Anda di halaman 1dari 18

PPKN4419 (HAK ASASI MANUSIA) MODUL 1 SEJARAH PERKEMBANGAN HAM Kegiatan Belajar 1 Sejarah Perkembangan HAM Untuk mengukuhkan

jaminan perlindungan HAM pada tanggal 10 Desember 1948, melalui sidang Umum di Caillot. Paris telah dikeluarkan Deklarasi Umum Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaraation of Human Rights). Sejak abad ke-13 penandatanganan Magna Charta pada tahun 1215 oleh Raja John Lackland sering dianggap sebagai usaha perlindungan HAM yang pertama. Namun karena isinya hanya memuat perlindungan hak kaum bangsawan dan kaum gerejani, penandatangan Piagam Magna Charta bukan merupakan permulaan dari sejarah hak-hak asasi manusia seperti yang dikenal sekarang. Penandatanganan Petition of Rights pada 1628 yang dilakukan Raja Charles I. dibandingkan dengan Magna Charta, kandungan Petition of Rights bannyak mengalami kemajuan. Bila penandatangan Magna Charta dilatarbelakangi oleh sejumlah tuntutan yang diajukan kaum bangsawan dan gerejani, maka kelahiran Petition of Rights dilatarbelakangi oleh munculnya sejumlah tuntutan rakyat yang diwakili oleh parlemen. Perlawanan rakyat Inggris terhadap Raja James II (1688) yang lebih dikenal dengan Revolusi tak berdarah (The Gloriuous Revolution), telah mendorong penandatanganan Undang Undang Hak (Bill of Rights) oleh Raja Willem III pada tahun 1989. Lord Acton manusia yang memiliki kekuasaan cenderung menyalahgunakan kekuasaan, tetapi manusia yang memiliki kekuasaan tak terbatas pasti akan menyalahgunakannya (power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely) Thomas Hobbes dan John Locke adalah peletak dasar teori perjanjian masyarakat. Perbedaannya Thomas Hobbes melahirkan ajaran monarkhi absolute, John Locke ajaran monarkhi konstitusional. Menurut Thomas Hobbes Manusia selalu berada dalam situasi hommo homini lupus bellum omnium comtra omnes. Yang berisi tentang hak-hak rakyat kepada penguasa. Menurut John Locke bermasyarakat dan bernegara merupakan kehendak manusia yang diwujudkan dalam dua bentuk perjanjian, yakni pactum unionis, perjanjian antaranggota masyarakat untuk membentuk masyarakat politik dan Negara, dan pactum subjectionis. Pactum Subjectionis melindungi hak-hak rakyat yang tetap melekat ketika berhadapan dengan kekuasaan sang penguasa. Oleh karena itu, menurut Locke tugas Negara adalah melindungi hak-hak individu, yakni hak hidup (life), kebebasan (liberty), dan hak milik (estate). Jaminan perlindungan hak tadi dituangkan dalam konstitusi ajaran Monarkhi Konstitusional. Perkembangan usaha perlindungan HAM di Amerika Serikat memiliki kemiripan dengan Perancis yaitu Konsep kedaulatan Negara berada di tangan rakyat. Pada tahun 1791 Undang-Undang Hak (Bill of Rights) akhirnya menjadi bagian dari UU Dasar AS. Diakui oleh berkembangnya ajaran kenegaraan yang mengarah pada pertumbuhan ajaran demokrasi menjadikan sejarah perlindungan HAM memiliki kaitan erat dengan usaha pembentukan tatanan Negara hukum yang demokratis. Hal ini antara lain tampak dari tumbuhnya kesadaran rakyat Inggris, Prancis dan AS untuk meletakkan pembatasan kekuasaan para penguasanya dalam sebuah undang-undang atau bahkan konstitusi, sekaligus mewajibkan pemimpin suatu Negara melindungi sejumlah hak yang melekat secara kodrati pada individu-individu yang menjadi warga negaranya. Kegiatan Belajar 2 Periode-periode HAM Konvensi Eropa untuk Perlindungan HAM dan Kebebasan Fundamental ditandatangani oleh 15 anggota Dewan Eropa di Roma pada tanggal 4 Nopember 1950. Dimana ke-15 negara tersebut merupakan Negara-negara yang mengakui pernyataan Umum HAM yang diproklamasikan Sidang Umum PBB 10 Desember 1948. Konvensi ini berisi jaminan pihak-pihak penandatanganan bagi setiap orang yang berada di dalam yurisdiksi mereka tentang sejumlah hak dan kebebasan sbb: 1. Hak setiap orang atas hidup dilindungi oleh undang-undang

2.

3.

Menghilang hak hidup orang tak dianggap bertentangan, apabila diakibatkan oleh penggunaan kekerasan yang dipaksakan oleh keadaan a) Membela seseorang dari kekerasan yang bertentangan dengan hukum b) Melaksanakan penangkapan yang dibenarkan hukum dan atau untuk menghalang-halangi seseorang yang ditahan menurut hukum c) Tindakan yang diambil secara hukum dengan tujuan menumpas suatu kekacauan dan pemberontakan. Tak seorang pun boleh dikenakan siksaan atau perlakuan tak berperikemanusiaan atau merendahkan martabat manusia.

Pernyataan umum HAM terdiri atas 30 pasal yang meliputi Hak sipil dan politik (pasal 2-21), hak ekonomis, sosial dan cultural (pasal 20-27). Sedangkan pasal 28-30 merupakan pasal penutup, berisi pengakuan bahwa setiap orang berhak atas tata sosial dan tata internasional, dimana kebebasan-kebebasan yang terkandung dalam naskah ini bisa diwujudkan. Kovenan-kovenan ini akan mengikat Negara anggota PBB yang telah meratifikasinya dan mulai berlaku 35 negara telah meratifikasinya. Kovenan internasional tentang hak-hak ekonomis, sosial dan cultural berisi 15 pasal terbagi dalam 3 bagian. Sejumlah hak yang diatur dalam kovenan ini antara lain mencakup: 1. Hak semua rakyat untuk menentukan nasib sendiri 2. Hak semua rakyat untuk menggunakan kekayaan dan sumber-sumber alamiah untuk tujuan tertentu 3. Negara penadatangan kevenan memiliki tugas memerintah daerah tak berpemerintahan dan daerah perwalian, memajukan direalisasikannya hak menentukan nasib sendiri, dan penghormatan terhadap tersebut. 4. Keharusan bagi Negara penandatangan untuk menjamin pelaksanaan hak tanpa membedakan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik, asal usul nasional dan sosial, kekayaan, kelahiran atau latar belakang lainnya 5. Jaminan persamaan hak pria dan wanita dalam menikmati hak-hak ekonomis, sosial dan cultural 6. Pembatasan Negara terhadap hak-hak rakyat hanya bisa dilakukan dengan undang-undang, sejauh pembatasan tersebut tidak bertentangan dengan hakikat hak-hak tadi dan semata-mata bertujuan memajukan kesejahteraan umum di dalam masyarakat demokratis 7. Kovenan inipun mengakui hak setiap orang untuk (1) ikut serta di dalam kehidupan cultural (2) menikmati keuntungan-keuntungan memajukan ilmiah dan ilmu pengetahuan (3) mendapat keuntungan dari proteksi kepentingan-kepentingan moril sebagai hasil-hasil produksi ilmiah, sastra dan artistic yang diciptakannya

Teori Hak Kodrati Muncul pada abad pertengahan (Davies, 1994) Santo Thomas Aquinas. Ajaran hukum kodrat mengandung dua ide falsafat, yakni : 1. Ide bahwa posisi masing-masing kehidupan manusia ditentukan oleh Tuhan dan semua manusia tunduk pada otoritas Tuhan. 2. Ide bahwa setiap orang adalah individu yang otonom Selain itu dia juga mendapat dukungan dari Grotius bahwa hukum kodrati merupakan landasan semua hukum positif atau hukum tertulis, dapat dirasionalkan di atas landasan non-empiris dengan menelaah aksioma ilmu ukur. Locke, yang mengatakan bahwa semua individu di karunia Tuhan sejumlah hak yang inheren atas kehidupan, kebebasan dan harta yang merupakan milik mereka sendiri dan tidak dapat dipindahkan atau dicabut oleh Negara. Positivisme David Hume, yang mengungkapkan dalam bahwa penelitian terhadap fenomena social dapat dikelompokkan menjadi 2 kategori, yakni: 1. Kategori fakta, yang dapat dibuktikan dengan ada secara empiris dan yang benar atau salahnya dapat diperlihatkan. Inilah yang dimaksud ada. 2. Kategori moralitas, yang secara objektif tidak dapat dibuktikan adanya dan orang mempunyai perbedaan pendapat. Inilah yang dimaksud dengan seharusnya.

