Anda di halaman 1dari 24

laporan pendahuluan penuaan LAPORAN PENDAHULUAN PROSES MENUA

A.

DEFINISI

Proses penuaan adalah suatu periode menarik diri yang tak terhondarkan dengan karakteristik menurunnya interaksi lansia dengan orang lain disekitarnya. Individu diberi kesempatan untuk mempersiapkan dirinya menghadapi ketidakmampuannya bahkan kematian (Cox.1984). Proses menua adalah sebuah proses yang mengubah orang dewasa sehat menjadi rapuh disertai menurunnya cadangan hampir semua system fisiologis dan disertai pula meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan kematian. Proses menua biasanya atau normalnya merupakan suatu proses yang ringan, ditandai dengan turunnya fungsi secara bertahap tetapitidak ada penyakit sama sekali sehingga kesehatan tetap terjaga baik. Sebaliknya proses menua patologis ditandai dengan kemunduran fungsi organ sejalan dengan umur, tetapi bukan akibat umur tua, melainkan akibat dari penyakit yang muncul pada umur tua. Banyak hal di masa lalu yang di duga merupakan akibat proses menua ternyata berhubungan dengan proses penyakit yang factor factor resikonya senenarnya dapat di modifikasi seperti diet, merokok, alcohol dan pandangan lingkungan. Proses menua merupakan proses yang terus-menerus (berlanjut) secara alamiah. Di mulai sejak lahir dan umumnya di alami pada semu makhluk hidup. Menua bukanlah suatu penyakt tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Walaupun demikian, memang harus di akui bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia. Namun yang penting untuk diketahui bahwa aktivitas fisik dapat menghambat atau memperlambat kemunduran fungsi alat tubuh yang disebabkan bertambahnya umur.

B. 1. A.

TEORI TEORI PROSES MENUA Teori Biologis Teori genetic dan mutasi (somatic Mutatie Theory)

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetic untuk spesies-spesies. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang deprogram oleh molekul atau DNA dan setuap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional sel)

B.

Pemakaian dan Rusak

Kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai) C. Teori Akumulasi dan Produk Sisa

Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh, sebagai contoh adanya pigmen Lipofuchine di sel otot jantung dan sel susunan saraf pusat pada orang lansia yang mengakibatkan gangguan fungsi sel itu sendiri. D. E. F. Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan Tidak ada perlindungan terhadap radiasi, penyakit dan kekurangan gizi Reaksi dan kekebalan sendiri (Auto Imune Theory)

Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai contoh : tambahan kelenjar timus yang pada usia dewasa berevolusi dan semenjak itu terjadilah kelainan auto imun (menurut Goldteris dan Brocklehurst, 1989) G. Teori Imunologi Slow Virus (Imunologi Slow Virus Teori)

System imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknyavirus ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh. H. Teori stress

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh leah terpakai. I. Teori Radikal Bebas

Radikal bebas dapat terbentuk dari alam bebas tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organic seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi. J. Teori Rantai Silang

Sel-sel yang tua atau using, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastic, kekacauan dan hilangnya fungsi. K. Teori Program

Kemampuan organism untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

2. A.

Teori Kejiwaan Sosial Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory)

Ketentuan akan meningkatkan pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan pada usia lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan social. Ukuran optimum (pola hidup) dianjurkan pada cara hidup dari usia lanjut. Mempertahankan hubungan antara system social dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia. B. Kepribadian Berlanjut (Contunuity Theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teory ini merupakan gabungan dari diatas. Pada theory ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya. C. Teory Pembebasan ( Disengagement Theory)

Teory ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia seseorang secara berangsur- angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini engakibatkan interaksi social lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kwalitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda ( Tripel Loss ) yaitu : 1) 2) 3) . Kehilangan peran ( Loss of Rule) . Hambatan kontak social ( Restraction of contacs and Relation Ships) . Berkurangnya komitmen (Reduced Commitment to social More and Values)

C.

PERMASALAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA

Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lansia antara lain : (Setia Budhi, T.1999 : 40-42) 1. a) Permasalahan Umum. Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan .

b) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang kurang di perhatiakan ,dihargai, dan dihormati. c) Lahirnya kelompok masyarakat industry

d) e)

Masih rendahnya kualiatas dan kwantitas tenaga professional pelayanan lansia. Belum membudayanya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia.

2.

Permasalahan Lansia

a. Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik ,mental,maupun sosial. b. c. d. Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia. Rendahnya produktivitas kerja lansia. Banyaknya lansia yang miskin ,terlantar dan cacat.

e. Berubahnya nilai social masyarakat yang mengarah pada tantangan masyarakat individualistik. f. Adanya dampak negative dan proses pembngunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia D . FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENUAAN 1 . Heredites atau keturunan genetic 2 . Nutrisi atau makanan 3 . Status kesehatan 4 . Pengalaman hidup 5 . Lingkungan 6 . Strees F . Perubahan yang terjadi pada lansia 1. Prubahan fisik

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampi ke semua system organ tubuh diantaranya meliputi system pernafasan. Pendengaran,penglihatan,kardiovaskuler,muskuluskeletal,gastrointestinal,genetal urinaria,endokren dan integume. 2. Perubahan mental

