Anda di halaman 1dari 17

TESTING MINAT DAN TESTING KEPRIBADIAN

MAKALAH

Oleh: Muhamad Ridwan Arif (0105513064) Jati Rinakri Atmaja (0105513038)

PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI BIMBINGAN & KONSELING UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2014

TESTING MINAT DAN TESTING KEPRIBADIAN

A. PENDAHULUAN Minat dan kepribadian konseli merupakan suatu hal yang sangat penting diketahui oleh seorang konselor. Dimana minat berhubungan dengan dan atau menentukan perkembangan karir dan kesesuaian lingkungan individu.. Pengukuran minat penting untuk dilakukan, yaitu untuk menentukan pilihan pekerjaan dan pendidikan. Kepribadian mencakup cara atau gaya seseorang dalam berhubungan dengan dunia. Kepribadian dapat dikonseptualisasikan sebagai hal yang memiliki aspek-aspek jangka panjang maupun jangka pendek, dan ukuranukuran kepribadian sering diterapkan dalam seting klinis dan konseling. Konselor dalam melakukan testing minat dan testing kepribdian, harus menyadari bahwa individu memiliki minat yang berbeda-beda serta dapat mengekspresikan ciri sifat atau kepribadiannya secara berbeda dalam situasi yang berbeda, sehingga diperlukan metode atau inventori testing minat dan testing kepribadian sesuai dengan situasi dan kondisi individu.

B. PEMBAHASAN 1. Inventory Minat English & English (1958) mendefinisikan minat sebagai suatu sikap atau suatu set perhatian, suatu kecenderungan untuk memberi perhatian selektif terhadap sesuatu, serta suatu sikap atau perasaan terhadap suatu objek atau kejadian yang membuat suatu perbedaan atau perhatian pada diri sendiri (Drummond & Jones, 2006:213). Sedangkan Strong (1927) berpendapat

bahwa, minat adalah domain motivasi, dan ada pengelompokkan sikap, minat, dan faktor kepribadian berkaitan dengan pilihan dan kepuasan kerja (Shertzer & Linden, 1979:270). Dengan demikian, minat merupakan kecenderungan seseorang untuk memberi perhatian khusus pada sesuatu.

Di dalam kerangka kerja intervensi konseling, minat dapat diukur untuk beberapa alasan, dengan tujuan membantu individu memilih pekerjaan dan pendidikan. Bagi klien, skor inventori minat dapat memberikan stimuli yang kuat bagi proses eksplorasi awal dan perkembangan ide dan kemungkinan perkembangan. Hansen (1994) mengatakan bahwa, inventory minat digunakan di dalam setting tenaga kerja terutama dalam penyeleksian dan juga membantu pekerja menentukan kandidat yang paling cepat menyelesaikan pelatihan, tetap bersama perusahaan, dan yang paling sukses (Brown & Lent, 2005:285). Inventori minat juga digunakan untuk membantu para pekerjanya menemukan posisi yang tepat didalam kelompok, apabila pekerja tertentu merasa tidak puas dengan posisinya yang sekarang namun tetap berharap untuk tetap berada didalam perusahaan namun dengan peran yang berbeda. Dengan demikian, pengukuran minat penting untuk dilakukan; yang pertama untuk menentukan pilihan pekerjaan dan pendidikan, kemudian orang yang mencari pekerjaan yang lebih menantang, kemudian mungkin pada poin tertentu jika mereka menanyakan mengenai keputusan awal, jika mereka mengalami

ketidakstabilan kerja atau kehilangan pekerjaan. Selanjutnya, apabila orang mulai mendekati masa pensiun, mereka dapat mengulang proses eksplorasi minat jabatan mereka, memfokuskan pada masa sekarang dimana mereka harus membuat transisi dari pengaktualisasian minat kejuruan mereka hingga melibatkan aktivitas yang merefleksikan minat kesenangan mereka. Inventori minat yang umum digunakan adalah Self Directed Search (SDS) dan Strong Interest Inventory (SII). a. Self Directed Search (SDS). SDS dikembangkan oleh John Holland dan pertama kali dipublikasikan tahun 1971, sebagai suatu sarana untuk menilai kemiripan seseorang dengan yang lain berdasarkan 6 tipe kepribadian jabatan (Holland, 1971, 1985). SDS dirancang sebagai instrumen konseling pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri, diskor sendiri, dan diinterpretasikan sendiri. Individu mengisi buklet penaksiran diri,

