Anda di halaman 1dari 3

Perlawanan Rakyat Maluku Terhadap VOC dan Hindia Belanda Sejak lama perdagangan di Maluku telah berlangsung secara

bebas. Sejak kedatangan bangasa barat atau Eropa menimbulkan corak perdagangan lain. Mereka memaksakan sistem monompoli. Rakyat Hitu sangat menentang sistem monopoli ini yang dipaksakan VOC. Sejak tahun 1618 VOC mulai memaksakan sistem monopoli perdagangan. Namun, pedagang-pedagang Jawa dan Makasar tetap masih bisa mengadakan kegiatan perdagangan karena keterampilan mereka melewari pengawasan Belanda di maluku. VOC melakukan pelayaran Hongi dan memusnahkan rempah-rempah dengan cara menebang pohon rempah-rempah tersebut. Rempah-rempah yang dihancurkan ini disebut dengan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi ini menjadi pelayaran tahunan yang dilakukan VOC untuk memelihara monopoli perdagangan agar harga rempah-rempah tetap stabil di pasaran. Kapal-kapal yang digunakan untuk melakukan pelayaran hongi ini harus disiapkan oleh penduduk. Karena tindakan kasar dari VOC inilah yang menimbulkan pemberontakan rakyat Maluku, sehingga raja Ternate yang biasanya menjadi sekutu VOC sekarang memusuhi VOC dan penduduk Irian sampai Jawa telah diminta bantuan untuk mengusir VOC dan orang-orang asing lainnya yang dtang ke Nusantara. Pada tahun 1635 muncul perlawanan rakyat Maluku terhadap VOC di bawah pimpinan Kakiali, Kapten Hitu. Perlawanan segera meluas ke berbagai daerah. Oleh karena kedudukan VOC terancam, maka Gubernur Jederal Van Diemen dari Batavia dua kali datang ke Maluku (1637 dan 1638) untuk menegakkan kekuasaan Kompeni. Untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku, Kompeni menjanjikan akan memberikan hadiah besar kepada siapa saja yang dapat membunuh Kakiali. Akhirnya seorang pengkhianat berhasil membunuh Kakiali. Dengan gugurnya Kakiali, untuk sementara Belanda berhasil mematahkan perlawanan rakyat Maluku, sebab setelah itu muncul lagi perlawanan sengit dari orang-orang Hitu di bawah pimpinan Telukabesi. Perlawanan ini baru dapat dipadamkan pada tahun 1646. Pada tahun 1650 muncul perlawanan di Ambon yang dipimpin oleh Saidi. Perlawanan meluas ke daerah lain, seperti Seram, Maluku, dan Saparua. Pihak Belanda agak terdesak, kemudian minta bantuan ke Batavia. Pada bulan Juli 1655 bala bantuan datang di bawah pimpinan Vlaming van Oasthoom dan terjadilah pertempuran sengit di Howamohel. Pasukan rakyat terdesak, Saidi tertangkap dan dihukum mati, maka patahlah perlawanan rakyat Maluku. Sampai akhir abad ke-17 tidak ada lagi perlawanan menentang VOC. Pada akhir abad ke-18, muncul lagi perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Jamaluddin, namun segera dapat ditangkap dan diasingkan ke Sailan (Sri Langka). Menjelang akhir abad ke-18 (1797) muncullah perlawanan besar rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Nuku dari Tidore. Sultan Nuku berhasil

merebut kembali Tidore dari tangan VOC. Akan tetapi setelah Sultan Nuku meninggal (1805), VOC dapat menguasai kembali wilayah Tidore. Tidakan sewenang-wenang yang dilakukan VOC di Maluku kembali dilanjutkan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda setelah berkuasa kembali pada tahun 1816 dengan berakhirnya pemerintah Inggris di Indonesia tahun 1811-1816. Berbagai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda di bawah ini menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat Maluku. Hal-hal tersebut adalah : a. Penduduk wajib kerja paksa untuk kepentingan Belanda misalnya di perkebunan-perkebunan dan membuat garam. b. Penyerahan wajib berupa ikan asin, dendeng dan kopi. e. Banyak guru dan pegawai pemerintah diberhentikan dan sekolah hanya dibuka di kota-kotabesar saja. d. Jumlah pendeta dikurangi sehingga kegaitan menjalankan ibadah menjadi terhalang. e. Secara khusus yang menyebabkan kemarahan rakyat adalah penolakan Residen Van den Berg terhadap tuntutan rakyat untuk membayar harga perahu yang dipisah sesuai dengan harga sebenarnya.Tahun 1817 rakyat Saparua mengadakan pertemuan dan menyepakati untuk memilih Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura) untuk memimpin perlawanan. Keesokan harinya mereka berhasil merebut benteng Duurstede di Saparua sehingga residen Van den Berg tewas. Selain Pattimura tokoh lainnya adalah Paulus Tiahahu dan puterinya Christina Martha Tiahahu. Anthoni Reoak, Phillip Lattumahina, Said Perintah dan lain-lain. Perlawanan juga berkobar di pulau-pulau lain yaitu Hitu, Nusalaut dan Haruku penduduk berusaha merebut benteng Zeeeland. Untuk merebut kembali benteng Duurstede, pasukan Belanda didatangkan dari Ambon dibawah pimpinan Mayor Beetjes namun pendaratannya digagalkan oleh penduduk dan mayor Beetjes tewas. Pada bulan Nopember 1817 Belanda mengerahkan tentara besar-besaran dan melakukan sergapan pada malam hari Pattimura dan kawan-kawannya tertangkap. Mereka menjalani hukuman gantung pada bulan Desember 1817 di Ambon. Paulus Tiahahu tertangkap dan menjalani hukuman gantung di Nusalaut. Christina Martha Tiahahu dibuang ke pulau Jawa. Selama perjalanan ia tutup mulut dan mogok makan yang menyebabkan sakit dan meninggal dunia dalam pelayaran pada awal Januari tahun 1818. Perang ini disebabkan oleh Belanda yang sewenang-wenang terhadap Maluku

Perang ini berlangsung pada tahun 1817. Tokoh-tokohnya antara lain: Thomas Matulessy / Kapitan Pattimura, Christina Martha Tiahahu, Kapitan Paulus Tiahahu. Perang ini Disertai dengan perebutan benteng Duurstde yang mengakibatkan kematian Jendral Van Den Berg. Karena adanya bantuan Inggris, Kapten Pattimura terdesak masuk hutan dan bentengbentengnya direbut kembali pemerintah. Rakyat nusa laut menyerah tanggal 10 November 1817 setelah pimpinannya Kapiten Paulus Tiahahu serta putrinya Kristina Martha Tiahahu. Tanggal 12 November

1817 Kapitan Pattimura ditangkap dan bersama tiga penglimanya dijatuhi hukuman mati di Niuew Victoria di Ambon.