Pendapat Hume dikenal dengan Utilitarianisme, yang kemudian dikembangkan oleh Jeremy Bentham. Tujuan utilitas adalah meningkatkan kesenangan manusia yang dapat dihitung secara sistematis. Realisme Hukum Dianut oleh Karl Liewellyn dan Roscoe Pound. Menurutnya hak dipandang sebagai produk akhir proses interaksi, dan mencerminkan nilai moral masyarakat yang berlaku pada segala waktu tertentu. Roscoe Pound membuat rumusan untuk pengesahan keinginan manusia, tuntutan manusia serta kepentingan social melalui rekayasa social, namun ia tidak mengidentifikasikan mekanisme atau metode yang dapat memprioritaskan hak-hak individu, baik dalam kaitan dengan hak-hak itu satu sama lain maupun dalam hubungan dengan sasaran masyarakat. Demikian juga dengan Myres McDougal. Ia mengembangkan suatu pendekatan terhadap hak asasi manusia yang sarat nilai dan berorientasi pada kebijakan, berdasarkan pada nilai luhur perlindungan terhadap martabat manusia. Menurut McDougal, tuntutan pemenuhan HAM itu berasal dari pertukaran nilai-nilai internasional yang luas dasarnya. Nilai-nilai ini dimanifestasikan oleh tuntutan-tuntutan yang berkaitan dengan kebutuhan sosial, seperti rasa hormat, kekuasaan, pencerahan, kesejahteraan, kesehatan, keterampilan, kasih sayang dan kejujuran. Semua nilai ini bersama-sama mendukung dan disahkan oleh nilai luhur martabat manusia. Selain itu karena pengaruh keragaman teori yang dianut, perbedaan persepsi tentang prinsip dan pelaksanaan perlindungan HAM boleh jadi disebabkan pula oleh belum seragamnya pola pandang dalam melihat persoalan HAM. Sekurang-kurangnya ada 4 pandangan yang memiliki pengikut yang cukup luas. 1. Pandangan universal absolute = melihat HAM sebagai nilai-nilai universal sebagaimana dirumuskan dalam dokumen-dokumen HAM internasional. Profil sosial budaya suatu bangsa diabaikan, dengan kata lain pelaksanaan perlindungan HAM di semua bangsa harus sama tanpa memperlihatkan corak dan asal usul sosial budaya 2. Pandangan universal relatif = persoalan HAM sebagai masalah universal, namun dalam pelaksanaannya mengenal perkecualian yang didasarkan atas asas-asas hukum internasional. Perkecualian tersebut bersumber pada pasal 29 ayat 2. 3. Pandangan partikularistik absolute = melihat persoalan HAM sebagai masalah intern masing-masing bangsa. Dimana bangsa dapat melakukan penolakan terhadap pelaksanaan kovenan-kovenan internasional tentang HAM 4. Pandangan partikularistik relatif = melihat persolan HAM disamping sebagai masalah universal juga merupakan masalah nasional masing-masing bangsa. Hal ini berarti pemberlakuan kovenan-kovenan internasional memerlukan penyelarasan sesuai dengan karakteristik budaya suatu bangsa. Kegiatan belajar 4 HAM Dan Warga Negara Penduduk suatu Negara dapat dibedakan atas warga Negara dan bukan warga Negara. Seseorang dapat menjadi warga Negara, apabila telah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan UU atau peraturan lain yang mengatur masalah kewarganegaraan. Kewarganegaraan merupakan masalah penting, Karena ia akan menentukan hak dan kewajiban orang yang bersangkutan terhadap Negara yang didiaminya. Oleh karena itu, hamper semua Negara mengatur masalah kewarganegaraan di dalam UU dasar negaranya. Dikenal ada 2 asas yang lazim dianut bangsa-bangsa di dunia dalam menentukan status kewarganegaraan seseorang, yakni asas ius soli dan ius sanguinis. Menurut asas ius soli status kewarganegaraan seseorang ditentukan oleh tempat dimana ia dilahirkan, tanpa memandang asal-usul kewarganegaraan orang tua. AS merupakan Negara yang menganut asas ini. Menurut asas ius sanguinis status kewarganegaraan seseorang ditetapkan berdasarkan asal usul keturunannya. Status kewarganegaraan orang tualah yang menentukan kewarganegaraan seseorang, bukan tempat ia dilahirkan. RRC salah satu yang menganut asas ini. Penerapan asas diatas dapat menimbulkan kewarganegaraan rangkap (bipatride) atau dapat pula menimbulkan tidak berkewarganegaraan (apatride). Kewarganegaraan rangkap akan terjadi bila seseorang warga Negara dari suatu Negara yang menganut asas ius sanguinis melahirkan anak di wilayah Negara yang menganut asas ius soli. Sebaliknya, apatride akan terjadi apabila, seorang anak dari keluarga yang menjadi warga

dari suatu Negara yang menganut ius soli dilahirkan di wilayah Negara yang menganut asas ius sanguinis. Apatride dapat pula terjadi apabila seseorang melepaskan status kewarganegaraannya, namun belum ada Negara lain yang mengabulkan permohonan status kewarganegaraan orang yang bersangkutan. Sebagai warga Negara seseorang akan terikat oleh segala ketentuan yang dibuat suatu Negara. Hal ini terjadi karena sebagai pengintegrasian kekuatan politik, Negara memiliki sifat memaksa, monopoli dan sifat semuanya. (Sumantri, 1984:8). Setiap konstitusi sekurang-kurangnya mengandung 3 hal sbb: 1. Jaminan HAM atau warga Negara 2. Kerangka ketatanegaraan yang bersifat mendasar (frame of government) 3. Aturan tentang tugas dan wewenang dalam Negara yang bersifat mendasar Sifat memaksa mengandung arti bahwa Negara dapat menggunakan kekerasan fisik secara sah agar ditaatinya keputusan-keputusan yang telah dibuat oleh alat penyelenggara Negara. Karena setiap anggota masyarakat tidak mungkin melaksanakan apa yang menjadi tujuannya, maka Negara mempunyai sifat monopoli dalam menetapkan tujuan masyarakat secara keseluruhan. Sedangkan sifat mencakup semua berarti, tidak ada seorang pun anggota masyarakat dapat dikecualikan dari ketentuan yang dibuat alat penyelenggara Negara.

MODUL 2 HAK-HAK POLITIK DAN SIPIL Kegiatan Belajar 1 Hak-hak Sipil dan Politik Hak-hak Sipil dan Politik dalam Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia Memenuhi ketentuan pasal 68 pada tahun 1946 telah terbentuk Komisi Hak-hak Manusia (Commission on Human Rights) beranggotakan 18 orang. Memulai sidangnya bulan Januari 1947 dipimpin oleh Ny. Franklin Delano Roosevelt. Dan menghasilkan sebuah Deklarasi Universal tentang HAM (Universal Declaration of Human Rights) yang dinyatakan dan diterima oleh Sidang Umum PBB yang digelar di Istana Chaillot (Paris) tanggal 10 Desember 1948. Deklarasi ini terdiri dari 30 pasal terdiri atas pernyataan umum yang menegaskan bahwa, semua makhluk dilahirkan bebas dan sama dalam hal derajat dan hak-hak dan memililiki hak dan kebebasanyang dipaparkan di dalam deklarasi ini tanpa perbedaan apapun, baik ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama pendapat politik atau apapun, asal nasional/sosial atau kekayaan, kelahiran dan status apapun. Hak sipil dan politik diatur dalam pasal 3 sampai pasal 21. Hak tersebut meliputi : a. Hak atas hidup, kebebasan dan keamanan pribadi (pasal 3) b. Kebebasan dari perbudakan dan perdagangan perbudakan (pasal 4) c. Kebebasan dari penyiksaan atau perlakuan kejam tak berperikemanusiaan, merendahkan martabat atau dikenakan hukuman (pasal 5) d. Hak atas pengakuan dimana-mana sebagai pribadi (personal) di hadapan hukum (pasal 6) e. Hak diperlakukan sama dan mendapat perlindungan hukum yang sama (pasal 7) f. Hak mendapat penyelesaian efektif oleh pengadilan nasional atas tindakan yang merugikan hak-hak fundamental yang dijamin konstitusinya (pasal 8) g. Hak untuk tidak ditangkap, ditahan atau dibuang secara sewenang-wenang (pasal 9) h. Hak untuk didengar secara adil dan terbuka oleh sebuah mahkamah yang bebas dan tidak memihak (pasal 10) i. Hak dianggap tidak bersalah selama belum terbukti dalam persidangan dan hak untuk tidak dijatuhi hukuman lebih berat daripada hukuman yang berlaku ketika tindak pidana dilakukan (pasal 11) j. Hak untuk bebas dari campur tangan sewenang-wenang mengenai alam pribadi, keluarga, rumah atau suratmenyuratnya, termasuk kehormatan nama baik dan hak atas perlindungan hukum terhadap gangguan atau serangan-serangan yang demikian (pasal 12) k. Hak atas kebebasan bergerak dan menetap di dalam batas Negara, hak untuk meninggalkan dan kembali ke Negara manapun, termasuk ke negaranya sendiri (pasal 13) l. Hak menikmati suaka politik di Negara lain (pasal 14) m. Hak atas kebangsaan (pasal 15) n. Hak untuk kawin dan membangun keluarga (pasal 16) o. Hak atas harta perorangan, tak seorang pun boleh diambil hartanya secara sewenang-wenang (pasal 17)

