Anda di halaman 1dari 27

BAB III DASAR TEORI

BAB III DASAR TEORI


Di dalam proses pemotongan logam, berdasarkan proses pemesinan, gerakan relatif cutting tools terhadap benda kerja . kita dapat mengklasifikasikan cutting tools sebagai berikut (lihatgambar 3.1) : Drill (Gurdi) Turning (Bubut) Milling (Freis) Surface Grinding (Gerinda rata) Cylindricsl Grinding (Gerinda Silindrik) Planner (Sekrap) Broaching (Parut) dan Sawing (Gergaji)

Tabel 3.1 Klasifikasi Cutting Tool.

LAPORAN KERJA PRAKTEK

16

BAB III DASAR TEORI

3.1

Pengenalan Computerized Numerical Control Awal lahirnya mesin CNC (Computer Numerically Controlled) bermula dari 1952 yang dikembangkan oleh John Pearseon dari Institut Teknologi Massachusetts, atas nama Angkatan Udara Amerika Serikat. Semula proyek tersebut diperuntukkan untuk membuat benda kerja khusus yang

rumit.Semula perangkat mesin CNC memerlukan biaya yang tinggi dan volume unit pengendali yang besar. Pada tahun 1973, mesin CNC masih sangat mahal sehingga masih sedikit perusahaan yang mempunyai keberanian dalam mempelopori investasi dalam teknologi ini. Dari tahun 1975, produksi mesin CNC mulai berkembang pesat .Perkembangan ini dipacu oleh perkembangan mikroprosesor, sehingga volume unit pengendali dapat lebih ringkas. Dewasa ini penggunaan mesin CNC hampir terdapat di segala bidang. Dari bidang pendidikan dan riset yang mempergunakan alat-alat demikian dihasilkan berbagai hasil penelitian yang bermanfaat yang tidak terasa sudah banyak digunakan dalam kehidupan sehari hari masyarakat banyak. Sejalan dengan berkembangnya kebutuhan akan berbagai produk industri yang beragam dengan tingkat kesulitan yang bervariasi, maka telah dikembangkan berbagai variasi dari mesin CNC. Hal ini dimaksud untuk memenuhi kebutuhan jenis pekerjaan dengan tingkat kesulitan yang tinggi. PC untuk Mesin CNC, PC (Personal Computer) sebagai perangkat input bagi mesin CNC sangat penting peranannya untuk memperoleh kinerja mesin CNC. Oleh karena itu setiap pabrik yang memproduksi mesin CNC juga memproduksi atau merekomendasi spesifikasi PC yang digunakan sebagai input bagi mesin CNC produksinya. Pada mesin CNC untuk keperluan unit latih (Training Unit) atau dengan operasi sederhana, baik tampilan pada monitor maupun eksekusi program, maka PC yang dipergunakan

sebagaimana pada mesin CNC jenis LOLA 200 MINI CNC, LEMU IITM, EMCO TU, maupun yang sejenis.

LAPORAN KERJA PRAKTEK

17

BAB III DASAR TEORI

Perkembangan jenis pekerjaan yang menggunakan peranan mesin CNC sejalan dengan kebutuhan teknologi manufaktur semakin meningkat. Oleh karena itu dikembangkan pula perangkat PC yang dapat melayani mesin CNC dengan kinerja yang mampu mengatasi beberapa faktor kesulitan yang di jumpai pada proses manufaktur. Mesin CNC Generasi Terbaru, Operator mesin CNC yang akan memasukkan program pada mesin sebelumnya harus sudah memahami gambar kerja dari komponen yang akan dibuat pada mesin tersebut. Gambar kerja biasanya dibuat dengan cara manual atau dengan computer menggunakan program CAD (Computer Aided Design). Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang computer, maka telah dikembangkan suatu software yang berisi aplikasi gambar teknik dengan CAD yang sudah dapat diminta untuk menampilkan program untuk dikerjakan dengan mesin CNC. Aplikasi program tersebut dikenal dengan sebutan CAM (Computer Aided Manufacture). Software CAM pada

umumnya dibuat oleh pabrik yang membuat mesin CNC dengan tujuan untuk mengoptimalkan kinerja mesin CNC yang diproduksinya. Dengan

