Anda di halaman 1dari 17

BAB I Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tambang yang besar didunia, tak lepas dari itu emas merupakan salah satu hasil tambang yang cukup banyak dan sangat menjanjikan di Indonesia terutama emas epithermal. Maka dari itu, pembahasan tentang emas epithermal dirasa menjadi salah satu pokok bahasan yang penting untuk selalu dibahas dan didiskusikan, mengingat banyak ditemukan cebakan-cebakan emas epithermal baru yang diluar dugaan. Kesemua hal ini ditopang dengan kondisi geologi Indonesia yang sangat memungkinkan atau berpotensi dalam pembentukan emas epithermal. Jalur emas Indonesia merentang dari Aceh sampai Sulawesi Utara, Irian Jaya, dan Kalimantan, atau seluruhnya mencapai lebih dari 8.000 kilometer, hal ini menjadikan indonesia menjadi negara yang prospektif dalam bidang pertambangan emas. Berdasar seluruh fakta inilah penyusun merasa terpanggil untuk menulis sebuah makalah tentang emas epithermal yang berjudul Karakteristik Endapan Emas Epithermal Low Sulfidation

I.2 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuannya adalah: Mahasiswa menjadi paham konsep genesa dan karakteristik emas epithermal low sulfidation. Mahasiswa lebih memahami bagaimana cara menulis karya ilmiah yang baik dan benar. Mahasiswa menjadi peka terhadap permasalahan-permasalahn geologi dan mau menuangkannya dalam bentuk karya tulis ilmiah.
1

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

1.3 Batasan Masalah Adapun batasan masalah dari makalah ini adalah: Pembahasan tentang alterasi hidrotermal secara umum. Pembahasan tentang endapan epithermal secara umum. Pembahasan tentang endapan emas epithermal low sulfidation meliputi karakteristik secara umum, geokimia, dan genesa.

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Definisi Endapan Epithermal Endapan epitermal didefinisikan sebagai salah satu endapan dari sistem hidrotermal yang terbentuk pada kedalaman dangkal yang umumnya pada busur vulkanik yang dekat dengan permukaan (Simmons et al, 2000). Kedalamannya berkisar antara 1-1,5 km. Endapan ini terbentuk pada temperatur yang rendah yaitu 50 oC 300oC dan memiliki salinitas yang bervariasi antara 0-5 wt.% NaCl eq. Pada tahun 1933 Lindgren pertama kali menggunakan istilah epithermal, mengacu pada epi yang berarti dangkal dan thermal berarti suatu fluida yang memiliki temperatur yang panas. Kemudian seorang ahli kimia bernama Werner Giggenbach membagi endapan epithermal ini menjadi 2, yaitu endapan epithermal sulfidasi rendah dan endapan epithermal sulfidasi tinggi.

II.2 Genesa Endapan Epithermal Endapan epithermal ini terbentuk karena adanya suatu proses air hidrotermal dan air meteorik. Pada proses kristalisasi, air yang terkandung didalam magma sebagian terkristalisasi menjadi biotit dan hornblenda dan sebagiannya lagi lepas dan kemudian mengalir kebatuan samping sekitar magma, dan terus merambat naik hingga mencapai dekat permukaan, aktivitas air hidrotermal inilah yang menyebabkan adanya suatu proses alterasi hidrotermal, prophyri dan epithermal. Mencapai permukaan suhu air hidrotermal semakin rendah, sehingga terbentuklah endapan epithermal. Endapan epithermal umumnya ditemukan sebagai suatu pipe-pipe, seperti zona dimana batuan mengalami breksiasi dan teralterasi atau terubah tingkat tinggi. Veins juga ditemukan, khususnya disepanjang zona patahan
3

namun mineralisasi vein mempunyai tipe yang tidak menerus (discontinuous).

