Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI PRAKTIS Peran Farmasis dalam Penanganan Resep Obat Anti Hipertensi

Disusun oleh : Kelompok II-C

Sutar Puspita N. Avivah

111102000077 1111102000122

Ayu Diah Gunardi 1111102000081 Nurhafiza 1111102000059

FARMASI VI-C FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan obat yang rasional merupakan hal utama dari pelayanan kefarmasian. Dalam mewujudkan pengobatan rasional, keselamatan pasien menjadi masalah yang perlu di perhatikan. Di rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lainnya, kejadian medication error dapat dicegah jika melibatkan pelayanan farmasi klinik dari apoteker yang sudah terlatih. Apoteker memiliki peran yang sangat penting dalam meminimalkan terjadinya medication error. Memberikan pelayanan kefarmasian secara paripurna dengan

memperhatikan faktor keselamatan pasien, antara lain dalam proses pengelolaan sediaan farmasi, melakukan monitoring dan mengevaluasi keberhasilan terapi, memberikan pendidikan dan konseling serta bekerja sama dengan pasien dan tenaga kesehatan lain merupakan suatu upaya yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Medication error yang terjadi dalam terapi pengobatan merupakan suatu hal yang besar yang harus diselesaikan oleh seorang Apoteker, karena Apoteker bertangunggjawab penuh dalam keselamatan pasien dan penggunaan obat yang tepat. Selain Apoteker, seorang dokter juga berperan penting dalam mendiagnosa dan peresapan obat. Diagnosa yang tepat dan pemberian resep yang rasional akan menghasilkan pengobtan yang tepat, baik dan rasional. Permasalahan terapi yang sering timbul yaitu dalam peresepan obat, dimana dalam penulisan resep yang dibuat oleh seorang dokter terkadang kurang jelas, idak tepat indikasi dan hal lainnya yang dapat mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam terapi. Oleh karena itu, dilakukanlah praktikum farmasi praktis ini agar dapat belajar dan berlatih, sehingga kesalahan terapi tidak terjadi.

1.2 Tujuan Praktikum Setelah menyelesaikan praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan praktek kefarmasian di apotek yang meliputi : 1. Mengerjakan kopi resep obat pasien hipertensi sesuai dengan alur pelayanan resep 2. Menganalisa keabsahan dan kerasionalan kopi resep 3. Memberikan konseling kepada pasien dengan baik

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Farmasi Klinik Farmasi klinik didefinisikan sebagai suatu keahlian profesional dalam bidang kesehatan yang bertanggung jawab untuk meningkatkan keamanan, kerasionalan, dan ketepatan penggunaan terapi obat oleh penderita melalui penerapan pengetahuan dan fungsi terspesialisasi dari apoteker dalam pelayanan penderita. Tujuan utama pelayanan farmasi klinik adalah meningkatkan keuntungan terapi obat dan mengkoreksi kekurangan yang terdeteksi dalam proses penggunaan obat. Oleh karena itu, misi farmasi klinik adalah meningkatkan dan memastikan kerasionalan, kemanfaatan, dan keamanan terapi obat. Ada tiga komponen utama yang mendasari peranan klinik dalam pelayanan farmasi di rumah sakit, yaitu : Komunikasi Adalah transformasi gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya dengan menggunakan lambang, kata-kata, gambar, bilangan, dan grafik. Jadi komunikasi adalah tindakan atau proses transmisi. Apoteker di rumah sakit harus menjadi seorang praktisi klinik yang efektif dan untuk itu ia harus mengembangkan keterampilan berkomunikasi. Agar komunikasi yang dilakukan berhasil dengan dokter dan tenga profesional lainnya maka apoteker harus memiliki dan menunjukkan percaya diri pada kemampuannya, kemauan untuk mendengar, perhatian pada kesehatan penderita, dan bersemangat untuk memberi kontribusi pada pelayanan penderita. Konseling Konseling penderita adalah suatu proses yang memberikan kesempatan kepada penderita untuk mengeksplorasi diri yang dapat memberikan kesempatan kepada penderita untuk mengeksplorasi diri yang dapat mengarah pada peningkatan kesadaran dan pengertian. Konseling penderita dalam pelayanan farmasi klinik adalah penyediaan dn penyampaian nasehat/masukan tentang hal yang berkaitan dengan obat kepada penderita melaksanakan regimen obatnya. Konsultasi Konsultasi merupakan salah satu aspek yang secara potensial berarti dan menjanjikan. Kebutuhan akan nara sumber untuk merinci informasi obat yang akurat akan

meningkat dengan terjadinya ledakan informasi yang berkelanjutan, pengobatan yang makin kompleks dan bahaya yang mungkin dari berbgai obat makin terbukti dan nara sumber itu secar logis adalah apoteker. 2.2 Resep 2.2.1 Defenisi Resep Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter gigi, dokter hewan yang diberi izin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotek untuk menyiapkan dan atau membuat, meracik serta menyerahkan obat kepada pasien (Syamsuni, 2006). Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter kepada apoteker untuk membuat dan atau menyerahkan obat kepada pasien (Anief, 1998).

2.2.2 Penulisan Resep Menurut Anief (1998) yang berhak menulis resep ialah : - Dokter - Dokter gigi, terbatas pada pengobatan gigi dan mulut - Dokter hewan, terbatas pengobatan untuk hewan. Resep harus ditulis jelas dan lengkap. Apabila resep tidak dapat dibaca dengan jelas atau tidak lengkap, Apoteker harus menanyakan kepada dokter penulis resep. 2.2.3 Tujuan Penulisan Resep Penulisan resep bertujuan untuk memudahkan dokter dalam pelayannan kesehatan di bidang farmasi sekaligus meminimlkan kesalahan dalam pemberian obat. Umumnya, rentang waktu buka instalasi farmasi/apotek dalam pelayanan farmasi jauh lebih panjang daripada praktik dokter, sehingga dengan penulisan resep diharapkan akan memudahkan pasien dalam mengakses obat-obatan yang diperlukan sesuai dengan penyakitnya. Selain itu tujuan dari pemberian resep yaitu pemberian obat lebih rasional dibandingkan dispensing (obat diberikan sendiri oleh dokter), dokter bebas memilih obat secara tepat, ilmiah, dan selektif. Dan juga dapat membentuk pelayanan berorientasi kepada pasien (patient oriented) bukan material oriented. Dan resep tersebut dapat juga menjadi medical record yang dapat dipertanggungjawabkan, sifatnya rahasia.

2.2.4 Format Penulisa Resep Menurut Jas (2009), resep terdiri dari 6 bagian : 1. Inscriptio Nama dokter, no. SIP, alamat/ telepon/HP/kota/tempat, tanggal penulisan resep. Untuk obat narkotika hanya berlaku untuk satu kota provinsi. Sebagai identitas dokter penulis resep. Format inscriptio suatu resep dari rumah sakit sedikit berbeda dengan resep pada praktik pribadi. 2. Invocatio Permintaan tertulis dokter dalam singkatan latin R/ = resipe artinya ambilah atau berikanlah, sebagai kata pembuka komunikasi dengan apoteker di apotek. 3. Prescriptio/Ordonatio Nama obat dan jumlah serta bentuk sediaan yang diinginkan. 4. Signatura Yaitu tanda cara pakai, regimen dosis pemberian, rute dan interval waktu pemberian harus jelas untuk keamanan penggunaan obat dan keberhasilan terapi. 5. Subscrioptio Yaitu tanda tangan/ paraf dokter penulis resep berguna sebagai legalitas dan keabsahan resep tersebut. 6. Pro (diperuntukkan) Dicantumkan nama dan umur pasien. Teristimewa untuk obat narkotika juga harus dicantumkan alamat pasien (untuk pelaporan ke Dinkes setempat).

