Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Melakukan kegiatan ekonomi merupakan tabiat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kegiatan itu ia memperoleh rezeki, dan dengan rezeki itu dia dapat melangsungkan kehidupannya. Bagi orang Islam, al-Qur‟an adalah petunjuk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang absolut. Sunnah Rasulullah saw berfungsi menjelaskan kandungan al-Qur‟an. Terdapat banyak ayat al-Qur‟an dan Hadis Nabi yang merangsang manusia untuk rajin bekerja dan mencela orang menjadi pemalas.Tetapi tidak setiap kegiatan ekonomi dibenarkan oleh al-Qur‟an. Apabila kegiatan itu memiliki watak yang merugikan banayak orang dan menguntungkan sebagian kecil orang, seperti monopoli, calo, perjudian dan riba, pasti akan ditolak. Riba sebagai persoalan pokok dalam makalah ini, disebutkan dalam AlQur‟an dibeberapa tempat secara berkelompok.Dari ayat-ayat tersebut para „ulama‟ membuat rumusan riba, dan dari rumusan itu kegiatan ekonomi diidentifikasi dapat dimasukkan kedalam kategori riba atau tidak. Dalam menetapkan hukum, para „ulama‟ biasanya mengambil langkah yang dalam Ushul Fiqh dikenal dengan ta‟lil (mencari „illat). Hukum suatu peristiwa atau keadaan itu sama dengan hukum peristiwa atau keadaan lain yang disebut oleh nash apabila sama „illat-nya. Kendati riba dalam Al-Qur‟an dan hadis secara tegas dihukumi haram, tetapi karena tidak diberikan batasan yang jelas, sementara masalah ini sangat dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat sejak dulu hingga kini, hal ini menimbulkan beragam interpretasi terhadapnya. Sejak masa awal, persoalan riba telah dipandang sebagai salah satu permasalah agama yang paling pelik. Sampaisampai Umar ibn Khattab dikabarkan menyatakan : “Ada tiga perkara yang sangat aku sukai seandainya Rasulullah meninggalkan wasiat untuk kita, yakni persoalan
1

5. 4. Mengetahui manfaat berekonomi tanpa unsur riba. dan persoalan riba. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya maka rumusan masalah pada penyusunan makalah ini adalah: 1. C. 3. TUJUAN Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya maka tujuan yang hendak dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui ruang lingkup riba dalam ekonomi islam yang terdapat dalam rumusan masalah. 2 . Cara menghindari riba dalam ekonomi islam. Sebab-sebab diharamkan riba.” B. kalâlah. Oleh karena itu. Jenis-jenis riba berdasarkan ilmu fiqih. Hukum riba dalam islam. 5. 4. tinggalkanlah ribâ dan ribah (hal-hal yang meragukan). Mengetahui sebas di haramkannya riba. 6. Mengetahui apa pengertian dari riba. Apa pengertian riba dalam pandangan islam. Manfaat berekonomi tanpa riba. Mengetahui jenis-jenis riba berasarkan ilmu fiqih. 2. 3. 2. Sebagai berikut: 1. Mengetahui hokum riba dalam islam. sayang Rasulullah telah meninggal sebelum beliau menerangkannya.pewarisan kakek (datuk). Mengetahui cara untuk menghindari riba 6.

Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba. apakah tambahan itu berjumlah sedikit maupun berjumlah banyak seperti yang disyaratkan dalam Al-Qur‟an. maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip mua‟amalat dalam Islam. bertumbuh menambah atau berlebih. Kata riba juga berarti . riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Riba sering diterjemahkan orang dalam bahasa inggris sebagai “usury” yang artinya “the act of lending money at an exorbitant or illegal rate of interest” sementara para ulama‟ fikih mendefinisikan riba dengan “ kelebihan harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan atau gantinya”.BAB II PEMBAHASAN A. namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan baik dalam transaksi jual beli. secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar. Menurut istilah teknis. Al-riba atau ar-rima makna asalnya ialah tambah tumbuh dan subur. ziyadah (tambahan). Mengenai hal ini 3 . PENGERTIAN RIBA Riba secara bahasa bermakna. Dalam pengertian lain. Maksud dari pernyataan ini adalah tambahan terhadap modal uang yang timbul akibat transaksi utang piutang yang harus diberikan terutang kepada pemilik uang pada saat utang jatuh tempo. Adapun pengertian tambah dalam konteks riba adalah tambahan uang atas modal yang diperoleh dengan cara yang tidak dibenarkan syara‟.