menggunakan software CAM, seorang operator cukup membuat gambar kerja dari benda yang akan dibuat dengan mesin CNC pada PC. Hasil gambar kerja dapat dieksekusi secara simulasi untuk melihat pelaksanaan pengerjaan benda kerja di mesin CNC melalui layer monitor. Apabila terdapat kekurangan atau kekeliruan, maka dapat diperbaiki. Di industri menengah dan besar, akan banyak dijumpai penggunaan mesin CNC dalam mendukung proses produksi. Secara garis besar, mesin CNC dibagi dalam 2 (dua) macam, yaitu :Mesin bubut CNC dan Mesin frais CNC.

3.2

Cara Mengoperasikan Mesin CNC Secara umum, cara mengoperasikan mesin CNC dengan cara memasukkan perintah numeric melalaui tombol-tombol yang tersedia pada panel instrument di tiap-tiap mesin. Setiap jenis mesin CNC mempunyai karakteristik tersendiri

LAPORAN KERJA PRAKTEK

18

BAB III DASAR TEORI

sesuai dengan pabrik yang membuat mesin tersebut. Namun demikian secara garis besar dari karakteristik cara mengoperasikan mesin CNC dapat dilakukan dengan dua macam cara, yaitu :

1. Sistem Absolut Pada sistem ini titik awal penempatan alat potong yang digunakan sebagai acuan adalah menetapkan titik referensi yang berlaku tetap selama proses operasi mesin berlangsung. Untuk mesin bubut, titik referensinya diletakkan pada sumbu (pusat) benda kerja yang akan dikerjakan pada bagian ujung. Sedangkan pada mesin frais, titik referensinya diletakkan pada pertemuan antara dua sisi pada benda kerja yang akan dikerjakan.

2. Sistem Incremental Pada system ini titik awal penempatan yang digunakan sebagai acuan adalah selalu berpindah sesuai dengan titik actual yang dinyatakan terakhir. Untuk mesin bubut maupun mesin frais diberlakukan cara yang sama. Setiap kali suatu gerakan pada proses pengerjaan benda kerja berakhir, maka titik akhir dari gerakan alat potong itu dianggap sebagai titik awal gerakan alat potong pada tahap berikutnya.

3.3

CNC Machining Shop Untuk menentukan performance sebuah mesin dalam proses manufaktur tidak hanya ditentukan dari kapasitas atau kemampuan mesin saja, masih banyak faktor yang akan mempengaruhi selama proses manufaktur berlangsung. Faktor factor tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

1) Operator Kriteria operator yang ideal untuk mengoperasikan mesin dengan kelengkapan CNC adalah sebagai berikut:

LAPORAN KERJA PRAKTEK

19

BAB III DASAR TEORI

Knowledge: Operator dalam pengoperasian dalam pengoperasian mesin CNC tidak perlu mempunyai kemampuan knowledge yang tinggi, tetapi yang dibutuhkan adalah kemampuan dalam memahami pengoperasian mesin CNC .

Know How: Disini Operator diharapkan mempunyai kemampuan untuk menganalisa atau menjawab pertanyaan jika terjadi kesalahan atau error, harus bisa mengenali hasil pekerjaan mengalami perbedaan dengan rancangan dan seorang operator juga harus dapat menemukan yang menjadi akar permasalahan

Skill: pada tahap ini seorang operator diharapkan sudah paham dan mengerti dengan mesin yang akan ditugaskan kepadanya. Jadi pada PT.PINDAD biasanya yang dipilih sebagai Operator adalah lulusan SMA bukan SMK. Dan tahap-tahap diatas diberikan pada saat training.

