Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan jiwa merupakan salah satu arah dari visi kesehatan.

Masalah kesehatan jiwa terutama gangguan jiwa secara tidak langsung dapat

menurunkan produktifitas, apalagi jika onset gangguan jiwa dimulai pada usia produktif . Gangguan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan dan masih banyak ditemukan di masyarakat. Masalah gangguan jiwa secara tidak langsung akan menurunkan produktivitas apalagi jika penderita gangguan jiwa dimulai pada usia produktif selain itu juga menambah beban dari keluarga penderita. Harga diri adalah perasaan negatif terhadap diri sendiri,hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, 1998). Menurut klasifikasi Diagnostic and Statisyical Manual of Mental Disorder Text Revision (DSM IV, TR 2000), harga diri rendah merupakan salah satu jenis gangguan jiwa kategori gangguan kepribadian (Videbeck, 2008). World Health Organitation tahun 2001 menyatakan paling tidak 1 dari 4 orang atau sekitar 450 juta orang terganggu jiwanya. Sedangkan menurut Dharmono (2007), penelitian yang dilakukan World Health Organitation di berbagai negara menunjukkan bahwa sebesar 20 30 % pasien yang datang ke pelayanan kesehatan menunjukkan gejala gangguan jiwa. Departement of Human Service (1999), memperkirakan 51 juta

penduduk Amerika didiagnosis mengalami gangguan jiwa (Videbeck, 2008). Berdasarkan data Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2000 mencapai 2,5 juta orang.. Tingginya presentase masyarakat yang mengalami gangguan jiwa salah satunya harga diri rendah ini, sudah barang tentu perlu dan harus mendapat perhatian khusus naik dari masyarakat maupun dari tenaga kesehatan.

B. Rumusan Makalah 1. Apa Konsep Dasar Konsep Diri? 2. Apa Pengertian Harga Diri Rendah? 3. Apa Etiologi Harga Diri Rendah? 4. Apa Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah Kronik? 5. Apa Batasan Karakteristik Harga Diri Rendah Kronik? C. Tujuan Makalah 1. Mengerti pengertian Konsep Dasar Konsep Diri. 2. Mengerti Pengertian Harga Diri Rendah. 3. Mengerti Etiologi Harga Diri Rendah. 4. Mengerti Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah Kronik. 5. Mengerti Batasan Karakteristik Harga Diri Rendah Kronik.

BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Dasar Konsep Diri 1. Pengertian Konsep diri adalah semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan memengaruhi

hubungannya dengan orang lain. Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan realitas dunia (stuart , 2006) . 2. Teori perkembangan Secara umum konsep diri belum ada saat bayi dilahirkan tetapi konsep diri ini berkembang secara bertahap saat bayi mulai mengenal dan dapat membedakan dirinya dengan orang lain dan objek disekitarnya sebagai individu yang terpisah. Perkembangan konsep diri terpacu cepat dengan perkembangan bicara. Nama dan panggilan anak merupakan aspek bahasa yang utama dalam membantu perkembangan identitas. Dengan memanggil namanya, anak mengartikan dirinya secara istimewa, unuk, dan mandiri. Konsep diri dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman berhubungan dengan orang lain. Pandangan individu tentang dirinya dipengaruhin oleh bagaimana individu mengertikan pandangan orang lain tentang dirinya. Keluarga mempunyai peran yang penting dalam membantu perkembangan konsep diri terutama pada pengalaman masa kanak-kanak. Stuart dan Sudeen 1991, mengemukakan pengalaman awal kehidupan dalam keluarga, merupakan pembentukan konsep diri. Peran keluarga dalam pembentukan konsep diri anak meliputi: 1. Perasaan mampu atau tidak mampu. 2. Perasaan diterima atau ditolak. 3. Kesempatan untuk identifikasi. 4. Penghargaan yang pantas tentang tujuan, perilaku, dan nilai.

Suasana keluarga yang saling menghargai dan mempunyai pandangan positif akan mendorong kreatifitas anak, menghasilkan perasaan positif dan berarti. Penerimaan keluarga akan kemampuan anak sesuai dengan perkembangannya sangat mendorong aktualisasi diri dan kesadaran akan potensi dirinya. Dapat disimpulkan, konsep diri merupakan aspek kritikal dan dasar dari perilaku individu. Individu dengan konsep diri positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari hubungan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang maladaptif.

