Anda di halaman 1dari 17

AL-HALLAJ: IKON KONTROVERSI MENUJU PENCERAHAN

RELIGIUS (SEBUAH PEMIKIRAN GRADUAL TENTANG KONSEP


NASUT, LAHUT DAN HULUL)
Oleh: Umiarso

A. Latar Belakang: Sebuah Prolog Yang Parsial


Tasawuf, sebaga i metode intuitif-konstruktif menuju kebenaran hakiki,
dala m dunia Isla m mend uduki posisi tersend iri yang banyak berpengaruh dala m
perjala nan peradaban Isla m. Perkembangan dan ketinggia n posisi dari tasawuf
melebihi berbagai kritikan pengamat dan penentang eksistensinya. Tasawuf eksis
dengan berbagai persoalan yang melingkupinya dari zama n ke zama n.
Dunia pencarian Tuhan ini terus berevolusi menawarkan kebenaran
instuitif yang sering dicari ma nusia yang berada dala m keputusasaan rasiona litas
dan intelektualitas. Di saat piliha n rasiona litas tidak menemukan jawaban sebaga i
solusi, di saat jawaban tida k la gi memuaskan, dan juga di saat rasiona litas terjebak
dala m kegersa ngan rasa, maka pengeta huan intuitif sering kali menjadi alternatif
piliha n untuk menemukan kepuasa n pencarian kebenaran.
Tasawuf sendiri mempunyai warna sesua i dengan kondisi pelaku dan
waktu yang melingkupinya. Mema ng terkadang sulit merasiona lisasikan tasawuf
dengan rasiona litas. Karena sebagia n dia ntara nya adala h pengeta huan yang tidak
dapat dibuktikan oleh pengeta huan rasiona litas yang begitu deskriptif, analitif, dan
definitif. Ia adala h pengeta huan subjektif yang masing-masing ma nusia berbeda
persepsi, satu titik yang bertolak belakang dengan objektifitas yang jadi ukuran
uta ma kebenaran dala m rasio. Apapun definisinya tidak akan perna h bisa
mengungkapkan hal yang sebenarnya. Layaknya definisi mawar tidak akan perna h
bisa merasakan keinda han mawar itu sendiri. Jadi wajar jika dala m perjala nannya
ia tetap menjadi ulasa n yang tetap menarik sepanjang waktu, perdebatan para
pakar, menghasilkan banyak sarjana, bukan saja dala m dunia Isla m tapi juga
dala m dunia orientalisme.
Tapi apapun versi tasawufnya, semua penganutnya percaya bahwa apa
yang mereka percaya dan kerjakan adala h suatu doktrin terdapat dala m al-Qur’an
dan contoh riil dari nabi Muhammad SAW, untuk diterjema hka n sebaga i

1
kebenaran walaupun dengan tebusa n jiwa sekalipun. Seperti halnya dengan sala h
satu ikon terbesar dala m sejarah tasawuf dala m peradaban Isla m yaitu Mansur al-
Hallaj yang mati terbunuh untuk mempertahankan keyakina nnya.
Metode yang digunakan untuk memenuhi ambisi penulis dala m membid ik
kehid upan Mansur al-Ha llaj dan juga konsep tentang Nasut, Lahut dan Hulul
adala h dengan mengkaji literatur-literatur ( litterer research ) yang berisi dan
menyinggung tasawuf falsa fi. Cara uta ma dan pertama nya ia lah melihat tahun
atau masa dima na sufi itu hidup dan juga meneliti karakter ajaran dan perilaku
yang dijala nkan.

B. Geneologi Pelacakan Tasawuf Al-Hallaj: Perjalanan dari Awal


1. Embrio Tasawuf Dalam Islam (Asketisme)
Sejak zama n sahabat sudah dikena l beberapa sahabat yang memiliki
kepribadia n mengagumkan sebaga i wujud dari keshaleha n individ ual ma upun
sosia l. Mereka menganut secara ketat konsep-konsep keshaleha n dan wara’ yang
mer upakan varia n dari perilaku tasawuf. Perilaku sahabat yang paling terkena l
adala h perilaku Ibnu Umar dengan cerita ruku’-nya yang terkena l yaitu la manya ia
ruku’ sampai burung pun menganggapnya sebaga i dahan pohon, 1 Ali pun dikena l
sebaga i pemuda yang memiliki kesaleha n yang luar biasa, begitu juga Abu Dzar
al-Ghifari yang diterima periwa yatan hadisnya oleh syi’ah. Umar, Khalifah kedua
dala m sejarah Isla m juga dikena l sebaga i orang yang secara ketat dari kepemilikan
harta, hingga tersebut bahwa ia hanya mempunyai dua baju, sala h satunya
mempunyai 70 tambala n.2 Disa mping mereka, masih banyak la gi kisa h-kisa h yang
mengagumkan dari para sahabat Nabi Isla m.

1 Afzalur Rahman. Tuhan Perlu Disembah: Eksplorasi Dan Manfaat Shalat Bagi
Hamba. Jakarta: Serambi. 2002. Hal: 224
2 Hamdani Rasyid. Kisah Tauladan Para Sahabat Nabi. Surabaya: PT. Inika Setya. 1997.

