Anda di halaman 1dari 12

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.

1/12
. . . .


Pangkur

1)
Mingkar mingkuring angkara, / Akarana karenan mardi siwi, / Sinawung resmining kidung,
/ Sinuba sinukarta, / Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung. / Kang tumrap neng tanah
Jawa, / Agama ageming aji.
Menjauhkan diri dari nafsu angkara / karena berkenan mendidik putra, / melalui sarana
syair dan lagu, / yang dihias penuh variasi, / biar menjiwai ilmu luhur yang dituju. / Di
tanah Jawa (Indonesia) ini yang hakiki adalah agama sebagai pegangan yang baik.
2)
Jinejer neng Wedatama / Mrih tan kemba kembenganing pambudi / Mangka nadyan tuwa
pikun, / Yen tan mikani rasa, / Yekti sepi asepa lir sepah, samun, / Samangsane pasamuan /
Gonyak ganyuk nglilingsemi.
Disajikan di Wedatama, / agar jangan kekurangan pengertian. / Bahwa walau telah tua
dan pelupa, / jika tak punya perasaan, / sebenarnya tanpa guna, / bagai sepah buangan. /
Manakala dalam pertemuan, sering bertindak salah dan memalukan.
3)
Nggugu karsane priyangga, / Nora nganggo peparah lamun angling, / Lumuh ingaran balilu
/ Uger guru aleman, / Nanging janma ingkang wus waspadeng semu / Sinamun ing samudana,
/ Sesadon ingadu manis.
Hanya mengikuti kehendak diri sendiri, / bila berkata tanpa perhitungan, / tidak mau
dianggap bodoh, / seolah guru yang manja (hanya mabuk pujian). / Namun orang yang
tahu gelagat (pandai), / justru selalu merendah diri (berpura-pura), / menanggapi
semuanya dengan baik.
4)
Si pengung nora nglegewa, / Sangsayarda denira cacariwis, / Ngandhar-andhar
angendhukur, / Kandhane nora kaprah, / Saya elok alangka longkanganipun, / Si wasis
waskitha ngalah, / Ngalingi marang si pingging.
Si dungu tidak menyadari, / bualannya semakin menjadi-jadi, / melantur tak karuan. /
Bicaranya serba hebat, / makin aneh dan tak masuk akal. / Si pandai maklum dan
mengalah, / menutupi ulah si bodoh.
5)
Mangkono ngelmu kang nyata, / Sanyatane mung weh reseping ati, / Bungah ingaranan
cubluk, / Sukeng tyas yen denina, / Nora kaya si pengung anggung gumrunggung / Ugungan
sadina dina / Aja mangkono wong urip.
Demikianlah sejatinya (orang yang) menuntut ilmu, / Sesungguhnya hanya memberikan
kedamaian hati, / Suka dianggap bodoh, / Tetap tampak gembira kendati dihina, / Tidak
seperti si dungu yang selalu sombong, / Ingin selalu dipuji setiap hari. / Janganlah
demikian hidup dalam pergaulan.
6)
Uripe sepisan rusak, / Nora mulur nalare ting saluwir, / Kadi ta guwa kang sirung, /
Sinerang ing maruta, / Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung, / Pindha padhane si
mudha, / Prandene paksa kumaki.
Hidup yang hanya sekali di dunia ini berantakan, / Penalarannya tidak berkembang,
picik tercabik-cabik, / Ibarat gua gelap menyeramkan, / terlanda angin, / Suaranya
berkumandang keras sekali, / Demikianlah anak muda jika picik pengetahuannya, /
namun demikian sombongnya bukan main.

7)
Kikisane mung sapala, / Palayung ngendelken yayah wibi, / Bangkit tur bangsaning luhur, /
Lha iya ingkang rama, / Balik sira sarawungan bae durung / Mring atining tata krama, /
Nggon anggon agama suci.

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.2/12
Tekadnya remeh sekali, / (bila menghadapi kesulitan) mengandalkan orangtuanya, /
yang terpandang dan bangsawan. / Itu kan ayahmu, / Sedangkan engkau berkenalan pun
belum / dengan sari sopan santun / yang merupakan ajaran agama (peraturan yang
utama).
8)
Socaning jiwangganira, / Jer katara lamun pocapan pasthi, / Lumuh asor kudu unggul, /
Semengah sesongaran, / Yen mengkono kena ingaran katungkul, / Karem ing reh kaprawiran,
/ Nora enak iku kaki.
Sifat-sifat pribadimu, / tampak apabila bertutur kata, / Tidak mau kalah, harus menang, /
Sombong dan meremehkan orang. / Bila demikian (engkau) bisa disebut kandas, /
tenggelam dalam mengupayakan keperwiraan, / Itu tidak terpuji, nak.
9)
Kekerane ngelmu karang, / Kekarangan saking bangsaning gaib, / Iku boreh paminipun, /
Tan rumasuk ing jasad, / Amung aneng sajabaning daging kulup, / Yen kapengkok
pancabaya, / Ubayane mbalenjani.
Tuntutan ilmu sihir, / Rekaan dari hal-hal gaib, / Itu ibarat bedak, / Tidak meresep ke
dalam raga, / Hanya ada di luar daging saja, nak. / Apabila terbentur marabahaya, /
Bisanya hanya mengingkari janji (tak dapat diandalkan, yang sudah disanggupi tak
ditepati).
10)
Marma ing sabisa-bisa, / Bebasane muriha tyas basuki, / Puruitaa kang patut, / Lan traping
angganira. / Ana uga angger ugering kaprabon, / Abon aboning panembah, / Kang kambah ing
siyang ratri.
Oleh karena itu sedapat-dapatnya, / Berusahalah selalu berhati baik, / Bergurulah
dengan benar, / dan yang sepadan dengan dirimu. / Ada pula aturan dan pedoman
negara, / perlengkapan berbakti, / yang diamalkan siang dan malam.
11)
Iku kaki takokena, / Marang para sarjana kang martapi / Mring tapaking tepa tulus, /
Kawawa nahen hawa, / Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu / Tan mesti neng janma
wredha / Tuwin mudha sudra kaki.
Bertanyalah, nak, / Kepada para orang pandai yang menghayati / ketulusan dalam
langkah lakunya, / Mampu menahan nafsu. / Ketahuilah bahwa menuntut ilmu itu
sejatinya / Tak harus selalu kepada orang-orang tua / Yang muda pun jelata (bisa juga),
nak.
12)
Sapantuk wahyuning Allah, / Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit, / Bangkit mikat reh
mangukut, / Kukutaning jiwangga, / Yen mengkono kena sinebut wong sepuh, / Lire sepuh
sepi hawa, / Awas roroning atunggil.
Siapa pun yang menerima wahyu illahi, / Dan kemudian dapat mencerna serta
menguasai ilmu / Mampu menguasai kesempurnaan ilmu, / Kesempurnaan diri pribadi. /
Orang yang demikian itu pantas disebut orang tua, / Orang yang tidak dikuasai nafsu, /
Mampu memahami dwitunggal (Titah dan yang menitahkan, baik dan buruk, etc.)
13)
Tan samar pamoring Sukma, / Sinuksmaya winahya ing ngasepi, / Sinimpen telenging
kalbu, / Pambukaning warana, / Tarlen saking liyep layaping aluyup, / Pindha pesating
sumpena, / Sumusuping rasa jati.
Tanpa ragu terhadap citra Sukma (Tuhan), / Diresapi dalam keheningan, / Diendapkan
dalam lubuk hati, / Pembuka tirai itu / tidak lain adalah keadaan antara sadar dan tak
sadar (khusuk), / Bagaikan mimpi, / hadirnya rasa yang sejati.
14)
Sejatine kang mangkana, / Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi, / Bali alaming
ngasuwung, / Tan karem karameyan, / Ingkang sipat wisesa winisesa wus, / Mulih mula
mulanira, / Mulane wong anom sami.
Sejatinya (orang) yang demikian itu, / Sudah menerima anugerah Tuhan, / Kembali ke
alam hampa, / Tidak mabuk keduniawian, / Yang bersifat saling menguasai, / Kembali
ke asal mulanya, / Maka, wahai orang muda sekalian.