menskor respons, dan menghitung enam skor rangkuman yang berhubungan dengan tema model Holland (Realistik, Investigatif, Artistik, Sosial, Enterprising, dan Konvensional). Holland memilih soal-soal (item) untuk SDS menggunakan model teorinya yang berdasar pada banyaknya data tentang orangorang dengan pekerjaan yang berbeda (Holland, 1985, hal.3). Enam skala tersebut adalah realistis (bekerja dengan benda, praktis dan konkrit), investigasi (bekerja dengan ide-ide, analisis dan ilmiah), artistik (bekerja dengan ide-ide, kreatif dan imajinatif), sosial (bekerja dengan manusia, empati dan kehangatan), enterprising (bekerja dengan manusia, ambisi dan menguasai) dan konvensional (bekerja dengan data, orientasi rinci dan ketelitian). Daya tarik utama SDS berasal dari keringkasan dan kesederhanaannya, segi swalayan, dan perannya dalam memperluas pilihan karir. Validitas dan reliabilitas SDS telah terbukti dan diakui, indeks reliabilitas umumnya memuaskan untuk skor-skor rangkuman. Validitas konstruk enam tema dasar pertama-tama bersandar pada penelitian yang menghasilkan perumusan tema-tema itu dan pada studi analitik faktor afirmatif selanjutnya yang mendukung . Validitas konkruen dan efisiensi prediktif SDS naik-turun tergantung pada susunan sampel-sampel dalam kaitan dengan usia, seks, tingkat pendidikan, dan tipe-tipe distribusi. Kritik terhadap SDS berpusat pada sejumlah prosedur penentuan skor dan interpretifnya, namun kelebihan SDS adalah instrumennya memberikan cara yang sederhana, tidak mahal, dan relatif akurat untuk menjelajahi pekerjaan.

b.

Strong Interest Inventory (SII) Strong Interest Inventory (SII) dirumuskan oleh E.K. Strong, Jr., dan pertama kali dipublikasikan di tahun 1927 dengan judul Strong Vocational Interest Blank (SVIB). SVIB memperkenalkan dua

prosedur utama dalam pengukuran minat pekerjaan. Pertama, butirbutir soal berhubungan dengan rasa suka atau tidak suka responden akan berbagai kegiatan, objek atau jenis orang tertentu yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, respons-respons ini secara empiris dikunci untuk berbagai pekerjaan. Dengan demikian, inventori minat ini ada di antara tes-tes pertama untuk menggunakan penguncian kriteria butirbutir soal, yang selanjutnya diikuti dalam pengembangan teori kepribadian. SII adalah inventori minat yang paling umum digunakan dalam seting pendidikan di Amerika Serikat. SII meliputi 6 tipe kepribadian jabatan Holland (RIASEC), 30 skala minat dasar, dan 244 skala pekerjaan. SII dirancang oleh Strong untuk beberapa fungsi sebagai berikut: 1) Membantu individu membuat pilihan pendidikan; 2) Mengenalkan isu-isu gaya hidup untuk eksplorasi sebagai kemungkinan mempertinggi karir; 3) Merangsang diskusi antara konselor, siswa, dan orang tua; 4) Mengidentifikasi bagian minat dengan orang yang sukses dalam pekerjaannya; 5) Mengidentifikasi karir untuk mengeksplor kemungkinan

perubahan karir menengah; 6) Membantu mengidentifikasi minat dalam manajemen; 7) Membantu konselor memahami kepuasan dan ketidakpuasan kerja; 8) Membantu dalam perencanaan pensiun.

c.