Faktor yang mempengaruhi perubahan mental a. b. c. d. e. f. g. h. Pertama-tama perubahan fisik,khususnya organ perasab Kesehatan umam Tingkat pendidikan Keturunan Lingkungan Gangguan saraf panca indra,timbul kebutaan,dan ketulian Gangguan konsep diri akibat kehilangan jbatan Rangkaiajn dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman atau family

i. Hilangnya ketegapan dan kekuatan fisik,perubahan terhadap gambaran diri,perubahan konsep diri. 3.Perubahan spiritual Agama atau kepercayaan makinterintegrasi dalam kehidupanyan.(maslow,1970) Lansia makin matur dalam ehidupan keagamaannya,hal ini terlihat dalam berfikir dan dalam bertindak sehari hari.(Murray dan Zenter 1970) Perubahan spiritual pada usia 70 tahun menurut Folwer 1978 Universalisna, perubahan yang dicapai pada tingkat ini adalah perfikir dan bertindak denga cara memberikan contoh cara mencintai dan keadilan. G. Batasan-batasan Lansia 1. menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) a. usia pertengahan (middle age) : usia 45-59 tahun b. Lanjut usia (elderly) : usia 60-74 tahun c. Lanjut usia tua ( old ) : usia 75-90 tahun d. Usia sangat tua ( very old ) : usia . 90 tahun 2. menurut Prof.Dr Ny.Sumiati Ahmad Muhammad (Alm) Guru Besar UGM pada Fakultas a. Usia 0-1 tahun : masa bayi b. Usia 1-6 tahun : masa pra sekolah

c. Usia 6-0 tahun : masa sekolah d. Usia 10-20 tahun : masa pubertas e. Usia 40-65 tahun : masa setengah umur ( prasenium ) f. Usia . 65 tahun : masa lanjut usia ( senium ) 3. Menurut Dra.Ny. Josh Mas Dani ( psikolg UI ) Mengatakan lansia merupakan kelanjutan dari usia dewasa, kedewasaan dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu : 1. 2. 3. 4. Fase Hiventus : usia 25-40 tahun Fase Verilitas : usia 40-55 tahun Fase Pra Esenium : usia 55-65 tahun Fase Senium : usia > 65 tahun sampai tutup usia

4.Menurut Prof.Dr. Koesoemanto Setyo Negoro pengelompokkan kansia sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Usia dewasa muda ( elderly adulthood ) 18 tahun atau 20-25 tahun Usia dewasa penuh ( middle years ) atau maturitas 25-60 tahun atau 65 tahun Lanjut usia ( geriatric age ) > 65 tahun atau 70 tahun Lanjut usia ( young old ) 70-75 tahun Lanjut usia ( old ) 75-80 tahun Lanjut usia ( very old ) > 80 tahun

Dari pembagian umur diatas dapat disimpulkan bahwa yang disebut lansia adalah orangyang telah berumur 65 tahun ke atas. 5. Menurut UU No.4 tahun 1965

o Pasal 1 : Seseorang dapat dinyatakan sebagai seseoarang jompo atau lansia bila orang tersebut mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. o Menurut UU No.13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia yang berbunyi, BAB 1 Pasal 1 ayat 2 : Lansia adalah seseorang yang mencapai usia lebih dari 60 tahun.

o Barren dan Jenner (1977) mengusulkan untuk membedakan antara usia biologi, psikologis dan usia social. a. Usia biologis : yang menunjuk pada jangka waktu seseorang sejak dalam keadaan hidup tidak mati. lahirnya berada

b. Usia psikologis : yang menunjuk pada kemampuan seseorng untuk mengadakan penyesuaian pada situasi yang dihadapinya. c. Usia social : yang menunjuk pada peran yang diharapkan atau diberikan masyarakat kepada seseorang sehubungan dengan usianya. H. Penyakit yang lebih dijumpai pada lansia 1. Menurut Stieglitz (1945), dikemukakan adanya empat penyakit yang sangat erat hubungannya dengan proses menua yaitu : a. Gangguan sirkulasi darah : seperti hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan pembuluh darah di otak ( koroner ) dan ginjal. b. Gangguan metabolisme hormonal : seperti DM, klimaks sterium dan ketidakseimbangan tiroid c. Gangguan pada persendian : seperti osteo arthritis, gout arthritis maupun penyakit kolagen lainnya. d. Berbagai macam neoplasma

2.Menurut The National of Peoples Welfare Cuoncil dari Inggris mengemukakan bahwa penyakit atau gangguan umum pada lansia ada 12 macam yaitu : a. Depresi mental b. Gangguan pendengaran c. Bronkitis kronis d. Gangguan pada tungkai atau sikap berjalan e. Gangguan pada coxa atau sendi panggul f. Anemia g. Dimensia h. Gangguan penglihatan

i. Ansietas atau kecemasan j. Dekompensasi cordis k. DM, osteo malaisia dan hipotiroidisme l. Gangguan defekasi