5. Rentang Respon Respon individu terhadap konsep diri berfluktuasi sepanjang rentang respon dari aktualisasi diri yang paling adaptif sampai status depersonalisasi yang paling maladaptif (gambar). Kerancaun identitas merupakan kegagalan individu untuk mengintegrasikan berbagai identifikasi dimasa kanak-kanak kedalam kepribadian pada masa dewasa yang harmonis. Depersonalisasi merupakan suatu perasaan tidak realistik dan merasa asing terhadap diri sendiri. Individu mengalami kesulitan membedakan diri sendiri dan orang lain, ia merasa asing dan tidak nyata. Hal ini sering berhubungan dengan ansietas individu pada tingkat panik dan kegagalan dalam uji realita. Konsep diri merupakan aspek kritikal dan dasar dari perilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual, dan penguasaan lingkungan. Konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang maladaptif. Rentang respon individu terhadap konsep dirinya dari gambar di bawah ini .

Gambar rentang respon konsep- diri (stuart G.W, 2006)

Respon Adaptif

Respon maladaptif

Aktualisasi diri Konsep diri Harga diri Kerancuan identitas Depersonalisasi Postif rendah

Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima. Konsep diri positif merupakan bagaimana seorang memandang apa yang ada pada dirinya meliputi citra dirinya, ideal dirinya, harga dirinya, penamipilan peran serta identitas dirinya secara positif. Hal ini akan menunjukkan bahwa individu itu akan menjadi individu yang sukses. Harga diri rendah merupakan peran negatif terhadap dirinya sendiri, termasuk kehilangan percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, pesimis, tidak ada harapan dan putus asa. Adapun perilaku yang berhubungan dengan harga diri yang rendah yaitu mengkritik diri sendiri dan/atau orang lain, penurunan produktifitas, destruktif yang diarahkan kepada orang lain, gangguan dalam berhubungan, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri, keluhan fisik, menarik diri secara sosial, khawatir, serta menarik diri dari realitas. Keracunan identitas merupakan suatu kegagalan individu untuk

mengintegrasi berbagai identifikasi masa kanak-kanak kedalam kepribadian psikososial dewasa yang harmonis. Adapun perilaku yang berhubungan dengan keracunan identitas yaitu tidak ada kode moral, sifat kepribadian yang bertentangan, hubungan interpersonal eksploitatif, perasaan hampa. Perasaan

mengambang tentang diri sendiri, tingkat ansietas yang tinggi, ketidak mampuan untuk empati terhadap orang lain. Depersonalisasi merupakan suatu perasaan yang tidak realisitis dimana klien tidak dapat membedakan stimulus dari dalam atau luar dirinya. Individu mengalami kesulitan untuk membedakan dirinya sendiri dari orang lain, dan tubuhnya sendiri merasa tidak nyata dan asing baginya. Konsep diri terdiri dari 5 komponen yaitu gambaran diri (Body Image), ideal diri (Self Ideal), identitas diri (Self Identity), peran diri (Self Role), dan harga diri (Self Esteem): a. Citra Tubuh (Body Image) Citra tubuh (body image) adalah kumpulan sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi serta perasaan masa lalu dan sekarang tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi. Citra tubuh dimodifikasi secara berkesinambungan dengan persepsi dan pengalaman baru. Hal-hal penting terkait dengan gambaran diri seperti fokus individu terhadap fisik lebih menonjol pada usia remaja, bentuk tubuh, tinggi badan, dan berat badan serta tanda-tanda pertumbuhan kelamin sekunder, menjadi gambaran diri, cara individu memandang diri berdampak penting terhadap aspek psikologis, gambaran yang realistik terhadap menerima dan menyukai bagian tubuh, akan memberi rasa aman dalam menghindari kecemasan dan meningkatkan harga diri, serta individu yang stabil, realistik, dan konsisten terhadap gambaran dirinya, dapat mendorong sukses dalam kehidupan.