2.2.5 Contoh Penulisan Resep

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Ketidak Patuhan Kepatuhan atau ketaatan adalah tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokternya atau oleh orang lain. Manfaat dari kepatuhan pasien terhadap pengobatan yaitu efek terapi yang di daptkan optimal, dan biaya pengobatannya kecil. Jika pasien tidak patuh dalam pengobatan maka akibatnya biaya yang dikeluarkan cukup mahal karena perawatan di rumah sakit, prosedur diagnostik dan pengobatan tambahan untuk mengatasi komplikasi, dan juga biaya visit dokter. Ketidak patuhan pasien terhadap pengobatan dapat disebabkan oleh beberpa faktor, diantaranya : 1. Faktor Pasien Diantaranya yaitu : - Tidak ingat untuk minum obat - Menghentikan pengobatan karena gejala hilang lebih awal - Penyakit asimtomatik - Tidak mengerti dengan instruksi - Tidak mengerti akan pentingnya keptuhan 2. Faktor Farmasis Diantaranya yaitu : - Konseling yang diberikan kuarang atau bahkan tidak ada - Sikap terhadap pentingnya produk - Tampilan fisik atau penampilan farmasis - Kurangnya waktu - Keterbatasan staf 3. Faktor Produk Diantaranya yaitu: - Kompleksitas regimen - Ketidaknyamanan sediaan obat - Rasa yang tidak enak - Harga obat - Efek sampig obat - Potensi penyalahgunaan obat

Peranan farmasis dari ketidak patuhan pasien yaitu: Dapat meningkatkan kepatuhan pasien dengan konseling Pada satu studi, konseling dapat menurunkan ketidak patuhan pasien sampai 60% Farmasis merupakan inforasi obat yang paling tepat Konseling merupakan tanggung jawab farmasis yang paling penting. 2.4 Pengobatan Rasional Penggunaan obat yang rasional adalah penggunaan obat yang sesuai dengan kebutuhan klinis pasien dalam jumlah dan untuk masa yang memadai, dan dengan biaya yang terendah. Ketidakrasionalan obat dapat dilihat dalm berbagai bentuk diantaranya : Pemberian dosis yang berlebihan atau tidak memadai Penggunaan banyak jenis obat yang sebenarnya tidak diperlukan (polifarmasi) Menggunakan obat yang lebih toksik padahal ada yang lebih aman Penggunaan antibiotik untuk infeksi virus Menggunakan injeksi padahal dapat digunakan sedian oralnya Memberikan beberapa obat yang berinteraksi Menggunakan obat tanda dasar. Dan juga bentuk ketidakrasionalan lainnya yaitu kebiasaan meresepkan obat mahal padahal tersedia obat yang sama efektifnya dan lebih murah, baik dalam kelompok yang sama atau berbeda kelompok. Contoh dari pemberian dosis yang berlebihan adalah di rumah sakit antibiotik profilaksis digunakan berlama-lama, padahal bukti imiah menunjukkan bahwa antibiotik profilaksis cukup diberikan perioperatif. Itulah salah satu contoh ketidakrasionalan penggunaan obat. Banyak faktor yang berperan menyebabkan ketidakrasionalan obat yaitu ada lima faktor diantaranya unsur : Intrinsink dokter Kelompok kerja dokter Tempat kerja dokter Informasi yang diterima

Sosial budaya masyarakat

2.5 Tipe ketidakrasionalan Tipe dari ketidak rasionalan ini ada lima yaitu : 1. Polifarmasi Yaitu penggunaan obat lebih dari satu jenis obat. 2. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat 3. Penggunaan injeksi berlebihan Penggunaan injeksi berlebihan ditakutkan terjadinya penularan penyakit yang mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak steril. 4. Peresepan yang tidak mengacu pada guideline klinis Contohnya yaitu dokter-dokter atau para medis lain yang meresepkan obat kepada pasien berdasarkan pengalamannya di waktu belajar atau ..... 5. Pengobatan sendiri yang tidak tepat 2.6 Akibat dari pengobatan tak rasional 1. Terhadap mutu pengobatan dan pelayanan Dimana kebiasaan peresepan yang tidak rasional akan mempengaruhi mutu pengobatan dan pelayanan secara langsung dan tidak langsung. 2. Terhadap biaya pelayanan dan pengobatan Penulisan resep tanpa indikasi yang jelas, untuk kondisi-kondisi yang sebenarnya tidak memerlukan terapi obat merupakan pemborosan baik dipandang dari sisi pasien maupun sistem pelayanan. 3. Terhadap kemungkinan efek samping obat Peresepan yang tidak rasional atau berlebihan baik dalam jenis dan dosis dapat meningkatkan efek samping obat. 4. Terhadap psikososial Peresepan yang berlebihan oleh dokter sering memberikan pengaruh psikologi masyarakat. Masyarakat sangat tergantun pada terapi obat walaupun belum tentu intervensi obat merupakan pilihan utama untuk kondisi tertentu.

2.7 Hipertensi Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps,2005). Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah secara terus menerus sehingga melebihi batas normal. Tekanan darah normal adalah 110/90 mmHg. Hipertensi produk dari resistensi pembuluh darah perifer dan kardiak output (Wexler, 2002) Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%) penyebab hipertensi tidak diketahui (hipertensi essential). Penyebab tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari pembuluh darah dari tepi dan peningkatan volume aliran darah (Kurniawan, 2002). Penyakit hipertensi merupakan penyakit kelainan jantung yang ditandai oleh meningkatnya tekanan darah dalam tubuh. Seseorang yang terjangkit penyakit ini biasanya berpotensi mengalami penyakit-penyakit lain seperti stroke, dan penyakit jantung (Rusdi dan Nurlaela, 2009). Dari definisi-definisi diatas dapat diperoleh kesimpulan bahwa hipertensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah menjadi naik karena gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya. merupakan

2.7.1 Patofisiologi hipertensi Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca

ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Corwin,2001) Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal mengsekresi epinefrin yang vasokontriksi. Korteks adrenal mengsekresi kortisol dan steroid lainnya, menyebabkan yang dapat

memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang suatu korteks

pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh

adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung hipertensi ( Dekker, 1996 ) Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia. Perubahan tersebut meliput i aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mencetus keadaan

mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Corwin,2001). 2.7.2 Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan penyebab dikenal dua jenis hipertensi, yaitu : Hipertensi primer (esensial) Adalah suatu peningkatan persisten tekanan arteri yang dihasilkan oleh ketidakteraturan mekanisme kontrol homeostatik normal, Hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya dan mencakup + 90% dari kasus hipertensi

(Wibowo, 1999).

Hipertensi sekunder Adalah hipertensi persisten akibat kelainan dasar kedua selain hipertensi esensial. Hipertensi ini penyebabnya diketahui dan ini menyangkut + 10% dari kasus-kasus hipertensi. (Sheps, 2005).