Career Occupational Preference System (COPS). COPS mempunyai 3(tiga) komponen sebagai berikut: 1) Inventori minat COPS, adalah tes dengan durasi 20-30 menit yang dirancang untuk mengukur minat dalam 14 kelompok karir diantaranya adalah: professional dalam ilmu pengetahuan (science

professional);

keterampilan dalam

ilmu bidang teknologi

pengetahuan teknologi

(science (technology skilled);

skilled);professional professional);

keterampilan

(technology

consumer economics,

outdoor, business professional, business

skilled, clerical, communication, art professional, art skilled, service professional, serta service skilled. 2) Battery test, yaitu suatu tes bakat CAPS (Career Ability Placement Survey). CAPS bersifat komprehensif dan multidimensional yang dirancang untuk mengukur kemampuan yang relevan dengan pekerjaan. Skalanya meliputi alasan mekanis, hubungan bagian, alasan verbal, kemampuan numerik, penggunaan bahasa,

pengetahuan kata, kecepatan dan keakuratan persepsi, kecepatan manual dan ketangkasan. CAPS membutuhkan waktu sekitar 50 menit. 3) Pengukuran nilai kerja COPES (Career Orientation Placement and Evaluation Survey), yang menyediakan suatu ukuran nilai untuk melengkapi program dalam pendidikan dan konseling karir industrial. COPES memiliki 8 skala, yaitu: investigative/accepting, practical/carefree, independence/conformity, leadership/supportif, orderliness/flexibility, recognition/privacy, aesthetic/realistic, & social/reserved. COPES memerlukan waktu sekitar 30-40 menit.

Dengan demikian, SII dan SDS termasuk skala pengukuran 6 tipe Holland. Tetapi, pengukuran minat SII berada di level ketiga dalam tingkat kespesifikannya sedangkan SDS terfokus hanya pada tipe dasar Holland. Selain SII, dan SDS, terdapat beberapa inventori minat yang lain, diantaranya adalah sebagai berikut: 1) CISS (Campbell Interest and Skill Survey), fokus pada karir yang membutuhkan pendidikan sekolah menengah dan paling tepat digunakan untuk individu yang sudah lulus perguruan tinggi atau yang merencanakan untuk memasuki perguruan tinggi;

2) IDEAS (Interest Determination, Exploration, & Assessment System) menyediakan skor pada beberapa skala seperti mekanikal, elektronik, alam/outdoor, ilmu pengetahuan, numerik, tulisan, seni/keahlian, pelayanan sosial, perawatan anak, pelayanan medis, bisnis, penjualan, praktek kantor, dan pelayanan makanan. IDEAS dirancang untuk digunakan dalam level 6-12. 3) JVIS (Jackson Vocational Interest Survey),digunakan untuk siswa sekolah menengah atas, siswa perguruan tinggi, dan orang dewasa, mempunyai 34 skala minat dasar, serta 10 tema pekerjaan.

2. Masalah-masalah dalam Pengukuran Minat Dalam testing minat, terdapat beberapa masalah dalam pengukuran minat, yaitu sebagai berikut: a. Tidak ada bukti stabilitas minat, terutama pada akhir remaja, beberapa klien mengubah minat mereka secara dramatis ketika dewasa. b. Tes yang diberikan sebelum usia 10 atau 11 tahun tidak akurat dalam pengukuran minat, karena siswa mungkin belum atau tidak memiliki latar belakang pengalaman nyata. c. Kesuksesan kerja biasanya berkorelasi lebih pada kemampuan daripada minat. d. Beberapa inventori minat mudah dipalsukan, baik intensional maupun tidak. e. Suatu set tanggung jawab mungkin mempengaruhi validitas profil individu, klien mungkin memilik opsi-opsi yang mereka anggap lebih diinginkan secara sosial atau persetujuan. f. Skot-skor tinggi tidak hanya skor-skor bernilai pada inventori minat. Skor rendah menunjukkan apa yang orang-orang tidak sukai atau ingin menghindari, sering lebih prediktif daripada skor tinggi. g. Harapan-harapan social dan tradisi-tradisi mungkin bukti yang lebih penting daripada minat dalam menentukan nilai pekerjaan. Bias gender merupakan perhatian terbesar dalam pengukuran minat selama

beberapa decade yang lalu, dan kebutuhan dipertimbangkan ketika seleksi instrument dan interpretasi profil. h. Kelas sosial ekonomi mungkin mempengaruhi pola-pola skor pada tes minat. i. Inventori mungkin menjadi alat profesi lebih daripada area

keterampilan dan semi keterampilan. Beberapa inventori adalah penting karena mereka alat eksklusif untuk siswa perguruan tinggi. j. Profil mungkin menjadi datar dan sukar untuk diinterpretasikan, Dalam situasi tertentu, seorang konselor sebaiknya menggunakan tes dan teknik lain untuk mengukur minat. k. Tes menggunakan tipe-tipe prosedur skoring yang berbeda. Beberapa tes minat menggunakan item-item pilihan kekuatan, dimana individu diminta untuk memilih dari suatu set opsi (pilihan). Responden mungkin menyukai atau tidak menyukai semua pilihan-pilihan, tetapi masih harus memilih. Prosedur skoring akan memiliki dampak pada interpretasi hasil.

3. Fungsi Testing Kepribadian Kepribadian meliputi semua kualitas khusus manusia yang membuat mereka berbeda dari yang lain, daya tarik, energi, watak, bakat, temperamen, kepandaian, dan perasaan serta perilaku yang mereka tunjukkan (Drummond & Jones, 2006:239). Sedangkan Sundberg, Winebarger, dan Taplin (2007 : 112), kepribadian mengacu pada cara khas seseorang dalam

mengorganisasikan pengalaman dan mengekspresikannya dalam interaksinya dengan lingkungan sosial dan fisiknya. Dengan demikian, kepribadian adalah kualitas manusia yang unik dank has yang membedakannya dengan orang lain. Testing kepribadian memiliki beberapa fungsi sebagai berikut: a. Memberikan gambaran performance tipikal kepribadian; b. Dalam seting klinis digunakan untuk mengidentifikasi masalahmasalah pribadi dan mendiagnosis psikopatologis seperti dalam konteks bimbingan dan konseling

c. Membantu individu memperoleh insight (wawasan) perilaku diri, sehingga individu dapat mengevaluasi perubahan setelah terapi. d. Membantu individu mendiagnosis masalah, memberi indikasi

pertumbuhan atau perubahan perilaku, serta memprediksi perilaku.

4. Teknik-teknik Pengukuran Kepribadian Dalam testing kepribadian, menurut Koppitz (1982) terdapat beberapa teknik untuk mengukur kepribadian, yaitu sebagai berikut: a. Verbal techniques (teknik verbal) Teknik verbal melibatkan stimuli verbal dan respon verbal, yang dapat disampaikan (ditransmisikan) secara lisan atau tulisan. Responden sebaiknya memiliki kecukupan keterampilan berbahasa yang bagus, mampu mendengar atau membaca kata-kata, serta mengekspresikan dirinya sendiri secara lisan maupun tulisan. Teknik verbal meliputi teknik-teknik sebagai berikut: 1) Projective questions (pertanyaan proyeksi), antara lain: a) Jika anda memulai program studi anda kembali, maukah anda masuk dalam bidang yang sama? b) Jika anda dapat menjadi seperti sesuatu yang anda inginkan, anda akan menjadi apa? c) Jika anda mempunyai tiga harapan, apa yang akan anda harapkan? d) Apakah yang anda paling sukai mengenai sekolah? e) Apakah yang anda paling tidak sukai tentang sekolah? 2) Sentence completion (komplesi kalimat) Metode komplesi kalimat merupakan tes kepribadian yang dipublikasikan oleh Rotter & Rafferti (1950) dalam Rotter Incomplete Sentence Blank (ISB) ke dalam 3 bentuk: sekolah menengah atas, perguruan tinggi, dan dewasa. Setiap bentuk terdiri dari 40 item, dengan membuang kalimat untuk dilengkapi responden. Dengan demikian, responden diminta untuk

menyelesaikan kalimat yang belum lengkap. Respons klien (responden) akan mengungkapkan karakteristik kepribadian

penting yang mendasarinya. Kalimat dari responden tadi dirancang untuk menilai sikap keluarga, teman sebaya, sekolah, pekerjaan, kecemasan, kesalahan, dan ketidakmampuan fisik. Koppits (1982) menganalisa isi respons, kualitas bahasa dan struktur kalimat, perbendaharaan kata, ejaan, serta tulisan tangan. Derajat sistem skoring ISB kalimat lengkap pada skala poin 7 mengenai tingkatan pernyataan konflik. Respons dapat

diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: respons tidak sehat, respons netral, serta respons positif atau sehat. 3) Story completion (komplesi cerita) Thomas (1937) mengembangkan suatu set yang terdiri dari 15 cerita mengenai anak-anak secara hipotetik pada umur dan gender yang sama sebagai responden. Sedangkan Koppits (1982) merancang cerita-cerita untuk investigasi mimpi anak-anak, frustasi, sikap, dan mekanisme pertahanan, dan mereka dapat dianalisis untuk tema-tema mayor.

b. Visual techniques (teknik visual) Dengan teknik visual, stimuli visual direpresentasikan untuk responden, yang selanjutnya memberi respons verbal. Teknik visual dapat dilakukan dengan teknik-teknik proyektif. Menurut Lindzey (1961) bahwa, teknik proyektif adalah sebuah instrumen yang dianggap sangat sensitif untuk aspek-aspek perilaku yang tidak tampak atau tidak disadari; instrumen itu memberikan kesempatan untuk mendorong berbagai macam respons subjektif, sangat

multidimensional, dan menghasilkan data respons yang sangat kaya dan mendalam, dan subjeknya tidak menyadari maksud tes tersebut (Sundberg, Winebarger, & Taplin, 2007:118). Dengan demikian, tes proyektif membutuhkan lebih banyak keterampilan untuk

10

mengadministrasikan, mencatat, dan menskor dibanding inventoriinventori objektif. Stimuli nya bukan berupa pernyataan dan

pertanyaan tertulis, tetapi berupa materi yang tak terstruktur dan ambigu. Selain itu, maksud tes ini cenderung tidak jelas bagi subjek. Tes kepribadian yang menggunakan teknik proyektif

ditemukan oleh Hermann Rorschach dan dipublikasikan dalam monographnya, Psychodiagnostik pada tahun 1921. Rorschach terdiri atas 10 bercak tinta yang simetrik secara bilateral, sebagian warna hitam dan abu-abu dan sebagian berwarna, yang harus direspons oleh subjek dengan mengatakan apa yang dipersepsinya dari masingmasing bercak tinta itu. Dengan demikian, responden diminta untuk menceritakan apakah bercak tinta (inkblots) mengingatkan mereka akan sesuatu. Penguji menyajikan masing-masing bercak tinta satu per satu dengan urutan terbalik dibanding urutan yang pertama dan meminta subjek untuk menjelaskan apa yang membuatnya mempersepsikannya seperti itu. Dengan menggunakan respons-respons tersebut, penguji atau asesor menskor respons-respons tersebut dengan melihat lokasinya (apakah subjek menggunakan seluruh bercak atau hanya hanya mempersepsi sebagian saja), determinan (apa ciri-ciri bercak yang membuat subjek mempersepsinya seperti yang dilaporkannya, misalnya bentuk, warna, shading, dan sebagainya), serta isi (misalnya manusia, hewan, anatomi, pemandangan, dan lain-lain). Tes Rorschach berguna karena tugas-tugas perkembangan perlu melewati resistensi kesadaran responden dan membantu memperoleh informasi tentang proses ketidaksadaran. Namun, terdapat beberapa kelemahan tes Rorschach, diantaranya adalah: dampak subjektivitas klinisi dalam interpretasinya, atau kecenderungan klinisi untuk sangat menyandarkan diri pada kesan-kesan subjektif berdasarkan

pengalamannya dengan instrumen tes Rorschach.

11

c. Drawing techniques (teknik menggambar) Menggambar menjadi media natural bagi anak-anak serta seniman untuk mengekspresikan dirinya serta memberi insight (wawasan) dalam prosesnya. Menggambar merupakan teknik proyektif dimana klien berbagi persepsi dan reaksinya kepada dunia sekitarnya. Teknik-teknik menggambar dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) Draw-a-Person Test , dikembangkan oleh Florence Goodenough untuk menilai intelegensi anak-anak, kemudian diperluas oleh Machover (1949) yang meliputi suatu petunjuk untuk evaluasi variable kepribadian. Lebih jauh, Koppitz (1968) menemukan sistem skoring dan mengembangkan suatu sistem identifikasi indicator-indikator kesulitan emosional yang berbeda. Koppitz mengidentifikasi 30 indikator emosional dalam gambar anak-anak, dengan indikator menurut perilaku yang mereka refleksikan. Contohnya, depresi, dalam gambar anak-anak

dikarakteristikkan sebagai figure yang kurus dan berlengan pendek, tetapi tanpa mata. Sikap-sikap yang dapat diidentifikasi melalui analisis gambar adalah impulsivitas, kecemasan, rasa malu, dan ketakutan. 2) Family Drawing, dapat memberi wawasan persepsi individu dalam keluarga. Dalam Kinetic Family Drawing Test (KFD), individu diminta untuk menggambar segala sesuatu yang dikerjakan keluarga. Tes KFD dianalisa untuk aksi, simbol, dan gaya. Aksi menggantikan pergerakan energi antara orang atau objek dan dapat mengindikasikan perasaan yang ditunjukkan. Simbol-simbol diinterpretasikan sesuai teori psikoanalitik. 3) House-Tree-Person Test (HTP), meminta individu untuk

menggambar sebuah rumah, pohon, dan orang. Hammer (1985) berpendapat bahwa, rumah merepresentasikan arah individu dalam memandang situasi rumahnya dan hubungan intra keluarga.

12

Gambar pohon dianalisa melalui ukuran, bentuk, dan kualitas batang, dahan, daun, dan dasar dimana pohon berdiri, yang merepresentasikan kedalaman diri individu. Gambar orang merupakan representasi sadar individu dan lingkungannya. 4) Bender Visual - Motor Gestalt Test, Second Edition (Bender Gestalt II), mengukur keterampilan integrasi motorik dan visual, secara umum menggantikan koordinasi mata dan tangan, serta memori (ingatan) individu usia 3 (tiga) tahun ke atas. Bender Gestalt II terdiri dari 14 kartu stimulus, setiap display rancangan yang unik. Setiap rancangan merepresentasikan rangkaian subjek tugas untuk mereproduksi mereka pada lembaran atau kertas

kosong. Bender-Gestalt II merupakan alat yang reliable untuk menilai perkembangan visual motorik dan digunakan sebagai suatu saringan untuk perbaikan psikologis.

d. Manipulative techniques (teknik manipulatif) Koppitz (Drummond & Jones, 2006:251) berpendapat bahwa, bermain dapat merupakan teknik projektif ketika digunakan dalam material seleksi dalam sebuah lingkungan yang bebas dari distraksi serta dalam kehadiran observer. Teknik manipulatif khusus digunakan untuk anak yang mempunyai ketidakmampuan sosial, bahasa, budaya, atau ketidakmampuan fisik. Mainan adalah item natural dan familiar untuk anak-anak. Teknik manipulatif bernilai diagnostik dan terapeutik, sehingga anakanak merasa nyaman dalam suatu lingkungan permainan. Pertunjukan boneka dapat membuat anak merasa menikmati keterlibatan observasi psikologis.

e. Objective techniques (teknik objektif) Teknik objektif dengan menggunakan kuesioner kepribadian paling umum digunakan, dapat digunakan untuk individu atau

13

kelompok dan dengan mudah dapat diadministrasi dan diskor. Kuesioner digunakan untuk mengukur seluruh dimensi kepribadian yang berbeda-beda, diantaranya sikap, penyesuaian, temperamen, nilai-nilai, motivasi, perilaku moral, serta kecemasan. Teknik objektif yang paling sering digunakan adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventory 2 (MMPI-2), California Psychological Inventory, serta Millon Clinical Multiaxial Inventory (MCMI-III). 1) Minnesota Multiphasic Personality Inventory 2 (MMPI-2) MMPI-2 merupakan tes kepribadian komprehensif yang membantu klinisi dalam diagnosa gangguan mental, dan dapat dgunakan sebagai testimoni klinisi dikarenakan pondasi empirik yang kuat. MMPI-2 digunakan untuk individu usia 18 tahun keatas yang dapat membaca pada minimum level 6. Tes MMPI-2 mempunyai 567 pertanyaan kebenaran / kesalahan, dan

membutuhkan waktu sekitar 60-90 menit. Skor kasar MMPI-2 diterjemahkan ke dalam skala validitas mayor: Lie (L)/kebohongan, Infrequency (F)/ jarang terjadi, dan Correction (K)/ koreksi. MMPI-2 mempunyai beberapa skala validitas baru, yaitu Fb (unusual response inconsistency / inkonsistensi respons luar biasa), TRIN (true respons inconsistency /inkonsistensi respons kebenaran), VRI ( variable response inconsistency / inkonsistensi respons variabel). Hasil tes dianggap valid jika kurang dari 30 item tak terjawab dan skala validitas lain dalam batas normal. 2) California Psychological Inventory (CPI) oleh Bradley (1996), dirancang sebagai alat bantu untuk memahami perilaku psikososial orang-orang normal, untuk menyediakan ukuran-ukuran untuk konsep-konsep tradisional utama dalam kehidupan sehari-hari. CPI focus pada diagnosis dan pemahaman perilaku interpersonal dengan populasi umum.

14

3) Millon

Clinical

Multiaxial

Inventory

(MCMI-III)

oleh

TheodoreMillon, digunakan untuk menilai gangguan kepribadian dan sindrom klinis. Dengan demikian, tes MCMI tidak dimaksudkan untuk digunakan pada populasi normal, karena konstruksi skala-skala dan norma-normanya didasarkan pada data dari para pasien psikiatrik. MCMI dapat dianggap sebagai sebuah instrumen

psikodinamika objektif dalam arti bahwa instrument itu disusun dan diadministrasikan dengan cara yang terstruktur dan terstandar, tetapi ia diinterpretasikan dengan memeriksa interaksi skor-skor skalanya dan dengan menggunakan hubungan-hubungan yang dibangun secara klinis antara proses-proses kognitif, perilakuperilaku interpersonal, dan kekuatan-kekuatan intrapsikis. MCMI-III memiliki 24 skala dan 3 indikator validitas (modifier scales) yang ditarik dari 175 pokok bahasan. Normanorma MCMI tidak mendasarkan diri pada populasi secara umum, sebaliknya Millon mengembangkan base rate (BR) atau angka basal untuk masing-masing skala. Angka-angka basal ini berasal dari penilaian klinisi terhadap pasien dengan melihat keberadaan dan kemenonjolan gangguan tertentu.

5. Masalah-masalah dalam Testing Kepribadian Sejumlah masalah dalam testing kepribadian, diantaranya adalah sebagai berikut: a. Response sets/ response styles, yaitu suatu kecenderungan responden untuk mendekati tes dalam cara yang merubah hasil tes. Gaya respons menyetujui adalah kecenderungan pengambil tes untuk menerima atau setuju dengan pernyataan tidak berharga dari konten item. Konstruktor tes dapat membantu responden menghindari gaya respons dengan meyakinkan sejumlah item dengan respons ya atau benar sama dengan sejumlah item dengan respons tidak atau salah.

15

b. Social desirability response style, yaitu kecenderungan pengambil tes untuk memilih respons yang ia percaya secara social diinginkan lebih daripada respons yang secara akurat merefleksikan perilaku atau perasaan individu. c. Nonaqulescence, ketidaksetujuan dengan item apa saja dihadirkan. d. Deviance, membuat respons yang luar biasa atau tidak umum. e. Extreme, memilih secara ekstrim rating pada skala rating. f. Gambling/cautiousness, menebak, atau tidak menebak, ketika dalam kebingungan). g. Pengaruh kemampuan dan pencapaian skor tes, dapt menjadi sumber distorsi. h. Perbedaan budaya para pengambil tes mempengaruhi ketepatan dan keumuman instrument tes. Sejumlah studi MMPI menemukan bahwa anggota kelompok minoritas cenderung hadir dengan psikopatologi lebih daripada anggota kelompok mayoritas. yang

C. PENUTUP Inventori minat yang umum digunakan adalah Self Directed Search (SDS) dan Strong Interest Inventory (SII). Sedangkan inventori kepribadian yang paling sering digunakan adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) dan Millon Clinical Multiaxial Inventory (MCMI). Testing minat membantu individu dalam menentukan pilihan

pekerjaan dan pendidikan, sedangkan testing kepribadian membantu individu mendiagnosis masalah, memberi indikasi pertumbuhan atau perubahan dalam perilaku, serta memprediksi perilaku.

16

Daftar Pustaka
Brown, S. Lent, R. 2005. Career Development and Counseling, Putting Theory and Research to Work. Canada : John Willey & Sons, Inc. Drummond, R. Jones, K. 2006. Assesment Procedures for Counselors and Helping Professional. New Jersey : Pearson Prentice Hall. Sundberg, N. Winebarger, A. Taplin, J. 2007. Psikologi Klinis, Perkembangan Teori, Praktik, dan Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.