Anda di halaman 1dari 27

5

BAB II
LANDASAN TEORI
II. 1. Tinjauan Pustaka
II.I.1. Anatomi dan Histologi Payudara
Payudara terletak di fascia superficialis yang meliputi dinding anterior thorak.
Pada perempuan setelah pubertas payudara membesar dan dianggap berbentuk seperti
setengah bulat. Pada wanita dewasa muda payudara terletak diatas costa II sampai VI
dan terbentang dari pinggir lateral sternum sampai linea axillaris media. Pinggir
lateral atas payudara meluas sampai sekitar pinggir bawah musculus pectoralis major
dan masuk ke axilla (Snell, 2006).

Gambar 1. Anatomi payudara (IDAI, 2007)

Payudara tersusun atas beberapa bagian yaitu :
Pada bagian luar terdapat papilla mammae (puting susu) berbentuk kerucut dan
mungkin warnanya merah muda, coklat muda atau coklat tua. Bagian paling luar
papilla ini ditutupi epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk yang berhubungan
langsung dengan kulit di dekatnya (Junqueira, 2007). Daerah berwarna gelap yang
mengelilingi puting susu disebut areola. Pada areola terdapat kelenjar-kelenjar kecil
yang disebut kelenjar montagomery, menghasilkan cairan berminyak untuk menjaga
kesehatan kulit disekitar areola (Roesli, 2000).
Payudara tersusun atas lobulus-lobulus dimana setiap lobulus terdiri dari
sekelompok alveoli berbentuk kantong, tersusun atas epitel yang aktif mensekresikan

6


ASI selama menyusui. ASI yang dihasilkan akan dialirkan melalui sistem duktus
laktiferus menuju sinus laktiferus. Sinus laktiferus merupakan saluran ASI melebar
dan membentuk kantung disekitar areola yang berfungsi untuk menyimpan ASI
(Sherwood, 2001).
Jaringan lemak di sekitar alveoli dan duktus laktiferus menentukan besar
kecilnya ukuran payudara. Payudara besar atau kecil memiliki alveoli dan sinus
laktiferus yang sama, sehingga dapat menghasilkan ASI sama banyak. Disekeliling
alveoli juga terdapat jaringan otot polos yang akan berkontraksi dan memeras keluar
ASI. Keberadaan hormon oksitosin menyebabkan otot polos tersebut berkontraksi
(Soetjiningsih, 1997).

II.I.2. Fisiologi Menyusui
II.I.2.1. Air susu ibu dan hormon prolaktin
Setiap kali bayi menghisap payudara akan merangsang ujung saraf sensorik di
sekitar payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk menghasilkan
hormon prolaktin. Hormon prolaktin akan menyebabkan sel sekretorik di alveoli
menghasilkan ASI (Sherwood, 2001).

Gambar. 2 ASI dan Hormon Prolaktin (http://www.iap.co.id )

Dari gambar di atas setelah hormon prolaktin dihasilkan, hormon tersebut berada
di peredaran darah selama 30 menit setelah penghisapan puting. Hormon prolaktin
dapat merangsang payudara menghasikan ASI untuk minum berikutnya. Sedangkan
untuk minum yang sekarang, bayi mengambil ASI yang sudah ada (IDAI, 2008).
7


Makin banyak ASI yang dikeluarkan dari sinus laktiferus, makin banyak
produksi ASI. Makin sering bayi menyusu makin banyak ASI yang diproduksi.
Sebaliknya makin jarang bayi menyusu, makin sedikit payudara menghasilkan ASI.
Jika bayi berhenti menghisap maka payudara akan berhenti menghasikan ASI.
Prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari
dapat mempertahankan produksi ASI. Hormon prolaktin juga akan menekan ovulasi,
sehingga menyusui secara eksklusif akan memperlambat kembalinya fungsi
kesuburan dan menstruasi. Oleh karena itu menyusui pada malam hari penting untuk
menunda kehamilan (Soetjiningsih, 1997)

II.I.2.2. Air susu ibu dan hormon oksitosin
Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian posterior kelenjar hipofisis.
Hormon tersebut dihasilkan bila ujung saraf sensorik di sekitar payudara dirangsang
oleh isapan bayi. Oksitosin akan merangsang kontraksi otot di sekeliling alveoli dan
memeras ASI keluar dari alveoli ke sinus laktiferus yang dapat dikeluarkan oleh bayi
dan atau ibunya (Sherwood, 2001).

Gambar. 2 ASI dan Hormon Oksitosin (http://www.iap.co.id )

Oksitosin dibentuk lebih cepat dibandingkan prolaktin. Keadaan ini menyebabkan
ASI di payudara akan mengalir untuk dihisap. Oksitosin sudah mulai bekerja saat ibu
berkeinginan untuk menyusui (sebelum bayi menghisap). Jika reflek oksitosin tidak
bekerja dengan baik, maka bayi mengalami kesulitan untuk mendapatkan ASI,
padahal payudara tetap menghasilkan ASI namun tidak mengalir keluar (IDAI, 2008).
8


Efek penting oksitosin lainnya adalah menyebabkan uterus berkontraksi setelah
melahirkan. Hal ini membantu mengurangi perdarahan, walapun kadang
mengakibatkan nyeri. Nyeri diakibatkan karena adanya kontraksi uterus yang
berfungsi membantu involusi uterus (Cunningham, 2002).
Keadaan yang dapat meningkatkan hormon oksitosin yaitu perasaan dan
curahan kasih sayang kepada bayi, celotehan atau tangisan bayi, dukungan ayah
dalam pengasuhan bayi seperti menggendong bayi ke ibu saat akan disusui atau
disendawakan, mengganti popok dan memandikan bayi, suami juga dapat membantu
pekerjaan rumah tangga (Roesli, 2000).
Beberapa keadaan yang dapat mengurangi produksi hormon oksitosin yaitu rasa
cemas terhadap perubahan bentuk payudara dan bentuk tubuh, meninggalkan bayi
karena harus bekerja, ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi, rasa cemas, sedih, marah,
kesal, atau bingung, dan rasa sakit terutama saat menyusui (Depkes RI 2007).
Tanda dan sensasi reflek oksitosin aktif antara lain sensasi diperah di dalam
payudara sesaat sebelum menyusui atau pada waktu proses menyusui berlangsung,
ASI mengalir dari payudara bila ibu memikirkan bayinya, atau mendengar bayinya
menangis, ASI menetes dari payudara sebelah bila bayi menyusu pada payudara yang
lainnya, ASI memancar halus ketika bayi melepas payudara pada waktu menyusui,
Adanya nyeri yang berasal dari kontraksi rahim, kadang diiringi keluarnya darah dari
vagina selama menyusui di minggu pertama, Hisapan yang lambat, dalam dan
tegukan bayi menunjukan bahwa ASI mengalir ke dalam mulut bayi (Kristiyanasari,
2009).