2) Mesin Menurut bentuknya mesin CNC dibedakan menjadi dua jenis ,yaitu mesin plano dan mesin gantri. Yang menjadi perbedaan pada kedua mesin CNC tersebut adalah bagian yang gerak dan bagian yang diam. Pada mesin jenis Plano yang bergerak meja kerjanya sedangkan pahatnya tetap pada tempatnya. Sebaliknya pada mesin Gantri yang bergerak adalah pahatnya sedangkan meja kerjanya diam. Menurut arah makannya ,terdapat mesin vertikal dan mesin horisontal. Pada mesin vertikal, cutter memotong dari bagian atas material. Sedangkan pada mesin horisontal , cutter memotong dari samping. Kelebihan mesin jenis vertical dibanding horizontal adalah pada set up benda kerja yang jauh lebih mudah karena material hanya ditaruh di atas meja kerja. Menurut jumlah axisnya ,ada mesin 3 axis, 3.5 axis, 4 axis, dan 5 axis. Untuk mesin 3 axis sumbu yang digunakan adalah sumbu X Y Z. Menurut model makannya, terdapat mesin heavy cutting dan light cutting.
20

LAPORAN KERJA PRAKTEK

BAB III DASAR TEORI

Pada dasarnya proses pemesinan pada mesin CNC ini hampir sama dengan mesin bubut konvensional akan tetapi yang membedakan pada sistem pengontrolannya saja. Sekilas tentang mesin bubut konvensional sebagai berikut:

3.4

Proses Bubut.

Gambar 3.2 Mesin Bubut

Proses bubut adalah proses pemesinan untuk menghasilkan bagianbagian mesin berbentuk silindris yang dikerjakan dengan menggunakan Mesin Bubut. Prinsip dasarnya dapat didefinisikan sebagai proses pemesinan permukaan luar benda silindris atau bubut rata : Dengan benda kerja yang berputar Dengan satu pahat bermata potong tunggal (with a single-point cutting tool)

Dengan gerakan pahat sejajar terhadap sumbu benda kerja pada jarak tertentu sehingga akan membuang permukaan luar benda kerja (lihat Gambar 3.3 no.1). Proses bubut permukaan (surface turning, Gambar 3.3 no.2) adalah proses bubut yang identik dengan proses bubut rata, tetapi arah gerakan pemakanan tegak lurus terhadap sumbu benda kerja. Proses bubut tirus (taper
21

LAPORAN KERJA PRAKTEK

BAB III DASAR TEORI

turning, Gambar 3.3 no.3) sebenarnya identik dengan proses bubut rata di atas, hanya jalannya pahat membentuk sudut tertentu terhadap sumbu benda kerja. Demikian juga proses bubut kontur, dilakukan dengan cara memvariasi kedalaman potong, sehingga menghasilkan bentuk yang diinginkan. Walaupun proses bubut secara khusus menggunakan pahat bermata potong tunggal, tetapi proses bubut bermata potong jamak tetap termasuk proses bubut juga, karena pada dasarnya setiap pahat bekerja sendiri-sendiri. Selain itu proses pengaturan (setting) pahatnya tetap dilakukan satu persatu.

Gambar 3.3 Gerak Pahat Pada Proses Bubut

3.4.1 Parameter yang Dapat Diatur Pada Mesin Bubut. Tiga parameter utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar spindel (speed), gerak makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut). Faktor yang lain seperti bahan benda kerja dan jenis pahat sebenarnya juga memiliki pengaruh yang cukup besar, tetapi tiga parameter di atas adalah bagian yang bisa diatur oleh operator langsung pada mesin bubut. Kecepatan putaran (speed), selalu dihubungkan dengan spindel (sumbu utama) dan benda kerja. Karena kecepatan putar diekspresikan sebagai putaran per menit (revolutions per minute, rpm), hal ini menggambarkan kecepatan putarannya. Akan tetapi yang diutamakan dalam proses bubut

adalah kecepatan potong (Cutting speed atau v) atau kecepatan benda kerja dilalui oleh pahat/ keliling benda kerja (lihat

LAPORAN KERJA PRAKTEK

22

BAB III DASAR TEORI

Gambar 3.4).Secara sederhana kecepatan potong dapat digambarkan sebagai keliling benda kerja dikalikan dengan kecepatan putar.