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.3/12
Sinom

15)
Nulada laku utama, / Tumrape wong Tanah Jawi, / Wong agung ing Ngeksiganda, /
Panembahan Senopati, / Kepati amarsudi, / Sudane hawa lan nepsu, / Pinesu tapa brata, /
Tanapi ing siyang ratri, / Amamangun karyenak tyasing sesami.
Teladanilah laku utama, / Bagi kalangan orang Jawa (Indonesia), / orang besar di
Mataram, / yaitu Panembahan Senopati, / yang tekun, / mengurangi hawa nafsu, /
dengan jalan prihatin (matiraga, bertapa), / serta siang dan malam, / selalu berusaha
membahagiakan orang lain (membangun kasih sayang).
16)
Samangsane pasamuwan, / Mamangun marta martani, / Sinambi ing saben mangsa, / Kala
kalaning asepi, / Lelana teki-teki, / Nggayuh geyonganing kayun, / Kayungyun eninging tyas,
/ Sanityasa pinrihatin, / Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.
Dalam setiap pertemuan, / menciptakan kebahagiaan lahir batin dengan sikap tenang dan
sabar, / Sementara itu pada setiap kesempatan, / Di kala sepi (tiada kesibukan), / Rajin
berkelana, / Menggapai cita-cita hati, / Terpesona akan suasana yang syahdu, / Hati
senantiasa dibuat prihatin, / Berpegang teguh dan mencegah makan maupun tidur.
17)
Saben mendra saking wisma, / Lelana leladan sepi, / Ngingsep sepuhing supana, / Mrih
pana pranaweng kapti, / Tis tising tyas marsudi, / Mardawaning budya tulus, / Mesu reh
kasudarman, / Neng tepining jala nidhi, / Sruning brata kataman wahyu dyatmika.
Setiap pergi meninggalkan rumah, / Berkelana ke tempat-tempat yang sunyi, /
Menghirup berbagai tingkatan ilmu sejati, / Agar jelas (tercapai) yang dituju), / Maksud
hati mencapai, / Kelembutan hati yang utama, / Memeras kemampuan dalam hal
menghayati cinta kasih, / Di tepi samudra / Bertapa keras demi mendapatkan anugerah
illahi.
18)
Wikan wengkaning samodra, / Kederan wus den ideri, / Kinemat kamot hing driya, /
Rinegan segegem dadi, / Dumadya angratoni, / Nenggah Kangjeng Ratu Kidul, / Ndedel
nggayuh nggegana, / Umara marak maripih, / Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda.
Memahami kekuasaan samudra, / seluruhnya sudah kulalui, / dinikmati dan meresap
dalam sanubari, / ibarat digenggam jadi satu kepalan, / sehingga terkuasai. / Tersebutlah
Kanjeng Ratu Kidul, / naik ke angkasa, / datang menghadap dengan hormat, / kalah
wibawa dari Raja Mataram.
19)
Dahat denira aminta, / Sinupeket pangkat kanthi, / Jroning alam palimunan, / Ing pasaban
saben sepi, / Sumanggem anyanggemi, / Ing karsa kang wus tinamtu, / Pamrihe mung aminta,
/ Supangate teki-teki, / Nora ketang teken janggut suku jaja.
Memohon dengan sangat, / agar akrab dan didudukkan sebagai pengikut, / di alam gaib,
/ Pada waktu sepi, / siap menyanggupi, / kehendak yang sudah ditentukan, / Harapannya
hanyalah meminta restu dalam bertapa, / Tidak peduli meski dengan susah payah.
20)
Prajanjine abipraya, / Saturun turuning wuri, / Mengkono trahing ngawirya, / Yen amasah
mesu budi, / Dumadya glis dumugi, / Iya ing sakarsanipun / Wong agung Ngeksiganda, /
Nugrahane prapteng mangkin, / Trah tumerah dharahe padha wibawa.
Janji yang bertujuan baik, / untuk anak cucu di kemudian hari, / Begitulah orang luhur, /
bila mempertajam hati, / akan segera sampai ke tujuan, / yang dimaksudkan oleh orang
besar Mataram, / Pahalanya berkembang hingga sekarang, / seluruh anak cucu
berwibawa.
21)
Ambawani Tanah Jawa, / Kang padha jumeneng aji, / Satriya dibya sumbaga, / Tan lyan
trahing Senopati, / Pan iku pantes ugi, / Tinelad labetanipun, / Ing sakuwasanira, / Enake lan
jaman mangkin, / Sayektine tan bisa ngepleki kuna.
Menguasai Tanah Jawa (Indonesia), / siapa pun yang menjadi raja, / satria sakti terkenal,
/ Tak lain adalah keturunan Senapati, / Bukankah layak pula / diteladani jasa