p. Hak atas kebebasan berpikir, berkepercayaan, dan beragama (pasal 18) q. Hak kebebasan berpendapat, termasuk hak untuk mencari, menerima dan menyebar penerangan dan ide-ide melalui media apapun (pasal 19) r. Hak atas kebebasan berkumpul dan berserikat secara damai (pasal 20) s. Hak untuk ikut serta dalam pemerintahan, dan memasuki dinas umum (pasal 21) Pasal 22 28 mencakup hak-hak ekonomis, social dan cultural, hak atas keselamatan social, hak untuk bekerja, hak untuk beristirahat dan bebas kerja, hak atas tingkat hidup yang memadai bagi kesehatan dan keselamatan, hak atas pengajaran dan hak untuk berpartisipasi di dalam kebudayaan, menikmati kesenian dan berbagi di dalam kemajuan ilmiah dan hak atas tata social dan internasional di mana hak hak dan kebebasan-kebebasan yang diuraikan di dalam Deklarasi ini dapat diwujudkan sepenuhnya. Hak-hak Sipil dan Politik dalam Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik Tanggal 23 Maret 1976 Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik dan Protokol manasuka pada kovenan tersebut telah berlaku bagi 35 negara peserta kovenan dan bagi 10 peserta protocol. Jumlah Negara peserta meningkat menjadi 44 peserta Kovenan dan 16 peserta protocol pada tanggal 31 Agustus 1977. Dengan bersandarkan pada prinsip yang dideklarasikan piagam PBB, Negara peserta kovenan Internasional hak yang sama dan tak dapat diganggu gugat. Negara peserta kovenan mengakui hak rakyat untuk menentukan nasib sendiri, menggunakan kekayaan dan sumber alam sekaligus berusaha menjamin persamaan hak pria-wanita dan tidak membatasi hak-hak tadi, kecuali sesuai dengan ketentuan undang undang tidak bertentangan dengan hakikat hak dan semata-mata bertujuan memajukan kesejahteraan umum di dalam masyarakat demokratis. Dimaksudkan dengan hak-hak sipil dan politik sebagaimana diatur dalam kovenan ini adalah menyangkut hak-hak sebagai berikut. a. Hak atas hidup dan hukuman mati hanya untuk kejahatan berat (pasal 6) b. Hak untuk bebas dari siksaan atau perlakuan kejam, tak berperikemanusian atau merendahkan martabat (pasal 7) c. Hak untuk bebas dari perbudakan, perdagangan budak, kerja paksa (pasal 8) d. Hak atas kebebasan dan keselamatan pribadi (personal) dan penangkapan (pasal 9) e. Hak untuk bebas bergerak, termasuk meninggalkan atau memasuki Negara (pasal 12) f. Hak untuk diperlakukan sama di depan pengadilan (pasal 14) g. Hak untuk diakui sebagai pribadi di depan hokum (pasal 16) h. Hak untuk tidak dicampuri pribadinya, keluarga, rumah atau surat-suratnya (pasal 17) i. Hak atas kebebasan berpikir, berkepercayaan dan beragama (pasal 18) j. Hak atas kebebasan menyatakan pendapat (pasal 19) k. Hak untuk berkumpul secara damai (pasal 21) Komite mempertimbangkan komunikasi yang diterima baik tuduhan yang diajukan invididu maupun informasi tertulis yang diberikan kepada Negara yang diadukan. Perkara yang diadukan akan dibahas dengan mempertimbangkan, bahwa: 1. Persoalan yang sama tidak sedang diperiksa berdasarkan prosedur penyelidikan atau perdamaian internasional lain. 2. Individu telah menggunakan seluruh penyelesaian domestik yang ada.

Kegiatan Belajar 2 Hak-hak WNI dalam Pancasila dan Undang-Undang Negara 1945 Setelah mengungkapkan 3 aliran pikiran tentang Negara, individualistis, marxistis dan integralistik, Prof. Soepomo berpendapat bahwa Negara yang integralistik tidak akan membutuhkan jaminan Grund und freiherisrechte dari individu contra Staat. Oleh karena itu, Soepomo dalam UUD tidak bisa dimasukkan pasalpasal yang tidak berdasar aliran kekeluargaan, meskipun kita sebetulnya ingin sekali memasukkan,. Ir. Soekarno Jikalau kita betul-betul hendak berdasarkan Negara kita kepada paham kekeluargaan, paham tolong-menolong, paham gotong royong, dan keadilan social, enyahkanlah tiap-tiap pikiran, tiap-tiap paham individualism dan liberalism daripadanya.

Usul Muh. Hatta diperkuat Muh. Yamin Segala constitution lama dan baru di atas dunia berisi perlindungan aturan dasar itu. Aturan dasar tidaklah berhubungan dengan liberalism, melainkan semata-mata suatu keharusan perlindungan kemerdekaan, yang harus diakui UUD. Setelah melalui perdebatan demokratis. Akhirnya dicapailah kompromi di antara dua kelompok yang memiliki pendapat berbeda, seperti yang kita kenal sekarang sebagai pasal-pasal sbb: 1. Pasal 27, berisi jaminan tentang persamaan di dalam hukum pemerintahan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan 2. Pasal 28, jaminan kemerdekaan berserikat dan berkumpul mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan 3. Pasal 29, jaminan kemerdekaan untuk memeluk agama 4. Pasal 30, hak untuk ikut serta dalam usaha pembelaan Negara 5. Pasal 31, jaminan hak untuk mendapat pengajaran 6. Pasal 32, jaminan perlindungan kultural 7. Pasal 33, jaminan atas hak hak ekonomi 8. Pasal 34, jaminan kesejahteraan sosial

MODUL 3 HAM INTERNASIONAL Kegiatan Belajar 1 Hakikat Kedaulatan Negara dalam Masyarakat Internasional Kedaulatan dari kata Inggris Sovereignty atau Souverainete dalam bahasa Perancis atau sovranus dalam bahasa Italisa. Secara etimologi Kedaulatan berasal dari Bahasa Latin superanus yang mengandung arti yang tertinggi (supreme). Dalam maknanya sebagai kekuasaan yang tertinggi, makna kedaulatan telah diakui sejak Aristoteles dan sarjan hukum Romawi. Pengertian ini sampai batas tertentu masih dianut hingga abad menengah, dengan memahami kedaulatan sebagai wewenang tertinggi dari suatu kesatuan politik. Semula kedaulatan dikaitkan dengan kekuasaan gereja yang mutlak. Sejalan dengan bergesernya pusat kekuasaan ke tangan penguasa sekuler, muncul bebeapa teori baru tentang pemusatan kekuasaan tertinggi. Sebagai contoh Dante menyatakan kekuasaan tertinggi dipusatkan pada kekaisaran Romawi Suci. Perkembangan selanjutnya terjadi ketika para ahli ilmu politik memandang makna kedaulatan dari dua sudut : Pertama dari sudut Intern kedaulatan dipandang sebagai kekuasaan tertinggi dalam suatu kesatuan politik. Jean Bodin adalah ahli ilmu politik berkebangsaan Prancis yang memandang kedaulatan dalam hubungannya dengan Negara, yakni sebara ciri dan atribut Negara, sekaligus sebaga pembeda Negara dari persekutuan lainnya. Sudut pandang intern seperti diungkapkan Bodin sering pula disebut Paham Monisme tentang kedaulatan. Kedua dari sudut Eksternal kedaulatan berkaitan dengan aspek mengenai hubungan antarnegara. Sudut pandang kedua dipopulerkan oleh Grotius, yang belakangan dikenal sebagai Bapak Hukum Internasional. Makna kedaulatan dalam kontes hubungan antarnegara menjadi semakin penting setelah ditandatangi Konferensi Montevideo tahun 1933. Menurut konferensi ini, sebagai subjek hukum internasional Negara harus memiliki kualifikasi berikut : 1. Penduduk yang tetap 2. Wilayah tertentu 3. Pemerintah 4. Kemampuan mengadakan hubungan dengan Negara-negara lain Unsur ke-4 merupakan unsur yang khusus dalam kaitannya dengan Negara sebagai subjek hukum internasional. Bagi sarjana hukum internasional, unsur ini pula yang menjadi unsur konstitutif yang terpenting. Pandangan ini berbeda dengan konsepsi ilmu politik, yang menganggap tiga unsur pertama sebagai unsur konstitutif suatu Negara.

Negara, sebagai subjek utama dalam system hukum internasional dan pencipta hukum di dalam system tersebut, mempunyai tugas primer yaitu berperan dalam perumusan ketetuan-ketentuan yang membatasi tingkah lakunya. Dalam konteks perlindungan HAM kedaulatan Negara berkaitan dengan 4 pandangan sebagaiman telah diulas dahulu: 1. Pandangan universal absolute = masalah perlindungan HAM sebagai etika universal yang tidak bisa ditawar lagi oleh Negara manapun. 2. Pandangan universal relative = masalah perlindungan HAM sebagai masalah universal, namun pandangan ini mengakui perkecualian yang didasarkan atas asas hukum internasional 3. Pandangan partikularistik absolute = persoalah HAM sebagai masalah nasional yang dalam pelaksanaannya bergantung sepenuhnya kepada kebijakan pemimpin Negara yang bersangkutan. Pandangan ini menyiratkan praktek perlindungan HAM sebagai salah satu perwujudan kedaulatan suatu Negara dalam pengertian yang monistis. Olehkarena itu, keputusan Negara untuk menerima atau menolak kaidah hukum internasional tentang perlindungan HAM berada sepenuhnya pada sumber hukum yang berlaku dinegara yang bersangkutan 4. Pandangan partikularistik relatif = dokumen HAM internasional harus diselaraskan sehingga mendapat dikungan budaya bangsa, lebih mendekati paham pluralistic dalam hukum internasional Paham ini menyiratkan bahwa dokumen internasional HAM bukan semata-mata apa yang secara formal diratifikasi oleh pemimpin Negara, dokumen perlindungan HAM internasional bersumber pada nilai-nilai budaya bangsa di dunia. Menurut Kusumaatmadja (1990:13) didalam pengertian kedaulatan sebagai kekuasaan Negara yang tinggi, pengertian kedaulatan mengandung dua pembatasan penting yaitu : 1. Kekuasaan itu terbatas pada batas wilayah Negara yang memiliki kekuasaan itu 2. Kekuasaan itu berakhir dimana kekuasaan suatu Negara lain mulai. Dalam konteks perlindugan HAM internasional, paham kedaulatan yang terbatas tadi mengandung konsekuensi khusus. Semua Negara sama-sama merdeka dan memiliki derajat yang sama, sehingga masingmasing Negara tidak diwajibkan untuk tunduk pada keputusan Mahkamah Internasional, kecuali jika Negara itu memberitahukan terlebih dahulu persetujuannya untuk mematuhi keputusan itu.