Gambar 3.4 Skematis Menghitung Kecepatan Potong

Dimana : Vc D n L = kecepatan potong: m/menit = diameter benda kerja: mm = putaran benda kerja: 1 putaran/menit = Panjang pembubutan: mm

Dengan demikian kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja. Selain kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja faktor bahan benda kerja dan bahan pahat sangat menentukan harga kecepatan potong. Pada dasarnya pada waktu proses bubut kecepatan potong ditentukan berdasarkan bahan benda kerja dan pahat. Harga kecepatan potong sudah tertentu, misalnya untuk benda kerja Mild Steel dengan pahat dari HSS, kecepatan potongnya antara 20 sampai 30 m/menit. Gerak makan, f (feed), adalah jarak yang ditempuh oleh pahat setiap benda kerja berputar satu kali (Gambar 3.5), sehingga satuan f adalah mm/putaran. Gerak makan ditentukan berdasarkan kekuatan mesin, material

LAPORAN KERJA PRAKTEK

23

BAB III DASAR TEORI

benda kerja, material pahat, bentuk pahat, dan terutama kehalusan permukaan yang diinginkan. Gerak makan biasanya ditentukan dalam hubungannya dengan kedalaman potong. Gerak makan tersebut berharga sekitar 1/3 sampai 1/20 a, atau sesuai dengan kehaluasan permukaan yang dikehendaki

Gambar 3.5 Skematis Gerak Makan (f) dan Kedalaman Potong (a)

Kedalaman potongan (depth of cut), adalah tebal bagian benda kerja yang dibuang dari benda kerja, atau jarak antara permukaan yang dipotong terhadap permukaan yang belum terpotong (lihat Gambar 3.5). Ketika pahat memotong sedalam a , maka diameter benda kerja akan berkurang 2a, karena bagian permukaan benda kerja yang dipotong ada di dua sisi, akibat dari benda kerja yang berputar. Apabila pada gambar kerja mencantumkan harga kehalusan

permukaan dengan sistem pengukuran yang lain, maka pada Tabel 3.1 disajikan harga konversinya. Tabel tersebut sangat berguna untuk menentukan harga kehalusan permukaan yang biasanya tercantum di gambar kerja sebagai harga kehalusan produk pemesinan yang harus dicapai.

LAPORAN KERJA PRAKTEK

24

BAB III DASAR TEORI

Tabel 3.2 Konversi harga kekasaran permukaan

Pada Mesin Bubut dapat juga dilakukan proses pemesinan yang lain, yaitu bubut dalam (internal turning), proses pembuatan lubang dengan mata bor (drilling), proses memperbesar lubang (boring), pembuatan ulir (thread cutting), dan pembuatan alur (grooving/parting-off). Proses tersebut dilakukan di Mesin Bubut dengan bantuan/tambahan peralatan lain agar proses pemesinan bisa dilakukan (lihat Gambar 3.6).

Gambar 3.6 Proses pemesinan Pada Mesin Bubut

LAPORAN KERJA PRAKTEK

25

BAB III DASAR TEORI

3.4.2

Penggolongan Mesin Bubut. Pembubut Kecepatan (Pengerjaan Kayu dan Pemolesan ) Pembubut Mesin Pembubut Ruang Perkakas Pembubut Turet (Horizontal dan Vertikal) Pembubut Otomatis Mesin Ulir Otomatis

3.4.3 Pahat Mesin Bubut. Pahat bubut adalah pisau penyayat yang digunakan untuk menyayat benda kerja yang dibubut. Untuk pengerjaan benda kerja yang keras, digunakan pahat yang keras, yaitu : Widia. Untuk pemotongan yang baik, sudut harus sesuai antara alat potong dengan bahan yang akan dipotong. Syarat pemotongan adalah tahan panas, tahan aus, tahan gesekan dan kuat/kenyal. Pahat bubut dapat diklasifikasikan sebagai berkut :

Gambar 3.7 Jenis - jenis Pahat bubut

LAPORAN KERJA PRAKTEK

26

BAB III DASAR TEORI

3.5

Proses Freis. Mesin freis ini pada prinsipnya tool atau pahat yang berputar mengurangi dimensi benda kerja. Putaran ini diperoleh dari putaran arbor yang di putar dari sumbu utama mesin dengan didukung adanya alat penyokong arbor (tool holder). Spindel mesin freis dapat berputar ke kanan dan kiri sesuai dengan keperluan penyayatan dalam mengefreis. Pisau yang dipakai bentuknya tidak dapat dirubah menurut keinginan, tergolong pada multi point tool yang terdapat pada bermacam-macam pisau freis. Mesin ini juga dapat untuk menghaluskan permukaan, membuat alur, roda gigi, dan bentuk lain yang diinginkan sesuai kemampuan mesin. Bagian dari mesin frais adalah pencekam pahat yang berputar, meja yang dapat digerakkan maju mundur dan kanan kiri, dan motor penggerak pahat.

