Anda di halaman 1dari 41

Pencampuran Bahan Kimia (MIXING PROCESS)

PENCAMPURAN BAHAN KIMIA A. MIXING (PENCAMPURAN) 1. Defenisi Pencampuran (mixing) Pencampuran diartikan sebagai suatu proses menghimpun dan membaurkan bahan-bahan. Dalam hal ini diperlukan gaya mekanik untuk menggerakkan alat pencampur supaya pencampuran dapat berlangsung dengan baik 2. Tujuan pencampuran - Menghasilkan campuran bahan dengan komposisi tertentu dan homogen - Mempertahankan kondisi campuran selama proses kimia dan fisika agar tetap homogen, mempunyai luas permukaan kontak antar komponen yang besar, menghilangkan perbedaan konsentrasi dan perbedaan suu, mempertukarkan panas, mengeluarkan secara merata gas-gas dan uap-uap yang timbul - Menghasilkan bahan setengah jadi agar mudah diolah pada proses selanjutnya atau menghasilkan produk akhir yang baik Derajat pencampuran adalah ukuran tercampurnya dengan merata bahan-bahan yang ada dalam suatu campuran pada saat pembentukan campuran yang homogeny. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencampuran Derajat pencampuran dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain : - Aliran Aliran yang turbulen dan laju alir bahan yang tinggi basanya menguntungkan proses pencampuran. Sebalikanya aliran yang laminer dapat menggagalkan pencampuran - Ukuran Partikel Semakin luas permukaan kontak bahan-bahan yang harus dicampur, yang berarti semakin kecil partikel dan semakin mudah gerakannya didalam campuran, maka proses pencampuran akan semakin baik. Perbedaan ukuran yang besar dalam proses pencampuran akan menyulitkan dalam terciptanya derajat pencampuran yang tinggi. - Kelarutan Semakin besar kelarutan bahan-bahan yang akan dicampur pada pencampuran, maka akan semakin baik pencampurannya. Pada saat pelarutan terjadi, terjadi pula perstiwa difusi laju difusi dipercepat oleh adanya aliran. Kelarutan sebanding dengan kenaikan suhu, sehingga dapat dikatakan bahwa dengan naiknya suhu derajat pencampuran akan semakin baik pula. - Viskositas campuran - Jenis bahan yang dicampur - Urutan pencampuran - Suhu dan Tekanan (pada gas) - Bahan tambahan pada pencampuran seperti emulgator.

4. Keadaan Agregasi pada pencampuran Keadaan agregasi adalah bentuk penampilan materi yang dapat berupa gas, cairan atau padat. Sehubungan dengan itu campuran dapat memperlihatkan sifat-sifat yang sangat berbeda satu sama lain dan memerlukan persyaratan tertentu pada pemilihan alat pencampur. 5. Jenis jenis campuran Suatu campuran bahan kimia dapat mengikuti jenis-jenis berikut ini : - Campuran heterogen - Koloid - Suspensi

- Larutan sejati atau campuran homogen 6. Pemilihan Alat Pencampur Pemilihan alat pencampur didasarkan pada : - Jenis bahan-bahan yang akan dicampur (keadaan agregasi, besarnya partikel,kerapatan bahan) - Jenis campuran yang akan dibuat atau dihasilkan dari pencampuran - Jumlah pencampuran - Derajat pencampuran yang ingin dipakai - Tujuan pencampuran yang diinginkan - Sistem operasi dari pencampuran Pencampuran padat-padat Pada pencampuran padat-padat, pencampuran biasanya dilakukan setelah proses sizing dan grinding. Dalam hal ini alat penggiling dan alat pencampur dapat dijadikan satu dalam suatu alat yang lebih besar. Proses pemberian bentuk dan pengisian sering dirangkai sesudahnya. Pengecilan ukuran dimaksudkan agar derajat pencampuran yang dihasilkan lebih tinggi, dengan waktu pencampuran lebih singkat dan sistem pencampuran lebih sederhana dan mudah. Pada industri pencampuran bahan padat biasanya menggunakan alat pengguliran dengan bejana-bejana berkedudukan tetap tetapi mempunyai perlengkapan pencampur yang berputar. Faktor-faktor yang tidak menguntungkan pada proses pencampuran diantaranya adalah : - Kadar kelembaban yang tinggi di dalam bahan atau yang sangat berbeda diantara bahan dapat mengakibatkan penggumpalan. Bahan tidak lagi dapat ditaburkan tetapi melekat pada dinding bejana atau pada bagian pencampur lainnya, atau juga membentuk gumpalangumpalan yang ikut berputar. - Muatan elektrostatik pada bahan juga dapat menyebabkan penggumpalan, khususnya pada partikel-partikel yang amat kecil (< 20m) - Perbedaan mencolok dalam ukuran butir atau kerapatan bahan mempersulit pencampuran. Pola aliran yang kurang menguntungkan akan menyebabkan campuran terpisah kembali. - Ukuran butir yang sangat kecil mengakibatkan tahanan gesek yang tinggi sehingga waktu pencampuran semakin lama. - Fraksi volume terisi yang terlalu besar (>2/3 volume bejana) tidak memungkinkan pengguliran bahan secara intensif. - Frekuensi putaran bejana atau alat pencampur yang terlalu tinggi mengakibatkan bahan hanya berputar dalam bentuk lingkaran saja. Gerakan yang diinginkan (misalnya gerakan jatuh) tidak tercapai. Beberapa alat pencampur bahan padat-padat a. Pencampur tromol Pencampur ini berupa sebuah bejana silindris yang horizontal berputar pada sumbu panjangnya. Dengan putaran ini, bahan terangkat sepanjang bagian dalam dinding dan kemudian jatuh kembali. Karena sebagian besar aliran berarah vertikal, diperlukan waktu campur yang lama. Pencampur tromol yang besar seringkali diberi bentuk kerucut pada penyangga saluran keluaran. Adapun persyaratan untuk pencampuran dengan menggunakan alat ini adalah derajat pencampuran yang dihasilkan haruslah tidak terlalu kental.

b. Pencampur Pusar

Pencampur ini berupa bejana silindris berputar mengelilingi suatu sumbu diagonal. Prinsip kerjanya adalah bahan diangkat dan kemudian dijatuhkan lagi kebawah. Pada saat jatuh bahan terdistribusi dan termampatkan. Pencampur jenis ini akan baik untuk memperoleh derajat pencampuran yang tinggi, tetapi proses yang berlangsung tidak efektif karena bahan yang dicampurkan harus dalam jumlah yang sedikit. c. Pencampur kerucut Berupa sebuah bejana dengan sebelah atau kedua belah sisi berbentuk kerucut berputar mengelilingi sumbu yang melintang. Prinsip kerja dan keuntungan pencampur ini sama seperti pencampur Pusar d. Pencampur V Berupa sebuah bejana dengan sebelah atau kedua belah sisinya berbentuk V berputar mengelilingi sumbu yang melintang. Sama seperti pencampur kerucut, pencampur ini tidak efesien digunakan dalam industri.

e. Pencampur Kocok (pencampur Turbula) Berupa sebuah bejana yang dipasang pada sutu sistem pemegang, digoyangkan hingga memberikan gerakan kocok tiga dimensi. Dengan gerakan tersebu bahan mengalir kian kemari bercampur aduk. Pencampur ini digunakan untuk pencampuran < 1m3 yang cepat dan intensif. f. Pencampur Pedal Berupa sebuah bejana silindris yang mendatar yang didalamnya terdapat beberapa pedal yang dapat berputar pada sumbu horizontal. Pencampur jenis ini dapat mencampur bahan dalam jumlah yang relatif banyak. g. Pencampur Spiral Ganda Berupa bejana silindris mendatar yang didalamnya terdapat dua buah pita spiral yang mempunyai jari-jari berlawanan. Pita-pita jari-jari ini berputar secara horizontal dan bertikal secara bersamaan.

h. Pencampur spiral Planet (Pencampur Nauta) Berupa bejana berbentuk kerucut yang didalamnya terdapat spiral yang dapat berputar dan menyusuri dinding bejana. Karena putaran spiral, bahan diangkat dan kemudian jatuh kembali kebawah mengikuti aliran spiral tersebut. Pencampur ini sesuai untuk digunakan dalam mencapur bahan dalam jumlah yang besar. i. Pencampur Unggun Denyut Berupa seuah bejana yang bagian atasnya berbentuk silinder dan bagian bawah berbentuk kerucut. Dibagian bawah terdapat cincin berongga yang dilengkapi dengan penyembur gas.

Jadi bahan dipusarkan oleh aliran gas. Pencampur ini tidak begitu populer karena prinsip kerjanya yang rumit dan bahaya penggunaannya cukup besar. Pencampuran Padat-Cair Pembentukan bahan-bahan kimia umumnya memerlukan air dalam pencamprannya. Disini dapat terbentuk bahan padat yang lembab atau campuran yang sangat viskos seperti pasta atau adonan. Pada saat pencampuran bahan-bahan yang sangat viskos dibutuhkan gaya yang besar untuk memisah-misahkan bahan. Bagian bahan yang satu harus saling digesekkan dengan bahan yang lain, kemudian disatukan kembali. Proses ini dinamakan menguli. Untuk tujuan inilah dibuat suatu alat penguli yang memudahkan dalam proses pencampuran. Beberapaalat penguli umum yaitu : a. Penguli Bak Ganda Berupa sebuah bejana persegi yang mempunyai bagian bawah berbentuk sepasang setengahsilinder yang berdampingan. Didalamnya berputar dua perkakas campur yang terletak horizontal dan umumnya berbentuk seperti huruf Z. bahan secara terus menerus dicabikcabik, ditekan ke dinding dan disatukan kembali oleh kedua perkakas tersebut. b. Penguli Spiral Satu atau dua perkakas campur yang biasanya berbentuk spiral berputar dalam rumah penguli yang horizontal dan panjang. Rumah dan spiral seringkali dilengkapi dengan komponen pengganggu berupa gigi-gigi, rusuk-rusuk, cakram-cakram penahan. Bahan yang bergerak maju dalam arah memanjang dicabik-cabik dan disatukan kembali oleh aliran balik dan gaya geser yang kuat. c. Penguli Aduk Didalam sebuah bejana vertikal yang berbrntuk silinder atau kerucut, bahan digilas dan diuli oleh satu atau dua perkakas campuryang mirip pengaduk. Pengaduk dapat dipasangkan di dalam bejana dari sebelah atas ataupun dari bawah, baik secara vertikal ataupun miring. Untuk menunjang proses pencampuran dan untuk membangkitkan efek gaya geser sering diperlukan perkakas pengikis atau perkakas pengganggu lainnya. Penguli aduk digunakan untuk mencampur dan menguli bahan dengan viskositas menengah.

d. Penguli Gilas Sejumlah rol penggilas disusun sejajar dalam jarak yang dekat satu sama lain. Rol-rol berputar dengan kecepatan yang berbeda, secara searah atau berlawanan. Bahan secata terus menerus di cabik-cabik oleh geseran antara roda dan kemudian disatukan kembali. Penguli ini terutama digunakan untuk mencampur bahan-bahan yang sangat lengket. Pencampuran Padat-Gas

