Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

LATAR BELAKANG Manusia, nilai, moral, dan hukum merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Dewasa ini masalah-masalah serius yang dihadapi bangsa Indonesia berkaitan dengan nilai, moral, dan hukum antara lain mengenai kejujuran, keadilan, menjilat, dan perbuatan negatif lainnya sehingga perlu dikedepankan pendidikan agama dan moral karena dengan adanya panutan, nilai, bimbingan, dan moral dalam diri manusia akan sangat menentukan kepribadian individu atau jati diri manusia, lingkungan sosial dan kehidupan setiap insan. Pendidikan nilai yang mengarah kepada pembentukan moral yang sesuai dengan norma kebenaran menjadi sesuatu yang esensial bagi pengembangan manusia yang utuh dalam konteks sosial. Pendidikan moral tidak hanya terbatas pada lingkungan akademis, tetapi dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat kondusif untuk melaksanakan pendidikan moral yaitu lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat. Peran keluarga dalam pendidikan mendukung terjadinya proses identifikasi, internalisasi, panutan dan reproduksi langsung dari nilai-nilai moral yang hendak ditanamkan sebagai pola orientasi dari kehidupan keluarga. Hal-hal yang juga perlu diperhatikan dalam pendidikan moral di lingkungan keluarga adalah penanaman nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan dan tanggung jawab dalam segenap aspek.

1.2. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam pembahasan ini adalah : 1. 2. Bagaimana hakikat nilai dan moral dalam kehidupan manusia? Bagaimana hubungan manusia dengan moral?

3. 4. 5.

Bagaimana hubungan manusia dengan hukum? Bagaimana hubungan hukum dengan moral? Bagaimana penerapan nilai, moral, dan hukum dalam kehidupan

sehari-hari?

1.3. TUJUAN 1. Memahami bagaimana hakikat nilai dan moral dalam kehidupan manusia. 2. Memahami bagaimana hubungan manusia dengan moral. 3. Memahami bagaimana hubungan manusia dengan hukum. 4. Memahami bagaimana hubungan hukum dengan moral. 5. Memahami bagaimana penerapan nilai, moral, dan hukum dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Hakikat Nilai Dan Moral Dalam Kehidupan Manusia 2.1. Nilai dan Moral Sebagai Materi Pendidikan Terdapat beberapa bidang filsafat yang ada hubungannya dengan cara manusia mencari hakikat sesuatu, satu di antaranya adalah aksiologi (filsafat nilai) yang mempunyai dua kajian utama yakni estetika dan etika. Keduanya berbeda karena estetika berhubungan dengan keindahan sedangkan etika berhubungan dengan baik dan salah, namun karena manusia selalu berhubungan dengan masalah keindahan, baik, dan buruk bahkan dengan persoalan-persoalan layak atau tidaknya sesuatu, maka pembahasan etika dan estetika jauh melangkah ke depan meningkatkan kemampuannya untuk mengkaji persoalan nilai dan moral tersebut sebagaimana mestinya. Jika persoalan etika dan estetika ini diperluas ke kawasan pribadi, maka muncullah persoalan apakah pihak lain atau orang lain dapat mencampuri urusan pribadi orang tersebut? Seperti halnya jika seseorang menyukai masakan China, apakah orang lain berhak menyangkal jika masakan China adalah masakan yang enak untuk disantap dan melarang orang tersebut untuk mengkonsumsinya? Mungkin itu hanya sebagian kecil persoalan ini, begitu kompleksnya persoalan nilai, maka pembahasan hanya dibatasi hanya pada pembahasan etika saja. Menurut Bartens ada tiga jenis makna etika, yaitu: 1. Kata etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. 2. Etika berarti juga kumpulan asas atau nilai moral (kode etik).

3. Etika mempunyai arti ilmu tentang yang baik dan yang buruk (filsafat moral) Dalam bidang pendidikan, ketiga pengertian di atas menjadi materi bahasannya, oleh karena itu bukan hanya nilai moral individu yang dikaji, tetapi juga membahas kode-kode etik yang menjadi patokan individu dalam kehidupan sosisalnya, yang tentu saja karena manusia adalah makhluk sosial.

2.2. Nilai Moral di Antara Pandangan Objektif dan Subjektif Manusia Nilai erat hubungannya dengan manusia, dalam hal etika maupun estetika. Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai dalam dua konteks, pertama akan memandang nilai sebagai sesuatu yang objektif, apabila dia memandang nilai itu ada meskipun tanpa ada yang menilainya. Kedua, memandang nilai sebagai sesuatu yang subjektif, artinya nilai sangat tergantung pada subjek yang menilainya. Dua kategori nilai itu subjektif atau objektif: Pertama, apakah objek itu memiliki nilai karena kita

mendambakannya, atau kita mendambakannya karena objek itu memiliki nilai. Kedua, apakah hasrat, kenikmatan, perhatian yang memberikan nilai pada objek, atau kita mengalami preferensi karena kenyataan bahwa objek tersebut memiliki nilai mendahului dan asing bagi reaksi psikologis badan organis kita (Frondizi, 2001, hlm. 19-24).

