Anda di halaman 1dari 28

Sistem Muskuloskeletal Ekstremitas Superior

Jonathan Karel Gunawan* 10-2010-245 Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA

*Alamat Korespendensi: Jonathan Karel Gunawan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510 No. Telp (021) 5694-2061, e-mail: karel_1992@yahoo.com

Sistem Muskuloskeletal pada Manusia


Rangka manusia dewasa tersusun dari tulang-tulang yang membentuk suatu kerangka tubuh yang kokoh. Tulang-tulang tersebut tersusun skeleton axiale yang dibagi atas ossa cranii (tulang tengkorak) sebanyak 29 tulang, columna vertebralis (tulang belakang) sebanyak 26 tulang, skeleton thoracis sebanyak 25 tulang. Skeleton appendiculare dibagi atas ossa membri superioris (anggota gerak atas) sebanyak 64 tulang, dan ossa membri inferioris (anggota gerak bawah) sebanyak 62 tulang, sehingga total tulang penyusun rangka manusia dewasa sekitar 206 tulang. Rangka manusia juga disusun atas persendian yang merupakan artikulasi dari dua tulang atau lebih. 1 Sistem rangka pada dasarnya memiliki fungsi untuk memberikan topangan dan bentuk pada tubuh, perlindungan yaitu melindungi organ-organ lunak yang ada dalam tubuh, pembentukan sel darah (hematopoiesis), tempat penyimpanan mineral, dan pergerakan. Pada fungsi pergerakan, tulang berartikulasi dengan tulang lain pada sebuah persendian dan berfungsi sebagai pengungkit. Otot-otot yang tertanam pada tulang akan berkontraksi sehingga kekuatan yang diberikan pada pengungkit menghasilkan gerakan. 1

Jaringan otot sendiri mencapai 40% sampai 50% berat tubuh, umumnya terdiri atas sel-sel kontraktil yang disebut serabut otot. Melalui konstraksi, sel-sel otot menghasilkan pergerakan dan melakukan pekerjaan. Selain fungsinya untuk pergerakan dengan tulang dan bagianbagian organ internal tubuh, otot juga berperan sebagai penopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh dalam posisi berdiri atau duduk terhadap gaya gravitasi. Otot juga memiliki peran dalam produksi panas sebagai hasil metabolisme dari kontraksi otot untuk mempertahankan suhu normal tubuh. 1 Gangguan pada sistem persarafan dapan mengganggu mekanisme kerja otot baik dalam melakukan kontraksi ataupun relaksasi. Salah satu gangguan mekanisme kerja otot akibat kerusakan sistem saraf pusat adalah penyakit parkinson. Penyakit ini mengakibatkan penderita tremor atau melakukan gerakan kontraksi otot berulang-ulang yang sulit dikendalikan terutama pada bagian ekstremitas superior atau anggota gerak atas. Melihat adanya permasalahan klinik berkaitan dengan mekanisme kerja otot, merupakan hal penting untuk mengetahui peranan serta mekanisme tulang dan otot dalam pergerakan. Dengan mengetahui kondisi normal pada sistem muskuloskeletal ekstremitas atas dan memahami mekanisme kerja otot dapat menjadi awal persiapan dalam menghadapi masalah klinik berkaitan dengan kerja otot.

Struktur Tulang Ekstremitas Superior


Tulang pada dasarnya dibagi menjadi tulang rawan (kartilago) dan tulang. Tulang rawan adalah bentuk jaringan ikat khusus terdiri dari sel-sel yang disebut kondrosit berasal dari kata Yunani chondros yaitu tulang rawan, dan kytos yaitu sel, tersebar berjauhan dalam matriks ekstrasel mirip jel padat yang tersusun atas serat dan substansi dasar. Jaringan ini tidak diterobos saraf atau pembuluh darah. Sel-selnya terisolasi dalam rongga kecil atau lakuna, mendapat makanan secara difusi melalui fase air dari matriks dari kapiler dalam jaringan sekitar tulang rawan (perikondrium) atau melalui cairan sinovial dari rongga sendi. Perikondrium merupakan selubung jaringan ikat padat yang mengelilingi tulang rawan di kebanyakan tempat. Perikondrium mengandung pembuluh darah yang memasok tulang rawan dan juga saraf serta pembuluh limfe. 2,3

Tulang rawan berfungsi untuk menyangga jaringan lunak. Dengan permukaannya yang licin dan lentur, tulang rawan merupakan peredam beraturan dan daerah pergeseran bagi sendi serta memudahkan pergerakan tulang. Tulang rawan juga penting untuk perkembangan dan pertumbuhan tulang-tulang panjang, baik sebelum ataupun sesudah lahir. Tulang rawan agak terbatas keadaannya dalam kehidupan pasca-lahir, namun tetap berperan penting dalam pertumbuhan memanjang tulang panjang ekstremitas. Bila tinggi dewasa telah tercapai, model tulang rawan dari tulang telah seluruhnya diganti oleh jaringan tulang kecuali lapisan yang bertahan seumur hidup pada permukaan dengan sambungan tulang lain. 2,3 Kolagen, asam hialuronat, proteoglikan, dan sejumlah kecil glikoprotein merupakan makromolekul utama yang terdapat di semua jenis matriks tulang rawan. Adanya variasi kebutuhan fungsional, tulang rawan berevolusi menjadi 3 bentuk dengan komposisi matriks yang bervariasi pula. Tulang rawan dapat dibedakan menjadi tulang rawan hialin, elastis dan fibrokartilago. 2,3 1. Tulang rawan hialin

Tulang rawan hialin merupakan betuk tulang rawa yang paling umum dijumpai. Tulang rawan hialin segar berwarna putih kebiruan dan bening. Pada embrio, tulang rawan berfungsi sebagai kerangka sementara, sampai tulang ini secara berangsur diganti oleh tulang sejati. Pada orang dewasa, tulang rawan hialin ditemukan di cincin trakea, hidung dan laring, permukaan sendi, dan ujung ventral iga yang menghubungkannya pada sternum, dan di lempeng epifisis yang berperan bagi pertumbuhan memanjang di tulang.

