Anda di halaman 1dari 31

SIMULASI DIAGNOSIS KOMUNITAS TENTANG PERILAKU BUANG AIR BESAR TIDAK PADA TEMPATNYA PADA KELUARGA BINAAN RT/RW

01/02 DESA TANJUNG PASIR, KECAMATAN TELUK NAGA, KABUPATEN TANGERANG, PROVINSI BANTEN

Kelompok VI: INTAN SARI WIBANA PARAMA PUTRI AFDA NAKITA ARANI NADHIRA AULYA NOVALDY JULIAN PRATAMA

(1102006130) (1102008187) (1102009013) (1102009039) (1102008048) (1102008127)

Pembimbing :

DR. dr. ARTHA BUDI SUSILA DUARSA, M.Kes

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI 10 FEBRUARI 8 APRIL 2014

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula pemecahan masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya sendiri, tapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah sehat-sakit atau kesehatan tersebut. Menurut Hendrik L. Bloom ada 4 faktor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat, yaitu keturunan, lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Status kesehatan akan tercapai secara optimal, bilamana keempat faktor tersebut secara bersama-sama mempunyai kondisi yang optimal pula (Notoatmodjo, 2003). Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R atau Stimulus Organisme Respon. Menurut Becker (1987, Notoatmodjo 2007) praktek buang air besar adalah perilaku-perilaku seseorang yang berkaitan dengan kegiatan pembuangan tinja, meliputi tempat pembuangan tinja dan pengelolaan tinja yang memenuhi syarat- syarat kesehatan dan bagaimana cara buang air besar yang sehat sehingga tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesehatan. 1.2. Area Masalah Data Puskesmas 1. Diare Berdasarkan data Puskesmas mengenai kasus Diare didapatkan: Jumlah perkiraan kasus: Laki-laki Perempuan : 1.000 orang dari 25.000 orang : 1.200 orang dari 26.000 orang

Total

: 2.200 orang dari 51.000 orang

Jumlah kasus yang ditangani Laki-laki Perempuan Total : 400 orang (35 %) : 600 orang (50 %) : 1000 orang (52 %)

Sumber : Program Diare Puskesmas TanjungPasir 2013 2. Tuberculosis Berdasarkan data Puskesmas mengenai kasus Diare didapatkan: Jumlah perkiraan kasus: 3.Typoid Berdasarkan data Puskesmas mengenai kasus Diare didapatkan: Jumlah perkiraan kasus: Laki-laki Perempuan Total : 200 orang dari 25.000 orang : 140 orang dari 26.000 orang : 340 orang dari 51.000 orang Laki-laki Perempuan Total : 400 orang dari 25.000 orang : 250 orang dari 26.000 orang : 650 orang dari 51.000 orang

Jumlah kasus yang ditangani Laki-laki Perempuan Total : 300 orang (75 %) : 200 orang (80 %) : 500 orang (77 %)

Jumlah kasus yang ditangani Laki-laki Perempuan Total : 150 orang (75 %) : 110 orang (78%) : 260 orang (76 %)

4. Sumber Air Presentasi keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah keluarga : 12.000 Keluarga yang diperiksa : 600

Jenis sarana air bersih: Sungai : 300 keluarga

Sumur : 150 keluarga SPT : 100 keluarga PAH : 50 keluarga

Sumber: Program Kesehatan Lingkungan, P2PL Puskesmas Tanjung Pasir 2013 5. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Presentasi rumah tangga berprilaku hidup bersih dan sehat menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah keluarga : 12.000 Keluarga yang diperiksa : 600 Jumlah yang sesuai kriteria PHBS : 250 Jumlah yang sesuai dengan perilaku buang air besar : 300

Sumber: Program Promosi Kesehatan Puskesmas Tanjung Pasir 2013 6. Kriteria Jamban Sehat Presentasi rumah sehat menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah keluarga : 12.000 Keluarga yang diperiksa : 600 Jumlah jamban yang sehat : 300

1.3

Hipotesis Penelitian Dalam pengambilan sebuah masalah, digunakan metode Delphi. Metode

Delphi merupakan suatu teknik membuat keputusan yang dibuat oleh suatu kelompok, dimana anggotanya terdiri dari para ahli atas masalah yang akan diputuskan. Proses penetapan Metode Delphi dimulai dengan identifikasi masalah yang akan dicari penyelesaiannya (Harold dkk, 1975 : 40-55). Dalam penelitian di desa tanjung pasir, ditentukan area masalah dengan menggunakan metode delphi. Dilibatkanseluruh anggota kelompok, Dokter puskesmas setempat, dan keluarga binaan untuk menentukan area

masalah.Setelah mengamati, mewawancarai, dan melakukan observasi masingmasing keluarga binaan terdapat berbagai macam permasalahan pada keluarga binaan tersebut, yaitu:

Peneliti I (Afda Nakita):

o A. Lokasi jamban di sekitar rumah o B. Minimalnya pengetahuan tentang sanitasi o C. Kebiasaan membuang air besar dan kecil di sembarang tempat o D.Pengelolaan jamban yang tidak baik o E. Kurangnya pembelajaran tentang sanitasi kepada anak-anak