Hal: 290. Lihat juga dalam Mahyuddin. Kuliah Akhlaq Tasawuf. Jakarta: Kalam Mulia.
2001. Hal: 59-69
2
Kesaleha n tersebut disa ndarkan pada perilaku Nabi sendiri yang sela lu
hidup sederhana dan penuh dengan sifat-sifat mulia, yang dala m pandangan
Aisya h,”akhlaquhu ka al-Qur ’an yajri fi al-ard”. Perilakunya bagaikan al-Qur’an
yang berjala n di atas bumi. Sebuah ungkapan tentang contoh hidup (telada n) dari
sebuah idea lisme Isla m. Sehingga wajar tatkala Muhammad wafat, banyak para
sahabat yang yang merasa sedih kehila ngan belia u, bahkan ketika haji wada’ (haji
perpisa han) para sahabat tela h banyak yang mena ngis karena kata-kata Nabi tela h
mena ndakan bahwa belia u akan meninggal. 3
Pada saat Tabi’in hidup pada abad pertengahan awal hijria h, mema ng tela h
ada sekelompok orang yang menyerahkan hidupnya hanya untuk Alla h,
dia ntara nya yang hidup pada 21-110 H/728 M adala h Hasan al-Bashri, dari
kala ngan Tabi’in Madina h tapi kemud ian menetap di Bashrah. Hasan al-Bashri
mengena lkan beberapa konsep antara la in:
1. Zuhud dan menolak segala kesena ngan dunia.
2. Khauf (takut) akan segala bentuk dosa.
3. Raja’ yaitu pengharapan akan mardlotillah .4
Hasan melihat bahwa umat Isla m pada saat itu tela h banyak terjebak pada
kesena ngan duniawi, kesena ngan yang muda h dan banyak didapatkan karena
dunia Isla m tela h berada pada masa kemakmura n. Dan para pejabat yang duduk
diposisi strategis banyak terbua i oleh kesena ngan profanistik, mereka menghiasi
dirinya dengan kemega han dan kemewa han yang tidak dicontohkan oleh Nabi
sendiri semasa hidupnya.
Hasan al-Basr i akhirnya membentuk sebuah majlis (kelompok) kecil dan
mewa riskan ajaran-ajarannya pada murid-muridnya. Di dala m majlisnya tersebut
yang terletak di Bahsrah, kelompok Hasan al-Basr i inila h yang mer upakan cluster
perkembangan tasawuf tahap awal.

3 Muhammad Husein Haekal. Sejarah Hidup Nabi Muhammad. Yogyakarta: Pustaka


Hidayah. 1996. Hal: 478
4 Amin Syukur. Menggugat Tasawuf. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1999. Hal: 12

3
Sela in Hasan al-Basr i, tokoh sufi terkena l la innya adala h Rabi’ah al-
Adawiya h yang la hir pada 95 H/713 M di Basrah, 5 ia terkena l dengan Hubb
Allah -nya, sufi perempua n pertama yang terkena l ini mengena lkan konsep hub
allah dala m pengertia n yang kuat dan emosiona l. Mema ng istila h hubb bisa kita
temukan dari hadis-had is Nabi, tapi konsep hubb dala m Rabi’ah al-Adawiya h
tela h mengantarkannya pada esoterik cinta. Ia meninggal pada 185 H/801 M
dala m kesendiria nnya di dala m gua yang sela ma ini menjadi tempatnya berasyik
masyuk dengan Sang Tuhan. 6
Tidak dijelaska n apakah Rabi’ah perna h berguru pada Hasan al-Bashri,
tapi beberapa sejarawan ada yang mencatatnya tela h perna h bertemu dengan
Hasan al-Bashri, tapi tentu saat itu usia Rabia h masihla h sangat muda. Jika ia
bertemu pada tahun 110 pada akhir masa al-Bashri tentu Rabia h masih berusia 15
tahun. Tapi yang jelas menurut sejarah ia berguru pada Sufyan al-Tsa uri (97-161
H), yang juga sala h seorang zahid generasi awal. 7
Tapi terus terang pada masa diatas penggunaan nama sufi masih belum
penulis temukan kecuali pendapat Abd al-Ra hman al Jami yang mengatakan
bahwa pada masa ini tela h ada seorang zahid berna ma abu Hasyim al-Kufi (w.776
M) yang hidup di kufah tela h disebut sebagai sufi, 8 tapi pendapat ini tidak sesua i
dengan pendapat kebanyakan pengamat sejarah Isla m, jadi wajar jika sebagia n
sarjana Isla m mengistila hkan masa diatas sebaga i masa asketisme dan prilakunya
disebut dengan zahid atau apa yang penulis sebut periode ini sebaga i periode
embrio tasawuf.

5 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam Jilid 6. Jakarta: Ichtiar Baru Van
Houve. 1997. Cet. 4. Hal: 60
6 Ibid.