II.1.3. Air Susu Ibu (ASI)
II.1.3.1. Pengertian
ASI manusia adalah suatu suspensi lemak dan protein dalam suatu larutan
karbohidrat-mineral. Seorang ibu yang menyusui dapat dengan mudah memproduksi
600 ml ASI perhari (Cunningham, 2002).


9



II.1.3.2. Komposisi ASI
Air susu ibu (ASI) mengandung makronutrien yaitu karbohidrat, protein dan
lemak dan mikronutrien adalah vitamin dan mineral. Air susu ibu hampir 90% terdiri
dari air. Volume dan komposisi nutrient ASI berbeda untuk setiap ibu bergantung
dari kebutuhan bayi. Perbedaan volume dan komposisi diatas juga terlihat pada masa
menyusui (kolostrum, ASI transisi, ASI matang, dan ASI pada penyapihan) (IDAI,
2008).

II.1.3.2.1. Komposisi ASI menurut stadium laktasi adalah :
i. Kolostrum
Kolostrum adalah ASI khusus berwarna kekuningan, agak kental dan diproduksi
dalam beberapa hari setelah persalinan. Sekresi kolostrum berlangsung selama kurang
lebih 5 hari, dan mengalami perubahan menjadi ASI matur 4 minggu setelahnya
(Cunningham, 2002). Dibandingkan dengan ASI matur, kolostrum mengandung lebih
banyak mineral dan protein yang sebagian besar terdiri dari globulin, tetapi lebih
sedikit mengandung gula dan lemak. Antibodi yang terdapat pada kolostrum, dan
kandungan immunoglobulin A-nya dapat memberikan perlindungan pada bayi baru
lahir untuk melawan pathogen enterik, kolostrum juga memudahkan perjalanan
kotoran pertama bayi yang disebut mekonium. Kolostrum membantu proses maturasi
saluran cerna sehingga dapat mencegah alergi dan intoleransi makanan. Total energi
kolostrum 58 Kal/100 ml kolostrum. Volume kolostrum sekitar 150-300 ml/24 jam
(Soetjiningsih, 1997).

ii. ASI transisi
ASI transisi merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI matur. ASI
transisi ini disekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi, Kadar protein
dalam ASI transisi semakin rendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak semakin
tinggi. Volume ASI transisi akan semakin meningkat (Kristiyanasari, 2009).

iii. ASI matur
ASI matur merupakan ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya dimana
komposisinya relatif konstan. Pada ibu yang sehat dimana produksi ASI cukup, ASI
10


ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai
umur 6 bulan. ASI matur merupakan suatu cairan berwarna putih kekuningan yang
diakibatkan warna dari garam Ca-caseinat, riboflavin, dan karoten yang terdapat di
dalamnya. ASI matur ini tidak akan menggumpal jika dipanaskan dan terdapat
beberapa antimikrobial, antara lain: antibodi terhadap bakteri dan virus, sel (fagosit
granulosit, makrofag dan limfosit T), enzim, protein (laktoferin, B12 binding
protein), faktor resisten terhadap stafilokokus, komplemen, interferron producting
cell, dan hormon-hormon (Soetjiningsih, 1997).

II.1.3.2.2. Komposisi ASI secara Umum :

i. Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu
sumber energi bagi otak. Kadar laktosa dalam ASI dua kali lipat dibandingkan
dengan kadar laktosa dalam susu formula. Penyerapan laktosa ASI lebih baik
dibandingkan laktosa susu formula atau susu sapi sehingga angka kejadian diare
intoleransi laktosa pada pemberian ASI lebih sedikit (IDAI, 2008).

ii. Protein
Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah
diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein casein
yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Disamping itu, beta laktoglobulin yaitu fraksi
dari protein whey yang banyak terdapat di protein susu sapi dan dapat menyebabkan
alergi tidak terdapat dalam ASI. Kualitas protein ASI lebih baik dibanding susu sapi.
ASI mempunyai jenis asam amino lebih lengkap dibandingkan susu sapi. Salah satu
contohnya adalah taurin. Taurin diperkirakan mempunyai peranan pada
perkembangan otak karena protein ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada
jaringan otak yang sedang berkembang. Kadar taurin dalam susu formula hanya
sedikit dibandingkan susu sapi. Jumlah dan kualitas nukleutida ASI lebih banyak dan
lebih bagus dibanding susu sapi. Nukleutida ini memiliki peranan dalam
meningkatkan pertumbuhan dan kematangan usus, merangsang pertumbuhan bakteri
11


baik dalam usus dan meningkatkan penyerapan besi dan daya tahan tubuh
(Soetjiningsih, 1997).

iii. Lemak
Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi dan susu
formula. Kadar lemak yang tinggi ini dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan
otak yang cepat selama masa bayi. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan
dalam perkembangan otak bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI
juga banyak mengadung asam lemak rantai panjang diantaranya asam
dokosaheksanoik (DHA) dan asam arakidonat (ARA) yang berperan terhadap
perkembangan jaringan saraf dan mata. Susu sapi tidak mengandung DHA dan ARA
oleh karena itu hampir semua susu formula ditambahkan DHA dan ARA, tetapi DHA
dan ARA yang ditambahkan ke dalam susu formula tidak sebaik yang terdapat dalam
ASI (IDAI, 2008).

iv. Vitamin
Semua vitamin terkandung dalam ASI manusia, tetapi dalam jumlah bervariasi,
dan pemberian makanan pada ibu akan meningkatkan sekresinya (Cunningham,
2002).

v. Mineral
Kadar mineral dalam ASI tidak begitu dipengaruhi oleh makanan yang
dikonsumsi ibu dan tidak pula dipengaruhi status gizi ibu. Mineral di dalam ASI
memiliki kualitas lebih baik dan lebih mudah diserap dibandingkan dengan mineral
dalam susu sapi. Mineral utama yang terdapat dalam ASI adalah kalsium yang
berfungsi untuk pertumbuhan jaringan otot dan tulang, transmisi jaringan saraf dan
faktor pembekuan darah. Kandungan zat besi baik dalam ASI maupun susu formula
keduanya rendah serta bervariasi, namun zat besi dalam ASI lebih mudah diserap.
Kandungan mineral zink ASI jauh lebih rendah dari susu formula, tetapi tingkat
penyerapannya lebih baik. Penyerapan zink dalam ASI, susu sapi, dan susu formula
berturut-turut 60%, 43-50%,, dan 27-32%. Mineral dalam ASI yang kadarnya lebih
12


tinggi dibanding susu formula adalah selenium, yang sangat dibutuhkan pada saat
pertumbuhan anak cepat (Soetjiningsih, 1997).