Peneliti II (Parama Putri):

o A.Keterbatasan air bersih o B. Ketidaktahuan tentang jamban yang layak o C. Keterbatasan luas rumah tinggal o D. Ketidaktahuan tentang penyakit yang ditularkan melalui tinja o E.Riwayat penyakit diare

Peneliti III (Intan Sari Wibana):

o A. Keterbatasan dana untuk membuat jamban o B. Pengaruh kebiasaan lingkungan o C.Kebiasaan buang air besar tidak pada tempatnya o D.Kurang ketersediaannya air bersih o E. Tidak tahunya dampak yang timbul jamban yang tidak sehat

Peneliti IV (Aulya Novaldy):

o A. Dekatnya lokasi jamban dengan sumber air o B.Sanitasi kurang baik o C. Kurangnya pengetahuan tentang cuci tangan setelah BAB o D.Riwayat demam typhoid pada keluarga o E. Riwayat diare

Peneliti V (Arani Nadhira):

o A.Sanitasi lingkungan kurang baik o B.Ketidaktahuan tentang pentingnya menjaga kebersihan jamban o C.Kurangnya lahan rumah untuk membuat jamban o D.Ketidak pedulian terhadap sanitasi rumah tinggal o E.Tidak ketersediaannya sarana MCK umum

Peneliti VI (Julian Pratama):

o A. Ketidaktahuan tentang cara memelihara jamban o B. Rendahnya tingkat pengetahuan tentang pentingnya jamban keluarga o C. Kurang nya kesadaran dalam penggunaan jamban o D. Tidak tersedianya air dan alat pembersih di jamban o E. Jarak sumber air bersih yang jauh

Dari sekian masalah yang ada pada keluarga binaan tersebut, melalui proses musyawarah antara kelompok dengan para tenaga kesehatan di PUSKESMAS Tanjung pasir diputuskan untuk mengangkat permasalahan Perilaku Buang Air Besar Tidak Pada Tempatnya Pada Keluarga Binaan RT/RW 01/02 Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Pemilihan area masalah ini didasarkan atas berbagai pertimbangan yaitu: a. Berdasarkan data di puskesmas tanjung pasir didapatkan peninggkatan kasus diare dengan total 2.200 orang dari 51.000 orang. b. Dari pengamatan secara langsung yangdilakukan pada keluarga binaan didapatkan terbatasnya pengetahuan tentang perilaku buang air besar pada jamban. c. Kurangnya pengetahuan terhadap penyakit yang ditimbul akibat buang air besar tidak pada tempatnya.

Bab II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Perilaku 2.1.1.Pengertian Perilaku Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R atau Stimulus Organisme Respon.

2.1.2. Klasifikasi Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok : 1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance). Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. 2. Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. 3. Perilaku kesehatan lingkungan Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya.

2.1.3. Domain Perilaku Menurut Bloom, seperti dikutip Notoatmodjo (2003), membagi perilaku itu didalam 3 domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan, yaitu mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari ranah kognitif (kognitif domain), ranah affektif (affectife domain), dan ranah psikomotor (psicomotor domain). Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk kepentingan pengukuran hasil, ketiga domain itu diukur dari : 1. Pengetahuan (knowlegde) Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Tanpa pengetahuan seseorang tidak mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang : a. Faktor Internal Merupakan faktor dari dalam diri sendiri, misalnya intelegensia, minat dan kondisi fisik. b. Faktor Eksternal Merupakan faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat, atausarana. c. Faktor pendekatan belajar Merupakan faktor yang berhubungan dengan upaya belajar, misalnya strategi dan metode dalam pembelajaran. Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu : 1) Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. 2) Memahami (Comprehension) Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3) Aplikasi Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

4) Analisis Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain. 5) Sintesa Sintesa menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru. 6) Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi / objek. 2. Sikap (attitude) Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok : 1) Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek 2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek 3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave) Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan : 1) Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek). 2) Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. 3) Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 4) Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. 3. Praktik atau tindakan (practice) Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor

pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan (support) praktik ini mempunyai beberapa tingkatan : 1) Persepsi (perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama. 2) Respon terpimpin (guide response) Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat kedua. 3) Mekanisme (mecanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mancapai praktik tingkat tiga. 4) Adopsi (adoption) Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik.Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden. Menurut penelitian Rogers (1974) seperti dikutip Notoatmodjo (2003), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan yakni : 1) Kesadaran (awareness) Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek) 2) Tertarik (interest) Dimana orang mulai tertarik pada stimulus 3) Evaluasi (evaluation) Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. 4) Mencoba (trial) Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.

5) Menerima (Adoption) Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

2.1.4. Asumsi Determinan Perilaku Menurut Spranger, membagi kepribadian manusia menjadi 6 macam nilai kebudayaan. Kepribadian seseorang ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang dominan pada diri orang tersebut.Secara rinci perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya. Namun demikian realitasnya sulit dibedakan atau dideteksi gejala kejiwaan tersebut dipengaruhi oleh faktor lain diantaranya adalah pengalaman, keyakinan, sarana/fasilitas, sosial budaya dan sebagainya. Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkap faktor penentu yang dapat mempengaruhi perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain : 1. Teori Lawrence Green (1980) Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh : 1) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya. 2) Faktor pendorong (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat steril dan sebagainya. 3) Faktor pendukung (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

2. Teori Snehandu B. Kar (1983) Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari :

10

1) Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya (behavior itention). 2) Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support). 3) Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accesebility of information). 4) Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy). 5) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).