Namun. gadai.” (An-Nisa’ : 29) Dalam kaitanya dengan pengertian al-batil dalam ayat tersebut. yang tidak adil disini adal peminjam diwajibkan untuk selalu dan pasti untung dalam setiap penggunaan kesempatan 4 . “ pengertian riba‟ secara bahasa adalah tambahan. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Mobil misalnya. si pembeli membayar harga atas imbalan barang yang diterimanya. sewa. Yang dimaksud dengan transaksi pengganti atau penyeimbang yaitu transaksi bisnis atau komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil. janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. sesudah dipakai maka nilai ekonomisnya pasti menurun jika dibandingkan sebelumnya. Dalam transaksi sewa. Dalam transaksi simpan pinjam dana. para peserta perkongsian berhak mendapatkan keuntungan karena disamping menyertakan modal juga turut serta menanggung kemungkinan resiko kerugian yang bisa saja muncul setiap saat. namun yang dimaksud riba dalam ayat Al-Qur‟an yaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang yang dibenarkan syari‟ah.Allah mengingatkan dalam Al-Quran Surat An-Nisa‟ : 29 : “Hai orang-orang yang beriman. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. secara konvensional si pemberi pinjaman mengambil tambahan dalam bunga tanpa adanya suatu penyeimbangan yang diterima si peminjam kecuali kesempatan dan faktor waktu yang berjalan selama proses peminjaman tersebut. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. atau bagi hasil proyek. seperti transaksi jual beli. Dalam hal jual beli. si penyewa membayar upah sewa karena adanya manfaat sewa yang dinikmati. ibnu Arobi Al-Maliki menjelaskan seperti yang dikutif oleh Afzalurrohman. Demikian juga dalam proyek bagi hasil. termasuk menurunnya nilai ekonomis suatu barang karena penggunaan si penyewa.

b.tersebut. d. 5 . Prinsip utama dalam riba adalah penambahan. Apabila telah datang saat membayar dan si pembeli tidak mampu membayar. Raghib Al-Asfahani Riba adalah penambahan atas harta pokok. hanya dengan faktor waktu semata tanpa ada faktor orang yang menjalankan dan mengusahakannya. Badr Ad-Din Al-Ayni pengarang Umdatul Qari‟ syarah Shahih Al-Bhukhari. Imam An-Nawawi dari Madzab Syafi‟i. hal tersebut dikenal dengan bunga kredit sesuai lama waktu pinjaman. Berdasarkan penjelasan Imam Nawawi diatas. Imam zarkasi dari madzab Hanafi Riba adalah tambahan yang disaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya iwadh (atau padanan yang dibenarkan syari‟ah atas penambahan tersebut. diantaranya sebagai berikut. e. Bahkan ketika orang tersebut mengusahakan bisa saja untung bisa saja rugi. Qatadah Riba Jahiliyah adalah seseorang yang menjual barangnya secara tempo hingga waktu tertentu. Menurut syari‟ah riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis rill. dapat dipahami bahwa salah satu bentuk riba yang dilarang oleh Al-Qur‟an dan As-Sunnah adalah penambahan atas harta pokok karena unsur waktu. Demikian juga dana itu tidak akan berkembang dengan sendirinya. c. maka ia memberikan bayaran tambahan atas penangguhan. a. Pengertian senada disampaikan oleh jumhur ulama‟ sepanjang sejarah Islam dari berbagai madzahib fiqhiyyah. Dalam dunia perbankan.