II.1.4. Keunggulan ASI dan Manfaat Menyusui
Keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu: aspek
gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan
aspek penundaan kehamilan (Kristiyanasari, 2009).

II.1.4.1. Manfaat ASI Bagi Bayi.
i. Manfaat Kolostrum
Beberapa manfaat kolostrum untuk bayi diantaranya kolostrum mengandung zat
kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi
terutama diare, mengandung protein, vitamin A yang tinggi dan mengandung
karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-
hari pertama kelahiran. Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang
pertama berwarna hitam kehijauan, jumlah kolostrum yang bervariasi walaupun
sedikit namun cukup untuk memenuhi gizi bayi (Soetjiningsih, 1997).

ii. Aspek Psikologik
Saat proses menyusui terjadi kontak langsung antara ibu dan bayi sehingga
timbul ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi. Bayi akan merasa aman dan puas
karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang
sudah dikenal sejak masih dalam rahim. Adanya interaksi tersebut penting untuk
pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi (Kristiyanasari, 2009).

iii. Aspek Kecerdasan
Interaksi ibu-bayi dan kandungan gizi ASI sangat dibutuhkan untuk
perkembangan sistem syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi.
Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI secara eksklusif
memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi
pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan
dengan bayi yang tidak diberi ASI (IDAI, 2008).
13


II.1.4.2. Manfaat ASI Bagi Ibu.
i. Aspek kontrasepsi
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan.
Penghisapan puting payudara akan menghambat sekresi LH dan FSH. Dengan
demikian menyusui mencegah ovulasi dan berfungsi sebagai cara mencegah
kehamilan walaupun tidak 100% efektif sebagai alat kontrasepsi (Sherwood, 2001).

ii. Aspek Kesehatan Ibu
Isapan bayi pada puting ibu merangsang keluarnya hormon oksitosin yang
membantu involusi uterus dan mencegah perdarahan pasca persalinan. Penundaan
haid dan pencegahan perdarahan pasca persalinan dapat mengurangai kejadian
anemia defisiensi besi. Penelitian membuktikan menyusui bayi secara eksklusif dapat
menurunkan angka kejadian kanker payudara dan ovarium sebanyak 25 %
(Cunningham, 2002).

iii. Aspek Penurunan Berat Badan
Ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif ternyata dapat lebih mudah dan
cepat kembali ke berat badan semula seperti sebelum hamil (Roesli, 2000).

II.1.4.3. Manfaat ASI Bagi Keluarga.
Memberikan ASI secara eksklusif dapat menghemat pengeluaran dana keluarga
karena keluarga tidak memerlukan dana tambahan untuk membeli susu formula selain
itu menyusui sangat praktis. Karena dapat diberikan kapan saja dan dimana saja
keluarga tidak perlu menyiapkan air masak, botol, dan dot yang harus dibersihkan
terlebih dulu (Kristiyanasari, 2009).

II.1.4.4. Manfaat ASI Bagi Negara.
Adanya faktor protektif dan zat nutrisi yang sesuai dalam ASI menjamin status
gizi bayi baik dan dapat menghindari bayi dan anak dari penyakit infeksi misalnya
diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah sehingga akan
menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi selain itu dapat pula menghemat
subsidi rumah sakit dan menghemat devisa Negara karena anak yang mendapatkan
14


ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dari pada bayi yang di beri susu formula. Jika
semua ibu menyusui diperkirakan dapat menghemat devisa Negara yang seharusnya
digunakan untuk membeli susu (Kristiyanasari, 2009).
II.1.5. ASI Eksklusif
II.1.5.1. Pengertian
Pemberian ASI eksklusif adalah hanya memberikan air susu ibu saja tanpa
makanan atau minuman lain sejak lahir hinga bayi berusia enam bulan (MENEGAP,
2007) Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) dan UNICEF merekomendasikan
menyusui eksklusif sejak lahir selama enam bulan pertama hidup anak, dan tetap
disusui bersama pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang cukup sampai
berusia dua tahun atau lebih.

II.1.6. Menyusui
II.I.6.1. Pengertian menyusui
Menyusui adalah proses pemberian ASI kepada bayi untuk memenuhi kebutuhan
nutrisinya (Hait, 2003).

II.1.6.2. Langkah-langkah sukses menyusui 6 bulan pertama
IDAI (2008), menyatakan bahwa untuk memaksimalkan manfaat menyusui, bayi
sebaiknya disusui selama 6 bulan pertama. Beberapa langkah yang dapat
mensukseskan menyusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama, antara lain :
i. Biarkan bayi menyusu sesegera mungkin setelah bayi lahir terutama dalam 1
jam pertama (inisiasi menyusui dini), karena bayi baru lahir sangat aktif dan
tanggap dalam 1 jam pertama dan setelah itu akan mengantuk dan tertidur. Proses
menyusui dimulai segera setelah lahir dengan membiarkan bayi diletakan di dada
ibu sehingga terjadi kontak antara kulit ibu dan bayi. Bayi akan mulai merangkak
untuk mencari puting ibu dan menghisapnya. Kontak kulit dengan kulit ini akan
merangsang aliran ASI, membantu ikatan batin (bonding) ibu dan bayi serta
perkembangan bayi.
15


ii. Meyakinkan ibu bahwa ASI adalah makanan pertama dan satu-satunya bagi
bayi. Tidak ada makanan atau cairan lain (seperti gula, air, susu formula) yang
diberikan karena akan menghambat keberhasilan proses menyusui.
iii. Susui bayi sesuai kebutuhannya sampai puas. Bila bayi puas, maka ia akan
melepaskan puting dengan sendirinya.
iv. Bayi melekat dengan benar pada payudara sehingga ia menyusu secara efektif.
v. Lingkungan mendukung kegiatan menyusui.