2.3. Nilai di Antara Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder Kualitas primer yaitu kualitas dasar yang tanpanya objek tidak dapat menjadi ada, sama seperi kebutuhan primer yang harus ada sebagai syarat hidup manusia, sedangkan kualitas sekunder merupakan kualitas yang dapat ditangkap oleh pancaindera seperti warna, rasa, bau, dan sebagainya, jadi kualitas sekunder seperti halnya kualitas sampingan yang memberikan nilai lebih terhadap sesuatu yang dijadikan objek penilaian kualitasnya.

Perbedaan

antara

kedua

kualitas

ini

adalah

pada

keniscayaannya, kualitas primer harus ada dan tidak bisa ditawar lagi, sedangkan kualitas sekunder bagian eksistesi objek tetapi kehadirannya tergantung subjek penilai. Nilai bukan kualitas primer maupun sekunder sebab nilai tidak menambah atau memberi eksistensi objek. Nilai bukan sebuah keniscayaan bagi esensi objek. Nilai bukan benda atau unsur benda, melainkan sifat, kualitas, yang dimiliki objek tertentu yang dikatakan baik. Nilai milik semua objek, nilai tidaklah independen yakni tidak memiliki kesubstantifan. 2.4. Metode Menemukan dan Hierarki Nilai dalam Pendidikan Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia

menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang selanjutnya diambil sebuah keputusan, nilai memiliki polaritas dan hierarki, yaitu: 1. Nilai menampilkan diri dalam aspek positif dan aspek negatif yang sesuai (polaritas) seperti baik dan buruk, keindahan dan kejelekan. 2. Nilai tersusun secara hierarkis, yaitu hierarki urutan pentingnya. Ada beberapa klasifikasi nilai yaitu klasifikasi nilai yang didasarkan atas pengakuan, objek yang dipermasalahkan, keuntungan yang diperoleh, tujuan yang akan dicapai, hubungan antara pengembangan nilai dengan keuntungan, dan hubungan yang dihasilkan nilai itu sendiri dengan hal lain yang lebih baik. Sedangkan Max Scheller berpendapat bahwa hierarki terdiri dari, nilai kenikmatan, kehidupan, kejiwaan, dan nilai kerohanian. Dan masih banyak lagi klasifikasi lainnya dari para pakar, namun adapula pembagian hierarki di Indonesia (khususnya pada masa dekade Penataran P4), yakni, nilai dasar, nilai instrumental, dan yang terakhir nilai praksis.

2.4.1. Pengertian Nilai Walaupun begitu banyaknya pakar yang

mengemukakan pengertian nilai, namun ada yang telah disepakati dari semua pengertian itu bahwa nilai berhubungan dengan manusia, dan selanjutnya nilai itu penting. Pengertian nilai yang telah dikemukakan oleh setiap pakar pada dasarnya upaya memberikan pengertian secara holistik terhadap nilai, akan tetapi setiap orang tertarik pada bagian bagian yang relatif belum tersentuh oleh pemikir lain. Definisi yang mengarah pada pereduksian nilai oleh status benda, terlihat pada pengertian nilai yang dikemukakan oleh John Dewney yakni, Value Is Object Of Sosial Interest, karena ia melihat nilai dari sudut kepentingannya.

2.4.2. Makna Nilai bagi Manusia Nilai itu penting bagi manusia, apakah nilai itu dipandang dapat mendorong manusia karena dianggap berada dalam diri manusia atau nilai itu menarik manusia karena ada di luar manusia yaitu terdapat pada objek, sehingga nilai lebih dipandang sebagai kegiatan menilai. Nilai itu harus jelas, harus semakin diyakini oleh individu dan harus diaplikasikan dalam perbuatan.

2.4.3. Problematika Pembinaan Nilai Moral 2.4.3.1. Pengaruh Kehidupan Keluarga dalam

Pembinaan Nilai Moral Persoalan merosotnya intensitas interaksi dalam keluarga, serta terputusnya komunikasi yang harmonis antara orang tua dengan anak, mengakibatkan merosotnya fungsi keluarga dalam pembinaan nilai moral anak. Keluarga bisa jadi tidak lagi menjadi tempat untuk

memperjelas nilai yang harus dipegang bahkan sebaliknya menambah kebingungan nilai bagi si anak.

2.4.3.2.

Pengaruh

Teman

Sebaya

Terhadap

Pembinaan Nilai Moral Setiap orang yang menjadi teman anak akan menampilkan kebiasaan yang dimilikinya, pengaruh

pertemanan ini akan berdampak positif jika isu dan kebiasaan teman itu positif juga, sebaliknya akan berpengaruh negatif jika sikap dan tabiat yang ditampikan memang buruk, jadi diperlukan pula pendampingan orang tua dalam tindakan anak-anaknya, terutama bagi para orang tua yang memiliki anak yang masih di bawah umur.

2.4.3.3.