Kegiatan Belajar 2 Individu sebagai Subjek Hukum Internasional Untuk memahami subjek hukum internasional dapat dilakukan analisis dari dua sisi, yakni sisi teoritis dan sisi praktis. Secara teoritis terdapat 2 pendapat yang berbeda : 1. Subjek hukum internasional hanyalah Negara. Hal ini bisa terlihat dari kasus bahwa bila perjanjian internasional, seperti pemberlakukan beberapa konvensi yang memberikan hak dan kewajiban tertentu orang per orang, maka pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut diwakili oleh negaranya. 2. Individulah yang merupakan subjek hukum internasional yang sesungguhnya. Hans Kelsen (1952, dalam Kusumaatmadja, 1990:69) adalah salah satu ahli yang berpendapat demikian. Menurutnya hak dan kewajiban Negara sebenarnya adalah hak dan kewajiban semua manusia yang merupakan anggota masyarakat yang mengorganisasi dirinya dalam Negara itu. Lebih jauh Kusumaatmadja (1990:70) mengungkapkan terdapat beberapa subjek hukum internasional yang memperoleh kedudukannya berdasarkan hukum kebiasaan internasional karena perkembangan sejarah. Tahta suci (Vatican) adalah subjek hukum yang sudah dikenal lama selain Negara. Kedudukan tahta suci sebagai subjek hukum internasional penuh semakin kuat setelah diadakan perjanjian antara Italia dan Tahta Suci tanggal 11 Pebruai 1929 yang dikenal dengan Latern Treaty. Perjanjian ini berisi pengembalian sebidang tanah di Roma kepada Tahta Suci yang kemudian berdiri sebuah Negara Vatican. Palang Merah Internasional (berkedudukan di Jenewa) menjadi subjek hukum internasional karenann pertimbangan sejarah. Status Palang Merah Internasional sebagai subjek hukum internasional dengan ruang

lingkup yang sangat terbatas diperkuat oleh perjanjian dan konvesi2 palang merah, seperti konvensi Jenewa tahun 1949 tentang Perlindungan Korban Perang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah contoh organisasi internasional yang berdasarkan perjanjian internasional memiliki hak dan kewajiban sebagaimana subjek hukum internasional. Ke dalamnya termasuk pula badan-badan khusus yang dimiliki PBB, seperti organisasi buruh internasional. IMF organisasi pangan, penergangan sipil, organisasi pendidikan dan kebudayaan, organisasi kesehatan dunia dll. Pengakuan individu sebagai subjek hukum internasional mengalami perkembangan cukup pesat sejak berakhirnya PD II, meskipun sebenarnya sudah diakui sejak berakhirnya PD I. hal ini bisa ditelusuri dalam contohcontoh kasus sbb: 1. Dalam perjanjian Versailles (1919) sudah terdapat pasal-pasal yang memungkinkan orang per orang mengajukan ke Mahkamah Internasional. 2. Dalam keputusan Mahkamah Internasional Permanen menyangkut Pegawai Kereta Api Danzig atau dikenal Danzig Railway Officials Case, diputuskan apabila suatu perjanjian internasional memberikah hak tertentu kepada orang per orang, maka hak itu harus diakui dan mempunyai daya laku dalam hukum internasional, artinya diakui oleh suatu badan peradilan internasional. 3. Tuntutan terhadap pemimpin perang Jerman dan Jepang sebagai orang per orang yang melakukan kejahatan terhadap perdamaian, kejahatan terhadap perikemanusiaan dan kejahatan perang. Seperti pengadilan terhadap penjahat perang di Nurnberg dan Tokyo telah member kemajuan penting bagi status individu dalam hukum internasional dam hal seseorang dapat dianggap langsung bertanggung jawab sebagai individu bagi kejahatan perang dan kejahatan terhadap perikemanusiaan dan tidak dapat berlindung di balik negaranya. 4. Konvensi tentang Pembunuhan Massal Manusia ( Genocide Convention ) mengukuhkan peletakan tanggung jawab individu terhadap pelanggaran hukum internasional. Menurut konvensi ini, individu yang terbukti telah melakukan pembunuhan missal harus dihukum terlepas dari persoalan apakah mereka bertindak sebagai per orang, pejabat pemerintah atau pimpinan pemerintahan atau Negara. Kegiatan Belajar 3 Perjanjian Internasional dan Proses Pembuatannya Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan oleh subjek hukum internasional dan bertujuan untuk melahirkan akibat-akibat hukum tertentu. Termasuk ke dalam perjanjian internasional adalah perjanjian yang dibuat oleh Negara dengan Negara, antara Negara dengan organisasi internasional, antara organisasi internasional yang satu dengan yang lainnya, dan perjanjian yang dibuat antara Tahta Suci dengan Negara-negara. Jika dilihat dari pihak-pihak yang terlibat, perjanjian internasional dapat dibedakan atas perjanjian bilateral dan perjanjian Multilateral. Bilateral perjanjian yang diadakan oleh dua pihak, seperti perjanjian antara Indonesia dan Filipina tentang Pemberantasan penyelundupan dan pajak laut, atau perjanjian atara Indonesia dan RRC pada tahun 1955 tentang Dwi Kewarganegaraan. Bilateral bersifat tertutup, artinya tidak ada kemungkinan bagi pihak lain untuk ikut serta dalam perjanjian. Lazim disebut sebagai Pembicaraan (talk). Multilateral perjanjian yang diadakan oleh banyak pihak. Perjanjian ini biasanya tidak hanya mengatur kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian. Contoh : Konvensi Hukum Laut (1958), Konvensi Winna (1961) tentang Hubungan Diplomatik, dan Konvensi Jenewa (1949) tentang Perlindungan Korban Perang. Sering disebut sebagai Konferensi diplomatic (diplomatic conference) Jika dilihat dari sifat mengikatnya, perjanjian internasional dapat dibedakan atas treaty contract dan law making treaty. Treaty contract perjanjian yang dimaksudkan untuk melahirkan akibat-akibat hukum yang hanya mengikat pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Contoh : Perjanjian Indonesia dengan RRC tentang Dwi Kenegaraan. Law making treatys perjanjian yang akibat-akibatnya menjadi dasar ketentuan atau kaidah hukum internasional. Contoh : Konvensi Hukum Laut (1958), Konvensi Winna (1961) tentang Hubungan Diplomatik, dan Konvensi Jenewa (1949) tentang Perlindungan Korban Perang Perjanjian internasional dibuat melalui 3 proses sbb : 1. Perundingan (negotiation) 2. Penandatanganan (signature) 3. Pengesahan (ratification)

Pada tahap perundingan biasanya pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian mempertimbangkan terlebih dahulu materi yang hendak dicantumkan dalam perjanjian. Pada tahap ini pula materi yang akan dicantumkan dalam perjanjian ditinjau dari berbagai segi, baik politik, ekonomi maupun keamanan. Tahap perundingan akan diakhiri dengan penerimaan naskah (adoption of the text) dan pengesahan bunyi naskah (authentication of the text ). Dalam praktek perjanjian internasional, peserta biasanya menetapkan ketetnuan mengenai jumlah suara yang harus dipenuhi untuk memutuskan apakah naskah perjanjian diterima atau tidak. Demikian pula menyangkut pengesahan bunyi naskah yang diterima akan dilakukan menurut cara yang disetujui semua pihak. Bila konferensi tidak menentukan cara pengesahan maka pengesahan dapat dilakukan dengan penandatanganan sementara, atau dengan pembubuhan paraf (Kusumaatmadja, 190:91). Dengan menandatangani suatu naskah perjanjian, suatu Negara berarti sudah menyetujui untuk mengikatkan diri pada suatu perjanjian. Selain melalui penandatanganan, persetujuan untuk mengikat diri pada perjanjian dapat pula dilakukan melalui ratifikasi, pernyataan turut serta (acesion) atau menerima (acceptance) suatu perjanjian. Sedangkan ratifikasi adalah pengesahan naskah perjanjian internasional yang diberikan oleh badan yang berwenang, di suatu Negara. Dengan demikian, meskipun delegasi Negara yang bersangkutan sudah menandatangani naskah perjanjian, namun Negara yang diwakilinya tidak secara otomatis terikat pada perjanjian. Negara tersebut baru terikat pada materi perjanjian setelah naskah perjanjian tersebut diratifikasi. Badan mana yang berwenang meratifikasi perjanjian internasional menjadi persoalan intern Negara yang bersangkutan. Untuk Indonesia misalnya wewenang itu dipegang oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Hal ini merujuk pada pasal 11 UUD 1945 yang menyatakan :Presiden dengan persetujuan DPR membuat perjanjian dengan Negara-negara lain. Ratifikasi yang dilakukan badan yang berwenang ini diperlukan untuk naskah kovenan internasional tentang hak ekonomi, sosial dan kultural. Hak sipil dan politik serta protocol manasuka pada kovenan internasional hak sipil dan politik. Kovenan internasional hak sipil dan politik telah mulai berlaku sejak 23 Maret 1976, namun belum semua Negara anggota PBB menjadi anggota kovenan tersebut. Karena belum senua Negara anggota PBB meratifikasi kovenan tsb. Sampai tahun 1976 hanya berlaku 35 negara. Sedangkan protocol Manuka pada kovenan internasional tentang hak sipil dan politik hingga tahun 1976 berlaku bagi 10 negara. Barbados, Denmark, Ekuador, Finlandia, Jamaika, Kolombia, Kosta Rika, Madagaskar, Mauritius dan Norwegia. Kegiatan Belajar 4 Kebiasaan Internasional, Prinsip Hukum Umum dan Resolusi Majelis Umum PBB Dalam rangka Perlindungan HAM Internasional Kebiasaan Internasional Adalah kebiasaan umum yang diterima sebagai hukum. Untuk menjadi sumber hukum, kebebasan internasional harus memenuhi 2 unsur berikut yaitu : (1) terdapat kebisaan yang bersifat umum (2) kebiasaan itu harus diterima sebagai hukum. Prinsip Hukum Umum Adalah asas hukum yang mendasari sistem hukum modern. Sistem hukum modern banyak didasarkan atas asas dan lembaga hukum Negara Barat yang sangat dipengaruhi oleh asas dan lembaga hukum Romawi. Ke dalam prinsip hukum umum dapat dimasukkan misalnya asas pacta sunt servanda, asas bonafide, asas penyalahgunaan hak atau asas adimplenti non est adiplendum dalam hukum perjanjian. Prinsip hukum umum memberi keleluasaan kepada Mahkaman Internasional dalam membentuk dan menemukan hukum baru sehingga semakin leluasa dalam mengadili perkara yang diajukan kepadanya. Dengna demikian tidak ada alas an menyatakan non liquet yakni menolak mengadili perkara karena tiadanya hukum yang mengatur persoalan yang diajukan. Keputusan Pengadilan, Pendapat Sarjana, dan Keputusan Organisasi Internasional Keputusan pengadilan dan pendapat sarjana sebagai sumber hukum tambahan bersifat tidak mengikat, artinya tidak dapat menimbulkan suatu kaidah hukum. Pendapat ahli hukum terkemuka akan menjadi pedoman untuk menemukan apa yang menjadi hukum internasional yang dilakukan di bawah naungan organisasi non-pemerintah seperti internasional Law Association.