Berdasarkan bentuk hipertensi,yaitu hipertensi diastolic,campuran,dan sistolik. Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) yaitu peningkatan tekanan diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik. Biasanya ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. Hipertensi campuran (sistol dan diastol yang meninggi) yaitu peningkatan tekanan darah pada sistol dan diastol. Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension) yaitu peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan diastolik. Umumnya ditemukan pada usia lanjut. (Gunawan, 2001) Klasifikasi Menurut Joint National Commite 7 Komite eksekutif dari National High Blood Pressure Education Program merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari 46 professionalm sukarelawan, dan agen federal. Mereka mencanangkan klasifikasi JNC (Joint Committe on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure) pada tabel 1, yang dikaji oleh 33 ahli hipertensi nasional Amerika Serikat (Sani, 2008). Tabel 1 Klasifikasi Menurut JNC (Joint National Committe on Prevention, Detection, Evaluatin, and Treatment of High Blood Pressure)

Kategori

Kategori

Tekanan

dan/

Tekanan Darah Diastol (mmHg)

Tekanan Darah Tekanan Darah Darah Sistol atau menurut JNC 7 Normal Pra-Hipertensi Hipertensi: Tahap 1 Nornal Normal-Tinggi Hipertensi: Tahap 1 140-159 atau menurut JNC 6 Optimal (mmHg) < 120 120-139 < 130 130-139 dan atau dan atau

< 80 80-89 < 85 85-89

90-99

Tahap 2 -

Tahap 2 Tahap 3

160 160-179 180

atau atau atau

100 100-109 110

(Sumber: Sani, 2008) Data terbaru menunjukkan bahwa nilai tekanan darah yang sebelumnya dipertimbangkan normal ternyata menyebabkan peningkatan resiko komplikasi

kardiovaskuler. Data ini mendorong pembuatan klasifikasi baru yang disebut pra hipertensi (Sani, 2008).

Klasifikasi Menurut WHO (World Health Organization) WHO dan International Society of Hypertension Working Group (ISHWG) telah mengelompokkan hipertensi dalam klasifikasi optimal, normal, normal-tinggi, hipertensi ringan, hipertensi sedang, dan hipertensi berat (Sani, 2008). Tabel 2 Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO Kategori Tekanan Darah Tekanan Darah Sistol (mmHg) Optimal Normal Normal-Tinggi < 120 < 130 130-139 Tingkat 1 (Hipertensi Ringan) Sub-group: perbatasan 140-159 140-149 < 80 < 85 85-89 90-99 90-94 100-109 110 < 90 Diatol (mmHg)

Tingkat 2 (Hipertensi Sedang) 160-179 Tingkat 3 (Hipertensi Berat) Hipertensi sistol terisolasi (Isolated hypertension) Sub-group: perbatasan (Sumber: Sani, 2008) Klasifikasi menurut European Society of Hypertension (ESH) Klasifikasi yang dibuat oleh ESH adalah: 140-149 systolic 180 140

<90

1. Jika tekanan darah sistol dan distol pasien berada pada kategori yang berbeda, maka resiko kardiovaskuler, keputusan pengobatan, dan perkiraan afektivitas pengobatan difokuskan pada kategori dengan nilai lebih. 2. Hipertensi sistol terisolasi harus dikategorikan berdasarkan pada hipertensi sistol-distol (tingkat 1, 2 dan 3). Namun tekanan diastol yang rendah (60-70 mmHg) harus dipertimbangkan sebagai resiko tambahan. 3. Nilai batas untuk tekanan darah tinggi dan kebutuhan untuk memulai pengobatan adalah fleksibel tergantung pada resiko kardiovaskuler total

Klasifikasi menurut ES Kategori Tekanan Darah (mmHg) Optimal Normal Normal-Tinggi Hipertensi tahap 1 Hipertensi tahap 2 Hipertensi tahap 3 Hipertensi terisolasi (Sumber: Mancia G, 2007) a. Klasifikasi menurut International Society on Hypertension in Blcks (ISHIB) (Douglas JG, 2003) < 120 120-129 130-139 140-159 160-179 180 dan dan/atau dan/atau dan/atau dan/atau dan/atau Dan Sistol Tekanan Darah Diastol (mmHg) < 80 80-84 85-89 90-99 100-109 110 < 90

sistol 140

2.7.3 Etiologi hipertensi Corwin (2000) menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada kecepatan denyut jantung, volume sekuncup dan Total Peripheral Resistance (TPR). Maka peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi. Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau hormon pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidisme. Namun, peningkatan kecepatan denyut jantung

biasanya dikompensasi oleh penurunan volume sekuncup atau TPR, sehingga meninbulkan hipertensi (Astawan,2002)

tidak

Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Peningkata preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik ( Amir,2002) Peningkatan Total Periperial Resistence yang berlangsung lama dapat terjadi pada peningkatan

rangsangan saraf atau hormon pada arteriol, atau responsivitas yang berlebihan dari arteriol terdapat rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pada peningkatan Total Periperial Resistence, jantung harus memompa secara lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar, untuk mendorong darah melintas pembuluh darah yang menyempit. Hal ini disebut peningkatan dalam afterload jantung dan biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik. Apabila peningkatan afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin mulai mengalami hipertrifi

(membesar). Dengan hipertrofi, kebutuhan ventrikel akan oksigen semakin meningkat sehingga ventrikel harus mampu memompa darah secara lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan tesebut. Pada hipertrofi, serat-serat otot jantung juga mulai tegang melebihi normalnya yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kontraktilitas dan sekuncup.( Hayens, 2003 ) Tanda dan Gejala Hipertensi Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat, edema pupil (edema pada diskus optikus). Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala sampai bertahun-tahun. Gejala bila ada menunjukan adanya kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan. panjang volume

Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan azetoma [peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin]. Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam penglihatan (Wijayakusuma,2000 ). Crowin (2000: 359) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah berupa :Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang mengalami hipertensi bertahun-tahun disertai mual dan muntah, akibat

peningkatan tekanan darah intrakranial,Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi,Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf glomerolus,Edema

pusat,Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

Gejala lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka merah, sakit kepala, keluaran darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal dan lain-lain (Wiryowidagdo,2002). Faktor-faktor Resiko Hipertensi Faktor resiko hipertensi meliputi : Faktor usia sangat berpengaruh terhadap hipertensi karena dengan bertambahnya umur maka semakin tinggi mendapat resiko hipertensi. Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon.

Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur (Julianti, 2005). Jenis kelamin juga sangat erat kaitanya terhadap terjadinya hipertensi dimana pada masa muda dan paruh baya lebih tinggi penyakit hipertensi pada laki-laki dan pada wanita lebih tinggi setelah umur 55 tahun, ketika seorang wanita mengalami Perbandingan antara pria dan wanita, ternyata wanita lebih banyak hipertensi. Dari laporan sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka dan 11% pada wanita. Laporan dari Sumatra Barat

menopause menderita

prevalensi 6% dari pria

menunjukan 18,6% pada pria dan 17,4% wanita. Di daerah perkotaan Semarang didapatkan 7,5% pada pria dan 10,9% pada wanita. Sedangkan di daerah perkotaan

Jakarta didapatkan 14,6 pada pria dan 13,7% pada (Depkes@gmail.com)

wanita (Gunawan, 2001).