Pencampuran bahan padat dengan gas terjadi misalnya pada proses pengeringan, pemanggangan ataupun pembakaran bahan-bahan padat. Permukaan kontak bahan padat dengan gas selalu diusahakan seluas mungkin. Untuk maksud ini bahan padat dialiri, ditembus atau dihanyutkan oleh gas, disemprotkan atau difluidisasikan. Lat yang digunakan untuk tujuan ini seringkali dikenal dengan bejana unggun terfluidisasikan. Pencampuran Cair-Padat Pada persiapan atau pelaksaan proses kimia dan fisika serta juga pada pembuatan produk akhir komersial, seringkali cairan harus dicampur dengan bahan padat. Pencampuran cairan dengan padatan akan menghasilkan suspensi. Tetapi bila kelaruta padatan dalam cairan tersebut cukup besar akan terbentuk larutan. Pelarutan adalah suatu proses mencampurkan bahan padat kedalam cairan. Pelarutan dan kelarutan bahan umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut yaitu : - Luas permukaan bahan - Konsentrasi - Suhu - Tekanan (khusus pada gas) - Efek ion senama - Efek ion asing Metode yang paling sering digunakan untuk mencampur cairan dengan padatan adalah dengan menggerakkan cairan di dalam bejana secara turbulen. Gerakan turbulen dapat dihasilkan oleh pengaduk ataupun pencampur getar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pencampuran Cair-Padat : 1. Bejana Pengaduk Dalam industri kimia, bejana pengaduk merupakan tangki pengaduk ataupun autoklaf. Penggunaan bejana ini disesuaikan dengan maksud dan tujuan pencampuran. Misalnya untuk operasi kontinyu seringkali dipergunakan tanki pengaduk, sedangkan untuk maksud pencampuran bertekanan digunakan autoklaf. Wadah pengaduk biasanya adalah berbentuk silinder terbuka atau tertutup sedikit sesuai jenis reaksi yang akan dilangsungkan. Kebanyakan dari wadah pengaduk dibuat dari bahan isolator ataupun semi konduktor. Tangki pengaduk atau tanki reaksi biasanya didesain untuk melakukan reaksi-reaksi pada tekanan diatas tekanan atmosfir, namun seringkali juga digunakan untuk proses lain seperti pencampuran, pelarutan, penguapan, ekstraksi ataupun kristalisasi.untuk pertukaran panas, tanki biasanya dilengkapi dengan mantel ganda yang dilas atau disambung dengan flens, atau dilengkapi dengan kumparan berbentuk pipa yang di las. Untuk mencegah kerugian panas yang tidak dikehendaki, tanki dapat diisolasi. Perlu diingat bahwa tanki pengaduk didesain sesuai dengan keperluan, misalnya untuk reaksi dalam beberapa sistem operasi (terisolasi, terbuka ataupun tertutup), proses kerja dan keperluan pengerjaan. Oleh karena itu kadangkala tangki dilengkapi dengan berbagai lubang khusus. Lubang-lubang khusus ini misalnya : sumbu pengaduk/penyekat, pipa penyuling, alat ukur pengendali, saluran pemasukan dsb. Autoklaf adalah salah satu jenis bejana pengaduk yang dapat melangsungkan reaksi pada tekanan diatas 2 bar. 2. Pengaduk Pengaduk berfungsi untuk menggerakkan bahan didalam bejana pengaduk yang digunakan. Alat pengaduk ini biasanya terdiri atas sumbu pengaduk dan sirip pengaduk yang dirangkai menjadi satu kesatuan. Alat pengaduk dibuat dan didesain sesuai dengan keperluan pengadukan. Jenis pengaduk harus disesuaikan dengan faktor berikut ini yakni : - Jenis dan ukuran pengaduk

- Jenis bejana pengaduk - Jenis dan jumlah bahan yang dicampur Pemilihan alat pengaduk dari sejumlah besar alat pengaduk yang ada hanya dapat dilakukan melalui percobaan dan pengalaman. Untuk masalah pencampuran yang tertentu dari bahan campur dan bejana pengaduk tertentu, pengaduk yang optimal biasanya hanya dapat dipilih melalui pengalaman saja. Alat pengaduk yang paling sering digunakan untuk masalah pencampuran cairan dengan padatan ataupun untuk cairan dengan cairan antara lain adalah : 1. Alat pengaduk jangkar Alat pengaduk ini terdiri dari sebuah batang yang dilengkungkan sehingga menyerupai sebuah jangkar. Kelengkungan disesuaikan dengan bentuk bejana pengaduk. Pengaduk jangkar memiliki diameter yang besar (misalnya 95% dari diameter bejana) dan berputar lambat. Bejana ini dapat digunakan untuk bahan-bahan yang sangat viskos atau bahan-bahan dengan berat spesifik yang tinggi seperti suspensi. Pengaduk ini memungkinkan terjadinya pertukaran panas, mencegah terjadinya pengendapatn atau pelekatan padatan pada dasar bejana. Pengaduk ini menghasilkan derajat pencampuran yang cukup besar. 2. Alat Pengaduk Bingkai Pengaduk ini terdiri dari sebuah bingkai persegi atau dua buah lengan jangkar yang dipasang bersusun. Pengaduk ini mempunyai diameter 2/3 dari diameter bejana tersebut dan berputaran lambat. 3. Alat Pengaduk Palet Pengaduk ini tersusun atas sebuah bingkai atau dua pelat yang dipasang bersusun. Bagian atasnya berbentuk persegi, bagian bawah terpotong miring sehingga sesuai denan bentuk bejana, memiliki diameter kali diameter bejana.

4. Alat pengaduk Impeler Pengaduk ini terdiri atas tiga daun yang melengkung. Biasanya daun tersebut agak bengkok keatas sehingga sesuai dengan bentu dasar bejana. Pengaduk impeler mempunyai diameter sebesar 2/3 hingga dari diameter bejana dan frekuensi putarannya 100-200 rpm Pengaduk impeler dibuat dari satu atau beberapa bagian. Karena pengaduk ini dapat dilapisi email dengan baik, alat ini seringkali digunakan dalam bejana pengaduk yang beremail. Bersama dengan perangkat penggerak yang dapat dikontrol, pengaduk impeler dapat dimanfaatkan secara serba guna, misalnya untuk melarutkan, mensuspensikan atau mengemulsikan padatan dalam cairan serta juga untuk reaksi-reaksi kimia dan proses-proses pertukaran panas. 5. Alat Pengaduk Propeler Pengaduk ini terdiri atas sebuah propeler yang mirip dengan baling-baling pendorong kapal dengan dua atau tiga daun yang dipasang miring. Biasanya alat pengaduk propeler dibuat dalam dua bagian dan berputar dengan cepat. Pengaduk propeler digunakan untuk mengaduk bahan dengan viskositas rendah (pada viskositas yang tinggi, biasanya bahan tidak dapat digerakkan oleh propeler).

6. Alat pengaduk Turbin Jenis sederhana dari pengaduk ini terdiri atas sebuah cakram yang sisi bawahnya mempunyai beberapa sudu vertikal yang disususun secara radial. Pengaduk turbin lebih sering digunakan untuk bahan dengan viskositas yang rendah. Pengaduk ini seringkali disebut sebagai pengaduk serba guna karena dapat digunakan untuk berbagai jenis keperluan. 7. Pencampur Getar Alat ini terdiri atas sebuah cakram mendatar dengan lubang-lubang yang berbentuk kerucut. Sebuah sumber getar elektromagnetik digantungkan dengan pegas pada kerangka alat. Elalui sebuah batang penghubung, cakram digetarkan vertical oleh sumber getar. Akibat getaran tersebut, bahan ditekan untuk melewati lubang-lubang cakram dari bawah ke atas atau sebaliknya. Dengan demikian terjadi suatu aliran vertical yang kuat di sekitar cakram, dan terjadi turbulensi yang tinggi dalam seluruh bahan. Pencampur getar sesuai misalnya untuk membuat larutan, suspensi atau emulsi dengan viskositas yang rendah. Bejana yang dipakai seringkali terbuka, dengan ukuran yang kecil hingga sedang. Intensitas getaran-yang berarti juga derajat turbulensi- ummnya dapat diatur secara elektrik. Yang merugikan dari pencampur getar adalah kebisingan yang ditimbulkannya. Pencampuran Cair-Cair Tujuan pencampuran cair-cair adalah untuk mempersiapkan atau melangsungkan prosesproses kimia dan fisika serta juga untuk membuat produk akhir yang komersil. Beberapa contoh pencampuran cair-cair adalah pada pembuatan sirop, obat tetes dan larutan injeksi. Metode yang paling sering digunakan untuk mencampur cairan dengan cairan ialah dengan metode turbulensi didalam bejana pengaduk atau dalam suatu pencampur getar. Metode lainnya adalah misalnya dengan menyampur dengan penyemprot, dengan pompa, dengan menghembuskan gas kedalam cairan atau dengan mesin pengecil ukuran. 1. Pencampuran dengan alat pengaduk dan pencampur getar Untuk persoalan pencampuran yang sederhana seperti untuk membuat larutan sejati, dapat digunakan pengaduk dengan putaran lambat seperti pengaduk jangkar, pengaduk bingkai, pengaduk palet dan pengaduk impeler. Untuk membuat emulsi halus dapat dipergunakan alat pengaduk dengan putaran cepat seperti alat pengaduk propeler, pengaduk turbin, pengaduk cakram gigi, ataupun pengaduk palet. 2. Pencampuran dengan alat semprot Pada instalansi-instalansi yang bekerja secara kontinyu, cairan-cairan yang dapat saling melarut seringkali tercampur dengan sendirinya di dalam saluran-saluran pipa. Akan tetapi karena pencampuran oleh turbulensi di dalam pipa tanpa adanya alat pendukung lain tidak begitu besar, cairan dengan volume yang lebih kecil seringkali dimasukkan bersama-sama cairan lain ke dalam pipa. 3. Pencampuran dengan Alat Pompa Seringkali penggunaan pompa sentrifugal telah cukup untuk menanggulangi persoalan

pencampuran yang sederhana. Pompa tersebut dipasang sebagai alat pendorong cairan pada saluran pipa. Untuk persoalan yang lebih sukar, efek pencampuran yang baik dapat dicapai dengan memutar bahan secara terus menerus secara sirkulasi. Bahan umumnya dihisap dari bejana campur dengan sebuah pompa sentrifugal dan disalurkan kembali. Pencampuran Cair-Gas Untuk proses kimia dan fisika tertentu gas harus dimasukkan kedalam cairan, artinya cairan dicampur secara sempurna dengan bahan-bahan berbentuk gas. Adapun contoh pencampuran cair-gas adalah pada proses hidrogenasi, chlorinasi dan fosfogenasi. Metode yang paling sering dilakukan untuk mencampur cairan dengan gas adalah membuat gerakan turbulen di dalam bejana pengaduk dengan alat pengaduk atau dengan pencampur getar. Untuk hal-hal yang khusus misalnya pembuatan busa pemadam api, digunakan suatu injektor. Pencampuran Gas-Padat Pencampuran gas dengan bahan padat termasuk proses yang jarang dilakukan. Proses tersebut digunakan misalnya pada pengangkutan puing secara pneumatic, pada pembakaran serbuk pemadam api. Kebanyakan persoalannya adalah bagaimana mendistribusikan bahan padat itu secara merata kedalam gas yang mengalir kontinyu. Pada pencampuran gas dengan bahan padat akan terbentuk debu maupun asap. Metode terpenting untuk mencampur gas dengan bahan padat adalah dengan menggunakan aat penakar bahan padat dan penyemburan dengan alat semprot. Pencampuran Gas-Cair Sama seperti pencampuran gas-padat, proses ini jarang dilakukan. Pencampuran ini misalnya digunakan pada alat pengering sembur, pembakaran minyak pada menara-menara linang (trickled tower). Persoalan dalam pencampuran ini umumnya ialah bagaimana mendistribusikan cairan secara merata kedalam gas yang mengalir kontinyu. Pada pencampuran gas dengan cairan akan terjadi tetesan ataupun kabut. Pencampuran Gas-Gas Pencampuran gas dengan gas lain terutama dilakukan pada pembuatan campuran bahan bakar yang berbentuk gas dalam alat pembakar dengangas (misalnya campuran bahan bakar udara). Metode terpenting untuk mencampur gas dengan gas adalah pencampuran dengan alat semprot atau injektor. B. AGLOMERASI Aglomerasi dapat diartikan secara luas sebagai penyatuan partikel-partikel kecil yag berbentuk padat atau cair menjadi bagian-bagian yang lebih besar (aglomerat). Mengaglomerisasikan berarti memperbesar, jadi proses ini akan berlawanan dengan proses grinding. Tujuan aglomerisasi diantaranya adalah menghasilkan aglomerat yg lebih baik dalam hal : - Lebih mudah untuk diolah, ditakar dan diangkat - Lebih mudah digunakan pada produk akhir - Lebih mudah untuk digunakan dalam pengolahan selanjutnya Pembentukan Aglomerat pada dasarnya terbentuk dari tiga cara yakni : - Pembentukan bagian yang lebih besar (misalnya granula,pellet) dengan bantuan cairan ataupun zat-zat pengikat - Pemampatan dengan tekanan untuk menghasilkan bongkahan yang mempunyai bentuk (misalnya briket, tablet). Pemampatan dilakukan dengan atau tanpa zat pengikat. - Sintering (peleburan butiran padat, misalnya keramik atau logam yang berpori) dengan

proses thermal. Proses aglomerisasi terpenting yang terutama dilakukan adalah pada industri farmasi seperti pembuatan butiran (granulasi), pembuatan tablet dan pembuatan pil berlapis gula (drage). Proses-proses ini dimaksudkan untuk menghasilkan bentuk penyajian yang khusus bagi produk farmasi.
http://ahmadhusnilubis.blogspot.com/2012/02/pencampuran-bahan-kimia-mixing-process.html

PENCAMPURAN (MIXING)
PRAKTIKUM IV PENCAMPURAN (MIXING) 1. Tujuan Praktikum 1.1 Tujuan Instruksional Umum 1.1.1 Mahasiswa dapat memahami cara-cara pencampuran dengan mixer 1.1.2 Mahasiswa dapat menggunakan peralatan mixer dengan baik dan benar 1.2 Tujuan Instruksional Khusus 1.2.1 Mahasiswa dapat menentukan variabel-variabel proses yang berpengaruh (seperti densitas,viskositas) 1.2.2 Mahasiswa dapat menjelaskan hubungan antara variabel proses dan mengekspresikannya dalam bentuk grafik 2. Tinjauan Pustaka Pencampuran (mixing) adalah proses yang menyebabkan tercampurnya suatu bahan ke bahan lain dimana bahan-bahan tersebut terpisah dalam fasa yang berbeda. Dalam kimia, suatu pencampuran (mixing) adalah sebuah zat yang dibuat dengan menggabungkan dua zat atau lebih yang berbeda tanpa reaksi kimia yang terjadi, sementara tidak ada perubahan fisik dalam suatu pencampuran, sifat kimia suatu pencampuran seperti titik lelehnya dapat menyimpang dari komponennya. Pencampuran dapat dipisahkan menjadi komponen aslinya secara mekanis. Pencampuran dapat bersifat homogen atau heterogen. Tujuan dari proses pencampuran yaitu mengurangi ketidaksamaan atau ketidakrataan dalam komposisi, temperature atau sifat-sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan atau terjadinya homogenisasi, kebersamaan dalam setiap titik dalam pencampuran. Dampak dari hasil pencampuran adalah terjadinya homogenitas, kebersamaan dalam setiap titik dalam pencampuran. Dampak dari hasil pencampuran adalah terjadinya keadaan serba sama, terjadinya reaksi kimia, terjadinya perpindahan panas, dan perpindahan massa. Dan dampak tersebut merupakan tujuan akhir dari suatu proses pencampuran.

Dalam praktek, operasi mixing hampir selalu mempunyai multi fungsi yaitu ketika proses dilakukan didalam tangki berpengaduk mekanis, pengaduk menjalankan banyak tugas, sebagai contoh dalam tangki kristalisasi harus memperhatikan bulk blending, heat transfer dan suspense kristal. a. Pencampuran bahan padat-padat Pencampuran dua atau lebih dari bahan padat banyak dijumpai yang akan menghasilkan produk komersial industri kimia. Contohnya Pencampuran bahan pewarna dengan bahan pewarna lainnya atau dengan bahan penolong untuk menghasilkan nuansa warna tertentu atau warna yang cemerlang. Alat yang digunakan untuk pencampuran bahan padat dengan padat dapat berupa bejana-bejana yang berputar, atau bejana-bejana berkedudukan tetap tapi mempunyai perlengkapan pencampur yang berputar, ataupun pneumatik. b. Pencampuran bahan cair-gas Untuk proses kimia dan fisika tertentu gas harus dimasukkan ke dalam cairan, artinya cairan dicampur secara sempurna dengan bahan-bahan berbentuk gas. Contohnya Proses hidrogenasi, khorinasi dan fosfogensi, Oksidasi cairan oleh udara (fermentasi, memasukkan udara kedalam lumpur dalam instalasi penjernih biologis). Macam-macam alat pencampur antara lain: a. Alat pencampur liquid Untuk pencampuran liquid, propeller mixer adalah jenis yang paling umum dan memuaskan, alat ini terdiri dari tangki silinder yang dilengkapi dengan propeller atau blender beserta motor pemutar, bentuk propeller, impeller, blender dibesain sedemikian rupa untuk efektivitas pencampuran dan disesuaikan dengan viskositas fluida. Pada jenis alat pencampur ini, diusahakan untuk menghindari tipe aliran monoton yang berputar melingkari dinding yang sangat kecil konstribusinya terhadap pengaruh pencampuran. b. Alat pencampur granula Dalam pencampuran ini dapat digunakan ribbon blender dan double cone mixer. Ribbon blender terdiri dari silinder horizontal yang didalamnya dilengkapi dengan screw berputar. Double cone blender adalah alat pencampur yang terdiri dari dua kerucut yang berputar pada porosnya, jika kerucut berputar maka tepung granula berada di dalam granula yang berada di dalam volume kerucut akan teragritasi dan tercampur. Pencampuran tipe ini memerlukan energi yang dikonsumsi diubah menjadi panas yang dapat menyebabkan terjadinya kenaikan suhu dari produk. Untuk menentukan jenis dari alat pencampur tergantung pada jenis bahan yang akan dicampurkan (cair, padat, gas), kecepatan alat yang diinginkan serta kekentalan dari suatu bahan tersebut. Alat pencampur ini dikelompokkan menurut kekentalan yaitu:

- Alat pencampur untuk bahan cair yang memiliki viskositas rendah-sedang - Alat pencampur untuk bahan cair yang memiliki viskositas tinggi-pasta - Alat pencampur untuk tepung kering atau padatan. c. Alat pencampur untuk tepung yang kering atau padatan Dalam melakukan pencampuran dibutuhkan kecepatan dari suatu alat pencampur. Kecepatan komponen-komponen cairan yang dicampurkan disebabkan oleh pengadukan dan kecepatan pengadukan terdiri dari: - Kecepatan radial yang berfungsi sebagai arah ke pengaduk - Kecepatan longitudinal, pararel dari pengaduk - Kecepatan rotasional tangensial ke pengaduk Faktor-faktor yang mempengaruhi pencampuran adalah ukuran partikel bentuk dan pengaduk dari masing-masing komponen, kadar air permukaan baha pangan dan karakteristik aliran masing-masing bahan. Prinsip percobaan pencampuran adalah berdasarkan pada peningkatan pengacakan dan distribusi dua atau lebih kompnen mempunyai sifat yang berbeda. Derajat pencampuran dapat dikarakterisasi dari waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pencampuran. Derajat keragaman pencampuran diukur dari sampel yang diambil selama pencampuran jika komponen yang dicampur telah terdistribusi melalui komponen lain secara random, maka dikatakan pencampuran telah berlangsung dengan baik. Derajat pencampuran yang dicapai tergantung pada: a. Ukuran relatif partikel b. Efisiensi alat pencampur untuk komponen yang dicampur c. Kecerendungan komponen untuk membentuk agregat d. Kadar air, sifat permukaan dan aliran dari masing-masing komponen. Proses pencampuran dibagi menjadi dua, yaitu emulsifikasi dan homogenisasi. Emulsifikasi adalah proses pembentukan suatu campuran yang berasal dari dua fase yang berbeda. Kecepatan komponen yang dicampurkan disebabkan oleh suatu alat pengadukan. Pengadukan terdiri dari: - Kecepatan radial yang berfungsi sebagai arah ke pengaduk - Kecepatan longitudinal, paralel dari pengaduk - Kecepatan rotasional tangensial ke pengaduk Faktor-faktor yang mempengaruhi pencampuran adalah ukuran partikel bentuk dan pengaduk dari masing-masing komponen, kadar air permukaan bahan pangan dan karakteristik aliran masing-masing bahan. Homogenisasi adalah operasi ganda penurunan

dropler (ukuran partikel) dari fase terdispersi dan sekaligus mendistribusikannya secara uniform ke dalam fasa kontinyu. 3. Alat Dan Bahan 3.1 Alat : a. Hot plate b. Magnetic stirrer ukuran (2,8 cm dan 3,5 cm) c. Piknometer d. Viskosimeter e. Beaker glass f. Pipet tetes g. Ball filler h. Stop watch i. Timbangan j. Gelas arloji 3.2 Bahan a. Gula pasir curah 2@50 g b. Garam yodium 2@50 g c. Air kran 400 mL
http://satriyasaputra.blogspot.com/2013/09/pencampuran-mixing.html

Antara Bahan Bakar Minyak dan Timbal


Gasolin adalah suatu senyawa organik yang dibutuhkan dalam suatupembakaran dengan tujuan untuk mendapatkan energi/tenaga. Gasolin ini merupakan hasil dari proses distilasi minyak bumi (Crude Oil) menjadi fraksi- fraksi yangdiinginkan. Adapun jenis-jenis bahan bakar minyak yang diproduksi dan diperdagangkan di Indonesia untuk keperluan kendaraan bermotor, rumah tangga, industri dan perkapalan adalah sebagai berikut: 1. Super TT, Premix, Premium (gasolin untuk motor) dan BB2L, 2. ELPIJI dan BBG, 3. Minyak Tanah (kerosene), 4. Minyak Solar (gas oil), 5. Minyak Diesel (diesel oil), 6. Minyak Bakar (fuel oil)

Karakteristik utama yang diperlukan dalam gasoline adalah sifat pembakarannya. Sifat pembakaran ini biasanya diukur dengan angka oktan.Angka oktan merupakan ukuran kecenderungan gasoline untuk mengalamipembakaran tidak normal yang timbul sebagai ketukan mesin. Semakin tinggiangka oktan suatu bahan bakar, semakin berkurang kecenderungannya untukmengalami ketukan dan semakin tinggi kemampuannya unutk digunakan pada rasio kompresi tinggi tanpa mengalami ketukan. Angka oktan diukur dengan menggunakan mesin baku, yaitu mesin CFR ( Cooperative Fuel Reseach ) yang dipoerasikan pada kondisi tertentu, di mana bahan bakar dibandingkan dengan bahan bakar rujukan yang terbuat dari n heptana ( angka oktan 0) san isooktana (angka oktan 100). Angka oktan bensin yang diukur didefinisikan sebagai persentase isooktana dalam bahan bakar rujukan yang memberikan intensitas ketukan yang sama pada mesin uji. Jenis gasolin yang diproduksi dan dipasarkan oleh Pertamina dengan nama premium saat ini memiliki angka oktan 88 dengan kandungan timbal maksimum 3 gram/liter dan kadar belerang maksimum 2% bobot. Di samping premium disediakan pula gasolin yang beroktan lebih tinggi , yaitu Premix, dengan angka oktan 94. Proses produksinya ditempuh dengan cara pencampuran premium dengan 15% MTBE(Methyl Tertiery Butyl Ether) sehingga kandungan timbalnya sama dengan premium.