Keputusan Badan Perlengkapan Organisasi Internasional Menurut pasal 10 Piagam PBB, keputusan majelis umum hanya memilih kekuatan sebagai anjuran kepada Negara anggotanya. Demikian besar pengaruh keputusan majelis umum dalam melahirkan kaidah dalam masyarakat internasional sehingga ada yang menyebut peranan Majelis Umum sebagai quasi legislative. MODUL 4 PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA DAN HAM Kegiatan Belajar 1 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa Piagam PBB lahir berdasarkan konferensi San Francisco yang ditandatangani tanggal 26 Juni 1945 dan baru resmi dinyatakan berlaku tanggal 24 Oktober 1945. Dalam sejarah kelahiran PBB ini, Konferensi San Francisco bukan merupakan satu-satunya peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya Piagam PBB. Beberapa peristiwa lain yang juga sangat penting, sebagaimana diungkapkan Soemarsono Mestoko (1985:95) di antaranya : 1. Piagam Atlantik (Atlantic Charter) yang ditandatangani tanggal 14 Maret 1941. Isinya hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri (right of self determination) serta penolakan dan pencegahan terhadap segala macam cara kekerasan bagi penyelesaian suatu sengketa atau pertikaian internasional. 2. United Nations Declaration yang ditandatangani tanggal 1 Januari 1945 di Washington DC oleh 26 negara. Isinya : menyokong prinsip yang terdapat pada Atlantic Charter 3. Konferensi Moskow, yang diadakan tanggal 19 30 Oktober 1943. Isinya : masalah peperangan, masalah Polandia dan masalah kerja sama setelah perang, juga membicarakan organisasi dunia untuk perdamaian. 4. Konferensi Yalta, tanggal 4 11 Pebruari 1945, isinya menyetujui untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut tentang masalah pembentuk organisasi perdamaian dunia (PBB) yang rencananya akan diadakan di Amerika bulan April 1945. 5. Konferensi San Fransisco, diadakan tanggal 25 April 1945 26 Juni 1945 menghasilkan Piagam PBB. Isi HAM adalah merupakan agenda internasional , dimana setiap individu, bangsa atau Negara memiliki hak-hak asasi dan kebebasan-kebebasan asasi seperti hak kemerdekaan, kebebasan, persamaan, perlindungan, keadilan dan lainnya yang fundamental. Kesadaran dunia internasional untuk menggalakkan penghormatan HAM telah mendorong untuk melahirkan Deklarasi Universal (UDHR) tahun 1948 di Paris, yang memuat salah satu tujuannya adalah menggalakkan dan mendorong penghormatan terhadap HAM dan kebebasan asasi bagi semua orang tanpa membedakan ras, jenis kelamin, bahasa atau agama (pasal 1). Pasal tersebut diperkuat oleh ketetapan bunyi pasal 55 dan pasal 56 tentang Kerjasama Ekonomi dan Sosial Internasional, yang mengakui hak universal HAM dan ikrar bersama-sama NegaraNegara anggota untuk kerjasama dengan PBB untuk tujuan di atas Ada 2 argumen para ahli hukum internasional dalam menyikapi Piagam PBB ini, yakni (1) bahwa pasal 55 dan 56 yang memprasyaratkan menggalakkan dan penghormatan serta ketaatan terhadap HAM hanyalah bersifat anjuran, sebab Deklarasi tidak membuat daftar HAM dan tidak pula adanya lembaga atau mekanisme jaminan pelaksanaan HAM tersebut (2) menyatakan bahwa pasal 56 mengenakan kewajiban yang jelas pada semua Negara anggota untuk mengambil tindakan-tindakan positif menuju penghormatan dan ketaatan terhadap HAM. Untuk menyusun suatu bill of rights (pernyataan tertulis yang memuat daftar HAM). Penyusunan tsb diserahkan kepada Komisi Hak Asasi Manusia (CHR) suatu komisi kerja ECOSOC (Economic and Social Council atau Dewan Komisi Sosial PBB). Yang memuat dafta hak sipil, ekonomi, sosial dan budaya. Scott Davidson (1993) mengemukakan bahwa status Deklarasi dewasa ini adalah sbb: a. Deklarasi tetap berstatus sebagai resolusi yang tidak mempunyai kekuatan mengikat b. Deklarasi dapat diartikan sebagai tafsiran resmi Piagam oleh Majelis Umum PBB c. Deklarasi dipostulatkan sebagai bagian dari prinsip-prinsip hukum umum yang diakui bangsa-bangsa beradab d. Deklarasi dipostulatkan telah menjadi bagian dari hukum kebiasaan internasional

Ius Cogens adalah norma-norma yang harus dipatuhi dan tidak boleh dikurangi. Contohnya : larangan penggunaan kekerasan menurut hukum internasional, larangan melakukan tindak criminal menurut hukum internasional, seperti perampokan, genosida dan pembajakan.

Kegiatan Belajar 2 Organ-Organ PBB dan HAM Yang termasuk organ utama PBB menurut Konferensi San Francisco yaitu : 1. Majelis Umum (General Assembly) 2. Dewan Keamanan (Security Council) 3. Sekretariat (Secretariate) 4. Mahkamah Internasional (International Court of Justice) 5. Dewan Ekonomi dan Sosial (Economic and Social Council) 6. Dewan Perwalian (Trusteeship Council) Organ PBB yang lebih banyak berkiprah dalam memperjuangkan HAM diantaranya yang menonjol adalah Majelis Umum, Dewan ECOSOC, CHR, Komisi Tentang Status Wanita, UNESCO dan ILO. 1. Majelis Umum (General Assembly) Yaitu organ pleno PBB yang terdiri dari seluruh Negara anggota dan setiap negara mewakili satu suara berhak menempatkan 5 wakilnya. Keanggotaan harus memenuhi syarat yang dijelaskan pasal 4 Piagam PBB, yakni anggota harus cinta damai serta menerima dan melaksanakan kewajiban-kewajiban dan HAM yang terumus dalam Piagam. Dewan Keamanan (Security Council) Menurut Sumarsono Mestoko (1985:99) diberi hak dan wewenang untuk menentukan mengenai suatu hal atau masalah yang dianggap mengganggu perdamaian, mengancam perdamaian atau suatu tindakan agresif Bertanggung jawab atas pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional. Terdiri dari 11 negara, 5 negara sebagai anggota tetap yakni AS, Inggris, Rusia, Perancil dan Cina. Sekretariat (Secretariate) Dipimpin seorang Sekjen bertugas mengepalai administrasi PBB. Pemilihan Sekjen dilakuan oleh Majelis Umum PBB didasarkan atas saran keamanan. Beberapa mantan Sekjen PBB : Trygve Lie (Norwegia), Dag Hamarskjold (Swedia), U Thant (Birma), Kurt Waldheim (Austria), dan Javier Perez de Cuellar (Peru) Mahkamah Internasional (International Court of Justice) Bertugas memberikan saran dan pendapat kepada Dewan Keamanan atau Majelis Umum apabila diminta. Anggota 15 orang ahli hukum. Dewan Ekonomi dan Sosial (Economic and Social Council) (ECOSOC) Organ politik PBB anggota 54 negara. Pasal 68 Deklarasi, ECOSOC berkewajiban membentuk komisi untuk membantu menjalankan tugasnya. Otoritas kewenangan ECOSOC yang berhubungan dengan HAM ditangani oleh Komisi HAM (CHR), subkomisi pencegahan diskriminasi dan perlindungan Minoritas serta komisi mengenai kaum wanita. a. Komisi Hak Asasi Manusia (CHR) Dibentuk oleh ECOSOC pada siding pertamanya tahun 1946. Terdiri dari 43 orang. Tugas komisi menurut Scott Davidson dikutip dari Resolusi ECOSOC 1979 adalah menyampaikan kepada ECOSOC proposal, rekomendasi dan laporan mengenai hal-hal sbb: 1) Suatu bill of rights (pernyataan tertulis mengenai HAM terpenting) b. Subkomisi Pencegahan dan Perlindungan bagi Kaum Minoritas c. Komisi Mengenai Kaum Wanita Dewan Perwalian (Trusteeship Council) Bertanggung jawab atas pengawasan daerah-daerah yang belum merdeka yang ditempatkan di bawah perwalian internasional. Bertugas untuk menyelidiki dan mengawasi daerah perwalian dalam beberapa hal

2.