b. Ideal Diri (Self Ideal) Idela diri adalah persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berperilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau nilai personal

tertentu. Sering juga disebut bahwa ideal diri sama dengan cita-cita, keinginan, harapan tentang diri sendiri. Hal hal yang terkait dengan ideal diri meliputi perkembangan awal terjadi pada masa kanak-kanak, terbentuknya masa remaja melalui proses indentifikasi terhadap orang tua, guru, dan teman. Dipengaruhi oleh orangorang yang dipandang penting dalam memberi tuntunan dan harapan serta mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma keluarga dan sosial. Faktor-faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu menetapkan ideal diri sebatas kemampuan, faktor kultur dibandingkan dengan standar orang lain, hasrat melebihi orang lain, hasrat untuk berhasil, hasrat memenuhi kebutuhan realistik, hasrat menghidari kegagalan, dan adanya perasaan cemas dan ideal diri.

c. Identitas Diri (Self Identity) Identitas pribadi adalah prinsip pengorganisasian kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikan individu. Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja. Menurut Suaryo (2004) identitas diri merupakan kesadaran akan diri pribadi yang bersumber dari pengamatan dan penilaian, sebagai sintesis semua aspek konsep diri dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Hal-hal penting yang terkait dengan identitas diri, yaitu : 1) Berkembang sejak masa kanak-kanak, berama dengan

berkembangnya konsep diri. 2) Individu yang memiliki perasaan identitas diri kuat akan memandang dirinya tidak sama dengan orang lain, unik, dan tidak tidak ada duanya. 3) Identitas jenis kelamin berkembang secara bertahap sejak bayi. 4) Identitas jenis kelamin dimulai dengan konsep laki-laki dan perempuan seta banyak dipengaruhi oleh pandangan maupun perlakuan masyarakat.

5) Kemandirian timbul dari perasaan berharga, menghargai diri sendiri, kemampuan, dan penguasaan diri sendiri. 6) Individu yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya.

d. Peran Diri (Self Role) Menurut Stuart (2006), peran diri merupakan serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu diberbagai kelompok sosial. Peran yang ditetapkan adalah peran yang dijalani dan seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang diambil adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Menurut Sunaryo (2004), peran diri adalah pola perilaku, sekap, nilai, dan aspirasi yang diharapkan individu berdasarkan posisinya di masyarakat. Setiap individu disibukkan oleh berbagai macam peran yang terkait dengan posisinya. Hal-hal penting terkait dengan peran diri, yaitu : 1) Peran dibutuhkan individu sebagai aktualisasi diri. 2) Peran yang memenuhi kebutuhan dan sesuai ideal diri, menghasilkan harga diri yang tinggi dan sebaliknya. 3) Posisi individu di masyarakat dapat menjadi stressor terhadap peran. 4) Stress peran timbul karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran atau tuntunan posisi yang tidak mungkin dilaksanakan. 5) Stress peran, terdiri dari konflik peran, peran yang tidak jelas, peran yang tidak sesuai, an peran yang terlalu banyak atau berlebih. e. Harga Diri (Self Esteem) Harga diri merupakan penilaian individu teentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berasal dari penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, dan kegagalan, tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga (Stuart, 2006).

Menurut Sunaryo (2004) aspek utama harga diri adalah dicintai, disayangi, dikasihi oleh orang lain dan mendapat penghargaan dari orang lain. Harga diri dapat diperoleh dari diri sendiri maupun dari orang lain. Aspek utama adalah perasaan dicintai dan menerima penghargaan dari orang lain. Manusia cenderung negative, walaupun ia cinta dan mengakui kemampuan orang lain namun jarang mengekspresikannya. Sebagai perawat sikap negative perlu dikontrol sehingga setiap bertemu perawat dengan sikapnya yang positif merasa dirinya berharga. Harga diri akan rendah jika kehilangan kasih sayang dan penghargaan dari orang lain. Cara meningkatkan harga diri sundeen,1991) : 1. Memberi kesempatan berhasil. Berikan tugas yang kemungkinan dapat diselesaikan oleh anak kemudian berilah pengakuan dan pujian atas keberhasilannya. Jangan memberikan tugas diluar kemampuan atau yang sudah kita ketahui tidak dapat diselesaikannya. 2. Menanamkan gagasan Berfungsi memotivasi kreativitas anak untuk berkembang 3. Mendorong aspirasi Pertanyaan dan pendapat anak perlu ditanggapi dengan memberikan penjelasan sesuai. Berikan pengakuan dan sokongan yang sesuai untuk aspirasi yang positif sehinggan anak memandang dirinya diterima dan bermakna. 4. Membantu membentuk koping Pada tiap perkembangan, individu mempunyai tugas perkembangan yang harus diselesaikan. Jadi individu perlu mengembangkan koping untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi dalam menyelesaikan tugasnya. Anak akan merasa bermakna dan berhasil diterima dan diakui oleh orang pada anak (coopersmith cit stuart &