Pada saat jatuh tempo ia berkata “bayar sekarang atau tambah”. i. yaitu sebagai berikut : 1. Padahal Qord bertujuan untuk menjalin hubungan yang erat dan kebajikan antar manusia. JENIS-JENIS RIBA Berdasarkan ilmu fiqih. Mujahid Mereka menjual daganganya dengan tempo. Riba Fadl 2.f. ia harus menambah dana (dalam bentuk bunga pinjaman) atas penambahan waktu yang diberikan. Ja‟far As-Shodiq dari kalangan Madzab Syi‟ah Ja‟far As-Shodiq berkata ketika ditanya mengapa Allah SWT mengharamkan riba supaya orang tidak berhenti berbuat kebajikan karena ketika diperkenankan untuk mengambil bunga atas pinjaman maka seseorang tadi tidak berbuat ma‟ruf lagi atas transaksi pinjam meminjam dan seterusnya. Jikalau tidak mampu melunasi. Pendiri Madzab Hambali Imam Ahnad Bin Hambal ketika ditanya tentang riba beliau menjawab sesungguhnya riba itu adalah seseorang memiliki utang maka dikatakan kepadanya apakah akan melunasi atauy membayar lebih. Riba Nasi‟ah 6 . Apabila telah jatuh tempo dan (tidak mampu membayar) si pembeli memberikan “tambahan” atas tambahan waktu. h. Zaid Bin Aslam. Imam Ahmad Bin Hambal. g. B. riba dikenal terdapat empat jenis riba. Yang dimaksud dengan riba jahiliyah yang beramplikasi pelipatgandaan sejalan dengan waktu adalah seseorang yang memiliki piutang atas mitranya.

Jadi apabila ditelaah hal ini bukan bentuk kegiatan jual beli melainkan pertukaran barang yang sejenis. dan pihak-pihak lain. Emas ditukarkan dengan emas dan perak juga sebaliknya. Ketidakjelasan ini dapat menimbulkan tindakan zalim terhadap salah satu pihak. Riba Jahiliyah 4. Bersabda: 7 .3. yaitu riba yang timbulk akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitasnya (mistlan bi mistlin). Jadi berdasarkan ilustrasi diatas dapat dikonklusikan bahwa mengalami ketidak jelasan (gharar) akan nilai perhiasan perak dan dirham. Pertukaran sejenis ini mengandung gharar. padahal perhiasan tersebut dengan berat satu uqiyah dan jauh lebih daripada 2-3 dirham. kedua pihak. yang akan dibayar dengan menggunakan uang yang terbuat dari emas (dinar) dan perak (dirham). harta mereka diambil sebagai harta rampasan perang (ghanimah). orang Yahudi berusaha membeli perhiasannya yanng terbuat dari emas dan perak tersebut. Riba Qard 1. Perhiasan perak yang beratnya setara dengan 40 dirham (satu uqiyah) dijual oleh kaum Muslimin kepada kaum Yahudi sehargha dua atau tiga dirham. Berikut contoh mengenai riba fadl dengan ketidakjelasannya: “Ketika kaum Yahudi kalah dalam perang Khabair. Oleh karena itu.” Mendengar hal tersebut Rasulullah Saw. Tentu saja perhiasan tersebut bukan gaya seorang muslimin dan muslimah yang sederhana. yaitu ketidakjelasan bagi kedua belah pihak akan masing-masing barang yang dipertukarkan. termasuk diantaranya perhiasan yang berupa emas dan perak. sama kuantitasnya (sawa-an bi sawa-in) dan sama waktu penyerahannya (yadan bi yadin). Riba Fadl Riba fadl disebut juga sebagai riba buyu‟.