3.

4.

5.

6.

pelaksanaannya dapat bekerja sama dengan Dewan Ekonomi dan Sosial. Selain itu, juga berwenang memutuskan bahwa PBB dapat meneruskan atau menjabat kepercayaan untuk mengawasi daerah perwalian yang bersangkutan. Disamping organ atau alat perlengkapan utama tsb diatas, terdapat macam-macam panitia dan badan khusus yang berperan dalam alat perlengkapan PBB yaitu : 1. Komisi Mengenai Status Kaum Wanita Dibentuk pada masa yang sama dengan CHR terdiri 32 orang. Berfungsi ganda yaitu (1) menyiapkan laporan dan rekomendasi kepada ECOSOC mengenai penggalakan HAM kaum wanita bidang politik, ekonomi, sipil, sosial dan pendidikan (2) menyiapkan saran-saran dan rekomendasi kepada ECOSOC mengenai masalah pelaksanaan prinsip persamaan hak wanita dari pria. Mempunyai wewenang untuk menerima berbagai pengaduan tertulis tentang bentuk pelanggaran terhadap hak dan kebebasan kaun wanita. Beberapa deklarasi yang dihasilkan oleh Komisi ini yaitu persetujuan tentang hak politik wanita, 1953 (Convention on the political rights of women) dan deklarasi Menghilangkan Diskriminasi terhadap Wanita, 1967 (Declaration on Elimination of Discoimination Againts Women). Berikut penjelasan masing-masing deklarasi tsb secara ringkas sbb : a. Persetujuan terhadap hak politik wanita lahir pada tahun 1953, terdiri dari 11 pasal diratifikasi di Libanon dan diberlakukan dengan UU tanggal 29 Nopember 1955. Isinya : menegaskan bahwa wanita sama dengan laki-laki tanpa adanya perbedaan dalam 3 macam hak asasi berikut : hak pilih dalam semua pemilihan resmi, hak dipilih menjadi anggota dari badan-badan yang dibentuk dengan pemilihan sesuai dengan UU dan hak menduduki jabatan dan memangku tugas umum yang ditetapkan berdasarkan UU tsb. b. Deklarasi menghilangkan diskriminasi wanita, lahir tahun 1967 atas rancang usul komisi khusus status wanita dan komisi cabang ketiga dari Majelis Umum. Terdiri dari 11 pasal. Membahas persamaan kaum wanita dan pria dalam seluruh hak dengan menghilangkan semua perbedaan antara keduanya. Dalam hak-hak sipil memuat hak wanita atas pemilikan dan warisan, hak menikmati, mengatur dan bertindak atas harta kekayaannya bahkan harta yang diperolehnya dalam perkawinan, kecakapan yang sempurna berdasarkan UU, hak memilih jodoh, perkawinan dan perceraian serta hak mengurus anak Dalam hukum Pidana penghapusan segala ketentuan hukum pidana yang membedakan antara pria dan wanita dalam hak pendidikan, mendapat beasiswa, Dalam hak ekonomi dan budaya persamaan hak dalam latihan kerja, memilih pekerjaan keterampilan dan pelayanan dan promosi, persamaan upah, pensiunan dan kompensasi keluarga, 2. UNESCO Di London tanggal 16 Nopember 1945 bermarkas di Paris. Menangani pengembangan ilmu pengetahuan, kerjasama ilmu pengetahuan antar bangsa, memajukan pendidikan antarbangsa, penyebaran kebudayaan. Pasal 1 Anggaran dasarnya, UNESCO bertujuan menyumbangkan pada perdamaian dan keamanan dengan menggalakkan kolaborasi di antara bangsa melalui pendidikan, sains dan budaya dalam rangka mendorong maju penghormatan universal tentang keadilan, rule of law serta HAM dan kebebasan fundamental yang ditegaskan bagi bangsa di dunia, tanpa membedakan ras, jenis kelamin, bahasa atau agama. Organisasi Buruh Internasional (ILO) Didirkan tahun 1919 dengan Traktat Versailles, bermarkas di Jenewa, Swiss yang perhatian utamanya terletak pada keadilan sosial dan kesejahteraan sosial lewat penggalakan hak kesejahteraan sosial buruh. Berdasarkan persetujuan ECOSOC. Organisasi ini memiliki 3 perangkat kelengkapan (D.W. Bowett, 1993): 1. Konferensi 2. Dewan Pengurus 3. Sekretariat Jenderal yang dikenal dengan Kantor Buruh Internasional. Adapun prosedur pengawasan pencapaian tujuan ILO diatur dalam pasal 22, 24 dan 25 Anggaran Dasar ILO. Pasal 22 Negara diwajibkan untuk menyerahkan laporan berkala mengenai pelaksanaan konvensi ILO. Diperiksa oleh Komite Ahli Independe berjumlah 18 orang. Pasal 25 prosedur pengaduan antarnegara

3.

Adapun berbagai badan khusus yang berada di bawah atap PBB dikutip oleh Sumarsono Mestoko (1985:104-105) yaitu : 1. FAO (Food and Argiculture Organization of The United Nations) atau Organisasi Bahan Pangan dan Pertanian. 2. IAEA (International Atomic Agency) atau Badan Tenaga Atom Internasional 3. WHO (World Health Organization) atau organisasi Kesehatan sedunia. 4. IBRD (International Bank for Reconstruction and Development) atau Bank Internasional untuk Pembaharuan dan Pembangunan 5. IFC (International Finance Corporation) atau Badan Keuangan Internasional 6. ICAO (International Civil Aviation Organization) atau Organisasi Penerbangan Sipil Internasional 7. UPU (Universal Postal Union) atau Persatuan Pos Sedunia 8. GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) atau Persetujuan mengenai Bea Cukai dan Perdagangan 9. WMO (World Meteorologi Organization) atau Organisasi Meteorologi Internasional 10. IMCO (Inter Govermental Maritime Consultative Organization) atau Organisasi Antar-Pemerintah untuk Urusan Maritim 11. UNDP (United Nations Development Programme) atau Program Pembangunan PBB 12. United Nations Capital Development Fund atau Dana Pembangunan Modal PBB 13. UNIDO (United Nations Industrial Development Organization) atau Organisasi PBB untuk Pengembangan Industri 14. UNITAR (United Nations Institute for Training and Research) atau Institut PBB untuk Pelatihan dan Penelitian 15. UNICEF (United Nations Childrens Fund) atau Dana PBB untuk anak-anak 16. UNHCR (United Nations High Commisioner fo Refugees) atau Komisi Tinggi PBB untuk urusan pengungsi 17. UNTSO (United Nations Truce Supervision Organization in Palestina) atau Organisasi PBB untuk pengawasan Penghentian Tembak Menembak di Palestina 18. UNMOGIP (United Nations Military Observer in India and Pakistan) atau Kelompok Peninjau Militer PBB di India dan Pakistan

MODUL 5 HAM DI DUNIA YANG SEMAKIN BERSATU Kegiatan Belajar 1 Nilai-Nilai HAM di Dunia Kontemporer Menurut Cassesse (1994:236) terdapat 2 reaksi yang salah arah, yang karenanya harus dihindari. Reaksi pertama menyebabkan timbulnya rasa penderitaan yang pasif dan mencari jalan keluar yang gampang Reaksi kedua menyebabkan timbulnya rasa percaya yang berlebihan dan suatu harapan yang palsu bahwa hak-hak asasi lambat laun akan menang disebabkan oleh nilai intrinsiknya. Reaksi pertama dipicu oleh anggapan tentang watak manusia yang memang jahat, saling membunuh (seperti pertikaian antara Qabil dan Habil). Manusia bukan hanya memiliki watak berani, tetapi juga rasional. Namun watak manusia yang berani kadang-kadang mengesampingkan wataknya yang rasional, sehingga tidak jarang perilakunya lepas kendali. Berbeda dengan reaksi pertama, reaksi kedua memandang konsepsi HAM memiliki kekuatan intrinsic yang menakjubkan. HAM adalah sejenis agama baru yang universal, sebuah agama yang nonmetafisik, tidak bersifat ukhrawi, mengandalkan akidah sekuler, tanpa ibadah, dan diciptakan sesuai dengan ukuran penduduk metropolis. Manusia dibebani dosa asalnya, atau dalam bahsa Maqchiavelli manusia itu tidak tahu berterima kasih, tidak berpendirian, ingin sekali menghindari bahaya, sementara itu mengejar kepentingan sendiri dengan bernafsu. Hak asasi merupakan suatu bentuk dari hukum alami bagi umat manusia, yakni terdapatnya sejumlah aturan yang dapat mendisiplinkan dan menilai tingkah laku kita. Konsep ini disarikan dari berbagai ideology dan filsafat, ajaran agama dan pandangan dunia, dan terlambang dengan Negara-negara itu dalam suatu kode perilaku internasional. Dengan demikian, konsep hak asasi tidak lain adalah komitmen bangsa-bangsa di dunia tentang