Gambar 3.8 Mesin Freis

Proses yang dapat dilakukan menggunakan mesin frais adalah sebagai berikut : Pengerjaan bidang datar/ mendatar. Pekerjaan menghaluskan permukaan.

LAPORAN KERJA PRAKTEK

27

BAB III DASAR TEORI

Pengerjaan macam-macam roda gigi. Pengerjaan pembuatan alur. Pengerjaan profil-profil. Pengerjaan gurdi. Mesin frais mempunyai beberapa jenis pisau pahat, antara lain sebagai berikut:

Gambar 3.9 Jenis - jenis Pisau Freis

3.5.1

Jenis Mesin Freis Mesin frais mempunyai beberapa jenis, diantaranya adalah sebagai berikut : Mesin Freis Horisontal Mesin freis horisontal ini, mirip dengan tangan kecuali bahwa konstruksinya lebih kuat dan dilengkapi dengan mekanisme hantaran daya untuk mengendalikan gerakan meja. Mesin freis horizontal terdiri dari tiang dan lutut yang mempunyai tiga gerakan utama, yaitu longitudinal, melintang, dan vertikal. Mesin jenis landasan tetap hanya mempunyai gerakan meja longitudinal, teapi mempunyai perlengkapan untuk penyetelan melintang dan vertikal pada spindel yang memegang arbor freis.
28

LAPORAN KERJA PRAKTEK

BAB III DASAR TEORI

Mesin Freis Vertikal Satu mesin freis vertikal tertentu, disebut demikian karena kedudukan yang vertikal dari spindel pemotong. Gerakan mejanya sama dengan mesin datar. Biasanya tidak ada gerakan yang diberikan kepada pemotong kecuali gerakan berputar biasa, tetapi kepala spindelnya dapat berputar, yang memungkinkan penyetelan spindel dalam bentuk vertikal pada setiap sudut dari vertikal sampai horizontal. Mesin ini mempunyai perjalanan dari spindel aksial yang pendek untuk memudahkan pemfraisan tingkat. Beberapa mesin freis vertikal dilengkapi dengan alat putar tambahan atau meja putar untuk memungkinkan memfreis alur melingkar atau memfrais kontinyu, suku cadang produksi yang kecil. Pemotongannya adalah semua jenis freis ujung. Penggunaan masih mencakup penggurdian, pengeboran,

peluasan lubang, penjarakan tempat dari lubang karena penyetelan mikrometer dari meja pemotongan tepi dan pencerukan. Mesin Freis Universal Mesin freis universal adalah sebuah mesin perkakas yang didesain untuk pekerjaan yang sangat teliti. Bentuknya mirip dengan mesin freis datar. Perbedaannya adalah meja kerjanya dilengkapi dengan gerakan keempat.

LAPORAN KERJA PRAKTEK

29

BAB III DASAR TEORI

3.5.2 Peralatan Pemegang Pisau Freis.

Gambar 3.10 Skematik Arbor Mesin Freis Horisontal.

Proses penyayatan menggunakan mesin freis memerlukan alat bantu untuk memegang pahat dan benda kerja. Pahat harus dicekam cukup kuat sehingga proses penyayatan menjadi efektif, dalam hal ini pahat tidak mengalami selip pada pemegangnya. Pada mesin freis konvensional horisontal pemegang pahat adalah arbor dan poros arbor). Gambar skematik arbor yang digunakan pada mesin freis horisontal dapat dilihat pada (Gambar 3.10). Arbor ini pada porosnya diberi alur untuk menempatkan pasak sesuai dengan ukuran alur pasak pada pahat freis. Pasak yang dipasang mencegah terjadinya selip ketika pahat menahan gaya potong yang reltif besar dan tidak kontinyu ketika gigi-gigi pahat melakukan penyayatan benda kerja. Pemegang pahat untuk mesin freis vertikal yaitu kolet/ collet (Gambar 3.11). Kolet ini berfungsi mencekam bagian pemegang (shank) pahat. Bentuk kolet adalah silinder lurus di bagian dalam dan tirus di bagian luarnya. Pada sisi kolet dibuat alur tipis beberapa buah, sehingga ketika kolet dimasuki pahat bisa dengan mudah memegang pahat. Sesudah pahat dimasukkan ke kolet kemudian kolet tersebut dimasukkan ke dalam pemegang pahat (tool holder). Karena bentuk luar kolet tirus maka pemegang pahat akan menekan kolet dan
30