7 Ibid.

8 Al- Jami’ Abd al-Rahman. Nafahat al-Uns Min Hadarat al-Quds: Pancaran Kaum

Sufii. Terj.: Kamran As’ad Irsyady, Edt.: Bioer R. Soenardi.Yogyakarta: Pustaka Sufi.
Suf
2003. Hal: 3
4
2. Tasawuf Awal dan Perkembangan: Kultur Intelektual Al-Hallaj
Pada masa Abbasiyah tela h hadir Dzu al-Nun al-Mishri, ia dila hirkan di
Mesir pada tahun 190-an Hijr iah, dikena l sebaga i pengkritik prilaku ahli hadis-
Ulama fiq h, Hadis, dan teologi- yang dinila i mempunyai perselingkuhan dengan
duniawi, sebuah kritikan yang membua t para Ahlu al-Hadist kebakaran jenggot
dan mula i menyebut al-Mishri sebaga i Zindiq, pada tingkat penolakan yang kuat
oleh ahlu al-hadist membua t ia memutuska n untuk pergi ke Baghdad yang saat itu
dipimpin oleh khalifah al-Mutawakkil, setela h ia diterima oleh khalifah dan
dikena l dala m lingkungan ista na, pihak Mesir pun menjadi segan kepadanya, al-
Mishri dikena l sebaga i orang pertama yang mengena lkan maqamat dala m dunia
sufi dan tela h dikena l sebaga i sufi yang dikena l luas oleh para peneliti tasawuf.
Pemikirannya menjadi permulaa n sistematisasi perjala nan ruhani seorang sufi. Ia
meninggal pada tahun 245 H di Qurafah Shugra dekat Mesir.
Setela h al-Misr i, datang seorang sufi berna ma Surri al-Saqathi pada 253 H,
ia mengena lkan uzla h-uzla h yang sebelumnya hanya dikena l sebaga i tindakan
menyend iri secara persona l, dikembangkan al-Saqathi menjadi “uzlah kolektif”,
uzlah yang ditujukan untuk menghindari kehid upan duniawi yang melenakan
ataupun kehid upan duniawi yang penuh degan pertenta ngan, intrik dan
pertumpaha n darah. Pada masa-masa diatas tela h mula i dikena l istila h sufi di
beberapa kala ngan, sebuah sebutan bagi mere ka yang menghindari secara ketat
terhadap kesena ngan duniawi dan memilih untuk memfokuska n diri pada perkara
uhkrawi (kelak konsep uzla h inila h yang banyak dia nut oleh tasawuf sunni
dikemudia n hari). 9
Abu Yazid al-Bista mi pada 260 H/873 M, seorang sufi Persia yang mula i
mengena lkan konsep ittihad atau penyatuan asketis dengan Tuhan, penyatuan
tersebut menurutnya dila lui dengan beberapa proses, mula i fana’ dala m dicinta,

9 Kata uzlah juga dikenal di kalangan tasawuf falsafi, uzlah dalam pandangan ini
mengandung pengertian sebuah usaha untuk mencapai nalar rasional. Uzlah tipe ini
dikemukakan oleh Ibnu Bajjah. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam
Jilid 5. Jakarta: Ichtiar Baru Van Houve. 1997. Cet. 4. Hal: 154
5
bersatu dengan yang dicinta, dan kekal bersamanya. Jadi wajar jika al-Bista mi
dia nggap oleh Nicholson, sebaga ima na yang dikutip oleh Lammen, sebaga i
pendiri tasawuf dengan ide orisinil tentang wahdatul wujud di timur sebaga ima na
theosofi yang mer uapakan kekhasa n pemikiran Yunani. 10
Pengaruh Abu Yazid saat itu sangat luas bukan hanya di dunia muslim tapi
menembus hingga batas-batas agama. Tapi tentu ungkapan-ungkapan al-Bista mi
tela h menghadirka n pertenta ngan dengan Ulama ’ Hadis, mereka mengancam
pandangan-pandangan pantheisme al-Bis tami yang di anggap sesat.
Pasca al-Bishtami, al-Junaid pada 297 H / 909 M hadir dengan coba
mengkompromikan tasawuf dengan syariat, 11 hal ini ia lakukan setela h melihat

banyaknya pro-kontra antara sufi dan ahlu al-hadis 12 di masa nya, la gi pula al-
Junaid juga mempunyai basik (otoritas) sebaga i seorang ahli hadis dan fiq h.
Dengan apa yang dilakukannya, al-Junaid berharap kala ngan ortodoksi Isla m
tidak menghakimi kaum tasawuf sebaga i kaum yang sesat. Dan rupanya al-Junaid
berhasil, minima l ia tela h mengubah cara pandang kala ngan ortodoksi terhadap
tasawuf. Tampil bersama dengan al-Junaid, al-Kharraj (277 H) yang juga
menelurka n karya-karya kompromistis antara ortodoksi Isla m dan tasawuf.
Mansur Al-Hallaj 13 , murid al-Junaid yang hidup pada 244-309 H/858-922
M hadir dengan lebih berani dan radikal, sufi yang juga perna h berguru pada para
guru sufi di bashra ini hadir dengan konsep hulul yaitu konsep wahdatul wujud
dala m versi yang la in, jika al-Bista mi memula inya dengan fana’ fillah , maka al-
Hallaj mengemukakan pemikiran al-hulul yang berangkat dari dua sifat yang

10
Amin Syukur. Menggugat … Op. Cit. Hal: 33
11 H.Lammens. Islam, Beliefs and Institutions . New Delhi: Oriental Bokks. 1979. Hal:
126
12 Istilah ahli hadis pada masa itu tidak hanya dipakai untuk mereka yang memang punya

spesifikasi hadis tapi juga para ulama fiqh, yang menyandarkan pendapatnya pada teks-
teks al-qur’an dan al-hadis.
13
Mansur Al-Hallaj dilahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran
tenggara, pada 866 M. Berbeda dengan keyakinan umu m, Al-Hallaj bukan orang Arab, mela inkan
keturunan Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memel uk agama
Islam. Rosihon Anwar. Ilmu Tasawuf . Bandung: CV. Pustaka Setia. 2000. Hal: 135
6
dipunya i ma nusia yaitu nasut dan lahut dengan cara mengosongkan nasut dan
mengisinya dengan sifat lahut maka ma nusia bisa ber-inkarnasi dengan Alla h atau
yang terkena l dengan istila h hulul 14 , dan seterusnya. Al-Hallaj tidak memakai
tedeng aling-aling dala m mencer itakan pengala man spiritualnya dala m khala yak
umum, baginya yang ada hanyala h Alla h, tidak ada sesuatu pun yang harus
ditutupi dari sebuah kebenaran, baginya kecintaan pada Alla h dan “persetubuhan”
dengan Alla h dapatlah diraih, bahkan saat al-Hallaj dipasung ia sempat
berkata,”Ya Alla h ampunila h mereka yang tidak tahu, seanda inya mereka tahu
tentu mereka tidak akan melakukan hal ini”.15