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

Gambar1. Model endapan emas epitermal sulfidasi rendah (Hedenquist dkk., 1996). II.3 Karakteristik, Mineral dan Tekstur Endapan Epithermal II.3.1 Tekstur Endapan Epithermal Tekstur bijih yang dihasilkan oleh endapan epithermal termasuk tipe pengisian ruang terbuka hal ini mencirikan karakteristik lingkungan yang bertekanan rendah, tekstur juga dapat membedakan antar endapan epithermal sulfidasi tinggi dan endapan epithermal sulfidasi rendah. Adapun tekstur-teksturnya adalah crustiform, colloform, bonding dan struktur sisir.

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

Gambar.2 Crustiform (sumber:http://www.trendix.com.ar/en/trendix_cerrochoique.html)

Gambar 3. Colloform (Sumber: http://www.unige.ch/sciences/schalenblende2_olkusz.html)

II.3.2 Karakteristik Endapan Epithermal Adapun karakteristik secara umum endapan epitermal (Hedenquist, 1995), adalah sebagai berikut: Jenis air berupa air meteorik dengan sedikit air magmatik. Mineral gangue yang utama adalah kuarsa sehingga menyebabkan bijih keras dan relatif tahan terhadap pelapukan. Endapan epitermal mengandung mineral bijih epigenetic yang pada umumnya memiliki batuan induk berupa batuan vulkanik.
5

Sebagian besar tubuh bijih terdapat berupa sistem urat dengan dip yang cukup terjal yang terbentuk sepanjang zona regangan. Beberapa diantaranya terdapat bidang sesar utama, tetapi biasanya pada sesar-sesar minor.
Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

Kandunga sulfida pada urat relatif sedikit (<1 s/d 20%) Tubuh bijih memiliki bentuk yang bervariasi yang disebabkan oleh kontrol dan litologi dimana biasanya merefleksikan kondosi paleo-permeability pada kedalaman yang dangkal dalam sistem hidrotermal. Bijih akan terbentuk pada urat dalam suatu jaringan sesar dan kekar.

II.3.1 Mineral Endapan Epithermal Mineralisasi epithermal umumnya memiliki ciri dengan hadirnya kalsedonik quartz, kalsit, dan breksi hidrotermal. Selain itu, asosiasi elemen juga merupakan salah satu ciri dari endapan epithermal, yaitu hadirnya elemen bijih seperti Au, Ag, Sb, Hg, Tl, Te, Pb, Zn, dan Cu.

Gambar 4. Diagram scematic yang memperlihatkan zona-zona mineralisasi pada endapan epithermal high sulfidation-low sulfidation (Simmon and Cooke 2000, modified from Sillitoe 1993)

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

II.4 Klasifikasi Endapan Epithermal Pada lingkungan epitermal terdapat 2 (dua) kondisi sistem hidrotermal yang dibedakan berdasarkan reaksi yang terjadi dan keterdapatan mineral-mineral alterasi dan mineral bijihnya yaitu epitermal sulfidasi rendah dan epithermal sulfidasi tinggi. II.3.1 Endapan Epithermal Sulfidasi Rendah Tipe ini berasosiasi dengan alterasi kuarsa-adularia, karbonat, serisit pada lingkungan sulfur rendah dan biasanya perbandingan perak dan emas relatif tinggi. Mineral bijih dicirikan oleh terbentuknya elektrum, perak sulfida, garam sulfat, dan logam dasar sulfida. Batuan induk pada deposit logam mulia sulfidasi rendah adalah andesit alkali, dasit, riodasit atau riolit. Endapan epitermal sulfidasi rendah dicirikan oleh larutan hidrotermal yang bersifat netral dan mengisi celah-celah batuan.

Gambar 5. Model tipe endapan epithermal sulfidasi rendah II.3.2 Endapan Epithermal Sulfidasi Tinggi Tipe ini terbentuk pada kedalaman sekitar 500-2000 meter dan temperatur 100C-300C. Endapan epitermal high sulfidation dicirikan dengan host rock berupa
7

batuan vulkanik bersifat asam hingga intermediet dengan kontrol struktur berupa sesar secara regional atau intrusi subvulkanik. Endapan tipe ini terbentuk oleh sistem dari fluida hidrotermal yang berasal dari intrusi magmatik yang cukup dalam, fluida ini bergerak secara vertikal dan horizontal menembus rekahan-rekahan pada batuan dengan
Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

