Anda di halaman 1dari 6

TEORI KLASIK Dimaknai sebagai teori yang mengawali munculnya berbagai studi kemasyrakatan, kemudian teori ini juga

menjadi dasar bagi munculnya teori-teori yang lain sesudahnya. Kajian mengenai sosiologi sebenarnya sudah dimulai sejak abad ke-14, di awali dengan pemikiran Ibnu Khaldun (lahir tahun 1332). Pemikiran Khaldun juga dikenal dengan disiplin ilmu politik, agama, sejarah, dan filsafat. Setelah itu di lanjutkan pemikiran tokoh-tokoh yang lain seperti Comte, Marx, Spencer, Durkheim, dan Weber.

Berikut tokoh-tokoh teori sosiologi klasik beserta pemikirannya : A. Ibnu Khaldun Khaldun adalah pemikir atau ilmuwan muslim yang pemikirannya dianggap murni dan baru pada zamannya. Buku karyanya yang berjudul Muqaddimah cukup banyak memberikan dasar bagi lahirnya disiplin sosiologi. Manusia menurut Khaldun dalam bukunya tersebut pada dasarnya di ciptakan sebagai makhluk sosial. Dalam mengajarkan tentang masyarakat dan sosiologi Khaldun menekankan pentingnya menghubungkan pemikiran sosiologi dan observasi sejarah. Dia juga memusatkan perhatian pada berbagai lembaga sosial dan hubungan antara lembaga sosial itu. Selain itu Khaldun tertarik untuk melakukan studi perbandingan antara masyarakat primitif(masyarakat badui) dan modern(masyarakat kota). Masyarakat badui yang sederhana dinilai memiliki solidaritas yang sangat kuat. Sedangkan masyarakat kota yang hidup mewah kehidupan mereka cenderung individualis.

B. Auguste Comte Comte adalah seorang ahli fisika dari perancis yang dikenal sebagai bapak sosiologi . Comte adalah pengikut aliran positivisme. Kelompok yang mempercayai bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam, untuk itu metode-metode penelitian empiris dapat digunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial dalam masyarakat. Comte menyebut sosiologi sebelumnya adalah fisika sosial. Ilmu baru yang didalamnya mempelajari statika dan dinamika sosial.

Statika sosial adalah kajian terhadap bangunan struktur sosial dalam masyarakat yang relatif tetap dalam waktu yang lama. Dinamika sosial adalah studi mengenai tata urutan perkembangan manusia yang mengacu pada perubahan sosial dalam masyarakat. Comte dengan menggunakan metode penelitian empiris berusaha merumuskan perkembangan masyarakat yang bersifat evolusioner menjadi tiga tahapan yaitu, pertama tahap teologis, merupakan periode paling lama dalam sejarah manusia. Pada tahap ini manusia dan semua fenomena diciptakan oleh zat adikodrati, ditandai dengan kepercayaan manusia pada kekuatan jimat. Kedua tahap metafisik, ditandai oleh keyakinan bahwa kekuatan abstraklah yang menerangi segala sesuatu. Ini merupakan tahap transisi dari tahap teologis ke tahap positivistik. Ketiga tahap positivistik yang ditandai oleh keyakinan manusia terhadap ilmu sains.

C. Karl Marx Pemikiran Marx mengenai perubahan sosial mendapat pengaruh dari Imanuel kant dan hegel. Menurut Kant , manusia berawal dari sebuah kesempurnaan, tapi kemudian masuk kedalam dunia yang penuh keterbatasan,kotor,dan tidak suci. Menurut Hegel, kehidupan bergerak dari sesuatu yang tidak sempurna menuju kesempurnaan melalui kontradiksi. Menurut Marx, kontradiksi harus juga terjadi dalam tingkat materi. Ide tidak mampu menggambarkan kenyataan empiris dalam masyarakat. Ia juga menambahkan bahwa sebenarnya yang mengubah masyarakat bukan ide tetapi materi. Pandangan ini dikenal dengan konsep materialisme historis, yang memiliki pandangan bahwa manusia ditentukan oleh kedudukan materinya. Menurut Marx setiap masyarakat ditandai oleh suatu infrastruktur dan suprastruktur . infrastruktur dalam masyarakat berupa struktur ekonomi. Proses produksi yang terjadi dalam struktur ekonomi melibatkan dua kelas yang saling bertentangan, yaitu kelas borjuis dan proletar. Kelas borjuis merupakan kelompok pemilik modal, sedangkan kelas proletar merupakan kelompok pekerja yang bergantung pada kelas borjuis. Kedua kelas tersebut dalam praktiknya mengandung kontradiksi, yaitu pertentangan antara kelas borjuis yang dalam praktiknya justru telah melakukan penindasan terhadap kelas proletar.