14 Hulûl secara etimologis berasal dari kata hall-yahull-hulûl berarti berhenti atau diam.
Menurut Abû Manshûr al-Hallaj dalam tasawuf filosofis menyatakan bahwa hulûl adalah
pengalaman spiritual seorang sufi sehingga ia dekat dengan Allah, lalu Allah memilih
kemudian menempati dan menjelma padanya. Konsep hulûl dibangun di atas landasan
teori lâhût dan nâsût. Lâhût berasal dari perkataan ilâh yang berarti tuhan, sedangkan
lâhût berarti sifat ketuhanan. Nâsût berasal dari perkatan nâs yang berarti manusia;
sedangkan nâsût berarti sifat kemanusiaan. Al-Hallaj mengambil teori hulûl dari kaum
Nasrani yang menyatakan bahwa Allah memilih tubuh Nabi Isa, menempati, dan
menjelma pada diri Isa putra Maryam. Nabi Isa menjadi Tuhan, karena nilai
kemanusiaannya telah hilang. Hulûl Allah pada diri Nabi Isa bersifat fundamental dan
permanen. Sedangkan hulûl Allah pada diri al-Hallaj bersifat sementara; melibatkan
emosi dan spiritual; tidak fundamental dan permanen. Al-Hallaj tidak menjadi Tuhan dan
tidak menyatakan Tuhan, kecuali ucapan yang tidak disadarinya (syathahât). Al-Hallaj
tidak kehilangan nilai kemanusiannya. Ia hanya tidak menyadarinya selama syathahât.
Adapun tazkiyat al-nafs adalah langkah untuk membersihkan jiwa melalui tahapan
maqâmât hingga merasakan kedekatan dengan Allah dan mengalami al-fanâ’ 'an al-nafs.
Out put dari tazkiyat al-nafs adalah lâhût manusia menjadi bening, sehingga bisa
menerima hulûl dari nâsût Allah. Harun Nasution. Falsafat Dan Mistisisme Dalam
Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1995. Hal: 87-91. Lihat juga dalam Shayk Ibrahim Gazur
I-’llahi. The Secret Of The ’l-Haqq. Terj: HR. Bandaharo dan Joebaar Ajoeb.
Mengungkap Misteri Sufi Besar Mansur Al-Hallaj: Ana Al-Haqq. Jakarta: CV.
Rajawali. 1986.
15 Al-Hallaj dipasung oleh pemerintahan dinasti Abbasiyah pada tahun 923 M atas

tuduhan paham sesat dan atas tuduhan terlibat dengan aliran syi’ah qaramiyah yang
menentang dinasti Abbasiyah. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi … Op. Cit .
Hal: 74. Lihat pula dalam Ira M. Lapidus. Sejarah Sosial Umat Islam Islam. Jakarta: Raja
Grafindo Persada. 1999. Hal: 172
7
Para sufi-sufi diatas kemud ian diklasifikasikannya sebaga i sufi falsa fi dan
sufi ama li akhlaq i, dia ntara yang termasuk tasawuf falsa fi adala h al-Ha llaj, al-
Farabi, dan al-Bista mi, dan dia ntara yang menganut tasawuf ama li adala h al-
Junaid dan al-Kharraj. 16 Kaum falsa fi biasa nya diidentikkan dengan konsep sakr
(kemabukan) dan isyraqiya h (pancaran), adapun tasawuf ama li atau akhlaq i
biasa nya dikna l dengan konsep sahw (ketena ngan hati) dan zuhd.17

3. Perjalanan Intelektual Mansur Al-Hallaj: Suatu Kilas Balik


Di usia sangat muda, ia mula i mempelajari tata bahasa Arab, membaca Al-
Qur'an dan tafsir serta teologi. Ketika berusia 16 tahun, ia mera mpungka n
studinya, tapi merasakan kebutuhan untuk menginter nalisasikan apa yang tela h
dipela jarinya. Seorang pama nnya bercerita kepadanya tentang Sahl at-Tustari,
seorang sufi berani dan independen yang menurut hemat pama nnya, menyebarkan
ruh hakiki Isla m. Sahl adala h seorang sufi yang mempunyai kedudukan spiritual
tinggi dan terkena l karena tafsir Al-Qur'annya. Ia mengamalkan secara ketat
tradisi Nabi dan praktek-praktek kezuhudan keras semisa l puasa dan shalat sunat
sekitar empat ratus rakaat sehari. Al-Hallaj pinda h ke Tustar untuk berkhid mat
dan mengabdi kepada sufi ini. 18
Dua tahun kemud ian, al-Ha llaj tiba-tiba meninggalkan Sahl dan pinda h ke
Bashrah. Tidak jelas mengapa ia berbuat demikia n. Sama sekali tidak dijumpai
ada laporan ihwal corak pendid ikan khusus yang diperolehnya dari Sahl.
Tampaknya ia tidak dipa ndang sebaga i murid istimewa. Al-Hallaj juga tidak
mener ima pendid ikan khusus darinya. Namun, ini tidak berarti bahwa Sahl tidak
punya pengaruh pada dirinya. Memperhatikan sekilas praktek kezuhudan keras