Dalam keadaan segar, matriks tulang rawan hialin berwarna kelabu-kebiruan. Tampaknya homogen dengan mikroskop cahaya, sebagaian karena substansi dasar dan serat kolagen di dalamnya mempunyai indeks refraksi hampir sama. 40% berat kering tulang rawan hialin terdiri atas kolagen yang terbenam dalam jel berhidrasi yang solid dari proteoglikan dan glikoprotein struktural. Tulang rawan terutama mengandung kolagen tipe II.

Kecuali tulang rawan sendi, semua tulang rawan hialin ditutupi selapis jaringan ikat padat, yaitu perikondrium. Perikondrium memiliki peranan penting untuk

pertumbuhan dan ketahanan tulang rawan. Tepat di bawah perikondrium dan di bawah permukaan bebas tulang rawan sendi, terdapat sel dilapisi lakuna lonjong dengan sumbu panjangnya paralel terhadap permukaan yang disebut dengan kondroblas. Sedangkan di bagian tulang rawan yang lebih dalam, berbentuk setengah bulatan atau bersiku merupakan sel tulang rawan yang sudah matang dan dewasa disebut kondrosit. Terdapat pula kondrosit yang telah mengalami pembelahan mitosis menjadi sekelompok sel yang dapat beranggotakan 8 sel. kelompok ini disebut isogen.

Gambar 1. Struktur Tulang Rawan Hialin 2

2. Tulang rawan elastis

Tulang rawan elastis ditemukan di aurikula telinga, dinding liang telinga, tuba auditoricus (eustachius), epiglotis, dan tulang rawan kuneiform dan kornikulata di laring. Berbeda dari tulang rawan hialin, matriks tulang rawan elastis cenderung lebih keruh, berwarna kekuningan karena adanya elastin dalam serat elastin, dan bersifat lebih fleksibel.

Tulang rawan elastis pada dasarnya identik dengan tulang rawan hialin kecuali kandungan serat elastin halus yang membentuk jalinan selain serabut kolagen tipe II. Kondrositnya serupa dengan tulang rawan hialin dan menempati lakuna tersebar satusatu atau dalam kelompok isogen. Matriksnya kurang banyak dibanding tulang rawan hialin dan sebagian besar substansinya terdiri atas serat elastin yang banyak bercabang. Sama seperti tulang rawan hialin, tulang rawan elastis juga memiliki perikondrium.

Gambar 2. Struktur Tulang Rawan Elastis 2

3. Fibrokartilago

Fibrokartilago merupakan jaringan intermediat antara jaringan ikat padat dan tulang rawan hialn. Jaringan ini ditemukan di diskus intervertebralis, di tempat perlekatan beberapa ligamen pada permukaan tulang rawan dari tulang, dan di simfisis pubis. Fibrokartilago selalu berhubungan dengan jaringan ikat padat, dan daerah perbatasan antara kedua jaringan ini tidak jelas.

Fibrokartilago mengandung kondrosit satu-satu atau dalam kelompok isogen, tersusun dalam barisan panjang yang dipisahkan oleh serat kolagen tipe I kasar. Pada fibrokartilago tidak dijumpai perikondrium. Sel-selnya terdapat dalam lakuna dengan simpai sangat tipis.

Tulang merupakan unsur pokok kerangka orang dewasa, jaringan tulang menyangga struktur berdaging, melindungi organ-organ vital, dan menampung sumsum tulang sebagai tempat sel darah dibentuk. Tulang juga berfungsi sebagai cadangan kalsium, fosfat, dan ion lain yang dapat dilepaskan atau disimpan dengan cara terkendali untuk mempertahankan konsentrasi ion tersebut dalam tubuh. Seperti jaringan ikat lainnya, tulang terdiri atas sel, serat, dan substansi dasar. Perbedaannya adalah adanya komponen ekstrasel yang mengapur menjadi substansi keras. 1-3 Secara makroskopik, tulang dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu tulang kompak (substansia kompakta) dan tulang spons atau kanselosa (substansia spongiosa). Baik tulang kompak maupun tulang spons saling berhubungan tanpa batas jelas. Jumlah tulang kompak dan tulang spons relatif bervariasi tergantung pada jenis tulang dan bagian yang berbeda dari tulang yang sama. 1-3 1. Tulang kompak merupakan jaringan yang tersusun rapat dan terutama ditemukan sebagai lapisan di atas jaringan tulang spons. Porositasnya bergantung pada saluran mikroskopik yang mengandung pembuluh darah (kanalikuli), yang berhubungan dengan saluran Havers.