lain, merasa mampu menghadapi kehhidupan, dan merasa dapat mengontrol dirinya. Harga diri rendah yang berhubungan dengan hubungan interpersonal yang buruk dan terutama menonjol pada klien skizofrenia dan depresi (stuart & sundeen,1991) Gangguan harga diri atau harga diri rendah dapat digambarkan sebagai perasaan yang negative terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri dan merasa gagal mencapai keinginan. Peran (role) Peran adalah serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkingan social berhubungan dengan fungsi-fungsi individu diberbagai kelompok social (stuart,1996). Setiap individu dalam kehidupannya sering disibukkan dengan perannya pada setiap waktu. Misalnya sebagai seorang anak,istri, ibu rumah tangga, mahasiswa,perawat, wanita karier, dan lain sebagainya. Peran ini diperlukan individu untuk aktualisasi diri. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memnuhi kebutuhan dan kesesuaian dengan ideal diri. Posisi individu di masyarakat dapat merupakan stressor terhadap peran karena struktur social yang menimbulkan kesukaran, atau tuntutanposisi yang tidak mungkin dilaksanakan. Stress peran terdiri dari konflik peran, peran yang tidak jelas, peran yang itdak sesuai dan peran yang berlebihan.

1. Konflik peran terjadi jika peran yang diminta konflik dengan sistem individu atau dua peran terjadi konflik satu sama lainnya . 2. Peran yang tidak jelas terjadi jika individu diberi suatu peran yang tidak jelas dalam hal perilaku dan penampilan yang diharapkan. 3. Peran yang tidak sesuai terjadi jika individu dalam proses transisi merubah nilai dan sikap. Misal : seorang yang masuk dalam profesi, dimana terhadap konflik antara individu dan profesi.

10

4. Peran berlebih terjadi jika seorang individu menerima banyak peran misalnya sebagai Ny. A seorang ibu rumah tangga ia harus mengasuh dan membesarkan kedua anaknya sendirian karena suaminya sudah meninggal, ia juga masih kuliah di perguruan tinggi untuk memenuhi kehidupan rumah tangganya ia terpaksa harus bekerja jadi pembantu rumah tangga. Kemungkinan dengan kesibukkan peran tersebut Ny. A mempunyai resiko dalam menjalani perannya. Individu di tuntut melakukan banyak hal tetapi tidak tersedia waktu untuk menyelesaikannya Banyak factor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus dilakukan (stuart & sundeen,1991): 1. Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran. 2. Konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan. 3. Kesesuaian dan keseimbangan antar peran yang di emban. 4. Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran. 5. Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidaksesuaian perilaku peran.

11

B. Konsep Dasar Harga Diri Rendah 1. Pengertian Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu memncapai keinginan sesuai ideal diri (Yosep, 2009). Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dapat terjadi secara: a. Situasional, yaitu terjadi terutama yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami/istri, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu (korban

pemerkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba). b. Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respon mal yang daptif. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronik atau pada klien gangguan jiwa.

2. Etiologi Berbagai faktor penunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri seseorang. Dalam tinjauan life span history klien, penyebab terjadinya harga diri rendah adalah pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberi pujian atas keberhasilannya. Saat individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa awal sering gagal di sekolah, pekerjaan atau pergaulan. Harga diri rendah muncul saat lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuannya (Yosep, 2009).

