Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi saat ini berkembang sangat pesat. Perkembangan IPTEK ini memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat dalam berbagai bidang, misalnya dalam hal memperoleh lapangan kerja yang akan sulit apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kewajiban yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien. Kualitas sumber daya manusia dapat ditingkatkan melalui pendidikan (anonim, 2008). Pendidikann merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Manusia membutuhkan pendidikan dalam

kehidupannya. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan ayat (2) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. Untuk itu, seluruh komponen bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia.

Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan tertentu. Interaksi ini adalah interaksi pendidikan yang saling berpengaruh antara pendidik dan peserta didik (Syaodih 2005). SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur, merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mengemban tugas mencerdaskan kehidupan bangsa, untuk selanjutnya berupaya menyelaraskan kualitasnya dengan lembaga pendidikan yang lainnya. Meski upaya itu telah dilakukan namun kenyataannya masih terdapat kekurangan yang harus dibenahi. Kekurangan yang paling mendasar dan sangat dirasakan pada pendidikan formmal (sekolah) dewasi ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini nampak pada hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih sangat memprihatinkan (Trianto 2007). Dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan, maka hal tersebut tidak lepas dari peran guru. Seorang guru harus mampu untuk menjadikan apa yang diajarkannya sebagai suatu yang nyata sehingga mudah untuk dipahami oleh pesserta didik. Guru tidak hanya berperan memberikan pengetahuan kepada siswanya tetapi guru diharapkan mampu untuk membantu siswa dalam membangun pengetahuan dalam benaknya sendiri dalam proses belajar melalui cara-cara mengajar sehingga informasi yang diperoleh siswa dapat bermakna dan menjadi bermakna. Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik (dalam hal

menentukan metode mengajar) untuk membantu peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar, demi mencapai hasil belajar yang

memuaskan. Model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran harus dapat membuat pelajaran biologi terasa mudah dan menyenangkan yang hendaknya dikaitkan dengan kehidupan nyata sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan tidak terlalu abstrak. Mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran, memberikan kesempatan kepada siswa secara bertahap, mengadakan evaluasi dan umpan balik serta memberikan penguatan kepada siswa. Berkaitan dengan hal itu, salah satu model pembelajaran yang dipilih dan akan diterapkan oleh penulis dalam pembelajaran biologi adalah model pembelajaran bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Ausubel, 1996). Proses belajar mengajar yang diterapkan di SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur khususnya pada mata pelajaran biologi kelas VIII menggunakan sistem hafalan. Dimana siswa menyalin isi buku pelajaran ke dalam buku catatannya kemudian menghafalkan catatan tersebut. Proses belajar seperti ini tidak sesuai dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang menekankan pada peran siswa secara aktif untuk belajar secara mandiri, menemukan informasi secara mandiri dan dapat menggali potensi yang dimilikinya sendiri. Sehingga belajar hafalan tidak dapat meningkatkan kreativitas siswa karena siswa tidak mmenemukan dan memecahkan masalah pelajaran yang diberikan karena materi pelajaran yang

telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan itu dihafalkan tanpa mengaitkan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Belajar hafalan terjadi karena siswa tidak mampu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang lama yang dimiliki oleh siswa tersebut. Belajar dengan hafalan terjadi jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru tanpa mengaitkan dengan atau menghubungkan dengan struktur kognitifnya. Menurut Ausubel belajar bermakna adalah suatu proses pembelajaran dimana siswa lebih mudah memahami dan mempelajari, karena guru mampu dalam memberi kemudahan bagi siswanya sehingga mereka dapat dengan mudah mengaitkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah ada dalam pikiran mereka. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mencoba mencari salah satu cara belajar yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar yang tentunya dapat meningkatkan interaksi antar siswa dan siswa, serta siswa dan guru. Diharapkan agar siswa dimiliki kedewasaan dan kemandirian serta dapat meningkatkan penguasaan materi siswa dalam mempelajari materi biologi. Oleh karena itu, peneliti mengadakan penelitian dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Bermakna (Meaningfull Learning) Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Biologi Pada Siswa Kelas VIII SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah penerapan model pembelajaran bermakna (Meningfull learning) dapat meningkatkan hasil belajar biologi pada siswa kelas VIII SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur ? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar biologi pada siswa kelas VIII SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur dengan penerapan model pembelajaran bermakna (Meaningfull learning). D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Siswa : Dapat meningkatkan hasil belajaar siswa karena mampu memahami materi pelajaran secara menyeluruh. 2. Bagi Guru : Sebagai bahan informasi bagi guru bahwa penerapan model pembelajaran bermakna merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa 3. Bagi Sekolah : Dapat menjadi masukan untuk perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan dimasa yang akan datang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Bermakna Model pembelajaran adalah sebuah metodologi atau sarana atau alat yang digunakan oleh guru secara profesional dengan menjalankan fungsifungsinya sesuai dengan metodologi tersebut. Menurut Isjoni (2009), Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat oleh siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik (dalam hal menentukan metode mengajar) untuk membantu peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar, demi mencapai hasil belajar yang memuaskan. Model pembelajaran bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Pembelajaran bermakna sebagai hasil dari pristiwa mengajar yang ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponenkomponen relevan didalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi pembelajaran bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsepkonsep yang telah dimiliki oleh peserta didik dan membantu memadukannya

secara harmonis dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan (Anonim, 2008). Prof. Muchlas Samani (2007) mengemukan bahwa apapun metode pembelajarannya, maka harus bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep- konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang menyenangkan, yang memiliki keunggulan dan meraup segenap informasi secara utuh sehingga konsekuensi akhirnya adalah meningkatkan kemampuan siswa yang akan berdampak pada pencapaian hasil belajar yang maksimal. Pembelajaran dapat menjadi bermakna jika guru dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi, artinya dapat mengadaptasikan pembelajaran dengan kemajuan zaman. Untuk beradaptasi tersebut perlu dilakukan sebuah perubahan yang bertahap. Tahapan itu adalah know, beleve, attitude, behavior, habit, dan culture. 1. Know (Tahu) Semua stimulus dari akibat interaksi siswa dengan lingkungan akan menjadi bahan dasar untuk mengetahui sesuatu, dan selanjutnya akan berfungsi untuk memicu munculnya prilaku.

2. Believe (Keyakinan) Setelah siswa mengetahui sesuatu yang baru, yang sudah disaring oleh keyakinannya. Keyakinan yang bersumber dari nilai-nilai yang terbentuk dilingkungan. Jika hal itu bermakna, maka siswa pasti menerimanya. 3. Attuitude (perilaku) Setelah siswa mengetahui dan menyakini sesuatu maka sinergi antara apa yang mereka ketahui dan apa yang diyakini pada akhirnya akan membuahkan prilaku. 4. Behavior (kepribadian) Perilaku yang ditampilkan adalah akumulasi dari tahu, keyakinan, dan prilaku. Ketiga perpaduan tersebut seringkali disebut sebagai software sedangkan kepribadian adalah hardware-nya. Jika seorang guru dalam memahami pembelajara bermakna tidak melalui proses know, belive, hingga attituide, maka bekerjanya akan setenga hati. Sehingga siswa tidak dapat menerima pelajaran dengan baik yang juga akan berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang maksimal. Menurut Nana (2005), dalam pembelajaran bermakna terdapat syaratsyarat yang dapat menunjang terciptanya pembelajaran bermakna yaitu : 1. Bahan yang dipelajari harus dihubungkan dengan struktur kognitif secara substansi dan beraturan. 2. Siswa memiliki konsep yang sesuai dengan bahan yang akan dihubungkan.

3. Siswa harus memiliki kemauan untuk menghubungkan konsepkonsep tersebut dengan struktur kognitifnya secara substansi dan beraturan pula. Dahar (1989), mengemukan tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu : 1. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dan dapat diingat. 2. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip. 3. Informasi yang dipelajari secatra bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa. B. Pengertian Belajar 1. Pengertian Belajar Sadiman (2005), belajar adalah suatu yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak ia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseoraang telah belajar adalah adanya perubahan tingka laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif). Menurut Usman (2002), menyatakan bahwa belajar diartikan sebagai perubahan tingka laku pada diri individu berkat adanya interaksi antarindividu dan indidvidu dengan lingkungannya.