suhu yang relatif tinggi (200-300C), fluida ini didominasi oleh fluida magmatik dengan kandungan acidic yang tinggi yaitu berupa HCl, SO2, H2S. Genesa dan Karakteristik Terbentuk dari reaksi batuan induk dengan fluida magma asam yang panas, kemudian menghasilkan suatu karakteristik zona alterasi (ubahan) yang akhirnya membentuk endapan Au+Cu+Ag. High sulphidation berhubungan dengan pH asam yang timbul dari bercampurnya fluida yang mendekati pH asam dengan larutan sisa magma yang bersifat encer sebagai hasil dari diferensiasi magma, di kedalaman yang dekat dengan tipe endapan porfiri dan dicirikan oleh jenis sulfur yang dioksidasi menjadi SO. Epithermal High Sulphidation terbentuk dalam suatu sistem magmatichydrothermal yang didominasi oleh fluida hidrothermal yang asam, dimana terdapat fluks larutan magmatik dan vapor yang mengandung H2O, CO2, HCl, H2S, and SO2, dengan variabel input dari air meteorik lokal. II.5 Tektonik dan Vulkanik Setting Epithermal merupakan suatu bagian dari sistem hidrotermal yang secara umum berasosiasi dengan vulkanik subaerial dan intrusi dari magma calc-alkali yang berkisar antara basaltic andesite, dacite dan rhyolite. Intrusi yang berkaitan dengan aktivitas hidrotermal berasal dari subduksi lempeng dan proses magmatisme pada island arc dan continental arc. Pada kenyataannya ketiadaan dari endapan-endapan epithermal dalam suatu sistem hidrotermal berhubungan erat dengan aktivitas kontinental rifting dan hotspot yang menunjukkan efek hubungan antara subduksi yang menghasilkan vulkanisme dan ore formation (e.g,. Sillitoe, et.al 1996, dalam Simmon dan Cooke 2000). Wilayah pembentukan epithermal meliputi kisaran dari beberapa kilometer hingga beberapa puluh kilometer. Tubuh batuan terbentuk hampir secara bersamaan atau lebih tua dari batuan vulkanic. Bentuk dari tubuh batuan dapat berubah-ubah, dapat memanjang secara lateral dengan jarak ratusan hingga ribuan meter, dan secara vertikal
8

terbentuk pada kedalamn < 600 meter, contohnya adalah mineralisasi di Pachuca-Beal del Monde district.

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

Struktur, litologi dan komposisi fluida sangat mempengaruhi permeabilitas dari lingkungan pengendapan (e.g,. Sillitoe, et.al 1996, dalam Simmon dan cooke 2000). II.6 Alterasi Hidrotermal Alterasi hidrotermal adalah pergantian atau perubahan mineralogi dan komposisi kimia yang terjadi ketika batuan berinteraksi dengan larutan hidrotermal (White, 1996), perubahan yang terjadi dapat berupa rekristalisasi, penambahan mineral baru, larutnya mineral yang telah ada, penyusunan kembali komponen kimia-nya atau perubahan sifat fisik seperti permeabilitas dan porositas batuan. Larutan hidrotermal adalah suatu cairan atau fluida yang panas, kemudian bergerak naik ke atas dengan membawa komponenkomponen mineral logam, fluida ini merupakan larutan sisa yang dihasilkan pada proses pembekuan magma.. Alterasi dan mineralisasi bisa juga termasuk dalam proses pergantian unsur-unsur tertentu dari mineral yang ada pada batuan dinding digantikan oleh unsur lainyang berasal dari larutan hidrotermal sehingga menjadi lebih stabil. Proses ini berlangsung dengan cara pertukaran ion dan tidak melalui proses pelarutan total, artinya tidak semua unsur penyusun mineral yang digantikan melainkan hanya unsur-unsur tertentu saja. Alterasi hidrotermal merupakan proses yang kompleks yang melibatkan perubahan mineralogi, kimiawi, tekstur, dan hasil interaksi fluida dengan batuan yang dilewatinya. Perubahanperubahan tersebut akan bergantung pada karakter batuan dinding, karakter fluida (Eh, pH), kondisi tekanan maupun temperatur pada saat reaksi berlangsung, konsentrasi, serta lama aktifitas hidrotermal. Walaupun faktorfaktor di atas saling terkait, tetapi temperatur dan kimia fluida kemungkinan merupakan faktor yang paling berpengaruh pada proses alterasi hidrotermal. Kondisi pembentukan alterasi hidrotermal ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu: Perbandingan Rasio Fluida dan Batuan Pemahaman rasio fluida dan batuan sangat penting dalam memahami intensitas alterasi hidrotermal pada batuan. Jika jumlah fluida yang kontak terhadap batuan sedikit maka perubahan kimia yang terjadi pada mineral-mineral penyusun batuan sedikit,
9

