Anda di halaman 1dari 4

I.

PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori Enumerasi adalah teknik perhitungan jumlah mikroba dalam suatu media tanpa mengidentifikasi jenis mikroba (bakteri, jamur, yeast) yang bertujuan untuk menentukan jumlah sel dari suatu kultur bakteri secara kuatitatif (Cappucino dan Sherman, 1983). Penetapan jumlah bakteri dilakukan dengan menghitung jumlah sel dari suatu kultur bakteri yang mampu membentuk koloni di dalam media biakan atau membentuk suspesi dalam larutan biak (Schlegel dan Schmidt, 1994). Analisis kuantitatif mikrobiologi pada bahan pangan ini penting dilakukan untuk mengetahui mutu bahan pangan dan menghitung proses pengawetan yang akan diterapkan pada bahan pagan tersebut (Fardiaz, 1992). Menurut Waluyo (2007), ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur atau menghitung jumlah jasad renik, yaitu dengan cara perhitungan jumlah sel (metode cawan hitung dengan pengenceran, hitungan mikroskopik dan MPN), dengan cara perhitungan masa sel secara langsung (metode volumetrik, gravimetrik dan turbidimetrik atau kekeruhan), dan dengan cara perhitungan massa sel secara tidak langsung (metode analisis komponen, analisis produk katabolisme dan analisis konsumsi nutrien). Menurut Pelczar dan Chan (2006), koloni yang tumbuh tampak oleh mata bugil dapat dihitung dengan asumsi bahwa satu koloni yang tumbuh berasal dari satu sel. Dalam metode ini perhitungan yang paling valid secara statistik adalah perhitungan koloni pada cawan yang memiliki koloni berkisar diantara 30-300 CFU/mL (Madigan, dkk., 1997). 1.2 1. 2. Tujuan Untuk mengetahui metode dan cara perhitungan koloni mikroba Untuk mengetahui jumlah sel mikroba yang terdapat dalam suatu sampel makanan dengan menggunakan metode pengenceran. 3. Untuk mengetahui hubungan faktor pengenceran dengan pertumbuhan koloni mikroba.

II.

MATERI DAN METODE

Sampel (jamu) ditimbang sebanyak 10 gram dan dilarutkan dalam 90 mL air. Dilakukan pengenceran dalam tabung reaksi hingga konsentrasi 10-3 dengan mengambil 1 mL sampel dilarutkan dalam 9 mL air. 1 mL sampel dengan konsentrasi 10-2 dan 10-3 yang homogen diambil dan ditempatkan pada cawan petri yang telah diberi label. Medium Nutrient Agar cair ditambahkan dalam kedua cawan petri dan digoyangkan pelan agar pertumbuhan mikroorganisme merata. Diinkubasi selama 1 hari. Jumlah koloni yang tumbuh dihitung.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan Tabel Hasil Pengamatan Terlampir 3.2 Pembahasan Praktikum kali ini bertujuan untuk menghitung jumlah mikroba yang terdapat pada masing-masing sampel dan mengisolasi suatu koloni mikroba. Sampel yang digunakan adalah jamu dari berbagai bahan alam. Metode yang dipilih dalam enumerasi ini adalah metode pengenceran, dimana dilakukan pengenceran hingga konsentrasi 10-3. Pada pengamatan, digunakan konsentrasi 10-2 dan 10-3 karena diduga koloni mikroba masih dapat dideteksi (Prescott et. al., 2003). Selama praktikum, pekerjaan dilakukan didekat nyala api. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir mikroorganisme/kontaminan yang dapat menggangu perhitungan. Sebelum dibuat konsentrasi yang lebih rendah, larutan dibuat homogen. Dalam perhitungan, sebaiknya hanya lempengan yang mengandung 30300 koloni saja yang digunakan dalam perhitungan. Lempengan dengan jumlah koloni yang sangat tinggi (>300) ataupun sangat rendah (<30) sulit untuk dihitung. Pengenceran sampel bertujuan untuk mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensikan dalam medium cair sehingga dapat mempermudah perhitungan. Pengenceran sampel membantu untuk memperoleh perhitungan jumlah yang