Gasolin yang digunakan sebagai bahan bakar motor harus memenuhi beberapa spesifikasi. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pembakaran padamesin dan mengurangi dampak negatif dari gas buangan hasil pembakaran bahan bakar yang dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan. Gasolin yang digunakan sebagai bahan bakar harus memiliki nilai oktan yang cukup tinggi dan memiliki kandungan bahan bahan berbahaya seperti timbal, sulfur, senyawa senyawa nitrogen , yang dapat menimbulkan efek kerusakan lingkungan dan masalah kesehatan. Timbal adalah neurotoksin racun penyerang syaraf yang bersifat akumulatif clan dapat merusak pertumbuhan otak pada anak-anak. Studi mengungkapkan bahwa dampak timbal sangat berbahaya pada anak-anak karena berpotensi menurunkantingkat kecerdasan (IQ). Selain itu, timbal (Pb) sebagai salah satu komponen polutan udara mempunyai efek toksit yang luas pada manusia clan hewan denganmengganggu fungsi ginjal, saluran pencemaan, sistem saraf pada remaja, menurunkan fertilitas, menurunkan jumlah spermatozoa clan meningkatkan spermatozoa abnormal serta aborsi spontan. Ada beberapa pertimbangan mengapa timbal digunakan sebagai aditif bensin, di antaranya adalah timbal memiliki sensitivitas tinggi dalam meningkatkan angka oktan, di mana setiap tambahan 0.1 gram timbal per 1 liter gasoline mampu menaikkan angka oktan sebesar 1.5 - 2 satuan angka oktan. Di samping itu, timbal merupakan komponen dengan harga relatif murah

untuk kebutuhan peningkatan 1 satuan angka oktan dibandingkan dengan menggunakan senyawa lainnya.Pertimbangan lain adalah bahwa pemakaian timbal dapat menekan kebutuhan aromat sehingga proses produksi relatif lebih murah dibandingkan produksi gasoline tanpa timbal. Berbagai pertimbangan di atas menyimpulkan bahwa dengan menambahkan senyawa timbal pada gasoline berangka oktan rendah akan didapatkan gasolinedengan angka oktan tinggi melaui proses produksi berbiaya murah meski berdampak inefisiensi pada perawatan mesin - dibandingkan dengan proses produksi gasoline dengan campuran senyawa lainnya. Dampak positif lainnya bahwa adanya timbal dalam gasoline juga bermanfaat dengan kemampuannya memberikan fungsipelumasan pada dudukan katup dalam proses pembakaran khususnya untuk kendaraan produksi tahun lama. Adanya fungsi pelumasan ini akan mendorong dudukan katup terlindung dari proses keausan sehingga lebih awet - untuk mobil yang diproduksi tahun lama. Satu hal yang menjadi kegalauan kita, bahwa timbal pada gasoline memiliki dampak negatif terhadap lingkungan hidup termasuk kepada kesehatan manusia.Dampak negatif ini adalah bahwa pencemaran timbal dalam udara menurut penelitian merupakan penyebab potensial terhadap peningkatan akurnulasi kandungan timbal 12dalam darah terutarna pada anak-anak. Akumulasi timbal dalam darah yang relatif tinggi akan menyebabkan sindroma saluran pencernaan, kesadaran (cognitive effect), anemia, kerusakan ginjal hipertensi, neuromuscular dan konsekuensi pathophysiologis serta kerusakan syaraf pusat dan perubahan tingkah laku. Pada kondisi lain, akumulasi timbal dalam darah ini juga menyebabkan ganggua n fertilitas, keguguran janin pada wanita hamil, serta menurunkan tingkat kecerdasan (IQ) pada anakanak. Penyerapan timbal secara terus menerus melalui pernafasan dapat berpengaruh pula pada sistem haemopoietic. Di Amerika Serikat sendiri telah ada suatu studi yang mendalam mengenai sejauh mana kemungkinan keterlibatan gasoline bertimbal dalam peningkatan timbal dalam darah. Studi ini dinamakan NHANES (National Health and NutritionExamination Study ) 2 dan 3. NHANES 2 mensurvey 27,801 orang antara tahun 1976-1980dengan rentang umur 6 bulan hingga 74 tahun yang tinggal di 64 daerah di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa penurunan penggunaan timbal dalam gasoline sebesar 50% juga berakibat menurunkan 30% kandungan timbal dalam darah. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa timbal dalam gasoline merupakan penyebab utama timbulnya penumpukan timbal dalam darah yang nantinya akan dapatmenyebabkan timbulnya kanker. Untuk selanjutnya, sebagai lanjutan dari apa yang telah dilakukan olehNHANES 2, NHANES 3 juga telah melakukan penelitian pada rentang tahun 1988-1991, dimana pada saat itu, penggunaan timbal di Amerika Serikat telah hampir dihilangkan, dan hal ini mengakibatkan penurunan yang sangat drastis padapenumpukan timbal di dalam darah, pada orang dengan rentang umur 1-74 tahun, yaitu sekitar 2.8 g dl-1.
http://dalfto.wordpress.com/2011/04/04/antara-bahan-bakar-minyak-dan-timbal/

Methyl Tertier Buthyl Ether (MTBE)

MTBE adalah salah satu bahan aditif untuk meningkatkan bilangan oktan pada bahan bakar kendaraan bermotor. MTBE mulanya dibuat karena adanya hasil sampingan yang cukup besar dari pabrik etilen. Salah satu hasil sampingan itu adalah isobutilen. Dari metode pembuatan MTBE, salah satu metode yang dipakai adalah dengan mencampurkan isobutilen dengna methanol. MTBE mulai diproduksi pada tahun 1973di Ravenna, italia oleh perusahaan snamprogetti/anic dengan kapasitas produksi 100.000 metrik ton/tahun. Angka oktan dari MTBE cukup tinggi yaitu 106-123, sehingga cukup baik dipakai sebagai bahan pencampuran bahan bakar. Beberapa kandungan dari gas buang pada kendaraan yang memakai bahan bakar dengan campuran MTBE dapat dikurangi, misalnya kandungan CO, NoX, SO2 hidrokarbon (HC), dan PNA. Selain itu, mereduksi pula pemakaian Pb(timbal) tanpa mempengaruhi bilangan oktan, tidak terbentuk peroksida pada saat pembakaran, stabil pada saat penyimpanan, larut sempurna bersama bensin dalam berbagai persentase volume. Bila bensin bercampur dengan air, kelarutan MTBE dalam campuran tidak akan berpengaruh. Deskripsi Pembuatan MTBE Proses pembuatan MTBE memerlukan bahan baku methanol dan buthena. Methanol bisa diperoleh dari hasil fermentasi, gas alam dan biomassa. Buten (C4 cut) dapat diperoleh dari perengkahan panas atau perengkahan katalitik. Buten ini menganDung beberapa subtituen seperti isobuthena, butana, butadiena. Methanol atau buthena dimasukkan ke dalam tangki reaksi, dimana sebelumnya dilewatkan kedalam loop katalis resin penukar ion pada suhu 40-45 derajat celcius. Terjadinya reaksi selektif antara isobuthena dan methanol akan terbentuk MTBE. Reaksi panas yang terbentuk harus di netralkan dengan menggunakan air yang berbeda pada loop agar di dapatkan suhu yang konstan. Pada keadaan ini isobuthena telah dikonversi menjadi produk MTBE, yang nantinya harus mengalami fraksinasi agar di dapat methanol bebas MTBE sebagai aliran bawah. Persentase hasil sampingan cukup kecil sehingga kemurnian produk MTBE yang didapatkan selalu melebihi 99%. Bahan bakar yang masih mengandung TEL seperti bensin premium menghasilkan gas buang yang lebih tinggi dibandingkan dengan campuran premium dan MTBE. Gas buang yang bersifat racun palin kecil mungkin bisa diperoleh apabila bahan bakar yang dipasarkan tidak mengandung TEL dan dicampur dengan MTBE. Semakin luas pemakaian MTBE yang dicampurkan dengan bahan bakar tentu mengakibatkan turunnya tingkat pencemaran lingkungan.
http://willycar.com/2009/03/23/methyl-tertier-buthyl-ether-mtbe/

METIL TERSIER BUTIL ETER

Methyl Tertier Buthyl Eter (MTBE) merupakan senyawa eter dengan rumus molekul C5H12O. senyawa ini -senyawa organik yang tak larut dalam airmempunyai sifat: 1)Titik didih rendah sehingga mudah menguap 2) Sulit larut dalam air, karena kepolarannya rendah 3) Sebagai pelarut yang baik senyawa Apa itu mtbe?? 4) Mudah terbakar 5) Pada umumnya bersifat racun 6) Bersifat anastetik (membius) 7) Eter sukar bereaksi, kecuali dengan asam halida kuat (HI dan H Br0

KegunaaN mtbe? 1) Dietil eter (etoksi etana) biasanya digunakan sebagai pelarut senyawa-senyawa organik. 2)digunakan sebagai zat arestesi (obat bius) di rumah sakit. 3)digunakan untuk menaikan angka oktan besin .angka oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan.nilai oktan berfungsi mengurangi knocking atau ketukan dalam mesin. MTBE murni berbilangan setara oktan 118. Selain dapat meningkatkan bilangan oktan, MTBE juga dapat menambahkan oksigen pada campuran gas di dalam mesin, sehingga akan mengurangi pembakaran tidak sempurna bensin yang menghasilkan gas CO.

