Anda di halaman 1dari 8

2012

Teknik TSD Sebagai Pendekatan Tingkah Laku Anak Pada Perawatan Gigi
NAMA: THIVYAH THURUVAN NIM: 120600191

DOSEN PEMBIMBING: Essie Octiara, drg, Sp.KGA

ABSTRACT

KEYWORDS:

PENDAHULUAN Kebanyakan kanak-kanak sering berasa takut dan cemas ketika mengunjungi dokter gigi. Ketakutan adalah respon emosional individu terhadap ancaman atau bahaya yang dirasakan.[1] Kunci keberhasilan perawatan gigi pada anak selain ditentukan oleh pengetahuan klinis dan ketrampilan dokter gigi, sebagian juga ditentukan oleh kesanggupan anak untuk bekerjasama selama perawatan. Hal tersebut menyebabkan dokter gigi yang merawat pasien anak harus mampu melakukan pengelolaan perilaku agar pasien bersikap kooperatif. Pada umumnya, anak yang datang ke praktik dokter gigi berperilaku kooperatif dan dapat menerima perawatan gigi

dengan baik apabila diperlakukan dengan benar sesuai dengan dasar-dasar pengelolaan perilaku. Namun, sebagian anak berperilaku non kooperatif serta bersikap negatif pada perawatan gigi.

Dalam melakukan perawatan gigi anak, terdapat tiga komponen yang harus bekerja sama, agar perawatan dapat berlangsung dengan lancar. Komponen tersebut digambarkan dalam bentuk segitiga yang dikenal sebagai segitiga perawatan gigi anak. Pada segitiga tersebut, bagian sudutsudutnya ditempati oleh dokter gigi, keluarga (terutama ibu) dan anak sebagai pasien terletak pada puncak segitiga. Segitiga tersebut saling berhubungan secara dinamik (Koch & Poulsen, 1991). Masalah yang dihadapi oleh dokter gigi, pertama adalah anak dengan berbagai tingkah lakunya sesuai dengan perkembangan yang sedang berlangsung. Masalah kedua, yang terletak disudut lain adalah keluarga (terutama ibu) yang diharapkan memberi dukungan kepada dokter gigi dalam pelaksanaan perawatan gigi anaknya yang terkadang memerlukan perhatian khusus sebelum perawatan anak dimulai. Bimbingan yang benar terhadap perilaku anak ketika pengalaman perawatan gigi mempengaruhi kedua anak dan orang tua dalam sikap mereka terhadap kedokteran gigi.[2] Tujuan dokter gigi adalah untuk memimpin anak melalui pengalaman gigi yang menyenangkan sehingga ia menjadi pasien gigi yang baik, menerima pengobatan serta perawatan dengan positif dan menikmati kesehatan gigi yang baik sepanjang hidup.[2] Dokter gigi harus memberikan perawatan yang terbaik kepada pasien anak untuk memastikan perilaku anak pasien dapat dikendalikan.

Terdapat beberapa cara efektif yang boleh dilakukan oleh seorang dokter gigi untuk memastikan anak bersikap kooperatif dan menghilang rasa takut dalam diri mereka. Antaranya adalah seperti, pada kunjungan pertama, sebaiknya hanya untuk memperkenalkan pada anak bagaimana rasanya memeriksakan gigi dan memperlihatkan bahwa ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Namun terdapat juga cara yang lebih profuktif seperti teknik komunikasi, modeling, disentasi, teknik home, reinforcement, sedasi, hipnosis dan teknik TELL-SHOW-DO.

ISI TEKNIK TELL-SHOW-DO Teknik Tell-Show-Do telah diperkenalkan dan dikembangkan oleh Addelston pada tahun 1959 dan cara ini cukup sederhana dan efektif. Teknik ini menggunakan beberapa konsep teori belajar dan dapat disebut sebagai pembentukan perilaku. Metode Tell-Show-Do merupakan salah satu teknik popular yang menggunakan pendekatan informasi dan penjelasan. Esensi TSD adalah untuk memberitahu(tell) anak tentang perawatan yang akan dilakukan, untuk menunjukkan(show) kepadanya setidaknya beberapa bagian dari bagaimana hal itu akan dilakukan, dan kemudian melakukannya(do). Mengantisipasi emosi anak akan memungkinkan dokter gigi untuk menjelaskan prosedur yang harus dilakukan dan memberi sensasi kepada si anak tentang apa yang harus diharapkan.

Gambar 1: Dokter gigi sedang menjelaskan(tell) kepada pasien anak

PENATALAKSANAAN TEKNIK TELL-SHOW-DO Secara garis besar, prosedur TSD adalah seperti berikut: Dokter gigi akan menjelaskan(tell) tentang apa yang akan dilakukan dalam bahasa yang mudah difahami kepada anak pasien tersebut.[3] Hal ini dilakukan secara perlahan-lahan dan dengan pengulangan yang tepat agar anak pasien menyadari prosedur yang akan dilakukan. Penjelasan tidak perlu panjang lebar,

karena hal ini akan cenderung membingungkan anak dan mungkin membangkitkan kecemasan. Oleh itu, penjelasan harus sederhana dan sambil lalu. Langkah kedua adalah, dokter gigi akan menunjukkan(show) demonstrasi secara singkat dan benar, sehingga perawatan yang sesungguhnya dapat dilakukan tanpa tunda lagi.[3] Dokter gigi menunjukkan anak bagaimana ia akan melakukan prosedur, dengan menunjukkan pada dirinya sendiri atau pada objek yang tidak bernyawa untuk memastikan bahwa anak mendapat pemahaman yang lengkap. Langkah terakhir, adalah tanpa menyimpang dari penjelasan atau demonstrasi, praktisi secara langsung untuk melakukan operasi yang telah ditinjau.[3] Ketika menunjukkan kepada anak, dokter gigi harus sepenuhnya menyadari perannya sebagai transmitter. Setelah melalui prosedur TSD dengan baik , sebaiknya anak diberi penghargaan dan dilakukan penguatan terhadap perilaku yang sesuai.