kurma. dan tangan ke tangan (tunai). kelebihannya adalah riba” (Riwayat Muslim) Diluar keenam jenis barang ini dibolehkan asalkan dilakukan penyerahannya pada saat yang sama. tepung dengan tepung harus sama takaran. timbangan. gandum. kelebihannya adalah riba. timbangan. wahai Rasul. dan tangan ke tangan (tunai). korma dengan korma harus sama takaran. dan tangan ke tangan (tunai). kelebihannya adalah riba. dan tangan ke tangan (tunai). kelebihannya adalah riba. timbangan. “tidak mengapa. Bersabda. Rasul Saw. dan garam. perak. dan tangan ke tangan (tunai). Rasul Saw. perak dengan perak harus sama takaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk riba fadl pertukaran barang yang tidak sama kualitas dan takarannya untuk barang yang sejenis berupa emas. dan tangan ke tangan (tunai).“Dari Abu Said al-Khudri ra. tetapi sesuai dengan hadis diatas dapat disimpulkan bahwa kita tidak boleh menukarkan barang yang sejenis tetapi berbeda takaran. Bersabda : “Jangan kamu bertransaksi satu dinar dengan dua dinar. kelebihannya adalah riba. tidak bagus dilakuakan karena hal ini takutna akan menimbulkan riba[4]. Tetapi apabila pertukarannya berupa objek yang tidak sejenis meski jumlahnya berbeda hal ini diperbolehkan karena hal ini berupa 8 . gandum dengan gandum harus sama takaran. kelebihannya adalah riba. garam dengan garam harus sama takaran. tepung. bagaimana jika seorang menjual seekor kuda dengan beberapa ekor kuda dan seekor unta dengan beberapa ekor unta ? Jawab Nabi Saw. pada dasarnya sedikit sulit untuk memahami secara jelas arti dari riba fadl. timbangan. satu sha’ dengan dua sha’ karena aku khawatir akan terjadinya riba (al-rama). riba fadl. maupun dari aspek penyerahan (harus secara tunai ) hal ini dikarenakan akan timbul gharar dan dari ketidakjelasan ini akan menimbulkan. timbangan. Seorang bertanya. Transaksi pertukaran emas dengan emas harus sama takarannya. asal dilakukan dengan tangan ke tangan (langsung)” (HR Muslim) Memang. satu dirham dengan dua dirham. kualitas. timbangan.

Dalam perbankan konvensional. tabungan. hal yang demikian merupakan riba. yakni memperlakukan sesuatu yang seharusnya bersifat uncertain (tidak pasti) menjadi certain (pasti). dan lain-lain. Bank sebagai kreditur yang memberikan pinjaman mensyaratkan 9 . kertas ditukarkan dengan kertas (secara tunai).ah dapat ditemui dalam pembayaran bunga kredit dan pembayaran bunga deposito. dan pihak-pihak lainnya. hasil usaha (al-kharaj) muncul tanpa adanya biaya (dhaman). dapat menimbulkan tindakan zhalim terhadap satu pihak. Jadi ghunmu (untung) muncul tanpa adanya al-ghurmi(resiko). riba fadl dapat ditemui dalam transaksi jual beli valuta asing yang tidak dilakuakan dengan tunai (spot). Padahal dalam bisnis selalu mengalami adanya untung dan rugi. Transaksi ini semisal mengandung pertukaran kewajiban menanggung beban. riba nasi. Misal 1 USD ditukarkan dengan Rp 9. perubahan atau tambahan anatra barang yang diserahkan hari ini dengan barang yang diserahkan kemudian. Karena pertukaran valuta asing kan berupa uang (kertas). Pertukaran kewajiban menanggung beban (exchange of lialbility) ini. Riba nasi‟ah munncul karena adanya perbedaan. Padahal justru itulah yang terjadi dalam riba nasi‟ah. Kemudian dalam praktik perbankan. Nasi‟ah adalah penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. al-kharaj dan dhaman muncul hanya dengan berjalannya waktu. Riba Nasi’ah Riba nasi‟ah disebut juga sebagai riba duyun yaitu riba yang timbul akibat utang piutang yang tidak memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko (al ghunmu bil ghunmil) dan hasil usaha muncul bersama hasil biaya (al-kharaj bil dhaman).tindakan jual beli (bukan riba) asalkan dilakukan secara langsung dari tangan ke tangan (tunai). giro.084. hanya karena berjalannya waktu. 2. kedua pihak. tetapi nilai pertukarannya berbeda. Memastikan sesuatu yang diluar wewenang manusia adalah bentuk kezhaliman[5].