Menurut Sudjana (1991), menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adnya perubahan pada diri seseorang. Hal tersebut didukung oleh pendapat Slameto (2003), yang menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingka laku yang secara keseluruhan sebagai pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Nasution (1985), mengungkapkan bahwa belajar adalah perubahan tingka laku yang terjadi berkat pengalaman dan latihan. Perubahan yang dimaksud tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan tetapi berbentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, minat dan penyesuaian diri seseorang. Berdasarkan beberapa ahli-ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan yang bersifat positif yang terjadi pada organisme yang mengarah kepada pembentukan pengetahuan sikap dan perilaku pada diri seseorang. Tujuan belajar adalah perubahan tingka laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Kegiatan belajar mengajar mengorganisasikan pengalaman belajar, mengolah kegiatan belajar

mengajar, menilai proses dan hasil belajar, kesemuanya termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru. Jadi hakekat belajar adalah peruubahan yang positif. 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar a. Faktor internal (berasal dari dalam diri)

10

Menurut Nugroho (2007), faktor internal merupakan sebuah dorongan yang berada dalam diri anak sendiri. Faktor inilah yang mendorong peserta didik untuk mencapai sesuatu apabila dalam dirinya tidak ada dorongan atau motivasi maka siswa tersebut pasti tidak akan pernah berusaha untuk mencapai sesuatu. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru sangat penting untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Yang termasuk faktor internal adalah : 1. Faktor jasmaniah (fisiologi) Menurut Slameto (2003), faktor jasmani pada umumnya sangat berpengaruh terhadap proses belajar peserta didik. Keadaan jasmani melatarbelakangi aktivitas belajar, apabila keadaan jasmani siswa terganggu maka proses belajar peserta didik kurang bersemangat. Jiika keadan jasmani peserta didik baik maka sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar. Berdasarkan uraian diatas, dapat dipahami bahwa kondisi jasmani sangat mempengaruhi proses belajar seseorang sehingga dari kelancaran pendidikan pada umumnya dan proses pembelajaran pada khususnya maka kesehatan anaklah haruslah tetap dijamin. 2. Faktor Psikologi Menurut M. Dalyono (1997), yang termasuk faktor psikologis adalah yang dapat mempengaruhi proses belajar seseorang yaitu tingkat kecerdasan, intelegensi, sikap, bakat, minat, dan motivasi.

11

Menurut Reber yang dikutip oleh Muhibbin syah (2003), mengemukakan bahwa intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan cara yang tepat. Menurut William Slern yang dikutip oleh Purwanto (1996) mengemukakan bahwa intelegensi sebagai kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai dengan tujuan. Berdasarkan definisi di atas dapat dipahami bahwa intelegensi merupakan konsep yang sangat kompleks, antara lain tercermin dari kemampuan seseorang untuk berpikir abstrak, menghubungkan berbagai pristiwa atau konsep, memecahkan masalah, beradaptasi dengan lingkungan, atau mencari kemungkinan-kemungkinan baru. b. Faktor Eksteren (berasal dari luar diri) Faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar terdiri dari faktor non-sosial dan faktor sosial. 1) Faktor-faktor non-sosial Kelompok faktor-faktor ini boleh dikatakan tidak terbilang jumlahnya, seperti keadaan, suhu udara, cuaca, waktu, (pagi, siang atau malam), tempat (letaknya dan pergedungannya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (alat tulis, buku, alat

12

peraga, dan sebagainya yang dapat kita sebut sebagai alat pelajaran).