penambahan fluida hanya berfungsi untuk mebentuk mineral-mineral karbonat hidrous (klorit, serisit dan lain sebagainya) serta penambahan CO2 minor untuk membentuk

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

mineral-mineral karbonat, tetapi tidak terjadi metasomatisme mayor pada batuan. Hal ini dipengaruhi oleh komposisi batuannya. Jika rasio perbandingan fluida dan batuan tinggi, maka mineral-mineral penyusun batuan yang mungkin untuk teralterasi dapat teralterasi, dan komposisi keseluruhan tubuh batuan secara substansial akan berubah, dalm proses ini berasosiasi dengan metasomatisme mayor. Dalam kasus ini faktor yang paling mempengaruhi alterasi batuan berupa komposisi kimia fluida hidrotermal. Pengaruh alterasi hidrotermal terhadap batuan dibagi menjadi 3, (White, 1996) yaitu: Pengaruh yang bekerja pada individual mineral secara selektif, proses ini terjadi dalam dua kondisi dimana batuan yang berinteraksi fluida bersifat tidak reaktif sehingga hanya mineral-mineral yang dapat bereaksi dengan fluida yang dapat menunjukkan pengaruh alterasi. Atau jumlah fluida yang sedikit (rasio fluida:batuan rendah). Pengaruh yang terjadi hanya pada urat dan batasnya, pengaruh ini dapat digunakan jika alterasi yang teramati dalam batuan hanya berhenti disekitar tubuh urat dan tidak terjadi mineralisasi mayor disana. Pengaruh jenis ini dapat digunakan untuk menunjukkan posisi pusat sumber fluida hidrotermal dengan memperhatikan densitas dan distribusi persebarannya di batuan. Pengaruh pada keseluruhan batuan secara pervasive, pengaruh ini terjadi disebabkan oleh 2 hal, yaitu: Terdapat suatu peristiwa struktur utama yang memungkinkan fluida hidrotermal masuk kedalam seluruh tubuh batuan dan mengalterasi seluruh komponen batuan secara intensif. Batuan memiliki banyak rekahan yang memungkin bagi fluida untuk masuk kedalamnya dan mengalterasi seluruh batuan tersebut. Suhu dan Tekanan Suhu dan tekanan juga merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pembentukan mineral-mineral alterasi, misalnya pada suhu 250C kehadiran mineral10

mineral klorit akan berkurang dan digantikan oleh keadiran-kehadiran mineral biotit, sedangkan teakana berpengaruh terhadap temperatur fluida sehingga pendidihan (boiling) fluida hidrotermal dapat terjadi.

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

Adapun kelompok mineral-mineral ubahan menurut Corbett dan Leach (1996) serta kondisi lingkungan pembentukannya adalah kelompok silika, kelompok mineral alunit, kelompok kaolin, kelompok Illit, kelompok mineral klorit, kelompok kalksilikat dan fase mineral-mineral lain.