2. Tulang spons tersusun dari batang-batang tulang halus dan ireguler yang bercabang dan saling bertumpang tindih untuk membentuk jaring-jaring spikula tulang dengan rongga-rongga yang mengandung sumsum.

Tulang panjang pada ekstremitas atas seperti humerus pada bagian batang atau diafisis tediri atas silinder berlubang tulang kompak berdinding tebal dengan rongga sumsum besar di pusat. Rongga sumsum berisi sumsum tulang kuning (adiposa) atau sumsum merah tergantung pada usia individu. Ujung tulang panjang terutama terdiri atas tulang spons yang ditutupi korteks tulang kompak tipis. Ruang antar trabekel tulang spons pada orang dewasa berhubungan langsung dengan rongga sumsum bagian batang. 1-3 Periosteum merupakan lapisan yang membungkus diafisis. Periosteum tersusun atas lapisan luar serat-serat kolagen dan fibroblas, lapisan dalam yang bersifat osteogenik (pembentuk tulang) terdiri atas satu lapisan tunggal osteoblas. Lapisan dalam periosteum terdiri atas selsel mirip fibroblas yang disebut osteoprogenitor. Sel ini berpotensi membelah secara mitosis dan berkembang menjadi osteoblas. Berkas serat kolagen periosteum disebut serat Sharpey, memasuki matriks tulang dan mengikat periosteum pada tulang. Periosteum berperan dalam pertumbuhan tulang dalam ukuran lebarnya dan untuk nutrisi tulang karena periosteum sangat tervaskularisasi serta sebagai jalur masuk pembuluh darah untuk menembus tulang. 1-3 Endosteum melapisi semua rongga dalam di dalam tulang dan terdiri atas selapis sel osteoprogenitor gepeng serta sejumlah kecil jaringan ikat. Lapisan endosteum lebih tipis daripada periosteum. Bagian pada tulang panjang yang membulat disebut epifisis. Tersusun atas tulang berongga yang dilapisi selapis tipis tulang kompakta. Bagian epifisis dibungkus oleh tulang rawan hialin sehingga memungkinkan bagian ini berartikulasi. Didukung dengan pelumas oleh cairan sinovial dari rongga persendian, memungkinkan terjadinya pergerakan sendi yang lancar. 1-3

Secara mikroskopik dapat dilihat bahwa kontribusi unsur sel dari tulang terhadap massa total sangatlah kecil. Sebagian besar terdiri atas matriks tulang yaitu substansi interstisial bermineral. Terdapat 3 jenis sel pada tulang yaitu osteosit, osteblas, dan osteoklas. 1-3 1. Osteoblas

Osteoblas bertugas atas sintesis komponen organik matriks tulang. Osteoblas hanya terdapat pada permukaan tulang. Bila osteoblas aktif menyintesis matriks, osteoblas memiliki bentuk kuboid sampai silindris. Bila aktivitas sintesisnya menurun, sel tersebut menjadi gepeng. Beberapa osteoblas secara berangsur dikelilingi oleh matriks yang baru terbentuk dan menjadi osteosit. Selama proses ini terbentuk rongga yang disebut lakuna. Lakuna dihuni osteosit beserta juluran-julurannya (kanalikuli) bersama dengan sedikit matriks ekstrasel yang tidak mengapur.

2. Osteosit

Sel utama tulang dewasa adalah osteosit. Osteosit, yang berasal dari osteoblas, terletak di dalam lakuna yang berada di antara lamela-lamela matriks. Hanya terdapat satu osteosit di dalam lakuna. Kanalikuli matriks silindris yang tipis mengandung tonjolantonjolan sitoplasma osteosit. Tonjolan dari sel-sel yang berdekatan saling berkontak melalui taut rekah dan molekul-molekul berjalan melalui struktur ini dari sel ke sel. Osteosit berbentuk gepeng dan memiliki sedikit retikulum endoplasma kasar, kompleks golgi serta kromatin inti yang lebih padat.

3. Osteoklas

Semur hidup, tulang tetap mengalami remodeling intern dan pembauran yang mencakup menghilangkan matriks tulang pada banyak tempat, diikuti dengan deposisi tulang baru. Dalam proses ini agen resorpsi tulang adalah osteoklas. Osteoklas adalah sel bercabang yang sangat besar. Bagian badan sel yang melebar mengandung 5 sampai 50 inti. Pada daerah terjadinya resorpsi tulang, osteoklas terdapat di dalam lekukan yang terbentuk sebagai akibat kerja enzim pada matriks yang dikenal dengan lakuna Howship.

Kira-kira 50% berat kering matriks tulang adalah bahan anorganik. Banyak dijumpai kalsium dan fosfor, magnesium, kalium dan natrium. Bahan organik dalam matriks tulang adalah kolagen tipe I dan substansi dasar, yang mengandung agregat proteoglikan dan beberapa glikoprotein struktural spesifik. 3

Gambar 3. Struktur Mikroskopis Tulang 3

Struktur Otot Ekstremitas Superior


Otot penyusun ekstremitas superior merupakan otot lurik. Otot rangka adalah serat otot, yaitu sel-sel silindris panjang multinuklear. Mereka jauh lebih besar daripada serat otot polos, panjang berkisar antara 10 sampai 30 cm dan berdiameter antara 0,1 sampai 0,5 mm. Seratserat paralel berkumpul membentuk berkas yang cukup besar untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Semakin besar otot maka semakin banyak pula jumlah serabutnya, misalkan otot biseps lengan pada lengan atas adalah otot yang besar dan tersusun dari 260.000 serabut sedangkan otot kecil seperti stapedius dalam telinga tengah hanya terdiri dari 1.500 serabut.
1,2