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.4/12
perbuatannya, / semampumu, / disesuaikan dengan masa kini (dan nanti), / Tentu saja
tidak mungkin persis seperti zaman baheula.
22)
Lowung kalamun tinimbang, / Ngaurip tanpa prihatin, / Nanging ta ing jaman mangkya, /
Pra mudha kang den karemi, / Manulad nelad Nabi, / Nayakengreat Gusti Rasul, / Anggung
ginawe umbag, / Saben seba mampir masjid, / Ngajab ajab mukjijad tibaning drajad.
Masih lumayan bila dibandingkan, / (dengan) orang yang hidup tanpa prihatin, / Sayang
sekali di zaman ini, / yang digemari orang-orang muda, / meniru Nabi, / Utusan Allah
(Rasul), / sekadar untuk menyombongkan diri, / Setiap kali datang ke masjid, /
mengharapkan mukjizat naik pangkat.
23)
Anggung anggubel sarengat, / Saringane tan den wruhi, / Dalil dalaning ijemak, / Kiyase
nora mikani, / Ketungkul mungkul sami, / Bengkrakan mring mesjid agung, / Kalamun maca
kutbah, / Lelagone Dandanggendis, / Swara arum ngumandhang cengkok palaran.
Hanya memahami soal kulit saja, / Tetapi inti pokoknya tidak dipahami, / Pengetahuan
mengenai tafsir (dan aturan-aturan serta teladannya), / tidaklah dimengerti, / Mereka
hanya terlena, / bertindak berlebihan saat berada di masjid agung, / Bila membaca
khotbah, / berirama Dandanggula, / Suara merdu bergema gaya palaran.
24)
Lamun sira paksa mulad, / Tuladhaning Kangjeng Nabi, / O, ngger kadohan panjangkah, /
Wateke tan betah kaki, / Rehne ta sira Jawi, / Sathithik bae wus cukup, / Aywa guru aleman, /
Nelad kas ngepleki pekih, / Lamun pengkuh pangangkah yekti karahmat.
Bila kamu bertekad meneladani, / tindak tanduk Kanjeng Nabi, / Oh, nak terlalu muluk
langkahmu, / Biasanya takkan mampu bertekun, nak, / Karena kamu orang Jawa, /
Sedikit saja sudah cukup, / Jangan hanya mencari pujian, / Berhasrat meniru Fakih, /
Namun bila mampu, memang ada harapan memperoleh rahmat.
25)
Nanging enak ngupa boga, / Rehne ta tinitah langip, / Apata suwiteng Nata, / Tani tanapi
agrami, / Mangkono mungguh mami, / Padune wong dahat cubluk, / Durung wruh cara Arab,
/ Jawaku bae tan ngenting, / Parandene paripaksa mulang putra.
Tetapi lebih baik mencari nafkah, / Karena dititahkan sebagai makhluk lemah, / Apa
mengabdi raja, / bertani atau berdagang, / Begitu menurut pendapatku, / orang yang
bodoh, / belum memahami cara Arab, / Sedang pengetahuan Jawa saya saja belumlah
memadai, / Namun memaksa diri mendidik anak.
26)
Saking duk maksih taruna, / Sadhela wus anglakoni, / Aberag marang agama, / Maguru
anggering kaji, / Sawadine tyas mami, / Banget wedine ing mbesuk, / Pranatan ngakir jaman, /
Tan tutug kaselak ngabdi, / Nora kober sembahyang gya tinimbalan.
Karena ketika masih muda, / Sebentar pernah mengalami, / Mempelajari agama, /
berguru menurut aturan haji, / Sesungguhnya relung hati saya, / sangat takut akan hari
esok, / menghadapi akhir zaman, / Belum selesai berguru, terhenti karena harus
mengabdi, / Tak sempat sembahyang, sudah dipanggil menghadap.
27)
Marang ingkang asung pangan, / Yen kasuwen den dukani, / Abubrah bawur tyas ingwang,
/ Lir kiyamat saben ari, / Bot Allah apa Gusti, / Tambuh tambuh solahingsun, / Lawas lawas
nggraita, / Rehne ta suta priyayi, / Yen mamriha dadi kaum temah nistha.
Oleh yang memberi makan, / Bila terlambat dimarahi, / Gundah gulana hatiku, / Bagai
kiamat setiap hari, / Berat agama atau majikan, / Ragu-ragu tindakanku, / Lama
kelamaan terpikir, / Karena anak bangsawan, / apabila berhasrat menjadi petugas juru
doa kurang pada tempatnya.
28)
Tuwin ketip suragama, / Pan ingsun nora winaris, / Angur baya ngantepana, / Pranatan
wajibing urip, / Lampahan angluluri, / Kuna kumunanira, / Kongsi tumekeng samangkin, /
Kikisane tan lyan amung ngupa boga.