PROSES PENUAAN / MENUA PADA LANSIA

Pendahuluan Berdasarkan pengetahuan yang berkembang dalam pembahasan tentang teori proses menjadi tua (menua) yang hingga saat ini dianut oleh gerontologis, maka penting juga bagi perawat dalam tingatan kompetensinya untuk mengembangkan konsep dan teori keperawatan serta sekaligus praktik keperawatan yang didasarkan atas teori proses menjadi tua (menua) tersebut. Postulat yang selama ini diyakini oleh para ilmuwan perlu diimplikasikan dalam tataran nyata praktek keperawatan, sehingga praktek keperawatan benar-benar mampu memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat. Perkembangan ilmu keperawatan perlu diikuti pula dengan pengembangan praktik keperawatan, yang pada akhirnya mampu memberikan kontribusi terhadap masalah-masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat. Secara umum, implikasi/praktek keperawatan yang dapat dikembangkan dengan proses menua dapat didasarkan pada teori menua menurut/secara biologis, Psikologis, dan sosial. Berikut akan diuraikan tentang bentuk-bentuk implikasi asuhan keperawatan yang diberikan kepada individu yang mengalami proses penuaan, dengan didasarkan pada teori yang mendasari proses menua itu sendiri. Impliaski keperawatan yang diberikan didasarkan atas asumsi bahwa tindakan keperawatan yang diberikan lebih ditekankan pada upaya untuk memodifikasi faktorfaktor yang secara teoritis dianggap dapat mempercepat proses penuaan. Istilah lain yang digunakan untuk menunjukkan teori menua adalah Senescence, yang diartikan sebagai perubahan perilaku sesuai usia akibat penurunan kekuatan dan kemampuan adaptasi (Comfort, 1970)

A. Teori Biologis dan Implikasi Keperawatan

Teori biologis dalam proses menua mengacu pada asumsi bahwa proses menua merupakan perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi tubuh selama masa hidup (Zairt, 1980). Teori ini lebih menekankan pada perubahan kondisi tingkat struktural sel /organ tubuh, termasuk didalamnya adalah pengarub agen patologis. Fokus dari teori ini adalah mencari determinan-determinan yang menghambat proses penurunan fungsi organisme. Yang dalam konteks sistemik, dapat mempengaruhi/ memberi dampak terhadap organ/sistem tubuh lainnya dan berkembang sesuai dengan peningkatan usia kronologis (Hayflick, 1977). Termasuk teori menua dalam lingkup proses menua biologia adalah Teori Keterbatasan Hayflick (Hayflick Limit Theory), Teori Kesalahan (Error Theory), Teori Pakai dan Usang (Wear & Tear Theory), Teori Radikal Bebas (Free Radical Theory), Teori Imunitas (Immunity Theory) dan Teori Ikatan Silang (Cross Linkage Theory).

a.

Teori Kesalahan

Sejalan dengan perkembangan umur sel tubuh, maka terjadi beberapa perubahan alami pada sel pada DNA dan RNA, yang merupakan substansi pembangun/pembentuk sel baru. Peningkatan usia mempengaruhi perubahan sel dimana sel-sel Nukleus menjadi lebih besar tetapi tidak diikuti dengan peningkatan jumlah substansi DNA. Konsep yang diajukan oleh Orgel (1963) menyampaikan bahwa kemungkinan terjadinya proses menua adalah akibat kesalahan pada saat transkirpsi sel pada saat sintesa protein, yang berdampak pada penurunan kemampuan kualitas (daya hidup) sel atau bahkan sel-sel baru relatif sedikit terbentuk. Kesalahan yang terjadi pada proses transkripsi ini dimungkinkan oleh karena reproduksi dari enzim dan rantai peptida (protein) tidak dapat melakukan penggandaan substansi secara tepat. Kondisi ini akhirnya mengakibatkan proses transkripsi sel berikutnya juga mengalami perubahan dalam beberapa generasi yang akhirnya dapat merubah komposisi yang berbeda dari sel awal (Sonneborn, 1979).

b.

Teori Keterbatasan Hayflick

Diperkenalkan oleh Hayflick dan Moorehead (1961) dimana menyatakan bahwa sel-sel mengalami perubahan kemampuan reproduksi sesuai dengan bertambahnya usia.(Lueckenote : 1996) Selain diatas, dikenal juga istilah Jam Biologis Manusia yang diperkirakan antara 110 120 tahun (Stanley, Pye, MacGregor dalam Lueckenote : 1996) Jam Biologis Manusia diasumsikan sebagai waktu dimana sel-sel tubuh manusia masih dapat berfungsi secara prodeuktif untuk menunjang fungsi kehidupan. Teori Hayflick menekankan bahwa perubahan

kondisi fisik pada manusia dipengruhi oleh adanya kemampuan reproduksi dan fungsional sel organ yang menurun sejalan dengan bertambahnya usia tubuh setelah usia tertentu

c.

Teori Pakai dan Usang

Dalam teori ini, dinyatakan bahwa sel-sel tetap ada sepanjang hidup manakala sel-sel tersebut digunakan secara terus-menerus. Teori ini dikenalkan oleh Weisman (1891). Hayflick menyatakan bahwa kematian merupakan akibat dari tidak digunakannya sel-sel karena dianggap tidak diperlukan lagi dan tidak dapat meremajakan lagi sel-sel tersebut secara mandiri. Teori ini memandang bahwa proses menua merupakn proses pra program yaitu proses yang terjadi akibat akumulasi stress dan injuri dari trauma. Menua dianggap sebagai Proses fisiologis yang ditentukan oleh sejumlah penggunaan dan keusangan dari organ seseorang yang terpapar dengan lingkungan (Matesson, Mc.Connell, 1988)

d.

Teori Imunitas

Dalam teori ini, ketuaan dianggap disebabkan oleh adanya penurunan fungsi sistem immun. Perubahan itu lebih tampak secara nyata pada Limposit T, disamping perubahan juga terjadi pada Limposit-B. Perubahan yang terjadi meliputi penurunan sisitem imun humoral, yang dapat menjadi faktor predisposisi pada orang tua untuk : (a) menurunkan resistansi melawan pertumbuhan tumor dan perkembangan kanker (b) menurunkan kemampuan untuk mengadakan inisiasi proses dan secara agresif memobilisasi pertahanan tubuh terhadap patogen (c) meningkatkan produksi autoantigen, yang berdampak pada semakin meningkatnya resiko terjadinya penyakit yang berhubungan dengan autoimmun.

e.

