Anda di halaman 1dari 33

TELAAH KRITIS ARTIKEL REVIEW

FOTO POLOS TORAKS POSTEROANTERIOR SEBAGAI DIAGNOSIS PNEUMOTORAKS : METODE, PENGGUNAAN, DAN RESOLUSI
Nyoman Siska Ananda I Gusti Ayu Putri Purwanthi Ni Putu Ruspata Bhyantari Intan Astariani Putri Ayu Madedi Budiawan Joice Sari Tampubolon 1002005183 0902005171 1002005126 1002005143 1002005145 1002005163

Pembimbing : dr. Putu Patriawan, Sp.Rad, M.Sc Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

JUDUL : Posteroanterior chest X-ray for the diagnosis of pneumothorax: methods, usage, and resolution
Judul merupakan komponen pertama yang dibaca sehingga harus cukup menarik minat Panjang judul jurnal ini dinilai sudah cukup singkat yaitu terdiri dari 12 kata dan cukup mewakili isi utama dari jurnal. Judul cukup menarik dan tidak mengandung singkatan yang tidak baku.

PENULIS DAN INSTITUSI : Denise Rossato Silva Sandra Jungblut Schuh Paulo de Tarso Roth Dalcin Universidade Federal do Rio Grande do Sul, Porto Alegre-RS, Brazil

Nama pengarang dan institusi tempat peneliti melakukan penelitian seringkali dipakai sebagai jaminan kualitas isi laporan penelitian. Jurnal ini memuat tentang science and medicine dan pertama kali diterbitkan pada tahun 2003 oleh Dove Medical Press Ltd.

Pada jurnal bagian atau spesialisasi penulis belum dijelaskan secara spesifik dan hanya menyertakan institusi besar yang melatarbelakangi yaitu Universidade Federal do Rio Grande do Sul, Porto Alegre-RS, Brazil. Sebagai tambahan sebaiknya pada jurnal juga diberi keterangan kapabilitas masing-masing penulis (apakah penulis merupakan research student, professor, lecturer, dan lain-lain). Jadi tidak dapat dilihat apakah institusi yang melatarbelakangi penulis sudah relevan dengan topik yang diangkat.

ABSTRAK : Sebagian besar kasus pneumotoraks ditunjukkan oleh foto polos toraks posisi posteroanterior (PA) dengan inspirasi penuh. Film yang diambil saat ekspirasi memiliki peran dalam pengelolaan klinis pasien dengan cadangan pernapasan kecil seperti pada pasien yang dicurigai pneumotoraks, yang tidak terlihat pada film yang diambil saat inspirasi. Foto polos toraks PA dapat digunakan untuk diagnosis pneumotoraks spontan ataupun tidak. Ketika radiografi digital digunakan, untuk sebagian besar penulis, resolusi spasial 2.5-lp/mm memberikan hasil yang memuaskan dalam mendeteksi pneumotoraks. Kata kunci : radiografi , computed tomography , pneumotoraks , Xray dada posteroanterior.

Abstrak pada jurnal merupakan suatu bentuk ringkas dari keseluruhan isi jurnal itu sendiri Panjang abstrak jurnal ini dinilai cukup yaitu < 250 kata namun kurang informatif karena tidak memaparkan tujuan dan latar belakang diangkatnya topik tersebut serta kesimpulan yang didapatkan dari penulisan artikel kurang dijabarkan secara lengkap. Hal lain yang dapat dilihat adalah tidak ditemukannya singkatan yang tidak baku ataupun singkatan yang tidak diberi keterangan. Pada akhir paragraf juga sudah dicantumkan kata kunci yang terdiri dari 4-8 kata.