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.5/12
Ataukah ingin menjadi khatib, / hal itu bukan bidangku, / Lebih baik berpegang teguh, /
pada tata aturan kehidupan, / Menjalankan serta mengikuti jejak para leluhur, / di masa
lampau hingga kini, / Akhirnya tak lain hanyalah mencari nafkah.
29)
Bonggan kan tan merlokena, / Mungguh ugering ngaurip, / Uripe lan tri prakara, / Wirya
arta tri winasis, / Kalamun kongsi sepi, / Saka wilangan tetelu, / Telas tilasing janma, / Aji
godhong jati aking, / Temah papa papariman ngulandara.
Salah sendiri yang tidak peduli, / terhadap landasan kehidupan, / Hidup berlandaskan
tiga hal, / Keluhuran, kesejahteraan dan ilmu, / Bila tidak memiliki, / satu di antara
ketiganya, / habislah arti sebagai manusia, / Masih berharga daun jati kering, / Akhirnya
menjadi peminta-minta dan gelandangan.
30)
Kang wus waspada ing patrap, / Manganyut ayat winasis, / Wasana wosing jiwangga, /
Melok tanpa aling-aling, / Kang ngalingi kalingling, / Wenganing rasa tumlawung, / Keksi
saliring jaman, / Angelangut tanpa tapi, / Yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma.
Yang sudah mengetahui cara berperilaku, / menghayati aturan yang bijaksana, /
Akhirnya inti pribadinya, / terlihat nyata tanpa penghalang, / Yang menghalang akan
tersingkir, / Terbukalah rasa sayup-sayup sampai, / Tampaklah segala keadaan, / terlihat
tanpa batas, / Itulah yang disebut mendapat bimbingan Tuhan.
31)
Mangkono janma utama, / Tuman tumanem ing sepi, / Ing saben rikala mangsa, / Masah
amemasuh budi, / Laire anetepi, / Ing reh kasatriyanipun, / Susila anor raga, / Wignya met,
tyasing sesami, / Yeku aran wong barek berag agama.
Begitulah manusia utama, / Gemar membiasakan diri berada dalam keheningan, / Pada
saat-saat tertentu, / mengasah pikiran (mempertajam dan membersihkan jiwa), / Dengan
berpegang pada kedudukannya sebagai satria, / Bertindak baik, rendah hati, / pandai
bergaul, memikat hati sesama, / Itulah yang disebut orang yang menghayati ajaran
agamanya.
32)
Ing jaman mengko pan ora, / Arahe para taruni, / Yen antuk tuduh kang nyata, / Nora pisan
den lakoni, / Banjur njujurkenkapti, / Kakekne arsa winuruk, / Ngendelken gurunira, /
Panditane praja sidik, / Tur wus manggon pamucunge mring makripat.
Di zaman sekarang tidak demikian, / Sikap para orang muda, / bila mendapat petunjuk
yang nyata, / tidak pernah diamalkan, / Lalu menuruti kehendak hatinya sendiri, /
Kakeknya pun diberi pelajaran, / Mengandalkan gurunya, / seorang pendeta negara yang
pandai, / Dan juga sudah menguasai ilmu makripat.

Pucung

33)
Ngelmu iku, / Kalakone kanthi laku, / Lekase lawan kas, / Tegese kas nyantosani, / Setya
budya pangekese dur angkara.
Ilmu itu, / perwujudannya melalui perilaku, / Dimulai dengan kemauan, / Kemauan
itulah yang menyejahterakan (sentosa), / Budi yang setia adalah penghancur nafsu
angkara.
34)
Angkara gung, / Neng angga anggung gumulung, / Gegolonganira, / Triloka lekere kongsi,
/ Yen den umbar ambabat dadi rubeda.
Nafsu angkara yang besar, / senantiasa berkumpul di dalam diri, / hingga menguasai tiga
dunia, / Bila dibiarkan akan berkembang menjadi bahaya.
35)
Beda lamun kang wus sengsem reh ngasamun, / Semune ngaksama, / Sasamane bangsa
sisip, / Sarwa sareh saking mardi martatama.
Sangat berbeda dengan yang sudah terpikat pada hal-hal kerohanian, / Tampak selalu
mengampuni, / segala kesalahan sesama, / Bersikap sabar karena berusaha berbudi baik.

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.6/12
36)
Taman limut, / Durgameng tyas kang weh limput, / Kerem ing karamat, / Karana karoban
ing sih, / Sihing sukma ngrebda saardi gengira.
Dalam keadaan sepi (gulita), / kejahatan yang menguasai hati, / akhirnya tenggelam
dalam rahmat, / karena dikalahkan oleh cinta kasih, / Cinta kasih sukma berkembang
hingga segunung besarnya.
37)
Yeku patut tinulad tulad tinurut, / Sapituduhira, / Aja kaya jaman mangkin, / Keh pra
mudha mundhi dhiri rapal makna.
Itulah teladan yang pantas ditiru, / Sesuai pengetahuan dan kemampuanmu, / Jangan
seperti zaman sekarang, / banyak anak muda mengagungkan rapal dan mantra.
38)
Durung pecus kesusu kaselak besus, / Amaknani rapal, / Kaya sayid weton Mesir, /
Pendhak pendhak angendhak gunaning janma.
Belum pandai, tergesa-gesa ingin berlagak, / Menerangkan hafalannya, / seperti sayid
lulusan Mesir, / Sering meremehkan orang lain.
39)
Kang kadyeku, / Kalebu wong ngaku-aku, / Akale alangka, / Elok Jawane denmohi, / Paksa
langkah ngungkah met kawruh ing Mekah.
Yang seperti itu, / tergolong orang yang mengaku-aku, / Pandangannya tidak masuk
akal, / Aneh, tidak menyukai kejawaannya, / Memaksa diri melangkah mencari
pengetahuan di Mekah.
40)
Nora weruh, / rosing rasa kang rinuruh, / Lumeketing angga, / Anggere padha marsudi, /
Kana kene kaanane nora beda.
Tidak tahu, / inti hal yang dicari, / sesungguhnya melekat pada jiwa sendiri, / Asal
semua mau berikhtiar, / Di sana atau di sini keadaannya tidak berbeda.
41)
Uger lugu, / den ta mrih pralebdeng kalbu, / Yen kabul kabuka, / Ing drajad kajating urip, /
Kaya kang wus winahya sekar srinata.
Asal bersungguh-sungguh, / dalam usaha meningkatkan akal budi, / Bila terkabul,
terbukalah, / Di dalam derajad keinginan hidup, / seperti yang telah dituturkan dalam
tembang sinom itu.
42)
Basa ngelmu, / Mupakate lan panemu, / Pasahe lan tapa, / Yen satriya tanah Jawi, / Kuna-
kuna kang ginilut tripakara.
Yang namanya ilmu itu, / kesesuaiannya adalah dengan pendapat (logika), / Berhasilnya
dengan bertapa, / Bagi satria Jawa, / dulu kala yang digeluti adalah tiga hal.
43)
Lila lamun kelangan nora gegetun, / Trima yen ketaman, / Sakserik sameng dumadi, / Tri
legawa nalangsa srah ing Bathara.
Rela bila kehilangan, tak kecewa, / Menerima dengan sabar bila disakiti, / oleh orang
lain yang iri hati, / Tiga: ikhlas, menyerah pasrah kepada Tuhan.
44)
Bathara gung, / inguger graning jajantung, / Jenek Hyang Wisesa, / Sana pasenedan suci, /
Nora kaya si mudha mudhar angkara.
Yang Mahabesar, / ditempatkan di dalam jantung (hati), / Yang Mahakuasa kerasan di
tempat peristirahatan yang suci, / Tak seperti ulah si muda yang menuruti angkara.
45)
Nora uwus, / Kareme anguwus-uwus, / Uwose tan ana, / Mung janjine muring-muring, /
Kaya buta buteng betah nganiaya.
Tiada henti, / kesukaannya mencaci maki, / Tanpa isi, / Hanya asal marah-marah, /
Seperti raksasa mudah naik darah dan menganiaya.
46)
Sakeh luput, / ing angga tansah linimput, / Linimpet ing sabda, / Narka tan ana udani, /
Lumuh ala ardane ginawa gada.
Segala kesalahan, / yang ada pada dirinya ditutupi, / Diputarbalikkan dalam perkataan, /
Mengira tak ada yang mengetahuinya, / Tidak mau disebut jelek (salah), sifat
angkaranya digunakan sebagai pemukul.