3. Teori WHO (1984) WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu adalah : 1) Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek (objek kesehatan). (a) Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. (b) Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. (c) Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap tindakantindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu kepada pengalaman orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang. 2) Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh. 3) Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya.

11

4) Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia (Notoatmodjo, 2003).

2.1.5 Praktek Buang Air Besar 1. Pengertian Praktek menurut Bartsmet (1994) di pengaruhi oleh kehendak sedangkan kehendak dipengaruhi oleh sikap dan norma subyektif. Sikap sendiri dipengaruhi oleh keyakinan akan hasil dari tindakan yang telah lalu. Norma subyektif dipengaruhi oleh keyakinan akan pendapat orang lain serta motivasi untuk mentaati pendapat tersebut. Terbentuknya praktik terutama pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif (pengetahuan) dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa objek diluarnya, sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap subjek terhadap objek yang diketahui. Secara lebih operasional praktik dapat diartiakan sebagai suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulasi) dari luar objek tersebut.Respons manusia tersebut dapat bersifat pasif yang meliputi pengetahuan, persepsi dan sikap, sedangkan yang bersifat aktif merupakan tindakan yang nyata atau practice.Stimulus atau rangsangan terdiri dari 4 unsur pokok yakni sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan dan lingkungan (Notoatmodjo, 2003). Menurut Becker (1987, Notoatmodjo 2007) Praktek buang air besar adalah perilaku-perilaku seseorang yang berkaitan dengan kegiatan pembuangan tinja meliputi, tempat pembuangan tinja dan pengelolaan tinja yang memenuhi syaratsyarat kesehatan dan bagaimana cara buang air besar yang sehat sehingga tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesehatan Menurut Notoadmodjo (2007), Praktik memiliki beberapa tingkatan, yaitu a. Persepsi Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yangakan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama. b. Respon terpimpin Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh adalah merupakan indicator praktik tingkat dua.

12

c. Mekanisme Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka dia sudah mencapai praktik pada tingkat tiga. d. Adaptasi Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tingkatannya tersebut. Adaptasi praktek (tindakan) memiliki beberapa indikator, antara lain: a. Tindakan (praktek) sehubungan dengan penyakit Tindakan ini mencakup antara lain: 1) Pencegahan penyakit, misalnya mengimunisasikan anak. 2) Penyembuhan penyakit, misalnya minum obat sesuai petunjuk dokter. b. Tindakan (praktek) pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Tindakan atau perilaku ini mencakup antara lain: mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, melakukan olahraga secara teratur, dan praktek perawatan kesehatan sebagainya. c. Tindakan (praktek) Kesehatan Lingkungan. Perilaku ini mencakup buang air besar di jamban, membuang sampah pada tempatnya. Secara lebih terperinci praktik manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gajala kajiwaan, seperti pengetahuan, dukungan, fasilitas, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya.

2. Mekanisme Buang Air Besar Semua makanan yang masuk ke dalam tubuh, akan di cerna oleh organ pencernaan. Selama proses pencernaan makanan di hancurkan menjadi zat-zat sederhaa yang dapat diserap dan di gunakan oleh sel dan jaringan tubuh kemudian sisa-sisa pembuangan akan dikeluarkan oleh tubuh berupa tinja, urine atau gas karbondioksida. Akhir dari proses pencernaan yang di keluarkan berupa tinja di sebut buang air besar (Notoatmodjo, 2003). Seseorang yang mempunyai kebiasaan teratur, akan merasa kebutuhan membuang air besar pada kira-kira waktu yang sama setiap hari. Hal ini di sebabkan oleh reflek gastro kolika yang biasanya bekerja sesudah sarapan pagi. Makanan yang sudah sampai lambung akan merangsang peristaltic di dalam usus, merambat ke kolon

13

sisa makanan yang dari hari sebelumnya, yang waktu malam mencapai sekum, mulai bergerak isi kolon dan terjadi persaan di daerah perineum. Tekanan intra abdominal bertambah dengan penutupan glottis, kontraksi diafragma dan otot abdominal, spinter anus mengendor, dan kerjanya berakhir. Kerja defekasi dipengaruhi oleh factor kebiasaan (Notoatmodjo, 2003). Seseorang hendaknya berlatih untuk buang air besar tiap pagi, sebelum kesibukan hari tertunda menyebabkan konstipasi (sembelit).Beberapa orang buang air besar sebelum sarapan pagi, atau ada juga yang sesudahnya.Ada yang harus keluar rumah pagi-pagi buang air besar setelah pulang kerja, ada pula yang pada malam hari karena membutuhkan waktu yang tenang untuk memenuhi kebutuhannya. Ada yang satu kali sehari, ada yang lebih sering, yang lain lagi dua hari sekali atau dengan jangka waktu lebih panjang. Jadi frekuen buang air besar tiap orang berbeda-beda. Seorang yang normal diperkirakan menghasilkan tinja rata-rata 330 gram sehari. Tinja ini berisi bakteri, lepasan epithelium usus, nitrogen, gram, zat besi, selulosa dan sisa zat makanan lain yang tidak larut dalam air (Notoatmodjo, 2007).