II.1.6.3. Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui

WHO dan UNICEF telah mengeluarkan pernyataan bersama pada tahun 1989
tentang sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui berupa perlindungan,
promosi dan dukungan untuk menyusui di fasilitas pelayanan ibu bersalin
(MENEGPP, 2007).
Sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui sebagai berikut :
i. Sarana pelayanan kesehatan mempunyai kebijakan tentang penerapan 10 langkah
menuju keberhasilan menyusui dan melarang promosi MPASI (makanan
pendamping ASI).
ii. Sarana pelayanan kesehatan melakukan pelatihan untuk staf sendiri atau staf
lainnya.
iii. Menyiapkan ibu hamil untuk mengetahui manfaat ASI dan langkah keberhasilan
menyusui. Memberikan konseling apabila ibu penderita infeksi HIV positif
iv. Melakukan kontak dan inisiasi menyusui dini bayi baru lahir (1/2-1 jam setelah
lahir).
v. Membantu ibu melakukan teknik menyusui yang benar (posisi pelekatan tubuh
bayi dan pelekatan mulut bayi pada payudara).
vi. Hanya memberikan ASI saja tanpa minuman pralaktal sejak bayi lahir.
vii. Melaksanakan rawat gabungan ibu dan bayi.
viii. Melaksanakan pemberian ASI sesering dan semau bayi.
ix. Tidak memberikan dot atau kempeng.
x. Menindak lanjuti ibu-bayi setelah pulang dari sarana pelayanan kesehatan.
16


II.1.6.4. Teknik Menyusui
Agar proses menyusui dapat berjalan dengan lancar seorang ibu harus mempunyai
keterampilan menyusui agar ASI dapat mengalir dari payudara ibu ke mulut bayi
secara lancar, keterampilan menyusui yang baik meliputi posisi menyusui dan
pelekatan bayi pada payudara yang tepat (IDAI, 2008).

i. Posisi Menyusui
Posisi menyusui haruslah senyaman mungkin. Posisi badan ibu saat menyusui
dapat dengan posisi duduk, posisi tidur terlentang, dan posisi tidur miring. Seperti
pada gambar 4. Posisi pertama yaitu jaga bayi di perut ibu sampai kulit bayi dan kulit
ibu saling bersentuhan. Biarkan tubuhnya menghadap ke arah ibu, dan letakkan
kepala bayi pada siku ibu. Posisi kedua satu lengan mendukung tubuh bayi dan yang
lain mendukung kepala. Posisi menyusui ini bagus untuk bayi prematur atau ibu
dengan puting payudara kecil. Posisi ketiga yaitu ibu berbaring miring dan pastikan
perut bayi menyentuh tubuh ibu. Posisi keempat caranya, pegang bayi di samping ibu
dengan kaki di belakang ibu dan bayi terselip di bawah lengan ibu, seolah-olah ibu
sedang memegang bola (Rumah bunda, 2011).
Bila Posisi tubuh benar maka akan tampak posisi muka bayi menghadap
payudara, perut atau dada bayi melekat pada perut atau dada ibu, seluruh badan bayi
menghadap ke badan ibu sehingga telinga bayi membentuk garis lurus dengan lengan
bayi dan leher bayi, seluruh punggung bayi tersanggah dengan baik, ada kontak mata
antara ibu dan bayi, kepala terletak di lengan bukan di daerah siku (IDAI, 2008).

Gambar.4 Posisi Menyusui (www. rumahbunda.com)


1
4
3
2
17


Jika posisi menyusui tidak benar akan tampak leher bayi terputar dan cenderung
kedepan, badan bayi menjauhi badan ibu, badan bayi tidak menghadap ke badan ibu,
hanya leher dan kepala yang tersanggah, tidak ada kontak mata antara ibu dan bayi
(DEPKES RI, 2007)
Jika bayi tidak melekat dengan baik maka akan menimbulkan luka dan nyeri pada
puting susu dan payudara akan membengkak karena ASI tidak dikeluarkan secara
efektif, bayi merasa tidak puas dan ingin menyusu dengan sering dan lama, bayi akan
mendapat ASI sangat sedikit dan berat badan bayi tidak naik dan lambat laun ASI
akan mengering. Beberapa penyebab posisi menyusui kurang baik diantaranya
penggunaan asupan botol dilakukan sebelum menyusui dimantapkan sebagai
tambahan setelah menyusui, ibu tidak berpengalaman karena bayi yang dilahirkan
merupakan bayi pertama, pemberian asupan botol sebelumnya, kesulitan fungsional
meliputi bayi kecil atau lemah, puting dan sekitarnya kurang lentur, payudara
bengkak, terlambat dalam memulai menyusui bayi, kurang trampil karena kurangnya
bantuan tradisional dan dukungan masyarakat, dokter, perawat, bidan tidak dilatih
memberi bantuan (DEPKES RI, 2007)

II.1.6.5. Lama dan Frekuensi Menyusui
Bayi sebaiknya disusui sesering dan selama bayi menginginkannya bahkan pada
malam hari. Menyusui pada malam hari membantu mempertahankan suplai ASI
karena hormon prolaktin dikeluarkan terutama pada malam hari (IDAI, 2008)
menyusui pada malam hari juga sangat berguna bagi ibu yang sedang bekerja, karena
dengan sering menyusui pada malam hari akan meningkatkan produksi ASI dan dapat
menunda kehamilan. Hormon prolaktin terutama disekresikan pada malam hari
dimana hormon tersebut dapat menghambat ovulasi sehingga berfungsi untuk
kontrasepsi alami (Soetjiningsih, 1997)

II.1.6.6. Menurut Siregar (2004), Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemberian
ASI, antara lain :
Pengetahuan mengenai ASI eksklusif
Dukungan suami
18


Promosi susu formula dan makanan tambahan ASI
Sosial budaya, ekonomi (pendidikan formal ibu, pendapatan keluarga, status kerja
ibu)
Faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita, tekanan batin)
Kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat
pengetahuan tentang manfaat pemberian ASI dan dorongan memberikan ASI.
Kurangnya pemberian cuti kehamilan.

II.1.7. Kendala Pemberian ASI Eksklusif
II.1.7.1. Masalah menyusui masa antenatal :
i. Kurang atau salah informasi
banyak ibu yang merasa bahwa susu formula sama baiknya atau malah lebih baik
dari ASI sehingga cepat menambah susu formula bila merasa bahwa ASI kurang.
Petugas kesehatan pun masih banyak yang tidak memberikan informasi pada saat
pemeriksaan kehamilan atau saat memulangkan bayi (Kristiyanasari, 2009) sebagai
contoh, banyak ibu atau petugas kesehatan yang tidak mengetahui bahwa :
 Bayi pada minggu-minggu pertama defekasinya encer dan sering, sehingga
bayi dikatakan menderita diare dan seringkali petugas kesehatan menyuruh
menghentikan menyusui. Padahal sifat defekasi bayi yang mendapat
kolostrum memang demikian karena kolostrum bersifat laksans.
 ASI belum keluar pada saat pertama sehingga bayi dianggap perlu diberikan
minuman lain. Padahal bayi yang lahir cukup bulan dan sehat mempunyai
persediaan kalori dan air yang dapat dipertahankan tanpa minuman selama
beberapa hari. Disamping itu pemberian minuman sebelum ASI akan
memperlambat pengeluaran ASI oleh karena bayi merasa kenyang dan enggan
untuk menyusu.
 Karena payudara kecil dianggap kurang menghasilkan ASI. Padahal ukuran
payudara tidak menentukan apakah produksi ASI cukup atau kurang karena
ukuran payudara ditentukan oleh banyaknya lemak pada payudara sedangkan
kelenjar payudara penghasil ASI sama banyaknya walaupun payudara kecil
19


dan produksi ASI dapat tetap mencukupi apabila manajemen laktasi dilakukan
dengan baik dan benar.