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.7/12
47)
Durung punjul, / ing kawruh kaselak jujul, / Kaseselan hawa, / Cupet kapepetan pamrih, /
Tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa.
Belum pandai, / dalam ilmu tetapi tergesa-gesa ingin dianggap pandai, / Disertai hawa
nafsu, / Ilmunya kurang, terhalang pamrih, / Mustahillah menginginkan dekat dengan
Yang Mahakuasa.

Gambuh

48)
Samengko ingsun tutur, / Sembah catur supaya lumuntur, / Dhihin raga, cipta, jiwa rasa,
kaki, / Ing kono lamun tinemu, / Tandha nugrahaning Manon.
Sekarang saya berkata, / Empat buah sembah yang hendaknya kau tiru, / Pertama:
Raga, Cipta, Jiwa, dan Rasa, anakku, / Di situlah, bila tercapai, / Tanda kebesaran
Tuhan.
49)
Sembah raga punika, / Pakartine wong amagang laku, / Susucine asarana saking warih, /
Kang wus lumrah lintang wektu, / Wantu wataking weweton.
Sembah raga itu, / Perbuatan orang yang baru menjadi calon (langkah pertama), /
Disucikan dengan air, / Yang sudah biasa lima waktu, / Merupakan sifat aturan.
50)
Ingsuni uni durung, / Sinarawang wulang kang sinerung, / Lagi iki bangsa kas ngetokken
anggit, / Mintokken kawignyaipun, / Sarengate elok-elok.
Dulu belum pernah, / dikenalkan dengan pelajaran rahasia, / Baru sekarang kelompok
yang bersemangat, / memperlihatkan rekaan-rekaannya, / dengan caar yang aneh-aneh.
51)
Thithik kaya santri Dul, / Gajeg kaya santri brai kidul, / Saurute Pacitan pinggir pasisir, /
Ewon wong kang padha nggugu, / Anggere padha nyalemong.
Kadangkala seperti santri Dul, / kalau tidak salah seperti santri daerah selatan, / di
sepanjang tepi pantai Pacitan, / Ribuan orang percaya, / (pada) aturan yang asal
diucapkan.
52)
Kasusu arsa weruh, / Cahyaning Hyang kinira yen karuh, / Ngarep-arep urub arsa den
kurebi, / Tan wruh kang mangkono iku, / Akale kaliru enggon.
Tergesa-gesa ingin segera tahu, / Mengira kenal dengan Cahaya Illahi, / Berharap-harap
akan bisa menguasainya, / Tanpa tahu bahwa hal itu, / (menunjukkan) pandangan yang
tidak tepat.
53)
Yen tan jaman rumuhun, / Tata titi tumrah tumaruntun, / Bangsa srengat tan winor lan laku
batin, / Dadi nora gawe bingung, / Kang padha nembah Hyang Manon.
Bila di zaman dulu, / diatur sebaik-baiknya dari awal hingga akhir (berurutan), / Bagian
syariat tidak dicampur dengan ulah batin, / Sehingga tidak membingungkan, / Bagi yang
menyembah Tuhan.
54)
Lire sarengat iku, / Kena uga ingaranan laku, / Dhingin ajeg kapindone ataberi, / Pakolehe
putraningsun, / Nyenyeger badan mrih kaot.
Artinya syariat itu, / bisa juga disebut laku (cara), / Pertama dilakukan dengan tetap,
kedua dengan tekun, / Hasilnya anakku, / menyegarkan badan agar lebih baik.
55)
Wong seger badanipun, / Otot daging kulit balung sungsum, / Tumrah ing rah memarah
antenging ati, / Antenging ati nunungku, / Angruwat ruweding batos.
Orang yang segar (sehat) badannya, / otot, daging, kulit, tulang dan sumsum, /
Memengaruhi darah dan menenangkan hati, / Tenangnya hati membakar, / melenyapkan
pikiran yang kisruh.
56)
Mangkono mungguh ingsun, / Ananging ta sarehne asnafun, / Beda-deda panduk
panduming dumadi, / Sayektine nora jumbuh, / Tekad kang padha linakon.