2) Faktor-faktor sosial Faktor sosial dalam hal ini adalah faktor manusia (semua manusia), baik manusia itu hadir maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan atau tidak langsung hadir. Kehadiran orang lain pada waktu seseorang sedang belajar seringkali mengganggu kegiatan belajar itu. Misalnya jika satu kelas murid sedang melaksanakan ujian, lalu di sekitar kelas banyak murid lain yang bermain dapat mengganggu murid yang sedang ujian. Menurut Slameto (2003) terdapat beberapa faktor eksternal yang berpengaruh terhadap proses belajar siswa yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat. a) Faktor keluarga Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan utama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapat didikan dan bimbingan sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga.Oleh karena itu, jika orang tua tidak memperhatikan pendidikan anaknya seperti tadak mengatur waktu belajar, tidak melengkapi alat belajarnya dan tidak memperhatikan apakah anaknya belajar atau tidak.

13

Semua ini sangat berpengaruh pada semangat belajar anaknya sehingga bisa jadi anak tersebut menjadi malas dan tidak bersemangat untuk belajar.Selain hal tersebut, suasana rumah dan keadaan belajar siswa. b) Faktor sekolah Keadaan sekolah tempat belajar turut mempengaruhi minat seseorang untuk belajar. Kualitas guru, metode, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan perlengkapan di sekolah, keadaan ruangan, jumlah siswa di kelas serta model pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah, semuanya itu turut mempengaruhi keberhasilan belajar anak. Sebagai contoh, apabila suatu sekolah kurang ekonomi keluarga juga turut mempengaruhi

memperhatikan tata tertib yang telah di buat oleh sekolah itu sendiri, maka siswanya akan berbuat semaunya sehingga bisa saja mereka tidak mau belajar dengan sungguh-sungguh di sekolah maupun di rumah, yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajarnya. c) Faktor masyarakat Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga dapat mempengaruhin proses belajar seseorang. Pengaruh itu dapat terjadi karena keberadaan anak dalam masyarakat. Bila di sekitar tempat tinggal, keadaan masyarakatnya terdiri dari orang-orang

14

yang berpendidikan, terutama anak-anaknya yang berpendidikan tinggi, moralnya baik, hal tersebut dapat mendorong anak untuk lebih giat untuk belajar. Akan tetapi sebaliknya, apabila tinggal di lingkungan yang banyak terdapat anak-anak nakal, tidak

berpendidikan dan banyak pengangguran maka hal tersebut akan membawa pengaruh terhadap semangat siswa untuk belajar, Selain teman bergaul, juga kegiatan dalam masyarakat, bentuk kehidupan masyarakat juga sangat berpengaruh terhadap minat belajar siswa. Oleh karena itu, perlu untuk mengusahakan lingkungan yang baik agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap anak atau siswa sehingga ia dapat belajar dengan sebaik-baiknya. 2. Aktivitas Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran Menurut Gulo (2002), menyatakan bahwa belajar adalah seperangkat kegiatan, terutama kegiatan mental, intelektual, mulai dari kegiatan paling sederhana sampai kegiatan yang rumit, seperti kegiatan fisik. Proses belajar menuntut siswa untuk aktif mencari, menemukan dan

menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mendapatkan suatu konsep pelajaran dengan bantuan guru. Oleh karena itu, dalam pembelajaran biologi, guru harus menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, sehingga keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dapat terwujud agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

15

Menurut Hamalik (2005), bahwa pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar atau melakukan aktivitas belajar. Aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada saat proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dalam pembelajaran, perlu ditekankan adanya aktivitas siswa baik secara fisik, mental, intelektual, maupun emosional. Didalam pembelajaran siswa dibina dan

dikembangkan keaktifannya melalui tanya jawab, berpikir kritis, diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam melaksanakan praktikum, pengamatan, didskusi, dan mempertanggungjawabkan segala hasil pekerjaan yang ditugaskan. Sedangkan Dierich dalam Hamalik (2005), aktivitas siswa dapat digolongkan sebagai berikut : a. Aktivitas lisan, meliputi mengemukan fakta atau konsep, menghubungkan kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukanpendapat dan diskusi. b. Aktivitas mendengarkan, meliputi mendengarkan penyajian bahan dan percakapan atau diskusi kelompok c. Aktivitas menulis, meliputi menulis cerita, laporan, membuat rangkuman, mengerjakan test, dan mengisi angket. d. Aktivitas visual, meliputi membaca, melihat gambar, mengamati atau eksperimen. e. Hakekat hasil belajar

