Anda di halaman 1dari 5

1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat dari saluran cerna adalah : Motilitas saluran cerna Semakin kecil motil maka akan semakin cepat PH saluran cerna dan fungsi empedu mempengaruhi absorbs obat. Kemampuan obat melalui hepar Untuk obat-obatan tertentu, tidak semua yang dapat diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian dimetabolisme oleh enzim di dinding usus (pemberian per oral) dan atau di hati pada lintasan pertamnya. Metabolisme ini disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or elimination). Obat demikian mempunyai bioavalibilitas yang tidak begitu tinggi meskipun absorpsinya mungkin hampir sempurna. Kadar Obat Makin tinggi kadar obat dalam larutan, akan makin cepat diabsorpsi Sirkulasi obat pada tempat absorpsi Untuk memperlambat absorpsi obat dapat dilakukan dengan

mempersempit pembuluh darah Luas permukaan kontak obat Semakin luas permukaan obat, maka akan semakin cepat diabsorpsi. Pada usus halus terdapat banyak vili yang memperluas dan mempercepat absorpsi Bentuk sediaan obat Kecepatan obat tergantung dari kecepatan pelepasan obat dari bahan pembawanya.untuk mempercepat absorpsi obat dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel obat (bentuk sediaan serbuk) dan untuk

memperlambat absorpsi obat dengan obat bentuk kerja panjang (tablet sustained release) Harga pKa obat Kebanyakan obat adalah elektrolit lemah dan berdisosiasi parsial dalam larutan. Molekul yang tidak terdisosiasi dapat larut dalam lipid sedangkan ion tida terlarut. Karena itu konstanta disosiasi obat ikut berperan dalam penentuan kemampuan obat melintasi membrane sel dan ini akan berpengaruh pula pH lingkungan. Hubungan antara konstanta disosiasi, pH medium dan kelarutan obat dalam lemak sering menentukan sifat absorbsinya dan menyusun teori partisi pH dan absorpsi obat. Konstanta disosiasi asam dan basa sering dinyatakan dengan pKa. Kecepatan Disolusi Hal ini dipengaruhi oleh keadaan fisik obat an eksipiennya yang menentukan kecepatan disintegrasi dan disolusi obat.Jika kecepatan disolusi dan disintegrasii besar maka absorpsi obat cepat. Kelarutan Obat Obat yang sukar larut (dalam bentuk molekul utuhnya atau bentuk tidak terionkan) lebih mudah diabsorpsi oleh saluran gastrointestinal yang dominan tersusun atas membrane lipid

2. Cara pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan durasi obat pada kecepatan proses penyerapan obat tempat pemberian hingga mencapai sirkulasi sistemik. Onset adalah waktu mulai pemberian sampai timbul efek. Sedangkan Durasi adalah waktu timbulnya efek hingga hilangnya efek.Secara garis besar pemberian obat dibedakan menjadi dua yaitu ekstravasuler (nonparenteral) dan intravaskuler (parenteral).Ketika obat berada dalam posisi onset, maka obat akan bekerja pada durasi waktu tertentu.Pada pemberian obat secara ekstravaskuler,obat tersebut harus melewati sejumlah tempat (jaringan) untuk dapat encapai tempat aksinya. Jika obat diabsorpsi lewat slauran pencernaan, maka obat akan masuk ke vena porta hati kemudian masuk vena hepatica ke paru-paru dan kemudian keseleruh tubuh. Oleh karena itu, onset akan lama sementara waktu durasinya akan lebih singkat karena kadar obat diabsorbsi lebih sedikit. Sedangkan untuk pemeberian intravaskuler, obat dapat langsung masuk ke peredaran darah sehingga cepat mencapai tempat aksi (target). Dengan demikian onset menjadi lebih pendek sedangkan durasinya lama karena kadar obat dalam tubuh hamper sama dengan kadar obat pada waktu yang diberikan.

3. Keuntungan dan Kerugian masing-masing cara pemberian obat, sebagai berikut : a. Per oral Keuntungan : relative aman, praktis, ekonomis Kerugian : - timbulnya efek lambat - Banyak factor yang mempengaruhi bioavailibilitasnya

- Tidak sesuai untuk obat yang mengiritasi dan terurai di lambung atau usus - Menyulitkan untuk pasien yang muntah - Perlu kerjasama dengan pasien - Tidak dapat diberikan pada pasien yang koma

b. Sub kutan Keuntungan : absorpsi secara lambat dan konstan sehingga efek bertahan lama Kerugian : tidak boleh untuk obat-obat yang iritatif, pencampuran dengan vasokonstriktor (penyempit pembuluh darah) c. Intra muscular Keuntungan : obat yang terlalu iritatif untuk s.c dapat diberikan dengan cara i.m Kerugian : menimbulkan rasa sakit pada tempat penginjeksian d. Intra peritoneal Keuntungan : efek lebih cepat tercapai daripada i.m, s.c, dan p.o Kerugian : menimbulkan bahaya infeksi pada manusia e. Intra vena Keuntungan : - tidak mengalami absorpsi sehingga kadar diperoleh dengan cepat, tepat, dan dapat disesuaikan dengan respon - dapat digunakan untuk larutan iritatif Kerugian : - Efek toksik mudah terjadi - Obat yang disuntikkan tidak dapat ditarik kembali

- Obat dalam larutan minyak tidak boleh diberikan, karena akan mengendapkan konstituen darah sehingga terjadi hemolisis f. Suntikan intrarektal Keuntungan : Efek obat cepat dan setempat pada selaput otak atau sumbu serebrospinal, seperti pada anesthesia spinal atau pengobatan infeksi SSP yang akut.

g. Inhalasi Keuntungan : Absorpsi terjadi secara cepat karena permukaan absorpsi luas, terhindar dari eliminasi lintas pertama di hati, dan pada penyakit paru-paru misalnya bronchial, obat dapat diberikan langsung pada bronkus

Kerugian : Diperlukan alat dan metode khusus yang agak sulit mengerjakannya, sukar mengatur dosis, dan sering obatnya mengiritasi epitel paru-paru h. Topikal

Keuntungan : Dapat diberikan pada kulit yang terkelupas atau terbakar

Kerugian : Jumlah obat yang diserap tergantung luas permukaan kulit yang terpanjang serta kelarutan obat dalam lemak. Absorpsinya lambat