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.8/12
Begitulah bagiku, / Namun karena setiap orang itu berbeda, / Berlainan nasib (kodrat,
iradat) orang / Sesungguhnya tidak selalu sesuai, / tekad yang dilaksanakan itu.
57)
Nanging ta paksa tutur, / Rehne tuwa-tuwa se mung catur, / Bok lumuntur lantaraning reh
utami, / Sing sapa temen tinemu, / Nugraha geming kaprabon.
Tetapi memaksa diri memberi petuah, / karena sebagai orangtua kewajibannya hanya
berpetuah, / Siapa tahu dapat diwariskan sebagai pengantar aturan yang baik, / Siapa
yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan, / anugerah yang bermanfaat bagi
kerajaan.
58)
Samengko sembah kalbu, / Yen lumintu uga dadi laku, / Laku agung kang kagungan
Narapati, / Patitis tetesing kawruh, / Meruhi marang kang momong.
Sekarang sembah kalbu, / Jika terus menerus dilakukan juga menjadi laku (tindakan
yang berpahala), / (sebagaimana) laku agung sang raja, / (bila) tepat tumbuhnya ilmu ini,
/ dapat mengetahui yang merawat diri (pengasuh).
59)
Sucine tanpa banyu, / Mung nyunyuda mring hardaning kalbu, / Pambukane tata titi ngati-
ati, / Atetep telaten atul, / Tuladan marang waspaos.
Sucinya tanpa air, / Hanya dengan mengurangi nafsu di dalam kalbu, / Mulainya dengan
sikap yang baik, berhati-hati, / Tetap tidak bosan dan menjadikannya watak, /
Meneladani kewaspadaan.
60)
Mring jatining pandulu, / Panduk ing ndon dedalan satuhu, / Lamun lugu legutaning reh
maligi, / Lageane tumalawung, / Wenganing alam kinaot.
Pada pandangan yang sejati, / guna mencapai tujuan (melalui jalan) yang benar, / Jika
benar segala kebiasaannya yang khusus, / (dengan) ciri khasnya: keadaan sayup-sayup
sampai, / Terbukanya alam yang lain (transendental supranatural).
61)
Yen wus kambah kadyeku, / Sarat sareh saniskareng laku, / Kalakone saka eneng ening
eling, / Hanging rasa tumlawaung, / Kono adiling Hyang Manon.
Bila sudah mengalami seperti itu, / Penuh kesabaran dalam segala tindak tanduk, /
Terlaksananya dengan cara tenang, syahdu, namun tetap sadar, / Bila rasa sayup sampai
itu datang menjelang, / Itulah keadilan Tuhan.
62)
Gagare ngunggar kayun, / Tan kayungyung mring ayuning kayun, / Bangsa anggit yen
ginigit nora dadi, / Marma den awas den emut, / Mring pamurunging lelakon.
Gagalnya membiarkan kehendak, / Tidak tertarik kepada indahnya tujuan, / Hal yang
direka-reka bila dirasakan (digigit) tidak terwujud, / Maka harap waspada dan ingat. /
terhadap perintang jalan (ke arah tujuan).
63)
Samengko kang tinutur, / Sembah katri kang sayekti katur, / Mring Hyang Sukma sumanen
saari ari, / Arahen dipun kacakup, / Sembaling jiwa sutengong.
Sekarang yang dibicarakan, / Sembah ketiga yang sebenarnya diperuntukkan, / bagi
Sang Sukma, laksanakanlah dalam keseharian hidup, / Usahakan agar mencakup, /
sembah jiwa, anakku.
64)
Sayekti luwih perlu, / Ingaranan pepuntoning laku, / Kalakuwan tumrap kang bangsaning
batin, / Sucine lan awas emut, / Mring alaming lama maot.
Sebenarnya lebih perlu, / disebut tindakan penghabisan, / Perilaku yang berkaitan
dengan batin, / Kesuciannya dan waspada pun ingat, / Terhadap alam lama yang
mahabesar (dan memuat) alam kelanggengan.
65)
Ruktine ngangkah ngukut, / Ngiket ngruket triloka kakukut, / Jagad agung ginulung lan
jagad alit, / Den kandel kumadel kulup, / Mring kelaping alam kono.
Memeliharanya dengan berusaha menguasai, / mengikat, merangkum kesatuan ketiga
hal itu, / Jagad besar (makrokosmos) digulung dengan jagad kecil (mikrokosmos), /
Perkuatlah kepercayaanmu, anakku, / Terhadap gemerlapnya alam sana (surga).

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.9/12
66)
Keleme mawi limut, / Kalamatan jroning alam kanyut, / Sanyatane iku kanyataan kaki, /
Sejatine yen tan emut, / Sayekti tan bisa awor.
Tenggelam dengan kabut, / Mendapatkan firasat di alam yang menghanyutkan itu, /
Itulah kenyataan sesungguhnya, anakku, / Sesungguhnya bila tak diingat, / takkan bisa
bercampur.
67)
Pamete saka luyut, / Sarwa sareh saliring panganyut, / Lamun yitna kayitnan kang
miyatani, / Tarlen mung pribadinipun, / Kang katon tinonton kono.
Sarananya dari batas lahir dan batin, / Serba sabar dalam mengikuti alam yang
menghanyutkan, / Asal waspada, dan kewaspadaanyang dapat diandalkan itu, / tak lain
adalah pribadinya, / yang tampak terlihat di sana.
68)
Nging aywa salah surup, / Kono ana sajatining urub, / Yeku urup pangarep uriping budi, /
Sumirat sirat narawung, / Kadya kartika katonton.
Tetapi jangan salah paham, / Di situ ada cahaya sejati, / Ialah cahaya yang memimpin
kehidupan sanubari, / Bercahaya lebih terang (jelas), / bagaikan bintang tampaknya.
69)
Yeku wenganing kalbu, / Kabukane kang wengku winengku, / Wewengkone wis
kawengku neng sireki, / Nging sira uga kawengku, / Mring kang pindha kartika byor.
Itulah terbukanya hati, / Terbukalah yang kuasa dan menguasai, / Daerahnya sudah kau
kuasai, / Tetapi kau pun dikuasai, / Oleh cahaya yang seperti bintang gemerlap.
70)
Samengko ingsun tutur, / Gantya sembah ingkang kaping catur, / Sembah rasa karasa
wosing dumadi, / Dadine wis tanpa tuduh, / Mung kalawan kasing batos.
Sekarang saya berbicara, / beralih ke sembah yang keempat, / Sembah rasa, terasalah
hakikat kehidupan ini, / Terwujudnya tanpa petunjuk, / Namun hanya dengan
kesentosaan batin.
71)
Kalamun durung lugu, / Aja pisan wani ngaku-aku, / Antuk siku kang mengkono iku kaki, /
Kena uga wenang muluk, / Kalamun wus padha melok.
Apabila belum mengalami benar, / jangan sekali-kali mengaku-aku, / yang demikian itu
mendapatkan laknat, anakku, / Boleh dibilang berhak mengatakannya, / apabila sudah
mengetahuinya secara nyata.
72)
Meloke ujar iku, / Yen wus ilang sumelanging kalbu, / Amung kandel kumandel marang
ing takdir, / Iku den awas den emut, / Den memet yen arsa momot.
Kenyataan yang dibicarakan ini, / Bila sudah hilang keragu-raguan hati, / hanya percaya
dengan sebenar-benarnya kepada takdir, / Itu harap awas dan ingat, / Cermatlah apabila
ingin menguasai seluruhnya.

Sampai bait ini pada naskah bertuliskan huruf Jawa ada tanda titi (tamat), disusul
tambahan kelanjutan atau sambungan Wedatama.