Pengaruh

Figur

Otoritas

Terhadap

Perkembangan Nilai Moral Individu Orang dewasa mempunyai pemikiran bahwa fungsi utama dalam menjalin hubungan dengan anak-anak adalah memberi tahu sesuatu kepada mereka: memberi tahu apa yang harus mereka lakukan, kapan waktu yang tepat untuk melakukannya, di mana harus dilakukan, seberapa sering harus melakukan, dan juga kapan harus mengakhirinya. Itulah sebabnya seorang figur otoritas (bisa juga seorang public figure) sangat berpengaruh dalam perkembangan nilai moral.

2.4.3.4.

Pengaruh Media Komunikasi Terhadap

Perkembangan Nilai Moral Setiap orang berharap pentingnya memerhatikan perkembangan nilai anak-anak. Oleh karena itu dalam media komunikasi mutakhir tentu akan mengembangkan

suatu pandangan hidup yang terfokus sehingga memberikan stabilitas nilai pada anak. Namun ketika anak dipenuhi oleh kebingungan nilai, maka institusi pendidikan perlu

mengupayakan jalan keluar bagi peserta didiknya dengan pendekatan klarifikasi nilai.

2.4.3.5.

Pengaruh Otak atau Berpikir Terhadap

Perkembangan Nilai Moral Pendidikan tentang nilai moral yang menggunakan pendekatan berpikir dan lebih berorientasi pada upayaupaya untuk mengklarifikasi nilai moral sangat

dimungkinkan bila melihat eratnya hubungan antara berpikir dengan nilai itu sendiri, meskipun diakui bahwa ada pendekatan lain dalam pendidikan nilai yang memiliki orientasi yang berbeda.

2.4.3.6.

Pengaruh

Informasi

Terhadap

Perkembangan Nilai Moral Munculnya berbagai informasi, apalagi bila

informasi itu sama kuatnya maka akan mempengaruhi disonansi kognitif yang sama, misalnya saja pengaruh tuntutan teman sebaya dengan tuntutan aturan keluarga dan aturan agama akan menjadi konflik internal pada individu yang akhirnya akan menimbulkan kebingungan nilai bagi individu tersebut.

3. Hubungan Manusia Dengan Moral Moral memiliki arti yang hampir sama dengan etika. Etika berasal dari bahasa kuno yang berarti ethos dalam bentuk tunggal ethos memiliki banyak arti yaitu tempat tinggal biasa, padang rumput, kebiasaan, adat, watak sikap , dan caraberfiki. Dalam bentuk jamak ethos (ta etha) yang

artinya adat kebiasaan. Moral berasal dari bahasa latin yaitu mos (jamaknya mores) yang berarti adat, cara, dan tempat tinggal. Dengan demikian secara etismologi kedua kata tersebut bermakna sama hanya asal asul bahasanya yang berbeda dimana etika dari bahasa yunani sementara moral dari bahasa latin. Moral yang pengertiaannya sama dengan etika dalam makna nilainilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Dalam ilmu filsafat moral banyak unsur yang dikaji secara kritis, di landasi rasionalitas manusia seperti sifat hakiki manusia, prinsip kebaikan, pertimbangan etis dalam pengambilan keputusan terhadap sesuatu dan sebagainya. Moral lebih kepada sifat aplikatif yaitu berupa nasehat tentang hal-hal yang baik. Ada beberapa unsur dari kaidah moral yaitu : 1. Hati Nurani Merupakan fenomena moral yang sangat hakiki. Hati nurani merupakan penghayatan tentang baik atau buruk mengenai perilaku manusia dan hati nurani ini selalu dihubunngkan dengan kesadaran manusia dan selalu terkait dalam dengan situasi kongkret. Dengan hati nurani manusia akan sanggup mererfleksikan dirinya terutama dalam mengenai dirinya sendiri atau juga mengenal orang. 2. Kebebasan dan tanggung jawab. Kebebasan adalah milik individu yang sangat hakiki dan manusiawi dan karena manusia pada dasar nya adalah makhluk bebas. Tetapi didalam kebebasan itu juga terbatas karena tidak boleh bersinggungan dengan kebebasan orang lain ketika mereka melakukan interaksi. Jadi, manusia itu adalah makhluk bebas yang dibatasi oleh lingkungannya sebagai akibat tidak mampunya ia untuk hidup sendiri.

3.1. Nilai dan Norma Moral. Nilai dan moral akan muncul ketika berada pada orang lain

dan ia akan bergabung dengan nilai lain seperti agama, hukum, dan budaya. Nilai moral terkait dalam tanggung jawab seseorang.