16Rivay Siregar. Tasawuf Dari Sufisme Klasik ke Neo Klasik


Klasik. Jakarta: Raja Grafindo
Persada. 2000. Hal: 69-141
17
Georges C. Anawati. Philosophy, Theology, And Mysticism, dalam Legacy Of Islam. Ed t.:
Joseph Schaht. Oxford: Oxford University Press. 19 84. Hal: 368
18Rosihon Anwar. Ilmu Tasawuf … Loc. Cit. Hal: 135. Lihat juga dalam Mahyuddin.
Kuliah Akhlaq … Op. Cit. Hal: 74
8
yang dilakukan al-Ha llaj mengingatkan kita pada Sahl. Ketika al-Ha llaj memasuki
Bashrah pada 884 M, ia sudah berada dala m tingkat kezuhudan yang sangat tinggi.
Di Bashrah, ia berjumpa dengan Amr al-Makki yang secara formal
mentahbiska nnya dala m tasawuf. Amr adala h murid Junaid, 19 seorang sufi paling
berpengaruh saat itu.
Al-Hallaj berga ul dengn Amr sela ma delapan belas bula n. Akhirnya ia
meninggalkan Amr juga. Tampaknya seorang sahabat Amr yang berna ma al-Aqta
yang juga murid Junaid mengetahui kema mpua n dan kapasitas spiritual dala m diri
al-Ha llaj dan menyarankan agar ia menikah dengan saudara perempua nnya,
(Massignon menunjukkan bahwa pernikahan ini mungkin punya alasa n politis
la ntara n hubungan al-Aqta). Betapapun juga Amr tidak diminta pendapatnya,
sebaga ima n la zimnya terjadi. Hal ini menimbulkan kebencia n dan permusuhan
serta bukan hanya memutuska n hubungan persahabata n antara Amr dan Al-Aqta,
mela inkan juga membahayakan hubungan guru-murid antara Amr dan al-Ha llaj.
Al-Hallaj yang merasa memer lukan bantuan dan petunjuk untuk mengatasi situasi
ini, berangkat menuju Baghdad dan tingga l beberapa la ma bersama Junaid, yang
menaseha tinya untuk bersabar. Bagi Al-Hallaj, ini berarti menjauhi Amr dan
menjala ni hidup tena ng bersama keluarganya dan ia kembali ke kota kela hira nnya.
Diperkirakan bahwa ia memula i belajar pada Junaid, terutama lewa t surat-
menyurat, dan terus mengamalkan kezuhudan.
Enam tahun berla lu, dan pada 892 M, al-Ha llaj memutuska n untuk
menunaikan ibada h haji ke Mekah. Kaum Muslimin diwajibkan menunaikan
ibada h ini sekurang-kurangnya sekali sela ma hidup (bagi mereka yang ma mpu).
Namun ibada h haji yang dilakukan al-Ha llaj tida kla h biasa, mela inkan
berla ngsung sela ma setahun penuh, dan setiap hari dihabiska nnya dengan puasa
dari sia ng hingga ma lam hari. Tujua n al-Ha llaj melakukan praktek kezuhudan
keras seperti ini adala h menyucikan hatinya menundukkannya kepada Kehendak
Ila hi sedemikia n rupa agar dirinya benar-benar sepenuhnya diliputi oleh Alla h. Ia