12

Menurut Stuart (2006), faktor-faktor yang mengkibatkan harga diri rendah kronik meliputi faktor predisposisi dan faktor presipitasi sebagai berikut: a). Faktor Predisposisi 1. Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orangtua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang mempunyai tanggung jawab personal,

ketergantungan kepada orang lain, dan ideal diri yang tidak realistis. 2. Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah stereotipe peran gender, tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya. Dimasyarakat umumnya peran seseorang, disesuaikan dengan jenis kelaminnya. Misalnya seorang wanita dianggap kurang mampu, kurang mandiri, kurang objektif dan rasional sedangkan pria dianggap kurang sensitif, kurang hangat, kurang ekspresif dibanding wanita. Sesuai dengan standar tersebut, jika wanita atau pria berperan tidak sesuai lazimnya maka dapat menimbulkan konflik diri maupun hubungan sosial. Misal: seorang istri yang berperan sebagai kepala rumah tangga atau seorang suami yang mengerjakan pekerjaan rumah, akan menimbulkan masalah. Konflik peran dan peran tidak sesuai muncul dari faktor biologis dan harapan masyarakat terhadap wanita atau pria. Peran yang berlebihan muncul pada wanita yang mempunyai sejumlah peran. 3. Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi

ketidakpercayaan orangtua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan struktur sosial. Orang tua yang selalu curiga pada anak akan menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri, ragu dalam mengambil keputusan dan dihantui rasa bersalah ketika akan melakukan sesuatu. Kontrol orang tua yang berat pada anak remaja akan menimbulkan perasaan benci pada orang tua. Teman sebaya

13

merupakan faktor lain yang berpengaruh pada identitas. Remaja ingin diterima, dibutuhkan, dan diakui oleh kelompoknya.

b). Faktor Presipitasi Menurut Yosep (2009), faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah biasanya adalah kehilangan bagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk tubuh, kegagalan atau produktivitas yang menurun. Secara umum, gangguan konsep diri harga diri rendah ini dapat terjadi secara situasional atau kronik. Secara situasional karena trauma yang muncul secara tiba-tiba, misalnya harus dioperasi, kecelakaan, diperkosa atau dipenjara, termasuk dirawat dirumah sakit bisa menyebabkan harga diri rendah disebabkan karena penyakit fisik atau pemasangan alat bantu yang membuat klien tidak nyaman. Harga diri rendah kronik, biasanya dirasakan klien sebelum sakit atau sebelum dirawat klien sudah memiliki pikiran negatif dan meningkat saat dirawat. c). Penilaian Stressor Masalah konsep diri dapat dicetuskan oleh faktor psikologis, sosiologis atau fisiologis namun yang masih penting adalah persepsi klien terhadap ancaman. d). Sumber Koping Individu mempunyai beberapa kemampuan yang dimiliki, dengan memberikan kesempatan dan menguatkan hal tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri individu. e). Mekanisme Koping Penggunaan mekanisme koping untuk melindungi diri dalam menghadapi persepsi yang menyakitkan meliputi pertahanan koping jangka pendek atau jangka panjang dan pertahanan ego.

14

Pertahanan jangka pendek meliputi: a. Aktifitas pelarian sementara dari krisis. Contoh: Pemakaian obat terlarang, ikut musik rock, balap mobil, obsesi nonton televisi. b. Aktivitas sebagai pengganti identitas Contoh: Ikut kelompok tertentu untuk dapat identitas yang sudah dimiliki kelompok, pengikut kelompok tertentu. c. Aktivitas memberi kekuatan atau dukungan sementara terhadap konsep diri/identitas diri yang kabur. Contoh: ikut aktifitas yang kompetisi, prestasi akademis, kontes, kelompok anak muda (geng). d. Aktifitas yang memberi arti dari kehidupan. Contoh: Penjelasan tentang keisengan akan menurunkan ketegangan. Pertahanan Jangka Panjang Pertahanan jangka panjang mencakup penentuan identitas dan identitas negatif. Semua koping jangka pendek dapat berkembang menjadi koping jangka panjang. Penyelesaiasn positif akan menghasilkan integritas ego-identitas dan keunikan individu. Identitas negatif merupakan rintangan terhadap nilai dan harapan masyarakat. Remaja mungkin akan menjadi individu antisosial, ini disebabkan karena ia merasa tidak memiliki identitas yang positif. Mungkin remaja ini mengatakan; saya lebih baik menjadi anak tidak baik daripada tidak jadi apapun. Mekaniseme Pertahanan Ego Mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan adalah fantasi, disosiasi, isolasi, proyeksi dan displacement. Dalam keadaan yang semakin berat dapat terjadi deviasi perilaku dan kegagalan penyesuaian seperti:

15

psikosis, neurosis, obesitas, anoreksia nervosa, bunuh diri, persetubuhan dengan siapa saja, kriminal, kenakalan, penyalahgunaan zat, perkosaan, inses dan penganiayaan. f). Perilaku Pengumpulan data yang dilakukan oleh perawat meliputi perilaku yang objektif dan dapat diamati serta perasaan subjektif dan dunia dalam diri klien sendiri. Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah salah satunya mengkritik diri sendiri, sedangkan kerancuan identitas seperti sifat kepribadian yang bertentangan serta depersonalisasi (Stuart, 2006). Perilaku Berhubungan Dengan Harga Diri Rendah. Harga diri rendah merupakan masalah banyak orang, dan diekspresikan melalui tingkat kecemasan yang sedang sampai berat. Umumnya disertai evaluasi diri negatif dengan membenci diri dan menolak diri. Cara individu yang mengekspresikan secara langsung harga diri rendah. (Stuart & Sundeen) yaitu: a. Mengejek dan mengkritik diri sendiri. Pandangan negatif tentang dirinya. Misalnya: mengatakan dirinya bodoh dan tidak tahu apa-apa. b. Merendahkan dan mengurangi martabat. Individu menghindari, mengabaikan atau menolak kemampuan nyata yang dimiliki. c. Rasa bersalah dan khawatir. Klien menghukum diri, muncul dalam bentuk fobia, obsesi dan klien menolak diri sendiri. d. Manifestasi fisik. Seperti tekanan darah tinggi, psikosomatis, penyalahgunaan obat dan lain sebagainya. e. Menunda keputusan.

16

Ragu-ragu dalam mengambil keputusan. f. Gangguan berhubungan. Klien menjadi kejam, merendahkan diri atau mengekploitasi orang lain. Perilaku yang muncul dalam bentuk menarik diri atau isolasi diri karena perasaan tak berharga. g. Menarik diri dari realitas. Bila kecemasan karena penolakan diri mencapai kecemasan tingkat berat dan panik, mungkin klien akan mengalami gangguan asosiasi, halusinasi, curiga, cemburu atau paranoid. h. Merusak diri. Individu mencederai diri sendiri bahkan sampai keinginan mengakhiri hidupnya. i. Merusak atau mencederai orang lain. Kebencian dan penolakan diri sendiri dpaat berkisar pada lingkungan dengan melukai orang lain. Perilaku yang obyekti dan perasaan subyektif klien harus dikumpulkan perawat sebelum merumuskan diagnosa keperawatan. Berikut uraian tentang perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah.

17

Mengkritik diri sendiri atau orang lain. Produktifitas menurun. Destruksif pada orang lain. Gangguan berhubungan. Perasaan dirinya penting yang berlebih-lebihan. Perasaan tidak mampu. Rasa bersalah. Irritabel atau mudah marah. Sikap negatif terhadap diri sendiri. Ketegangan peran. Pesimis terhadap kehidupan. Keluhan fisik. Pandangan hidup yang terpolarisasi. Menolak kemampuan diri sendiri. Mengejek diri sendiri. Merusak diri. Pengurangan diri. Penyalah gunaan obat. Menarik diri dari realita. Cemas dan takut.

3. Tanda dan Gejala Harga Diri Rendah Kronik Menurut Damaiyanti (2008), tanda dan gejala harga diri rendah kronik adalah sebagai berikut: a. Mengkritik diri sendiri b. Perasaan tidak mampu. c. Pandangan hidup yang pesimis. d. Penurunan produksivitas. e. Penolakan terhadap kemampuan diri.

18

Selain data diatas, dapat juga mengamati penampilan seseorang dengan harga diri rendah, terlihat dari kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian tidak rapi, selera makan kurang, tidak berani menatap mata lawan bicara, lebih banyak menunduk, bicara lambat dengan suara nada lemah.

4. Batasan Karakteristik Harga Diri Rendah Kronik Batasan karakteristik menurut Nanda-I (2012), yaitu: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Bergantung pada pendapat orang lain. Evaluasi diri bahwa individu tidak mampu menghadapi peristiwa. Melebih-lebihkan umpan balik negatif tentang diri sendiri. Secara berlebihan mencari penguatan. Sering kali kurang berhasil dalam peristiwa hidup. Enggan mencoba situasi baru. Enggan mencoba hal baru. Perilaku bimbang. Kontak mata kurang. Perilaku tidak asertif. Sering kali mencari penegasan. Pasif.

m. Menolak umpan balik positif tentang diri sendiri. n. o. Ekspresi rasa bersalah. Ekspresi rasa malu.

