Anda di halaman 1dari 15

KEBUTUHAN AKTUALISASI DIRI PADA LANSIA

Disusun untuk memenuhi penugasan dalam mata ajar Kebutuhan Aktualisasi Diri

DISUSUN Kelompok 4

Ambar Beby Septiani Candra Dewi Ratnasari Lidia Agustina Endar Giri Budiharto Nurul Hidayati Ulya Hikmawati

22020112140014 22020112140073 22020112130047 22020112120006 22020112140083 22020112140021

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2014

Aktualisasi Diri Aktualisasi diri adalah kemampuan individu untuk menunjukkan kepribadian yang sehat dengan gambaran diri yang baik, ideal diri yang sesuai dan realistik, harga diri yang tinggi, penampilan peran yang memuaskan dan identitas diri yang jelas. Konsep diri positif adalah kemampuan diri untuk berfungsi lebih efektif yang terlihat dari penguasaan lingkungan yang mempengaruhinya. Keracunan

identitas adalah merupakan suatu kegagalan individu untuk mengintegrasikan berbagai identifikasi masa kanak-kanak kedalam kepribadian psikososial dewasa yang harmonis. Depersonalisasi adalah suatu perasaan yang tidak realistis dan keasingan dari diri sendiri. Hal ini berhubungan dengan tingkat kecemasan atau panik dan kegagalan dalam pengujian realitas. Individu mengalami kesulitan untuk

membedakan diri sendiri dari orang lain, dan tubuhnya sendiri terasa tidak nyata dan asing bagi dirinya. Jika kebutuhan-kebutuhan dalam hierarki yang lebih rendah secara relatif telah dipenuhi, maka individu berupaya ke arah aktualisasi diri. Orang-orang muda mungkin tumbuh ke arah aktualisasi diri biasanya mereka harus mencapai kedewasaan sebelum mereka mempunyai rasa aktualisasi diri. Aktualisasi diri berarti bahwa individu secara relatif telah puas dengan sebagian besar aspek kehidupannya. Sebagian orang dewasa terus berupaya ke arah aktualisasi diri sepanjang hidup mereka; yang lainnya sudah sampai pada rasa pemenuhan atau pencapaian pada pertengahan hidupnya. Individu tersebut merasakan kesan telah mencapai tujuan dalam hidupnya dan telah mengembangkan kapabilitasnya hingga sempurna.1 Hierarki kebutuhan Maslow adalah model umum yang dapat diterapkan pada semua komponen proses keperawatan, terutama sekali untuk pengkajian dan memprioritaskan diagnosis keperawatan. Model ini dapat diterapkan pada klien individu dan keluarga. Meskipun perawat dapat membantu klien untuk memenuhi empat kebutuhan pertama, kebutuhan yang kelima, yaitu aktualisasi diri, biasanya terserah pada klien untuk memenuhinya setelah kebutuhan-kebutuhan lainnya terpenuhi.1 Kebutuhan Aktualisasi Model Perkembangan Erikson Tahap perkembangan integritas versus rasa putus asa pada tingkat lansia

Lansia, yang merasa puas dengan hidup dan maknanya dan berkeyakinan bahwa hidup telah terpuaskan dan berhasil, telah mencapai integritas. Rasa keputusasaan berkembang ketika orang dewasa tersebut merasa takut akan kematian dan menemukan kegagalan dalam diri orang lain.1 Definisi Lanjut Usia Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa, dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Lansia merupakan suatu proses alami yang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Dimasa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental, dan sosial secara bertahap. Menurut Reimer et al (1999); Stanley and Beare (2007), mendefinisikan lansia berdasarkan karakteristik sosial masyarakat yang menganggap bahwa orang telah tua jika menunjukkan ciri fisik seperti rambut beruban, kerutan kulit, dan hilangnya gigi. Dalam peran masyarakat tidak bisa lagi melaksanakan fungsi peran orang dewasa, seperti pria yang tidak lagi terikat dalam kegiatan ekonomi produktif, dan untuk wanita tidak dapat memenuhi tugas rumah tangga. Kriteria simbolik seseorang dianggap tua ketika cucu pertamanya lahir. Dalam masyarakat kepulauan Pasifik, seseorang dianggap tua ketika ia berfungsi sebagai kepala dan garis keturunan keluarganya. Glascock dan Feinman (1981); Stanley and Beare (2007), menganalisis kriteria lanjut usia dari 57 negara didunia dan menemukan bahwa kriteria lansia yang paling umum adalah gabungan antara usia kronologis dengan perubahan dalam peran sosial, dan diikuti oleh perubahan status fungsional seseorang. Batasan Lanjut Usia WHO (1999) menggolongkan lanjut usia brdasarkan usia kronologis/biologis menjadi 4 kelompok yaitu usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) berusia antara 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old) usia 75 sampai 90, dan usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun. Sedangkan Nugroho (2000) menyimpulkan pembagian umur berdasarkan pendapat beberapa ahli, bahwa yang disebut lanjut usia adalah orang yang telah berumur 65 tahun ke atas.

Menurut Prof. Dr. Koesmanto Setyonegoro, lanjut usia dikelompokkan menjadi usia dewasa muda (elderly adulthood), 18 atau 29-25 tahun, usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas, 25-60 tahun atau lanjut usia (geriatric age) lebih dari 65 tahun atau 70 tahun yang dibagi lagi dengan 70-75 tahun (young old), 75-80 tahun (old), lebih dari 80 (very old).

A. Tugas Perkembangan Lanjut Usia Lansia memiliki tugas perkembangan khusus seiring tahap kehidupannya. Hal ini dideskripsikan oleh Burnside (1979), Duvall (1977) dan Havighurst (1953) dikutip oleh Potter dan Perry (2005). Tujuh kategori utama tugas perkembangan lansia meliputi: 1. Menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan Lansia harus menyesuaikan dengan perubahan fisik seiring terjadinya penuaan system tubuh, perubahan penampilan dan fungsi. Hal ini tidak dikaitkan dengan penyakit, tetapi hal ini adalah normal. Bagaimana meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan pola hidup sehat. 2. Menyesuaikan terhadap masa pensiunan dan penurunan pendapatan Lansia umumnya pensiunan dari pekerjaan purna waktu, dan oleh karena itu mungkin perlu untuk menyesuaikan dan membuat perubahan karena hilangnya peran bekerja. Bagaimanapun, karena pensiunan ini biasanya telah diantisispasi, seseorang dapat berencana ke depan untuk berpartisipasi dalam konsultasi atau aktivitas sukarela, mencari minat dan hobi baru, dan melanjutkan pendidikannya. Meskipun kebanyakan lansia di atas garis kemiskinan, sumber financial secara jelas mempengaruhi permasalahan dalam masa pensiunan. Sekarang ini orang yang pensiunan akan mempunyai ketergantungan sosial, financial, selain juga kehilangan prestise, kewibawaan, peranan-peranan sosial, dan sebagainya, yang merupakan stress bagi orang-orang tua tadi. Untuk menghadapi masa pensiunan, dengan stress yang sekecil mungkin timbul suatu pemikiran dalam rangka masa persiapan pensiun tadi, yaitu mengadakan pensiun bertahap apa yang disebut stepwise employment plan (Nishio, 1997; dikutip oleh Darmojo dan Martono, 2004). Ini dikerjakan secara bertahap mengurangi jam dinas sambil memberikan persiapan-persiapan pengaturan ke arah macam pekerjaan yang akan dijalankan sesudah pensiunan. Hal ini dapat membantu lansia untuk beradaptasi dan menyesuaikan terhadap masa pensiun relatif lebih mudah.

3. Menyesuaikan terhadap kematian pasangan Mayoritas lansia dihadapkan pada kematian pasangan, teman, dan kadang anaknya. Kehilangan ini sering sulit diselesaikan, apalagi bagi lansia yang menggantungkan hidupnya dari seseorang yang meninggalkannya dan sangat berarti bagi dirinya. Dengan membantu lansia melalui proses berduka, dapat membantu mereka menyesuaikan diri terhadap kehilangan. 4. Menerima diri sendiri sebagai individu lansia Beberapa lansia menemukan kesulitan untuk menerima diri sendiri selama penuaan. Mereka dapat perlihatkan ketidakmampuannya sebagai koping dengan menyangkal penurunan fungsi, meminta cucunya untuk tidak memanggil mereka nenek atau menolak meminta bantuan dalam tugas yang menempatkan kemanan mereka pada resiko yang besar. 5. Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup Lansia dapat merubah rencana kehidupannya. Misalnya, kerusakan fisik dapat mengharuskan pindah ke rumah yang lebih kecil dan untuk seorang diri. Beberapa masalah kesehatan lain mungkin mengharuskan lansia untuk tinggal dengan keluarga atau temannya. Perubahan rencana kehidupan bagi lansia mungkin membutuhkan periode penyesuaian yang lama selama lansia memerlukan bantuan dan didukung professional perawatan kesehatan dan keluarga. 6. Mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang dewasa Lansia sering memerlukan penetapan hubungan kembali dengan anak-anaknya yang telah dewasa. Masalah keterbalikan peran, ketergantungan, konflik, perasaan bersalah, dan kehilangan memerlukan pengenalan dan resolusi. 7. Menentukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup Lansia harus belajar menerima aktivitas dan minat baru untuk mempertahankan kualitas hidupnya. Seseorang yang sebelumnya aktif secara sosial sepanjang hidupnya mungkin merasa relative mudah untuk bertemu orang baru dan mendapat minat baru. Akan tetapi, seseorang yang introvert dengan sosialisasi terbatas, mungkin menemui kesulitas bertemu orang baru selama pensiun. Dengan mengetahui tugas perkembangannya, orangtua diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan dan menurunnya kesehatan secara bertahap, mencari kegiatan untuk mengganti tugas-tugas terdahulu yang menghabiskan sebagian besar waktu kala masih muda. Bagi beberapa orang yang berusia lanjut, kewajiban untuk menghadiri rapat yang menyangkut kegiatan

sosial sangat sulit dilakukan karena kesehatan dan pendapatan mereka menurun setelah pensiun, mereka sering mengundurkan diri dari kegiatan sosial. Disamping itu, sebagian besar orang berusia lanjut perlu mempersiapkan dan menyesuaikan diri dengan peristiwa kehilangan pasangan, perlu membangun ikatan dengan anggota dari kelompok usia mereka untuk menghindari kesepian dan meneriman kematian dengan tentram. 8. Menemukan makna hidup B. Tipe-Tipe Lanjut Usia 1) Tipe arif bijaksana Kaya dengan hikmah pengalaman menyesuaikan diri dengan perubahan jaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, memenuhi undangan, dan menjadi panutan. 2) Tipe mandiri Mengganti kegiatan-kegiatan yang hilang dengan kegiatan-kegiatan baru, selektif dalam mencari pekerjaan, teman pergaulan, serta memenuhi undangan. 3) Tipe tidak puas Konflik lahir batin menentang proses ketuaan, yang menyebabkan kehilangan kecantikan, kehilangan daya tarik jasmaniah, kehilangan kekuasaan, status, teman yang disayangi, pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, menuntut, sulit dilayani dan pengkritik 4) Tipe pasrah Menerima dan menunggu nasib baik, mempunyai konsep habis gelap datang terang, mengikuti kegiatan beribadah, ringan kaki, pekerjaan apa saja dilakukan. 5) Tipe bingung Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa minder, menyesal, pasif, mental, sosial, dan ekonominya. Tipe ini antara lain: Tipe optimis Tipe konstruktif

C. Tipe Kepribadian Lanjut Usia Tipe kepribadian lanjut usia menurut Kuntjoro 2002 sebagai berikut: 1) Tipe kepribadian konstruktif (construction personality)

Orang ini memiliki integritas baik, menikmati hidupnya, toleransi tinggi dan fleksibel. Biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua. Tipe kepribadian ini biasanya dimulai dari masa mudanya. Lansia bisa menerima fakta proses menua dan menghadapi masa pensiun dengan bijaksana dan menghadapi kematian dengan penuh kesiapan fisik dan mental. 2) Tipe kepribadian mandiri (independent personality) Pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power syndrome, apalagi jika pada lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi. 3) Tipe kepribadian tergantung (dependent personality) Tipe ini biasanya dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan hidup yang ditinggalkan akan menjadi sedih yang mendalam. Tipe ini lansia senang mengalami pensiun, tidak punya inisiatif, pasif tetapi masih tahu diri dan masih dapat diterima oleh masyarakat. 4) Tipe kepribadian bermusuhan (hostile personality) Lanjut usia pada tahap ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang tidak diperhitungkan sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menurun. Mereka menganggap orang lain yang menyebabkan kegagalan, selalu mengeluh dan curiga. Menjadi tua tidak ada yang dianggap baik, takut mati, dan iri hati dengan yang muda. 5) Tipe kepribadian defensive Tipe ini selalu menolak bantuan, emosinya tidak terkontrol, bersifat kompulsif aktif. Mereka takut menjadi tua dan tidak menyenangi masa pensiun. 6) Tipe kepribadian kritik diri (self hate personality) Pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya. Selalu menyalahkan diri, tidak memiliki ambisi dan merasa korban dari keadaan.

D. Perubahan Pada Lanjut Usia 1. Perubahan Fisik


a. Perubahan pada kulit : kulit wajah, leher, lengan, dan tangan menjadi

lebih kering dan keriput, kulit di bagian bawah mata membentuk seperti kantung dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan

jelas, warna merah kebiruan sering muncul di sekitar lutut dan di tengah tengkuk.
b. Perubahan otot : pada umumnya otot orang berusia madya menjadi

lembek dan mengendur di sekitar dagu, lengan bagian atas, dan perut
c. Perubahan pada persendian : masalah pada persendian terutama pada

bagian tungkai dan lengan yang membuat mereka menjadi agak sulit berjalan
d. Perubahan pada gigi : gigi menjadi kering, patah, dan tanggal sehingga

kadang-kadang memakai gigi palsu


e. Perubahan pada mata : mata terlihat kurang bersinar dan cenderung

mengeluarkan kotoran yang menumpuk di susdut mata, kebanyakan menderita presbiop atau kesulitan melihat jarak jauh, menurunnya akomodasi karena menurunnya elastisitas mata
f.

Perubahan pada telinga : fungsi pendengaran sudah mulai menurun, sehingga tidak sedikit yang mempergunakan alat bantu pendengaran. mulai terjadi penurunan. Penurunan ini bisa berlangsung secara perlahan bahkan bisa terjadi secara cepat tergantung dari kebiasaan hidup pada masa usia muda.

g. Perubahan pada sistem pernafasan : nafas menjadi lebih pendek dan sering

tersengal-sengal, hal ini akibat terjadinya penurunan kapasitas total paruparu, residu volume paru dan konsumsi oksigen basal, ini akan menurunkan fleksibilitas dan elastisitas dari paru
h. Perubahan pada sistem syaraf otak : umumnya mengalami penurunan

ukuran, berat, dan fungsi contohnya kortek serebri mangalami atropi.


i.

Perubahan pada sistem cardiovascular : terjadi penurunan elastisitas dari pembuluh darah jantung dan menurunnya cardiac out put

j.

Penyakit kronis misal diabetes melistus (DM), penyakit cardiovaskuler, hipertensi, gagal ginjal, kanker, dan masalah yang berhubungan dengan persendian dan syara

2. Perubahan Kognitif 3. Perubahan Psikososial a. Pensiunan Pensiunan sering dikatakan secara salah dengan kepasifan atau pengasingan. Dalam kenyataannya pensiun adalah tahap kehidupan yang dicirikan oleh

adanya transisi dan perubahan peran yang menyebabkan stress psikososial. Usia wajib pensiun bervariasi contohnya Pegawai Negeri Sipil, mungkin pada usia 65 tahun, sedangkan pegawai federal tidak dipensiunkan sampai usia 70 tahun. Pada industry swasta hak pensiun biasanya antara 62 tahun dan 70 tahun, dan juga mungkin pensiun pada usia 55 tahun (Potter dan Perry, 2004). b. Perubahan aspek kepribadian Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga

menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat lansia menjadi kurang cekatan. Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia mengalami perubahan kepribadian. Menurut Kuntjoro (2002), kepribadian lanjut usia dibedakan menjadi 5 tipe kepribadian yaitu tipe kepribadian konstruktif (construction personality), mandiri (independent personalty), tipe kepribadian tergantung (dependent personalty), bermusuhan (hostile personalty), tipe kepribadian defensive, dan tipe kepribadian kritik diri (self hate personalty). c. Perubahan dalam peran sosial di masyarakat Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik, dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur, dan sebagainya. Sehingga sering menimbulkan

keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku negative seperti mudah menangis, mungurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil (Stanley dan Beare, 2007). d. Perubahan minat

Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minta. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat, terakhir kebutuhan terhadap kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri lansia untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Motivasi tersebut diperlukan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya. Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergatung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan yang diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ekonomi atau pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992). Dalam menghadapi perubahan tersebut dperlukan penyesuaian. Cirriciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979) di kutip oleh Munandar (1994) adalah: a. Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya. b. Penarikan diri ke dalam dunia fantasi. c. Selalu mengingat kembali masa lalu. d. Selalu khawatir karena pengangguran. e. Kurang ada motivasi. f. Rasa kesendirian karena berhubungan dengan keluarga kurang baik. g. Tempat tinggal yang tidak diinginkan. Dilain pihak cirri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: Minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini dan memiliki kekhawatiran minimal terhadap diri dan orang lain. Menurut Yani (1998) bahwa konsep diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Predisposisi.

Berbagai factor penunjang terjadinya perubahan konsep diri seseorang . Faktor ini dapat dibagi sebagai berikut: Faktor yang mempengaruhi harga diri yang meliputi: penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis kegagalan yangnberulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistik.Faktor yang mempengaruhi penampilan peran adalah stereotipik peran seks, tuntutan peran kerja dan harapan peran cultural.Faktor yang mempengaruhi identitas personal meliputi

ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan dari struktur social. 2. Faktor presipitasi Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh situasi yang dihadapi individu dan individu tidak mampu menyesuaikan. Situasi ataut stressor dapat mempengaruhi konsep diri dan komponennya. Stressor yang mempengaruhi gambaran diri adalah: 1) hilangnya bagian tubuh; 2) tindakan operasi; 3) proses patologi penyakit; 4) perubahan struktur dan fungsi tubuh; 5) proses tumbuh kembang; dam 6) prosedur tindakan dan pengobatan. Stressor yan mempengaruhi harga diri dan ideal diri adalah; 1) penolakan dan kurang pengaharagaan diri dari orang tua dan orang yang berarti; 2) pola asuh anak yan tidak tepat; 3) persaingan antar saudara; 4) kesalahan dan kegagalan yang terulang; 5) cita-cita yang tidak tercapai; dan 6) gagal bertanggung jawab terhadap dirinya. Sepanjang kehidupan seseorang sering mengalami transisi peran. Keliat (1994) mengidentifikasi tiga kategori transisi peran, yaitu: Transisi perkembangan Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap perkembangan harus dilalui individu dengan meyelesaikan tugas yang berbeda-beda. Hal ini dapat merupakan stressor bagi konsep diri. Transisi situasi

Transisi situasi terjadi sepanjan daur kehidupan seperti kelahiran dan kematian, dari sendiri kemudian menjadi berdua dengan pasangannya, atau ditinggal mati pasangannya. Perubahan-perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran, peran yang tidak jelas atau yang berlebihan. Transisi sehat-sakit Stressor pada tubuh dapat meyebabkan gangguan gmbaran diri dan berakibat perubahan konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua komponen konsep diri, yaitu gambaran diri, ideal diri, identitas diri, penampilan peran, dan harga diri. Masalah konsep diri dapat dicetuskan oleh factor psikologis, sosiologis atau fisiologis, namun yang lebih penting persepsi individu terhadap ancaman. Kebutuhan Aktualisasi Diri pada LanjutUsia Merupakan kebutuhan dasar yang paling tinggi dari hirarki Maslow, dimana kebutuhan ini akan terpenuhi jika kebutuhan dasar di bawahnya sudah terpenuhi dengan baik. Kebutuhan aktualisasi diri pada lansia menunjukkan bahwa seseorang telah mencapai potensi mereka secara optimal. Lansia yang telah teraktualisasi dirinya, adalah orang yang telah mampu menyelesaikan tugas-tugas sebelumnya dengan baik, memiliki kepuasan atas prestasinya, mampu menghadapi masalah secara realistis, walapun juga mengalami kegagalan/kekurangan sebelumnya. Aktualisasi diripada lansia terjadi pada saat terjadi keseimbangan antara kebutuhan dan tekanan, serta adanya kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan tubuh dan lingkungannya. Upaya yang Dilakukan Lansia dalam Menjalani Masa Tua 1. Menerima usia lanjut dengan lapang dada. Menerima perubahan dirinya dengan hati pasrah. Kenyataan bahwa dirinya menjadi tua diterima secara positif dengan senang hati untuk memasuki tingkatan hidup yang baru. 2. Berlatih melepaskan diri dan bijaksana Cara ini dilakukan dengan berlatih untuk memiliki sikap lepas bebas dari kehidupan duniawi dalam arti mengambil jarak dari segala milikNya,

untuk kemudian dapat memperoleh perspektif baru yaitu : hidup dengan arif, bijaksana, penuh cinta kasih dan pengertian kepada generasi muda. Hal ini bisa tercapai bila lansia memiliki kematangan jiwa dan kaya dengan pengalaman hidup 3. Berupaya menghadapi kesepian Upaya yang dilakukan dalam menghadapi kesepian adalah: a. Berusaha membuat dirinya bermanfaat bagi orang lain; b. Mengunjungi teman lansia yang hidup sendiri; c. Memperhatikan dan menghibur orang yang mengalami kesusahan; d. Bagi lansia yang sudah tidak dapat pergi kemana-mana, upaya ini dapat dilakukan melalui surat-menyurat dengan tulisan pendek atau melalui telepon,sehingga akan menyebabkan dirinya ikut terhibur; e. Membuka diri untuk bergaul; f. Melaksanakan ibadah nenurut agama yang dianutnya dengan tekun g. Menciptakan kegiatan/kesibukan yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki; h. Menemukan kembali minat dan bakat serta berprestasi i. Saat kekuatan jasmani mulai menyusut, ada potensi dan kekuatan dalam diri yang baru berkembang. Seseorang akhirnya menemukan dan mengembangkan bakat dan minatnya sehingga dapat berprestasi di berbagai bidang, misalnya seni, musik, sastra, agama, perkebunan, pertanian dan lain sebagainya. Peran Keluarga terhadap Aktualisasi pada Lansia Melakukan pembicaraan terarah Mempertahankan kehangatan keluarga Membantu melakukan persiapan makasnan bagi lansia Membantu dalam hal transportasi Membantu memenuhi sumber-sumber keuangan Memberikan kasih sayang Menghormati dan menghargai Bersikap sabar dan bijaksana terhadap perilaku lansia Menyediakan waktu serta perhatian

Jangan menganggapnya sebagai beban Memberikan kesempatan untuk tinggal bersama Mintalah nasehatnya dalam peristiwa-peristiwa penting Mengajaknya pada acara-acara keluarga Membantu mencukupi kebutuhannya Memberi dorongan untuk tetap mengikuti kegiatan-kegiatan diluar rumah termasuk pengembangan hobi Membantu mengatur keuangan Mengupayakan sarana transportasi untuk kegiatan mereka termasuk rekreasi Memeriksakan kesehatan secara teratur Memberi dorongan untuk tetap hidup bersih dan sehat Mencegah terjadinya kecelakaan, baik di dalam maupun di luar rumah. Pemeliharaan kesehatan usia lanjut adalah tanggung jawab bersama Memberi perhatian yang baik terhadap orang tua yang sudah lanjut, maka anak-anak kita kelak akan bersikap yang sama

Daftar Pustaka 1. Paula J. Christensen & Kenny W. Janet. 2009. Proses Keperawatan (Aplikasi Model Konseptual. Ed-4. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. 2.