Sedangkan, menurut Corbett dan Leach (1996), faktor yang mempengaruhi proses alterasi hidrotermal adalah sebagai berikut: Temperatur dan tekanan Peningkatan suhu membentuk mineral yang terhidrasi lebih stabil, suhu juga berpengaruh terhadap tingkat kristalinitas mineral, pada suhu yang lebih tinggi akan membentuk suatu mineral menjadi lebih kristalin, menurut Noel White (1996), kondisi suhu dengan tekanan dapat dideterminasi berdasarkan tipe alterasi yang terbentuk. Temperatur dan tekanan juga berpengaruh terhadap kemampuan larutan hidrotermal untuk bergerak, bereaksi dan berdifusi, melarutkan serta membawa bahanbahan yang akan bereaksi dengan batuan samping. Permeabilitas Permeabilitas akan menjadi lebih besar pada kondisi batuan yang terekahkan serta pada batuan yang berpermeabilitas tinggi hal tersebut akan mempermudah pergerakan fluida yang selanjutnya akan memperbanyak kontak reaksi antara fluida dengan batuan. Komposisi kimia dan konsentrasi larutan hidrotermal Komposisi kimia dan konsentrasi larutan panas yang bergerak, bereaksi dan berdifusi memiliki pH yang berbeda-beda sehingga banyak mengandung klorida dan sulfida, konsentrasi encer sehingga memudahkan untuk bergerak. Komposisi batuan samping Komposisi batuan samping sangat berpengaruh terhadap penerimaan bahan larutan hidrotermal sehingga memungkinkan terjadinya alterasi.

Pada kesetimbangan tertentu, proses hidrothermal akan menghasilkan kumpulan


11

mineral tertentu yang dikenal sebagai himpunan mineral (mineral assemblage) (Corbett & Leach, 1996). Secara umum himpunan mineral tertentu akan mencerminkan tipe alterasinya.

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

II.7 Tipe Endapan Hidrotermal Berdasarkan jauh dekat terjadinya proses alterasi hidrotermal, serta temperatur dan tekanan pada saat terbentuknya mineral-mineral, Lingrend (1983)dan Beteman (1962) membagi tiga golongan alterasi hidrotermal, yaitu :

Endapan Hipotermal dengan ciri sebagai berikut : a. Endapan berasosiasi dengan dike (korok) atau vein (urat) dengan kedalaman yang besar. b. Wall Rock Alteration, dicirikan oleh adanya replacement yang kuatdengan asosiasi mineral : albit, biotit, kalsit, pirit, kalkopirit, kasiterit,emas, hornblende, plagioklas, dan kuarsa. c. Asosiasi mineral sulfida dan oksida pada intrusi granit sering diikuti pembentukan mineral logam, yaitu : Au, Pb, Sn, dan Zn.d.Tekanan dan temperatur relatif paling tinggi yaitu 500C600C. d. Merupakan jebakan hidrotermal paling dalam.

Endapan mesotermal dengan ciri sebagai berikut: a. Endapan berupacavity filling dan kadang-kadang mengalami prose replacement dan pengkayaan. b. Asosiasi mineral: klorit, emas, serisit, kalsit, pirit, kuarsa. c. Asosiasi mineral sulfida dan oksida batuan beku asam dan batuanbeku basa dekat dengan permukaan. d. Tekanan dan temperatur medium, yaitu : 300C372C. e. Terletak di atas hipotermal.

Endapan epitermal dengan ciri sebagai berikut: a. Endapan dekat dengan permukaan dan replacemen tidak pernah dijumpai. b. Asosiasi mineral : kalsit, klorit, kalkopirit, dolomit, emas, kaolin,muskovit,

12

zeolit, dan kuarsa. c. Asosiasi mineral logam (Au dan Ag) dengan mineral gangue. Tekanan dan temperatur rendah yaitu 50C-300C.

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

II.8 Keterdapatan Emas Epithermal di Indonesia Endapan emas epitermal salah satunya seperti Waterfall terletak di Kahayan Hulu Propinsi Kalimantan Tengah. Alterasi hidrotermal berkembang dengan baik menghasilkan urat-urat kuarsa maupun kalsit (stockwork) yang membawa bijih emas dan mineral-mineral sulfida lainnya seperti pirit, chalkopirit, sphalerit, hematit, magnetit, kovelit, bornit dan galena. Di Waterfall terdapat tiga zone alterasi hidrotermal, yaitu zone karbonat-kalsit-serisit/muskovit (zone phillik), zone klorit-kalsit- kuarsaepidot (zone propilitik dalam) dan zone karbonat- klorit-zeolit-silika (zone sub propilitik). Dari analisis petrografi dan inklusi fluida didapatkan endapan emas Waterfall termasuk kedalam tipe endapan sulfida rendah (low sulphidation), terbentuk pada temperatur antara 240C-250C dengan salinitas 8.15, 5.50 dan 4.03% berat NaCl ekivalen. Endapan ini terbentuk pada kedalaman 350-417 m di bawah paleo surface, berada pada bagian atas zone logam dasar (base metals). Eksplorasi diarahkan pada zone propilitik dalam yang banyak mengandung mineral bijih.