19 Rosihon Anwar. Ilmu Tasawuf … Op. Cit. Hal: 135


9
pula ng dari menunaikan ibada h haji dengan membawa pikiran-pikiran baru
tentang berbagai topik seperti inspirasi Ila hi, dan ia membahas pikiran-pikiran ini
dengan para sufi la innya. Dia ntaranya adala h Amr al-Makki dan mungkin juga
Junaid.
Sangat boleh jadi bahwa Amr segera menentang al-Ha llaj. Aththar
menunjukkan bahwa al-Ha llaj datang kepada Junaid untuk kedua kalinya dengan
beberapa pertanyaan ihwal apakah kaum sufi harus atau tidak harus mengambil
tindakan untuk memperbaiki masyarakat (al-Halla j berpandangan harus,
sedangka n Junaid berpandangan bahwa kaum sufi tidak usah memperhatikan
kehid upan sementara di dunia ini). Junaid tidak ma u menjawab, yang membua t al-
Hallaj marah dan kemud ian pergi. Sebaliknya, Junaid mera ma lkan nasib Al-Hallaj.
Ketika al-Ha llaj kembali ke Bashrah, ia memula i mengajar, memberi
kulia h, dan menarik sejumla h besar murid. Namun pikiran-pikirannya
bertenta ngan dengan ayah mertuanya. Walhasil, hubungan merekapun memburuk,
dan ayah mertuanya sama sekali tidak ma u mengakuinya. Ia pun kembali ke
Tustar, bersama dengan istri dan adik iparnya, yang masih setia kepadanya. Di
Tustar ia terus mengajar dan mera ih keberhasila n gemila ng. Akan tetapi, Amr al-
Makki yang tidak bisa melupakan konflik mereka, mengirimkan surat kepada
orang-orang terkemuka di Ahwaz dengan menuduh dan menjelek-jelekkan nama
al-Ha llaj, situasinya makin memburuk sehingga al-Ha llaj memutuska n untuk
menjauhkan diri dan tidak la gi berga ul dengan kaum sufi. Sebaliknya ia ma lah
terjun dala m kancah hingar-binga r dan hiruk-pikuk duniawi.
Al-Hallaj meninggalkan juba h sufi sela ma beberapa tahun, tapi tetap terus
mencari Tuhan. Pada 899 M, ia berangkat mengadakan pengembaraan apostolik
pertama nya ke batasan timur la ut neger i itu, kemud ian menuju selatan, dan
akhirnya kembali la gi ke Ahwaz pada 902 M. Dalam perjalana nnya, ia berjumpa
dengan guru-guru spiritual dari berbagai maca m tradisi di antaranya,
Zoroastria nisme dan Manichea nisme. Ia juga mengena l dan akrab dengan
berbagai terminologi yang mereka gunakan, yang kemud ian digunakannya dala m
karya-karyanya belakangan. Ketika ia tiba kembali di Tustar, ia mula i la gi
mengajar dan memberikan kulia h. Ia bercerama h tentang berbagai rahasia ala m
10
semesta dan tentang apa yang terbersit dala m hati jamaahnya. Akibatnya ia
dijuluki Hallaj al-Asra r (kata Asrar bisa bermakna rahasia atau kalbu). 20 Jadi al-
Hallaj adala h sang penggaru segenap rahasia atau Kalbu, karena Hallaj berarti
seorang penggaru ia menarik sejumla h besar pengikut, namun kata-katanya yang
tidak la zim didengar itu membua t sejumla h ula ma tertentu takut, dan ia pun
dituduh sebaga i dukun.
Setahun kemud ian, ia menunaikan ibada h haji kedua. Kali ini ia
menunaikan ibada h haji sebaga i seorang guru diser tai empat ratus pengikutnya.
Banyak legenda dituturkan dala m perjala nan ini berkenaa n dengan diri al-Ha llaj
berikut berbagai maca m karamahnya. Semua nya ini makin membua t al-Ha llaj
terkena l sebaga i mempunyai perjanjia n dengan jin. Sesudah melakukan perjala nan
ini, ia memutuska n meninggalkan Tustar untuk sela manya dan bermukim di
Baghdad, tempat tingga l sejumla h sufi terkena l, ia bersahabat dengan dua
dia ntara nya mereka, Nuri dan Syibli.
Pada 906 M, ia memutuska n untuk mengemban tugas mengisla mkan
orang-orang Turki dan orang-orang kafir. Ia berla yar menuju India selatan, pergi
keperbatasa n utara wila yah Isla m, dan kemud ian kembali ke Bagdad. Perjalana n
ini berla ngsung sela ma enam tahun dan semakin membua tnya terkena l di setiap
tempat yang dikunjunginya. Jumla h pengikutnya makin bertamba h.
Tahun 913 M adala h titik balik bagi karya spiritualnya. Pada 912 M ia
pergi menunaikan ibada h haji untuk ketiga kalinya dan terakhir kali, yang
berla ngsung sela ma dua tahun, dan berakhir dengan diraihnya kesadaran tentang
Kebenaran. Di akhir 913 M inila h ia merasa bahwa hijab-hijab ilusi tela h
terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka dengan sang
Kebenaran (Al-Haqq). Di saat inila h ia mengucapkan, "Akula h Kebenaran" (Ana
Al-Haqq) dala m keadaan ekstase. Perjumpaan ini membangkitkan dala m dirinya
keingina n dan hasrat untuk menyaksikan cinta Alla h pada menusia dengan

20Saleh Abdul Sabur. Tragedi Al-Hallaj. Bandung: Pustaka. 1995. Hal: viii. Lihat juga
dalam Cyril Glasse. The Concise Ensyclopedia Of Islam. Terj: Ghufron A. Mas’adi.
Ensiklopedi Islam (Ringkas). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1996. Hal: 120
11
menjadi "hewa n kurban". Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang
dilakukan setiap muslim, mela inkan juga demi dosa-dosa segenap ma nusia. Ia
menjadi seorang Jesus Muslim, sungguh ia menginginka n tia ng gantungan.
Pada akhirnya, keberpihakan al-Ha llaj berikut pandangan-pandangannya
tentang agama, menyebabkan dirinya berada dala m posisi berseberangan dengan
kelas penguasa. Pada 918 M, ia diawasi, dan pada 923 M ia ditangkap. 21
Sang penasehat khalifah termasuk di antara sahabat al-Ha llaj dan untuk
sementara berhasil mencega h upaya untuk membunuhnya. Al-Hallaj dipenjara
hampir sela ma sembila n tahun. Sela ma itu ia terjebak dala m baku sengketa antara
segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun
meletus di Bagdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disa lahkan dan dituduh sebaga i
penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulata n kekuasaa n yang keras
di kala ngan ista na khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Ha llaj
berada di atas angin, sebaga i unjuk kekuasaa n atas musuh-musuhnya ia
menjatuhkan hukuma n mati atas al-Ha llaj dan memer intahka n agar ia dieksek usi.
Tak la ma kemud ian, al-Ha llaj disiksa di hadapan orang banyak dan
dihukum di atas tia ng gantungan dengan kaki dan tangannya terpotong. Kepalanya
dipenggal sehari kemud ian dan sang wazir sendiri hadir dala m peristiwa itu.
Sesudah kepala nya terpenggal, tubuhnya disira m minyak dan dibakar. Debunya
kemud ian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di
sungai itu. 22

C. Melacak Paradigma Pemikiran Al-Hallaj: Pemikiran Gradual Dalam


Tataran Konsep
Husein ibn Manshur al-Ha llaj yang mer upakan syekh sufi paling terkena l
pada abad 9 M, karena ia mengeluarkan statemen kontroversia l, “Akulah
Kebenaran”, suatu statemen yang membua tnya dieksek usi secara brutal. Bagi para

21 Alwi Syihab. Islam Sufistik. Jakarta: Mizan. 2001. Hal: 29. Lihat juga dalam Yunasril
Ali. Pengantar Ilmu Tasawuf. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. 1987. Hal: 67
22 Rosihon Anwar. Ilmu Tasawuf … Op. Cit. Hal: 136

