Anda di halaman 1dari 12

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.

20/Menhut-II/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P. 14/MENHUT-II/2011 TENTANG IZIN PEMANFAATAN KAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.14/Menhut-II/2011 telah ditetapkan Izin Pemanfaatan Kayu;

b. bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 41/P/Hum/2011 Perkara Hak Uji Materiil terhadap Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.14/Menhut-II/2011 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.65/Menhut-II/2009, beberapa Pasal dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.14/MenhutII/2011 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.65/Menhut-II/2009, untuk dicabut; c. bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan dalam pemanfaatan kayu berdasarkan prinsip tata pemerintahan yang baik, perlu mengubah beberapa ketentuan Izin Pemanfaatan Kayu;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Kehutanan tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.14/MenhutII/2011 tentang Izin Pemanfaatan Kayu; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419); 2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3687); 3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412); /4. Undang...

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696). 5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 22. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82.. sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 140). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4814). /11. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha. Pemerintah Daerah Propinsi. Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 58.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5097). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844). 9. Peraturan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3643). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4813). 7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 68. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan. 10. 6. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 15. . sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 16. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 15. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4207). Peraturan Pemerintah Nomor 3 5 Tahun 2002 tentang Dana Reboisasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 67. 8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125.~2~ 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437).

. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5285). Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2011.53/MenhutII/2009 tentang Pemasukan dan Penggunaan Alat Untuk Kegiatan Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Atau Izin Pemanfaatan Kayu (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 265).40/MenhutII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 405) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.33/Menhut-II/2012 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 779). Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 17.18/MenhutII/2011 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 191) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 48. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5112). Pemungutan dan Pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan dan Dana Reboisasi. /MEMUTUSKAN :. 19. 18. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 59/P Tahun 2011. 12.~3~ 11. 20. Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2011.18/MenhutII/2007 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Pengenaan. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.44/Menhut-II/2011 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 319). 13. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 30. 15. Tugas dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi. 21. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan.14/MenhutII/2011 tentang Izin Pemanfaatan Kayu (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 142).. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 16. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 14..14/Menhut-II/2013 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 328).33/MenhutII/2010 tentang Tata Cara Pelepasan Kawasan Hutan Produksi Yang Dapat Dikonversi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 377) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.

angka 19a. pemanenan. serta angka 28 dan angka 29. dan pemasaran. angka 19 dan angka 20. Pasal I Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. pemeliharaan. dan dari areal kawasan hutan yang telah dilepas dan dibebani HGU yang masih terdapat hasil hutan kayu dari pohon yang tumbuh secara alami sebelum terbitnya HGU. pemeliharaan. 3. disisipkan 5 (lima) angka baru yakni angka 13a. pengayaan. IUPHHK-HA adalah izin usaha yang diberikan untuk memanfaatkan hasil hutan berupa kayu dalam hutan alam pada hutan produksi melalui kegiatan pemanenan atau penebangan. 4. Izin Pemanfaatan Kayu yang selanjutnya disebut IPK adalah izin untuk memanfaatkan kayu dan/atau bukan kayu dari kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi dan telah dilepas. sehingga keseluruhan Pasal 1 berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 1. dan ketentuan diantara angka 13 dan angka 14. pemeliharaan. 5. penggunaan kawasan hutan pada hutan produksi atau hutan lindung dengan izin pinjam pakai. pembibitan. Hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah.~4~ MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P. /9. dan dari Areal Penggunaan Lain yang telah diberikan izin peruntukan. penanaman. angka 17 dan angka 18. angka 16 dan angka 29 diubah. Ketentuan Pasal 1 angka 5. Penggantian nilai tegakan adalah salah satu kewajiban selain PSDH dan DR yang harus dibayar kepada negara akibat dari izin pemanfaatan kayu. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditetapkan oleh Menteri untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. angka 7. Nilai tegakan adalah harga yang dibayar berdasarkan Laporan Hasil Produksi. angka 19b. dan angka 28a. diubah sebagai berikut: 1. IUPHHBK-HT adalah izin usaha yang diberikan untuk memanfaatkan hasil hutan berupa bukan kayu dalam hutan tanaman pada hutan produksi melalui kegiatan penyiapan lahan. pemanenan. 2. 7. penanaman. Penggunaan… . angka 17a. 6. IUPHHK-HT adalah izin usaha yang diberikan untuk memanfaatkan hasil hutan berupa kayu dalam hutan tanaman pada hutan produksi melalui kegiatan penyiapan lahan. kawasan hutan produksi dengan cara tukar menukar kawasan hutan. dan pemasaran. 8. penggunaan kawasan hutan melalui izin pinjam pakai.14/MENHUT-II/2011 TENTANG IZIN PEMANFAATAN KAYU. dan pemasaran. 14/MenhutII/2011 tentang Izin Pemanfaatan Kayu (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 142). pembibitan.