CONTOH PENGGUNAAN TEKNIK TELL-SHOW-DO KEPADA PASIEN ANAK Misalnya, teknik tell-show-do boleh digunakan pada pasien anak ketika perawatan menggunakan analgesia local. Namun, untuk prosedur ini, dokter gigi tidak disarankan untuk memberikan penjelasan yang detail tentang penggunaan jarum suntik karena kebanyakan anak pasien akan berasa cemas ketika melihat jarum tersebut. Kebanyakan dokter gigi menganggap bahwa jarum tidak perlu diperlihatkan juga. Oleh sebab itu, anak diberi tahu bahwa gigi-giginya akan dibuat tidur, gulungan kapas digunakan untuk menunjukkan posisi suntikan anestesi dan setelah itu diinjeksi tanpa demostrasi lebih lanjut. Sepanjang prosedur ini, dokter gigi berusaha membuat anak berasa relaks dan nyaman, serta member pujian atas tingkah laku anak yang tepat dan kooperatif. Namun pada satu-satunya penelitian yang mengeveluasi pendekatan ini (Hewitt Anda dapat menggunakan sistem tiga-cabang kenyamanan dan manajemen perilaku dengan terlebih dahulu internalisasi sesuai dengan usia frase yang sesuai dengan usia pasien Anda. Kemudian menunjukkan, dalam hal anak-anak, apa yang terjadi dengan gigi anak menggunakan gambar, buku, model dan alat bantu lainnya sehingga mereka memiliki beberapa pemahaman tentang apa yang Anda lakukan untuk gigi mereka

PEMBAHASAN

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perasaan takut anak terhadap dokter gigi. Pada umumnya penyebab rasa takut dalam perawatan gigi pada anak timbul apabila anak melihat alatalat yang digunakan dan merasa seakan-akan alat perawatan tersebut boleh menyebabkan rasa sakit terhadap mereka.

Kecemasan pasien anak terhadap perawatan gigi juga sering kali timbul karena anak merasa takut berada di ruang praktik dokter gigi. Peranan dokter gigi disini memberi tahu anak bahwa rasa sakit tidak perlu ditakutkan, dokter gigi dapat menerangkan hal yang dapat mengurangi rasa takutnya sehingga tidak ada yang mengejutkan ketika perawatan dijalankan.

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa metode TSD dapat mengurangkan rasa takut dan cemas anak terhadap dokter gigi. Oleh itu penggunaan teknik TSD ini harus secara langkah demi langkah dan secara hati-hati agar pasien anak dapat mendapat gambaran atau garis besar tentang apa yang akan dilakukan dan bersikap berkooperatif ketika perawatan gigi dilakukan. Teknik TSD ini sememangnya menggambarkan kepada anak-anak apa yang akan terjadi, dan kemudian mengizinkan mereka untuk melihat, merasakan, mengeksplorasi, dan memanipulasi alat atau instrumen sebelum memulai prosedur. Pendekatan bertahap dalam pembentukan tingkah laku ini dapat menunda kemajuan perawatan, tetapi bila kerja sama yang penuh dari anak dapat diperoleh, penundaan ini tentu lebih bermanfaat karena waktu yang dilewatkan tersebut dapat dianggap sebagai investasi yang nyata.

KESIMPULAN

Kunci keberhasilan dokter gigi dalam menanggulangi pasien anak adalah pada kemampuannya untuk berkomunikasi dengan mereka dan menanamkan kepercayaan pada diri anak tersebut. Komunikasi dengan anak akan bertambah baik apabila dokter gigi mengetahui tingkat perkembangan diri psikologi anak. Metode TSD dapat digunakan pada anak muda yang tidak memiliki preconditioning gigi pada kunjungan pertama. Teknik ini juga dapat digunakan untuk anak yang takut akibat dari pengalaman yang menyakitkan sebelumnya dalam klinik gigi lain, serta untuk anak yang berasa cemas dan takut akibat dari informasi yang diterima dari orang tua atau teman sebaya. Metode ini memungkinkan anak untuk belajar asosiasi respon stimulus. Hal ini memungkinkan dokter gigi untuk menyelesaikan prosedurnya dengan benar

dan memberikan pengalaman yang memuaskan untuk individu. Anak yang mengunjungi dokter gigi untuk pertama kalinya akan mengalami pembentukan perilaku. Dengan pendekatan secara berurutan dan perilaku pemodelan yang tepat, dokter gigi dapat memimpin anak secara langkah demi langkah. Sebagai kesimpulannya, jelaslah bahwa penanganan rasa takut anak dalam

perawatan gigi dapat dilakukan dengan cara berkomunikasi yang baik dengan anak dan orang tuanya, mendekati anak, menjelaskan tentang prosedur perawatan yang akan dijalaninya, serta melakukan perawatan dengan singkat dan dalam waktu yang tepat agar anak tidak cepat bosan.

DAFTAR PUSTAKA 1. Treating Fearful Patients 2. Kennedy D.B. Paediatric Operative Dentistry. Bristol: John Wright & Sons LTD, 1976: 12-15 3. Ingersoll B.D. Behavioral Aspects In Dentistry. New York: Appleton-Century-Crofts. 1982: 117-119

Anda mungkin juga menyukai