II.9 Endapan emas epithermal low sulfidation Endapan emas epithermal low sulfidation terbentuk pada lingkungan subaerial, daerah busur vulkanik kalk-alkali-alkali dengan jenis thoelitik jarang, dan pada setting vulkanik distal intermediet. Dengan pH netral dan zona temperatur tinggi menuju temperatur rendah. Emas biasanya terbentuk sebagai electrum atau lebih jarang membentuk sebagai telluride dan berasosiasi dengan acanthite, silbersulfosat, base metal sulfida dan pirit. Endapan emas epitermal sulfidasi rendah dicirikan oleh larutan hidrotermal yang bersifat netral dan mengisi celah-celah batuan. Tipe ini berasosiasi dengan alterasi kuarsa-adularia, karbonat, serisit pada lingkungan sulfur rendah dan biasanya perbandingan perak dan emas relatif tinggi. Mineral bijih dicirikan oleh terbentuknya
13

elektrum, perak sulfida, garam sulfat, dan logam dasar sulfida. Batuan induk pada deposit logam mulia sulfidasi rendah adalah andesit alkali, dasit, riodasit atau riolit.

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

Secara genesa sistem epitermal sulfidasi rendah berasosiasi dengan vulkanisme riolitik. Tipe ini dikontrol oleh struktur-struktur pergeseran (dilatational jog). Endapan emas epitermal sulfidasi rendah dapat dibedakan dengan endapan epithermal sulfidasi tinggi dari kandungan mineral sulfidanya yang berbeda yaitu pirit, sfalerit, galena, kalkopirit yang biasanya terdapat dalam urat kuarsa dan karbonat, dan diendapkan dari cairan encer hidrotermal.(Corbett dan Leach, 1998). II.10 Genesa endapan emas epithermal low sulfidation Endapan ini terbentuk pada lokasi yang jauh dari tubuh intrusi dan terbentuk melalui larutan sisa magma yang berpindah jauh dari sumbernya. Kemudian larutan ini bercampur dengan air meteorik di dekat permukaan dan membentuk jebakan tipe sulfidasi rendah. Proses boiling disertai pelepasan unsur gas merupakan proses utama untuk pengendapan emas sebagai respon atas turunnya tekanan. Perulangan proses boiling tercermin dari tekstur crusstiform banding dari silika dalam urat kuarsa. Pembentukan jebakan urat kuarsa berkadar tinggi mensyaratkan pelepasan tekanan secara tiba-tiba dari cairan hidrotermal untuk memungkinkan proses boiling. Sistem ini terbentuk pada tektonik lempeng subduksi, kolisi dan pemekaran (Hedenquist dkk., 1996 dalam Pirajno, 1992). Inklusi Fluida Inklusi fluida merupakan data yag digunakan untuk menjelaskan temperatur dan komposisi dari fluida mineral dengan kedalaman formasi dari suatu endapan. Inklusi fluida memiliki peran penting dalam genesa endapan emas epithermal low sulfidation. Banyak data-data inklusi fluida ditemukan dari kuarsa, yang merupakan volumetrically yang memiliki kelimpahan besar dalam material bijih. Selain itu juga didapatkan dari kalsit, adularia dan sphalerit. Inklusi fluida terdiri dari 2 fase, yaitu fase liquid dan fase uap air, dimana fase liquid memiliki dominasi >65% dan fase uap air >98%. Inklusi fluida melalui bentuk rongga yang berbeda, yaitu teratur dan tidak teratur. Rongga yang tidak teratur
14

mencirikan temperatur >230C dan rongga yang teratur mencirikan temperatur >250 (Bodnar, et Al.,1983, dalam simon and cooke, 2000).