Teori Radikal Bebas

Teori radikal bebas mengasumsikan bahwa proses menua terjadi akibat kekurangefektifan fungsi kerja tubuh dan hal itu dipengaruhi oleh adanya berbagai radikal bebas dalam tubuh. D. Harman menyatakan bahwa secara normal radikal bebas ada pada setiap individu dan dapat digunakan untuk memperdiksi umur kronologis individu. Yang disebut radikal bebas disini adalah molekul yang memilki tingkat afinitas yang tinggi, merupakan molekul, fragmen molekul atau atom dengan elektron yang bebas tidak berpasangan. Radikal bebas merupakan zat yang terbentuk dalam tubuh manusia sebagai salah satu hasil kerja metabolisme tubuh. Walaupun secara normal ia terbentuk dari proses metabolisme tubuh, tetapi ia dapat terbentuk akibat : (1) Proses oksigenisasi lingkungan seperti pengaruh polutan, ozon dan pestisida. (2) Reaksi akibat paparan dengan radiasi (3) sebagai reaksi berantai dengan molekul bebas lainnya.

Radikal bebas yang reaktif mampu merusak sel, termasuk mitokondria, yang akhirnya mampu menyebabkan cepatnya kematian (apoptosis) sel, menghambat proses reproduksi sel. Hal lain yang mengganggu fungsi sel tubuh akibat radikal bebas adalah bahwa radikal bebas yang ada dalam tubuh dapat menyebabkan mutasi pada transkripis DNA RNA pada genetik walaupun ia tidak mengandung DNA. Dalam sistem syaraf dan jaringan otot, dimana radikal bebas memiliki tingkat afinitas yang relatif tinggi dibanding lainnya, terdapat/ditemukan substansi yang disebut juga dengan Lipofusin, yang dapat digunakan juga untuk mengukur usia kronologis seseorang. Lipofusin yang merupakan pigmen yang diperkaya dengan lemak dan protein ditemukan terakumulasi dalam jaringan orang-orang tua. Kesehatan kulit berangsur-angsur menurun akibat suplai oksigen dan nutrisi yang makin sedikit yang akhirnya dapat mengakibatkan kematian jaringan kulit itu sendiri. Vitamin C dan E merupakan dua substansi yang dipercaya dapat menghambat kerja radikal bebas (sebagai antioksidan) yang memungkinkan menyebabkan kerusakan jaringan kulit. Rockestein dan Sussman (1979) menyatakan bahwa Butilat Hidroksitoluent dapat memiliki efek antioksidan ketika diberikan kepada tikus.

f.

Teori Ikatan Silang

Dikenalkan oleh J. Bjorksten pada tahun 1942, menekankan pada postulat bahwa proses menua terjadi sebagai akibat adanya ikatan-ikatan dalam kimiawi tubuh. Teori ini menyebutkan bahwa secara normal, struktur molekular dari sel berikatan secara bersama-sama membentuk reaksi kimia. Termasuk didalamnya adalah kolagen yang merupakan rantai molekul yang relatif panjang yang dihasilkan oleh fibroblast. Dengan terbentuknya jaringan baru, maka jaringan tersebut akan bersinggungan dengan jaringan yang lama dan membentuk ikatan silang kimiawi. Hasil akhir dapi proses ikatan silang ini adalah peningkatan densitas kolagen dan penurunan kapasitas untuk transport nutrient serta untuk membuang produk-produk sisa metabolisme dari sel. Zat ikatan silang ditemukan pada lemak tidak jenuh, ions polyvalen seperti Alumunium, Seng, dan Magnesium.

Dari konsep diatas, maka implikasi keperawatan yang dapat ditetapkan antara lain : a. Dalam hubungan dengan orang yang tua, perlu bagi perawat untuk memperhatikan teori proses menua b. Aktivitas (kegiatan) sehari-hari merupakan salah satu bagian dari perilaku kehidupan normal yang tidak perlu dibatasi secara berlebihan, tetapi lebih cenderung untuk memodifikasi perilaku

sebagai akibat perubahan fisik dari manula itu sendiri. Perilaku hidup sehari-hari diperlukan untuk menjaga kondisi fisik tetap dalam batas normal dan mengoptimalkan kemampuan diri. c. Pola hidup sehat yang dilakukan dapat mempengaruhi perubahan-perubahan dasar biologis dari proses menua itu sendiri. Konsumsi makanan yang sehat,cukup gizi dan menghindari faktorfaktor resiko pencetus stress fisik dan pembentuk radikal bebas merupakan salah satu upaya untuk mengurangi proses menua secara biologis. d. Melakukan kehidupan dengan melakukan kerja seimbang dan pemenuhan kebutuhan seimbang mampu memberikan montribusi yang positif dalam peningkatkan performens individu itu sendiri e. Menghindari leingkungan dengan tingkat resiko radiasi atau polutan yang tinggi merupakan langkah yang bida ditempuh untuk menghindari cepatnya proses menua secara biologis. f. Perlu bagi perawat untuk memperhatikan upaya-upaya pemenuhan kebutuhan pasien akan sarana dan prasarana yang menunjang pencapaian kebutuhan hidup serta meningkatkan kualitas hidup melalui pengadaan alat-alat aktifitas yang memadai, mengurangi resiko stress fisik berlebih serta terhindar dari polusi.