Areal Penggunaan Lain yang selanjutnya disebut APL yang telah dibebani izin peruntukan adalah areal hutan yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Propinsi.~5~ 9. Surat Perintah Pembayaran Penggantian Nilai Tegakan yang selanjutnya disebut SPP-GR adalah dokumen yang memuat besarnya kewajiban penggantian nilai tegakan yang harus dibayar oleh Wajib Bayar. Menteri. persemaian. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas azas kekeluargaan. Hutan produksi yang dapat dikonversi yang selanjutnya disebut HPK adalah kawasan hutan yang secara ruang dicadangkan untuk digunakan bagi pembangunan di luar kegiatan kehutanan. RKT adalah rencana kerja dengan jangka waktu 1 (satu) tahun yang merupakan penjabaran dari RKUPHHK (Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu). 11.Laporan Hasil Penebangan Kayu Bulat (LHP-KB) adalah dokumen tentang realisasi seluruh hasil penebangan pohon berupa kayu bulat pada petak/blok yang ditetapkan. Bendaharawan Penerima Kementerian Kehutanan adalah Pegawai Negeri Sipil Kementerian Kehutanan yang ditetapkan oleh Menteri dan diberi tugas serta wewenang untuk menerima dan menyetor ke Kas Negara dan mengadministrasikan penggantian nilai tegakan. 15. 19a. 14. 16. Pinjam pakai kawasan hutan adalah penggunaan atas sebagian kawasan hutan kepada pihak lain untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah status. 18. dalam jangka waktu berlakunya persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan. dan/atau prasarana dengan luasan yang sangat terbatas. 19b.. Tukar menukar kawasan hutan adalah perubahan kawasan hutan produksi tetap dan/atau hutan produksi terbatas menjadi bukan kawasan hutan yang diimbangi dengan memasukan lahan pengganti dari bukan kawasan hutan menjadi kawasan hutan. Pelepasan kawasan hutan adalah perubahan peruntukan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi menjadi bukan kawasan hutan. 17a.. peruntukan dan fungsi kawasan hutan.Hak Guna-Usaha (HGU) adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara. untuk melaksanakan kegiatan persiapan berupa pembibitan. 17.Dispensasi adalah persetujuan yang ditetapkan oleh Menteri. Timber cruising adalah kegiatan pengukuran. 10. 13. . Penggunaan kawasan hutan adalah penggunaan atas sebagian kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah fungsi dan peruntukan kawasan hutan tersebut. atau berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) menjadi bukan kawasan hutan. pengamatan dan pencatatan terhadap pohon yang direncanakan akan ditebang. 13a. sesuai ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria.Bagan Kerja adalah rencana kerja pelaksanaan IPK yang dibuat oleh pemohon IPK. 12. /20. 19.