4. Hakikat Hukum dan Manusia Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam ilmu hukum, terdapat adagium yang terkenal yang berbunyi: ubi societas ibi jus (di mana ada masyarakat di situ ada hukumnya). Artinya bahwa dalam setiap pembentukan suatu bangunan struktur sosial yang bernama masyarakat, maka selalu akan dibutuhkan bahan yang bersifat sebagai semen perekat atas berbagai komponen pembentuk dari masyarakat itu, dan yang berfungsi sebagai semen perekat tersebut adalah hukum. Manusia, disamping bersifat sebagai makhluk individu, juga berhakekat dasar sebagai makhluk sosial, mengingat manusia tidak

dilahirkan dalam keadaaan yang sama (baik fisik, psikologis, hingga lingkungan geografis, sosiologis, maupun ekonomis) sehingga dari perbedaan itulah muncul inter dependensi yang mendorong manusia untuk berhubungan dengan sesamanya. Berdasar dari usaha pewujudan hakekat sosialnya di atas, manusia membentuk hubungan sosio-ekonomis di antara sesamanya, yakni hubungan di antara manusia atas landasan motif eksistensial yaitu usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya (baik fisik maupun psikis). Dalam kerangka inter relasi manusia di atas motif eksistensial itulah sistem hubungan sosial terbentuk. Usaha perealisasian motif eksistensial dalam suatu sistem hubungan sosial bersifat sangat kompleks akibat dari kuantitas dan heterogenitas kebutuhan di dalam kemajemukan manusia dengan pluralitas perbedaanya itu, oleh karena itu upaya yang dilakukan dalam kompleks inter relasi ini meniscayakan kebutuhan akan satu hal: keteraturan. Hanya dengan prasyarat keteraturanlah, maka usaha perealisasian motif eksistensial dari masing-masing individu manusia didalam kebersamaan antar sesamanya dapat terwujud, mengingat bagaimanapun disisi lain

10

manusia masih juga berhakekat sebagai makhluk individual sehingga sebuah kepentingan pemenuhan kebutuhan hidup ( motif eksistensial ) seorang manusia akan berhadapan dengan kepentingan manusia lain. Konflik kepentingan ini secara alami akan mendorong manusia untuk saking berkompetisi dan saling mengalahkan diantara sesamanya, kondisi ini pada ujungnya jika dilakukan secara tidak terkendali akan melahirkan kekacauan ( chaos ), dan jika hal ini sudah terjadi maka justru eksistensi manusia itu sendiri yang terancam. Untuk mewujudkan keteraturan, maka mula-mula manusia membentuk suatu struktur tatanan (organisasi) di antara dirinya yang dikenal dengan istilah tatanan sosial ( sosial order ) yang bernama: masyarakat . Guna membangun dan mempertahankan tatanan sosial masyarakat yang teratur ini, maka manusia membutuhkan pranata pengatur yang terdiri dari dua hal: aturan (hukum) dan si pengatur(kekuasaan). Dari sinilah hukum tercipta. Yakni sebagai bagian pranata pengatur disamping pranata lain yaitu kekuasaan, dan sifat hubungan antara hukum dan kekuasaan ini layaknya dua permukaan mata uang karena kedua unsur pranata pengatur ini berhubungan secara sistemik sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan, keberadaan yang satu meniscayakan keberadaan yang lain. Untuk menciptakan keteraturan maka dibuatlah hukum sebagai alat pengatur, dan agar hukum tersebut dapat memiliki kekuatan untuk mengatur maka perlu suatu entitas lembaga kekuasaan yang dapat memaksakan keberlakuan hukum tersebut sehingga dapat bersifat imperatif. Sebaliknya, adanya entitas kekuasaan ini perlu diatur pula dengan hukum untuk menghindari terjadinya penindasan melalui kesewenang-wenangan ataupun dengan penyalah gunaan wewenang. Mengenai hubungan hukum dan kekuasaan ini, terdapat adagium yang populer: hukum tanpa kekuasaan hanyalah angan-angan, dan kekuasaan tanpa hukum adalah kezaliman.

11

4.1. Komponen Hukum Untuk menciptakan keteraturan maka dibuatlah hukum sebagai alat pengatur, dan agar hukum tersebut dapat memiliki kekuatan untuk mengatur maka perlu suatu entitas lembaga kekuasaan yang dapat memaksakan keberlakuan hukum tersebut sehingga dapat bersifat imperatif. Sebaliknya, adanya entitas kekuasaan ini perlu diatur pula dengan hukum untuk menghindari terjadinya penindasan melalui kesewenang-wenangan ataupun dengan penyalah gunaan wewenang. Mengenai hubungan hukum dan kekuasaan ini, terdapat adagium yang populer: hukum tanpa kekuasaan hanyalah angan-angan, dan kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman. Komponen hukum yang pertama adalah substansi atau isi hukum yang bersangkutan. Suatu hukum agar benar-benar mampu menciptakan keadilan bagi masyarakat, maka isi dari hukum itu sendiri harus benarbenar berfungsi sebagai manifestasi nilai-nilai dan rasa keadilan serta nilai-nilai normatif yang diidealkan masyarakat. Disamping itu, agar hukum tersebut dapat berjalan, substansi hukum tersebut juga tidak boleh bertentangan dengan substansi hukum lain yang telah ada. Sehingga suatu hukum agar dapat bekerja, maka ia harus bersifat koheren dengan keseluruhan sistem norma sosial yang ada dalam lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Komponen yang kedua adalah struktur, yaitu lembaga yang memiliki kewenangan untuk menegakkan hukum. Sebuah hukum, sebaik apapun substansi yang dikandungnya tidak akan mampu berjalan jika tidak ada lembaga yang memiliki kekuasaan untuk menjalankan hukum tersebut. Lembaga yang memiliki kekuasaan untuk menjalankan hukum ini terdiri dari setiap subyek yang memiliki kewenangan untuk itu, mulai dari instansi penyidik seperti aparat kepolisian, instansi penuntut umum seperti kejaksaan, dan pengadilan. Komponen yang ketiga sekaligus yang terakhir adalah komponen kultur atau budaya dari masyarakat hukum yang bersangkutan. Suatu