B. Teori Psikologis Dan Implikasi Keperawatan a. Teori Tugas Perkembangan Havigurst (1972) menyatakan bahwa tugas perkembangan pada masa tua antara lain adalah : Menyesuaikan diri dengan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup Membentuk hubungan dengan orang-orang yang sebaya Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes

Selain tugas perkembangan diatas, terdapat pula tugas perkembangan yang spesifik yang dapat muncul sebagai akibat tuntutan : Kematangan fisik

Harapan dan kebudayaan masyarakat Nilai-nilai pribadi individu dan aspirasi

b.

Teori Delapan Tingkat Kehidupan

Secara Psikologis, proses menua diperkirakan terjadi akibat adanya kondisi dimana kondisi psikologis mencapai pada tahap-tahap kehidupan tertentu. Ericson (1950) yang telah mengidentifikasi tahap perubahan psikologis (depalan tingkat kehidupan) menyatakan bahwa pada usia tua, tugas perkembangan yang harus dijalani adalah untuk mencapai keeseimbangan hidup atau timbulnya perasaan putus asa. Peck (1968) menguraikan lebih lanjut tentang teori perkembangan erikson dengan mengidentifikasi tugas penyelarasan integritas diri dapat dipilah dalam tiga tingkat yaitu : pada perbedaan ego terhadap peran pekerjaan preokupasi, perubahan tubuh terhadap pola preokupasi, dan perubahan ego terhadap ego preokupasi. Pada tahap perbedaan ego terhadap peran pekerjaan preokupasi, tugas perkembangan yang harus dijalani oleh lansia adalah menerima identitas diri sebagai orang tua dan mendapatkan dukungan yang adekuat dari lingkungan untuk mengnhadapi adanya peran baru sebagai orang tua (preokupasi). Adanya pensiun dan atau pelepasan pekerjaan merupakan hal yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang menyakitkan dan dapat menyebabkan perasaan penurunan harga diri dari orang tua tersebut. Perubahan fiisik dan pola fikir pada usia lanjut juga dapat menjadi salah satu gangguan yang berarti bagi kehidupan lanjut usia. Kondisi fisik/pola fikir yang menurun kadang tidak disadari oleh lanjut usia dan hal ini dapat mengkibatkan konflik terhadap peran baru dari lanjut usia yang harus dijalaninya. Tugas perkembangan terakhir yang harus diterima oleh lanjut usia adalah bahwa mereka harus mampu menerima kematian yang bakal terjadi pada dirinya dalam kesejaheraan. Pemanfaatan sisa keefektifan tubuh untuk aktivitas sehari-hari dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan moral individu dalam menerima perubahan ego menuju keselarasan diri.

c. Teori Jung Carl Jung merupakan psikolog swiss yang mengembangkan teori bahwa perkembangan personal individu dilalui melalui tahapan-tahapan : masa kanak-kanak, masa remaja dan remaja akhir, usia pertengahan, dan usia tua. Kepribadian personal ditentukan oleh adanya ego yang dimiliki,

ketidaksadaran personal dan ketidaksadaran kolektif. Teori ini mengungkapkan bahwa sejalan dengan perkembangan kehidupan, pada masa usia petengahan maka seseorang mulai mencoba menjawab hakikat kehidupan dengan mengeksplorasi nilai-nilai, kepercayaan dan meninggalkan khayalan. Pada masa ini dapat terjadi krisis usia pertengahan yang dapat mempengaruhi/menghambat proses ketuaan itu sendiri secara psikologis. Adanya sikap ekstrovert maupun introvert sangat berpengaruh sekali terhadap peran dan penyelesaian masalah kehidupam saat usia pertengahan. Pencapaian keselarasan hidup merupakan salah satu indikator telah tereksplorasinya nilai-nilai kehidupan oleh individu dan pencapaian ini sangat dipengaruhi oleh kepribadian (introvert maupun ekstrovert). Berdasar pada pemahaman diatas, maka Jung menilai bahwa seseorang mampu dianggap sukses dalam proses menua manakala individu mampu untuk menjadi orang yang berfokus pada orang lain dan memiliki kepedulian yang penuh terhadap kehidupan sosial. Implikasi keperawatan : 1. Perlunya penyadaran / pendidikan kesehatan kepada manula dalam upaya menjalani proses kehidupan 2. Kegiatan penyelenggaraan suport psikologis sangat diperlukan untuk mencapai hasil optimal bagi kesejahteraan psikis 3. Perawat harus mampu mengakomodasi/memfasilitasi proses kegiatan penyelanggaraan penyuluhan dan bimbingan rohani sera support psikologis 4. Masalah yang dihadapi oleh manula saat ini dapat merupakan akibat terjadinya gangguan pada tahap kehidupan sebelumnya, sehingga perawat perlu mempelajari konsep psikologis secara mapan dan mampu menjadi fasilitator dalam bimbingan rohani.

C. Teori Sosial Menua Dan Implikasi Keperawatan

1.

Teori Stratifikasi Usia

Pada awal tahun 1970, teori ini muncul dan menjadi suatu wacana publik yang besar. Teori ini menyatakan bahwa orang yang mengalami proses menua dipandang sebagai individu elemen sosietas dan juga sebagai anggota kelompok/group dalam masyarakat. Rilley (1985) mengungkapkan ada lima konsep utama yang mendasarinya yaitu : setiap individu merupakan bagian sosietas adanya keunikan peran tugas dan fungsi

tidak hanya pada tataran tertentu saja terjadi perubahan Pengalaman yang dimiliki oleh orang yang tua dapat dibentuk melalui parameter umur dan tugas hubungan antara manusia usial lanjut dengan lingkungan tidak stagnasi

b.