pentingnya penghormatan terhadap sesamanya sebagaimana diisyaratkan berbagi ideology, filsafat, dan agama sebagai perbuatan luhur dan terpuji. Cara pandang terhadap HAM sebagai suatu etos baru mengandung pengakuan akan nilai-nilai HAM yang dapat disarikan sebagai berikut (Cassesse 1994:240-245) 1. Konsep HAM didasarkan atas nilai agama tradisional yang diambil dari Barat dan Timur dengan gagasan utamanya terambil dari filsafat barat, namun ia tetap merupakan ajaran kemanusiaan (humanitarian) yang tidak disertai mitos dan magis. 2. HAM merupakan suatu upaya manusia untuk menjadikan manusia sebagai makhluk sosial, jiwa sosial manusia mengalahkan dorongannya naluri sebagai binatang alami 3. HAM didasarkan atas suatu keinginan yang ekspansif untuk mempersatukan dunia dengna membuat suatu daftar pedoman bagi semua pemerintahan 4. Pelanggaran sistematis terhadap HAM tidak dianggap merupakan kendala bagi sebuah Negara untuk memperoleh status subjek internasional dan tidak menghalangi menjadi anggota PBB Kendati demikian HAM belum menjadi criteria yang menentukan dalam pergaulan internasional. Sebuah Negara yang dinilai telah melakukan pelanggaran sistematis terhadap HAM masih bisa menandatangi perjanjian internsional, mengirim dan menerima duta besar bahkan menjadi anggota PBB. Namun kecaman dan pengecualian akan diarahkan kepada Negara yang melakukan pelanggaran tadi. Dengan demikian, kendati masih diakui sebagai subjek masyarakat internasional, suatu Negara yang melakukan pelanggaran sistematis terhadap HAM tidak lagi dinilai sebagai subjek masyarakat internasional yang penuh, karena sebagai subjek masyarakat internasional yang penuh karena kebanyakan Negara akan menghindari untuk berhubungan dengan mereka.

Kegiatan Belajar 2 Dampak HAM terhadap Masyarakat Internasional HAM sebagai konsepsi yang mencakup hak-hak rakyat memiliki pengaruh terhadap masyarakat internasional. Pengaruh tersebut dapat dicermati dalam hal : 1. Prinsip resiprositas versus tuntutan-tuntutan masyarakat 2. Rakyat dan individu sebagai warga masyarakat internasional 3. HAM dan hak hak orang asing 4. Teknik menciptakan standar hukum internasional 5. Pengawasan internasional 6. Pertanggungjawaban internasional 7. Hukum perang 1. Prinsip resiprositas versus tuntutan-tuntutan masyarakat Dalam hal prinsip resiprositas perkembangan yang paling menonjol adalah pergeseran orientasi kebangsaan menjadi kemanusiaan. Bila semula gagasan resiprositas menempatkan unsur penting pada kebangsaan sekarang telah digantikan tempatnya oleh keinginan untuk menjaga manusia sebagaimana adanya. 2. Rakyat dan individu sebagai warga masyarakat internasional 3. 4. 5. 6. 7. HAM dan hak hak orang asing Teknik menciptakan standar hukum internasional Pengawasan internasional Pertanggungjawaban internasional Hukum perang

Kegiatan Belajar 3 Apa yang Harus kita Lakukan? Perkembangan HAM diperlambat oleh sejumlah kekuatan yang menentangnya. Di antara kekuatankekuatan tsb rezim pemerintahan yang otoriter dan struktur pemerintahan yang sewenang-wenang dan serba

mencakup merupakan kekuatan penentang yang paling besar pengaruhnya terhadap laju perkembangan perlindungan HAM. Dalam kaitannya dengan struktur Negara, terdapat 3 masalah yang menghambat perkembangan HAM yaitu : 1. Negara menjadi penjamin penghormatan terhadap HAM 2. Kedua merupakan bagian dari tatanan Negara modern yang sentralistik dan birokratis. 3. Merujuk pada sejarah khas bangsa-bangsa barat, sosialis dan Negara-negara dunia ketiga. Tindakan yang perlu dilakukan digambarkan oleh Cassesse (1994:288) dengan bahasa yang puitis sebagai berikut: yang diperlukan adalah suatu tentara yang besar jumlahnya, namun tidak terdapat jenderal, ahli strategi maupun pemimpin. Ia harus merupakan tentara yang biasa, tentara rakyat yang ikut serta dengan ribuan cara yang berbeda, dan pada tingkat yang berbeda-beda pula untuk tugas-tugas yang memerlukan kesabaran yang berat dan harus diselesaikan hari demi hari : seperti ribu-ribu Plaza de mayo yang bersatu dalam protes mereka yang keras kepala menentang apa yang tidak dapat diterima.

MODUL 6 PERSAMAAN DI DEPAN UNDANG-UNDANG Kegiatan Belajar 1 Dimensi Persamaan Definisi Persamaan Menurut KBBI (1995:868) suatu keadaan yang sama atau serupa. Dilihat dari unsur-unsur yang terdapat padanya. Sebuah benda dikatakan memiliki persamaan dengan benda lain apabila unsur-unsur dari kedua benda tsb memiliki unsur yang sama atau serupa. Pemahaman istilah persamaan ini akan lebih mudah dengan cara memahami pula makna yang terkandung dari lawan kata yang bersangkutan, yakni perbedaan (diskriminasi) dan atau ketidaksesuaian. Jika sesuatu benda objek terbentu, atau hal-hal lain dibandingkan dengan benda, objek atau hal-hal lainnya memiliki unsur-unsur yang berbeda atau tidak sama, dapat dikatakan benda, objek atau hal-hal lain tersebut adalah memiliki perbedaan. Persamaan dalam konteks kehidupan umat manusia suatu keadaan yang sama antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Dalam konteks ini pemahaman akan istilah tersebut tidak terlepas konsekuensi logis yang menyertainya yakni kebebasan. Orang dikatakan memiliki persamaan apabila orang tersebut memiliki kebebasan yang sama bila dibandingkan dengan yang lainnya. Declaration of independence (Deklarasi Kemerdekaan) yang lahir di Amerika tahun 1976 dan Declaration des droits de Phomme et du citoyen (deklarasi hak-hak manusia dan warga Negara) merupakan bukti nyata akan perjuangan penerapan nilai-nilai persamaan khususnya dan hak Asasi Manusia pada umumnya bagi seluruh umat mansuia tanpa kecuali. Manusia pada dasarnya sama sebagai mahkluk Tuhan yang memiliki hak-hak yang melekat padanya, terutama hak untuk hidup, merdeka dan memperoleh kebahagiaan. Dalam naskah konvensi Diskriminasi (Pekerjaan dan Jabatan) yang dicetuskan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) pada tahun 1958. Dalam pasal 1 ayat (1.a) Konvensi Diskriminasi ini dinyatakan : tujuan konvensi ini istilah diskriminasi mencakup suatu perbedaan, pengecualian atau sikap pilih kasih atas dasar suku bangsa, warna kulit, jenis kelamin, agama, pandangan politik, asal usul sosial atau kebangsaan. Persamaan secara Kodrati dan Persamaan secara Biologis Secara kodrati pada dasarnya manusia adalah sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Secara biologis telah melahirkan perbedaan perlakuan atau lebih dikenal dengan diskriminasi terutama masalah ras, perlakuan. Perbedaan perlakuan disebabkan oleh adanya sifat etnosentrisme, yakni suatu sifat manusia sebagai bagian dari kebudayaan yang menganggap bawha cara hidup golongannya itu adalah cara hidup yang paling baik, sedangkan cara hidup golongan lain itu tidak baik. Persamaan secara Sosial dan Ekonomi Aristoteles bahwa di dalam Negara terdapat 3 unsur, yakni mereka yang kaya sekali, yang melarat dan yang ada di antara keduanya. Perbedaan status sosial dan ekonomi tsb menurut Soerjono Soekanto (1990:251) disebabkan masyarakat yang senantiasa mempunyai penghargaan tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang lebih

tinggi terhadap hal-hal tertentu, akan menempatkan hal tersebut dalam kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Beberapa ukuran yang sering dijadikan pedoman masyarakat dalam menempatkan seseorang dalam kelompok yang lebih tinggi, sedang ataupun lebih rendah: 1. Ukuran kekayaan 2. Ukuran kekuasaan 3. Ukuran kehormatan 4. Ukuran Ilmu pengetahuan Persamaan secara Hukum dan Undang-undang Menurut Subhi Mahamassani (1993:211) Persamaan seluruh manusia di depan UU dari segi hak-hak, kewajiban, dan perlindungan hukum. Hegel hukum harus menjamin kebebasan anggota masyarakat. Kebebasan disini bukan berarti kebebasan mutlak atau kebebasan yang sebebas-bebasnya, melainkan hak setiap orang ataupun kelompok untuk mengurus diri sendiri terlepas dari paksaan. Levinas Untuk menjadi bebas, orang harus menerima sebuah perintah, ialah sebuah perintah lahir, bukan sebuah hukum yang rasional murni, bukan sebuah imperative katagoris tanpa daya melawan tirani, melainkan sebuah UU lahir, sebuah UU tertulis dilengkapi dengan kekuatan, yang menentang tirani. Deklarasi lain yakni Deklarasi tentang hak-hak manusia dan penduduk yang dicetuskan di Perancis tahun 1789 : bahwa manusia dilahirkan dan senantiasa berada dalam keadaan merdeka dan memiliki hak-hak yang sama menurut hukum. Deklarasi dunia (Universal Declaration of Human Rights) ditetapkan Majelis Umum PBB tangga 10 Desember 1948 mengemukakan sbb: Pasal 1 Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikarunia akal dan budi dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan. Pasal 2 Setiap orang berhak atas semua hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum dalam pernyataan ini dengan tidak ada pengecualiaan apapun, seperti bangsa, warna, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lain, asal mula kebangsaan atau kemasyarakatan, milik, ketentuan atau kedudukan lain.