LAPORAN KERJA PRAKTEK

BAB III DASAR TEORI

benda kerja dengan sangat kencang, sehingga tidak akan terjadi selip ketika pahat menerima gaya potong.

Gambar 3.11 Jenis- jenis Collet.

Pemegang pahat (tool holder) standar bisa digunakan untuk memegang pahat freis ujung (end mill). Beberapa proses freis juga memerlukan sebuah cekam (chuck) untuk memegang pahat freis. Pemegang pahat ini ada dua jenis yaitu dengan ujung tirus Morse (Morse Taper) dan lurus. Pemegang pahat yang lain adalah kepala bor kepala bor ini jarak antara ujung pahat terhadap sumbu bisa diubah-ubah, sehingga dinamakan offset boring heads. Pemegang pahat ini biasanya digunakan untuk proses bor (boring), perataan permukaan (facing), dan pembuatan champer (chamfering).

Gambar 3.12 Jenis jenis Tool Holder

LAPORAN KERJA PRAKTEK

31

BAB III DASAR TEORI

3.5.3 Alat Pencekam dan Pemegang Benda Kerja Mesin Freis Benda kerja yang dikerjakan di mesin freis tidak hanya benda kerja yang bentuknya teratur. Benda kerja yang berbentuk plat lebar, piringan dengan diameter besar dan tipis, dan benda hasil tuangan sulit dicekam dengan ragum. Untuk keperluan pemegangan benda kerja seperti itu, maka benda kerja bisa langsung diletakkan di meja mesin freis kemudian diikat dengan menggunakan bantuan klem (Clamp). Berbagai bentuk klem (Gambar 3.13) dan baut pengikatnya biasanya digunakan untuk satu benda kerja yang relatif besar.

Gambar 3.13 Berbagai Bentuk Clamp 3.6 Proses Bor (gurdi) Proses gurdi adalah proses pemesinan yang paling sederhana diantara proses pemesinan yang lain. Biasanya di bengkel atau workshop proses ini dinamakan proses bor, walaupun istilah ini sebenarnya kurang tepat. Proses gurdi dimaksudkan sebagai proses pembuatan lubang bulat dengan menggunakan mata bor (twist drill) Sedangkan proses bor (boring) adalah proses meluaskan/ memperbesar lubang yang bisa dilakukan dengan batang bor (boring bar) yang tidak hanya dilakukan pada mesin drilling, tetapi bisa

LAPORAN KERJA PRAKTEK

32

BAB III DASAR TEORI

dengan mesin bubut, mesin freis, atau mesin bor. (Gambar 3.14) berikut menunjukkan proses gurdi.

Gambar 3.14 Proses gurdi (drilling)

Pada proses gurdi beram (chips) harus keluar melalui alur helik pahat gurdi ke luar lubang. Ujung pahat menempel pada benda kerja yang terpotong, sehingga proses pendinginan menjadi relatif sulit. Proses pendinginan biasanya dilakukan dengan membanjiri benda kerja yang dilubangi dengan cairan pendingin, disemprot dengan cairan pendingin, atau cairan pendingin dimasukkan melalui lubang di tengah mata bor. Karakteristik proses gurdi agak berbeda dengan proses pemesinan yang lain, yaitu : Beram harus keluar dari lubang yang dibuat. Beram yang keluar dapat menyebabkan masalah ketika ukurannya besar dan atau kontinyu. Proses pembuatan lubang bisa sulit jika membuat lubang yang dalam. Untuk pembuatan lubang dalam pada benda kerja yang besar, cairan pendingin dimasukkan ke permukaan potong melalui tengah mata bor.
LAPORAN KERJA PRAKTEK 33