3. Permasalahan Praktek Buang Air Besar dan Akibat yang ditimbulkan Sejak dahulu sampai kapan pun, masalah pembuangan kotoran manusia selalu menjadi perhatian kesehatan lingkungan.Dengan pertambahan penduduk yang tidak sebanding dengan area pemukiman. Masalah pembuangan tinja semakin meningkat tinja merupakan sumber penyebaran penyakit yang multi kompleks yang harus sedini mungkin diatas. Pembuangan tinja yang tidak sanitasi dapat menyebabkan berbagai penyakit, karenanya perilaku buang air besar sembarangan, sebaiknya segera dihentikan. Keluarga masih banyak yang berperilaku tidak sehat dengan buang air besar di sungai.Pekarangan rumah atau tempat-tempat yang tidak selayaknya. Selain mengganggu udara segar karena bau yang tidak sedap juga menjadi peluang awal tempat berkembangnya vektor penyebab penyakit akibat kebiasaan perilaku manusia sendiri (Notoatmodjo, 2003). Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan pembuangan tinja dengan disertai cepatnya pertambahan penduduk, jelas akan mempercepat penyebaran penyakitpenyakit yang di tularkan melalui tinja. Untuk mencegah sekurang- kurangya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan kotoran manusia harus disuatu tempat tertentu atau jamban yang sehat (Notoatmodjo, 2003). Menurut Penuntun Hidup Sehat Edisi Keempat yang dikeluarkan oleh

14

Kementerian Kesehatan, di dalam topik kebersihan terdapat beberapa hal yang harus diketahui oleh keluarga dan masyarakat dan hal-hal itu berhubungan dengan perilaku buang air besar. Hal-hal tersebut adalah: (a) Kotoran manusia/tinja harus dibuang di jamban. Banyak penyakit disebabkan oleh bibit penyakit yang terdapat pada kotoran manusia.Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain: tifus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing (gelang, kremi, tambang, pita) schistosomiasis, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003). Bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan air yang telah tercemar.Pencemaran itu dapat terjadi melalui tangan, peralatan makan atau peralatan memasak. Cara yang paling penting untuk mencegah penyebaran bibit penyakit adalah dengan membuang tinja ke dalam jamban.Oleh karena itu setiap rumah hendaknya mempunyai jamban yang memenuhi syarat kesehatan.Kotoran dan tinja binatang harus dibuang jauh dari rumah, jalanan, dan tempat anak-anak bermain.Jamban harus sering dibersihkan, lubangnya harus selalu ditutup untuk mencegah bau dan masuknya lalat (jika jambannya bukan jamban leher angsa), dan tersedia sabun untuk cuci tangan.Kamar mandi juga perlu diberi ventilasi.Jika tidak ada jamban, tinja harus dikubur. Pemerintah daerah setempat dan lembaga swadaya masyarakat dapat membantu masyarakat membangun jamban sehat dengan cara memberi petunjuk tentang desain dan konstruksi jamban murah.Juga memberi petunjuk untuk memelihara dan melindungi sarana penyediaan air bersih dari pencemaran. (b) Semua anggota keluarga, termasuk anak-anak, harus mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sesudah buang air besar, sebelum menyentuh makanan dan sebelum memberi makan anak. Kedua tangan harus dibersihkan dengan sabun, diusahakan dengan air bersih yang mengalir. Hal ini akan membunuh bibit penyakit dan menghilangkan kotoran yang akan masuk ke makanan atau mulut. Mencuci tangan dengan sabun juga dapat mencegah infeksi cacing maka sabun harus tersedia di dekat jamban. Sangatlah penting untuk mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar, setelah membersihkan pantat bayi atau anak yang habis buang air besar, setelah memegang binatang atau makanan mentah. Tangan harus selalu dicuci dengan air dan sabun sebelum menyiapkan makanan, menyajikan makanan atau sebelum makan, sebelum memberi makan

15

anak dan ibu sebelum menyusui.Anak harus dilatih mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar dan sebelum makan untuk menghindari penyakit. Anakanak sering memasukkan tangan ke dalam mulutnya, jadi penting untuk sering membasuh tangan anak, terutama sesudah mereka bermain di tempat yang kotor atau bersama binatang. Anak-anak mudah terinfeksi oleh cacing yang dapat menyerap nutrisi dalam tubuh. Cacing dan telur- telurnya terdapat pada tinja dan kencing manusia dan binatang, pada permukaan air dan tanah, dan pada daging yang diolah kurang matang. Anak-anak sebaiknya dilarang bermain di dekat jamban atau tempat pembuangan tinja. Memakai alas kaki jika berada di dekat jamban sehingga dapat mencegah jenis cacing yang biasanya masuk ke dalam tubuh menembus kulit kaki. Anak-anak yang tinggal di lingkungan yang banyak cacing perlu diberi obat cacing satu atau maksimal dua kali setiap tahun.

