Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PAPER SEDIMENTOLOGI LAUT

Proses Sedimentasi dan Kenaikan Permukaan Air Laut

Oleh : Betty Banjarnahor 26020212130060

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

Sedimentasi terjadi melalui proses pengendapan material yang ditransport oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Delta yang terdapat di mulut-mulut sungai adalah hasil dan proses pengendapan material-material yang diangkut oleh air sungai, sedangkan bukit pasir (sand dunes) yang terdapat di gurun dan di tepi pantai adalah pengendapan dari material-material yang diangkut oleh angin. Proses tersebut terjadi terus menerus, seperti batuan hasil pelapukan secara berangsur diangkut ke tempat lain oleh tenaga air, angin, dan gletser. Air mengalir di permukaan tanah atau sungai membawa batuan halus baik terapung, melayang atau digeser di dasar sungai menuju tempat yang lebih rendah. Hembusan angin juga bisa mengangkat debu, pasir, bahkan bahan material yang lebih besar. Makin kuat hembusan itu, makin besar pula daya angkutnya. Pengendapan material batuan yang telah diangkut oleh tenaga air atau angin tadi membuat terjadinya sedimentasi. Sedimentasi terjadi pada lingkungan pengendapan tertentu. Secara umum lingkungan pengendapan dibedakan dalam tiga bagian yaitu: Lingkungan Pengendapan Darat, Transisi dan Laut. Ketiga lingkungan pengendapan ini, memiliki batuan yang masing-masing mempunyai sifat dan ciri-ciri tertentu. Meningkatnya aktivitas manusia akhir-akhir ini di sepanjang aliran sungai telah memberi pengaruh terhadap ekosistem muara. Menurut Dibyosaputra (1997: 65) besar kecilnya sedimen di daerah sungai ditentukan melalui transportasi sungai yang disebabkan oleh adanya kekuatan aliran sungai yang sering dikenal dengan istilah kompetensi sungai (stream competency), yaitu kecepatan aliran tertentu yang mampu mengangkut sedimen dengan diameter tertentu. Dengan kata lain bahwa besarnya sedimen yang terangkat tergantung pada : a. b. c. Debit sungai Material sedimen Kecepatan aliran.

Dengan kekuatan aliran dan faktor lainnya maka ada tiga bentuk/macam sedimen yang terangkut yaitu: a. b. c. Muatan terlarut (dissolved load) Muatan tersuspensi (suspended load) Muatan dasar (bed load)

Transpor sedimen sepanjang pantai merupakan gerakan sedimen di daerah pantai yang disebabkan oleh arus dan gelombang. Transpor sedimen ini terjadi di antara gelombang pecah dan garis-pantai akibat sedimen yang dibawanya.

Transpor sedimen di perairan umumnya terdiri dari 3 mekanisme yaitu:

Gambar 1. Transpor Sedimen di Perairan

1. Suspended Load merupakan mekanisme transpor sedimen di mana partikel melayanglayang di kolom air. Transpor suspended load dapat berubah menjadi bed load akibat adanya perubahan kecepatan aliran. 2. Bed Load merupakan mekanisme transpor di mana partikel yang kasar dan padat bergerak dengan cara menggelinding (rolling), meloncat-loncat dan menggelinding. Materi atau partikel kecil ini bergerak akibat adanya pengaruh tumbukan antara partikel. Transpor bed load dapat berubah menjadi suspended load dan sebaliknya karena adanya perubahan kecepatan aliran 3. Dissolved Load Merupakan transpor ion-ion terlarut dalam perairan yang masuk melalui proses weathering. Transpor ini sebagian besar mengangkut ion HCO3-, Ca2+, SO4-,Cl-, Na+,Mg2+ dan K+. Ion ini terbawa dari sungai dan akhirnya menuju lautan. Melalui mekanisme transpor perairan tersebut sedimen yang terbawa dan terendap dalam lingkungan dapat memiliki berbagai bentuk. Umumnya perubahan bentuk dari bentuk awalnya terjadi pada sedimen dengan mekanisme transpor bed load (sliding, saltation, dan rolling).