Sel-sel otot memiliki inti yang umumnya berbentuk lonjong, terdapat di tepian sel di bawah membran sel. Lokasi inti sel yang khas ini membantu membedakan otot rangka dari otot jantung dan otot polos dengan inti yang berada di tengah. 3 Lapisan jaringan ikat fibrosa membungkus setiap otot dan masuk ke bagian dalam untuk melapisi fasikel dan serabut individual. Jaringan ini menyalurkan impuls saraf dan pembuluh darah ke dalam otot dan secara mekanis mentransmisikan daya kontraksi dari satu ujung otot ke ujung lainnya. 1-3 1. Epimisium Merupakan jaringan ikat rapat yang melapisi keseluruhan otot dan terus berlanjut sampai ke fasia dalam.

2. Perimisium Mengacu pada ekstensi epimisium yang menembus ke dalam otot untuk melapisi berkas fasikel.

3. Endomisium Adalah jaringan ikat halus yang melapisi setiap serabut otot individual.

10

Sarkoplasma dipenuhi oleh berkas-berkas filamen silindris panjang yang disebut miofibril. Miofibril merupakan unit kontraktif yang mengalami spesialisasi, volumenya mencapai 80% volume serabut. Setiap miofibril silindris terdiri dari miofilamen tebal dan miofilamen tipis/ miofilamen tebal terdiri terutama dari protein miosin. Molekul miosin disusun untuk membentuk ekor berbentuk cambuk dengan dua kepala globular, mirip dengan tongkat golf berkepala dua. Miofilamen tipis terusun dari protein aktin. Dua protein tambahan pada filamen tipis adalah tropomiosin dan troponin melekat pada aktin. Komposisi miosin bersama aktin sebesar 55% dari komposisi protein total otot rangka. 1,3,4 1. Mikrofilamen tipis

a. Aktin Aktin dijumpai sebagai polimer berfilamen (aktin-F) panjang yang terdiri atas 2 untai monomer globular (aktin-G) yang saling berpilin dalam bentuk spiral ganda. Karakteristik yang terlihat pada semua molekul aktin-G adalah strukturnya yang asimetris. Bila molekul aktin-G berpolimerasi membenuk aktin-F, molekul tersebut akan terikat dari depan ke belakang dan menghasilkan suatu filamen dengan polaritas yang dapat dikenali. Setiap monomer aktin-G memiliki satu tempat pengikatan bagi miosin.

b. Tropomiosin dan Troponin

Tropomiosin, merupakan molekul halus yang memiliki 2 rantai polipeptida. Molekul ini tergabung pada kepala sampai ekor yang membentuk filamen yang berjalan di atas subunit aktin di sepanjang tepian luar alur yang berada di antara dua untai aktin yang terpilin. Troponin merupakan kompleks dari 3 subunit, TnT yang melekat erat pada tropomiosin, TnC yang terikat pada ion kalsium, dan TnI yang menghambat interaksi aktin-miosin.

11

2. Mikrofilamen tebal

Mikrofilamen tebal terdiri terutama dari miosin. Miosin merupakan kompleks yang berukuran lebih besar. Miosin dapat diuraikan menjadi 2 rantai berat yang identik dan 2 pasang rantai ringan. Rantai berat miosin adalah molekul berbentuk batang halus dan terdiri atas 2 rantai berat yang terpilin bersama. Tonjolan globulus kecil pada satu ujung setiap rantai berat membentuk kepala, yang memiliki tempat penggabungan ATP, selain kapasitas enzimatik untuk menghidrolisis ATP dan kemampuan untuk mengikat aktin. Seperti yang tampak dalam mikroskop cahaya, serabut otot yang terpotong memanjang memperlihatkan garis melintang dari pita terang dan gelap secara bergantian. Pemitaan pada otot ditentukan berdasarkan miofilamen. 1,3,4 1. Pita A

Pita yang lebih gelap disebut pita A (anisotrop, atau mampu mempolarisasi cahaya) terdiri dari susunan vertikal miofilamen tebal yang berselang-seling dengan miofilamen tipis.

2. Pita I

Pita yang lebih terang disebut pita I (isotrop, atau nonpolarisasi) terbentuk dari miofilamen aktin tipis yang memanjang ke dua arah dari garis Z ke dalam susunan filamen tebal. Dengan mikroskop elektron, setiap pita I terlihat disebelah dua oleh garis gelap melintang yaitu garis Z.

3. Garis Z

Garis Z terbentuk dari protein penunjang yang menahan miofilamen tipis tetap menyatu di sepanjang miofibril.

12

4. Zona H

Zona H adalah area yang lebih terang pada pita A miofilamen miosin yang tidak tertembus filamen tipis.

5. Garis M

Garis M membagi dua pusat zona H. Pembagian ini merupakan kerja protein penunjang lain yang menahan miofilamen tebal tetap bersatu dalam susunan.

6. Sarkomer

Sarkomer merupakan jarak antara garis Z ke garis Z lainnya, panjangnya 2,5 mikrometer pada otot yang sedang beristirahat.

Gambar 4. Struktur Mikroskopis Otot Lurik

13

Tulang dan Otot Ekstremitas Superior


Tulang-tulang ekstremitas atas terdiri atas skapula, klavikula, humerus, radius, ulna, 8 tulang karpal, 5 tulang metakarpal, dan 14 falanges. 1,5-7 1. Klavikula

Klavikula merupakan sebuah tulang panjang berbentuk huruf S. Klavikula terletak subkutan dan memindahkan tenaga dari lengan menuju skelet aksial. Secara lateral berartikulasi dengan prosesus akromion pada skapula membentuk artikulasio akromioklavikularis. Secara medial dengan manubrium membentuk sendi sterno klavikular. Dua pertiga bagian medial dari tulang klavikula berbentuk konveks, atau melengkung ke depan. Sepertiga bagian lateral tulang klavikula berbentuk konkaf atau melengkung ke belakang. Klavikula berfungsi sebagai tempat perlekatanan sebagian otot leher, toraks, punggung dan lengan.

Tlang ini mudah patah akibat benturan pada bahu karena ia tertekan antara sternum dan titik benturan. Ketika patah, fragmen lateral akan tertekan oleh beratnya lengan dan terdorong ke medial dan ke depan oleh otot aduktor yang kuat dari sendi bahu, khususnya m. Pectoralis major. Ujung medial tertarik ke atas oleh m. Sternocleidomastoideus.

Gambar 5. Tampak Superior dan Inferior Klavikula Sinistra 6

14

2. Skapula

Skapula atau tulang belikat adalah tulang pipih triangular dengan tepi vertebra (medial) yang panjang terletak paralel dengan kolumna vertebra, tepi superior yang pendek melandai ke arah ujung bahu, dan tepi lateral yang mengarah ke lengan. Skapula merupakan tempat perlekatan berbagai otot. Posisi skapula pada dinding toraks posterior dipertahankan oleh tonus dan keseimbangan otot-otot yang melekat padanya. Jika salah satu otot paralisis, kesimbangan akan terganggu seperti yang terjadi pada dropped shoulder yang terjadi karena paralisis m. Trapezius atau winged scapula yang terjadi karena paralisis m. Serratus anterior.

Bagian spina pada skapula adalah bubungan tulang yang berawal dari tepi vertebra dan melebar saat mendekati ujung bahu berakhir pada prosesus akromion. Prosesus akromion berartikulasi dengan klavikula. Prosesus korokoid adalah tonjolan berbentuk kait pada tepi superior yang berfungsi sebagai tempat perlekatan sebagian otot dinding dada dan lengan. Fosa glenoid adalah suatu ceruk dangkal yang ditemukan pada persendian tepi superior dan lateral. Bagian ini mempertahankan letak kepala humerus.

3. Humerus

Humerus merupakan tulang terbesar dan terpanjang pada ekstremitas atas. Ujung atasnya memiliki kepala membulat yang masuk dengan pas ke dalam rongga glenoid. Kaput humerus merupakan kaput bulat yang berartikulasi dengan glenoid. Kolum anatomikum memisahkan kaput dari tuberkulum majus dan minus. Kolum chirurgikum terletak di bawah kolum anatomikum antara ujung atas dan korpus humeri. Tuberkulum majus dan minus merupakan tempat perlekatan mm. Rotatores. Keduanya dipisahkan oleh sulkus intertuberkularis. Tampak sulkus nervi radialis yang halus di aspek posterior korpus humeri yang berjalan miring ke arah bawah lateral. Kaput lateral dan medial triseps memiliki origo di kedua sisi sulkus nervi radialis lewat di antara keduanya.

15

Bagian tengah batang tulang ke bawah adalah tuberositas deltoid kasar yang berfungsi untuk tempat perlekatan otot deltoid. Bagian jung bawah dari tulang humerus melebar dan masuk ke dalam tonjolan epikondilus medial dan lateral tempat asal otot-otot lengan atas dan tangan.

Pada artikulasio kubiti, troklea memiliki artikulasi pada insisura troklearis ulna dan kapitulum yang bulat dengan kaput radialis. Bagian artikular bersama dengan radius dan ulna membentuk sendi siku, bagian ini dibagi oleh sebuah alur dangkal menjadi kapitulum dan troklea. Bagian non-artikular mempunyai 2 epikondilus yang memberi tempat lekat bagi otot-otot, juga terdapat 2 cekungan dalam pada bagian posterior disebut fossa olekranon dan anterior disebut fossa koronoid.

Gambar 6. Tampak Posterior dan Anterior Skapula Sinistra dan Tampak Anterior dan Posterior Humerus Sinistra 6

16

4. Radius dan Ulna

Baik radius maupun ulna memiliki margo interoseus, anterior, dan posterior. Tendon biseps berinsersi dalam bagian posterior yang kasar pada tuberositas radii. Bagian anterior tuberositas ini halus dan dilapisi bursa. Kaput radius terletak pada ujung proksimal sedangkan kaput ulnaris terletak pada ujung distal. Ujung bawah radius berartikulasi dengan os skafoid dan os lunatum karpal pada pergelangan tangan. Bagian distal ulna tidak turut secara langsung pada pergelangan tangan.

Gambar 7. Radius dan Ulna Sinistra pada Supinasi dan Pronasi 6

17

5. Karpus

Tulang-tulang karpal tersusun dalam dua baris, masing-masing terdiri atas 4 tulang. Aspek palmaris karpal berbentuk konkaf. Bentuk ini disebabkan oleh bentuk-bentuk tulang pembentuknya dan retinakulum muskulorum fleksorum manus yang menjembatani tulang-tulang ini di sebelah anterior membentuk kanalis karpi. Tulang barisan proksimal adalah skafoid, lunatum, triquetrum, dan pisiforme. Tiga tulang yang pertama berartikulasi dengan radius. Tulang-tulang barisan distal terdiri dari trapezium, trapezoid, capitatum, dan hamatum.

6. Metakarpus

Tulang-tulang metakarpal adalah 5 tulang panjang mini yang terletak membujur di telapak tangan. Dasar tulang-tulang ini berartikulasi dengan barisan distal karpus, kepala tulang-tulang metakarpal berartikulasi dengan falang. Metakarpal pertama, yang berartikulasi dengan 2 falang pembentuk ibu jari dapat bergerak lebih bebas dibanding 4 metakarpal lain dan dapat dipertemukan dengan jari-jari lain sehingga meningkatkan tenaga genggaman.

7. Falanges

Tulang-tulang jari disebut falanges. Tulang tunggalnya sering disebut tulang falang. Setiap jari memiliki tiga tulang falang yaitu falang proksimal, medial, dan falang distal. Ibu jari hanya memiliki tulang falang proksimal dan medial.

18

Gambar 8. Tulang-Tulang Tangan Kiri 6

Pada ekstremitas atas dapat dijumpai beberapa sendi. 5,8 1. Articulatio Sternoklavikularis 2. Articulatio Acromioklavikularis 3. Sendi Bahu, articulatio humeri 4. Sendi Siku, articulatio humeroulnaris, articulatio humeroradialis, articulatio

radioulnaris proksimalis 5. Articulatio Radioulnaris Distal 6. Sendi Pergelangan Tangan, articulatio radiocarpalis, articulatio mediocarpalis 7. Sendi karpometakarpal ibu jari, articulatio carpometacarpalis pollicis 8. Sendi karpometakarpal (II-V), articulationes carpometacarpales (II-V) 9. Sendi metakarpofalangea, articulationes metacarpophalangeae 10. Sendi interfalangea jari tangan, articulationes interphalangeae manus

19

Otot-otot pada lengan dibagi menjadi beberapa bagian. 8 1. Otot lengan bagian ventral a. M. Biceps brachii b. M. Coracobrachialis c. M. Brachialis

2. Otot lengan bagian dorsal a. M. Triceps brachii b. M. Anconeus

3. Otot lengan ventral superfisial a. M. Pronator teres b. M. Flexor carpi radialis c. M. Palmaris longus d. M. Flexor digitorum superficialis e. M. Flexor carpi ulnaris

4. Otot lengan bawah bagian ventral profundus a. M. Flexor digitorum profundus b. M. Flexor policis longus c. M. Pronator quadratus

5. Otot lengan bawah bagian lateral (radial) a. M. Brachioradialis b. M. Extensor carpi radialis longus c. M. Extensor carpi radialis brevis

6. Otot lengan bawah bagian dorsal superfisial a. M. Extensor digitorum b. M. Extensor digiti minimi c. M. Extensor carpi ulnaris

20

7. Otot lengan bawah bagian dorsal profundus a. M. Supinator b. M. Extensor pollicis longus c. M. Extensor indicis d. M. Abductor policis longus e. M. Extensor pollicis brevis

8. Otot eminentia thenaris a. M. Abductor pollicis brevis b. M. Flexor pollicis brevis c. M. Opponens pollicis d. M. Adductor pollicis 9. Otot telapak tangan a. Mm. Lumbricales I-IV b. Mm. Interossei palmares I-III c. Mm. Interossei dorsales I-IV

10. Otot eminentia hypothenaris a. M. Palmaris brevis b. M. Abductor digiti minimi c. M. Flexor digiti minimi brevis d. M. Opponens digiti minimi

21

Mekanisme Kerja dan Metabolisme Otot


Otot merupakan transduser biokimia utama yang mengubah energi potensial (kimiawi) menjadi energi kinetik (mekanis). Otot merupakan jaringan tunggal terbesar di tubuh manusia, membentuk sekitar 25% massa tubuh saat lahir, lebih dari 40% pada orang dewasa muda, dan kurang dari 30% massa tubuh pada usia lanjut. 4 Bila miofibril diperiksa di bawah mikroskop elektron, tampak bahwa masing-masing miofibril terdiri atas 2 jenis filamen longitudinal yaitu filamen tebal dan filamen tipis. Filamen tebal terbatas di pita A mengandung terutama protein miosin. Filamen tipis terletak di pita I dan memanjang ke dalam pita A tetapi tidak sampai ke dalam zona H. Filamen tipis mengandung protein aktin, tropomiosin, dan troponin. Bagian miofibril yang terletak atara dua lempeng Z yang berurutan disebut sarkomer. 4,9 Hubungan bersebelahan antara filamen miosin dan aktin sulit dipertahankan. Hal ini dipertahankan oleh molekul protein berfilamen yang disebut titin. Molekul titin yang elastis ini berfungsi sebagai kerangka kerja yang menahan filamen miosin dan aktin agar tetap berada di tempat sehingga perangkat kontraksi sarkomer akan bekerja. 9 Secara umum mekanisme kontraksi otot dimulai dan berakhir dengan tahap-tahap sebagai berikut. 9,10 1. Suatu potensial aksi berjalan di sepanjang sebuah saraf motorik sampai ke ujungnya pada serabut otot. Tibanya impuls saraf pada pertautan neuromuskular mengakibatkan dilepaskannya substansi neurotransmitter berupa asetilkolin dalam jumlah sedikit di setiap ujung saraf.

2. Asetilkolin bekerja pada area setempat pada membran serabut otot untuk membuka banyak kanal bergerbang asetilkolin melalui molekul-molekul protein yang terapung pada membran. 3. Perubahan permeabilitas membran yang mengelilingi serabut otot mengakibatkan terbukanya kanal bergerbang asetilkolin sehing memungkinkan sejumlah besar ion natrium untuk berdifusi ke bagian dalam membran serabut otot. Peristiwa ini akan menimbulkan potensial aksi pada membran.

22

4. Potensial aksi akan berjalan di sepanjang membran serabut otot dengan cara yang sama seperti potensial aksi berjalan di sepanjang membran serabut saraf sehingga menimbulkan depolarisasi membran otot. Potensial aksi pada akhirnya menyebabkan lepasnya sejumlah besar ion kalsium yang tersimpan di dalam retikulum sarkoplasma. 5. Ion-ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filamen aktin dan miosin sehingga kedua filamen bergeser satu sama lain menghasilkan proses kontraksi. Setelah kurang dari satu detik, ion kalsium dipompa kembali ke dalam retikulum sarkoplasma dan ion-ion ini tetap tersimpan hingga potensial aksi otot yang baru datang lagi. Pelepasan ion kalsium dari miofibril menyebabkan otot berhenti berkontraksi. Pada keadaan istirahat, kepala miosin dihambat untuk berikatan dengan molekul aktin karena adanya dua protein lain pada filamen tipis yaitu tropomiosin dan troponin. Tanpa adanya miosin yang berikatan dengan aktin, energi dari ATP pada kepala miosin tidak dapat dilepaskan dan jembatan silang tidak dapat berayun sehingga otot tidak dapat berkontraksi.
9,11

Bila sebuah potensial aksi berjalan di sepanjang membran serabut otot, terjadi pelepasan ion kalsium dalam jumlah besar yang dengan cepat mengelilingi miofibril. Ion-ion kalsium kemudian akan mengaktifkan kekuatan di antara filamen aktin dan miosin sehingga mulai terjadi kontraksi. Setiap 4 ion kalsium dapat berikatan kuat dengan troponin C. Kompleks torponin ini akan mengalami perubahan bentuk yang menarik molekul tropomiosin dan memindahkannya lebih dalam ke lekukan antara dua untai aktin. Akibatnya sisi aktif aktin terbuka dan dapat menarik jembatan silang miosin sehingga terjadi kontraksi. Energi juga diperlukan untuk berlangsungnya proses kontraksi. Energi ini berasal dari ikatan berenergi tinggi dari molekul ATP yang berada di kepala miosin, ATP hanya dapat teraktivasi dan dipecah menjadi ADP dan energi ketika terjadi ikatan antara aktin dan miosin. 9

23

Untuk memenuhi kebutuhan ATP tersebut, serat-serat otot memiliki jalur-jalur alternatif untuk membetuk ATP. Terdapat 3 langkah berbeda pada proses kontraksi-relaksasi memerlukan ATP. 12 1. Penguraian ATP oleh ATPase miosin menghasilkan energi bagi jembatan silang untuk melakukan gerakan mengayun yang kuat.

2. Pengikatan molekul ATP segar ke miosin memungkinkan terlepasnya jembatan silang dari filamen aktin pada akhir gerakan mengayun sehingga siklus dapat diulang. ATP kemudian diurakan untuk menghasilkan energi bagi ayunan jembatan silang berikutnya. 3. Transportasi aktif ion-ion kalsium ke retikulum sarkoplasma selama relaksasi bergantung pada energi yang berasal dari penguraian ATP.

ATP merupakan satu-satunya sumber energi yang dapat secara langsung digunakan untuk aktivitas-aktivitas tersebut, ATP harus terus menerus diberikan agar aktivitas kontraktil dapat berlanjut. ATP tersebut bersumber dari pemindahan fosfat berenergi tinggi dari kreatin fosfat ke ADP, fosforilasi oksidatif (meliputi siklus asam sitrat dan sistem transportasi elektron), dan glikolisis. 4,9 Otot rangka mengandung banyak glikogen yang terdapat dalam granul dekat dengan pita I. Pembebasan glukosa dari glikogen bergantung pada glikogen fosforilase otot spesifik. Glukosa selanjutnya akan mengalami proses glikolisis dilanjutkan ke tahap fosforilasi oksidatif ketika pasokan oksigen dalam keadaan mencukupi. Selain itu dapat juga digunakan asam lemak yang berasal dari triasilgliserol jaringan adiposa untuk metabolisme aerob di otot ketika berada dalam masa relaksasi. 12

24

Gambar 9. Siklus ATP untuk Mekanisme Kerja Otot 4

Peranan Ganglia Basal dalam Kontraksi Otot


Istilah ganglia basal umumnya diberikan ke nucleus caudatus, putamen, dan globus pallidus yaitu 3 massa inti besar yang mendasari lapisan korteks serta substantia nigra dan nucleus subthalmicus yang berhubungan secara fungsional pada tiap sisi. Ganglia basalis, seperti serebelum, membentuk sistem asesori motorik lain ytang biasanya berfungsi tidak melalui diri sendiri tetapi berkaitan erat dengan korteks serebri dan sistem pengatur motorik kortikospinal. Pada kenyataannya sebenarnya ganglia basalis menerima sebagian besar sinyal input dari korteks serebri itu sendiri dan juga mengembalikan hampir seluruh sinyal outputnya ke korteks juga. 9,13 Ganglia basal memiliki peran untuk fungsi motorik yang terpisah dari fungsi motorik traktus piramidal. Istilah ekstrapiramidal menekankan perbedaan ini dan membutuhkan perhatian pada rangkaian penyakit neurologik yang disebabkan oleh lesi yang mengenai ganglia basal. Berlawanan dengan sistem piramidal, ganglia basal tidak memproyeksikan secara lagsung pada medula spinalis. 9

25

Prinsip utama ganglia basal dalam pengaturan motorik adalah kerjanya berkaitan dengan sistem kortikospinal untuk mengatur pola-pola aktivitas motorik yang kompleks. Misalkan pada waktu menulis huruf. Ketika terjadi kerusakan yang serius terhadap ganglia basal, sistem kortikal dari pengatur motorik tidak dapat lagi menyediakan pola-pola tersebut. Akibatnya adalah tulisan orang tersebut menjadi kasar seperti jika seorang baru pertama kali diajari bagaimana menulis. Pola lain yang memerlukan ganglia basalis adalah memotong kertas dengan menggunakan gunting, memotong kuku, menendang bola, memukul bola kasti, gerakan-gerakan mata yang terkendali, dan gerakan-gerakan terlatih lain. 9 Penyakit Parkinson atau yang dikenal juga sebagai agitans paralisis, digambarkan oleh James Parkinson. Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan yang luas pada bagian substansia nigra yang mengirim serabut-serabut saraf yang menyekresi dopamin ke nukleus kaudatus dan putamen. Penyakit ini ditandai dengan kekakuan pada banyak otot tubuh, tremor involuntar pada area yang terlibat, bahkan bila pasien dalam keadaan istirahat dan dalam kecepatan yang tetap yaitu antara 3 sampai 6 siklus per detik, disertai dengan kesulitan yang serius dalam memulai gerakan atau akinesia. Dopamin yang disekresikan dalam nukleus kaudatus dan putamen berfungsi sebagai transmiter inhibitor, oleh karena itu kerusakan neuron-neuron dopaminergik pada pasien parkinson secara teoritis akan menyebabkan nukleus kaudatus dan putamen menjadi sangat aktif dan kemungkinan menghasilkan sinyal output eksitasi yang terus menerus ke sistem pengatur motorik kortikospinal. Sinyal tersebut merangsang banyak otot hingga menimbulkan kekakuan. 9,13

26

Mekanisme kontraksi otot pada dasarnya terjadi dimulai dengan adanya rangsang pada saraf. Rangsang tersebut menyebabkan terjadinya pelepasan neurotransmitter pada ujung saraf berupa asetilkolin. Asetilkolin inilah yang menyebabkan munculnya rangsang pada sel-sel otot dan menimbulkan potensial aksi. Rangsang tersebut diteruskan dan menyebabkan terjadinya pelepasan ion-ion kalsium dari retikulum sarkoplasma. Ion-ion kalsium memiliki peran bersama dengan troponin untuk mengaktifkan aktin sehingga dapat berikatan dengan miosin dan memulai kontraksi. Pergerakan otot ekstremitas atas merupakan pergerakan yang dikendalikan oleh diri dalam keadaan sadar. Pergerakan tersebut dikendalikan oleh sistem saraf pusat untuk gerakan utama dibantu dengan bagian-bagian lainnya seperti ganglia basal untuk detail gerakan yang berpola dan lebih halus. Tremor yang terjadi pada ekstremitas atas disebabkan karena adanya gangguan pada ganglia basal. Ganglia basal memiliki peran dalam fungsi motorik yang terpisah dari fungsi motorik traktus piramidal. Ganglia basal mengatur pola-pola aktivitas motorik yang kompleks sehingga kelainan pada ganglia basal dapat menyebabkan gerakan motorik yang halus menjadi terganggu. Akibatnya, gerakan motoris menjadi kaku dan kasar sehingga ekstremitas tubuh dapat mengalami gangguan seperti kaku hingga kelainan seperti penyakit Parkinson.

27

Daftar Pustaka
1. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004.h.105-27. 2. Fawcett DW, Bloom. Buku ajar histologi. Edisi ke-12. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002.h.163-256. 3. Luiz CJ. Histologi dasar: teks & atlas. Edisi ke-10. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.h. 128-93. 4. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia harper. Edisi ke-27. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.h.582-99. 5. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.h.253-61. 6. Faiz O, Moffat D. Anatomy at a glance. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2004.h.58-61. 7. Watson R. Anatomi dan fisiologi untuk perawat. Edisi ke-10. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002.h.165-72. 8. Putz R, Pabst R. Sobotta: atlas anatomi manusia. Edisi ke-22, Jilid 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.h.185-213. 9. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.h.74-747. 10. Thomson H. Oklusi. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.h.567. 11. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.h.314-22. 12. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001.h.224-38. 13. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-22. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008.h.198-200.

28

Anda mungkin juga menyukai