4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Praktek Buang Air Besar a. Pengetahuan 1). Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, juga dapat diperoleh dari informasi yang disampaikan orang lain, didapat dari buku, atau media massa dan elektronik. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, penciuman, rasa dan raba.Sebagian besar pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Over Behavior). Pada dasarnya pengetahuan terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang dapat memahami sesuatu gejala dan memecahkan masalah yang dihadapi (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung ataupun melalui pengalaman orang lain. Pengetahaun dapat ditingkatkan melalui penyuluhan, baik secara individu maupun kelompok, untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan yang bertujuan untuk tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan optimal. 2). Tingkat Pengetahuan di dalam Domain Kognitif Menurut Notoatmodjo (1993), pengetahuan mempunyai 6 tingkatan, yaitu:

16

a. Tahu (Know) Diartikan sebagai pengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bagian yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tabu tentang apa yang dipelajari antara lain: menyebutkan, mendefinisikan dan mengatakan. b. Pemahaman (Comprehension) Diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentangobjek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.Orang telah memahami terhadap objek atau materi atau harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyampaikan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan buku, rumus, metode, prinsip dlam konteks atau situasi lain. Misalnya adalah dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian dan dapat menggunakan prinsipprinsip siklus pemecahan masalah kesehatan dari kasus-kasus yang diberikan. d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatuobjek dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, yaitu: dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan,

mengelompokkan dan sebagainya. e. Sintesis (Synthesis) Sintesis merujuk kepada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagianbagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan-kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.

17

3) Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003), yaitu: Tingkat pendidikan: semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka dia akan lebih mudah dalam menerima hal-hal baru sehingga akan lebih mudah pula untuk menyelesaikan hal-hal baru tersebut. Informasi: seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan memberikan pengetahuan yang jelas. Budaya: sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang, karena informasi-informasi baru akan disaring kira-kira sesuai dengan tidaknya dengan kebudayaan yang ada dan agama yang dianut. Pengalaman: berkaitan dengan umur dan pendidikan individu, maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan luas sedang umur semakin banyak (bertambah tua). Sosial ekonomi: tingkatan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup disesuaikan dengan penghasilan yang ada, sehingga menuntut pengetahuan yang dimiliki harus dipergunakan semaksimal mungkin. Begitupun dalam mencari bantuan ke sarana kesehatan yang ada. Mereka sesuaikan dengan pendapatan keluarga. b. Pendidikan 1). Pengertian Merupakan hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusiadan usaha lembaga-lembaga tersebut dalam mencapai tujuan untuk tingkat kemajuan masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan (Budiono, 1998). Disamping itu pendidikan juga dikatakan sebagai pengembangan diri dari individu dan kepribadian yang dilaksanakan secara sadar dan penuh tanggung jawab. Untuk meningkatkan pengetahuan sikap dan ketrampilan serta nilai-nilai sehingga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan (Yusuf, 1992). Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin baik pula tingkat pengetahuannya, bahwa ibu yang berpendidikan relatif tinggi cenderung memiliki kemampuan untuk menggunakan sumber daya keluarga. Yang lebih baik dibandingkan ibu yang berpendidikan rendah. Karena pengetahuan buang air besar yang sering kurang dipahami oleh keluarga yang tingkat pendidikannya rendah.

18

Sehingga memberi dampak dalam mengakses pengetahuan khususnya di bidang kesehatan untuk penerapan dalam kehidupan keluarga terutama pada keluarga yang berperilaku buang air besar di sembarang tempat (Notoatmojo, 2003). 2) Ruang lingkup pendidikan Ruang lingkup pendidikan terdiri dari pendidikan informal, non formal, dan formal. Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang dirumah dalam lingkungan keluarga. Pendidikan informal berlangsung tanpa organisasi, yakni tanpa orang tertentu yang diangkat atau ditunjuk sebagaipendidik tanpa suatu progam yang harus disesuaikan dalam jangka waktu tertentu dan tanpa evaluasi yang formal berbentuk ujian, sementara itu pendidikan non formal meliputi berbagai usaha khusus yang diselenggarakan secara terorganisasi terutama generasi muda dan orang dewasa, yang tidak dapat sepenuhnya atau sama sekali tidak berkesempatan mengikuti pendidikan sekolah dapat memiliki pengetahuan praktis dan ketrampilan dasar yang mereka perkirakan sebagai warga masyarakat yang produktif. Sedangkan pendidikan formal adalah pendidikan yang mempunyai bentuk atau organisasi tertentu seperti terdapat disekolah atau universitas (Notoatmojo, 2003). 3) Jenjang Pendidikan formal Menurut Undang-Undang Republik Indonesia tentang pendidikan No.20 Tahun 2003, jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi. Pendidikan dasar yaitu jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah seperti SD,MI, SMP, dan MTS atau bentuk lain yang sederajat. Sementara itu pendidikan menengah yaitu lanjutan pendidikan dasar yang terdiri dari pendidikan menengah kejurusan seperti SMA, MA, SMK, dan MAK atau bentuk lain yang sederajat. Sedangkan pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup progam pendidikan Diploma, Sarjana, Magister dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi (Kartono, 1992). 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi Tingkat pendidikan Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan terbagi menjadi 3, yaitu: a. faktor umur, b. faktor tingkat social ekonomi dan c. faktor lingkungan, Faktor umur merupakan indikator kedewasaan seseorang. Semakin bertambah

19

umur pendidikan yang didapat akan lebih banyak. Baik itu pendidikan formal maupun pendidikan non-formal yang diinginkan adalah terjadinya perubahan kemampuan, penampilan atau perilaku. Selanjutnya perubahan perilaku didasari adanya perubahan atau penambahan pengetahuan, sikap atau ketrampilannya (Notoatmojo, 2003). Faktor tingkat sosial ekonomi ini sangat mempengaruhi perbaikan pendidikan dan perbaikan pelayanan kesehatan yang inginkan oleh masyarakat. Rata-rata keluarga dengan sosial ekonomi yang cukup baik akan memilih tingkat pendidikan dan sarana kesehatan yang bagus dan bermutu. Sedangkan faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang besar dalam pendidikan seseorang seperti contoh orang yang berada dalam lingkungan keluarga yang mendukung serta mengutamakan pendidikan mereka akan lebih termotivasi untuk belajar sehingga pengetahuan yang mereka peroleh akan lebih baik dibandingkan dengan seseorang yang keluarganya tidak mendukung untuk merasakan bangku sekolah (Effendy, 1998). c. Sarana 1). Pengertian Sarana adalah adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja danfasilitas yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaanpekerjaan, dan juga dalam rangka kepentingan yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja. Jamban keluarga atau tempat pembuangan kotoran adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja atau kotoran manusia yang lazim disebut kakus/WC dan memenuhi syarat jamban sehat atau baik. Manfaat jamban keluarga adalah untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dan kotoran manusia (Salimmadjid, 2009). 2). Menentukan letak pembuangan kotoran Untuk menentukan letak pembuangan kotoran, terlebih dahulu kita harus memperhatikan ada atau tidaknya sumber-sumber air. Kita perlu mempertimbangkan jarak dari tempat pembuangan kotoran ke sumber-sumber air terdekat. Pertimbangan jarak yang harus diambil antara tempat pembuangan kotoran dan sumber air, kita harus memperhatikan bagaimana keadaan tanah, kemiringannya, permukaan air tanah, pengaruh banjir pada musim hujan, dan sebagainya. (Mubarak, 2009). 3). Beberapa macam tempat pembuangan kotoran Menurut konstruksi dan cara mempergunakannya, dikenal bermacam-macam

20

tempat pembuangan kotoran, yaitu: a. Jamban cemplung Bentuk kakus ini adalah yang paling sederhana yang dapat dianjurkan kepada masyarakat. Nama ini digunakan karena bila orang mempergunakan kakusmacam ini, maka kotorannya langsung masuk jatuh kedalam tempat penampungan (Mubarak, 2009). b. Jamban plengsengan Plengsengan juga berasal dari bahasa Jawa melengseng yang berarti miring. Nama ini digunakan karena dari lubang tempat jongkok ke tempat penampungan kotoran dihubungkan oleh suatu saluran yang miring. Jadi, tempat jongkok dari kakus ini tidak dibuat persis di atas tempat penampungan, tetapi agak jauh. c. Jamban bor Dinamakan demikian karena tempat penampungan kotorannya dibuat dengan mempergunakan bor. Bor yang dipergunakan adalah bor tangan yang disebut bor Auger dengan diameter antara 30-40 cm. Sudah barang tentu lubang yang dibuat harus jauh lebih dalam dibandingkan dengan lubang yang digali seperti pada jamban cemplung dan kakus plengsengan, karena diameter jamban bor jauh lebih kecil. d. Angsatrine (Water Seal Latrine) Jamban ini dibawah tempat jongkoknya ditempatkan atau dipasang suatu alat yang berbentuk seperti leher angsa yang disebut bowl. Bowl ini berfungsi mencegah timbulnya bau. Kotoran yang berada di tempat penampungan tidak tercium baunya, karena terhalang oleh air yang selalu terdapat dalam bagian yang melengkung. e. Jamban di atas balong (empang) Membuat jamban di atas Balong (yang kotorannya dialirkan ke balong) adalah cara pembuangan kotoran yang tidak dianjurkan, tetapi sulit untuk menghilangkannya, terutama di daerah yang terdapat banyak balong. Sebelum kita berhasil mengalihkan kebiasaan tersebut kepada kebiasaan yang harapkan, dapatkah cara tersebut diteruskan dengan memberikan persyaratan tertentu (Mubarak, 2009), antara lain: Air dari balong tersebut jangan dipergunakan untuk mandi.

21

Letak jamban harus sedemikian rupa, sehingga kotoran selalu jatuh di air. Tidak terdapat sumber air minum yang terletak di bak balong tersebut atau yang sejajar dengan jarak 15 meter. Aman dalam pemakaiannya.

f. Jamban septic tank Jamban septic tank berasal dari kata septic, yang berarti pembusukan secara anaerob. Kita pergunakan nama septic tank karena dalam pembuangan kotoran terjadi proses pembusukan oleh kuman-kuman pembusuk yang sifatnya anaerob. Septic tank bisa terjadi dari dua bak atau lebih serta dapat pula terdiri atas satu bak saja dengan mengatur sedemikian rupa (misalnya dengan memasang beberapa sekat atau tembok penghalang), sehingga dapat memperlambat pengaliran air kotor di dalam bak tersebut (Mubarak, 2009).

Suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhi persyaratan persyaratan sebagai berikut (Notoatmodjo, 2003): 1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekelilingi jamban tersebut. 2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya. 3. Tidak mengotori air tanah dan di sekitarnya. 4. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa, dan binatang. 5. Tidak menimbulkan bau. 6. Mudah digunakan dan dipelihara. 7. Sederhana desainnya. 8. Murah. Agar persyaratan-persyaratan tersebut dapat dipenuhi maka perlu diperhatikan antara lain (Notoatmodjo, 2003): 1. Sebaiknya jamban tersebut tertutup, artinya bangunan jamban terlindung dari panas dan hujan, sehingga binatang-binatang lain terlindung dari pandangan orang dan sebagainya. 2. Bangunan jamban sebaiknya mempunyai lantai yang kuat, tempat berpijak yang kuat dan sebaiknya. 3. Bangunan jamban sedapat mungkin ditempatkan pada lokasi yang tidak menganggu pandangan, tidak menimbulkan bau dan sebagainya. 4. Sedapat mungkin disediakan alat pembersih seperti air atau sikat WC.