12
ula ma ortodoks, kematia n ini dijustifikasi dengan alasa n bida h, sebab Isla m
eksoteris tidak mener ima pandangan bahwa seorang ma nusia bisa bersatu dengan
Alla h dan karena Kebenaran (al-Haq) adala h sala h satu nama Alla h, maka ini
berarti bahwa al-Ha llaj menyatakan ketuhanannya sendiri.
Kaum sufi yang seza man dengan al-Ha llaj juga sangat terkejut dengan
pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh
mengungkapkan segenap pengala man batiniyya hnya kepada orang la in. Mereka
berpandangan bahwa al-Ha llaj tidak ma mpu menyembunyikan berbagai mister i
atau rahasia Ila hi, dan eksekusi atas dirinya adala h akibat dari kemurkaan Alla h
la ntara n ia tela h mengungkapkan segenap rahasia tersebut.
Wala u demikia n, hampir semua syekh sufi sesuda hnya memuji al-Ha llaj
dan berbagai pelajaran yang diajarka nnya. ‘Aththar dala m karya nya Tadzkirat al-
Aulia, menyuguhkan banyak legenda seputar al-Ha llaj. ‘Aththar menyatakan,
seperti yang dikutip oleh Muhammad Ali Jamnia, bahwa ketakjuban ma nusia
yang bisa mener ima semak-belukar terbakar (yakni, mengacu pada percakapan
Alla h dengan nabi Musa as.) yang mengatakan, ‘Aku adala h Alla h’, serta benar-
benar meyakini bahwa kata-kata itu adala h kata-kata Alla h, tapi kita tidak bisa
mener ima ucapan al-Ha llaj, ‘Akulah Kebenaran’, padahal itu adala h kata-kata
Alla h sendiri! ”.23 Di dala m syair epiknya yang terkena l yaitu Matsnawi,
Jala luddin Rumi mengatakan bahwa kata-kata ‘akula h Kebenaran’ adala h
pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara ‘akula h Tuhan’ yang berasal dari
Fir’aun adala h kedzalima n. 24
Perlu dipa hami bahwa pada abad ke 3 H, sufisme tela h mentransformasi
diri dari kezuhudan dan kesederhanaan kepada suatu pema haman yang cender ung
mengabaikan syariat secara berlebiha n dan radikal 25, seperti kecender ungan para
fukaha Ahlussunna h kepada syariat. Tokoh-tokoh sufi berpendapat bahwa

23 Mojdeh Bayat dan Muhammad Ali Jamnia. Negeri Sufi. Jakarta : Lentera. 1997. Hal: 5
24 Ibid.Hal: 7
25 Nursiah. Ibnu Arabi Dan Syariah. Mizan: Bandung. 2007. Hal: 10

13
pelaksanaan syariat itu hanya tepat untuk tahap permulaa n, atau sekedar tangga
yang mesti dila lui untuk pinda h ke tahap berikutnya. Sebagia n tokoh—terutama
al-Ha llaj—berpendapat bahwa barang siapa sudah sampai ke tujua nnya, dia tidak
memer lukan perantara la gi, dia diperbolehka n mengabaikan perantara-perantara
tersebut. Karena itu, mereka berpendapat bahwa syariat itu boleh saja
dilaksanaka n sekedar formalitas; karena pelaksanaan syariat itu bahkan kadang-
kadang menyebabkan timbulnya hala ngan dala m menyela matkan diri mereka. 26
Al-Hallaj dan kawan-kawannya lebih jauh bahkan berpendapat bahwa para
wali mereka lebih tinggi derajatnya diba ndingkan Nabi. Hubungan para wali
dengan Tuhan mereka adala h hubungan la ngsung; mereka menyatu dan melebur
(fana) di dala m-Nya. Sedangkan para na bi tidak berhubunga n dengan-Nya kecuali
perantara. “Kami mengarungi la utan, sedangka n para nabi berdiri di tepi la utan
itu”. Mereka, Para sufi, berkata bahwa hanya diri mereka yang paling dekat
dengan sang Mawla (Tuhan) jika diba ndingkan fukaha Ahlussunna h yang paling
taqwa sekalipun. Bahkan mereka lebih tahu tentang agama diba ndingkan mereka.
Agama ula ma fikih, menurut mereka, adala h agama la hir, sedangka n agama
mereka sendiri adala h agama batin. Mereka mengklaim bahwa makrifat dan
hikma h Ila hiyyah lebih tinggi daripada ilmu para ula ma. Alasannya, tidak ada
ilmu yang mena ndingi tafakur, dan orang yang sudah menda lam ilmunya, maka
dia akan dapat melihat dengan benar.27
Pemikiran al-Ha llaj tentang inkarnasi (hulul ), kefanaan dala m Zat Tuhan,
serta kesatuan wujud nya dengan Tuhan dituduh tela h menggangu ketena ngan
Isla m. Al-Hallaj memprokla mirkan tentang pencampuran ruh Tuhan dengan ruh
ma nusia, seraya menjelaska n dala m syairnya bahwa dirinya dan al-Haqq, sang
Pencipta adala h satu :
Akulah yang ingin dan Yang ingin adala h aku
Kami adala h dua ruh yang tingga l di satu badan

26 Husin Ahmad Amin. 100 Tokoh Dalam Sejarah Islam. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya. 1995. Hal: 113
27 Ibid.

