannya sebaiknya menggunakan bahan yang tidak mudah rapuh, seperti pipa. Untuk menambah kesuburannya dapat digunakan pupuk kompos, yang dapat dibuat sendiri di rumah. Pembuatan pupuk kompos haruslah dikondisikan anaerob untuk menjaga agar mikroba dapat bekerja. Selain itu menjaga suhu dan kelembaban perlu dijaga, hal tersebut juga berlaku pada pembuatan biopori. Aplikasi pupuk sebaiknya memperhatikan kondisi tanaman. Sama seperti halnya, pengambilan sample tanah perlu adanya perhitungan untuk mendapatkan hasil maksimal. Pada pembuatan solum tanah juga harus memeperhatiakan posisi dan kondisi tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Alimaksum, N. M. 2010. Evaluasi Hantaran Hidrolik Tanah Lubang Resapan Biopori pada Latosol Coklat Darmaga dan Latosol Merah Jakarta. Skripsi. Program Studi Ilmu Tanah Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Anonim. 2013. Cara Membuat Pupuk Organik Cair. <http://www.alamtani.com/pupuk-organikcair.html>. Diakses pada 7 November 2013. Budiyanto, M. 2002. Mikrobiologi Terapan. Universitas Muhammadiyah, Malang. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung. Baver, L.D. 1961. Soil Physics. John Wiley & Sons Inc. New york. Buckman. 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta. Darwis dkk. 1992. Teknologi Fermentasi. Rajawali-Press, Jakarta. Despommier, D. 2010. The Vertical Farm: Feeding the World in the 21st Century. St. Martins Press, New York. Despommier, D. 2011. The vertical farm: controlled environment agriculture carried out in tall buildings would create greater food safety and security for large urban populations. Journal Fr Verbraucherschutz Und Lebensmittelsicherheit 6: 233-236. Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudyaan Dirjen Dikti. IPB, Bogor. Foth, H.D. 1991. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Hidayat. 2006. Mikrobiologi industri. Andi offset, Yogyakarta. Henry. 1988. Fundamentalis of Soil Science. John Wiley & Sons. Inc. New york. Herniwati dan B. Nappu. 2012. Peran dan Pemanfaatan Mikroorganisme Lokal (MOL) Mendukung Pertanian Organik. <http://sulsel.litbang.deptan.go.id>. Di akses pada 6 November 2013.

Hakim,

Z. A. R. 2011. Biopori, Solusi Banjir Perkotaan.<http://zainalarif.wordpress.com/2010/05/21/biopori-solusi-banjir-diperkotaan/>. Diakses 6 November 2013.

di

Hermain, T. P. 2012. Lubang Resapan Biopori. <http://litbang.patikab.go.id>. Diakses Pada 6 November 2013. Kamir, R. B. dan A. Nelistya. 2008. Lubang Resapan Biopori. Penebar Swadaya, Jakarta. Kartasapoetra. 1987. Ilmu Tanah Umum. Bagian Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung. Kononova.M.M. 2002. Soil organic matter. Diterjemahkan dari bahasa Rusia oleh T.Z. Nowokowski & A.C.D. Newman 2nd English Edition. Pergamon Press Ltd. Oxford. London Novizan. 2005. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agromedia Pustaka,Jakarta. Santosa, H.B. 1998. Pupuk kompos dari sampa rumah tangga. Kanisius, Yogyakarta. Susila, A. D. dan R. Poerwanto. 2013. Dasar Dasar Hortikultura. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sibarani, R. T dan D. Bambang. 2010. Penelitian Biopori untuk Menentukan Laju Resap Air Berdasarkan Variasi Umur dan Jenis Sampah. Skripsi. Jurusan Teknik Lingkungan FTSP. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Sessitsch, A., A. Weilharter, M. H. Gerzabek, H. Kirchmann, dan E. Kandeler. 2001. Microbial population structures in soil particle size fractions of a long-term fertilizer field experiment. Applied and Environmental Microbiology 67: 4215-4224. Tabbara, H. 2003. Phosphorus loss to runoff water twenty-four hours after application of liquid swine manure or fertilizer. Journal of Environmental Quality 32: 1044-1052. Tombe, M dan H. Sipayung. 2010.kompos biopestisida. Kanisius, Yogyakarta. Tan, Kim. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Balai Penelitian Teh & Kina. Bandung.