benar. Pengenceran yang kurang tinggi akan didapatkan jumlah koloni yang melebihi 300 koloni (Lay, 1994). Hasil praktikum menunjukkan bahwa jamu sirih mengandung total mikroorganisme 1,4 x 103 CFU/mL, jamu sambiloto 2 x 103 CFU/mL, campuran jamu atau jamu oplosan 0,6 x 103 CFU/mL, dan jamu temulawak 0,7 x 103 CFU/mL. Hampir seluruh sampel menunjukkan penurunan dengan peningkatan konsentrasi kecuali jamu kunyit. Jumlah bakteri meningkat dengan peningkatan tingkat pengenceran, dimana pada pengenceran 10-2 tidak terdapat mikroba, sedangkan pada pengenceran 10-3 terdapat 103 CFU/mL. Hal ini bertentangan dengan teori. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingkat kebersihan masing-masing sampel berbeda, terjadi kontaminasi karena tindakan yang kurang aseptis saat sampel dimasukkan ke dalam media/media yang digunakan kurang steril sehingga jumlah mikroba yang dihitung menjadi lebih banyak karena adanya bakteri kontaminan, serta kontaminasi aquades yang kurang steril (Hadioetomo, 1993). Lain halnya lagi pada jamu beras kencur, jumlah mikroorganisme yang diperoleh sangat banyak pada pengenceran 10-2 dan 10-3. Dari hasil ini, jamu beras kencur dapat disimpulkan memiliki mikroorganisme yang sangat banyak. Kelemahan metode hitungan cawan adalah hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya karena beberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk 1 koloni, medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda, serta memerlukan persiapan dan waktu inkubasi yang cukup lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung. Sedangkan kelebihan metode hitungan cawan adalah dapat langsung menghitung jumlah koloni, dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi suatu koloni (Fardiaz, 1992).

IV.

KESIMPULAN

4.1. Metode-metode enumerasi antara lain: metode pengeceran, metode perhitungan langsung dalam ruang hitung (Hemasitometer), metode membran filter, metode berat kering dan volume sel, metode MPN, dll 4.2. Dari masing-masing sampel diperoleh Hasil praktikum menunjukkan bahwa jamu sirih mengandung total mikroorganisme 1,4 x 103 CFU/mL, jamu sambiloto 2 x 103 CFU/mL, campuran jamu atau jamu oplosan 0,6 x 103 CFU/mL, jamu temulawak 0,7 x 103 CFU/mL, sedangkan jamu beras kencur menunjukkan jumlah mikroba yang sangat banyak (>300) dan jamu kunyit menunjukkan adanya kontaminan pada pengenceran ke 10-3. 4.3. Semakin tinggi pengenceran yang dilakukan, semakin sedikit jumlah mikroba yang dapat tumbuh

DAFTAR PUSTAKA Cappuccino, J. G. dan N. Sherman. 1983. Microbiology: A Laboratory Manual. Massachusetts: Addison-Wesley Publishing Company. Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hadioetomo, R. S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Lay, B.W. 1994. Analisis Mikroba dalam Laboratorium. Jakarta: Raja Grafindo Persada Prescott, L.M., J.P. Harley, and D.A. Klein. 2003. Microbiology. Edisi Kelima. Singapura: McGraw Hill. Madigan, M. T., J. M. Martinka, dan J. Parker. 1997. Biology of Mcroorganism. Edisi Ke-8. New Jersey: Prentice Hall International, Inc. Pelczar, M. J. dan E. C. S. Chan. 2006. Dasar-Dasar Mikrobiologi I. Jakarta: University of Indonesia Press. Schlegel, H. G. dan K. Schmidt. 1994. Mikrobiologi Umum Edisi Keenam. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.