19

5. Rencana Keperawatan Harga Diri Rendah dalam Bentuk Strategi Pelaksanaan.

No

PASIEN SP1P

KELUARGA SP1K Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien di rumah.

1.

Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien.

2.

Membantu klien menilai kemampuan klien yang masih dapat digunakan.

Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami klien beserta proses terjadinya.

3.

Membantu klien memilih atau menetapkan kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan kemampuan klien.

Menjelaskan cara-cara merawat klien dengan harga diri rendah.

4.

Melatih klien sesuai dengan kemampuan yang dipilih.

Mendemonstrasikan cara merawat klien dengan harga diri rendah.

5.

Memberikan pujian yang wajar.

Memberi kesempatan kepada keluarga untuk mempraktikkan cara merawat klien dengan harga diri

6.

Menganjurkan klien memasukkan dalam kegiatan harian.

rendah.

20

SP2P 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.

SP2K Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat klien langsung kepada klien harga diri rendah.

2.

Melatih klien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan klien.

3. Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP3K Membuat perencanaan pulang bersama keluarga dan membuat jadwal aktifitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)

Menjelaskan follow up klien setelah pulang.

21

6. Contoh Kasus Hasta adalah salah satu siswa di salah satu SMU tervaforit, ia diberi tanggung jawab menjadi ketua OSIS di sekolahnya. Dia dikenal sebagai pribadi yang ramah, supel, dan disenangi teman-temannya. Suatu hari ia mengendarai motor dan terjadi kecelakaan, kemudian dilarikan ke salah satu rumah sakit. Hasta mengalami fraktur di bagian kaki kanannya dan Dokter memfonis Hasta untuk di amputasi. Karena hal itu, Hasta selama di Rumah Sakit terlihat murung dan lebih suka menyendiri. Bila ada teman yang menjenguk dia lebih memilih untuk menghindar dan tidak mau bertemu ataupun berbicara dengan temantemannya bahkan dengan keluarganya pun Hasta jarang berkomunikasi karena merasa malu dengan keadaan kakinya sekarang. Dengan perawat pun Hasta kurang merespon dan kurang kooperatif saat dilakukan tindakan keperawatan.

7. Contoh Komunikasi Terapeutik Fase Orientasi 1. Salam terapeutik Perawat : Selamat pagi Mas! perkenalkan nama saya Evitasari, Mas cukup panggil saya suster Evi, nama mas siapa dan lebih suka dipanggil siapa? Pasien : Nama saya Budi Hasta, saya suka di panggil Hasta!

2. Evaluasi/ validasi Perawat : Apa yang Hasta rasakan saat ini? Pasien : Buruk sus. (sambil tertunduk malu)

Perawat : Memangnya apa yang membuat perasaan Hasta buruk? Disini ada banyak keluarga yang menemani.

22

Pasien

: Saya malu Sus.

Perawat : Loh malu kenapa??? Memangnya apa yang terjadi sampai Hasta dibawa kemari? Pasien : Saya sedang mengendarai motor, kemudian tiba -tiba ada mobil yang oleng ke arah motor yang saya kendarai, kemudian saya terjatuh dari motor dan setelah itu saya sudah tidak sadarkan diri, begitu bangun saya sudah ada di rumah sakit dengan kondisi kaki yang seperti ini.

3. Kontrak : Perawat : (Kontrak)Hari ini suster akan ajak Hasta ngobrol-ngobrol tentang bagaimana perasaan Hasta selama berada disini? Waktu : hari ini kita akan ngobrol-ngobrol tentang sekolah Hasta saja yah? Tempat : bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol di sini saja apakah Hasta bersedia? Pasien : (Tertunduk malu)

Fase Kerja Perawat : Hasta suster disini praktek selama 2 minggu dari tanggal 26 Maret sampai 5 April. Bagaimana Hasta, apakah mau ngobrolngobrol dengan suster? suster disini untuk membantu Hasta loh. Kalau Hasta punya masalah yang ingin di ceritakan, ceritakan saja kepada suster Pasien : (Hasta mulai berani menatap suster). Iya sus saya mau.