BAB III DASAR TEORI

Proses pembuatan lubang dengan mesin gurdi biasanya dilakukan untuk pengerjaan lubang awal. Pengerjaan selanjutnya dilakukan setelah lubang dibuat oleh mata bor (Gambar 3.15). Proses kelanjutan dari pembuatan lubang tersebut misalnya : reaming (meluaskan lubang untuk mendapatkan diameter dengan toleransi ukuran tertentu), taping (pembuatan ulir),

counterboring (lubang untuk kepala baut tanam), countersinking (lubang menyudut untuk kepala baut/sekrup).

Gambar 3.15 Skematis Kelanjutan Proses Gurdi

3.6.1 Mesin Gurdi (Drilling Machine) Mesin yang digunakan untuk melakukan proses gurdi adalah mesin gurdi/Drilling Machine. Proses pembuatan lubang bisa dilakukan untuk satu pahat saja atau dengan banyak pahat. Dalam proses produksi pemesinan sebagian besar lubang dihasilkan dengan menggunakan mesin gurdi.

LAPORAN KERJA PRAKTEK

34

BAB III DASAR TEORI

Gambar 3.16 Jenis- jenis Mesin Gurdi

3.6.2 Elemen Dasar Proses Gurdi Elemen dasar proses gurdi dapat ditentukan berdasarkan gambar proses gurdi (Gambar 3.17) dan rumus-rumus kecepatan potong dan gerak makan. Parameter proses gurdi pada dasarnya sama dengan parameter proses pemesinan yang lain, akan tetapi dalam proses gurdi selain kecepatan potong, gerak makan, dan dan kedalaman potong perlu dipertimbangkan pula gaya aksial , dan momen puntir yang diperlukan pada proses gurdi. Elemen dasar proses gurdi tersebut adalah :

LAPORAN KERJA PRAKTEK

35

BAB III DASAR TEORI

Gambar 3.17 Gambar Skematis Proses Gurdi/ Drilling

Kecepatan potong :

Gerak makan (feed) a. Untuk mesin gurdi jenis gerak makan dilakukan secara manual (Hand- feed Drilling Machine) tidak ada rumus tertentu yang digunakan, karena proses pemakanan dilakukan berdasarkan perkiraan operator mesin. b. Untuk mesin gurdi dengan gerak makan dilakukan secara mekanik oleh tenaga motor listrik (Power- feed Drilling Machine)

3.7

Afbramen Afbramen adalah suatu proses untuk menghilangkan sudut-sudut tajam dan bagian-bagian yang diperlukan setelah benda kerja dikerjakan oleh proses

LAPORAN KERJA PRAKTEK

36

BAB III DASAR TEORI

pemesinan. Alat-alat yang biasa dipakai dalam proses afbramen adalah : kikir, amplas dan noga.

Gambar 3.18 Kikir. Bentuk bentuk Kikir Kikir rata. Kikir bulat. Kikir setengah bulat. Kikir segitiga. Kikir bentuk pisau. Kikir segiempat.

Jenis Kekerasan Kasar, kekerasan suatu kikir diukur dengan jumlah mata kikir/ inchi = 32 (atau dilihat dalam table kekasaran kikir). Setengah halus. Halus. Jenis jenis Kikir Kikir kayu. Kikir baja. Kikir diamond. Kikir profil.

LAPORAN KERJA PRAKTEK

37

BAB III DASAR TEORI

Kikir halus.

Macam-macam Alur Kikir yang Dipakai Alur lurus, biasanya digunakan untuk non fero karena bramnya mudah keluar dari sela-sala jalur bram. Alur melengkung, digunakan untuk bahan fero karena chip yang dihasilkannya kecil maka proses yang kontinyu. Alur silang, untuk bahan fero yang keras.

3.8

Metrologi Metrologi adalah ilmu tentang pengukuran dan memegang peranan penting dalam produksi. Kontrol mesin dan penanganan mesin sebagian tergantung dari pengukuran. Mengukur adalah proses membandingkan ukuran (dimensi) yang tidak diketahui terhadap standar ukuran tertentu. Alat ukur yang baik merupakan kunci dari proses produksi massal. Tanpa alat ukur, elemen mesin tidak dapat dibuat cukup akurat untuk menjadi mampu tukar (interchangeable). Pada waktu merakit, komponen yang dirakit harus sesuai satu sama lain.