Seiring dengan berjalannya waktu, permukaan air laut di seluruh dunia juga ikut meningkat. Kenaikan permukaan ini disebabkan oleh manusia dengan jumlahnya yang banyak serta berbagai aktivitasnya. Beberapa penyebab kenaikan muka air laut adalah : 1. Endapan sedimen yang dibawa oleh sungai menuju laut. Sungai membawa berbagai material sedimen hingga ke laut, sedimen ini akan mengendap di dasar perairan. Sedimen-sedimen ini dibawa dan terendap secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama, menyebabkan terjadinya pendangkalan lautan. Pendangkalan ini menyebabkan permukaan air laut juga meningkat, meskipun peningkatannya tidak terlalu terlihat. 2. Adanya abrasi oleh air laut. Abrasi umumnya terjadi pada daerah pinggir pantai. Abrasi ini membawa material sedimen sedikit demi sedikit saat terjadi pengikisan. Ada banyak lautan di dunia yang terkena abrasi, sehingga dapat dipastikan jumlah sedimen yang ikut terbawa juga cukup banyak. Sedimen-sedimen ini akan mengendap pada dasar perairan dan jika abrasi terjadi secara terus menerus, sedimen akan terus mengendap dan bertambah tinggi, hal ini juga dapat menyebabkan kenaikan muka ir laut.

Gambar 2. Proses Abrasi

3. Aktivitas Manusia. Jumlah manusia di muka bumi terus bertambah setiap harinya. Hal ini menyebabkan kebutuhan manusia akan tempat tinggal atau lahan juga bertambah. Hal ini menyebabkan terjadinya pembangunan secara besar-besaran hampir di seluruh dunia. Proses membangun ini menebang poho-pohon sebagai bahan pembuatan

hunian dan pembukaan lahan. Hal ini menyebabkan hutan menjadi gundul. Hutan yang gundul ini saat hujan tidak mampu menahan aliran air, sehingga air mengalir langsung ke sungai beserta sedimen yang turut terbawa saat mengalir. Sedimensedimen ini akan mengendap di perairan laut dan menyebabkan pendangkalan.

Gambar 3. Proses Pembangunan Hunian

4. Adanya perubahan iklim yang mengakibatkan cuaca sulit untuk diprediksi. Misalnya curah hujan bertambah tinggi, sedangkan hutan-hutan telah beralihfungsi, sehingga saat hujan turun, tanah, pasir, dan sedimen lain turut terbawa aliran air hingga ke laut, jika terjadi dalam jangka waktu yang lama, sedimen-sedimen ini dapat menumpuk dan menyebabkan muka laut naik karena adanya pendangkalan Kenaikan muka air laut secara umum akan mengakibatkan dampak sebagai berikut : 1. Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir disebabkan oleh terjadinya pola hujan yang acak dan musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi (kejadian ekstrim). Kemungkinan lainnya adalah akibat terjadinya efek backwater dari wilayah pesisir ke darat. Peningkatan volume air pada kawasan pesisir akan memberikan efek akumulatif apabila kenaikan muka air laut serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan. 2. Perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove Luas hutan mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan. Dalam kurun waktu 10 tahun (1982-1993), telah terjadi penurunan hutan mangrove 50% dari total

luasan semula. Apabila keberadaan mangrove tidak dapat dipertahankan lagi, maka abrasi pantai akan kerap terjadi karena tidak adanya penahan gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya filter polutan, dan zona budidaya aquaculture pun akan terancam dengan sendirinya. 3. Meluasnya intrusi air laut Terjadinya kenaikan muka air laut juga dipicu oleh terjadinya land subsidence akibat penghisapan air tanah secara berlebihan. 4. Ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir 5. Berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil.