Anda di halaman 1dari 13

HUKUM PENIKAHAN ISLAM Untuk Memenuhi Tugas Agama Islam Semester Ganjil

kelompok 5 Nama: Ratna Sari Desi Wahyuni Gilag Ramadhan Ika Syaputri M. Reza Ramadan Roy Juliawan Kelas: XII A2 Jabatan: Ketua Sekertaris Anggota Anggota Anggota Anggota

PEMERINTAH KOTA DINAS PENDIDIKAN SMA NEGERI 8 PONTIANAK TAHUN 2013

KATA PENGANTAR

Assallamualaikum Wr Wb Alhamdullilah, segala puji bagi allah SWT yang memberi rahmat dan hidayah kepada seluruh mahluknya, karena berkat rahmat dan hidayahnya akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Tidak lupa pula shalawat serta salam selalu kita limpahkan kepada junjungan kita yakni nabi Muhammad saw. Penulisan makalah ini berjudul hukum pernikahan dalam islam (munakat). Pada penyusunan makalah ini penulis banyak mendapatkan masalah, tetapi setelah mendapat bimbingan, dorongan, arahan. Sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan sangat penulis harapkan.

Pontianak, November 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Mengingat pernikahan merupakan sesuatu yang sangat saklar. Namun didalam pernikahan tidak boleh bermain-main karena akan berkaitan langsung dengan Allah. Yaitu menghalal kan pernikahan dan mengharamkan zina. Namun, di dalam pernikahan memiliki hukum dan syarat. Didalam pernikahan juga terdapat sesuatu yang penting yaitu Ijab Qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia yang diucapkan oleh kata-kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam.

1.2 permasalahan 1.2.1 Masalah umum: Bagaimanakah hukum pernikahan dalam islam? Dari masalah umum diatas dapat dirumuskan beberapa sub masalahi sebagai berikut: 1. 2. Bagaimanakah pengertian dan ketentuan pernikahan dalam islam? Apa sajakah yang menjadi penyebab putusnya pernikahan dan hikmah nya dalam i slam? 3. Apa saja ketentuan penikahan menurut UUD di Indonesia?

1.3 Tujuan 1. 2. 3. Untuk mengetahui pengertian dan ketentuan pernikahan dalam islam. Untuk mengetahui penyebab putusnya pernikan dalam islam. Untuk mengetahui dan memperoleh informasi ketentuan pernikahan menurut UUD di Indonesia

BAB II PEMBAHASAN A.Pengertian dan Ketentuan Pernikahan dalam Islam 2.1 Pengertian Pernikahan Pernikahan atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah lain juga dapat berarti Ijab Qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia yang diucapkan oleh kata-kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam. Kata zawaj digunakan dalam al-Quran artinya adalah pasangan yang dalam penggunaannya pula juga dapat diartikan sebagai pernikahan,Allah s.w.t. menjadikan manusia itu saling berpasangan, menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina. Dengan perkawinan orang dapat memnuhi tuntutan nasu seksualnya dengan rasa aman dan tenang, dalam suasana cinta kasih, dan ketenangan lahir dan batin. Firman Allah SWT : Dan diantara tanda tanda kekuasaaN-Nya ialah dia menciptkan istri istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. (Ar Rum/30:21).

2.2 Hukum Pernikahan Pernikah itu terkadang bisa mejadi sunnah(mandub), terkadang bisa menjadi wajib atau terkadang juga bisa menjadi sekedar mubah saja. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi makruh. Dan ada juga hukum pernikahan yang haram untuk dilakukan. Semua akan sangat tergantung dari kondisi dan situasi seseorang dan permasalahannya. Apa dan bagaimana hal itu bisa terjadi. mari kita bedah satu persatu.

2.2.1 Hukum Pernikahan Yang Wajib Menikah itu wjib hukumnya bagi seorang yang sudah mampu secara finansial dan juga sangat beresiko jatuh ke dalam perzinaan. Hal itu disebabkan bahwa menjaga diri dari zina

adalah wajib. Maka bila jalan keluarnya hanyalah dengan cara menikah, tentu saja menikah bagi seseorang yang hampir jatuh ke dalam jurang zina wajib hukumnya.

2.2.2 Hukum Pernikahan Yang Sunnah Sedangkan yang tidak sampai diwajibkan untuk menikah adalah mereka yang sudah mampu namun masih tidak merasa takut jatuh kepada zina. Barangkali karena memang usianya yang masih muda atau pun lingkungannya yang cukup baik dan kondusif. Orang yang punya kondisi seperti ini hanyalah disunnahkan untuk menikah, namun tidak sampai wajib. Sebab masih ada jarak tertentu yang menghalanginya untuk bisa jatuh ke dalam zina yang diharamkan Allah SWT. Bila dia menikah, tentu dia akan mendapatkan keutamaan yang lebih dibandingkan dengan dia diam tidak menikahi wanita. Paling tidak, dia telah melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak jumlah kuantitas umat Islam.

2 .2.3 Hukum Pernikahan Yang Haram Secara normal, ada dua hal utama yang membuat seseorang menjadi haram untuk menikah. Pertama, tidak mampu memberi nafkah. Kedua, tidak mampu melakukan hubungan seksual. Kecuali bila dia telah berterus terang sebelumnya dan calon istrinya itu mengetahui dan menerima keadaannya. Selain itu juga bila dalam dirinya ada cacat pisik lainnya yang secara umum tidak akan diterima oleh pasangannya. Maka untuk bisa menjadi halal dan dibolehkan menikah, haruslah sejak awal dia berterus terang atas kondisinya itu dan harus ada persetujuan dari calon pasangannya.Seperti orang yang terkena penyakit menular dimana bila dia menikah dengan seseorng akan beresiko menulari pasangannya itu dengan penyakit. Maka hukumnya haram baginya untuk menikah kecuali pasangannya itu tahu kondisinya dan siap menerima resikonya.

2.2.4 Hukum Pernikahan Yang Makruh Orang yang tidak punya penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuan untuk berhubungan seksual, hukumnya makruh bila menikah. Namun bila calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih dibolehkan bagi mereka untuk

menikah meski dengan karahiyah. Sebab idealnya bukan wanita yang menanggung beban dan nafkah suami, melainkan menjadi tanggung jawab pihak suami. Maka pernikahan itu makruh hukumnya sebab berdampak dharar bagi pihak wanita. Apalagi bila kondisi demikian berpengaruh kepada ketaatan dan ketundukan istri kepada suami, maka tingkat kemakruhannya menjadi jauh lebih besar.

2.2.5 Hukum Pernikahan Yang Mubah Orang yang berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah, maka bagi hukum menikah itu menjadi mubah atau boleh. Tidak dianjurkan untuk segera menikah namun juga tidak ada larangan atau anjuran untuk mengakhirkannya. Pada kondisi tengah-tengah seperti ini, maka hukum nikah baginya adalah mubah.

2.3. Rukun Nikah 1. 2. 3. 4. 5. Pengantin lelaki (Suami) Pengantin perempuan (Isteri) ada wali yang menikahkan Dua orang saksi lelaki Ijab dan kabul (akad nikah)

2.4 Syarat Pernikahan Syarat bakal suami Islam Lelaki yang tertentu Bukan lelaki mahram dengan bakal isteri Mengetahui wali yang sebenar bagi akad nikah tersebut

Bukan dalam ihram haji atau umrah Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan Tidak mempunyai empat orang isteri yang sah dalam satu masa Mengetahui bahawa perempuan yang hendak dikahwini adalah sah dijadikan isteri

Syarat bakal isteri Islam Perempuan yang tertentu Bukan perempuan mahram dengan bakal suami Bukan seorang khunsa Bukan dalam ihram haji atau umrah Tidak dalam idah Bukan isteri orang

Syarat wali Islam, bukan kafir dan murtad Lelaki dan bukannya perempuan Baligh Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan Bukan dalam ihram haji atau umrah Tidak fasik Tidak cacat akal fikiran,gila, terlalu tua dan sebagainya Merdeka Tidak ditahan kuasanya daripada membelanjakan hartanya

* Sebaiknya bakal isteri perlulah memastikan syarat WAJIB menjadi wali. Sekiranya syarat wali bercanggah seperti di atas maka tidak sahlah sebuah pernikahan itu. Sebagai seorang mukmin yang sejati, kita hendaklah menitik beratkan hal-hal yang wajib seperti ini. Jika tidak di ambil kira, kita akan hidup di lembah zina selamanya.

Syarat-syarat saksi Sekurang-kurangya dua orang Islam Berakal Baligh Lelaki Memahami kandungan lafaz ijab dan qabul Dapat mendengar, melihat dan bercakap Adil (Tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak berterusan melakukan dosa-dosa kecil) Merdeka

Syarat ijab Pernikahan nikah ini hendaklah tepat Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran Diucapkan oleh wali atau wakilnya Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti mutaah(nikah kontrak

e.g.perkahwinan(ikatan suami isteri) yang sah dalam tempoh tertentu seperti yang dijanjikan dalam persetujuan nikah muataah) Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu ijab dilafazkan)

Contoh

bacaan

Ijab:Wali/wakil

Wali

berkata

kepada

bakal

suami:"Aku

nikahkan/kahwinkan engkau dengan Diana Binti Daniel dengan mas kahwinnya/bayaran perkahwinannya sebanyak RM 3000 tunai". Syarat qabul Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan ijab Tiada perkataan sindiran Dilafazkan oleh bakal suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu) Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti mutaah(seperti nikah kontrak) Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu qabul dilafazkan) Menyebut nama bakal isteri Tidak diselangi dengan perkataan lain

* Contoh sebutan qabul(akan dilafazkan oleh bakal suami):"Aku terima nikah/perkahwinanku dengan Diana Binti Daniel dengan mas kahwinnya/bayaran perkahwinannya sebanyak RM 3000 tunai" ATAU "Aku terima Diana Binti Daniel sebagai isteriku". 2.5 Hikmah Pernikahan Cara yang halal dan suci untuk menyalurkan nafsu syahwat melalui ini selain lewat perzinahan, pelacuran, dan lain sebagainya yang dibenci Allah dan amat merugikan. Untuk memperoleh ketenangan hidup, kasih sayang dan ketenteraman Memelihara kesucian diri Melaksanakan tuntutan syariat Membuat keturunan yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Sebagai media pendidikan: Islam begitu teliti dalam menyediakan lingkungan yang sehat untuk membesarkan anak-anak. Anak-anak yang dibesarkan tanpa orangtua akan memudahkan untuk membuat sang anak terjerumus dalam kegiatan tidak bermoral. Oleh karena itu, institusi kekeluargaan yang direkomendasikan Islam terlihat tidak terlalu sulit serta sesuai sebagai petunjuk dan pedoman pada anak-anak

Mewujudkan kerjasama dan tanggungjawab Dapat mengeratkan silaturahim B. Penyebab Putusnya Pernikahan dan Hikmahnya Perkawinan dapat putus karena tiga hal yaitu karena (a) kematian, (b) perceraian dan (c) putusan pengadilan. Putusnya perkawinan karena perceraian.

Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah tidak berhasil didamaikan. Adapun alasan-alasan yang dapat dipergunakan untuk melakukan perceraian adalah :

a) Berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembubkan; b) Pergi selama dua tahun berturut-turut tanpa izin dan alasan yang sah c) Setelah perkawinan mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman yang lebih berat; d) Melakukan kekejaman atau penganiayaan berat; e) Mendapat cacad badan atau penyakit lain yang menyebabkan tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami atau isteri; f) Terjadinya perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus.

Catatan : Alasan perceraian dalam Pasal 116 KHI mencantumkan 6 hal yang tersebut dalam UUP, tetapi ada dua alasan tambahan yaitu: Suami melanggar talak dan peralihan agama (murtad yang menyebabkan terjadinya percekcokan).

2. Hikah Talak dan Rujuk a. Sebagai bukti keluwesan hukum Islam. b. sebagai bahan perenungan untuk berbuat lebih baik pada masa yang akan datang, karena dengan adanya perceraian pasangan suami istri dapat belajar banyak hal. c. hak kebebasan memilih benar-benar dihormati dalam islam, artinya ketika pasangan suami istri sudah tidak merasa cocok lagi, seseorang memiliki hak untuk berpisah.

C. Ketentuan Pernikahan Menurut Undang Undang di Indonesia SYARAT-SYARAT PERKAWINAN Pasal 6 1) Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.

2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua. (3) Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dimaksud ayat (2) pasal ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya. (4) Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu untuk menyatakan kehendaknya maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan, lurus ke atas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya. 5) Dalam hal ada perbedaan pendapat antara orang-orang yang dalam ayat (2), (3) dan (4), pasal ini atau salah seorang atau. di antara mereka tidak menyatakan pendapatnya, maka Pengadilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang melangsungkan perkawinan atas permintaan orang tersebut memberikan izin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang tersebut dalam ayat (2), (3) dan (4) pasal ini. (6) Ketentuan tersebut ayat (1) sampai dengan ayat (5) pasal berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain. BATALNYA PERKAWINAN Pasal 22 Perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak memenuhi, syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan Pasal 23

Yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan yaitu a. Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau isteri; b. suami atau isteri c. Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinanan belum diputuskan; d. Pejabat yang ditunjuk tersebut ayat (2) Pasal 16 Undang-undang ini dan setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut, tetapi hanya setelah perkawinan itu putus. PERJANJIAN PERKAWINAN Pasal 29 (1) Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua pihak atas persetujuan

bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh Pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut. (2) Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas hukum, agama

dan kesusilaan. (3) Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan (4) Selama perkawinan berlangsung tersebut tidak dapat diubah, kecuali bila dari kedua

belah pihak ada persetujuan untuk mengubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga. HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI-ISTERI Pasal 30 Suami isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.

Pasal 31 (1) Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. (2) Masing-masing pihak berhak untuk mlelakukan perbuatan hukum. (3) Suami adalah kepala keluarga dan isteri ibu rumah tangga. PUTUSNYA PERKAWINAN SERTA AKIBATNYA Pasal 38 Perkawinan dapat putus karena : a. kematian, b. perceraian c. atas keputusan Pengadilan.