KELEBIHAN dan kerugian mtbe Kelebihan Mtebe sebagai campuran dalam bensin untuk menaikan nilai oktan, merupakan senyawa yang mempunyai sifat yang paling mendekati bensin

ditinjau dari nilai kalor, kalor laten penguapan dan rasio stoikimoetri udara per bahan bakar. Kekurangan Mtebe belakangan ini di teliti menyebabkansifat karsinogenik dan mudah bercampur dengan air, sehingga jika terjadi kebocoran pada tempattempat penampungan bensin (misalnya di pompa bensin) MTBE masuk ke air tanah bisa mencemari sumur dan sumber-sumber air minum lainnya.hasil pembakarana mtbe menghasilkan timbal yang menyebabkan polusi udara,polusi udara ini alkan merusak linkungan dan berbahaya bagi kesehatan yaitu IQ terutamapada anak-anak, menimbulkan permasalahantekanan darah tinggi maupun penyakit pem-buluh darah jantung. KESIMPULAN Metil butyl etanol adlah senyaw yang banyakmanfaanya dalam khidupan sehari2, khususnya sebagai salah satu bahan aditif bahan bakar bensin yang berfungsi untuk mengurangi peristiwa knocking(ketukan pada mesin) yang membuat mesin mernjadi aus.namun di sisi lain senyawa ini menghasilkan pb yang berdampak merusak lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan, bahkan menyebkan kangker pada penggunaan dosis tinggi,mencari bahan aditif laen yang ramah lingkungan, dan tidak merugikan bagio kesehatan,, sepoery bioetanol yang di buat dari fermentasi jagung,ubi,dll. Namun kelemahan dsini bahwasanya sifat dari etanol tidak cocok untuk bahab aditif bensin.sehingga menurut saya cara yang paling aman adalah mengganti bahan baku dari bensin berikut dengan energy laen seperti listrik, dewas ini sudah mulai di kenbangakan mobil listrik sebagai mobil alternative karena energy yang di gunakan dalam mobil ini adalah dari baterai.,
http://tialove-engineer.blogspot.com/2011/12/metil-tersier-butil-eter.html

Mencari Pengganti TEL untuk Meningkatkan Angka Oktan


Menaikkan angka oktan pada bensin adalah salah satu upaya unt uk meningkatkan kualitas bensin. Angka oktan bensin sendiri didefinisikan sebagaipersentase isooktana dalam bahan bakar rujukan yang memberikan intensitas ketukan yang sama pada mesin uji. Untuk mendapatkan bensin dengan angka oktan yang cukup tinggi dapat ditempuh beberapa cara: memilih minyak bumi dengan kandungan aromat yang tinggi dalam trayek didih gasoline; meningkatkan kandungan aromatik melalui pengolahanreformasi atau alkana

bercabang dengan alkilasi atau isomerisasi atau olefin bertitik didh rendah; mengunakan komponen berangka oktan tinggi sebagai bahan ramuan seperti alcohol atau eter; menambahkan aditif peningkat angka oktan.Dalam makalah ini akan dibahas berbagai macam aditif peningkat angka oktan yang digunakan selama ini maupun yang akan datang. Hal ini disebabkan kebutuhan akan angka oktan bensin yang tinggi semakin meningkat seiring dengan kemajuan perkembangan teknologi kendaraan bermotor. Dan kebutuhan akan lingkungan yang lebih bersih juga menjadi salah satu penyebab berkembangnya penelitian untukmenemukan aditif-aditif baru yang ramah lingkungan dan bersahabat dengankesehatan. Senyawa Oksigenat Di Amerika dan beberapa negara- negara Eropa Barat, penggunaan TELsebagai aditif anti ketuk di dalam bensin makin banyak digantikan oleh senyawa organic beroksigen (oksigenat) seperti alkohol (methanol, etanol, isopropil alkohol) dan eter (Metil Tertier Butil Eter (MTBE), Etil Tertier Butil Eter (ETBE) dan Tersier Amil Metil Eter (TAME)). Oksigenat adalah senyawa organic cair yang dapatdicampur ke dalam bensin untuk menambah angka oktan dan kandungan oksigennya. Selama pembakaran, oksigen tambahan di dalam bensin dapat mengurangi emisikarbon monoksida, CO dan material-material pembentuk ozon atmosferik. Selain itu 14senyawa oksigenat juga memiliki sifat-sifat pencampuran yang baik dengan bensin. Semua oksigenat mempunyai angka oktan di atas 100 dan berkisar antara 106 RON untuk TBA dan 122 RON untuk methanol. Penggunaan alkohol sebagai zat aditif pengganti TEL masih terbatas karena beberapa masalah antara lain tekanan uap dan daya hidroskopisnya yang tinggi. Oleh karena itu senyawa eter lebih banyak digunakan daripada alkohol. Senyawa eter yang telah banyak digunakan adalah MTBE, sedangkan ETBE dan TAME masih terbatas karena teknologi prosesnya masih belum banyak dikembangkan. Namun berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian dalam satu dasawarsa ini, MTBE juga menimbulkan masalah pencemaran air tanah, sehingga penggunaannya sebagai zat aditif bensinbanyak ditinjau lagi. Penggunaan eter tersebut sebagai zat aditif saat ini agaknya mulai digantikan dengan alternatif aditif yang lain, seperti di Amerika mulaidilakukan pengkajian terhadap penggunaan etanol sebagai pengganti MTBE. DiIndonesia walaupun masih menggunakan MTBE, namun Bapedal melakukanpengkajian terhadap Methylcyclopentadienyl Manganese Tricarbonyl (MMT),senyawa organologam. Metanol memiliki angka oktan yang tinggi dan mudah didapat danpenggunaannya sebagai aditif bensin tidak menimbulkan pencemaran udara. Namun perbedaan struktur molekul methanol yang sangat berbeda deari struktur hidrokarbonbensin menimbulkan permasalahan dalam penggunaannya, antara lain kandunganoksigen yang sangat tinggi dan rasio stoikiometri udara per bahan bakar. Nilaibakarnya pun hanya 45% dari bensin. Metanol merupakan cairan alkohol yang tak berwarna dan bersifat toksik. Pada kadar tertentu (kurang dari 200 ppm) methanol dapat menyebabkan iritasi ringan pada mata, kulit dan selaput lendir dalam tubuh manusia. Efek lain jika keracunan methanol adalah meningkatnya keasaman darah yang dapat mengganggu kesadaran. Etanol memiliki angka oktan yang hampir sama dengan metanol. Dayatoleransi etanol terhadap air lebih baik daripada metanol. Di negara- negara yangmempunyai kelebihan produksi pertanian etanol dibuat dari fermentasi produkpertanian. Etanol juga bersifat toksik. Di dalam tubuh manusia keberadaan etanol diproses di dalam hati di mana enzim dehidrogenasi mengubah etanol menjadiasetaldehida. Akumulasi asetaldehida itu dapat

mengganggu sistem kesadaran otak manusia. Namun begitu penggunaan etanol sebagai aditif bensin dinilai relatif lebih aman dibanding metanol. MTBE memiliki sifat yang paling mendekati bensin ditinjau dari nilai kalor, kalor laten penguapan dan rasio stoikimoetri udara per bahan bakar. MMT

Methylcyclopentadienyl Manganese Tricarbonyl (MMT) adalah senyawaorganologam yang digunakan sebagai pengganti bahan aditif TEL, dan telahdigunakan selam dua puluh tahun terakhir di Kanada, Amerika Serikat serta beberapa negara Eropa lainnya. RVP- nya rendah yaitu 2,43 psi dan penggunaannya dibatasi hingga 18 mg Mn/liter bensin. Indeks pencampuran RVP yang rendahmenguntungkan dalam proses pencampuran bensin karena mengurangi tekanan uap bahan bakar RVP sehingga emisi uap selama operasi dan penggunaan bahan bakar pada kendaraan bermotor berkurang. Penggunaan MMT hingga 18 mg Mn/liter bensin dapat meningkatkan angka oktan bensin sebesar 2 poin, namun masih kurangmenguntungkan jika dibandingkan dengan peningkatan angka oktan yang lebih tinggi yang dihasilkan senyawa oksigenat. Dalam penerapannya MMT memiliki tingkat toksisitas yang lebih rendah daripada TEL Naphtalene

Naftalena adalah salah satu komponen yang termasuk benzena aromatikhidrokarbon, tetapi tidak termasuk polisiklik. Naftalena memiliki kemiripan sifat yang memungkinkannya menjadi aditif bensin untuk meningkatkan angka oktan. Sifat-sifat tersebut antara lain: sifat pembakaran yang baik, mudah menguap sehingga tidak meninggalkan getah padat pada bagian-bagian mesin. Penggunaan Naftalena sebagai aditif memang belum terkenal karena masih dalam tahap penelitian. Sampai saat ini memang belum diketahui akibat burukpenggunaan naftalena terhadap lingkungan dan kesehatan, namun ia relatif amanuntuk digunakan.
http://dalfto.wordpress.com/2011/04/04/mencari-pengganti-tel-untuk-meningkatkan-angka-oktan/

Senin, 10 Mei 2010

Bilangan Oktan III


Bilangan Oktan Bilangan oktan (octane number) merupakan ukuran dari kemampuan bahan bakar untuk mengatasi ketukan sewaktu terbakar dalam mesin. Nilai bilangan oktan 0 ditetapkan untuk nheptana yang mudah terbakar, dan nilai 100 untuk isooktana yang tidak mudah terbakar. Suatu campuran 30% nheptana dan 70% isooktana akan mempunyai bilangan oktan: = (30/100 x 0) + (70/100 x 100)

= 70 Bilangan oktan suatu bensin dapat ditentukan melalui uji pembakaran sampel bensin untuk memperoleh karakteristik pembakarannya. Karakteristik tersebut kemudian dibandingkan dengan karakteristik pembakaran dari berbagai campuran n-heptana dan isooktana. Jika ada karakteristik yang sesuai, maka kadar isooktana dalam campuran n-heptana dan isooktana tersebut digunakan untuk menyatakan nilai bilangan oktan dari bensin yang diuji. Fraksi bensin dari menara distilasi umumnya mempunyai bilangan oktan ~70. Untuk menaikkan nilai bilangan oktan tersebut, ada beberapa hal yang dapat dilakukan: -Mengubah hidrokarbon rantai lurus dalam fraksi bensin menjadi hidrokarbon rantai bercabang melalui proses reforming Contohnya mengubah n-oktana menjadi isooktana. -Menambahkan hidrokarbon alisiklik/aromatik ke dalam campuran akhir fraksi bensin. -Menambahkan aditif anti ketukan ke dalam bensin untuk memperlambat pembakaran bensin. Dulu digunakan senyawa timbal (Pb). Oleh karena Pb bersifat racun, maka penggunaannya sudah dilarang dan diganti dengan senyawa organik, seperti etanol dan MTBE (Methyl Tertiary Butyl Ether). Diposkan oleh Ita Perdanawati di 07.56 0 komentar

Bensin dan bilangan Oktan II Bensin dan Bilangan Oktan


Komponen utama bensin adalah n-heptena (C7H16) dan isooktana (C8H18). Kualitas bensin ditentukan oleh kandungan isooktana (bilangan oktan). Bilangan oktan untuk n-heptana = 0 dan isooktana = 100. Fungsi kandungan isooktana pada bensin: 1.Mengurangi ketukan (knocking) pada mesin 2.Meningkatkan efisiensi pembakaran sehingga energi yang dihasilkan lebih besar. Bilangan oktan bensin dapat ditingkatkan dengan: 1.Memperbesar kandungan isooktana 2.menambah zat akditif antiketukan (TEL, MTBE dan etanol).

*Tetraethylleed (TEL) Pb(C2H5)4 Untuk mengubah Pb dari padat ke gas ditambahkan zat adiktif lain yaitu etilen bromida (C2H5Br) yang nantinya akan bereaksi membentuk uap PbBr2. Namun Pb nantinya dapat membahayakan kesehatan karna merupakan logam berat. *Methyl Tertier Buthyl Ether (MTBE) Memiliki bilangan oktan 118, dan lebih aman disbanding TEL karena tidak mengandung logam berat namun tetap berpotensi mencemari lingkungan karena sulit diuraikan Mikroorganisme. *Etanol Memiliki bilangan oktan 123 dan lebih unggul disbanding TEL dan MTBE karena tidak mencemari

udara dan mudah diuraikan mikroorganisme. Selain itu bahan baku untuk membuat etanol juga dari fermentasi tumbuh-tumbuhan yang melimpah dialam dan dapat dibudidayakan.