22

d. Dukungan Keluarga 1). Pengertian Keluarga merupakan sebagai unit terkecil dalam masyakat yang

merupakanklien keperawatan atau sebagai penerima asuhan keperawatan keluarga sangatberperan dalam menentukan cara asuhan yang di perlukan anggota keluarga yang sakit. Bila dalam keluarga tersebut salah satu anggotanya mengalami masalah kesehatan maka sistem dalam keluarga akan terpengaruh (Friedman, 1998). 2). Struktur Keluarga Struktur kekuatan keluarga meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan keluarga untuk saling berbagi, kemampuan sistem pendukung di antara anggota keluarga, kemampuan perawatan diri, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Menurut Effendy (1995), struktur keluarga ada bermacam-macam diantaranya adalah: a. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah. b. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu. c. Matrilokal adalah suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri. d. Patrilokal adalah suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami. e. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri. 3). Fungsi Keluarga Menurut Friedman (1999), 5 fungsi dasar keluarga adalah sebagai berikut: a. Fungsi afektif adalah fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan psikososial, saling mengasuh, dan memberikan cinta kasih, serta saling menerima dan mendukung. b. Fungsi sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan individu keluarga, tempat anggota keluarga berinteraksi sosial dan belajar berperan di lingkungan sosial. c. Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia. d. Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti sandang, pangan, dan papan. e. Fungsi perawatan kesehatan adalah kemampuan keluarga untuk merawat

23

anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan. 4). Jenis Dukungan Keluarga Terdapat 4 jenis atau dimensi dukungan (Friedman, 1998), yaitu: a. Dukungan emosional Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi, meliputi empati, kepedulian, dan perhatian terhadap anggota keluarga yang masih buang air besar misalnya umpan balik, penegasan. b. Dukungan penghargaan (penilaian) Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik

membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber dan validator identitas anggota. Yang terjadi lewat penghargaan positif untuk perilaku BAB, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif perilaku BAB dengan yang lain, yaitu orang-orang yang kurang mampu atau lebih buruk keadaannya.(menambah penghargaan diri). c. Dukungan instrumental Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkret mencakup bantuan langsung seperti dalam bentuk uang, peralatan, waktu, modifikasi, lingkungan, maupun menolong dengan pelajaran waktu

mengalami stres. d. Dukungan informatif Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan diseminato (penyedia) informasi tentang dunia mencakup memberi nasehat, petunjuk-petunjuk, sarana-sarana, atau umpan balik. Bentuk dukungan yang diberikan oleh keluarga adalah dorongan semangat, pemberian nasihat, atau pengawasan tentang perilaku BAB sehari-hari. Dukungan keluarga juga merupakan perasaan individu yang dapat perhatian, disenangi, dihargai, dan termasuk bagian dari masyarakat (Utami, 2003). 5). Hubungan dukungan keluarga dengan kesehatan Keluarga harus dilibatkan dalam progam pendidikan dan penyuluhan agar mereka mampu mendukung usaha keluarga yang masih buang air besar di sembarang tempat.Bimbingan/penyuluhan dan dorongan secara terus menerus biasanya diperlukan agar keluarga yang buang air besar sembarangan tersebut

24

mampu melaksanakan rencana yang dapat diterima dan mematuhi peraturan. Keluarga selalu dilibatkan dalam progam pendidikan sehingga mereka dapat memperingati bahwa buang air besar sembarangan dapat berdampak penyakitpenyakit (Brunner dan Suddart, 2001).

2.2 Kerangka Teori Mengacu dari konsep teori WHO, menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu adalah, karena adanya 6 alasan pokok, yaitu pengetahuan, sikap, orang penting sebagai referensi, sumber daya, dan pendidikan yang saling mendukung.
Jamban keluarga

Pendidikan -Tingkat pendidikan yang rendah

Sikap -Kebiasaan BAB tidak di jamban yang layak

Orang penting sebagai referensi/ dukungan keluarga -Kurangnya edukasi


Gambar.1. Kerangka Teori

Sumber daya -Kurangnya dana dan lahan untuk membuat jamban

Pengetahuan -Sudah sering kebiasaan buang air besar di luar rumah

2.3 Kerangka Konsep Kerangka konsep ialah panduan untuk mempermudah melakukan penelitian. Adapun kerangka konsep yang dibuat adalah sebagai berikut : Keluarga yang tidak tersedia jamban

Pendidikan yang kurang Pengetahuan tentang sanitasi yang layak Perilaku menjaga kebersihan setelah BAB Perilaku membuang BAB sembarangan Riwayat penyakit diare dan demam typhoid