Gambuh

73)
Pamoting ujar iku, / Kudu santosa ing budi teguh, / Sarta sabar tawekal legaweng ati, /
Trima lila ambeg sadu, / Weruh wekasing dumados.
Untuk melaksanakan petuah itu, / harus sentosa dan teguh budinya, / serta sabar dan
tawakal, ikhlas di hati, / rela menerima segalanya, berjiwa pandita yang dapat dipercaya,
/ memahami (tujuan) akhir hidup ini.
74)
Sabarang tindak tanduk, / Tumindake lan sakadaripun, / Den ngaksama kasisipaning
sesami, / Sumimpanga ing laku dur, / Hardaning budi kang ngrodon.
Segala tindak tanduk, / Dilaksanakan sekadarnya, / Memaafkan kesalahan sesama, /
menghindari tindakan tercela, / watak angkara yang besar.

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.10/12
75)
Dadya wruh iya dudu, / Yeku minangka pandaming kalbu, / Ingkang buka ing kijab bullah
agaib, / Sesengkeran kang sinerung, / Dumunung telenging batos.
Sehingga tahu, baik buruk, / Itulah sebagai petunjuk hati, / Yang membuka rintangan
(tabir) antara insan dan Tuhan, / hal yang dikuasai dan dirahasiakan, / berada di dalam
hati.
76)
Rasaning urip iku, / Krana momor pamoring sawujud, / Wujuddollah sumrambah ngalam
sakalir, / Lir manis kalawan madu, / Endi arane ing kono.
Rasa hidup itu, / karena manunggal dengan citra yang berwujud, / Kesaksian terhadap
Tuhan berada di alam semesta, / Bagaikan manis dengan madu, / Manakah itu
sebenarnya.
77)
Endi manis endi madu, / Yen wis bisa nuksmeng pasang semu, / Pasmoaning hebing kang
Mahasuci, / Kasikep ing tyas kacakup, / Kasat mata lair batos.
Mana manis, mana madu, / Apabila sudah dapat menghayati gambaran itu, / Pengertian
sabda Tuhan, / dirangkul dan dikuasai di dalam hati, / Terlihat lahir dan batin.
78)
Ing batin tan kaliru, / Kedhap kilap liniling ing kalbu, / Kang minangka colok celaking
Hyang Widhi, / Widadaning budi sadu, / Pandak panduking liru nggon.
Di dalam batin takkan salah, / Segala cahaya indah diteliti di dalam hati, / Yang sebagai
obor penerang dalam mendekati Tuhan, / Keselamatan budi pinandita, / Meresap tertuju
pada segala perubahan yang terjadi.
79)
Nggonira mrih tulus, / Kalasitaning reh kang rinuruh, / Nggyanira mrih wiwal warananing
gaib, / Paranta lamun tan weruh, / Sasmita jatining endhog.
Seberapa tulus usahamu agar berhasil, / Terlaksananya hal yang diharapkan, / Usahamu
agar dapat melepas penghalang kegaiban, / Apabila tidak tahu, / perumpamaan tentang
kejadian telur.
80)
Putih lan kuningipun, / Lamun arsa titah teka mangsul, / Dene nora mantra-mantra yen ing
lair, / Bisa aliru wujud, / Kadadeyane ing kono.
Putih dan kuningnya, / Apabila akan menetas berbalik, / Tidak diduga bahwa
kenyataannya, / bisa berganti wujud, / Kejadiannya di situ.
81)
Istingarah tan metu, / Lawan istingarah tan lumebu, / Dene ing wekasane dadi njawi, /
Rasakna kang tuwajuh, / Aja kongsi kabasturon.
Dapat dipastikan tidak keluar, / Juga dapat dipastikan tidak masuk, / Kenyataannya yang
di dalam menjadi di luar, / Rasakan (pikirkanlah) dengan sebenar-benarnya, / Jangan
sampai terlanjur tidak mengerti.
82)
Karana yen kabanjur, / Kajantaka tumekeng saumur, / Tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi,
/ Dadi wong ina tan weruh, / Dheweke den anggep dhayoh.
Sebab apabila terlanjur, / Kecewalah seumur hidup, / Tidak ada gunanya bila kelak mati,
/ menjadi orang hina yang tidak mengerti, / Diri sendiri dianggap tamu.

Kinanti

83)
Mangka kanthining tumuwuh, / Salami mung awas eling, / Eling lukitaning alam, / Dadi
wiryaning dumadi, / Supadi nir ing sangsaya, / Yeku pangreksaning urip.
Padahal bekal orang hidup, / Selamanya waspada dan ingat, / Ingat kepada petunjuk
(contoh) di alam ini, / Jadi kekuatan hidup, / supaya lepas dari kesengsaraan, / yaitu cara
pemeliharaan hidup.
84)
Marma den taberi kulup, / Angulah lantiping ati, / Rina wengi den anedya, / Pandak
panduking pambudi, / Bengkas kahardaning driya, / Supaya dadya utami.