1.

Jangka Sorong

Gambar 3.19 Jangka Sorong

LAPORAN KERJA PRAKTEK

38

BAB III DASAR TEORI

Jangka sorong adalah alat ukur yang sering digunakan di bengkel mesin. Jangka sorong berfungsi sebagai alat ukur yang biasa dipakai operator mesin yang dapat mengukur panjang sampai dengan 200 mm, ketelitian 0,05 mm. Gambar 3.19. Berikut adalah gambar jangka sorong yang dapat mengukur panjang dengan rahangnya, kedalaman dengan ekornya, lebar celah dengan sensor bagian atas. Jangka sorong tersebut memiliki skala ukur (vernier scale) dengan cara pembacaan tertentu. Ada juga jangka sorong yang dilengkapi jam ukur, atau dilengkapi penunjuk ukuran digital. Pengukuran menggunakan jangka sorong dilakukan dengan cara menyentuhkan sensor ukur pada benda kerja yang akan diukur. Beberapa macam jangka sorong dengan skala penunjuk pembacaan dapat dilihat pada Gambar 3.20.

Gambar 3.20 Cara Pengukuran Dengan Jangka Sorong

Pembacaan hasil pengukuran jangka sorong yang menggunakan jam ukur dilakukan dengan cara membaca skala utama ditambah jarak yang ditunjukkan oleh jam ukur. Untuk jangka sorong dengan penunjuk pembacaan digital, hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada monitor digitalnya. Jangka sorong yang menggunakan skala nonius, cara pembacaan ukurannya secara singkat adalah sebagai berikut : Baca angka mm pada skala utama (pada Gambar 3.21 di bawah : 9 mm). Baca angka kelebihan ukuran dengan cara mencari garis skala utama yang segaris lurus dengan skala nonius (Gambar 3.21 di bawah : 0,15).

LAPORAN KERJA PRAKTEK

39

BAB III DASAR TEORI

Sehingga ukuran yang dimaksud 9,15 mm.

Gambar 3.21 Skala pada jangka sorong

2.

Mikrometer.

Gambar 3.22 Mikrometer

Hasil pengukuran dengan mengunakan mikrometer (Gambar 3.22) biasanya lebih presisi dari pada menggunakan jangka sorong. Akan tetapi jangkauan ukuran mikrometer lebih kecil, yaitu sekitar 25 mm. Mikrometer

LAPORAN KERJA PRAKTEK

40

BAB III DASAR TEORI

memiliki ketelitian sampai dengan 0,01 mm. Jangkauan ukur mikrometer adalah 0-25 mm, 2550 mm, 50-75 mm, dan seterusnya dengan selang 25 mm. Cara membaca skala mikrometer secara singkat adalah sebagai berikut : Baca angka skala pada skala utama/ barrel scale (pada Gambar 3.23 adalah 8,5 mm). Baca angka skala pada thimble (pada posisi 0,19 mm). Jumlahkan ukuran yang diperoleh pada (Gambar 3.23) adalah 8,69 mm.

Gambar 3.23 Cara Membaca Skala Mikrometer.

Beberapa contoh penggunaan mikrometer untuk mengukur benda kerja dapat dilihat pada (Gambar 3.24). Mikrometer dapat mengukur tebal, panjang, diameter dalam, hampir sama dengan jangka sorong. Untuk keperluan khusus mikrometer juga dibuat berbagai macam variasi, akan tetapi kepala mikrometer sebagai alat pengukur dan pembacaan hasil pengukuran tetap selalu digunakan. Beberapa mikrometer juga dilengkapi penunjuk pembacaan digital, untuk mengurangi kesalahan pembacaan hasil pengukuran.

LAPORAN KERJA PRAKTEK

41

BAB III DASAR TEORI

Gambar 3.24 Cara Pengukuran Dengan Mikrometer.

LAPORAN KERJA PRAKTEK

42

Anda mungkin juga menyukai