Riba Jahiliyah Riba jahiliyah adalah utang yang dibayar melebihi pokok utang disaat si peminjam tidak dapat mengembalikan utangnya dalam jangka waktu yang ditetapkan. 3. mengenakan tingkat bunga untuk suatu pinjaman merupakan tindakan yang memastikan sesuatu yang tidak pasti. negatif. Riba jahilliyah dilarang karena terjadi pelanggaran kaidah “Kullu Qardin Manfa‟atan fahuwa Riba” (setiap pinjaman yang mengambil manfaat adalah riba). Para pendukung konsep bunga mendasarkan argumentasi mereka dengan prinsip time value of money yang didefinisikan sebagaio berikut : “A dollar today is worth more than a dollar in the future because a dolla today can be invested to get a return” Definisi ini tidak akurat dikarenakan setiap investasi selalu mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan return positif. kemudian ditetapkan pengembalian yang lebih dari jumlah yang dipinjamkan ini disebut sebagai riba nasi‟ah. atau untung yang tidak dapat ditentukan dari awal.pembayaran bunga yang besarnya tetap dan ditentukan terlebih dahulu di awal transaksi (fixed and predetermined rate). dan pada saat terjadi transaksi pinjam-meminjamkan. Itu sebabnya dalam teori finance. 10 . selalu dikenal risk-return relationship. Jadi transaksi yang dari semula diniatklan sebagai transaksi kebaikan tidak boleh dibah menjadi transaksi yang bermotif komersil atau bisnis. dan hal ini diharamkan. Padahal nasabah yang mendapatkan pinjaman itu tidak mendapatkan keuntungan yang fixed and predetermined juga. Resiko ini tidak dapat dipastikan dan apabila dipastikan dapat menimbulkan riba nasi‟ah. Jadi. ataupun BEP (break event point). impas. Memberi pinjaman adalah transaksi tabarru‟ yahni (QARD) sedangkan mengambil manfaat adalah transaksi komersil (tijarah). Disimpulkan bahwa terjadi riba nasi‟ah apabila sesuatu yang tidak pasti dijadikan hal yang pasti. karena dalam bisnis selalu ada kemungkinan rugi.

riba jahilliyah dapat ditemui dalam pengenaan bunga pada transaksi kartu kredit yang tidak dibayar penuh tagihannya. Dalam perbankan konvensional.Dari sisi penyerahan riba jahilliyah termasuk sebagai riba nasi‟ah dan dari segi kesamaan objek yang dipertukarkan. → Pembayaran bunga kredit. Namun proses pelaranga riba dalam Al-Qur‟an tidak diturunkan oleh Allah SWT sekaligus. 1. 2/1157). pabila sudah jatuh tempo akan berkata kepada debitur. Allah memberikan pengertian bahwa riba tidak akan menambah kebaikan disisi Allah SWT. Maka pihak debitur membayar tambahan dan kreditur menunggu waktu pembayaran yang baru” (Tapsir Qurtuby. tergolong riba fadl. Allah berfirman Surat Arrum Ayat 39: 11 . Tafsir Qurtuby menjelaskan : “pada zaman Jahiliyyah para kreditur. Contoh Transaksi Riba:  Riba Fadl à  Riba Nasi‟ah à → transaksi valuta asing secara tunai. atau Anda tunda pembayaran itu dengan tambahan”. penerimaan bunga  Riba Jahilliyah à → transaksi kartu kredit yang tidak dibayar secara penuh. deposito. HUKUM RIBA DALAM ISLAM Hukum riba dalam Islam telah ditetapkan dengan jelas. dan tabungan. “Lunaskan utang Anda sekarang. yakni dilarang dan termasuk dari salah satu perbuatan yang diharamkan. C. dan giro. melainkan diturunkan dalam empat tahap.

kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka.” (QS. padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya. Arrum Ayat 39) 2. maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah. dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil.” (QS. An-Nisa’ : 160-161) 3. “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi. dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan disebabkan mereka memakan riba.“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Allah melarang memakan riba yang berlipat ganda 12 . Allah SWT memberikan gambaran siksa bagi yahudi dengan salah satu karakternya suka memakan riba. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

orang yang membayarnya dan orang yang mencatatnya. maka ketahuilah. Rosululloh SAW juga menjelaskan dan beberapa hadits diantaranya: “Dari Jabir ia berkata Rosululloh SAW mengutuk orang yang menerima riba. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba). dan dua orang 13 .“Hai orang-orang yang beriman. Ali Imran : 130) 4.” (QS. kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Allah melarang dengan keras dan tegas semua jenis riba. “Hai orang-orang yang beriman. maka bagimu pokok hartamu. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba).” (QS. Albaqarah 278-279) Untuk lebih memperjelas keharaman riba. bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.

sebagian kalangan kristiani menganggap bahwa ayat yang terdapat dalam Lukas 6 : 34-5 sebagai ayat yang mengecam praktek pengambilan bunga. baik dalam perjanjian lama (oldtestament). Hingga 1 M. Larangan bunga ini tidak hanya berlaku dalam agama Islam tetapi dalam agama non Islam pun juga dilarang. Tidak ada ruang untuk mengatakan bahwa riba mengacu sekedar pada pinjaman dan bukan bunga. Dua orang ahli filsafat yunani terkemuka. Mutafaqun Alaihi). plato (42714 . karena Nabi melarang mengambil. Bahkan dalam suatu hadis dinyatakan bahwa dosa orang yang mengerjakan riba lebih besar beberapa kali lipat daripada dosa orang yang berzina. Muslim) “Hakim meiwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwasanya nabi Saw telah bersabda “riba itu mepunyai 73 tingkatan. Pelarangan dimaksud banyak terdapat dalam kitab suci mereka. sebagai tambahan dari uang pokok. Maupun undang-undang talmud. Dalam Agama Kresten kitab perjanjian baru tidak menyebutkan permasalahan ini dengan jelas. Seperti halnya orang-orang Yahudi yang dilarang mempraktekkan riba. Telah terdapat beberapa jenis bunga. Hal ini didasari oleh logika bahwa zina biasanya terjadi akibat gejolak syahwat yang tidak tertahan dan dilakukan tanpa pikir panjang. jelas dan telaten. Juga berpandangan bahwa pengambilan bunga dilarang oleh ajaran agama.saksinya. praktek pengambilan bunga dicela oleh para ahli filsafat. Hakikat larangan tersebut tegas. yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang berzina dengan ibunya”. pemberian jasa atau kebaikan sebagai syarat pinjaman. Dalam kalangan Yunani dan Romawi sejak abad 6 SM. (HR. kemudian beliau bersabda mereka itu semuanya sama” ( HR. dan tidak mengendung perdebatan. meskipun kecil. mutlak. Namun. para pendeta Agama kresten pada awal abad I – XII M. sementara praktek riba dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Disamping itu. Meskipun demikian.

2) Bergantung pada riba dapat menghalangi manusia dari kesibukan kerja sebab jika si pemilik uang yakin bahwa degan melauli riba dia akan memperoleh tmabahan uang baik kontan maupun berjangka. Dari sedikit uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa apapun bentuk riba maupun bunga dilarang secara mutlak oleh semua Agama. SEBAB-SEBAB RIBA DIHARAMKAN Ada beberapa alasan mengapa Islam sangat melarang keras riba dalam perekonomian Islam adalah 1) Bahwa kehormatan harta manusia sama dengan kehormatan darahynya. dagang. dan pekerjaan yang berat. Oleh karena itu mengambil harta kawannya tanpa ganti sudah pasti haram. 3) Riba akan menyebabkan terputusnya sikap yang baik (ma‟ruf) antara sesama dalam bidang pinjam meminjam. 4) Pada umumya pemberi piutang adalah orang kaya sedangkan peminjam adalah orang miskin. menbgecam praktek bunga. D.347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Sebab jika riba itu haram maka seseorang akan merasa senang meminjamkan uang 1000 rupiah dan kembalinya 1000 rupiah juga. Begitu juga dengan Cato (234-149 SM) dan Cicero (106-43 SM). Maka pendapat yang membolehkan riba berarti meberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Hal ini dikarenakan dampak yang dikarenakan oleh adanya riba atau bunga tersebut dipandang merugikan masyarakat. Para ahli filsafat tersebut mengutuk orang-orang romawi yang mempraktekkan pengambilan bunga[13]. 15 . Sedangkan riba jika riba dihalalkan maka sudah pasti kebutuhan orang akan menganggap berat denga pinjamannya 1000 rupiah diharuskan mengembalikan 2000 rupiah. maka ia akan memudahkan persoalan mencari penghidupan sehingga hamper-hampir dia tidak mau menanggung beratnya usaha. terutama AgamaAgama samawi. Sedangkan tidak layak berbuat demikian sebagai sarana memperoleh rahmat dari Allah swt.