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.11/12
Oleh karena itu rajinlah, anakku, / belajar menajamkan perasaan, / Siang malam
berusaha, / Meresap merasuki budi, / Menghancurkan nafsu pribadi, / Agar menjadi
(manusia) utama.
85)
Pangasahe sepi samun, / Aywa esah ing salami, / Samangsa wis kawistara, / Lalandhepe
mingis-mingis, / Pasah wukir reksamuka, / Kekes srabedaning budi.
Cara mempertajamnya adalah di dalam semadi, / Jangan berhenti selamanya, / Apabila
sudah terlihat, / Tajamnya tiada tara, / Dapat digunakan untuk mengiris gunung
penghalang, / Melenyapkan semua penghalang budi.
86)
Dende awas tegesipun, / Weruh warananing urip, / Miwah wisesaning tunggal, / Kang
atunggil rina wengi, / Kang mukitan ing sakarsa, / Gumelar ngalam sakalir.
Artinya awas (waspada) itu, / Tahu penghalang kehidupan, / Serta kekuasaan yang satu,
/ Yang selalu bersama siang dan malam, / Yang meluluskan segala kehendak, /
Terhampar di seluruh alam.
87)
Aywa sembrana ing kalbu, / Wawasen wuwus sireki, / Ing kono yekti karasa, / Dudu ucape
pribadi, / Marma den sembadeng sedya, / Wewesen praptaning uwis.
Jangan lengah di dalam hati, / Perhatikan perkataanmu, / Di situ tentu terasa, / Bukan
perkataanmu sendiri, / Oleh karenanya bertanggung jawablah, / dan perhatikan
semuanya sampai tuntas.
88)
Sirnakna semanging kalbu, / Den waspada ing pangeksi, / Yeku dalaning kasidan, / Sinuda
saka sethithik, / Pamothahing nafsu hawa, / Linalantih mamrih titih.
Hilangkanlah keragu-raguan hati, / Waspadalah terhadap pandanganmu, / Itulah jalan
yang baik, / Kurangilah sedikit demi sedikit, / Permintaan hawa nafsu, / Berlatihlah
hingga sempurna.
89)
Aywa mematuh nalutuh, / Tanpa tuwas tanpa kasil, / Kasalibuk ing srabeda, / Marma dipun
ngati-ati, / Urip keh renananira, / Sambekala den kaliling.
Jangan membiasakan diri berbuat aib, / Tiada gunanya, tiada hasilnya, / Terjerat oleh
rintangan (gangguan) saja, / Oleh karena itu berhati-hatilah, / Hidup banyak
rintangannya, / Godaan harus diperhatikan.
90)
Umpamane wong lumaku, / Marga gawat den liwati, / Lamun kurang ing pangarah, /
Sayekti karendhet ing ri, / Apese kasandhung padhas, / Babak bundhas anemahi.
Seumpama orang berjalan, / Jalan yang berbahaya dilalui, / Apabila kurang perhitungan,
/ Tentulah mudah tertusuk duri, / Paling tidak terantuk batu, / Akhirnya terluka.
91)
Lumrah bae yen kadyeku, / Atetamba yen wus bucik, / Duweya kawruh sabodhag, / Yen
tan nartani ing kapti, / Dadi kawruhe kinarya, / Ngupaya kasil lan melik.
Yang demikian itu biasa, / Berobat setelah terluka, / Walaupun punya pengetahuan
banyak, / Apabila tidak sesuai kehendak, / Sehingga pengetahuannya hanya dipakai, /
(untuk) Mencari kekayaan dan pamrih.
92)
Meloke yen arsa muluk, / Muluk ujare lir wali, / Wola wali nora nyata, / Anggepe pandhita
luwih, / Kaluwihane tan ana, / Kabeh tandha-tandha sepi.
Terlihat bila berkomentar, / Bicaranya muluk-muluk biar dianggap seperti wali, /
Berkali-kali tidak terbukti, / Menganggap diri pandita hebat, / Kelebihannya tiada, /
Bukti-bukti tak tampak.
93)
Kawruhe mung ana wuwus, / Wuwuse gumaib gaib, / Kasliring thithik tan kena, /
Mancereng alise gathik, / Apa pandhita antiga, / Kang mengkono iku kaki.
Pengetahuannya hanya ada di mulut, / Perkataannya digaib-gaibkan, / Dibantah sedkiti
saja tak mau, / Mata membelalak, alisnya menjadi satu (marah), / Apa pandita palsu, /
yang seperti itu, anakku.

Serat Wedatama K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811-1881) http://ruhcitra.wordpress.com hal.12/12
94)
Mangka ta kang aran laku, / Lakune ngelmu sajati, / Tan dhawen pati openan, / Tan
panasten nora jail, / Tan njurungi ing kahardan, / Amung eneng mamrih ening.
Padahal yang disebut laku, / Syaratnya mengamalkan ilmu sejati, / Tidak iri dan dengki,
/ tidak mudah marah maupun jahil, / Tidak melampiaskan hawa nafsu, / Hanyalah diam
agar mendapatkan ketenangan.
95)
Kaunanging budi luhung, / Bangkit ajur ajer, kaki, / Yen mangkono bakal cikal, / Thukul
wijining utami, / Nadyan bener kawruhira, / Yen ana kang nyulayani.
Tersohornya budi yang luhur itu, / Pandai bergaul dengan siapa pun, anakku, / Bila
demikian akan bersemilah benih yang utama, / Walaupun pengetahuanmu benar, / Bila
ada yang berbeda pendapat.
96)
Tur kang nyulayani iku, / Wus wruh yen kawruhe nempil, / Nanging laire angalah, /
Katingala angemori, / Mung ngenaki tyasing liyan, / Aywa esak aywa serik.
Apalagi bila yang berbeda pendapat itu, / Diketahui bahwa pengetahuannya bukan
miliknya sendiri, / Tetapi di luar mengalah, / agar terlihat sesuai, / Hanya menyenangkan
hati orang lain, / Jangan sakit hati maupun dendam.
97)
Yeku ilapating wahyu, / Yen yuwana ing salami, / Marga wimbuh ing nugraha, / Saking
heb Kang Mahasuci, / Cinancang pucuking cipta, / Nora ucul-ucul, kaki.
Demikianlah syaratnya wahyu, / Bila demikian selamanya, / Itu jalan menambah pahala,
/ Dari Sabda Tuhan, / Diikat di ujung cipta, tidak akan lepas, anakku.
98)
Mangkono ingkang tinamtu, / Tampa nugrahaning Widhi, / Marma ta kulup den bisa, /
Mbusuki ujaring janmi, / Pakoleh lair batinnya, / Iyeku budi premati.
Begitulah biasanya, / Menerima anugerah Tuhan, / Maka, anakku, mampukanlah dirimu,
/ berpura-pura menjadi orang bodoh terhadap kata orang lain, / Hasilnya lahir-batin, /
Ialah budi yang baik.
99)
Pantes tinulad tinurut, / Laladane mrih utami, / Utama kembanging mulya/ Kamulyaning
jiwa dhiri, / Ora ta yen ngeplekana, / Lir leluhur nguni-uni.
Pantas jadi teladan dan diikuti, / Cara-cara mencapai kebaikan-kebaikan itu, / Permulaan
dari kemuliaan, / Kemuliaan jiwa raga, / Walaupun tidak persis, / seperti nasihat nenek
moyang dulu.
100)
Ananging ta kudu-kudu, / Sakadarira pribadi, / Aywa tinggal tutuladan, / Lamun tan
mangkono, kaki, / Yekti tuna ing tumitah, / Poma kaestokna, kaki.
Tetapi harus berikhtiar, / sekadarnya saja, / Jangan melupakan teladan, / Apabila tidak
demikian, anakku, / itu berarti rugi hidup ini, / Oleh karena itu, laksanakanlah, anakku.
TITI

Sumber:
Anjar Any (1984). Menyingkap Serat Wedotomo. Semarang: Penerbit Aneka Ilmu.
Bagian terjemahan direvisi.