Anda di halaman 1dari 13

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 1

A.MIRZA FAUZAN. G MUHAMMAD NAJIB ASWADI AGUNG PRATOYO RYAN SYAHPUTRA

Pengertian Etika dan ajaran moral Fungsi dan tujuan etika Pendekatan isu moral

Telaah etika sebagai suatu pengetahuan dapat ditelusuri kurang lebih 2500 tahun silam pada saat Socrates (seorang filsuf) mengungkapkan etika itu sebagai sesuatu yang diatur oleh prinsip-prinsip yang mendapat pengakuan umum masyarakat, yaitu bahwa sesuatu yang dianggap baik oleh seseorang juga baik bagi semua orang, dan apa yang menjadi kewajiban tetangga juga menjadi kewajiban saya (Socrates 470-347 SM adalah ahli pikir/filosof Yunani yang meletakkan dasar-dasar filsafat).

Pengertian ETIKA

Beberapa ahli merumuskan pengertian etika sebagai berikut :


Menurut para ahli etika adalah aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti normanorma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

Moral adalah keseluruhan aturan, kaidah atau hukum yang berbentuk perintah atau larangan yang mengatur perilaku manusia dan masyarakat dimana manusia itu berada. Dalam perkembangannya, kata moral ini menjadi moralis moralitas. Moralitas dipergunakan untuk menyebut perbutan yang memiliki makna lebih abstrak, dimana apabila dinyatakan moralitas suatu perbuatan berarti menunjuk baik buruknya suatu perbuatan. Bermoral atau tidaknya suatu perbuatan tergantung dari kesadaran dan kebebasan kehendak si pelaku (manusia itu sendiri). Kesadaran dan kebebasan kehendak itu ada alam hati manusia, sedangkan makhluk primata lainnya tidak memiliki hal tersebut.

MORAL

ETIKA

ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, Etika adalah sebuah ilmu, bukan suatu khotbah-khotbah, patokan-patokan, ajaran, sehingga mempunyai tingkatan kumpulam peraturan dan ketetapan, yang yang berbeda diperoleh secara lisan atau tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik Yang mengatur bagaimana kita harus hidup adalah ajaran moral Etika berkaitan dengan pengertian mengenai mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana sikap kita yang bertanggungjawab terhadap BERBAGAI ajaran moral Etika adalah pemikiran sistematis tentang moralitas

Sumber langsung ajaran moral ialah orang tua, guru/dosen, pemuka masyarakat dan agama, atau secara tidak langsung dari tulisan para bijak

Fungsi Etika Sebagai subjek :Untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakan itu salah atau benar, buruk atau baik. Sebagai Objek : cara melakukan sesuatu (moral). Tujuan Untuk mendapatkan konsep mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu Etika akan memberikan batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip moral yang ada Etika dapat difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Etika adalah refleksi dari self control, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.

Apoteker M menjadi penanggungjawab apotek di Kota W yang sekaligus sebagai pemilik sarana apotek. Suatu saat ia mendapatkan tawaran untuk menjadi penanggungjawab PBF PP dan ia menerima tawaran tersebut. Tanpa melepas status sebagai APA, ia menjadi penanggungjawab PBF PP. Untuk mencapai target yang telah ditetapkan perusahaan (PBF PP), apoteker M melakukan kerjasama dengan apotek miliknya untuk mendistribusikan obat ke klinik dan balai pengobatan atau rumah sakit-rumah sakit. Apotek akan mendapatkan fee dari kerjasama ini sebesar 2% faktur penjualan. Semua administrasi dapat ia kendalikan dan lengkap (surat pesanan, faktur pengiriman, faktur pajak, tanda terima, surat pesanan klinik dan balai pengobatan atau rumah sakit ke apotek, pengiriman dari apotek ke sarana tersebut dll.). Semua disiapkandengan rapi sehingga setiap ada pemeriksaan Badan POM tidak terlihat adanya penyimpangan secara administrasi.

Ada berbagai cara berbeda dalam pendekatan masalah-masalah etika seperti dalam contoh kasus. Secara kasar cara pendekatan penyelesaian masalah etika dapat dibagi menjadi dua yaitu :
kategori rasional non-rasional. Penting untuk mengingat bahwa

non-rasional bukan berarti irrasional namun hanya dibedakan dari sistematika, dan alasan yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan.

Kepatuhan Imitasi Perasaan atau kehendak Intuisi Kebiasaan

10

Deontologi Konsekuensialisme Prinsiplisme Etika budi pekerti

10