Teori Aktivitas

Teori ini menyatakan bahwa seorang individu harus mampu eksis dan aktif dalam kehidupan sosial untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan di hari tua. (Havigurst dan Albrech. 1963). Aktivitas dalam teori ini dipandang sebagai sesuatu yang vital untk mempertahankan rasa kepuasan pribadi dan kosie diri yang positif. Teori ini berdasar pada asumsi bahwa : (1) aktif lebih baik daripada pasif (2) Gembira lebih baik daripada tidak gembira (3) orang tua merupakan adalah orang yang baik untuk mencapai sukses dan akan memilih alternatif pilihan aktif dan bergembira.

2.

Teori Kontinyuitas

Teori ini memandag bahwa kondisi tua merupakan kondisi yang selalu terjadi dan secara berkesinambungan yang harus dihadapi oleh orang lanjut usila.

Implikasi Keperawatan 1. Perlu bagi perawat untuk tetap mengaktifkan peran sosial manula sesuai dengan kemampuannya 2. Perawat harus mampu menciptakan lingkungan sosial yang berfariatif.

DAFTAR PUSTAKA

Ader, Felten DL, Cohen N (1991) Psychoneuroimmunology, Academic Press Inc. 2nd edition. New York

Depkes R.I (1999) Kesehatan keluarga, Bahagia dim Usia Senja, Medi Media, Jakarta

Kozier, Barbara (1991) Fundamentals of Nursing, Concepts, Pocess and Practice, 2th edition, Addison Wesley Co. California

Lueckenote A.G (1996) Gerontologic Nursing, Mosby Year Book Co. Inc, Missourri

Nugroho Wahyudi (1995) Perawatan Usia Lanjut, Penerbit EGC, Jakarta

Setyabudhi T, Hadiwinoyo (1999) Panduan Gerontologi, Tinjauan dari Berbagai Aspek, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

LAPORAN PENDAHULUAN TEORI TENTANG PROSES PENUAAN


ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA LAPORAN PENDAHULUAN TEORI TENTANG PROSES PENUAAN 1. Pengertian lanjut Usia Proses menua merupakan suatu yang fisiologis, yang akan dialami oleh setiap orang. Batasan orang dikatakan lanjut usia berdasarkan UU No 13 tahun 1998 adalah 60 tahun. 2.Teori tentang Proses menua Teori Biologik

Teori Genetik dan Mutasi Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul /DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi Pemakaian dan Rusak Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah Autoimune Pada proses metabolisme tubuh , suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Sad jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan mati. teori stres Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah dipakai. Teori radikal bebas Tidak stabilnya redikal bebas mengakibatkan oksidasi-oksidasi bahan bahan organik seperti karbohidrat dan protein . radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi. 2.2. Teori Sosial a. Teori ktifitas Lanjut usuia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial b. Teori Pembebasan Dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kwalitas maupun kwantitas. Sehingga terjadi kehilangan ganda yakni : a) Kehilangan peran b) Hambatan kontrol sosial c) Berkurangnya komitmen c. Teori Kesinambungan Teori ini mengemukakan adanya kesinambungan dalam siklus kehidupan lansia. Dengan demikian pengalaman hidup seseorang pada usatu saat merupakan gambarannya kelak pada saat ini menjadi lansia. Pokok-pokok dari teori kesinambungan adalah : a) lansia tak disarankan untuk melepaskan peran atau harus aktif dalam proses penuaan, akan tetapi didasarkan pada pengalamannya di masa lalu, dipilih peran apa yang harus dipertahankan atau dihilangkan b) Peran lansia yang hilang tak perlu diganti c) Lansia dimungkinkan untuk memilih berbagai cara adaptasi 2.3 Teori Psikologi a. Teori Kebutuhan manusia mneurut Hirarki Maslow