Kegunaan minyak bumi dan Residunya 1.Kegunaan Minyak Bumi a.Bahan Bakar Gas Terdapat 2 jenis gas dalam bentuk cair untuk bahan bakar: - Liquifed Natural Gas (LNG) Gas rawa yang terdiri atas 90% metana dan 10% etana - Liqufied Petroleum Gas (LPG) Dikenal dengan gas elpiji dengan koponen utama propana (C3H8) dan Butana (C4H10) Umum digunakan untuk keperluan rumah tangga dan industri, selain itu juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan plastik dan zat adiktif bensin. b.Pelarut dalam industri (exp:petrolium eter) c.Bahan bakar kendaraan bermotor (exp: bensin, solar) d.Bahan bakar rumah tangga dan bahan baku pembuatan bensin (exp: kerosin, minyak tanah) e.Bahan bakar untuk mesin diesel dan bahan baku pembuatan bensin. f.Minyak pelumas g.Bahan pembuatan sabun dan detergen h.Residu minyak bumi, yang terdiri atas: Parafin: digunakan dalam pembuatan obat-obatan, kosmetik, dan lilin Aspal : digunakan sebagai pengeras jalan Residu minyak bumi yang berupa senyawa alkana rantai panjang diuraikan menjadi senyawa alkena yaitu etena atau butadiena yang dapat diolah lebih lanjut menjadi senyawa karbon lain seperti senyawa polietena (plastik) dan senyawa etanol. Residu minyak bumi juga digunakan sebagai bahan dasar industri petrokimia.

Diposkan oleh Ita Perdanawati di 07.47 0 komentar

Jumat, 07 Mei 2010

Bensin & Bilangan oktan


Bilangan Oktan Bilangan oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan. Di dalam mesin, campuran udara dan bensin (dalam bentuk gas) ditekan oleh piston sampai dengan volume yang sangat kecil dan kemudian dibakar oleh percikan api yang dihasilkan busi. Karena besarnya tekanan ini, campuran udara dan bensin juga bisa terbakar secara spontan sebelum percikan api dari busi keluar. Jika campuran gas ini terbakar karena tekanan yang tinggi (dan bukan karena percikan api dari busi), maka akan terjadi knocking atau ketukan di dalam mesin. Knocking ini akan menyebabkan mesin cepat rusak, sehingga sebisa mungkin harus kita hindari.

Nama oktan berasal dari oktana (C8), karena dari seluruh molekul penyusun bensin, oktana yang memiliki sifat kompresi paling bagus. Oktana dapat dikompres sampai volume kecil tanpa mengalami pembakaran spontan, tidak seperti yang terjadi pada heptana, misalnya, yang dapat terbakar spontan meskipun baru ditekan sedikit. Bensin dengan bilangan oktan 87, berarti bensin tersebut terdiri dari 87% oktana dan 13% heptana (atau campuran molekul lainnya). Bensin ini akan terbakar secara spontan pada angka tingkat kompresi tertentu yang diberikan, sehingga hanya diperuntukkan untuk mesin kendaraan yang memiliki ratio kompresi yang tidak melebihi angka tersebut. Umumnya skala oktan di dunia adalah Research Octane Number (RON). RON ditentukan dengan mengisi bahan bakar ke dalam mesin uji dengan rasio kompresi variabel dengan kondisi yang teratur. Beberapa angka oktan untuk bahan bakar:

87 Bensin standar di Amerika Serikat 88 Bensin tanpa timbal Premium 92 Bensin standar di Eropa, Pertamax 94 Premix-TT 98 PertamaxPlus

Angka oktan bisa ditingkatkan dengan menambahkan zat aditif bensin. Menambahkan tetraethyl lead (TEL, Pb(C2H5)4) pada bensin akan meningkatkan bilangan oktan bensin tersebut, sehingga bensin "murah" dapat digunakan dan aman untuk mesin dengan menambahkan timbal ini. Untuk mengubah Pb dari bentuk padat menjadi gas pada bensin yang mengandung TEL dibutuhkan etilen bromida (C2H5Br). Celakanya, lapisan tipis timbal terbentuk pada atmosfer dan membahayakan makhluk hidup, termasuk manusia. Di negaranegara maju, timbal sudah dilarang untuk dipakai sebagai bahan campuran bensin. Zat tambahan lainnya yang sering dicampurkan ke dalam bensin adalah MTBE (methyl tertiary butyl ether, C5H11O), yang berasal dan dibuat dari etanol. MTBE murni berbilangan setara oktan 118. Selain dapat meningkatkan bilangan oktan, MTBE juga dapat menambahkan oksigen pada campuran gas di dalam mesin, sehingga akan mengurangi pembakaran tidak sempurna bensin yang menghasilkan gas CO. Belakangan diketahui bahwa MTBE ini juga berbahaya bagi lingkungan karena mempunyai sifat karsinogenik dan mudah bercampur dengan air, sehingga jika terjadi kebocoran pada tempat-tempat penampungan bensin (misalnya di pompa bensin) MTBE masuk ke air tanah bisa mencemari sumur dan sumber-sumber air minum lainnya. Etanol yang berbilangan oktan 123 juga digunakan sebagai campuran. Etanol lebih unggul dari TEL dan MTBE karena tidak mencemari udara dengan timbal. Selain itu, etanol mudah diperoleh dari fermentasi tumbuh-tumbuhan sehingga bahan baku untuk pembuatannya cukup melimpah. Etanol semakin sering dipergunakan sebagai komponen bahan bakar setelah harga minyak bumi semakin meningkat http://klp4sman5x6.blogspot.com/ Oksigenat Methyl Tertiary Buthyl Ether Sebagai Aditif Octane Booster Bahan Bakar Motor Bensin (Philip Kristanto)

Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/ 25 Oksigenat Methyl Tertiary Buthyl Ether Sebagai Aditif Octane Booster Bahan Bakar Motor Bensin Philip Kristanto Dosen Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Mesin - Universitas Kristen Petra Abstrak Oksigenat Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE), OHC 125 sebagai alternatif pengganti Tetra Ethyl Lead (TEL), ( )452 HCPb yang digunakan sebagai komponen peningkat angka oktan bahan bakar bensin. Namun, perlu dilakukan pengujian bagaimana pengaruh konsentrasinya terhadap angka oktan, sifat volatilitas bahan bakar dan unjuk kerja motor. Untuk motor yang menggunakan karburator, bahan bakar cair harus cukup mudah menguap untuk menyediakan campuran udara dan uap bahan bakar pada tempratur masuk dan menyediakan secara lengkap campuran udara dan uap bahan bakar didalam silinder sebelum terbakar. Kata kunci: Oksigenat, angka oktan, volatilitas. Abstract Oxygenates Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE), OHC 125 as an alternative substance for Tetra Ethyl Lead (TEL), ( )452 HCPb which is used as substance to increase octane number gasoline fuel. However, need to be tested how its concentration influence about octane number, volatility fuel and engine performance. For engines with carburettor, the liquid fuel must be volatile enough to produce a combustible fuel vapour air mixture at intake temperature and to produce completely fuel vapour air mixture inside the cylinder before combustion. Keywords: Oxygenates, octane number, volatility. Daftar Notasi Bhp daya kuda poros, hp Nm putaran motor, Rpm P beban, Newton T torsi, N - m 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Sesuai dengan perkembangan teknologi otomotif, pada dasawarsa terakhir ini tentunya perlu diimbangi dengan kualitas dari bahan bakar yang digunakan. Salah satu parameter untuk menentukan kualitas bahan bakar

adalah angka oktannya. Jika angka okktan bahan bakar yang diigunakan terlalu rendah, maka timbul gejala ketukan (knocking) pada motor dan selanjutnya akan mengurangi performansi motor secara keseluruhan. Untuk meningkatkan performa dari bahan bakar pada Catatan : Diskusi untuk makalah ini diterima sebelum tanggal 1 Juli 2002. Diskusi yang layak muat akan diterbitkan pada Jurnal Teknik Mesin Volume 4 Nomor 2 Oktober 2002. dasarnya ditambahkan sejumlah Tetra Ethyl Lead (TEL), ( )452 HCPb sebagai bahan aditif anti-ketukan. Pada proses pembakaraan bahan bakar yang mengandung senyawa TEL dihasilkan senyawa Pb anorganik, Pb0 (Oksida Pb) pada gas buang dan pada umumnya dapat bertahan di atmosfir untuk kurun waktu yang cukup lama. Senyawa oksida Pb di udara dan di alam ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan maupun rantai makanan. Dampak negatif yang ditimbulkan jika senyawa tersebut berada di dalam tubuh manusia akan mempengaruhi kecerdasaan dan menurunkan IQ terutama pada anak-anak, menimbulkan permasalahan tekanan darah tinggi maupun penyakit pembuluh darah jantung. Berdasarkan dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan TEL sebagai bahan aditif untuk bahan bakar, maka penggunaan TEL di negara maju dan sebagian negara sedang berkembang sudah dilarang. Beberapa senyawa alternatif non-logam, misalnya metanol, etanol, anilin dan eter pada dewasa ini dikembangkan untuk menggantikan TEL sebagai bahan aditif. Salah satu diantara JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 4, No. 1, April 2002: 25 31 Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/ 26 senyawa tersebut adalah Methyl tertiary Buthyl Ether (MTBE), 943 HOCCH sebagai senyawa organik yang tidak mengandung logam dan tidak membentuk senyawa peroksida yang berbahaya bagi lingkungan.

Karakteristik bensin didasarkan pada beberapa parameter sesuai dengan penggunaannya dalam kendaraan bermotor. Beberapa karakteristik tersebut diantaranya adalah angka oktan, sifat volatilitas dari bahan bakar yang diberi tambahan MTBE. Untuk mengetahui kualitas dari senyawa bensin yang ditambahkan MTBE perlu dilakukan pengujian performansi motor bakar bensin yang menggunakan persenyawaan bahan bakar tersebut. 1.2 Metodologi Penelitian Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Persiapan sampel Sampel yang digunakan dalam pengujian ini: Bensin murni (tanpa MTBE) Bensin murni + 5 % volume MTBE Bensin murni + 10 % volume MTBE Bensin murni + 15 % volume MTBE Bensin murni + 20 % volume MTBE Bensin murni + 25 % volume MTBE Yang diukur pada masing-masing sampel ini adalah Research Octane Number (RON), temperatur destilasi, dan tekanan uap Reid. Pengujian Pengujian angka oktan, volatilitas dan tekanan uap Reid dari masing-masing sampel dilakukan di PPT Migas, Cepu, sedangkan pengujian performansi motor yang meliputi keluaran daya poros dan torsi motor dilakukan di Laboratorium Motor Bakar, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Kristen Petra. 2. Teori Dasar 2.1 Fenomena Ketukan Ketukan (knocking) merupakan suatu fenomena penyalaan spontan yang mengakibatkan pembakaran tidak normal di dalam silinder. Pada proses pembakaran normal penyalaan bunga api diawali dari busi sehingga terjadi pembakaran awal campuran udara-bahan bakar dan merambat hingga titik terjauh dari busi di ruang bakar (gambar 1). Pada proses pembakaran yang tidak normal

dimana terjadi penyalaan awal (preignition) bahan bakar karena meningkatnya suhu dan tekanan di dalam silinder karena proses kompresi. Disamping itu tepat pada saat akan berakhirnya langkah kompresi terjadi penyalaan karena percikan bunga api listrik dari busi, sehingga campuran udara-bahan bakar di sekitar busi terbakar. Kedua proses pembakaran ini mengakibatkan perambatan nyala api dimana masing-masing bergerak menjauhi titik nyalanya dan pada akhirnya terjadi pertemuan atau tumbukan antara kedua proses pembakaran terebut. Tumbukan antara kedua proses pembakaran ini menimbulkan suara berisik di dalam motor yang dikenal dengan fenomena ketukan (knocking). Peristiwa ini ditunjukkan dalam gambar 2. Gambar 1. Pembakaran Sempurna Gambar 2. Proses pembakaran tidak sempurna Untuk meningkatkan daya pada motor dapat dilakukan dengan meningkatkan perbandingan kompresi, tetapi semakin tinggi perbandingan kompresi suatu motor maka temperatur yang dicapai pada saat langkah kompresi juga semakin tinggi. Pada saat terjadi percikan bunga api listrik dari busi, maka terjadilah gelombang ledakan yang diawali dari titik penyalaan. Akibatnya temperatur dari bagian campuran udara-bahan bakar di luar gelombang ledakan akan meningkat lebih tinggi lagi. Hal inilah yang mengakibatkan campuran udara-bahan bakar tersebut mempunyai kecenderungan untuk terbakar dengan sendirinya. 2.2 Angka Oktan Pada umumnya angka oktan suatu bahan bakar dinyatakan dengan besar prosen volume iso-oktana dalam campuran yang terdiri dari iso-oktana (jenis bahan bakar hidrokarbon yang tak mudah berdetonasi dan dinyatakan sebagai bahan bakar dengan angka oktan-100) dan normal-heptana (bahan bakar hidrokarbon Oksigenat Methyl Tertiary Buthyl Ether Sebagai Aditif Octane Booster Bahan Bakar Motor Bensin (Philip Kristanto) Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra

http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/ 27 rantai lurus yang mudah berdetonasi dan dinyatakan sebagai bahan bakar dengan angka oktan-0) yang memiliki kecenderungan berdetonasi sama dengan bahan bakar tersebut. Angka oktan yang merupakan salah satu faktor utama untuk mengetahui kualitas bensin adalah nilai kertahanan suatu bahan bakar bersama dengan udara terhadap terjadinya penyalaan disaat langkah kompresi atau disebut dengan kemampuan anti-ketukan. Artinya, walaupun pada saat langkah kompresi temperatur campuran udara-bahan bakar meningkat, tetapi energi yang dihasilkan tidak cukup untuk membakar campuran tersebut. Proses pembakaran baru terjadi setelah busi menghasilkan loncatan bunga api listrik pada saat torak mendekati titik mati atas pada akhir langkah kompresi. Karena itu angka oktan juga berkaitan dengan perbandingan kompresi dari motor. Semakin tinggi angka oktan suatu bahan bakar, semakin tinggi pula ketahanannya terhadap penyalaan dini pada saat kompresi tinggi, tanpa dipengaruhi oleh penyalaan dari busi. Berhubungan dengan angka oktan ini maka ASTM (American Society for Testing and Materials) menetapkan suatu standar penilaian anti ketukan dari suatu bahan bakar bensin. dengan standarisasi bahan bakar ini diharapkan industri otomotif dapat memproduksi motor yang dapat beroperasi tanpa terjadi ketukan dengan menggunakan kualitas bahan bakar yang sesuai. Untuk pengukuran angka oktan digunakan motor khusus yang bersilinder tunggal dimana perbandingan kompresinya dappat diubahubah, yang disebut dengan motor CFR (Cooperative Fuel Research). Ada dua metode dasar yang umum digunakan, yaitu research method menggunakan motor CFR F-1 yang hasilnya disebut dengan Research Octane Number (RON) dan motor method mengguna-

kan motor CFR F-2 dimana hasilnya disebut dengan Motor Octane Number (MON). Research method menghasilkan gejala ketukan lebih rendah dibandingkan motor research. 2.3 Volatilitas Bahan Bakar Sifat volatilitas (kemampuan menguap) dari bahan bakar merupakan faktor utama yang harus dipenuhi berdasarkan spesifikasi bahan bakar yang ditetapkan. Faktor ini dibutuhkan agar untuk terbakar dengan normal di dalam ruang bakar, bahan bakar harus dapat menguap dengan teratur sesuai dengan laju yang dikehendaki, dan harus membuat campuran yang homogin dan terdistribusi merata dalam silinder ruang bakar. Untuk menentukan sifat volatilitas bahan bakar diperlukan uji destilasi ASTM berdasarkan metode ASTM D-86 terutama untuk kondisi start dingin (cold start), kondisi pemanasan (warm up) dan distribusi campuran dalam silinder. Start dingin Kondisi start dingin dapat diukur melalui temperatur hasil uji destilasi 10% dan nilai Raid Vapour Pressure (RVP). Semakin rendah temperatur uji destilasi 10% atau semakin tinggi nilai RVP, maka akan semakin mudah motor dihidupkan dalam kedaaan dingin. Hal ini disebabkan karena dalam keadaan dingin jika bahan bakar yang menguap tidak cukup banyak, maka motor akan sulit dihidupkan atau membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan pemanasan agar mencapai suhu operasi yang normal. Maka dari itu untuk kemudahan menghidupkan motor dalam keadaan dingin dibutuhkan bahan bakar yang menguap cukup banyak, tetapi dibatasi untuk destilasi 10% temperatur penguapannya maksimum 74C dan nilai RVP maksimum 9 Psi. karena jika melampaui batasan tersebut akan terjadi sumbatan uap (vapour lock). Sumbatan uap ini dapat terjadi karena uap yang dihasilkan cukup banyak, sehingga pada saat motor menjadi panas, bahan bakar di dalam pompa salluran

bahan bakar akan mendidih, akibatnya akan timbul gelembung-gelembung udara yang akan mengganggu aliran bahan bakar yang akan menuju ke ruang bakar. Pemanasan (warm up) Sejak motor dihidupkan pada saat dingin sampai dapat diooperasikan dengan tenaga penuh membutuhkan waktu yang disebut dengan periode pemanasan (warm up). Standar untuk pemanasan ditentukan dari temperatur hasil uji destilasi 50% yang dibatasi antara 80C sampai 125C. Jika temperatur uji destilasi melampaui batasan tersebut maka bahan bakar cenderung mengandung fraksi ringan (bagian dari minyak bumi yang memiliki titik didih terendah dari bagian minyak bumi lainnya), sehingga pada pemakaian terjadi pengendapan es dalam karburator (icing carburator). Distribusi campuran dalam silinder Di dalam karburator, bahan bakar dicampur dengan udara menurut perbandingan tertentu. Dari sini campuran udara-bahan bakar akan masuk ke dalam ruang bakar. Dalam keadaan JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 4, No. 1, April 2002: 25 31 Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/ 28 normal campuran udara-bahan bakar akan masuk secara merata dan sama banyaknya. Untuk menentukan distribusi campuran udarabahan bakar di dalam silinder dilakukan uji destilasi 90%. Semakin rendah temperatur hasil uji destilasi 90%, semakin baik distribusi campuran di dalam silinder, demikian pula sebaliknya. 2.4 Aditif Octane Booster Aditif octane Booster merupakan komponen dari senyawa yang digunakan untuk meningkatkan angka oktan dari bahan bakar dan sekaligus sebagai komponen anti-ketuk. Komponen yang digunakan sebagai bahan anti ketuk pada saat ini adalah Tetra Ethyl Lead (TEL), ( )452

HCPb . Berdasarkan hasil riset senyawa TEL ini pertama-tama terurai pada temperatur sekitar 100C dengan bantuan panas dari ruang bakar, melalui reaksi penguraian sebagai berikut: ( ) ( ) 52352452 HCHCPbHCPb + ( ) ( ) ( ) 526522452352 HCHCPbHCPbHCPb ++ ( )6522 HCPb ( ) ( )252452 HCPbHCPb + ( ) 102252 HCPbHCPb + Reaksi radikal etil dengan TEL dapat menghasilkan alkana, alkena, hidrogen dan juga radikal Pb-trietil. Yang bertindak sebagai bahan anti ketuk adalah Pb-oksida, dimana Pboksida ini berada dalam bentuk radikal-radikal yang tersebar dalam ruang bakar dan sebagian akan melekat pada dinding silinder membentuk endapan, dan sebagian lagi akan keluar ke atmosfir bersama-sama dengan gas sisa pembakaran. Pb-oksida yang dibebaskan ke atmosfir inilah yang sangat berbahaya bagi lingkungan, sehingga perlu dicarikan bahan substitusi untuk menggantikan TEL sebagai aditif octane booster. 2.5 Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE) Methhyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE) merupakan salah satu senyawa organik yang tidak mengandung logam dan mampu bercampur secara memuaskan dengan hidrokarbon. MTBE pada saat ini sedang giatgiatnya dikembangkan pemakaiannya sebagai bahan utama untuk meningkatkan angka oktan dari bensin menggantikan TEL. Senyawa ini terdiri dari gugusan Methyl dan Buthyl tertier dengan rumus molekul 943 HOCCH atau OHC 125 , sedangkan rumus bangunnya adalah: Kisaran angka oktan MTBE adalah 116 118 RON, berat molekul 88 dan titik didihnya 55C, kalor pembakaran 8.400 kkal/kg. Karena kisaran angka oktan yang tinggi, maka MTBE

dapat digunakan sebagai aditif octane booster untuk meningkatkan angka oktan bensin dasar. Disamping itu karena titik didihnya yang rendah, maka MTBE bersifat mudah menguap. Karena sifatnya yang mudah menguap maka ada batasan konsentrasi volume tertentu jika senyawa tersebut digunakan untuk meningkatkan angka oktan bensin dasar. Pembatasan ini perlu dilakukan untuk menghindari penguapan yang berlebihan dari bahan bakar secara siasia, disamping itu juga untuk menghindari terjadinya vapour lock sehingga menyumbat saluran udara masuk karburator. 3. Pengujian 3.1 Parameter Uji Parameter-parameter yang diuji: Angka oktan Volatillitas bahan bakar Tekanan uap Reid Performansi motor Sampel yang diuji: Bensin murni tanpa aditif octane booster (TEL) Bensin murni + 10% MTBE Bensin murni + 15% MTBE Bensin murni + 20% MTBE Bensin murni + 25% MTBE 3.2 Prosedur pengujian Uji angka oktan Angka oktan bahan bakar diuji dengan mesin Cooperative Fuel Research (CFR) dengan skema peralatan ditunjukkan dalam Gambar 3. Gambar 3. Skema Pengujian Angka Oktan Oksigenat Methyl Tertiary Buthyl Ether Sebagai Aditif Octane Booster Bahan Bakar Motor Bensin (Philip Kristanto) Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/ 29 3.3 Hasil Pengujian Dari hasil pengujian diperoleh data-data sebagai berikut: Angka oktan Tabel 1. Hasil Uji Angka Oktan Konsentrasi MTBE Angka oktan

0% 85.29 5% 87.30 10% 88.70 15% 89.80 20% 92.20 25% 93.70 Uji Destilasi Tabel 2. Hasil uji destilasi Temperatur ( C )Penguapan (%) murni 5 % MTBE 10 % MTBE 15 % MTBE 20 % MTBE 25 % MTBE 10 59 56 56 55 54 53 20 68 66 65 64 63 63 30 76 75 76 74 73 73 40 85 84 84 82 82 81 50 98 94 93 93 92 92 60 108 104 103 103 102 101 70 118 115 113 112 112 110 80 129 126 124 122 120 119 90 150 147 147 146 144 143 Uji Tekanan Uap Reid Tabel 3. Hasil Uji Tekanan Uap Reid Konsentrasi MTBE (%) Tekanan Uap Reid (psi) 0 5.5 5 6.9 10 7.1 15 7.3 20 7.5 25 7.7 Uji Performansi Motor Tabel 4. Hasil Uji Performansi Motor Untuk 0% MTBE (Pengapian 5 sebelum TMA). Putaran