Kegiatan Belajar 2 Persamaan dalam Perlindungan Undang-Undang Persamaan dalam perlindungan UU juga mengandung pengertian bahwa setiap manusia laki-laki maupun perempuan, warga Negara maupun asing, serta dengan tidak memandang agama, suku bangsa, warna kulit dan berbagai bentuk diskriminasi lainnya adalah sama dapat bertindak sebagai subjek hukum, yakni sebagai pembawa hak atau yang memiliki hak dan kewajiban. Menurut hukum, berlakunya manusia sebagai pembawa hak mulai dari saat ia dilahirkan sampai meninggal dunia, bahkan pada saat ia dalam kandungan ibunya dapat dianggap sebagai pembawa hak, jika kepentingan memerlukan lain, seperti untuk menjadi ahli waris. Dalam KUH-Perdata maupun KUH-Pidana yakni : 1. Orang-orang yang tidak waras (gila), pemabuk serta pemboros yang berada dalam pengampuan (curatele) 2. Orang yang masih di bawah umur, yakni belum mencapai usia 21 tahun. 3. Perempuan dalam pernikahan, dalam hal-hal tertentu karena keharusannya untuk mendapatkan izin dari suami John Locke (1632 1704) dalam bukunya Second Treatise tentang terbentuknya Negara berdasarkan perjanjian masyarakat, ia berpendapat bawah dalam perjanjian masyarakat manusia tidak secara absolute menyrahkan hak-hak individunya kepada Negara, melainkan hanya hak-hak yang berkaitan dengan perjanjian Negara semata. Sebelum John Locke, ada pula Hugo Grotius (1609) dalam bukunya Mare Liberum sive de iure quod Batavis competit ad indicana commercial, yang menerangkan bahwa terbentuknya Negara bertitik tolak dari kodrat manusia. Semua manusia memiliki kecenderungan kodrati yang sama, oleh karenanya manusia berhubungan dengan sesamanya dan cenderung untuk hidup bermasyarakat. Pandangan Grotius tentang hak-hak

manusia adalah sebagai manusia pribadi yang mempunyai hak-hak tertentu. Namun demikian gagasan Grotius tentang hak manusia ini baru pada tingkat hubungan antara manusia yang bersifat pribadi saja, belum membicarakan hak manusia sebagai warga Negara. Jaminan Persamaan di dalam perlindungan UU menurut Piagam Internasional Dalam Universal Declarations of Human Rights pernyataan tentang persamaan dalam perlindungan UU banyak sekali kita jumpai, antara lain seperti yang dinyatakan pada pasal 6 pasal 12. Pasal 6 Setiap orang berhak atas pengakuan sebagai manusia pribadi terhadap UU di mana saja ia berada Pasal 7 Semua orang adalah sama terhadap UU dan berhak atas perlindungan hukum yang sama dengan tidak ada perbedaan. Semua orang berhak atas perlindungan yang sama terhadap setiap perbedaan yang memperkosa pernyataan ini dan terhadap segala hasutan yang ditujukan kepada perbedaan semacam ini. Pasal 8 Setiap orang berhak atas pengadilan yang efektif oleh hakim-hakim nasional yang kuasa terhadap tindakan perkosaan hak-hak dasar, yang diberikan oleh UUD Negara atau UU Pasal 9 Tidak seorang pun boleh ditahan atau dibuang secara sewenang-wenang Pasal 10 Setiap orang berhak, dalam persamaan yang sepenuhnya didengarkan suaranya di muka umum dan secara adil oleh pengadilan yang merdeka dan tidak memihak, dalam hal menetapkan hak-hak dan kewajibankewajibannya dan dalam setiap tuntutan pidana yang ditujukan terhadapnya. Pasal 11 1) Setiap orang yang dituntut karena disangka melakukan sesuatu pelanggaran pidana dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya menurut UU dalam suatu siding pengadilan yang terbuka, dan di dalam siding itu diberikan segala jaminan yang perlu untuk pembelaannya 2) Tidak seorang pun boleh dipersalahkan melakukan pelanggaran pidana karena perbuatan kelalaian yang tidak merupakan suatu pelanggaran pidana menurut UU nasional atau internasional, ketika perbuatan tersebut dilakukan. Juga tidak diperkenankan menjatuhkan hukuman yang seharusnya dikenakan ketika pelanggaran pidana itu dilakukan. Pasal 12 Tidak seorang pun dapat diganggu dengan sewenang-wenang dalam urusan perseorangannya, keluarganya, rumah tangganya atau hubungan surat menyuratnya, juga tidak diperkenankan pelanggaran atas kehormatan dan nama baiknya. Setiap orang berhak mendapatkan perlindungan UU terhadap gangguan-gangguan atau pelanggaran-pelanggaran demikian. Dalam perjanjian Internasional tentang hak sipil dan politik berlaku tanggal 23 Maret 1976, pernyataan bahwa setiap manusia memiliki persamaan dalam perlindungan UU dan hukum terdapat pada pasal 14 ayat (1) yang menyatakan Semua orang sama di hadapan pengadilan dan mahkamah. Persamaan dalam Perlindungan UU di Indonesia Dalam KUHP pasal 2 dinyatakan bahwa Aturan pidana dan perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dapat dilihat Bab VI mengenai tersangka dan terdakwa. Pasal 54 yang menyatakan :Guna kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak mendapatkan bantuan hukum dari seorang atau lebih penasihat hukum selama dalam waktu dan pada saat tingkat pemeriksaan menurut tata cara yang ditentukan UU. Pasal 55 ayat (1) bahwa Daalm hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindakan pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancam pidana 15 th atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana 5 th atau lebih yang tidak mempunyai

penasihat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkatan pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasihat hukum bagi mereka. Dalam UU Pokok Kekuasaan Kehakiman UU No. 12 Tahun 1970, dinyatakan persamaan setiap warga Negara dalam perlindungan UU dan hukum. Pasal 5 1) Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membedakan orang 2) Dalam perkara perdata pengadilan membantu pencari keadilan dan berusaha sekeras-kerasnya mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapai peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan.

Kegiatan Belajar 3 Persamaan dalam Hak dan Kewajiban Kewajiban keharusan untuk melakukan, memenuhi atau berbuat terhadap hal-hal yang diberikan kepadanya. Ada 2 jenis hak yaitu Hak bersifat absolute dan hak bersifat relatif. Hak mutlak/absolute hak yang memberikan wewenang kepada manusia untuk melakukan sesuatu perbuatan, hak mana dapat dipertahankan kepada siapa pun juga dan sebaliknya orang lain juga harus menghormati hak-hak tsb misalnya: hak hidup, hak merdeka, hak miliki, dsb. Hak Nisbi/Relatif hak yang memberikan wewenang kepada manusia untuk menuntut kepada orang lain memberikan sesuatu melakukan sesuatu maupun tidak melakukan sesuatu. Keadilan menurut Amir Machmud (1987:88) adalah kesadaran untuk memberikan kepada masing-masing apa yang telah menjaadi haknya atau bagiannya. Jenis-jenis keadilan yaitu : 1. Justitia Commutativa atau keadilan tukar menukar memberi kepada masing-masing apa yang menjadi hak atau bagiannya atas dasar kesamaan di mana prestasi seharga dengan kontra prestasi, jasa sesuai dengan balas jasa 2. Justitia distributive atau keadilan membagi memberikan kepada masing-masing haknya atau bagiannya atas dasar perbedaan, dimana diperhitungkan mutu atau kualitas. 3. Justitia vindicativa atau keadilan proporsional memberikan kepada masing-masing haknya atau bagiannya atas dasar proporsinya masing-masing, termasuk penyesuaian berat ringannya pelanggaran. 4. Justitia kreativa atau keadilan mencipta memberikan kepada masing=masing hak kebebasan untuk menciptakan sesuatu sesuai dengan daya ciptanya dalam bidang kebudayaan. 5. Justitia protective atau keadilan perlindungan memberikan kepada masing-masing hak perlindungan. Hakikat keadilan ini adalah kekuasaan yang ada ditangan manusia harus dibatasi dan diawasi. 6. Justitia legalis atau keadilan hukum memberikan kepada masing-masing haknya atau bagiannya yang telah ditentukan oleh undang-undang dan peraturan-peraturan Negara dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang merupakan kebajikan sosial

Anda mungkin juga menyukai