d) Murabahan adalah jual beli barang dengan tambahan harga atau cost plus atas dasar harga pembelian yang pertama secara jujur. Hal yang sangat mencolok dapat diketahui bahwa bunga bank itu termasuk riba adalah ditetapkannya akad di awal jadi ketika nasabah sudah menginventasikan uangnya pada bank dengan tingkat suku bunga tertentu. b) Mudarabah adalah kerja sama antara pemlik modal dengan pelaksanaan atas dasar perjanjian profit and loss sharing. e) Qard hasan (pinjaman yag baik atau benevolent loan). menurut sebagian pendapat bunga bank termasuk riba. hanya memberikan nisbah tertentu pada deposannya. Bank Islam menggunakan berbagai cara yang bersih dari unsur riba antara lain: a) Wadiah atau titipan uang.E. maka akan dapat diketahui hasilnya dengan pasti. Sehingga praktek pembungaan uang adalah haram. c) Syirkah (perseroan) adalah diamana pihak Bank dan pihak pengusaha samasama mempunyai andil (saham) pada usaha patungan (jom ventura). Hal diatas membuktikan bahwa praktek pembungaan uang dalam berbagai bentuk transaksi saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada zaman Rasulullah saw yakni riba nasi‟at. CARA MENGHINDARI RIBA DALAM EKONOMI ISLAM Pandangan tentang riba dalam era kemajuan zaman kini juga mendorong maraknya perbankan Syariah dimana konsep keuntungan bagi penabung di dapat dari sistem bagi hasil bukan dengan bunga seperti pada bank konvensional pada umumnya. maka yang dibagi adalah keuntungan dari yang di dapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah 16 . memberikan pinjaman tanpa bunga kepada para nasabah yang baik sebagai salah satu bentuk pelayanan dan penghargaan. barang dan surat berharga atau deposito. Sebagai pengganti bunga bank. f) Menerapkan prinsip bagi hasil. Karena. Berbeda dengan prinsip bagi hasil yang hanya memberikan nisbah bagi hasil untuk deposannya.