Sekretaris Jenderal adalah Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang diserahi tugas dan tanggung jawab di bidang bina usaha kehutanan. Bupati/Walikota adalah Kepala penyelenggara pemerintahan daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan wilayah kerjanya. dan pembongkaran di tempat penimbunan kayu (TPK) yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota. Dinas Kabupaten/Kota adalah Dinas yang diberi tugas dan tanggung jawab di bidang kehutanan di daerah kabupaten/kota. 28. pembuatan LHP di TPn. (1a) LHP sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. Pejabat Penagih SPP-GR adalah pejabat yang ditetapkan oleh Kepala Balai atas nama Direktur Jenderal berdasarkan usulan Kepala Dinas Kabupaten/Kota. 30.~6~ 20. pemegang IPK melakukan kegiatan penebangan. 2. 22. 3. Diantara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 10 disisipkan 1 (satu) ayat baru. Volume kayu untuk perhitungan penggantian nilai tegakan dihitung berdasarkan volume pada Laporan Hasil Produksi (LHP). pengangkutan. 4. Ketentuan Pasal 2 ayat (4) dihapus. /(3a) Setelah. penyaradan. 26. Pejabat Penagih SPP-GR menerbitkan SPP-GR kepada pemegang IPK.. Diantara ayat (3) dan ayat (4) Pasal 11 disisipkan 1 (satu) ayat baru. dikenakan pembayaran penggantian nilai tegakan. 27.Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) adalah unit pelaksana teknis di bidang pemantapan kawasan hutan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Planologi Kehutanan. Berdasarkan LHP sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Dinas Provinsi adalah Dinas yang diberi tugas dan tanggung jawab di bidang kehutanan di daerah provinsi. APHI adalah Asosiasi Pengusahaan Hutan Indonesia. Gubernur adalah Kepala penyelenggara pemerintahan daerah Propinsi sesuai dengan wilayah kerjanya. . Direktur Jenderal Planologi Kehutanan adalah Direktur Jenderal yang diserahi tugas dan bertanggung jawab di bidang planologi kehutanan. (2) Berdasarkan LHP sebagaimana dimaksud pada ayat (1). yakni ayat (3a) sehingga keseluruhan Pasal 11 berbunyi sebagai berikut : Pasal 11 (1) (2) (3) Pemegang IPK wajib membayar penggantian nilai tegakan dari IPK. 29. pemuatan. pembagian batang. disahkan oleh Pejabat Pengesah LHP sesuai ketentuan yang berlaku. 21. 25. Kepala Balai adalah Kepala Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi sesuai dengan wilayah kerjanya dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal. 28a. yakni ayat (1a) sehingga keseluruhan Pasal 10 berbunyi sebagai berikut : Pasal 10 (1) Berdasarkan Keputusan pemberian IPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4). 23. Menteri adalah Menteri yang diserahi tugas dan bertanggung jawab di bidang kehutanan. 24.