Ketidaktersediaan Jamban Keluarga

Kepadatan rumah Lahan kurang Struktur tata ruang rumah Gambar.2. Kerangka Konsep

25

2.4 Definisi Operasional No Variabel Definisi


1. Perilaku Perilaku keluarga binaan dalam hal Buang Air Besardi jamban 2. Pengetahuan Segala sesuatu yang harus diketahui keluarga binaan mengenaitempat pembuangan air besar yang benar, kemudian penyakit yang dapat ditimbulkan akibat BAB sembarangan, dan kriteria jamban sehat. 3. Pendidikan Pendidikan formal terakhir kali yang ditempuh oleh keluarga binaan

Alat Ukur
Kuesioner

Cara Ukur
Wawancara

Hasil Ukur
Jika 4 Baik, Jika < 4 Buruk

Skala
Nominal

Kuesioner

Wawancara

Jika 3 Baik, Jika < 3 Buruk

Nominal

Kuesioner

Wawancara

Tinggi : Perguruan Tinggi Sedang : SMPSMA Rendah : Tidak Sekolah- SD Jika 4 Baik, Jika < 4 Buruk

Ordinal

4. Ketersediaan sarana

Ketersediaan jamban dan sumber air bersih di daerah lingkungan tempat tinggal keluarga binaan.

Kuesioner

Wawancara

Nominal

5. Dukungan keluarga

Dukungan keluarga dalam hal mengajarkan Buang Air Besar di jamban

Kuesioner

Wawancara

Jika 2 Baik, Jika < 2 Buruk

Nominal

26

LAMPIRAN I (KUESIONER)

PERILAKU BUANG AIR BESAR PADA KELUARGA BINAAN DI RT/RW 01/02 DESA TANJUNG PASIR, KECAMATAN TELUK NAGA, KABUPATEN TANGERANG, PROVINSI BANTEN

IDENTITAS RESPONDEN 1. Nama 2. Umur 3. Alamat 4. Pendidikan 5. Pekerjaan : : : : :

I.

PERILAKU 1. Apakah jika anda buang air besar dilakukan di jamban? a. Ya. b. Tidak. 2. Apakah anda menyiram kotoran anda setelah buang air besar? a. Ya b. Tidak 3. Apakah anda cebok setelah buang air besar? a. Ya. b. Tidak. 4. Apakah anda mencuci tangan setelah anda buang air besar? a. Ya. b. Tidak.

II.

PENGETAHUAN 1. Apakah anda mengetahui dimana tempat buang air besar yang benar? a. Tahu, sebutkan...... b. Tidak tahu 2. Apakah anda mengetahui mengenai penyakit apa saja yang ditimbulkan jika buang air besar sembarangan? a. Tahu. Jika tahu,sebutkan............... b. Tidak tahu 3. Apakah anda mengetahuitentang jamban sehat ? a. Tahu

27

b. Tidak tahu

III.

PENDIDIKAN 1. Apakah pendidikan terakhir anda? a. Perguruan Tinggi b. SMA c. SMP d. SD e. Tidak Sekolah

IV.

KETERSEDIAAN SARANA 1. Apakah didalam tempat tinggal anda tersedia jamban? a. Ada b. Tidak Ada 2. Apakah di lingkungan sekitar anda tersedia jambanumum? a. Ada b. Tidak Ada 3. Apakahdi dalam tempat tinggal anda tersedia sumber air bersih? a. Ada b. Tidak ada 4. Apakahdi lingkungan sekitar anda tersedia sumber air bersih? a. Ada b. Tidak ada

V.

DUKUNGAN KELUARGA 1. Apakah anda mengajarkan kepada keluarga anda untuk buang air besar di jamban? a. Ya. b. Tidak. 2. Bagaimana anda mengajarkan tentang perilaku buang air besar yang baik dan benar kepada keluarga? a. Sesuai acuan penuntun hidup sehat b. Menurut pemahaman diri sendiri

28

LAMPIRAN II (LEMBAR SKORING)

I.

ASPEK PERILAKU 1. Untuk pertanyaan no.1 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0 2. Untuk pertanyaan no.2 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0 3. Untuk pertanyaan no.3 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0 4. Untuk pertanyaan no.4 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0

II.

ASPEK PENGETAHUAN 1. Untuk pertanyaan no.1 apabila menjawab : a. Jika menjawab jamban, Mendapatkan poin 2. Selain jamban mendapat point 1 b. Mendapatkan poin 0 2. Untuk pertanyaan no.2 apabila menjawab : a. Jika menjawab 2 penyakit Mendapatkan poin 2 Jika Menjawab 1 mendapatkan poin 1. b. Mendapatkan poin 0 3. Untuk pertanyaan no.3 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0

III.

ASPEK PENDIDIKAN 1. Untuk pertanyaan no.1 apabila menjawab : a. Perguruan tinggi bernilai tinggi b. SMA berarti bernilai sedang c. SMP berarti bernilai sedang

29

d. SD berarti bernilai rendah e. Tidak sekolah berarti rendah

IV.

ASPEK KETERSEDIAAN SARANA 1. Untukpertanyaan no.1 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0 2. Untukpertanyaan no.2 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0 3. Untukpertanyaan no.3 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0 4. Untuk pertanyaan no.3 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0

V.

ASPEK DUKUNGAN KELUARGA 1. Untuk pertanyaan no.1 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0 2. Untuk pertanyaan no.2 apabila menjawab : a. Mendapatkan poin 2 b. Mendapatkan poin 0

30