Riwayat keluarga juga merupakan masalah yang memicu masalah terjadinya hipertensi hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan. Jika seorang dari orang tua kita memiliki riwayat hipertensi maka sepanjang hidup kita memiliki kemungkinan 25% terkena hipertensi ( Astawan,2002 ) Garam dapur merupakan faktor yang sangat dalam patogenesis hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Asupan garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan hipertensi yang rendah jika asupan garam antara 5-15 gram perhari, prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20%. Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya hipertensi terjadai

melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah (Basha, 2004). Garam mengandung 40% sodium dan 60% klorida. Orang-orang peka sodium lebih mudah meningkat sodium, yang menimbulkan retensi cairan dan peningkatan tekanan darah (Sheps, 2000). Garam berhubungan erat dengan terjadinya tekanan darah tinggi gangguan pembuluh darah ini hampir tidak ditemui pada suku pedalaman yang

asupan garamnya rendah. Jika asupan garam kurang dari 3 gram sehari prevalensi hipertensi presentasinya rendah, tetapi jika asupan garam 5-15 gram perhari, akan meningkat prevalensinya 15-20% (Wiryowidagdo, 2004). Garam mempunyai sifat menahan air. Mengkonsumsi garam lebih atau makanmakanan yang diasinkan dengan sendirinya akan menaikan tekanan darah. Hindari pemakaian garam yang berkebih atau makanan yang diasinkan. Hal ini tidak berarti menghentikan pemakaian garam sama sekali dalan makanan. Sebaliknya jumlah garam (Wijayakusuma, 2000). Merokok merupaka salah satu faktor yang dapat diubah, adapun hubungan merokok dengan hipertensi adalah nikotin akan menyebabkan peningkatan tekana darah yang dikonsumsi batasi

karena nikotin akan diserap pembulu darah kecil dalam paru-paru dan diedarkan oleh pembuluh darah hingga ke otak, otak akan bereaksi terhadap nikotin dengan member sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas efinefrin (Adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembulu darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi.Selain itu, karbon monoksida dalam asap rokokmenggantikan oksigen dalam darah. Hal ini akan menagakibatkan tekana darah karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup kedalam orga dan jaringan tubuh ( Astawan, 2002 ).

Aktivitas sangat mempengaruhiterjadinya hipertensi, dimana pada orang yang kuan aktvitas akan cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tingi sehingga otot jantung akan harus bekerja lebih keras pada tiap kontraksi.Makin keras dan sering otot jantung memompa maka makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri ( Amir, 2002 ). Stress juga sangat erat merupakan masalah yang memicu terjadinya hipertensi

dimana hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota (Dunitz, 2001). 2.7.4 pengobatan pasien hipertensi secara nonfarmakologi Perawatan penderita hipertensi pada umumnya dilakukan oleh keluarga dengan memperhatikan pola hidup dan menjaga psikis dari anggota keluarga yang menderita hipertensi. Pengaturan pola hidup sehat sangat penting pada klien hipertensi guna untuk mengurangai efek buruk dari pada hipertensi. Adapun cakupan pola hidup antara lain berhenti merokok, mengurangi kelebihan berat badan, menghindari alkohol, modifikasi diet. Dan yang mencakup psikis antara lain mengurangi sres, olahraga, dan istirahat (Amir, 2002). Merokok sangat besar perananya meningkatkan tekanan darah, hal ini disebabkan oleh nikotin yag terdapat didalam rokok yang memicu hormon adrenalin yang menyebabkan tekana darah meningkat. Nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah didalam paru dan diedarkan keseluruh aliran darah lainnya sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan kerja jantung semakin meningkat untuk memompa darah keseluruh tubuh melalui pembuluh darah yang sempit. Dengan berhenti merokok tekanan darah akan turun secara perlahan , disamping itu jika masih merokok maka obat yang dikonsumsi tidak akan bekerja secar optimal dan dengan berhenti merokok efektifitas obat akan meningkat ( Santoso, 2001 ). Mengurangi berat badan juga menurunkan resiko diabetes, penyakit kardiovaskular, dan kanker .Secara umum, semakin berat tubuh semakin tinggi tekanan darah, jika

menerapkan pola makan seimbang maka dapat mengurangi berat badan dan menurunkan tekanan darah dengan cara yang terkontrol . Alkohol dalam darah merangsang adrenalin dan hormone hormon lain yang

membuat pembuluh darah menyempit atau menyebabkan penumpukan natrium dan air. Minum-minuman yang beralkohol yang berlebih juga dapat menyebabkan kekurangan gizi yaitu penurunan kadar kalsium.Mengurangi alkohol dapat menurunkan tekanan sistolik 10 mmhg dan diastolik 7 mmhg. Modifikasi diet atau pengaturan diet sangat penting pada klien hipertensi, tujuan utama dari pengaturan diet hipertensi adalah mengatur tentang makanan sehat yang dapat mengontrol tekanan darah tinggi dan mengurangi penyakiit kardiovaskuler. Secara garis besar, ada empat macam diet untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan keadaan tekana darah , yakni : diet rendah garam , diet rendah kolestrol, lemak terbatas serta tinggi serat, dan rendah kalori bila kelebihan berat baadan ( Astawan,2002 ). Diet rendah garam diberikan kepada pasien dengan edema atau asites serta hipertensi. Tujuan diet rendah garam adalah untuk menurunkan tekanan darah dan untuk mencegah edema dan penyakit jantung ( lemah jantung ). Adapun yang disebut rendah garam bukan hanya membatasi konsumsi garam dapur tetapi mengkonsumsi makanan rendah sodium atau natrium ( Na).Oleh karena itu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam melakukan diet rendah garam adalah komposisi makanan yang harus mengandung cukup zat zat gizi, baik kalori, protein, mineral maupun vitamin dan rendah sodium dan natrium ( Gunawan, 2001). Sumber sodium antara lain makanan yang mengandung soda kue, baking powder,MSG( Mono Sodium Glutamat ), pengawet makanan atau natrium benzoat (

Biasanya terdapat didalam saos, kecap, selai, jelly ), makanan yang dibuat dari mentega serta obat yang mengandung natrium ( obat sakit kepala ). Bagi penderita hipertensi, biasakan penggunaan obat dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. ( Hayens, 2003 ). Diet rendah kolestrol dan lemak terbatas. Di dalam tubuh terdapat tiga bagian lemak yaitu : kolestrol, trigeserida, dan pospolipid.Tubuh memperoleh kolestrol dari makanan sehari hari dan dari hasil sintesis dalam hati. Kolestrol dapat berbahaya jika dikonsumsi lebih banyak dari pada yang dibutuhkan oleh tubuh, peningkatan kolestrol dapat terjadi karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung kolestrol tinggi dan tubuh akan mengkonsumsi sekitar 25 50 % dari setiap makanan ( Amir, 2002 ).