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

Temperatur homogenization memiliki rentang dari 150C ke 300C dan temperatur ice melting dari 0C -2C. Indikasi pencairan fluida pada umumnya kurang dari 3,5 wt% NaCl equi.

Gambar 6. Temperatur homogenzation versus temperatur ice melting untuk inklusi fluida pada low sulfidation. (Simmon and Cooke 2000)

15

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

BAB III KESIMPULAN Dari penjelasan dari bab 1 hingga bab 2, dapat dismpulkan beberapa point penting tentang endapan epithermal secara umum dan endapan emas epithermasl secara khusus. Endapan epitermal didefinisikan sebagai salah satu endapan dari sistem hidrotermal yang terbentuk pada kedalaman dangkal yang umumnya pada busur vulkanik yang dekat dengan permukaan (Simmons et al, 2000). Alterasi hidrotermal adalah pergantian atau perubahan mineralogi dan komposisi kimia yang terjadi ketika batuan berinteraksi dengan larutan hidrotermal (White, 1996). Pada tahun 1933 Lindgren pertama kali menggunakan istilah epithermal, mengacu pada epi yang berarti dangkal dan thermal berarti suatu fluida yang memiliki temperatur yang panas. Tekstur-tekstur endapan epithermal adalah crustiform, colloform, bonding dan struktur sisir. Endapan emas epitermal sulfidasi rendah berasosiasi dengan alterasi kuarsa adularia, karbonat dan serisit pada lingkungan sulfur rendah. Larutan bijih dari sistem sulfidasi rendah variasinya bersifat alkali hingga netral (pH 7) dengan kadar garam rendah (0-6 wt)% NaCl, mengandung CO2 dan CH4 yang bervariasi.

16

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039

DAFTAR PUSTAKA Albinson, Twan. 2001. Contron on formation of Low-Sulfidation Epithermal Deposits in Mexico: Constraints from Fluida Inclusion and Stable Isotope Data. SEG Reviews. Camprubi, Antoni. 2007. Ephitermal Deposits in Mexico-Update of Current Knowledge, and an Empirical Reclassification. Geology Society of America. Cheilletz, Alain. 2002. The Giant Imiter silver deposit: Neoproterozoic epithermal mineralization in the Anti-Atlas, Morocco. Mineralium Depositta. Corbett, Gregg. Epithermal Gold For Explorationist. AIG Journal. Australia Einaudi, T Marco. 2003. Sulfidation state of Fluids in active and extinct Hydrothermal systems: Transition from phorphyry to Epithermal Environments:Chapter 15. SEG Reviews. Hudson, Donald. 2003. Epithermal Alteration and Mineralization in the Comstock District, Nevada. Economic Geology Hedenquist,J.W 1996. Epithermal Gold Mineralization and its volcanic environments, Elsevier, Amsterdam N, Agdemir. 1994, Petrology and Alteration geochemistry of the epithermal Balya PbZn-Ag deposit, NW Turkey. Mineral Deposita. Oepen, P Sanger Von, 1990. Comparisson between the fluid characteristics of the Rodalquilar and Two Neighbouring epithermal Gold deposit in spain. Mineralium Deposita. Simmons, Stuart and Cooke, David. 2000. Characteristics and genesis of Epithermal Gold Deposits. SEG Reviews. Sylvie, Anne an Mayer, Andre. 2001. Boiling and Vertical Mineralization Zoning: a case study from the Apacheta low-sulfidation epithermal gold silver deposit, southern, Peru. Mineralium Deposita Tawn, Albinsong. 2001. Control on Formation of LowSulfidation Epithermal Deposits in Mexico: Constrainst from Fluids Inclusion and Stable Isotope Data. Mexico, Society Economic Geologist.
17

Yilmaz, Husein. 1829. Ovacik Gold Deposit:An Axample of Quartz-Adularia-type gold Mineralization In Turkey. Economic geology

Ismiatul Ramadhian Nur | 35039