12

hukum yang ideal adalah hukum yang merupakan produk langsung dari budaya masyarakat yang bersangkutan, sehingga sistem nilai yang diusung oleh produk hukum tersebut akan sesuai (karena merupakan manifestasi) dengan kesadaran nilai ( value consciousness ) yang dimiliki masyarakat. Dari penjabaran ini, maka diketahui bahwa kerja hukum sebagai alat pengaturan masyarakat adalah bersifat sistemis. Yakni kerja sinergis yang sempurna antara komponen- komponen yang dibutuhkan agar tujuan hukum dapat terlaksana dan mencapai sasarannya (memberikan keadilan bagi individu-individu dalam masyarakat) yang satu sama lain tidak dapat dipisah-pisahkan, yaitu: substansi hukum yang baik, struktur hukum yang kokoh (memiliki kekuatan dan berintegritas), serta kultur yang kondusif (kesesuaian ideologi hukum dengan budaya masyarakat yang

bersangkutan) untuk penegakan hukum tersebut. Pada akhirnya, bagaimana hukum itu dibuat dan untuk apa hukum itu ditujukan berpulang sepenuhnya pada kesadaran (kehendak) manusia yang bersangkutan itu sendiri. Hukum dapat bersifat membebaskan umat manusia dari ketertindasan, namun sebaliknya hukum juga dapat juga digunakan sebagai sarana penindasan. Karena hukum hanyalah berfungsi sebagai alat ( tool ), yaitu alat manusia untuk menciptakan keteraturan dengan pewujudan keadilan atas interaksi antar manusia tersebut, dan di atas dunia ini tidak ada satu alat pun yang tidak dapat disalah-gunakan, begitu pula dengan hukum. Kemudian masyarakat membentuk suatu system yang disebut dengan masyarakat hukum. Kemudian membentuk budaya hukum. Maksud disini yaitu untuk menunjuk tradisi hukum yang digunakan untuk mengatur kehidupan didalam suatu masyarakat. Dengan masyarakat yang sadar akan hukum,persamaan dan kesadaran akan tinggi guna menjunjung tinggi rasa keadilan dan menghargai orang lain. Kesatuan hukum yang membentuk masyarakat hukum itu dapat berupa individu, kelompok, organisasi atau badan hukum negara, serta kesatuan-kesatuan lainnya. Sedangkan alat yang dipergunakan untuk

13

mengatur hubungan antar kesatuan hukum tersebut itu disebut hukum, yaitu suatu kesatuan system hukum yang tersusun atas berbagai komponen serta diakui oleh suatu negara sebagai pengesahannya tersebut.

5. Hubungan Hukum Dengan Moral Antara hukum dan moral terdapat hubungan yang erat sekali. Ada pepatah roma yang mengatakan quid leges sine moribus? (apa artinya undang-undang jika tidak disertai moralitas?). Dengan demikian hukum tidak akan berarti tanpa disertai moralitas. Oleh karena itu kualitas hukum harus selalu diukur dengan norma moral, perundang-undangan yang immoral harus diganti. Disisi lain moral juga membutuhkan hukum, sebab moral tanpa hukum hanya angan-angan saja kalau tidak di undangkan atau di lembagakan dalam masyarakat. Meskipun hubungan hukum dan moral begitu erat, namun hukum dan moral tetap berbeda, sebab dalam kenyataannya mungkin ada hukum yang bertentangan dengan moral atau ada undang-undang yang immoral, yang berarti terdapat ketidakcocokan antara hukum dan moral. Untuk itu dalam konteks ketatanegaraan indonesia dewasa ini. Apalagi dalam konteks membutuhkan hukum.Kualitas hukum terletak pada bobot moral yang menjiwainya. Tanpa moralitas hukum tampak kosong dan hampa (Dahlan Thaib,h.6). Namun demikian perbedaan antara hukum dan moral sangat jelas. Perbedaan antara hukum dan moral menurut K.Berten : 1. Hukum lebih dikodifikasikan daripada moralitas, artinya dibukukan secara sistematis dalam kitab perundang-undangan. Oleh karena itu norma hukum lebih memiliki kepastian dan objektif dibanding dengan norma moral. Sedangkan norma moral lebih subjektif dan akibatnya lebih banyak diganggu oleh diskusi yang yang mencari kejelasan tentang yang harus dianggap etis dan tidak etis. 2. Meski moral dan hukum mengatur tingkah laku manusia, namun hukum membatasi diri sebatas lahiriah saja, sedangkan moral