pengukuran. 6. (4) Selain membayar penggantian nilai tegakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) (3) 9. (4) Selain membayar penggantian nilai tegakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan oleh Ganis-PHPL-PKB-R atau Ganis-PHPL-PKB-J yang dimiliki oleh perusahaan atau menggunakan dari pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pembagian batang. sehingga keseluruhan Pasal 23 berbunyi sebagai berikut : Pasal 23 (1) Berdasarkan Keputusan pemberian izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b dan Pasal 2 ayat (3). Pembukaan lahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan Pasal 21 dihapus. maka paling lambat 6 (enam) hari kerja Wajib Bayar harus melunasi melalui Bank Persepsi yang telah ditetapkan. Ketentuan Pasal 23 ayat (3) diubah. pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan dapat melakukan penebangan pohon dalam rangka pembukaan lahan.. yakni ayat (3a) sehingga keseluruhan Pasal 18 berbunyi sebagai berikut : Pasal 18 (1) (2) Pemegang IPK wajib membayar penggantian nilai tegakan dari IPK. 5. pemegang IPK tetap diwajibkan membayar PSDH dan DR sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. penyaradan. maka paling lambat 6 (enam) hari kerja Wajib Bayar harus melunasi melalui Bank Persepsi yang telah ditetapkan. 7. 8. meliputi kegiatan penebangan pohon. pengumpulan kayu. Diantara ayat (3) dan ayat (4) Pasal 18 disisipkan 1 (satu) ayat baru.~7~ (3a) Setelah terbitnya SPP-GR sebagaimana dimaksud p a d a a y a t ( 3 ) . . Volume kayu untuk perhitungan penggantian nilai tegakan dihitung berdasarkan volume pada Laporan Hasil Produksi (LHP). dengan membayar lunas kewajiban PSDH. yang pelaksanaannya wajib dilakukan secara bertahap sesuai dengan rencana kerja pembukaan lahan tahunan. Pengukuran sebagaimana dimaksud pada ayat (2). DR dan penggantian nilai tegakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan pelaporan di dalam arealnya. (3) Berdasarkan LHP sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Ketentuan Pasal 22 dihapus. pemegang IPK tetap diwajibkan membayar PSDH dan DR sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (3a) Setelah terbitnya SPP. Ketentuan Pasal 24 diubah. sehingga keseluruhan Pasal 24 berbunyi sebagai berikut : Pasal 24.G R sebagaimana dimaksud p a d a a y a t ( 3 ) . Pejabat Penagih SPP-GR menerbitkan SPP-GR kepada pemegang IPK..

sehingga keseluruhan Pasal 25 berbunyi sebagai berikut : Pasal 25 (1) Dalam hal areal izin pinjam pakai berada di kawasan hutan yang tidak dibebani atau dibebani Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu. (2) 11. Kayu hasil penebangan wajib dilakukan pengukuran dan dibuatkan LHP oleh Ganis-PHPL-PKB-R atau Ganis-PHPL-PKB-J sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kepala Dinas Kabupaten/Kota setempat memerintahkan Pejabat Pengesah Laporan Hasil Produksi (P2LHP) untuk dilakukan pemeriksaan atas kesesuaian: 1. Dalam. dilakukan oleh tenaga Wasganis-Canhut dari Dinas Kabupaten/Kota. dilaporkan untuk dimintakan pengesahan oleh pemegang izin pinjam pakai kepada Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota dengan tembusan Kepala Dinas Propinsi. diperbaharui setiap tahun selama jangka waktu izin pinjam pakai. kayu hasil penebangan dalam rangka pembukaan lahan menjadi milik pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan. Ketentuan Pasal 26 diubah. Bank Garansi sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Bukti penyampaian Bank Garansi dari bank pemerintah. Areal penebangan berdasarkan lokasi sesuai izin pinjam pakai. dan disimpan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota untuk dapat dicairkan setiap saat apabila dipenuhinya kewajiban pembayaran iuran kehutanan. dan Kepala BPKH dengan dilampiri: 1.. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (3). maka penawaran kayu diprioritaskan kepada pemegang IUPHHK yang bersangkutan. Pelaksanaan Timber Cruising sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Balai. pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan wajib melakukan Timber Cruising dengan intensitas 100% (seratus persen) atas areal yang akan dilakukan pembukaan lahan sesuai dengan rencana kegiatan pertahun. Berdasarkan laporan tersebut. dan 2. Ketentuan Pasal 25 diubah. (2) (3) (4) 10. sebagai berikut: a. LHP dengan fisik kayu. LHP sebagaimana dimaksud pada huruf a. . d. DR dan penggantian nilai tegakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1). b. Berdasarkan hasil Timber Cruising sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan 2. sehingga keseluruhan Pasal 26 berbunyi sebagai berikut : Pasal 26 Prosedur pengenaan PSDH.~8~ Pasal 24 (1) Sebelum melaksanakan kegiatan pembukaan lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. Pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan diwajibkan menyampaikan Bank Garansi dari bank pemerintah yang besarnya 100% (seratus persen) dari taksiran volume tebangan berdasarkan rekapitulasi LHC. Dalam hal pemegang IUPHHK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Foto copy izin pinjam pakai. c. membutuhkan kayu pada areal yang dibebani izin pinjam pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (1)..

Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan telah sesuai. Ketentuan Pasal 29 diubah. Keputusan Menteri Kehutanan tentang Pelepasan Kawasan Hutan. b. Pejabat Penagih menerbitkan SPP-PSDH. sehingga keseluruhan Pasal 29 berbunyi sebagai berikut : Pasal 29 Prosedur pembukaan lahan pada areal kawasan hutan yang telah dilepas dan dibebani HGU yang masih terdapat hasil hutan kayu dari pohon yang tumbuh secara alami sebelum terbitnya HGU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. c. . dan penggantian nilai tegakan. pemegang HGU tetap dikenakan PSDH. 12. Atas. Atas dasar laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2). Dalam hal pada areal HGU terdapat hasil hutan kayu dari pohon yang tumbuh secara alami sebelum terbitnya HGU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) a k a n d i l a k u k a n k e g i a t a n p e n g g u n a a n l a h a n . dilengkapi persyaratan: 1. DR dan penggantian nilai tegakan. Foto copy akte pendirian perusahaan pemegang HGU atau foto copy KTP apabila pemegang HGU perorangan. Ketentuan Pasal 28 diubah.. Laporan yang disampaikan pemegang HGU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2). f. DR. Setelah terbitnya SPP sebagaimana dimaksud p a d a huruf e. DR. Berdasarkan LHP yang telah disahkan sebagaimana dimaksud pada huruf d. Kepala Dinas Kabupaten/Kota memerintahkan kepada WasganisPHPL-Canhut untuk melaksanakan timber cruising dengan intensitas 100% (seratus persen) terhadap potensi hasil hutan kayu yang dimohon untuk dimanfaatkan/pembukaan lahan. Foto copy HGU yang telah dilegalisir pejabat yang berwenang. Dalam hal areal HGU berasal dari APL tidak diperlukan persyaratan sebagaimana dimaksud pada huruf a butir 3. 2. P2LHP melakukan pengesahan LHP sebagai dasar pengenaan PSDH. pengenaan PSDH. sehingga keseluruhan Pasal 28 berbunyi sebagai berikut : Pasal 28 (1) Dalam hal pada areal kawasan hutan yang telah dilepas dan dibebani HGU masih terdapat hasil hutan kayu dari pohon yang tumbuh secara alami sebelum terbitnya HGU. (2) (3) 13. HGU sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemegang HGU wajib melaporkan kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota.~9~ d. dan 3. d. berlaku dan melekat sebagai IPK.. e. dan Penggantian Nilai Tegakan sebagai berikut: a. maka dalam tenggang waktu paling lambat 6 (enam) hari kerja Wajib Bayar harus melunasi melalui Bank Persepsi yang telah ditetapkan. SPP-DR dan SPP-GR.