ii. Puting susu datar atau terbenam
Untuk diagnosis puting ada kelainan apa tidak, yaitu dengan cara menjepit daerah
areola payudara antara ibu jari dan telunjuk dibelakang puting susu. Apabila puting
menonjol maka puting tersebut normal, tetapi bila puting tidak menonjol berarti
puting tersebut mengalami inverse/mendatar (Soetjiningsih, 1997).
Setelah bayi lahir puting susu datar atau terbenam dapat dikeluarkan dengan cara
susui bayi secepatnya segera setelah lahir saat bayi aktif dan ingin menyusu, susui
bayi sesering mungkin (misalnya tiap 2-2 ½ jam), ini akan menghindarkan payudara
terisi terlalu penuh dan memudahkan bayi untuk menyusu, massage payudara dan
mengeluarkan ASI secara manual sebelum menyusui dapat membantu bila terdapat
bendungan payudara dan puting susu tertarik ke dalam, pompa ASI yang efekif bukan
yang berbentuk “terompet” atau bentuk (squeeze dan bulb) dapat dipakai untuk
mengeluarkan puting susu pada waktu menyusui (IDAI, 2008)

II.1.7.2. Masalah menyusui pada masa nifas
i. Puting payudara nyeri
Umumnya ibu akan merasa payudaranya terasa nyeri pada awal menyusui.
Perasaan sakit ini akan berkurang setelah ASI keluar. Bila posisi mulut bayi dan
puting susu ibu benar, perasaan nyeri akan segera hilang (Kristiyanasari, 2009).
Cara menangani puting payudara terasa nyeri yaitu pastikan posisi menyusui
sudah benar, mulailah menyusu pada puting susu yang tidak sakit, untuk membantu
mengurangi sakit pada puting susu yang sakit, segera setelah menyusui, keluarkan
sedikit ASI oleskan di puting susu dan biarkan payudara terbuka untuk beberapa saat
sampai puting susu kering (Soetjiningsih, 1997).

ii. Puting susu lecet atau puting luka
Kelainan ini merupakan salah satu kendala dalam proses menyusui. Penyebab
utama dari puting lecet ini adalah perlekatan yang kurang baik. Bila bayi tidak
melekat dengan baik, bayi akan menarik puting, mengigit dan menggesek kulit
20


payudara sehingga menimbulkan rasa yang sangat nyeri dan bila bayi terus menyusu
akan merusak kulit puting payudara dan menimbulkan luka atau retak pada puting
(IDAI, 2008).
Menurut Soetjiningsih (1997), penatalaksanaan puting lecet sebagai berikut :
Bayi harus disusukan terlebih dulu pada puting yang normal atau yang lecetnya
sedikit. Untuk menghindari tekanan lokal pada puting, maka posisi menyusui
harus sering dirubah. Untuk puting yang sakit dianjurkan untuk mengurangi
frekuensi dan lamanya menyusui.
Setiap kali habis menyusui bekas ASI tidak perlu dibersihkan, tetapi didiamkan di
udara agar kering dengan sendirinya. Karena bekas ASI berfungsi sebagai
pembalut puting dan anti infeksi.
Jangan mengunakan sabun, alkohol atau zat iritan lain untuk membersihkan
puting.
Puting susu bisa dioleskan minyak lanolin atau minyak kelapa yang sudah
dimasak terlebih dulu.
Menyusui lebih sering (6-12 kali dalam 24 jam), sehingga payudara tidak terisi
terlalu penuh dan bayi tidak terlalu lapar sehingga bayi menyusu tidak terlalu
rakus.
Lakukan pemeriksaan apakah bayi manderita moniliasis, yang dapat
menyebabkan lecet pada puting susu ibu. Kalau ditemukan gejala moniliasis
dapat diberikan nistatin.

iii. Payudara bengkak
Pada hari pertama (sekitar 2-4 jam) payudara sering terasa penuh dan nyeri
disebabkan karena bertambahnya aliran darah ke payudara bersamaan dengan
dimulainya produksi ASI dalam jumlah banyak (Roesli, 2000)
Pembengkakan payudara terjadi karena ASI tidak dikeluarkan dengan adekuat,
sehingga sisa ASI tekumpul pada sistem duktus yang mengakibatkan terjadinya
pembengkakan. Payudara bengkak ini sering terjadi pada hari ketiga atau keempat
sesudah ibu melahirkan. Stasis pada pembuluh darah dan limfe akan mengakibatkan
21


peningkatan tekanan intraduktal, yang akan mempengaruhi berbagai segmen pada
payudara, sehingga tekanan seluruh payudara meningkat, akibatnya payudara sering
terasa penuh, tegang, serta nyeri. Kemudian diikuti dengan penurunan produksi ASI
dan penurunan refleks let down. B.H. yang ketat juga bisa menyebabkan segmental
engorgement, demikian pula puting yang tidak bersih dapat mengakibatkan sumbatan
pada duktus (Soetjiningsih, 1997 )
Penatalaksanaan payudara bengkak adalah susui bayi semau dan sesering
mungkin tanpa jadwal dan tanpa batas waktu, bila bayi sukar menghisap, keluarkan
ASI dengan bantuan tangan atau pompa ASI yang efektif, sebelum menyusui untuk
merangsang reflek oksitosin dapat dilakukan kompres hangat untuk mengurangi rasa
sakit, massage payudara, massage leher dan punggung, setelah menyusui kompres
dengan air dingin untuk mengurangi bengkak ( Kristiyanasari, 2009)

iv. Mastitis atau abses payudara
Mastitis merupakan peradangan parenkimal kelenjar payudara organisme
tersering adalah Sthaphylococus aureus. Mastitis memperlihatkan gejala klinis
payudara nampak merah, bengkak keras, terasa panas dan nyeri sekali. Dapat
mengenai kedua atau hanya satu payudara. Penyebabnya antara lain puting lecet atau
saluran ASI tersumbat yang tidak ditatalaksana dengan baik. Abses payudara
merupakan suatu komplikasi dari mastitis berupa kumpulan nanah yang terlokalisir
diantara jaringan payudara (Cunningham, 2002).
Penatalaksanaan mastitis sebagai berikut menyusui diteruskan, pertama bayi
disusukan pada payudara yang normal selama dan sesering mungkin, agar payudara
kosong, kemudian beri kompres hangat atau panas, bisa menggunakan shower hangat
atau lap basah pada payudara yang terkena, rubah posisi menyusui dari waktu-
kewaktu, yaitu dengan posisi tiduran, duduk atau posisi memegang bola, pakai baju
atau B.H. yang longgar, istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi,
banyak minum sekitar 2 liter perhari, bila sudah dilakukan cara-cara diatas namun
tidak ada perbaikan setelah 12 jam, maka berikan antibiotik selama 5-10 hari dan
analgesik (Soetjiningsih, 1997).
22