Menurut teori ini, setiap individu memiliki hirarki dari dalam diri, kebutuhan yang memotivasi seluruh perilaku manusia (Maslow 11111954). Kebutuhan ini memiliki urutan prioritas yang berbeda. Ketika kebutuhan dasar manusia sidah terpenuhi, mereka berusaha menemukannya pada tingkat selanjutnya sampai urutan yang paling tinggi dari kebutuhan tersebut tercapai. b. Teori individual jung Carl Jung (1960) Menyusun sebuah terori perkembangan kepribadian dari seluruh fase kehidupan yaitu mulai dari masa kanak-kanak , masa muda dan masa dewasa muda, usia pertengahan sampai lansia. Kepribadian individu terdiri dari Ego, ketidaksadaran sesorang dan ketidaksadaran bersama. Menurut teori ini kepribadian digambarkan terhadap dunia luar atau ke arah subyektif. Pengalaman-pengalaman dari dalam diri (introvert). Keseimbangan antara kekuatan ini dapat dilihat pada setiap individu, dan merupakan hal yang paling penting bagi kesehatan mental 3. Perubahan Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia 3.1. Perubahan fisik a. Sel : jumlahnya lebih sedikit tetapi ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan intra dan extra seluler b. Persarafan : cepatnya menurun hubungan persarapan, lambat dalam respon waktu untuk meraksi, mengecilnya saraf panca indra sistem pendengaran, presbiakusis, atrofi membran timpani, terjadinya pengumpulan serum karena meningkatnya keratin c. Sistem penglihatan : spnkter pupil timbul sklerosis dan hlangnya respon terhadap sinaps, kornea lebih berbentuk speris, lensa keruh, meningkatny ambang pengamatan sinar, hilangnya daya akomodasi, menurunnya lapang pandang. d. Sistem Kardivaskuler. : katup jantung menebal dan menjadi kaku , kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % setiap tahun setelah berumur 20 tahun sehingga menyebabkanmenurunnya kontraksi dan volume, kehilangan elastisitas pembuluh darah, tekanan darah meningg. e. Sistem respirasi : otot-otot pernafasan menjadi kaku sehingga menyebabkan menurunnya aktifitas silia. Paru kehilangan elastisitasnya sehingga kapasitas residu meingkat, nafas berat. Kedalaman pernafasan menurun. f. Sistem gastrointestinal : kehilangan gigi,sehingga menyebkan gizi buruk , indera pengecap menurun krena adanya iritasi selaput lendir dan atropi indera pengecap sampai 80 %, kemudian hilangnya sensitifitas saraf pengecap untuk rasa manis dan asin g. Sistem genitourinaria : ginjal mengecil dan nefron menjadi atrofi sehingga aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, GFR menurun sampai 50 %. Nilai ambang ginjal terhadap glukosa menjadi meningkat. Vesika urinaria, otot-ototnya menjadi melemah, kapasitasnya menurun sampai 200 cc sehingga vesika urinaria sulit diturunkan pada pria lansia yang akan berakibat retensia urine. Pembesaran prostat, 75 % doalami oleh pria diatas 55 tahun. Pada vulva terjadi atropi sedang vagina terjadi selaput lendir kering, elastisitas jaringan menurun, sekresi berkurang dan menjadi alkali. h. Sistem endokrin : pada sistem endokrin hampir semua produksi hormon menurun, sedangkan fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah, aktifitas tiroid menurun sehingga menurunkan basal metabolisme rate (BMR). Porduksi sel kelamin menurun seperti : progesteron, estrogen dan testosteron. i. Sistem integumen : pada kulit menjadi keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kepala dan rambut menuipis menjadi kelabu, sedangkan rambut dalam telinga dan hidung menebal. Kuku menjadi keras dan rapuh.

j. Sistem muskuloskeletal : tulang kehilangan densitasnya dan makin rapuh menjadi kiposis, tinggi badan menjadi berkurang yang disebut discusine vertebralis menipis, tendon mengkerut dan atropi serabut erabit otot , sehingga lansia menjadi lamban bergerak. otot kam dan tremor. 3.2 Perubahan Mental faktor-faktyor yang mempengaruhi perubahan mental adalah : a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa b. Kehatan umum c. Tingkat pendidikan d. Keturunan e. Lingkungan Kenangan (memori) ada 2 : a. kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu b. kenangan jang pendek : 0-10 menit, kenangan buruk Intelegentia Question : a. Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal b. Berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan psikomotor terjadi perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktor waktu. 3.3 Perubahan Perubahan Psikososial a. Pensiun : nilai seorang dukur oleh produktifitasnya, identits dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan b. Merasakan atau sadar akan kematian c. Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak lebih sempit. MASALAH NUTRISI 1. Pengertian Gizi kurangs adalah kekurangan zat gizi baik mikro maupun makro 2. Penyebab a. Penurunan ataau kehilangan sensitifitas indra pengecap &penciuman b. Penyakit periodental ( terjadi pada 80% lansia) atau kehilangan gigi c. Penurunan sekresi asam lambung dan enzim pencernaan d. Penurunan mobilitas saluran pencernaan makanan e. Penggunaan obat-obatan jangka panjang

f. Gangguan kemampuan motorik g. Kurang bersosialisasi, kesepian h. Pendapatan yang menurun (pensiun) i. Penyakit infeksi kronis j. Penyakit keganasan

3. Patofisiologi

Pengkajian A. Fisiologis/fisik 1. Stratus gizi IMT = Kg BB normal laki laki = 18 -25 (TB)2 wanita = 17 23 2. Intake cairan dalam 24 jam 3. Kondisi kulit 4. Kondisi bibir , mukosamulut, gigi 5. Riwayat pengobatan, alkhohol, zat adiktif lainnya 6. Evaluasi kemampuan penglihatan , pendengaran dan mobilitas 7. Keluhan yang berhubungan dengan nutrisi : gangguan sistem digestif, nafsu makan, makanan yang disukai dan tidak disukai, rasa dan aroma 8. Kebiasaan waktu makan ( 2 3 X sehari, snak dlll) B. Psikososial/afektif 1. Kebiasaan saat makan ( makan sendiri, sambil nonton TV,dll) 2. situasi lingkungan(kapasitas penyediaan makanan, pengolahan dan penyimpanan makanan) 3. sosiokultural yang berlaku yang mempengaruhi pola nutrisi dan eleminasi 4. Kondisi depresi yang dapat mengganggu pemenuhan nutrisi