(RPM) 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 Beban (N) 21.3 31.1 35.3 37.5 38.2 34.9 32.2 27.5 20.2 Daya (Hp) 2.86 5.21 7.10 8.80 10.25 10.53 10.79 10.13 8.14 Torsi (N-m) 20.3 29.7 33.67 35.82 36.48 33.34 30.72 26.22 19.32 Tabel 5. Hasil Uji Performansi Motor Untuk 5% MTBE (Pengapian 5 sebelum TMA) Putaran (Rpm) 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 Beban (N) 28.1 38.3 41.3 43.8 41.8 38.9 38 31.4 26.3 Daya (Hp) 3.76 6.42 8.30 10.28 11.2 11.73 12.72 11.57 10.58 Torsi (N-m) 26.83 36.57 39.42 41.82 39.87 37.12 36.23 29.95 25.12 Tabel 6. Hasil Uji Performansi Motor untuk 10% MTBE (Pengapian 11 sebelum TMA) Putaran (Rpm) 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 Beban (N) 37.4 47.8 51.2 52.1 48.8 46.3 44.2 38.4 28.7 Daya (Hp) 5.02 8.02 10.29 12.22 13.09 13.98 14.81 14.17 11.55 Torsi (N-m) 35.7 45.6 48.84 49.72 46.62 44.23 42.19 36.7 27.42 Tabel 7. Hasil Uji Performansi Motor untuk 15% MTBE (Pengapian 14 ) Putaran (Rpm) 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 Beban (N) 50.7 57.2 60.8 59 54.8 51 49.2 41.8 31.5 Daya (Hp) 6.79 9.59 12.23 13.84 14.69 15.39 16.48 15.4 12.66 Torsi (N-m) 48.37 54.63 58.08 56.32 52.29 48.72 46.93 39.88 30.06 Tabel 8. Hasil Uji Performansi Motor untuk 20% MTBE (Pengapian 15 sebelum TMA). Putaran (Rpm) 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 Beban (N) 60.6 66.1 68.9 66.5 62.7 59.3 55.6 48 37.3 Daya (Hp) 8.12 11.08 13.85 15.61 16.82 17.89 18.63 17.69 14.98 Torsi (N-m) 57.84 63.13 65.77 63.51 59.88 56.62 53.05 45.82 35.57 Tabel 9. Hasil Uji Performansi Motor untuk 25% MTBE (Pengapian 17 sebelum TMA). Putaran (Rpm)

1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 Beban (N) 57 62.5 64.5 62.3 57.2 53 50.4 44.8 32.8 Daya (Hp) 7.64 10.47 12.98 14.61 15.35 15.98 16.88 16.52 13.21 Torsi (N-m) 54.42 59.67 61.64 59.48 54.64 50.59 48.07 42.79 31.37 4. Analisa Data 4.1 Pengujian angka oktan Pada grafik 1 ditunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi MTBE yang ditambahkan pada bensin tanpa aditif octane booster (angka oktan hasil pengukuran 85.29 RON) semakin meningkat angka oktan dari senyawa campuran tersebut. Dengan demikian senyawa oksigenat Methyl Tertiary Buthyl Ether memiliki kemampuan untuk meningkatkan angka oktan dari bahan bakar bensin dan sekaligus dapat berfungsi sebagai aditif octane booster. Dari grafik 1 tersebut terlihat bahwa untuk setiap penambahan konsentrasi MTBE sebesar 5 % volume, rata rata terjadi penambahan angka oktan sebesar 1.632

632.1 x y . Tentunya angka oktan tersebut harus disesuaikan dengan perbandingan kompresi dari motor bensin yang menggunakan bahan bakar tersebut. Untuk menghindari terjadinya keterlambatan penyalaan karena penggunaan bahan bakar dengan angka oktan yang tinggi, maka perlu memajuJURNAL TEKNIK MESIN Vol. 4, No. 1, April 2002: 25 31 Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/ 30 kan sudut pengapian, tetapi bukan berarti tanpa batas. Jika sudut pengapian terus

dimajukan maka kerja negatif yang terjadi pada motor akan semakin besar, dan pada akhirnya justru akan menurunkan performansi motor. Hasil pengukuran unjuk kerja motor bensin DAIHATSU, type: CB-23, perbandingan kompresi 9.5 dengan menggunakan dinamometer didapatkan bahwa kurva daya tertinggi dihasilkan pada konsentrasi MTBE 20% dengan mengatur sudut pengapian 15 sebelum TMA. Jika konsentrasi MTBE ditambah menjadi 25%, maka sudut pengapian dimajukan menjadi 17 sebelum TMA, tetapi justru daya motor yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan konsentrasi MTBE 20%. Hal ini disebabkan perbandingan kompresi pada motor kurang tinggi, akibat kondisi ruang bakar yang tidak memungkinkan untuk penggunaan bahan bakar dengan konsentrasi MTBE 25%. y = 1.6529x + 83.713 80 82 84 86 88 90 92 94 96 0% 5% 10% 15% 20% 25% Penambahan MTBE Angkaoktan Grafik 1. Angka Oktan Sebagai Fungsi Prosentase Penambahan MTBE 4.2 Uji Destilasi Pada grafik 2 ditunjukkan kurva yang menyatakan hubungan antara temperatur penguapan dan prosentase penguapan untuk 6 sampel uji, yaitu bensin tanpa MTBE, bensin dengan 5% MTBE, bensin dengan 10% MTBE, bensin dengan 15 % MTBE bensin dengan 20% MTBE dan bensin dengan 25% MTBE. Nampak bahwa semakin besar konsentrasi MTBE yang digunakan semakin kecil temperatur penguapannya. Hal ini menyatakan bahwa dengan

penambahan konsentrasi MTBE akan mempermudah proses penguapan bahan bakar tersebut. Untuk kondisi start dingin dengan penguapan 10% volume (uji destilasi 10%), temperatur penguapan terendah terdapat pada konsentrasi MTBE 25%, yaitu 53C (lebih kecil dari 74C). Pada kondisi ini fraksi ringan yang terbentuk paling banyak dibandingkan sampel yang lain, dan keadaan ini memudahkan motor dihidupkan dalam kondisi dingin. Demikian pula pada uji destilasi 50% untuk kondisi pemanasan berdasarkan dihasilkan temperatur penguapan terendah terjadi pada konsentrasi MTBE 25 %, yaitu sebesar 92C. Nilai ini masih berada pada kisaran suhu untuk kondisi pemanasan yaitu antara 88C - 125C. Pada uji destilasi 90% untuk menentukan distribusi campuran udara-bahan bakar di dalam silinder, didapatkan hasil konsentrasi MTBE yang sama, yaitu pada konsentrasi 25%, dengan temperatur penguapan yaitu 143C. Karena semakin rendah temperatur hasil uji destilasi 90%, semakin baik distribusi campuran udara-bahan bakar di dalam silinder, maka konsentrasi MTBE 25 % menghasilkan distribusi campuran yang terbaik diantara kelima sampel yang lain. 0 20 40 60 80 100 120 140 160 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%

Penguapan Temperatur(der.C) 0 % MTBE 5 % MTBE 10 % MTBE 15 % MTBE 20 % MTBE 25 % MTBE Grafik 2. Temperatur Fungsi % Penguapan 4.3 Uji Tekanan Uap Reid Dari hasil pengujian tekanan uap Reid, didapatkan bahwa pada berbagai konsentrasi MTBE yang telah dilakukan pengujian, tekanan uap Reid untuk masing-masing sampel berada dibawah 9 Psi. Jadi semua sampel memenuhi kriteria uji. 4.4 Uji Performansi Motor Pada grafik 3, nampak bahwa daya optimum dihasilkan oleh motor yang menggunakan bensin dengan konsentrasi MTBE 20% dimana angka oktannya 92.2 RON daya maksimum terjadi pada putaran 2500 Rpm. Jika konsentrasi MTBE ditambah sehingga menjadi 25%, walaupun angka oktan bahan bakarnya meningkat menjadi 93.7 RON dan sifat volatilitasnya semakin baik, tetapi justru daya optimum dari motor cenderung berada dibawah daya optimum motor yang menggunakan bensin dengan konsentrasi 20%. Hal ini diakibatkan karena angka oktan bensin dengan konsentrasi 25% MTBE terlalu tinggi dibandingkan dengan Oksigenat Methyl Tertiary Buthyl Ether Sebagai Aditif Octane Booster Bahan Bakar Motor Bensin (Philip Kristanto) Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/ 31 perbandingan kompresi pada motor uji (9.5), disamping itu kondisi ruang bakar, saluran masuk bahan bakar + udara (intake manifold) yang buruk serta ditunjang oleh terlalu majunya sudut pengapian (17 sebelum TMA). 0 2 4

6 8 10 12 14 16 18 20 1000 R pm1250 R pm1500 R pm1750 R pm2000 R pm2250 R pm2500 R pm2750 R pm3000 R pm Putaran Daya(Hp) 0 % MTBE 5 % MTBE 10 % MTBE 15 % MTBE 20 % MTBE 25 % MTBE Grafik 3. Daya Fungsi Putaran Pada grafik 4, ditunjukkan hubungan antara torsi sebagai fungsi dari putaran motor. Torsi optimum juga dihasilkan dalam penggunaan bensin + 20% konsentrasi MTBE, dimana torsi maksimumnya terjadi pada putaran 1500 Rpm. Nampak bahwa dengan penambahan konsentrasi MTBE pada bahan bakar semakin meningkatkan torsi yang dihasilkan oleh motor.

Khusus pada konsentrasi 25% MTBE terjadi penurunan torsi keluaran dari motor dibandingkan pada konsentrasi 20% MTBE. Hal ini terutama diakibatkan karena terlalu majunya sudut pengapian untuk mengimbangi perbandingan kompresi motor. 0 10 20 30 40 50 60 70 1000 Rpm 1250 Rpm1500 Rpm 1750 Rpm 2000 Rpm 2250 Rpm 2500 Rpm 2750 Rpm 3000 Rpm Putaran Torsi(N-m) 0 % MTBE 5 % MTBE 10 % MTBE 15 % MTBE 20 % MTBE 25 % MTBE Grafik 4. Torsi Sebagai Fungsi Putaran Motor 5. Kesimpulan Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:

Karena sifat volatilitas dan tekanan uap Reid yang dimiliki oleh senyawa Methyl Tertiary Buthyl Ether, maka senyawa tersebut memiliki kemampuan untuk berfungsi sebagai additivive otane booster guna meningkatkan angka oktan bahan bakar. Pada uji destilasi temperatur penguapan terendah untuk kondisi 10% penguapan (kondisi start dingin), 50% penguapan (kondisi warm-up) dan 90% penguapan (kondisi distribusi campuran udara bahanbakar di dalam silinder), maka campuran bensin + 25% MTBE (angka oktan 93.7 RON) sebagai campuran optimal. Tetapi hal ini tentunya harus disesuaikan dengan motor yang memiliki perbandingan kompresi tinggi. Dari hasil uji performansi pada motor bakar, daya dan torsi optimal dihasilkan pada bensin + 20% konsentrasi MTBE. Jika konsentrasi MTBE diperbesar menjadi 25% cenderung performansi semakin menurun dibandingkan dengan konsentrasi 20% MTBE. Daftar Pustaka 1. Edward F. Obert, Internal Combustion Engines and Air Polution. Harper & Row, Publisher, 1973. 2. Heywood, John B., Internal Combustion Engines. McGraw Hill, 1988. 3. Michael., Pengaruh Perubahan Konsentrasi Methyl tertiary Buthyl Ether Pada Gasolin Terhadap Unjuk Kerja Motor Bensin". Skeipsi: Jurusan Teknik Mesin U K Petra, 2000. 4. Sen S.P., Internal Combustion Engines Theory and Practise. Khanna Publisher Delhi, 1990. 5. Sugiarto., Pengaruh Napthalene dan MTBE Terhadap Sifat Volatilitas dan Angka Oktan. Skripsi: Jurusan Teknik Mesin U K Petra. 2000 6. Maleev V.L., Internal Combustion Engines.

McGraw Hill 1989

http://puslit.petra.ac.id/search_engine/cache/MES/MES020401/MES02040105.txt