Abses payudara memperlihatkan gejala klinis berupa benjolan kemerahan, panas,
bengkak, dan terasa sangat nyeri. Pada benjolan teraba fluktuasi dan suhu tubuh
meningkat. Bila dijumpai keadaan ini ibu harus diistirahatkan, ASI tetap dikeluarkan,
berikan antibiotik, kompres atau berikan obat analgesik (IDAI, 2008).

II.1.7. 3. Masalah menyusui pada masa nifas lanjut
Sindrom ASI kurang
Hampir semua ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk satu bahkan dua
bayi. WHO memperkirakan 98% wanita sacara fisik mampu menghasilkan ASI untuk
bayi mereka sedikitnya selama 6 bulan. Dua persen wanita lainnya terhambat oleh
penyakit, terjadinya hambatan secara fisik, atau bayi kesulitan untuk menghisap pada
saat menyusu. Kurangnya keyakinan akan persediaan ASI membuat para ibu
menyerah untuk memberikan ASI eksklusif (Welford, 2008).
Tanda bahwa ASI kurang antara lain pada bulan pertama berat badan bayi
meningkat kurang dari 300 gram (dalam 1 minggu pertama kelahiran berat badan
bayi masih boleh turun sampai 10%), pada bulan kedua sampai bulan keenam berat
badan bayi meningkat kurang dari 500 gram perbulan, bayi belum mencapai berat
badan lahir dalam waktu 2 minggu, bayi mengeluarkan air seni (urin) yang pekat,
baunya tajam, atau menyengat, buang air kecil kurang dari 6 kali perhari (Depkes RI,
2007).
Tanda bayi mendapatkan ASI cukup yaitu berat badan bayi bertambah sesuai
usia, bayi menghisap payudara dengan gembira, tidak rewel atau terlalu banyak
meronta, kotoran bayi lembek. Setelah beberapa minggu, bayi biasanya buang air
besar beberapa hari sekali ada juga bayi yang buang air besar lebih sering.
Kandungan dalam ASI membuat bayi yang diberikan ASI eksklusif sangat jarang
menderita konstipasi, bayi terlihat sigap saat bangun (Welford, 2008). Hal yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalah ibu yang ASI nya kurang pertama adalah
menentukan penyebabnya terlebih dulu. Ada beberapa faktor penyebab ASI kurang
yaitu :

23


i. Faktor menyusui
Keadaan ini paling sering dijumpai seperti tidak melakukan inisiasi menyusui
dini, menjadwalkan pemberian ASI, memberikan minuman lain sebelum memberikan
ASI terutama jika memberikan minuman tersebut menggunakan botol atau dot,
kesalahan pada posisi dan perlekatan bayi pada saat menyusu, tidak mengosongkan
salah satu payudara pada saat menyusui. Sebaiknya ibu tidak menjadwalkan
pemberian ASI. Menyusui bayi sesering dan sesuai dengan keinginan bayi dapat
meningkatkan produksi ASI. Menghindari penggunaan botol atau dot pada saat
memberikan ASI dapat mencegah terjadinya bingung puting yang membuat bayi
enggan menyusu (Welford, 2008).

ii. Faktor psikologi ibu
Ibu yang dari awal merasa tidak yakin mampu memberikan ASI kepada bayinya
biasanya ASI yang dihasilkan memang sedikit. Stres, khawatir, ketidak bahagiaan ibu
saat meyusui sangat berperan dalam mensukseskan pemberian ASI eksklusif.
Dukungan keluarga sangat penting untuk meningkatkan keyakinan ibu bahwa mereka
mampu memberikan ASI kepada bayinya (Februhartanty, 2009)

iii. Faktor fisik ibu
Meliputi penggunaan pil KB mengandung hormon, ibu menyusui yang sedang
hamil lagi, ibu sakit, kelelahan, peminum alkohol, merokok, atau ibu yang memiliki
kelainan anatomis payudara dapat mengurangi produk ASI. Ibu yang sedang dirawat
karena sakit dan tidak adanya indikasi larangan untuk menyusui sebaiknya
melakukan rawat gabungan dengan bayinya sehingga ibu tetap bisa memberikan ASI.
Bila ibu merasa tidak bisa meyusui dianjurkan untuk memerah ASI setiap 3 jam dan
memberikan ASI perah kepada bayinya dengan menggunakan cangkir karena
pemberian ASI menggunakan botol atau dot akan menyebabkan bingung puting pada
bayi. Ibu yang sedang menjalani pengobatan harus diyakinkan bahwa obat yang
diminum tidak membahayakan bayi sehingga ibu tetap bisa memberikan ASI (IDAI,
2008).


24



iv. Ibu yang bekerja
Pekerjaan tidak bisa dijadikan alasan ibu menghentikan pemberian ASI. Ibu yang
bekerja pun tetap bisa memberikan ASI pada bayinya. beberapa cara agar ibu bekerja
tetap bisa mamberikan ASI antara lain memerah ASI sebelum bekerja untuk
persediaan ASI di rumah selama ibu bekerja kemudian ASI bisa di simpan di lemari
pendingin dan dapat diberikan kepada bayi dengan cangkir selama ibu bekerja, bila
memungkinkan ibu pulang pada siang hari untuk menyusui jika tidak lakukan
pemerahan ASI setiap 3-4 jam di tempat kerja, pada saat ibu di rumah sesering
mungkin ibu menyusui bayinya terutama pada malam hari, keterampilan memerah
ASI dan merubah jadwal pemberian ASI terutama pada malam hari sebaiknya
dilakukan satu bulan sebelum kembali bekerja, tidak menggunakan susu formula pada
hari libur, Minum dan makan makanan bergizi selama ibu bekerja dan menyusui
(Kristiyanasari, 2009).