C. Pemeriksaan tambahan/laborat Analisa darah : Kreatinin : indekz massa otot Serum protein khususnya untuk sintesa antibodi dan limfosit, dalam kekebalan seluler, enzym, hormon, struktur sel yang luas, struktur jaringan Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d asupan nutrisi yang tidak adekuat akibat anoreksia 2. Resiko tinggi infeksi b.d penurunan asupan kalori dan protein 3. Kerusakan mobilitas fisik b/d deformitas skleletal,, nyeri, intoleransi aktifitas 4 Nyeri b. d proses inflamasi, destruksi sendi 5. Resiko cedera (dislokasi sendi) b.d otot hilang kekuatannya, rasa nyeri sendi Rencana Asuhan Keperawatan 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d asupan nutris kurang adekuat akibat anoreksia Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat Kriteria : - Meningkatkan masukan oral - Menunjukkan peningkatan BB Intervensi : a. Buat tujuan BB ideal dan kebutuhan nutrisi harian yang adekuat R/ Nutrisi yang adekuat menghindari adanya malnutrisi c. Timbang setiap hari , pantau hasil pemeriksaan laborat R/ Deteksi dini perubahan BB dan masukan nutrisi d. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat R/ Dengan pemahaman yang benar akan memotivasi klien untuk masukan nutrinya e. Ajarkan individu menggunakan penyedap rasa (seperti bumbu) R/ aroma yang enak akan membangkitkan selera makan f. Beri dorongan individu untuk makan bersama orang lain R/ Dengan makan bersama sama secara psikologis meningkatakan selera makan g. Pertahankan kebersihan mulut yang baik (sikat gigi) sebelum dan sesudah mengunyah makanan R/ dengan situasi mulut yang bersih meningkatkan kenyamanan .

i. Anjurkan makan dengan porsi yang kecil tapi sering R/ Mengurangi perasaan tegang pada lambung j. Instruksikan individu yang mengalami penurunan nafsu makan untuk : 1 ) Makan-makan kering saat bangun tidur 2) Hindari makanan yang terlalu manis, berminyak 3) Minum sedikit-sdikit melalui sedotan 4) Makan kapan saja bila dapat toleransi 5) Makan dalam porsi kecil rendah lemak dan makan sering R/ Meningkatkan asupan makanan 2. Resiko tinggi infeksi b/d penurunan asupan kalori dan protein Tujuan : Klien akan memperlihatkan kemampuan terhindar dari tanda-tanda infeksi Kriteria : tanda-tanda peradangan tidak ditemukan : panas, bengkak, nyeri, merah,gangguan fungsi Intervensi : a. Kaji tanda-tanda radang umum secara teratur R/ Mendeteksi dini untuk mencegah terjadinya radang b. Ajarkan tentang perlunya menjaga kebersihan diri dan lingkungan R/ Mencegah terjadinya infeksi akibat lingkungan dan kebersihan diri yang kurang sehat c. Tingkatkan kemampuan asupan nutris TKTP R/ meningkatkan kadar protein dalam dalam tubuh sehingga meningkatkan kemampuan kekbalan dalam tubuh d. Perhatikan penggunaan obat-obat jangka panjang yang dapat menyebabkan imunosupresi R/ Menurunkan resiko terjadinya infeksi 3.Kerusakan mobilitas fisik b.d deformitas skeletal, nyeri Tujuan : klien dapat mobilisasi dengan adekuat Kriteria : Mendemontrasikan tehnik/perilaku yang memungkinkan melakukan aktifitas Intervensi : a. Evaluasi pemantauan tingkat inflamasi/rasa sakit R/ tingkat aktifitas tergantung dari perkembangan /resolusi dari proses inflamasi b. bantu dengan rentang gerak aktif/pasif

R/ mempertahankan fungsi sendi, kekuatan otot c. ubah posisi dengan sering dengan personal cukup R/ Menhilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi d. Berikan lingkungan yang nyaman misaal alat bantu R/ menghindari cedera 4. Nyeri ( akut/kronis) b.d proses inflamasi, destruksi sendi Tujuan : Menunjukkan nyeri berkurang/hilang Kriteria : terlihat rileks , dapat tidur dan berpartisipasi dala aktifitas Intervensi : kaji keluhan nyeri, catat lokasi nyeri dan intensitas. Catat faktor yang mempercepat tanda tanda neri R/ membantu dalam menentukan managemen nyeri Biarkan klien mengambil posisi yang nyaman pada waktu istirahat ataupun tidur R/ Pada penyakit berat tirah baring sangat diperlukan untuk membatasi nyeri Anjurkan klien mandi air hangat , sediakan waslap untuk kompres sendi R/ panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan kekakuan sendi. berikan masase lembut R/ meningkatkan relaksasi/mengurangi ketegangan otot kolaborasi pemberian obat-obatan seperti : aspirin, ibuprofen, naproksin, piroksikam, fenoprofen R/ sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan. 5. Resiko cedera b.d hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri Tujuan : klien terhindar dari cedera Kriteria : klien berada pada perilaku yang aman dan lingkungan yang nyaman Intervensi : a. kaji tingkat kekuatan otot R / mengatur tindakan selanjutnyab b.. Kaji tingkat pergerakan pasif c Beri alat bantu sesui kebutuhan d. Ciptakan lingkungan yang aman (lantai tidak licin)

e.Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bisa dilakukan secara mandiri

DAFTAR PUSTAKA Capernito Lynda juall ( 1998), Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 6 , Alih Bahasa Yasmin Asih EGC jakarta C. Long barbara ( 1996) Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses) Unit IV, V, VI Alih bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, IAPK Bandung Donges Marilyn E (2000), Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3, Alih bahasa I Made Kariasa, EGC Jakarta Wahyudi Nugroho ( 2000), Keperawatan Gerontik Edisi 2 , EGC Jakarta Description: LAPORAN PENDAHULUAN TEORI TENTANG PROSES PENUAAN Rating: 4.5 Reviewer: Ningsih iyya - ItemReviewed: LAPORAN PENDAHULUAN TEORI TENTANG PROSES PENUAAN