14

menyangkut juga sikap batin seseorang. 3. Sanksi yang berkaitan dengan hukum berbeda dengan sanksi yang berkaitan dengan moralitas. Hukum untuk sebagian besar dapat dipaksakan,pelanggar akan terkena hukuman. Tapi norma etis tidak bisa dipaksakan, sebab paksaan hanya menyentuh bagian luar, sedangkan perbuatan etis justru berasal dari dalam. Satu-satunya sanksi dibidang moralitas hanya hati yang tidak tenang. 4. Hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara. Meskipun hukum tidak langsung berasal dari negara seperti hukum adat, namun hukum itu harus di akui oleh negara supaya berlaku sebagai hukum.moralitas berdasarkan atas norma-norma moral yang melebihi pada individu dan masyarakat. Dengan cara demokratis atau dengan cara lain masyarakat dapat mengubah hukum, tapi masyarakat tidak dapat mengubah atau membatalkan suatu norma moral. Moral menilai hukum dan tidak sebaliknya.

Sedangkan Gunawan Setiardja membedakan hukum dan moral : 1. Dilihat dari dasarnya, hukum memiliki dasar yuridis, konsesus dan hukum alam sedangkan moral berdasarkan hukum alam. 2. Dilihat dari otonominya hukum bersifat heteronom (datang dari luar diri manusia), sedangkan moral bersifat otonom (datang dari diri sendiri). 3. Dilihat dari pelaksanaanya hukum secara lahiriah dapat dipaksakan, 4. Dilihat dari sanksinya hukum bersifat yuridis. moral berbentuk sanksi kodrati, batiniah, menyesal, malu terhadap diri sendiri. 5. Dilihat dari tujuannya, hukum mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bernegara, sedangkan moral mengatur kehidupan manusia sebagai manusia.

15

BAB III PEMBAHASAN 6.1. KASUS Sebuah panti asuhan di daerah Gading Serpong, Tangerang, Banteng yang bernama Panti Asuhan Samuel menjadi sorotan media beberapa pekan belakangan ini. Pasalnya, panti asuhan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak tersebut ternyata menjadi salah satu tempat penganiayaan yang mengerikan bagi anak-anak. Dalam olah TKP yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya, didapatkan lima anak yang pernah menjadi korban. Ada yang dikurung di kandang anjing, dipukul gesper, dicemplungin di kamar mandi, diikat rantai hingga disetubuhi. Biasanya tindakan kekerasan tersebut dilakukan sebagai hukuman bagi anak-anak yang tidak mematuhi peraturan di panti asuhan. Samuel, sang pemilik panti asuhan yang sudah ditetapkan oleh Polda Metro Jaya sebagai tersangka dikenai dugaan pelanggaran Pasal 77 dan Pasal 80 Undang-undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Penelantaran dan Penganiayaan Anak.

6.2. PEMBAHASAN 1. Nilai, Moral dan Hukum Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia, panti asuhan adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak telantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak telantar, memberikan pelayanan pengganti fisik, mental, dan sosial pada anak asuh, sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional.

16

Fungsi-fungsi panti asuhan antara lain: 1. Fungsi perlindungan Fungsi panti asuhan disini adalah untuk menghindarkan anak dari keterlantaran, perlakuan kekejaman atau semena-mena dari orang tua atau Walinya. 2. Fungsi pendidikan Panti asuhan berfungsi untuk membimbing, mengembangkan kepribadian anak binaan secara wajar melalui berbagai keahlian tehnik dan penggunaan fasilitas-fasilitas sosial demi tercapainya pertumbuhan dan perkembangan fisik, rohani dan sosial anak binaan. 3. Fungsi pengembangan Untuk mengembangkan kemampuan atau potensi anak binaan sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan yang baik, sehingga kelak anak tersebut dapat menjadi anggota masyarakat yang hidup layak dan penuh tanggung jawab terhadap dirinya, keluarga maupun masyarakat. 4. Fungsi pencegahan Menghindarkan anak binaan dari pola tingkah laku sosial anak binaan yang bersifat buruk atau negatif. 5. Fungsi perawatan Merawat anak-anak binaan dengan kasih sayang sebagaimana orang tua. Pelayanan panti asuhan disini merupakan wujud dari fungsi lembaga kesejahteraan sosial dalam menangani masalah kesejahteraan anak, khususnya anak-anak yang tidak mampu ekonominya dan anak-anak yang terlantar. Dalam kasus ini, Panti Asuhan Samuel yang seharusnya melindungi dan merawat anak-anak asuhnya dengan kasih sayang sebagaimana orang tua justru menelantarkan dan berlaku kejam terhadap anak-anak asuhnya.

17

Ditinjau dari segi nilai, sesuatu itu dikatakan bernilai apabila sesuatu itu berharga bagi kehidupan manusia dan akan memberikan dampak yang positif bila terus dilakukan. Dan nilai itu selalu memiliki konotasi positif karena ia akan kita iyakan. Sedangkan sesuatu yang ingin kita jauhkan dan hindarkan disebut dengan non-nilai. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa perbuatan Bapak Samuel terhadap anakanak di pantinya bukan merupakan sebuah nilai karena tidak berharga dan memberikan dampak positif serta merupakan sesuatu yang ingin kita hindarkan atau jauhkan. Karena menurut Auguste Comte, bapak sosiologi, berpendapat bahwa dalam kehidupan sosial terdapat hubungan timbal balik antara lembaga dengan masyarakatnya yang disebut sebagai sosial statistic. Jika dilihat dari kasus yang ada, tidak adanya hubungan timbal balik dari panti asuhan padahal sudah banyaknya donatur-donatur yang ikut dalam pelaksanaan dengan anak-anak yang berada di panti asuhan

mengakibatkan bahwa kasus ini merupakan masalah sosial yang bertentangan dengan nilai moral karena telah melakukan kekerasan pada anak-anak dan menelantarkan anak-anak di jalanan serta dari segi hukum dapat dibawa ke rana pengadilan akibat tindakan yang menyimpang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai melupakan nilai-nilai yang tertanam dalam kehidupan. Panti asuhan yang dalam konsepnya, adalah lembaga yang berperan penting dalam melayani hak-hak anak, terutama pada anak-anak yatim, yatim piatu, anak terlantar dan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, justru melakukan hal-hal yang tidak baik terhadap anak-anak di panti tersebut. Dalam teorinya, panti asuhan dipandang mampu memberikan pengasuhan, panduan emosional, kepedulian, dukungan atas pendidikan, sekaligus dukungan atas perkembangan yang sehat, jika dijalankan dengan tepat walaupun dijalankan oleh bukan anggota keluarga. Tetapi dalam prakteknya, tidak semua panti asuhan dapat berperan sebagaimana teori yang telah dituliskan tersebut.

18

Ditinjau dari segi moral, panti asuhan dikenal selaku lembaga sosial yang mengasuh dan menyantuni anak yatim piatu dan sebagai tempat beramal sedekah. Tak banyak orang tahu atau peduli terhadap apa yang sebenarnya dilakukan di panti asuhan. Mereka menyangka panti asuhan hanya memberikan kebutuhan dasar hidup anak-anak asuhnya. Padahal, panti asuhan berperan sebagai tempat rehabilitasi sosial bagi anak-anak telantar akibat disfungsi sosial keluarga, dalam arti peran sosial orangtua/keluarga tidak berfungsi sehingga terhambatlah perkembangan anak, baik jasmani, rohani, maupun sosialnya secara wajar. Memang diakui, masih banyak panti yang belum memenuhi standar pengelolaan dan pelayanan yang ditetapkan Kemsos. Mereka kebanyakan belum mengetahui adanya standar pengelolaan dan pelayanan Panti asuhan. Selain itu, kemampuan sumber daya manusia dan sumber dana mereka juga terbatas sehingga mereka baru mampu memberikan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup anak-anak asuh, belum menjangkau penuntasan masalah sosialnya. Seperti yang terjadi pada Panti Asuhan Samuel yang

menelantarkan anak-anak asuhnya. Ditemukan sejumlah luka bekas pukulan, sabetan, bahkan gigitan orang dewasa ditubuh salah satu anak asuhnya. Parahnya, anak-anak itu juga terlihat kurus dan lusuh akibat tidak terurus. Hal ini mencerminkan telah terjadinya pergeseran moral. Panti asuhan yang kita kenal sebagai tempat mengasuh dan menyantuni anak yatim piatu namun disalahgunakan oleh pemiliknya. Seharusnya pemilik panti yang telah diamanahkan dapat menjalankan tugasnya sesuai tanggung jawab. Ditinjau dari segi hukum, kasus panti asuhan Samuel bukan hanya melanggar nilai dan norma, tetapi juga bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Mulai dari undang-undang Hak Asasi Manusia hingga undang-undang perlindungan anak. Sudah jelas pada pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

19

HAM didefinisikan sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Sedangkan yang dimaksud dengan pelanggaran HAM itu sendiri adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh UU HAM, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku (Pasal 1 angka 6 UU HAM). Sudah seharusnya chemy watulingas alias samuel dihukum sesuai hukum yang berlaku. Kasus penyekapan dan pelecehan seksual dapat berdampak buruk pada anak kedepannya. Sebagaimana disebut dalam Pasal 4 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang berbunyi Setiap anak

berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, sangat jelas kalau hak anak sangat dijamin dalam segi hukum seperti harkat dan martabatnya serta perlindungan dan diskriminasi. Sanksi nilai dan moral berlaku di kehidupan masyarakat, dan sanksi hukum berlaku sesuai peraturan dan undang-undang. Kabar terakhir menyebutkan aparat hukum menjerat samuel dengan pasal 77, 80, 81 UU perlindungan anak tentang penelantaran, penganiayaan, dan pelecehan seksual dengan ancaman 15 tahun penjara. Pemerintah juga perlu meningkatkan pengawasan dalam

pembentukan yayasan sosial terutama yayasan panti asuhan. Bukan hanya

20

pembentukannya saja melainkan evaluasi berjangka harus terus dilakukan dan ditingkatkan.

2. Makhluk Sosial Manusia itu pada hakikatnya saling membutuhkan antara satu dan lainnnya serta saling tolong-menolong antar sesama.Namun, pada kasus panti asuhan Samuel ini , anak-anak yang faktanya tidak lagi memiliki orang tua dan terlantar justru dieksploitasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut mengakibatkan mental dan psikis anak tersebut menjadi tidak baik dan dapat juga menimbulkan trauma mendalam. Dalam hal ini, para pelaku tersebut tidak lagi memiliki nilai sosial antarsesama. Manusia harus menyadari bahwa dalam hubungan sosialnya tersebut terdapat peraturan-peraturan tertentu, dan norma-norma sosial yang ia patuhi untuk dapat melanjutkan hubungan sosialnya tersebut. Pada kasus ini sudah dijumpai adanya ketimpangan kepentingan , dimana pemilik panti bertujuan untuk memperkaya diri sendiri dengan menyelewengkan uang para donatur dan mengesampingkan tanggung

jawab dalam kepengurusan anak-anak dipanti malah menyiksa anak-anak tersebut. Sehingga, hal ini sudah menimbulkan suatu kekacauan ( chaos ) dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial. Pada kasus ini juga dijumpai adanya interaksi sosial yang kurang antara pemilik dan penghuni panti dengan warga sekitar dan juga para pemberi donatur pada panti asuhan tersebut. Panti asuhan dikenal selaku lembaga sosial yang mengasuh dan menyantuni anak yatim piatu dan sebagai tempat beramal sedekah. Tak banyak orang tahu atau peduli terhadap apa yang sebenarnya dilakukan di panti asuhan. Mereka asuhan berperan sebagai tempat rehabilitasi sosial bagi anak-anak telantar akibat disfungsi sosial keluarga, dalam arti peran sosial orangtua/keluarga tidak berfungsi sehingga terhambatlah perkembangan anak, baik jasmani, rohani, maupun sosialnya secara wajar.

21

Ketidakpedulian inilah yang turut menyumbang kejadian ini. Seharusnya, para donatur dan tetangga panti asuhan tersebut turut andil juga dalam mengontrol perkembangan panti asuhan tersebut. Pada beberapa media cetak dikatakan bahwasanya beberapa donatur tersebut juga kerap merasa heran dengan kondisi anak-anak didalam panti, meski kerap mendapat sumbangan, anak-anak yang berada di panti tetap terlihat kurus, lusuh, dan tidak terurus. Bahkan, pihak donatur sering mendapati tubuh anak-anak dipenuhi luka memar, antara lain terdapat bekas pukulan, sabetan, bahkan bekas gigitan orang dewasa. Seharusnya, sebagai makhluk sosial para donatur tersebut mempertanyakan hal tersebut dan mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan anak-anak panti asuhan tersebut.Kemudian, untuk kondisi lingkungan panti asuhan tersebut juga tergolong dalam linkungan elite yang saling tertutup antar warga. Sehingga, apabila kasus ini dapat diungkap lebih awal. Namun, para

donatur dan warga sekitar juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya, karena hal ini diakibatkan oleh pengurus panti yang memang menutup-nutupi kasus tersebut, menutup interaksi penghuni dan juga dirinya dengan warga sekitar, dan juga membuat pagar panti menjadi lebih tinggi sehingga warga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam panti tersebut.

22

BAB IV PENUTUP

7.1. KESIMPULAN Manusia, nilai, moral dan hukum adalah suatu hal yang saling berkaitan dan saling menunjang. Sebagai warga negara kita perlu mempelajari, menghayati dan melaksanakan dengan ikhlas mengenai nilai, moral dan hukum agar terjadi keselarasan dan harmoni kehidupan.

7.2. SARAN Penegakan hukum harus memperhatikan keselarasan antara keadilan dan kepastian hukum. Karena, tujuan hukum antara lain adalah untuk menjamin terciptanya keadilan (justice), kepastian hukum (certainty of law), dan kesebandingan hukum (equality before the law). Penegakan hukum-pun harus dilakukan dalam proporsi yang baik dengan penegakan hak asasi manusia. Dalam arti, jangan lagi ada penegakan hukum yang bersifat diskriminatif, menyuguhkan kekerasan dan tidak sensitif jender. Penegakan hukum jangan dipertentangkan dengan penegakan HAM. Karena, sesungguhnya keduanya dapat berjalan seiring ketika para penegak hukum memahami betul hak-hak warga negara dalam konteks hubungan antara negara hukum dengan masyarakat sipil.

23

DAFTAR PUSTAKA 1. Djahir, Yulia dkk. Buku Ajar Ilmu Sosial Budaya Dasar. Palembang. MPK Unsri. 2010 2. Herimanto,Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.Jakarta:Bumi Aksara.2008 3. Kurniawan, Joeni Arianto. Manusia dan Hukum. (

http://joeniarianto.files.wordpress.com/2008/07/manusia-dan-hukum1.pdf diakses tanggal 20 maret 2013 ) 4. Setiadi,Elly.Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.Jakarta:Putra Grafika.2007

5. Sumaatmadja,Nursid,dkk(2007).Konsep Dasar IPS. Jakarta : Penebit Universitas Terbuka.

24