II.1.7. 4. Masalah menyusui pada keadaan khusus
i. Ibu melahirkan dengan bedah sesar
Posisi menyusui yang dianjurkan yaitu ibu bisa dalam posisi miring dengan bahu
dan kepala disanggah oleh bantal, sementara bayi disusukan dengan kakinya ke arah
ibu, apabila ibu sudah dapat duduk bayi dapat ditidurkan di atas batal di atas
pangkuan ibu dengan posisi kaki mengarah ke belakang ibu di bawah lengan ibu,
dengan posisi memegang bola (football position) yaitu ibu terlentang dan bayi berada
di atas ketiak ibu dengan kaki kearah atas dan tangan ibu memegang bayi
(Soetjiningsih, 1997).

ii. Ibu sakit
a. Ibu penderita hepatitis B atau AIDS (+)
Ibu yang terkena hepatitis atau AIDS tidak diperbolehkan menyusui bayinya,
karena dapat menularkan virus ke bayi melalui ASI. Namun demikian pada kondisi di
Negara berkembang dimana kondisi ekonomi dan lingkungan yang buruk sehingga
tidak bisa menyediakan makanan pengganti ASI yang baik, pemberian makanan
25


pengganti ASI justru dapat membahayakan kesehatan dan kehidupan bayi oleh karena
itu WHO berpendapat pemberian ASI jauh lebih baik daripada makanan pengganti
ASI (Kristiyanasari, 2009).

b. Ibu dengan TBC paru
Bakteri tuberculosis tidak ditularkan melalui ASI sehingga ibu yang menderita
TBC tetap boleh menyusui bayinya. Sebagai tindakan pencegahan penularan penyakit
ibu dianjurkan menggunakan masker, bayi diberikan INH dengan dosis penuh
sebagai profilaksis. Setelah 3 bulan dilakukan tes mantoux kepada bayi jika hasilnya
negatif maka INH dihentikan dan bayi diberikan vaksin BCG (IDAI, 2008).

iii. Ibu yang memerlukan pengobatan
Banyak ibu yang menghentikan memberikan ASI bila meminum obat-obatan
karena takut obat yang dikonsumsi dapat mempengaruhi ASI. Kadar obat dalam ASI
tergantung dari masa paruh obat dan rasio obat dalam plasma dan ASI. Beberapa obat
tidak mencapai ASI. Beberapa obat mungkin mencapai ASI namun tidak
membahayakan bayi karena tidak diserap oleh usus juga usus bayi. Beberapa obat
mungkin dapat mencapai ASI diserap oleh usus bayi namun tidak ada efek yang
membahayakan. Jika harus mengkonsumsi obat sebaiknya menberitahukan atau
mengingatkan dokter bahwa sedang menyusui (Welford, 2008).

iv. Menyusui saat hamil
Terus memberikan ASI pada saat sedang hamil tidak membahayakan ibu maupun
janinnya namun ibu harus mendapatkan tambahan kalori, vitamin, banyak minum dan
istirahat yang cukup (Soetjiningsih, 1997).
II.1.7. 5. Masalah menyusui pada bayi
i. Bayi bingung puting
Bingung puting adalah suatu keadaan yang terjadi karena bayi mendapatkan susu
formula dalam botol berganti-ganti dengan menyusu pada ibu. Bingung puting terjadi
karena mekanisme menyusu menggunakan botol dan menyusui melalui payudara ibu
berbeda. Menyusui melalui ibu memerlukan kerja otot-otot pipi, gusi, langit-langit,
dan lidah sedangkan menyusu melalui botol secara pasif bayi dapat menperoleh susu.
26


Tanda-tanda bayi bingung puting antara lain bayi menghisap puting seperti
menghisap botol, menghisap secara putus-putus, bayi menolak menyusu
(Kristiyanasari, 2009).
Pencegahan terjadinya bingung puting yaitu jangan mudah mengganti ASI
dengan susu formula. Bila terpaksa harus menggunakan susu formula sebaiknya
berikan susu dengan menggunakan sendok, pipet atau cangkir, jangan sekali-sekali
menggunakan botol dan dot atau memberikan kempeng (Soetjiningsih, 1997).

ii. Bayi prematur dan bayi berat badan lahir rendah
Bayi berat lahir rendah terlalu lemah untuk menghisap puting saat menyusu atau
mereka lelah sebelum menelan ASI (Nelson, 1999) selain itu bayi dengan berat lahir
rendah atau prematur reflek menghisapnya masih relatif lemah. Oleh karena itu bayi
kecil harus cepat dan lebih sering dilatih menyusu (Kristiyanasari,2009).

iii. Bayi kembar
ASI yang dihasilkan ibu cukup untuk menyusui bayi kembar mereka. Ibu dapat
menyusui bayi mereka secara bergantian, tetapi ibu juga bisa manyusui bayi mereka
secara bersamaan. Salah satu posisi yang mudah untuk menyusui bayi kembar adalah
dengan posisi memegang bola (football position). Jika ibu menyusui secara bersama-
sama sebaiknya jangan hanya menetap pada satu payudara saja. Walaupun football
position merupakan cara yang baik ibu juga sebaiknya mencoba posisi lainnya secara
berganti-gantian (Kristiyanasari, 2009).
.
II.1.8. Air Susu Ibu dan Hak Bayi
Hak anak adalah bagian dari hak azasi yang wajib dijamin, dilindungi, dan
dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan Negara.
Mendapatkan air susu ibu (ASI) merupakan salah satu hak azasi bayi yang harus
dipenuhi. Beberapa alasan yang menerangkan pernyataan tersebut yaitu karena setiap
bayi memiliki hak dasar atas makanan dan kesehatan terbaik untuk tumbuh kembang
yang optimal, setiap bayi mempunyai hak dasar atas perawatan dan interaksi
psikologis untuk kebutuhan tumbuh kembang yang optimal, dengan memberikan ASI
hak tersebut dapat terpenuhi karena ASI mengandung zat gizi yang sesuai untuk bayi
27


yang sedang dalam tahap tumbuh kembang terutama 2 tahun pertama, ASI dapat
meningkatkan daya tahan tubuh bayi, dengan memberikan ASI dapat terjalin interaksi
psikologis antara ibu dan bayi yang merupakan kebutuhan dasar tumbuh kembang
bayi (IDAI,2008).
Untuk mendukung hal tersebut telah dikeluarkan berbagai pengakuan atau
kesepakatan baik yang bersifat global maupun nasional yang bertujuan melindungi,
mempromosikan, dan mendukung pemberian ASI dan setiap bayi diseluruh dunia
memperoleh haknya mendapatkan ASI. Legasi atau kesepakatan tersebut diwujudkan
dalam bentuk konversi, kode, resolusi WHA (World Health Assembly) dan lainnya
agar setiap Negara mempunyai komitmen untuk melakukannya. Sedangkan dalam
tingkat nasional kesepakatan ini diimplementasikan dalam pasal 128 Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, mengamanatkan bayi berhak mendapatkan
air susu ibu, dan selama pemberian air susu ibu pihak keluarga, pemerintah,
pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu dan bayi secara penuh
dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus (MENEGPP, 2010).