Pemikiran Marx sangat terpusat pada struktur kapitalisme dan penindasannya terhadap buruh. Secara politis perhatiannya tertuju pada upaya untuk membebaskan manusia dari penindasan struktur kapitalisme.

D. Herbert Spencer Pemikiran Spencer diawali dengan suatu pandangan bahwa masyarakat adalah sebuah organisme. Masyarakat sebagai organisme biologis menurut Spencer dimaknai sebagai sesuatu yang selalu tumbuh dan berkembang melalui proses evolusi. Pandangan Spencer mengenai perkembangan masyarakat, memusatkan perhatian pada pertambahan jumlah kuantitas dan kualitas hubungan antarbagian dalam sistem. Spencer menjelaskan bahwa hukum perkembangan organisme tersebut berlaku secara umum. Setiap perkembangan akan menyangkut evolusi diri dari yang sederhana menjadi sesuatu yang kompleks. Spencer menggambarkan perkembangan masyarakat dari tipe masyarakat yang homogen menuju masyarakat yang tipe heterogen. Ini dianalogikan dengan tipe masyarakat primitif (yang homogen) dan modern (heterogen). Evolusi sosial menurut Spencer berlangsung melalui diferensiasi struktural dan fungsional sabagai berikut: pertama, dari sederhana menuju kompleks. Kedua, dari tanpa bentuk yang dapat dilihat keterkaitan bagian-bagian. Ketiga, dari keeragaman, homogenitas ke spesialisasi, heterogenitas. Keempat, dari

ketidakstabilan ke kestabilan.

E. Emile Durkheim Pemikiran Durkheim didasari pada gejala sosialyang terjadi pada masa revolusi industri di Inggris, ia mengamati perubahan sosial dari masyarakat tradisional menuju masyarakat industri. Menurutnya, pembagian kerja pada masyarakat tradisional masih sangat sedikit sedangkan pada masyarakat industri pembagian kerjanya sangat kompleks.

Pembagian kerja dalam masyarakat berhubungan langsung dengan kepadatan moral atau dinamika suatu masyarakat. Ia menjelaskan adanya dua tipe solidaritas sosial yang dikaitkan dengan tingkat pembagian kerjadalam masyarakat.

Pembagian kerja yang rendah akan menghasilkan tipe solidaritas mekanik, sedangkan pada masyarakat dengan pembagian kerja yang kompleks akan menghasilkan pembagian kerja yang organik. Dalam the rule of sociological method Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fakta sosial.fakta sosial dianggap sebagai kekuatan dan struktur yang bersifat eksternal dan memaksa individu. Durkheim juga mengembangkan pandangan sosiologi tersendiri dan mencoba menunjukan kegunaannya dalam studi ilmiah tentang bunuh diri.

F. Max Weber Teori Weber dasarnya adalah teori tentang proses rasionalisasi. Weber juga menyebutkan adanya empat tipe rasionalitas yang mewarnai ;perkembangan manusia. Pertama, rasionalitas tradisional, rasionalitas afektif, rasionalitas yang berorientasi pada nilai, dan rasionalitas instrumental. Weber memberikan perhatian pada perkembangan kapitalisme di Jerman. Menurutnya perkembangan kapitalisme merupakan sebuah wujud perkembangan rasionalitas manusia. Etika protestan menurut Weber adalah penggerak

berkembangnya kapitalisme di Barat. Etika ini mengajarkan pada pemeluknya untuk dapat mencapai kesuksesan di dunia, manusia harus bekerja keras. Orang yang tidak mau bekerja keras dianggap mengingkari agamanya. Proses inilah yang menurut Weber dimaknai sebagai sebuah tindakan rasional.

DAFTAR PUSTAKA

Martono, Nanang. 2012. Sosilogi Perubahan Sosial. Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada

Ritzer, G. & Goodman, D.J. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana

Johnson, D.J. 1986. Teori Sosiologi Klasik Dan Modern. Jakarta: Gramedia

TUGAS TEORI SOSIOLOGI


(REVIEW TEORI KLASIK DARI PARA TOKOH-TOKOH SOSIOLOGI)

Oleh : SOFYAN PERDANA SAPUTRA 120910301095

JURUSAN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS JEMBER 2012/2013