VIA (VALIDITY, IMPORTANCE AND APPLICABLE)

Proyeksi yang digunakan : 1.PA : sinar x masuk melalui posterior menuju anterior dada dengan film di depan dada 2.AP : Sinar-x masuk melalui anterior menuju posterior dada dengan film di belakang dada. Digunakan pada pasien yang tidak dapat bangun dari tempat tidur. 3.Lateral : Pasien berdiri dengan mengangkat tangan dan sisi lateral dada ditekankan pada bidang datar 4.Lateral Dekubitus : untuk pasien yang tidak dapat menjalani radiografi dengan posisi tegak denga sisi yang sehat di bawah

PA yang paling sering digunakan

Keraguan diagnostik adanya pneumotoraks dapat dilakukan dengan : 1. Foto polos thorax ekspirasi : volume udara dalam rongga pleura relatif lebih besar dan membuat permukaan viseral terlihat lebih jelas 2. Foto lateral dekubitus : udara bebas dengan volume kecil terdemonstrasikan secara paralel pada dinding dada

Ahli radiologi menemukan pneumotoraks lebih sering pada foto toraks tegak daripada dekubitus saat ekspirasi

Beberapa penelitian menyatakan : Foto polos toraks saat ekspirasi lebih sensitif daripada saat inspirasi Meningkatkan biaya dan dosis radiasi dan mungkin tidak menjamin informasi yang lebih dari foto toraks inspirasi Kurang dari 4% pneumotoraks tidak terlihat pada foto inspirasi Penggunaan foto toraks ekspirasi saja menghambat interpretasi dada karena menimbulkan opasitas yang false positive

Ukuran pneumotoraks adalah penentu penting pengobatan :

Ukuran Besar Kecil

British Thoracic Society > 2 cm < 2 cm

The American Colaage of Chest Physicians Jarak apex kupola 3 cm Jarak apex kupola 3 cm

Gold standard pengukuran pneumotoraks adalah menggunakan CT-derived Collins method tetapi lebih umum digunakan metode Rhea

Foto konvensional foto digital Keuntungannya : dosis radiasi lebih rendah, pada proses pengolahan, pemindahan dan penyimpanan foto Gold standar pneumotoraks yaitu CT scan Namun, CT scan umumnya tidak diperlukan kecuali pada kelainan yang ditemukan pada foto polos toraks yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut indikasi yang utama untuk dikerjakan CT scan adalah untuk membadakan bulla emfisematosa dengan pneumotoraks yang sulit dideteksi dengan radiografi standar. CT scan memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan foto polos toraks dalam mendiagnosis pneumotoraks berukuran kecil pada pasien dengan trauma. CT scan juga dapat digunakan untuk drainase loculated pneumothorax

TANDA RADIOGRAFI PADA PNEUMOTORAKS

Gambaran radiografi pneumotoraks tergantung pada :


proyeksi radiografi posisi pasien ada tidaknya adhesi pleura dan lokulasi subsequent

Sebuah garis tipis yang terbentuk karena pleura visceral terlihat terpisah dari lateral dinding dada (panah). Perhatikan bahwa tidak ada pembuluh paru yang terlihat di luar garis ini dan garisnya melengkung.

hemithorax kanan sangat gelap atau lusen

paru-paru kanan hampir kolaps

Posisi pasien supinasi Bagian tertinggi dari rongga dada anterior atau anteromedial terletak pada dasar dekat diafragma udara bebas pleura meningkat

Pneumotoraks berukuran kecil atau sedang: Di lateral atau apex paru-paru dan dinding dada tidak terpisah pneumotoraks tidak bermakna

Tension pneumotoraks yang luas: pergeseran mediastinum secara kontralateral pergeseran inferior diafragma hyperlucent hemithorax kolaps paru ipsilateral

Tanda pneumotoraks pada pasien supinasi :


peningkatan radiolusent hemitoraks peningkatan ketajaman dan kedalaman batas mediastinal dan diafragma yang berdekatan sulcus costophrenic dalam, kadang terlihat seperti lidah peningkatan ketajaman batas jantung gambaran kolaps paru penekanan hemidiafragma ipsilateral

PENGGUNAAN

FOTO TORAKS PA
PNEUMOTORAKS SPONTAN PNEUMOTORAKS TIDAK SPONTAN

Primary Spontaneous Pneumothorax (PSP) Secondary Spontaneous Pneumothorax (SSP)

Kasus trauma iatrogenik Non-iatrogenik

CT-SCAN
CT-scan dada tidak digunakan secara rutin pada PSP

Radiografi dada tegak lurus (sensitivitas 92%) lebih baik dari posisi supinasi (sensitivitas 50%) dalam mendeteksi pneumotoraks Pada pasien dengan trauma tusuk (tumpul dan tajam) CT-scan adalah pilihan terbaik untuk mendiagnosis pneumotoraks pada pasien trauma posisi terlentang

TRANSTHORACIC SONOGRAPHY (TS)


Transthoracic Sonography (TS) alat diagnostik dalam pneumotoraks dan hidropneumotoraks TS yang dibantu dengan biopsi paru sama efektifnya dengan foto polos toraks PA dalam mendeteksi pneumotoraks TS tidak dianggap handal dalam memprediksi ukuran pneumotoraks dibanding foto polos PA Dalam kejadian pneumotoraks karena trauma, TS lebih sensitif dibandingkan foto polos toraks terlentang dan memiliki sensitivitas yang sama dengan CT-scan

POSTPROCEDURAL CHEST RADIOGRAPHS


POSTPROCEDURAL CHEST RADIOGRAPHS AFTER CVC INSERTION

Komplikasi pemasangan CVC lebih dari 15% (1.3%_1.6% pneumotoraks) Postprocedural chest radiographs setelah pemasangan CVC untuk mengkoreksi pemasangan CVC dan mendeteksi adanya komplikasi Namun beberapa penelitian menyatakan bahwa postprocedural chest radiographs tidak diperlukan kecuali ada indikasi klinis.

POSTPROCEDURAL CHEST RADIOGRAPHS AFTER FLEXIBLE BRONCHOSCOPY (FB) WITH TRANSBRONCHIAL BIOPSY (TBB) Pneumotoraks yang terjadi setelah FB dengan TBB 1%-6% Foto polos toraks postbronchoscopic dinyatakan jarang memberikan informasi klinis yang berguna atau mendeteksi komplikasi yang tidak terlihat secara klinis. Penelitian terbaru menyimpulkan bahwa foto polos toraks rutin dilaksanakan setelah FB dengan TBB pada pasien dengan gejala pneumotoraks

RESOLUSI

Pneumotoraks sulit diketahui menggunakan radiografi digital dengan resolusi rendah 1,25 lp/mm tetapi lebih baik jika menggunakan resolusi spasial 2.5 lp/mm.

Studi Receiver Operating Characteristic (ROC) menyarankan mode 2 K (standar) sudah cukup untuk mendeteksi kelainan pada foto polos toraks dibandingkan dengan mode 4 K (kualitas tinggi).

Deteksi pneumotoraks secara signifikan (p<0,05) dipengaruhi oleh level resolusi terendah (400 m). Monitor active matrix Liquid Cristal Display (LCD) memiliki resolusi spasial yang sangat baik, keseragaman tinggi, relatif tidak ada penurunan kualitas monitor dari waktu ke waktu, penghapusan cahaya-cahaya yang mengganggu, distorsi perifer pada gambar sedikit, dan pengurangan refleksi terkait dengan pencahayaan ruangan.

Interpretasi gambar dengan menggunakan monitor cathoderay tube ( CRT ) resolusi tinggi memiliki akurasi yang sama dengan interpretasi hard copy. Kinerja observer pada Foto Polos Toraks dengan LCD dan monitor CRT beresolusi 5 megapixel menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam mendeteksi pneumotoraks.

KESIMPULAN

Pneumothoraks merupakan penyakit paru yang memerlukan diagnosis dini yang akurat.
Foto yang paling sering digunakan adalah proyeksi PA, jika ada keraguan diagnosis menggunakan PA ekspirasi atau foto lateral dekubitus.
CT-scan merupakan gold standar, namun dipakai apabila pneumothoraks tidak terdeteksi pada foto polos.

Salah satu tanda pneumothoraks pada foto polos thoraks adalah adanya area radiolusen hemitoraks Foto polos thoraks berguna untuk mendiagnosis pneumothoraks sontan dan tidak spontan. Resolusi spasial 2.5-lp/mm memberikan hasil yang memuaskan dalam mendeteksi pneumotoraks.

TERIMA KASIH