II.1. 9. Dukungan Suami Terhadap Kemauan Ibu Menyusui
II.1.19. 1. Pengertian
Menurut Paramitha (2007), dukungan suami sangat diperlukan agar pemberian
ASI eksklusif bisa tercapai. Oleh karena itu, suami sebaiknya jadi salah satu
kelompok sasaran dalam kampanye pemberian ASI eksklusif.

II.1.9.3. Dukungan suami menurut Meiliasari (2002).
Terdapat tujuh bentuk dukungan yang harus diberikan oleh suami pada ibu yang
menyusui secara eksklusif, yaitu:
i. i. Sebagai tim penyemangat
Suami harus memberikan dukungan penyemangat kepada ibu melalui kalimat-
kalimat pujian, maupun kata-kata penyemangat. Dengan hal ini ibu akan merasa
sangat bangga dan senang dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Hal ini
berkaitan dengan refleks oksitosin. Pernyataan yang mendukung juga disampaikan
28


oleh Papu (2009), bahwa salah satu dukungan suami terhadap ibu menyusui adalah
dengan tidak melontarkan kritik terhadap bentuk tubuh istri yang umumnya memang
menjadi lebih gemuk setelah melahirkan.

ii. ii. Membantu mengatasi masalah dalam pemberian ASI
Tidak setiap ibu dapat memberikan ASI dengan lancar. Banyak ibu mengalami
masalah, mulai dari ASI yang tak keluar, puting payudara lecet, pembengkakan,
mastitis, stres, dll. Modal utama memecahkan keluhan secara benar adalah jika suami
atau ibu menguasai teori manajemen menyusui. suami bisa ikut menginformasikan
hal-hal yang diketahuinya, atau menunjukkan referensi, atau turun tangan langsung
mengatasinya. Misal, jika payudara istri harus dipijat, dikompres, jika harus berobat,
bagaimana cara menyimpan ASI perah, dll. Pernyataan yang mendukung juga
disampaikan oleh Februhartanty (2009), Untuk menguasai hal ini, sebaiknya suami
ikut pergi ke klinik laktasi sebelum program menyusui dimulai.

iii. Ikut merawat bayi
Suami dapat ikut serta dalam merawat bayi dengan membantu mengganti popok
bayi, menyendawakan bayi setelah menyusui, menggendong bayi, membantu
memandikan bayi, dan bermain dengan bayi, Pernyataan yang mendukung juga
disampaikan oleh Papu (2009), menyatakan bahwa suami juga dapat membantu
merawat anak-anak termasuk kakak si bayi.

iv. iv. Mendampingi ibu menyusui walaupun tengah malam
Mendampingi, menemani, ibu yang sedang menyusui merupakan bentuk
dukungan yang besar artinya. Sebisanya, ikut bangun saat istri terbangun tengah
malam. Atau jika tak bisa bangun malam, paling tidak jangan tunjukkan ekspresi
kesal akibat tidur yang terganggu saat bayi menangis lapar di malam hari. Tapi ada
sebuah rahasia kecil. Pemandangan suami yang terkantuk-kantuk saat menunggui istri
menyusui, akan sangat menyentuh perasaan istri dan membuat cinta istri semakin
dalam (Meiliasari, 2002).

v. v. Melayani ibu menyusui
29


suami tak bisa memberi makan bayi dengan air susu, tetapi suami dapat 'memberi
makan' bayi dengan jalan memberi makan ibu. Jadi jika ingin ambil bagian dalam
aktivitas 'memberi makan' ini, layani istri saat dia kelaparan dan kehausan selagi
menyusui. Karena menyusui sangat menguras energi, biasanya ibu butuh ekstra
asupan kalori dan cairan sesudah menyusui. suami bisa membantu membuatkan susu
hangat, telur dadar, dan camilan lain, atau potongan buah, tanpa perlu diminta, yang
disajikan untuk istri (Meiliasari, 2002).

vi. vi. Menyediakan anggaran ekstra
Hal ini bisa diupayakan bersama istri sejak dalam masa kehamilan. Menyusui
membutuhkan ekstra dana paling tidak untuk makanan tambahan ibu, suplemen, dan
peralatan menyusui lainnya (bra menyusui, alat-alat menyimpan ASI perah,dll).
Tetapi angkanya pasti jauh lebih kecil daripada bayi diberi susu formula (Meiliasari,
2002).

vii. vii. Menjaga romantisme
Diakui atau tidak, kehadiran anak akan sedikit mengusik keintiman suami istri.
Suami sesekali bisa merasa tersisihkan atau kehilangan romantisme karena istri sibuk
menjalankan peran orang tua. Terkadang istri juga merasa dirinya kurang seksi dan
kurang bergairah selagi menyusui, akibat kelelahan dan terlebih bergesernya fungsi
payudara dari organ seksual menjadi sumber makanan bayi. Jadi penting bagi suami
untuk tidak berpaling dari istrinya yang sedang menyusui. Pernyataan yang
mendukung juga disampaikan oleh (Februhartanty, 2009), menyatakan bahwa suami
harus membantu istri menciptakan suasana romantis atau hal-hal lain yang bisa
menghangatkan hubungan. Dengan demikian kegiatan menyusui bayi secara eksklusif
dapat dilaksanakan dengan baik.





30


II. 2. . Kerangka Teori

Faktor interna
Usia ibu
Pengetahuan
Sikap
Pendidikan
Pekerjaan
Motivasi
Psikologi
Pemberian
ASI eksklusif
Faktor eksterna
Ekonomi
Dukungan
Tatalaksana Rumah Sakit
Kondisi bayi
Pengawasan pengganti ASI
Perubahan sosial budaya











31



II. 3. Kerangka Konsep


D. Hipotesis


Ha :
1. Ada hubungan antara pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif
2. Ada hubungan antara dukungan suami terhadap pemberian ASI eksklusi

Pengetahuan ibu mengenai
ASI eksklusif
Dukungan suami terhadap
pemberian ASI eksklusif





Pemberian ASI
eksklusif