Diet tinggi serat sangat penting pada penderita hipertensi, serat terdiri dari dua jenis yaitu serat kasar ( Crude fiber ) dan serat kasar banyak terdapat pada sayuran dan buah buahan, sedangkan serat makanan terdapat pada makanan karbohidrat yaitu : kentang, beras, singkong dan kacang hijau. Serat kasar dapat berfungsi mencegah penyakit tekanan darah tinggi karena serat kasar mampu mengikat kolestrol maupun asam empedu dan selanjutnya membuang bersama kotoran. Keadaan ini dapat dicapai jika makanan yang dikonsumsi mengandung serat kasar yang cukup tinggi ( Mayo, 2005 ). Diet rendah kalori dianjurkan bagi orang yang kelebihan berat badan.Kelebihan berat badan atau obesitas akan berisiko tinggi terkena hipertensi. Demikian juga dengan orang yang berusia 40 tahun mudah terkena hipertensi. Dalam perencanaan diet, perlu diperhat ikan hal hal berikut : 1. Asupan kalori dikurangi sekitar 25% dari kebutuhan energi atau 500 kalori penurunan 500 gram atau 0.5 kg berat badan per minggu. 2. Menu makanan harus seimbang dan memenuhi kebutuhan zat gizi. 3. Perlu dilakukan aktifitas olah raga ringan. Stres tidak menyebabkan hipertensi yang menetap, tetapi stress berat dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah yang nersifat sementara yang sangat tinggi. Jika periode stress sering terjadi maka akan mengalami kerusakan pada pembuluh darah, jantung dan ginjal sama halnya seperti yang menetap ( Amir,2002). Manfaat olah raga yang sering di sebut olah raga isotonik seperti jalan kaki, jogging, berenang dan bersepeda sangat mampu meredam hipertensi. Pada olah raga isotonik mampu menyusutkan hormone noradrenalin dan hormone hormone lain penyebab naiknya dapat untuk

tekanan darah. Hindari olah raga Isometrik seperti angkat beban, karena justru menaikkan tekanan darah ( Mayer,1980).

Istirahat merupakan suatu kesempatan untuk memperoleh energi sel dalam tubuh,istirahat dapat dilakukan dengan meluangkan waktu. Meluangkan waktu tidak berarti minta istirahat lebih banyak dari pada bekerja produktif samapai melebihi

kepatuhan.Meluangkan waku istiraha itu perlu dilakukan secara rutin diantara ketegangan jam sibuk bekerja sehari hari. Bersantai juga bukan berarti melakukan rekreasi yang

melelahkan,tetapi yang dimaksudkan dengan istirahat adalah usaha untuk mengembalikan stamina tubuh dan mengembalikan keseimbangan hormon dan dalam tubuh ( Amir,2002).

2.7.5 Pengobatan hipertensi secara farmakologi Kelas obat utama yang digunakan untuk mengendalikan tekanan darah adalah : 1. Diuretik Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan diuresis. Pengurangan volume plasma dan Stroke Volume (SV) berhubungan dengan dieresis dalam penurunan curah jantung (Cardiac Output, CO) dan tekanan darah pada akhirnya. Penurunan curah jantung yang utama menyebabkan resitensi perifer. Pada terapi diuretik pada hipertensi kronik volume cairan ekstraseluler dan volume plasma hampir kembali kondisi pretreatment. a. Thiazide Thiazide adalah golongan yang dipilih untuk menangani hipertensi, golongan lainnya efektif juga untuk menurunkan tekanan darah. Penderita dengan fungsi ginjal yang kurang baik Laju Filtrasi Glomerolus (LFG) diatas 30 mL/menit, thiazide merupakan agen diuretik yang paling efektif untuk menurunkan tekanan darah. Dengan menurunnya fungsi ginjal, natrium dan cairan akan terakumulasi maka diuretik jerat Henle perlu digunakan untuk mengatasi efek dari peningkatan volume dan natrium tersebut. Hal ini akan mempengaruhi tekanan darah arteri. Thiazide menurunkan tekanan darah dengan cara memobilisasi natrium dan air dari dinding arteriolar yang berperan dalam penurunan resistensi vascular perifer. b. Diuretik Hemat Kalium Diuretik Hemat Kalium adalah anti hipertensi yang lemah jika digunakan tunggal. Efek hipotensi akan terjadi apabila diuretik dikombinasikan dengan diuretik hemat kalium thiazide atau jerat Henle. Diuretik hemat kalium dapat mengatasi kekurangan kalium dan natrium yang disebabkan oleh diuretik lainnya. c. Antagonis Aldosteron Antagonis Aldosteron merupakan diuretik hemat kalium juga tetapi lebih berpotensi sebagai antihipertensi dengan onset aksi yang lama (hingga 6 minggu dengan spironolakton).

d. Beta Blocker Mekanisme hipotensi beta bloker tidak diketahui tetapi dapat melibatkan menurunnya curah jantung melalui kronotropik negatif dan efek inotropik jantung dan inhibisi pelepasan renin dan ginjal. a. Atenolol, betaxolol, bisoprolol, dan metoprolol merupakan kardioselektif pada dosis rendah dan mengikat baik reseptor 1 daripada reseptor 2. Hasilnya agen tersebut kurang merangsang bronkhospasmus dan vasokontruksi serta lebih aman dari non selektif bloker pada penderita asma, penyakit obstruksi pulmonari kronis (COPD), diabetes dan penyakit arterial perifer.

Kardioselektivitas merupakan fenomena dosis ketergantungan dan efek akan hilang jika dosis tinggi. b. Acebutolol, carteolol, penbutolol, dan pindolol memiliki aktivitas intrinsik simpatomimetik (ISA) atau sebagian aktivitas agonis reseptor . e. Inhibitor Enzim Pengubah Angiotensin (ACE-inhibitor) ACE membantu produksi angiotensin II (berperan penting dalam regulasi tekanan darah arteri). ACE didistribusikan pada beberapa jaringan dan ada pada beberapa tipe sel yang berbeda tetapi pada prinsipnya merupakan sel endothelial. Kemudian, tempat utama produksi angiotensin II adalah pembuluh darah bukan ginjal. Pada kenyataannya, inhibitor ACE menurunkan tekanan darah pada penderita dengan aktivitas renin plasma normal, bradikinin, dan produksi jaringan ACE yang penting dalam hipertensi. f. Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB) Angiotensin II digenerasikan oleh jalur renin-angiotensin (termasuk ACE) dan jalur alternatif yang digunakan untuk enzim lain seperti chymases. Inhibitor ACE hanya menutup jalur renin-angiotensin, ARB menahan langsung reseptor angiotensin tipe I, reseptor yang memperentarai efek angiotensin II. Tidak seperti inhibitor ACE, ARB tidak mencegah pemecahan bradikinin. g. Antagonis Kalsium CCB menyebabkan relaksasi jantung dan otot polos dengan menghambat saluran kalsium yang sensitif terhadap tegangan sehingga mengurangi masuknya kalsium ekstra selluler ke dalam sel. Relaksasai otot polos vasjular menyebabkan vasodilatasi dan berhubungan dengan reduksi tekanan darah. Antagonis kanal kalsium dihidropiridini dapat menyebbakan aktibasi refleks simpatetik dan semua golongan ini (kecuali amilodipin) memberikan efek inotropik negative.