16

3) Hasil belajar biologi Istilah hasil belajar tersebut tersusun dari dua kata yakni dari kata hasil dan belajar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hasil diartikan sebagai sesuatu yang telah dicapai dari apa yang dilakukan atau apa yan g dikerjakan sebelumnya. Hasil belajar menurut Gagne yang dikutip dari Sopah (2006) adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa (learners performance). Sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Dick dan Raiser (1998), yang dikutip oleh sopah (2000), mengatakan bahwa hasil belajar adalah

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat simpulkan bahwa hasil belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang terjadi pada diri peserta didik. Dengan demikian, untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa perlu diadakan test, baik test tertulis maupun test lisan.. C.Kerangka Pikir Berdasarkan kerangka teoritis yang telah diuraikan, terdapat kaitan erat antara Penerapan model pembelajaran bermakna dengan hasil belajar siswa. Pembelajaran bermakna sangat menyenangkan dimana siswa lebih mudah

17

memahami dan mempelajari, karena guru mampu memberikan kemudahan bagi siswanya sehingga mereka dapat dengan mudah mengaitkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah ada dalam pemikiran mereka. Pembelajaran bermakna sangat menarik dan memberikan motivasi tersendiri bagi siswa.

SMPN 5 BORONG KAB. MANGGARAI TIMUR

Siswa

Guru

Proses Belajar Mengajar

Model Pembelajaran Bermakna

Hasil Belajar

C. Hipotesis Tindakan Berdasarkan latar belakang dan kerangka pikir di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : Jika Penerapan Model Pembelajaran Bermakna Diterapkan, Maka Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Pada Siswa Kelas VIII SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur.

18

BAB III METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian 1. Tempat Penelitian Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan di SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur. 2. Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru 2014/2015, yaitu bulan Juli sampai dengan September 2014. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena penelitian tindakan kelas memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di kelas. 3. Siklus Penelitian Tindakan Kelas Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan melalui dua siklus dengan model pembelajaran bermakna untuk meningkatkan hasil belajar siswa SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur.

B. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur yang terdiri dari 25 orang siswa

19

C. Faktor- faktor yang diteliti Faktor faktor yang diteliti dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : a. Faktor input : yaitu dengan melihat keaktifan pembelajaran yang sedang berlangsung b. Faktor proses : yaitu bagaimana kegiatan pembelajaran yang dilakukan, penguasaan materi yang diberikan, serta tekhnik yang diberikan dalam melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran bermakna dalam meningkatkan hasil belajar siswa SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur c. Faktor output : yaitu dengan memperhatikan sumber dan materi yang diajarkan apakah sesuai dengan tujuan dan tingkat kemampuan siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. D. Prosedur Penelitian Sebelum melakukan penelitian tindakan kelas, terlebih dahulu dilakukan observasi ke sekolah SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur sebagai tempat penelitian, menelaah kurikulum (silabus) sesuai dengan mata pelajaran biologi sebagai pokok bahasan yang akan dibahas, kemudian membuat RPP ( Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan tahapan-tahapan penelitian : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Siklus I 1. Perencanaan a. Menetapkan materi pelajaran yaitu pertumbuhan dan perkembangan siswa dalam proses

20

b. Penyusunan

perangkat

penelitian

yang

meliputi

perangkat

pembelajaran dan instrumen pengumpulan data c. Merencanakan refleksi setiap akhir siklus 2. Pelaksanaan a. Pendahuluan 1. Apersepsi 2. Melakukan persyaratan pengetahuan dengan mengajukan

pertanyaan untuk memotivasi siswa 3. Menyampaikan tujuan pembelajaran b. Kegiatan inti 1. Pengembangan Guru mengawali kegiatan pembelajaran dengan menyampaikan materi pembelajaran biologi dengan menggunakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) terhadap hasil belajar biologi siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran, kemudian guru menjelaskan kepada pesrta didik dan mendiskusikan materi tersebut serta mencari pemecahan masalah secara bersama-sama. 2. Penerapan Guru memberikan test kepada siswa untuk mengecek kemajuan masing-masing siswa dalam mengelolah materi pelajaran. Test itu bersifat formatif untu mengetahui samapi berapa jauh siswa berhasil dalam pengelolaan materi pelajaran.