Perawat : seperti yang suadah suster katakan tadi kita akan ngobrolngobrol tentang sekolah Hasta. Hasta sekolah dimana dan sekarang kelas berapa? Pasien : Hasta sekolah di SMUN 7 sus, dan sekarang sudah kelas 2.

Perawat : Hasta biasa berangkat sekolah pukul berapa?

23

Pasien : Saya biasa berangkat jam 06.30 WIB sus, sedangkan bel masuk pukul 07.00 WIB. Perawat : Wah.. berarti Hasta tidak pernah terlambat kesekolah dong! Ternyata Hasta orangnya disiplin yah. Pasien : Hmm.. iya sus terima kasih.

Perawat : Suster dengar Hasta itu Ketua Osis di sekolah yah? Pasien : Iya sus.

Perawat : Waktu Hasta menjadi ketua osis apa yang Hasta rasakan?. Paien : Saya merasa bangga sus, karena dari sekian banyak orang yang sekolah disana saya yang terpilih untuk menjadi ketua osisnya. Perawat : Hebat ya Hasta,usia segini udah bisa memimpin organisasi di sekolah. Berarti Hasta dipercaya oleh teman-teman Hasta untuk menjadi seorang pemimpin disekolah. Pasien : Iya sus tapi saya malu dengan keadaan kaki saya sekarang, lebih baik saya mengundurkan diri dan berhenti sekolah. Perawat : Kenapa Hasta berpikiran seperti itu, memang sekarang Hasta memiliki kekurangan tapi Hasta harus bisa melawati ini semua. Masih ada keluarga dan teman-teman yang mendukung dan berdoa untuk Hasta. Pasien : iya suster saya tau, tapi saya merasa tidak berguna dan tidak pantas menjadi teman dan anggota keluarga karena kekurangan yang saya miliki sekarang. Perawat : Hasta tidak boleh bilang begitu, suster mau nanya Hasta punya hobi atau keahlian apa?? Pasien : saya suka melukis, main bola, bernyanyi, dan main gitar. Tapi yang paling Hasta suka itu melukis suster. Dulu juga pernah ikut lomba melukis dan Hasta mendapat juara 1 tingkat kabupaten. Perawat : waahh hebat banget Hasta bisa juara 1 dari sekian banyak orang. Bakat Hasta itu luar biasa dan ga semua orang punya. Kalau Hasta terus berlatih dan belajar untuk mengembangkan bakat Hasta, Hasta bisa jadi pelukis nomor 1 di Indonesia.

24

Pasien : iya suster saya akan berusaha melakukan apa yang suster bilang.

Fase Terminasi 1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan Evaluasi pasien subjektif perawat : bagaimana perasaan Hasta sekarang setelah ngobrolngobrol dengan suster Pasien : sudah lebih nyaman sus evaluasi perawat (objectif setelah reinforcement) klien mau berjabat tangan, kontak mata kurang 2. Tindak lanjut klien (apa yang perlu dilatih klien sesuai dengan hasil tindakan yang telah dilakukan) perawat :Hasta besok, Hasta pikir-pikirkan tentang kelebihan yang Hasta miliki? Pasien : iya sus, kalau melukis boleh ngga?? Perawat : iya boleh. 3. Kontrak yang akan datang : Topik Perawat : Hasta besok kita akan ngobrol-ngobrol lagi yah tentang kelebihan lain yang Hasta miliki Pasien : iya suster. Waktu Perawat: bagaiman a kalau 10 menit saja apakah Hasta bersedia? Pasien : iya sus. Tempat Perawat: Tempatnya disi ya Hasta?

25

Pasien : Kalau di taman luar bisa ngga sus Hasta bosen di kamar terus. Perawat : iya boleh.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu memncapai keinginan sesuai ideal diri (Yosep, 2009). Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dapat terjadi secara situasional dan kronis adapun penyebabnya dari beberapa faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat mengakibatkan seseorang hilang kepercayaan dirinya dan selalu berpikiran negatif pada dirinya. 3.2 Saran Jika dihadapkan dengan klien yang mengalami gangguan konsep diri khususnya harga diri rendah hendaknya kita melakukan komunikasi terapeutik yang bertujuan untuk menggali kelebihan yang dimiliki klien sehingga secara bertahap klien dapat meningkatkan kepercayaan dirinya dan tidak selalu menganggap negatif terhadap dirinya.

26

27