Verapamil menurunkan denyut jantung, memperlambat konduksi nodus AV, dan menghasilkan efek inotropik negative yang dapat memicu gagal jantung pada penderita lemah jantung yang parah. Diltiazem menurunkan konduksi AV dan denyut jantung dalam level yang lebih rendah daripada verapamil. h. Alpha blocker Prasozin, Terasozin dan Doxazosin merupakan penghambat reseptor 1 yang menginhibisi katekolamin pada sel otot polos vascular perifer yang memberikan efek vasodilatasi. Kelompok ini tidak mengubah aktivitas reseptor 2 sehingga tidak menimbulkan efek takikardia. i. VASO-dilator langsung Hedralazine dan Minokxidil menyebabkan relaksasi langsung otot polos arteriol. Aktivitasi refleks baroreseptor dapat meningkatkan aliran simpatetik dari pusat fasomotor, meningkatnya denyut jantung, curah jantung, dan pelepasan renin. Oleh karena itu efek hipotensi dari vasodilator langsung berkurang pada penderita yang juga mendapatkan pengobatan inhibitor simpatetik dan diuretik. j. Inhibitor Simpatetik Postganglion Guanethidin dan guanadrel mengosongkan norepinefrin dari terminal simpatetik postganglionik dan inhibisi pelepasan norepinefrin terhadap respon stimulasi saraf simpatetik. Hal ini mengurangi curah jantung dan resistensi vaskular perifer . k. Agen-agen obat yang beraksi secara sentral l. VASO-dilator langsung

BAB III Prosedur Praktikum Langkah Pelayanan Resep : Berikut merupakan langkah-langkah pelayanan resep oleh seorang farmasist kepada pasien di Apoteker. Penerimaan Resep Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter kepada apoteker untuk membuat dan atau menyerahkan obat kepada pasien. Apoteker atau asisten apoteker setelah menerima Resep dari pasien hal yang pertama dilakukan adalah mengecek kelengkapan resep

Mengecek kelengkapan resep : Menurut teori, resep terdiri atas lima bagian penting yaitu Invecato, Inscriptio, Praescriptio, Signatura dan Subcriptio. o Inscriptio yaitu tanggal dan tempat ditulisnya resep o Invecato yaitu tanda buka penulisan resep dengan R/ o Praescriptio atau ordinatio adalah nama obat, jumlah dan cara membuatnya. o Signatura merupakan aturan pakai dari obat yang tertulis o Subcriptio adalah Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep Setelah diperiksa semua kelengkapan resep (resep terlampir pada lampiran) kemudian dilanjutkan langkah selanjutnya dalam pelayanan resep di apoteker yaitu mencatat riwayat pengobatan pasien. Mencatat riwayat pengobatan pasien : Untuk menghindari terjadinya interaksi obat-obatan yang digunakan pasien maka apoteker diharuskan mengetahui riwayat pengobatan pasien sehingga apoteker dapat memberikan informasi penggunaan obat yang benar dan mencapai yujuan terapetik. Menganalisisa kerasionalitasan obat (Tepat indikasi, pasien, dosis, cara pemakaian) Penjelasan mengapa ada obat yang dihilangkan dan sebagainya. Setelah mendapatkan informasi mengenai obat-obatan yang digunakan pasien, riwayat penyakit pasien, umur pasien dan setelah menganalisa obat-obatan pada resep maka apoteker dapat menilai dan apabila diperlukan apoteker dapat mempertimbangkan mengenai pengusulan penggantian obat kepada dokter. Mengenai pengusulan penggantian obat kepada dokter dapat dilakukan dengan melalui via telpon atau apoteker menemui secara langsung dokter yang memberikan resep.

Penyiapan obat Setelah apoteker dan dokter mendapatkan kesepakatan obat yang akan diberikan kepada pasien , apoteker dapat menyiapkan obat-obatan yang akan diberikan kepada pasien hal yang harus dilakukan dalam penyiapan obat adalah : Menyiapan etiket Etiket yang ditulis harus jelas aturan pakai dan dosisnya agar pasien tidak bingung saat menggunakannya, jika pasien meminta boleh diberikan catatan aturan meminum obat untuk mempermudah pasien. Penyiapan obat masuk ke wadah dan beri etiket

Obat yang telah disiapkan dimasukkan kedalam wadah obat dan ditempel etiket yang telah disiapkan. jangan sampai tertukar maupun terjadi kesalahan. Pemeriksaan akhir Obat diperiksa sebelum obat diberikan kepada pasien, dan meyakinkan apoteker dan asisten apoteker mengenai kebenaran obat. Hal yang harus dilakukan dalam pemeriksaan akhir : Kesesuaian obat dengan resep Baca kembali resep dan bandingkan dengan obat dan etiket yang telah disiapkan mengenai jenis obat dan aturan pakai yang diresepkan. Membuat kopi resep Kopi resep dibuat dengan tujuan untuk memuat semua keterangan yang termuat dalam resep asli. Kopi resep juga dapat difungsikan apabila pada kondisi seorang pasien ada sejumlah obat yang belum dibeli, maka apoteker harus memberikan salinan resep kepada pasie, untuk membeli obat yang belum sempat dibeli oleh pasien ketika pertama kali menebus resep. Salinan resep tidak berlaku untuk resep yang mengandung Narkotik. Penyiapan materi informasi Sebelum menyerahkan obat kepada pasien Farmasist harus menyiapkan informasi yang akan diberikan kepada pasien baik mngenai efek samping obat yang mungkin dialami pasien, cara penggunaan obat yang baik dan hal apaun yang dianggap diperlukan pasien. Farmasit dapat menggali dari pengalaman dan ilmu yang dimiliki oleh seorang farmasist maupun buku-buku penunjang yang berisikan informasi mengenai obat yang dibutuhkan.

Penyerahan obat dan pemberian konseling Penyerahan obat Penyerahan obat kepada pasien harus dilengkapi dengan aturan pakai, pemberian etiket yang sesuai, pemberian label KOCOK DAHULU untuk sediaan suspensi, DIHABISKAN untuk obat-obatan antibiotik. Untuk obat bebas terbatas yang berasal dari industri farmasi tanpa resep, diberikan dengan kemasannya, untuk obat bebas diberikan dengan aturan pakainya. Pemberian konseling

Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan sediaan farmasi. Informasi harus disampaikan dengan jelas, sopan gunakan bahasa yang baik dan dapat mudah dimengerti pasien, minta pasien untuk mengulangi informasi yang diberikan untuk memastikan pasien menerima informasi yang telah diberikan farmasist.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Resep KLINIK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 79432222 SIA : 123456AC APA: Apoteker muslim,s.si,Apt Iter 2X Nama Dokter : Andre Alamat praktek : jl Ciputat No 25 Nama Pasien : Tn Toni Alamat Pasien : Kertamukti No 28 Tanggal Resep : 13 feb 2014 R/ exforge tab LX S2 dd 1 R/ tenormin 50 mg tab no LX S2 dd 1 R/Hapsen 5 mg tab no LX S3 dd 1 R/pharflox tab no X S 1 dd 1 Prpepsa tab no XXX S3 dd 1 (tanda tangan) PCC

Riwayat pengobatan Lembar riwayat pengobatan pasien : Nama pasien : Tn Toni Umur : 40 tahun

Jenis Kelamin : Laki laki Alamat/telp : Ciputat/ 781333

Riwayat pengobatan o Obat yang sedang digunakan : Obat pada resep

o Penggunaan obat herbal/ tradisinal : o Riwayat alergi obat :-

Kopi Resep APOTEK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 79432222 SIP : 12345678910 APA : Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt

iter 2X

Nama Dokter : dr Andre Alamat Dokter : Jl. Ciputat No.25 Nama Pasien : Tn Toni Umur Pasien : 40 tahin Alamat Pasien : Kertamukti No 28 Tanggal ditulisnya Resep : 13 feb 2014 Tanggal Pembutan : 13 Maret 2014 No Resep : 078 R/ exforge tab LX S1 dd 1 det ori 2x R/ tenormin 50 mg tab no LX S1 dd 1 det ori 2x R/Hapsen 5 mg tab no LX S1 dd 1 det ori 2x Prpepsa tab no XXX S3 dd 1 det ori 2X Detur Cap apotek P.C.C Pro Copy Conform Yang menyalin :

(ttd/paraf) Apoteker pengelola apotek

Etiket

APOTEK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 7943222 SIA : 12345678910 APA : Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt 13 Maret 2014 No Resep : 078 Nama Pasien : Tn Andi Sehari 1 x 1 Tablet (pagi Hari)

APOTEK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 7943222 SIA : 12345678910 APA : Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt 13 Maret 2014 No Resep : 078 Nama Pasien : Tn Andi Sehari 4 x 1 sendok takar (satu jam sebelum makan) KOCOK DAHULU

APOTEK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 7943222 SIA : 12345678910 APA : Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt 13 Maret 2014 No Resep : 078 Nama Pasien : Tn Andi Sehari

1 x 1 tablet (pagi hari)

APOTEK PRODI FARMASI FKIK UIN Jl. Kertamukti No. 100, Ciputat Telepon 021 7943222 SIA : 12345678910 APA : Puspita Tarfiza Gunardi, S. Si, Apt 13 Maret 2014 No Resep : 078 Nama Pasien : Tn Andi Sehari

1 x 1 tablet (pagi Hari)

Percakapan konsling - Percakapan dengan pasien : A : Selamat pagi pak, benar benar bapak adalah bapak Toni? P : Benar A : Baik, saya apoteker dari apotek prodi farmasi, ada beberapa hal yang harus saya tanyakan kepada bapak, apakah bapak bersedia meluangkan waktu ? A : Baik, apakah bapak saat ini sedang mengkonsumsi obat tertentu? P : Tidak, saya mengkonsumsi obat yang diresepkan. A : Bagaimana Kondisi bapak setelah mengkonsumsi obat-obatan yang telah diresepkan? P : Saya merasa drop dan lemas setelah mengkonsumsi obat yang diresepkan. A : Apakah bapak meminumnya tepat waktu dengan aturan penggunaan yang tepat ? P : Iya. A : Baik, apakah bapak menkonsumsi obat-obatan tradisional atau herbal? P : Tidak A : Baik. Apakah bapak memiliki alergi terhadap obat tertentu? P : Tidak. A : Baik, terima kasih atas waktunya, mohon bapak tunggu sebentar saya akan segera menyiapkan obat untuk bapak P : Baik Mbak

Percakapan dengan dokter : A : Selamat pagi dokter, saya apoteker dari apotek prodi farmasi ada yang harus saya konfirmasikan mengenai resep yang dokter berikan kepada Tuan Toni. D : Pagi, baik mbak ada permasalahan apa? A : begini dok , tuan toni mengalami pusing drop dan lemah setelah mengkonsumsi obat exforge dosis 2 x sehari 1 tablet, trnormin 50 mg 2x sehari 1 tablet, hapsen 3 x sehari satu tablet, propepsa 3 x sehari 1 tablet, bagaimana dok mengenai penurunan dosis? D : ya sudah diturunkan saja dosis nya menjadi exforge dosis 1 x sehari 1 tablet, trnormin 50 mg 1x sehari 1 tablet, hapsen 1 x sehari satu tablet, propepsa 3 x sehari 1. A : Baik dok, bagaimana dengan antibiotik Hapsen , mengenai penggunaan antibiotik ini tidak boleh diulang dok tanpa resep baru. D : iya , antibiotiknya tidak perlu diulang. A : Baik dokter, terimakasih dokter atas waktunya, selamat pagi dok. D : sama-sama, selamat pagi.

Percakapan Apoteker dan Pasien A : Selamat pagi pak, terima kasih sudah menunggu, saya akan menyerahkan obat untuk bapak Toni. Obat yang saya berikan adalah exforge dosis 1 x sehari 1 tablet, sebagai obat hipertensi diminum pada pagi hari sebelum atau sesudah makan. P : Baik A :Selanjutnya ternormin 50 mg 1x sehari 1 tablet sebagai obat hipertensi dapat diminum sesudah atau sebelum makan pada pagi hari. P : Baik A : selanjutnya hapsen 1 x sehari satu tablet, untuk hipertensi dan angina dapat diminum sasudah atau sebelum makan pada pagi hari . P : Baik A : Selanjutnya propepsa 3 x sehari 1 sendok takar. Sebagai obat magh bapak di minum 1 jam sebalum atau 2 jam sesudah makan. P : Baik A : bagaiman pak ada pertanyaan mengenai obat-obat ini?

P : tidak mbak, tetapi sebelumnya saya mengkonsumsi obat pharflox, apakah tidak ada obat yang saya maksud/ A : tidak bu, obat antibiotik hapsen setalah dikonsultasikan dengan dokter sudah tidak perlu digunakan lagi. Dan obat-obatan yang bapak minum telah diturunkan dosisnya karena efek samping yang bapak alami. Dan semuanya telah dikonsultasikan dengan dokter bapak. P : baik mbak kalau begitu. A : kalau bapak sudah mengerti, dapatkah bapak mengulangi informasi yang saya berikan , saya takut ada informasi yang saya berikan? P : obat exforge dosis 1 x sehari 1 tablet, diminum pada pagi hari sebelum atau sesudah makan, ternormin 50 mg 1x sehari 1 tablet diminum sesudah atau

sebelum makan pada pagi hari, hapsen 1 x sehari satu tablet diminum sasudah atau sebelum makan pada pagi hari, Selanjutnya propepsa 3 x sehari 1 sendok takar. di minum 1 jam sebalum atau 2 jam sesudah makan. A : Baik, saya rasa informasi yang saya berikan sudah cukup, terimakasih atas kunjungannya di apotek kami. P : sama-sama mbak.

4.2 Pembahasan Pada praktikum kali ini kita mendapatkan kopi resep dari pasien yang bernama Tn. Toni. Dimana pada kopi resep obat yang diresepkan yaitu tablet exforge, tablet tenormin 50 mg, tablet hapsen 5 mg, tablet pharflox, dan tablet propepsa. Dan pada resep tersebut obat diresepkan untuk dua kali pengulangan. Hal yang perlu dilakukan ketika menerima kopi resep yaitu melihat atau menskrining kopi resep yang diberikan pasien tersebut : apakah obat yang diresepkan untuk diulang (iter) tersebut masih bisa diulang pemakaiannya seperti antibiotik,dan obat lainnya yang penangannya harus dengan dokter. apakah obat yang diresepkan mengalami interaksi antara obat yang satu dengan yang lainnya. apakah obat yang diresepkan sesuai dosisnya, pemakaiannya, indikasinya, dan lainnya apakah obat yang diresepkan bentuk sediannya benar atau sesuai, dan hal lainnya.

Pada resep tersebut terdapat tanda pengulangan yaitu kalimat atau kata iter. Pada resep iter yang di tuliskan adalah dua kali yang artinya pasien harus mengulang resep sebanyak dua kali. Dan didalam resep itu juga terdapat obat golangan antibiotik yaitu tablet Pharflox, yang merupakan merek dagang dengan isinya ofloxacin yang diresepkan satu kali sehari satu tablet. Pada antibiotik, resep tidak dapat dilakukan pengulanga karena dapat menyebabkan kegagalan dalam pengobatan bahkan dapat menyebabkan atau menimbulkan hal-hal yang tidak diingkan salah satunya seperti resistensi. Dimana jika hal ini terjadi maka untuk pengobatan selanjutnya pasien harus menggunakan obat yang lebih tinggi aktivitasnya dan juga dosisnya. Jika obat pengganti ini tidak ada atau tidak ditemukan maka pasien dapat mengalami kematian karena resistensi yang terjadi. Apabila penggunannya benar-benar harus diulang, maka harus ada konfirmasi atau resep baru dari dokter yang menyatakan bahwa obat tersebut penggunannya dapat diulang untuk mengobati penyakit pasien yang bersangkutan. Oleh karena itu, antibiotik tidak dapat diberikan ketika pasien menembus pengulangan resep. Selanjutnya, obat yang diresepkan tidak tepat. Dimana obat yang diresepkan dosisinya tidak sesuai seperti exforge, tenormin, dan hapsen, dan obat tersebut juga mengalami ineraksi antara gologan Calcium Channel Blocker dengan golongan Beta Bloker. Tenormin dan Hapsen merupakan obat hipertensi golongan beta bloker, yaitu Tenormin isinya atenolol dan Hapsen isinya bisoprostol, dan exforge juga merupakan obat hipertensi isinya yaitu amlodipin yang merupakan golonga CCB. Penggunaang bersama atau penggunaan kombinasi atenolol dengan obat CCB dapat meningkatkan resiko hipotensi, dan juga dapat menyebabkan bradikardia. Oleh karena itu ketika ditanyakan kepada pasien apa yang dialami selama menggunakan obat dari resep tersebut ternyata pasien mengalami tekanan darah rendah yang artinya mengalami hipotensi dan adanya gejala bradikardia yaitu melambatnya denyut jantung. Dan dosis yang diberikan juga tidak sesuai yaitu dosis yang diresepkan terlalu tinggi. Pada resep obat tersebut diresepkan diminum dua kali sehari satu tablet dan ada yang tiga kali satu hari satu tablet pada obat Hapsen, yang seharusnya ke tiga obat hipertensi tersebut dosisnya satu kali sehari satu tablet. Oleh karena itu semua, obat hipertensi yang diresepkan harus diturunkan dosisnya dan tidak bisa dilakukan penggantian obat, karena ke tiga obat hipertensi tersebut sering digunakan kombinasi untuk mengatasi hipertensi yang terlalu tinggi. Menurut Mallat, G Samir,dkk (2013), terapi kombinasi tidak hanya diperlukan, tetapi juga memberikan banyak keuntungan seperti keberhasilan yang lebih baik dan tolerabilitas yang lebih baik. Jika dua kombinasi obat yang digunakan belum mencapai target tekanan darah yang normal atau penurunan tekanan darah maka dapat dilakukan tiga kombinasi obat

yang mana efikasi dan keamanannya telah diuji dalam uji klinis yang besar. Obat penurun tekanan darah yang digunakan dalam terapi kombinasi harus memiliki mekanisme yang saling melengkapi, yang menyebabkan efek aditif dalam penurunan tekanan darah dan perbaikan tolerabilitas secara keseluruhan, hal ini dicapai dengan mengurangi terjadinya efek samping. Sehingga solusi yang kami berikan kepada pasien yaitu menurunkan dosis pemakaiannya menjadi satu kali sehari satu tablet, dan diminum di pagi hari setelah atau sebelum makan. Kemudian, pada resep bentuk sediaan obat yang dituliskan tidak sesuai, yaitu pada resep obat Propepsa untuk tukak lambung yang isinya sukralfat bentuk sediaannya suspensi tetapi dokter meresepkan tablet. Dengan begitu Apoteker harus lebih berhati-hati dalam menangani resep ataupun kopi resep. Untuk menangani masalah ini yaitu pertama, kita harus konfirmasi ke dokter apakah dokter salah tulis bentuk sediaannya atau dokter salah tulis nama obatnya. Setelah mendapakant kepastian dari dokter, dan ternyata dokter salah tulis bentuk sediannya, maka obat yang akan diberikan kepada pasien yaitu tetap Propesa tetapi dengan bentuk sedian yang sebenarya yaitu suspensi. Kedua, setelah dari dokter obat tersebut, kita berikan atau kita serahkan kepada pasien dalam bentuk sedian yang benar yaitu suspensi dengan menjelaskan kepada pasien bahwa obat Propepsa yang diresepkan dokter tersebut tablet, tetapi Propepsa tersebut bentuk sedian sebenarnya adalah suspensi. Pemberian penjelasan seperti ini dilakukan agar pasien tidak bingung atau tidak takut untuk meminum obat yang diterimanya. Penjelasannya dapat dilakukan seperti ini Maaf Tn.Toni, diresep ini dokter menuliskan Propepsa dalam bentuk tablet sebanyak 30 butir, tetapi sebenarnya Propepsa ini bentuk sediaannya adalah suspensi, dan setelah kami konfirmasi ke dokter ternyata benar Propepsa yang diresepkan adalah suspensi, jadi apakah Tn.Toni setuju jika obat Propepsa ini kita berikan dalam bentuk suspensi?. Setelah memberikan penjelasan kepada pasien, dan pasien setuju barulah obat Propepsa tersebut di serahkan kepada pasien.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan o Nama pasien o Umur pasien o Penyakit pasien o Keluhan pasien pertama. o Obat yang diberikan o Harga obat total : exforge, tenormin 50 mg , Hapsen 5 mg, Prpepsa. : Rp 1.319.700 : Tn Andi : 40 tahun : Hipertensi , Angina ,dan GERD. : mengalami efek samping dari obat pada peresepan

No

Nama Obat

Harga Distributar / tab

Harga tab yg dibutuhkan

PPN 10 %

Biay a Res ep Rp 64.4 95 Rp 35.8 95 Rp 4.25 0 Rp 5.33 5

Total

Exforge

Rp 10.800

Rp 10.800 X 60 tab = Rp 644.957

Rp 64.495

Rp 773.947

Tenormin 50 mg

Rp 5.982

Rp 5.982 X 60 tab = Rp 358.956

Rp 35.895

Rp 430.744

Propepsa

Rp 42.500

Rp 42.500

Rp 4.250

Rp 51.000

Hapsen

Rp 5.335

Rp 5.335 X 10 = 53.350

Rp 5.335

Rp 64.020

Total Rp 1.319.711 Potongan Rp 11,00 Total Harga Rp 1.319.700

5.2 Saran

komunikasi yang baik antara dokter dengan apoteker, apoteker dengan pasien bahkan pasien dengan dokter. Komunikasi yang baik membuahkan hasil yang baik pula. Meningkatkan kepatuhan pasien berbading lurus dengan tercapainya Efek terapeutik yang diharapkan. Untuk resep iter sebaiknya konsultasi antar apoteker dan pasien termasuk mengenai pertanyaan kondisi pasien setelah mengkonsumsi obat. Keefektifan obat termasuk efek samping dari obat. Antibiotik penggunaan nya tidak boleh diulang kecuali denga resep dokter yang baru, dan informasi ini harus disapaikan kepada pasien karena ditakutkan pasien menganggap obat yang diresepkan tidak ada di apotek dan menebus obat ditempat lain. Informasi menggenai penggunaan obat, waktu minum obat dan dosis harus jelas agar pasien tidak bingung dan dapat mencapi efek terapeutik yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Mallat, G Samir, Houssam S Itani, dan Bassem Y tanios. 2013. Current Perspectives on Combination Therapy in The Management of Hypertension. Journal Integrated Blood Pressure Control. American University Of Beirut Medical Center. Anonim. 2012. MIMS Indonesia Volume 13. Jakarta : BIP Kelompok Gramedia