21

3. Observai Peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas belajar biologi siswa kelas VIII SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur melalui penerapan model pembelajaran bermakna.

c. Penutup 1. Guru membimbing siswa merangkum pelajaran 2. Menginformasikan mengakhiri pelajaran 3. Refleksi Hal-hal yang dilakukan dalam refleksi adalah sebagai berikut : a. Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan b. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi c. Melakukan evaluasi tindakan I Setelah sampai pada tahap refleksi dan hasilnya masih belum memuaskan, maka akan dilanjutkan ke tahap perencanaan lagi pada siklus II. tentag materi selanjutnya sebelum

Siklus II a. Perencanaan Peneliti membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama b. Pelaksanaan

22

Peneliti melaksanakan pembelajaran Biologi dengan menerapkan model pembelajaran bermakna berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi pada siklus pertama. c. Observasi Peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas belajar Biologi siswa kelas VIII SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur melalui penerapan model pembelajaran bermakna. d. Refleksi Peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus ke dua dan menganalisis serta membuat kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran bermakna dapat meningkatkan hasil belajar biologi pada siswa kelas VIII SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur. E. Tekhnik dan Alat Pengumpulan Data 1. Tekhnik Pengumpulan Data Tekhnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, test, dokumentasi, foto. a. Observasi : untuk mengamati kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. b. Test : untuk mengukur hasil belajar siswa melalui model pembelajaran bermakna c. Dokumentasi : untuk mengumpulkan dan menganalisa arsip-arsip tertulis yang dimiliki SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur, Seperti profil SMP, visi dan misi, struktur organisasi, dan lain sebagainya.

23

d. Foto : peneliti mengambil foto sebagai salah satu bukti telah melaksanakan penelitian di SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur.

2. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini meliputi : observasi, test, dokumentasi, dan foto yang akan dijelaskan sebagai berikut : a. Observasi : menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat aktivitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar mata pelajaran biologi b. Test : menggunakan LKS c. Dokumentasi : menggunakan arsip-arsip milik SMPN 5 Borong Kab. Manggarai Timur F. Tekhnik Analisis Data Ada 2 cara yang digunakan peneliti dalam menganalisis data yang diperoleh, yaitu : 1. Data kuantitatif : berupa hasil pengamatan dianalisis dengan analisa deskriptif kualitatif untuk memastikan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran bermakna dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. 2. Data kuantitatif atau data yang dikumpulkan berupa angka cukup dengan menggunakan analisis deskriptif. Jenis data yang bersifat

24

kuantitatif yang didapatkan dari hasil evaluasi dianalisis menggunakan rumus : P =


X 100 %

Keterangan : P = Persentase F = Frekuensi aktivitas siswa N = Banyaknya individu

Nilai Kuantitas 0 34 35 54 55 64 65 84 85 100

Kategori Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Sumber : Arikunto, 2005

G. Indikator Keberhasilan Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar dalam mempelajari materi pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran bermakna dinyatakan tuntas dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) atau mendapat nilai 65, dan ketuntasan klassikal sebesar 80 %. Indikator lain adalah terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar dari siklus I dan siklus II.

25

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Lukman. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002. Ausubel 1996. Mengapa Pembelajaran Bermakna. www.goegle.com/2008 (diakses pada 27 Maret 2014). Arikunto. Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara. Gulo, 2002. Psikologi Belajar. Rineka Cipta Jakarta. Hamalik. Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara. M.Dalyono. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT.Rineka Cipta, 1997. Nasution, S. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Aksara, 1995. Nugroho,W. Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. Jakarta: Prestasi Pusaka, 2007 Prof. Muchlas Samani 2007. Menggagas Pembalajaran Bermakna. Purwanto, M.N. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996. Sopah, J. Pengaruh Model Pembelajaran dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No.022. Tahun ke-5 Maret 2000. Sudjana, N. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996. Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003. Trianto. Model-Model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007. Usman, Uzer Moh. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.

26