14
Jika kamu melihatku, berarti melihat-Nya
Dan jika kamu melihat-Nya, berarti kamu melihat kami 28

Dalam dua buah bait syairnya di atas, dia mengemukakan bahwa dua sisi
jurang tela h tergabung. Yaitu, jurang yang tak berbatas dengan jurang yang
berbatas; antara Alla h dan ma nusia, menurut para fukaha Isla m. 29
Al-Hallaj dala m pengajaran doktrinnya yang paling dramatic adala h Tuhan
memiliki sifat lahut dan nasut , demikia n juga ma nusia. Mela lui maqa mat (stasiun),
ma nusia ma mpu ke tingkat fana suatu tingkat di ma na ma nusia tela h ma mpu
menghila ngkan nasut-nya dan meningkatkan lahut yang mengontrol dan menjadi
inti kehid upan. Dalam demikia n itu, ma nusia memungkinka n untuk menghululka n
Tuhan dala m dirinya, atau dengan kata la in, Tuhan menitis kepada hamba yang
dipilih-Nya, mela lui titik sentral yaitu roh. 30
Sesuai dengan ajarannya tersebut, maka ketika ia mengatakan statemen
“Aku adala h Al-Haqq” bukanla h al-Ha llaj yang mengucapkan kata-kata itu, tetapi
roh Tuhan mengambil tempat dala m dirinya. Artrinya Tuhan mengucapkan kata-
kata mela lui diri al-Ha llaj sebagai med iasi profinistiknya.
Sementara itu, hulul--nya Tuhan kepada ma nusia erat kaitannya dengan
maqa mat sebaga i ma na tela h disebutkan, terutama maqa m fana . Fana bagi al-
Hallaj mengandung tiga tingkata n:
1. Tingkat memfanakan semua kecender ungan dan keingina n jiwa.
2. Tingkat memfanakan semua pikiran ( tajrid aqli ), khayala n,
perasaan dan perbuatan hingga tersimpul semata-ma ta hanya
kepada Alla h.
3. Tingkat menghila ngkan semua kekuatan pikir dan kesadaran.

28 Kausar Azhari Noer. Ibnu Al-


Al-‘‘Arabi: Wihdatul Wujud Dalam Perdebatan. Jakarta:
Paramadina. 1995. Hal: 124
29 Husin Ahmad Amin. 100 Tokoh … Op. Cit. Hal: 113

30 M. Laily Mansur. Ajaran Dan Teladan Para Sufi . Jakarta: Raja Grafindo Persada.

1996. Hal: 112


15
Dari tingkat fana dila njutkan ke tingkat fana al-fana, peleburan wujud jati
ma nusia menjadi sadar ketuhanan melarut dala m hulul hingga yang disadarinya
hanyala h Tuhan. 31 Tiada dala m kesadaran ma nusia akan eksistesi dirinya yang
larut dala m fana kecuali kesadaran akan eksistensi Tuhan.
Karena Tuhan itu adala h Wahid , Ahad, Wahiid , dan Muwahhad maka pada
dasarnya tidak ada yang mengesakan Alla h kecuali Alla h sendiri. Sela ma
mengaku kediriannya dala m mengesakan Alla h itu, sela ma itu ia belum bertauhid
dan masih berada dala m syirik khafi. Oleh karena Tuhan ‘melarut’ dala m diri
hamba yang dikehendaki-Nya, maka tauhid si hamba yang dikehendaki itu adala h
terhadap diri yang fana al-fana itu sendiri, di ma na ‘diri’ tela h ‘beruba h’ kepada
Dia yaitu al-Haqq. 32
Sala h satu teorinya yang la in adala h adanya fenomena Nur Muhammad .
Al-Hallaj mema ndang kepada Nabi Muhammad dala m dua bentuk yang berbeda
satu sama la in. Satu bentuk adala h berupa Nur Muhammad yang qadim, tela h ada
sebelum adanya segala yang ma ujud ini, dan dari padanya terpancar segala
maca m ilmu dan pengeta huan yang ghaib. Yang kedua adala h bentuk Nabi yang
diutus keadaannya baharu, dibatasi oleh waktu dan dari sini la hir kenabia n dan
kewalia n. 33
Ide Nur Muhammad itu menghendaki adanya Insa n Kamil, sebaga i
ma nifestasi kesempurnaan pada ma nusia. Dari sini al-Ha llaj mena mpilkan Insa n
Kamil itu bukan pada diri Nabi Muhammad sendiri mela inkan kepada diri Nabi
Isa al-Masih. Bagi al-Ha llaj, Isa adala h al-Syahid ala Wujudillah , tempat tajalli
dan berwujud nya Tuhan. Demikian juga hidup kewalia n yang sesungguhnya ada
pada kehid upan Isa al-Masih itu. 34

31 Ibid.

32 Ibid.

33 Nur Aini. Nur Muhammad: Paradigma Nilai Dasar Perjuangan Himpunan


Mahasiswa Islam (HMI). Makalah Latihan Kader II HMI Cabang Jember Se Jawa Dan
Bali di Yabina. Tanggal 20 Oktober 2006. Maklah tidak diterbitkan.
34 M. Laily Mansur. Ajaran Dan Teladan … Op. Cit. 112

16
D. Penutup
Mansur Al-Hallaj mer upakan suatu ikon tokoh tasawuf kontroversia l
dengan memunculkan statemen-statemen (syatahat) diluar jangkau rasiona litas
ma nusia yang tidak mempunyai otoritas spiritualitas seperti dirinya. Konsep yang
dimunculka nnya banyak berimplikasi konstruktif pada penyatuan pandangan
terhadap agama-agama di dunia menuju titik konvergensi dan pencera han
religiusitas umatnya. Dan dengan konsep hululnya ini pula, ma nusia dapat mera ih
hakikat spritua litas-religiusitas paling tinggi dan juga ma mpu me raih “penyatuan”
dengan realitas ketuhanan menuju fase “kenikmatan tanpa batas”.
Tiada kata akhir sela in kata “akhir” dari kala m Tuhan,
billa hi taufiq wal hida yah.

17