14.. Ketentuan Pasal 32.. Permohonan perpanjangan IPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 18. dihapus. untuk menerbitkan SPP PSDH. DR dan Pejabat Penagih penggantian nilai tegakan. Atas SPP PSDH. serta menambah 1 (satu) ayat baru. Berdasarkan hasil cruising sebagaimana dimaksud huruf c. Ketentuan Pasal 35. g. Dalam hal pemegang HGU tidak memiliki tenaga yang berkualifikasi sebagai Ganis-PHPL-PKB atau Ganis-PKB-J. Atas dasar hasil cruising sebagaimana dimaksud huruf c. Berdasarkan Daftar Kayu Bulat (DKB). Ketentuan Pasal 42 ayat (1) dan ayat (2) diubah. e. tetapi di dalam areal masih terdapat kayu hasil penebangan. dihapus. Atas bukti setor PSDH. yakni ayat (3). maka pejabat penerbit IPK dapat memperpanjang masa berlaku IPK sampai selesainya pengangkutan kayu. Dalam hal IPK telah berakhir. Ketentuan Pasal 30. sehingga keseluruhan Pasal 42 berbunyi sebagai berikut : Pasal 42 (1) (2) IPK diberikan paling lama untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. dibuat laporan hasil cruising yang dilengkapi dengan Berita Acara. Ketentuan Pasal 36. dihapus. 15. pemegang HGU dapat mengajukan permohonan pengangkutan kayu bulat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota memerintahkan Pejabat Penagih PSDH. SPP DR dan SPP-GR. pemegang HGU melakukan pembayaran di Bank Persepsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 19. Ketentuan. dan dapat diperpanjang. dihapus. DR dan penggantian nilai tegakan. SPP DR dan SPP-GR. 17. DR dan ganti rugi nilai tegakan yang setoran tersebut telah masuk ke rekening Bendaharawan Penerima Kementerian Kehutanan. dihapus. i. pengukuran Kayu Bulat dapat dibantu oleh Wasganis-PKB-R atau Wasganis-PKB-J yang berasal dari Dinas Kabupaten/Kota. pemegang HGU melakukan pembukaan lahan/penebangan. 20.~ 10 ~ d. h. 16. Ketentuan Pasal 31. (3) . dapat diajukan kembali sebelum izin berakhir kepada Pejabat Penerbit IPK. dan hasil penebangan dilakukan pengukuran untuk penetapan volume kayu yang dituangkan dalam Daftar Kayu Bulat (DKB) sebagai dasar pengenaan PSDH. f.

Ketentuan Pasal 46. 21. yaitu Pasal 55 A yang berbunyi sebagai berikut : Pasal 55 A (1) Surat Perintah Pembayaran Penggantian Nilai Tegakan (SPP-GR) untuk Penyiapan Lahan Dalam Pembangunan Hutan Tanaman.. tetap diterbitkan SPP-GR. dinyatakan tidak berlaku. . Terhadap kegiatan penyiapan lahan dalam pembangunan hutan tanaman yang sudah dibuat Laporan Hasil Produksi (baik yang sudah disahkan maupun belum disahkan) sebelum tanggal 9 Februari 2012. Ketentuan Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) diubah.~ 11 ~ 20.. dihapus. (2) 23. pelaksanaan 21. yaitu Pasal 48 A yang berbunyi sebagai berikut : Pasal 48 A Kepala Dinas Propinsi melakukan pengendalian atas penebangan pohon dari izin pinjam pakai kawasan hutan. Diantara Pasal 48 dan Pasal 49 disisipkan 1 (satu) Pasal baru. Surat Perintah Pembayaran Penggantian Nilai Tegakan (SPP-GR) untuk penyiapan lahan dalam pembangunan hutan tanaman yang diterbitkan berdasarkan LHP sejak tanggal 9 Februari 2012. (2) (3) Pasal II. dan Kepala Balai. sehingga keseluruhan Pasal 49 berbunyi sebagai berikut : Pasal 49 (1) Pemegang IPK wajib menyampaikan laporan bulanan atas realisasi IPK kepada Kepala Dinas Propinsi. Kepala Dinas Propinsi dan Kepala Dinas Kabupaten/Kota wajib membuat dan menyampaikan rekapitulasi laporan bulanan kepada Direktur Jenderal atas realisasi IPK atau pelaksanaan penebangan pohon dari izin pinjam pakai kawasan hutan. yang diterbitkan sebelum tanggal 9 Februari 2012 tetap berlaku. Kepala Dinas Kabupaten/Kota. Diantara Pasal 55 dan Pasal 56 disisipkan 1 (satu) Pasal baru.

KRISNA RYA . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 April 2013 MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA.~ 12 ~ Pasal II Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. ttd. ZULKIFLI HASAN Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 April 2013 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. Agar setiap orang mengetahuinya. AMIR SYAMSUDIN BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 626 Salinan sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO HUKUM DAN ORGANISASI. memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. ttd. ttd.