nisbahnya dalah 60% : 40%. Sesungguhnya syetan itu adalah musuh nyata bagimu”. tapi juga mereka yang meninggalkan larangan Allah swt. Selain cara-cara yang telah diterapkan pada Bank Syariah. budanya. masih banyak kaum muslim yang melanggar prinsip islam yaitu ajaran ekonomi Islam. 17 . zakat. dan riba. tentunya orang itu akan meyakini dengan sesungguhnya bahwa Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan (komprehensif) manusia. Ayat ini mewajibkan orang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara totalitas baik dalam ibadah maupun ekonomi. termasuk masalah perekonomian. masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (utuh dan totalitas) dan jangan kamu ikuti langkah-langkah syetan. dan sebagainya. dan sebgainya. Seperti dalam muamalah akhlak dalam muamalah mengajarkan agar kita dalam kegiatan bisnis menghindari judi. namun juga agar aklhak kita semakin baik. “ Hai orangorang yang beriman. Inilah yang dititahkan Allah pada surah al-Baaqarah : 208. atau haji. social. Sangat aneh bila ada orang yang berpuasa dengan taat dan bersungguh-sungguh namun masih mempraktekan riba. Puasa bukan saja membina dan mendidik kita agar semakin taat beribadah. maka bagian deposan 60% dari total keuntungan yang di dapat oleh pihak bank. Sebagai orang yang beriman yang telah melaksanakan puasa.pihak. wadi‟ah. Puasa bertujuan untuk mewujudkan manusia yang bertaqwa kepada Allah swt dimana mereka yang bertaqwa bukan hanya mereka yang rajin shalat. Antara lain mudharabah. Mengapa demikian? Karena seseorang yang berpuasa secara benar pasti terpanggil untuk hijrah dari sistem ekonomi yang penuh dengan riba ke sistem ekonomi syariah yang penuh ridho Allah. Dalam kitab fiqih pun sangat banyak ditemukan ajaran-ajaran mu‟amalah Islam. Pada masalah ekonomi. Misalnya. penipuan. Ekonomi Islam didasarkan pada prinsip syariah yang digali dari Al-Qur‟an dan sunnah. Umat Islam harus masuk ke dalam Islam ssecara utuh dan menyeluruh dan tidak sepotongpotong. murabahah. politik. riba juga dapat dihindari dengan cara berpuasa.

menerapakan prinsip hasil bagi. dan qard hasan. syirkah. memajukan ekonomi Islam lewat lembaga keuangan syariah. keuntungan akhirat berupa pahala ibadah melalui pengamalan syariah Islam dan terhindar dari dosa riba. MANFAAT BEREKONOMI TANPA RIBA Keharusan berekonomi secara syariah ini lantaran penerapanya memiliki manfaat yang sangat besar bagi umat Islam. ditetapkannya akad di awal jadi ketika nasabah sudah menginventasikan uangnya pada bank dengan tingkat suku bunga tertentu. 18 . BAB III PENUTUP A. maka akan dapat diketahui hasilnya dengan pasti. Pertama umat Islam bisa menjalankan agamanya dalam bidang ekonomi yang pada gilirannya menggiringnya kepada pengamalan Islam secara utuh. KESIMPULAN Berdasarkan uraian tentang riba yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa :  Riba adalah suatu akad atau transaksi atas barang yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut syariat atau dengan menunda penyerahan kedua barang yang menjadi objek akad atau salah satunya. wadiah. Ketiga. Kedua.  Cara untuk menghindari riba adalah dengan berpuasa.  Prinsip bagi hasil dalam ekonomi sayariah memberikan nisbah tertentu pada deposannya. berarti umat Islam berupaya mengentaskan kemiskinan.F. Sedangkan bunga bank. menerapkan dan mengamalkan sistem ekonomi sayariah mendapat dua keuntungan. murabahah. yaitu duniawi dan ukhiawi. maka yang dibagi adalah keuntungan dari yang di dapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah pihak. mudarabah. Keuntungan duniawi berupa uang.

2012 “riba” http://id.html (di akses tanggal 13 Maret 2014) Anonim. Berekonomi secara syariah dapat membatu mengentaskan kemiskinan.com/ 2013/06/makalah-riba-dalam-ekonomi-islam.alquran-indonesia. B.blogspot. 2008. kita sebaiknya dapat menahan diri dan menjauhi segala larangan Allah swt. bahagia di dunia maupun di akhirat.blogspot.wikipedia.com/ Anonim. “Riba Dalam Islam”.id http://www. kita dapat hidup dengan tenang.google. DAFTAR PUSTAKA www. 2013 “Makalah riba dalam ekonomi islam”. dinnemon. Dengan memperkuat iman kita pada Allah swt.com/riba-dalamislam.org/wiki/Riba (di akses tanggal 13 Maret 2014) 19 .co.html (di akses tanggal 13 Maret 2014) Anonim. SARAN Agar kita tetap menjadi muslim yang berpegang teguh pada syariat Islam. http://de-kill.