Anda di halaman 1dari 3

Bagian Ketiga BIOANALISIS Bioanalisis yang dibahas disini merupakan bioanalisis dalam pengertian sempit yaitu merupakan analisis

obat dalam cairan hayati atau sampet biologis. Sampel biotogis mi ada karena adanya uji hayati baik uji hayati kualitatif maupun kuantitatif, sehingga antara bioassay dan bioanalisis sesungguhnya tidak bisa benar-benar dipisahkan. BAB VI. PENDAHULUAN Materi yang akan disampaikan meliputi: A. Definisi dan ruang Iingkup bioanalisis Bioanalisis merupakan analisis baik secara kualitatif maupun kuantitatif suatu bahan obat maupun sediaan obat dalam sampel biologis. 1. Bioanalisis kualitatif Bioanalisis kualitatif merupakan analisis suatu bahan obat maupun sediaan obat dalam sampel biologis yang berdasarkan ciri atau sifat fisika kimia senyawa. Disini tidak dihitung jumlahnya atau ditetapkan kadarnya, namun Iebih ditekankan pada pemeriksaan untuk mengetahui keberadaan senyawa yang diinginkan. 2. Bioanalisis kuantitatif Bioanalisis kuantitatif merupakan analisis suatu bahan obat maupun sediaan obat dalam sampel biologis yang didasarkan pada keberadaan senyawa, dengan cara melakukan penetapan Kadarnya. Sehingga bisa diketahut besarnya senyawa dan bisa dinyatakan secara kuantitatif. 3. Bioanalisis dalam percobaan in-vivo Percobaan in-vivo dilakukan menggunakan subyek uji secara utuh baik pada penehtian pre-klinik (menggunakan hewan uji utuh) atau uji klinik pada sukarelawan sehat ataupun pasien. Percobaan bisa meliputi uji farmakologi, farmakokinetika, toksikologi, uji bioekivalensi, uji klinik dan fase I sampal IV, monitoring obat, pengembangan dan modifikasi struktur maupun pengembangan formulasi obat. Obat dimasukkan ke dalam tubuh subyek uji (di dalam tubuh makhluk hidup), untuk dilihat efeknya atau pengaruh tubuh terhadap obat, dan sampel

biologis bisa berupa sampel darah, urin, saliva, biopsi jaringan, organ atau sampel yang lain tergantung jenis percobaan yang dilakukan. 4. Bioanalisis dalam percobaan in-vitro Percobaan in-vitro merupakan percobaan yang dilakukan diluar tubuh makhluk hidup, tetapi media yang digunakan tetap berasal dan tubuh makhluk hidup yang diambil dan bagian tertentu. Bisa berupa darah, kultur sel, atau organ terisolasi (jantung, usus, otot trachea dan sebagainya). Pada percobaan in-vitro penlu keahlian khusus dan pengalaman agar diperoleh hasil yang valid, perlu latihan bagaimana untuk preparasi organ, bagaimana menjaga kondisi agar organ tetap berfungsi, medium apa yang cocok untuk digunakan datam kultur set, bagaimana komposisi medium yang sesuai harus diperhatikan dengan seksama. Penanganan sampet juga tidak kalah rumit dibanding sampel dan percobaan in-vivo, masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. B. Arti penting bioanalisis 1. Dasar penetitian biomedik dan farmasetik Penetitian biomedik dan farmasetik akan menghasilkan sampel-sampel biologis, pengetahuan tentang penanganan sampel mulai saat pengumpulan, penyimpanan maupun saat ditakukan analisis sangat penting dimiliki oleh peneliti. 2. Pengembangan obat baru Penelitian untuk pengembangan obat baru akan melibatkan uji-uji farmakotogi, toksikotogi, farmakokinetika, mungkin juga uji mikrobiotogi dan uji lain yang dibutuhkan, jelas kesemuanya membutuhkan pengetahuan tentang bioanalisis, karena memang akan ada banyak sampel biotogis yang dihasilkan. 3. Studi bioavailabilitas dan bioeqivalensi Studi bioavaitabilitas dan bioeqivalensi tidak akan terlepas dan penetapan kadar obat dalam sampel biologis terutama darah dan urin. Disini bioanalisis kuantitatif memiliki peran besar. Dari hasil penetapan kadar obat dalam darah dan urin maka akan dilakukan perhitungan untuk mengetahui harga parameterparameter farmakokinetika dari satu obat atau lebih yang akan dibandingkan dengan parameter farmakokinetika obat standar. Dari hasil evaluasi akan diketahui apakah obat bioeqivalen atau tidak, memiliki bioavailabilitas yang sama atau tidak antara obat uji dengan obat standar. Penelitian ini berkaitan

erat dengan pengembangan formulasi karena formulasi obat akan sangat menentukan bagaimana proses absorbsi, yang selanjutnya akan berpengaruh pula pada proses distribusi, metabolisme dan juga ekskresi obat. 4. Penyalahgunaan obat dan farmasi forensik Pada kasus penyalahgunaan obat dan farmasi forensic yang berkaitan dengan kasus-kasus criminal biasanya yang lebih berperan adalah bioanalisis kualitatif bukan kuantitatif. Sebagai contoh bila ada seseorang yang keracunan obat, akan diutamakan pemeniksaan yang bersifat kualitatif untuk menentukan jenis obatnya, berapa lama obat digunakan sehingga dapat ditentukan tindakan yang tepat untuk menangani keracunan tersebut. Bukan berapa jumlah obat yang digunakan atau berapa jumlah obat yang terdapat dalam tubuh, karena hal ini disamping sulit untuk diketahui juga tidak akan bermanfaat untuk penanganan pasien.