Anda di halaman 1dari 4

Warta

Vol 2 No 1, Januari - Juli 2007


Diterbitkan oleh Yayasan Terumbu Karang Indonesia Kompleks Liga Mas Blok E2 no 11 Jakarta - 12760

alam Edisi Ini


Fitur :
Kepulauan Seribu, DKI Jakarta...............1

Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Fitur :

EDITORIAL...................................1 Riset : Data Dasar : Riset :

Terumbu Karang di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta..............................................1 Suhu Permukaan Air Laut di Kepulaun Seribu......................................................2 Ekosistem Pesisir di Pulau Petondan Timur dan Pengamatan Kelentingan Ekosistem Terumbu Karang..................3

Kepulauan Seribu di utara Jakarta sebenarnya tidak memiliki seribu buah pulau. Hanya 105 buah pulau yang terbentuk dari gugus terumbu karang yang tumbuh semenjak 12 ribu tahun yang lalu. Gugus kepulauan ini merupakan salah satu ekosistem terumbu karang yang pertama kali diteliti di Indonesia. Saat pertama kali diteliti pada tahun 1920, kawasan ini diakui akan keindahan maupun peranannya bagi

Resensi :

Status Terumbu Karang di NegaraNegara Yang Terkena Dampak Tsunami 2005..................4

Arah arus pada musim Barat (November Maret)

Jalur pelayaran

Lokasi pengamatan

Arah arus pada musim Timur (Mei - September)

Jalur

pelaya

ran

Limpasan dari darat

EDITORIAL
Dalam edisi ini, Warta TERANGI terasa sedikit berbeda. Kami akan membahas hasilhasil penelitian yang dilakukan di Kepulauan Seribu. Mengingat peranan pentingnya lokasi tersebut bagi kesejahteraan masyarakat, diharapkan hasil penelitian kami dapat berguna dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan ekosistem pesisir di Teluk Jakarta.
Limpasan dari darat Polusi dari darat

Peta Kepulauan Seribu berikut beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi ekosistem di kawasan tersebut

Vol 2 No 1, Januari - Juli 2007

RISET
...............Kepulauan Seribu sambungan dari halaman 1 masyarakat. Dalam perkembangannya, kawasan ini berfungsi sebagai pelabuhan dan jalur pelayaran yang semakin padat dari waktu ke waktu. Aktivitas yang semakin padat menyebabkan tingginya dampak lingkungan seperti polusi, perikanan yang merusak, hingga perubahan iklim. Untuk melindungi kawasan ini dari kerusakan lebih jauh, dibentuklah Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) pada tahun 1982. Sebanyak 78 pulau dilindungi dalam zona-zona yang berbeda yaitu zona Inti, zona wisata, zona perlindungan, dan zona pemukiman.

Terumbu Karang di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta


Pelestarian terumbu karang di Kepulauan Seribu sudah diresmikan sejak tahun 1982 melalui dibentuknya Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS). Sayangnya kerusakan terumbu karang masih saja terjadi. Saat ini, dibutuhkan data dasar untuk mengetahui apakah pola zonasi dalam TNKpS didasari oleh struktur komunitas karang. Untuk mendapatkan data tersebut, Yayasan TERANGI melakukan sebuah penelitian tentang struktur komunitas karang di Kepulauan Seribu. Sebanyak 39 transek digunakan untuk menghitung kelimpahan dan mengukur persentase tutupan bentik. Lokasi pengamatan dipilih untuk mewakili empat zona dalam TNKpS dan sebagai pembanding beberapa lokasi diluar TNKpS juga diambil. Pengamatan dilakukan pada bulan September 2005. Persentase tutupan karang hidup tiap zona berkisar antara 24,6 --- 34,4%, jumlah marga karang yang ditemukan sebanyak 63 marga. Kelimpahan karang sebanyak 44.958 koloni/ha yang kebanyakan berukuran diatas 25cm. Sebanyak 14% dari kelimpahan tersebut ternyata merupakan marga Montipora dan Fungia. Secara umum kondisi terumbu karang di dalam TNKpS lebih baik dibanding dengan di luar. Hal yang menarik untuk dikaji adalah, berdasarkan analisis komponen utama, tidak ditemukan adanya hubungan antara zonasi dengan struktur komunitas karang. Fakta tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa zonasi dalam TNKpS tidak didasari pada struktur komunitas karang. Berbagai tipe pengelolaan tidak terlalu berpengaruh, dilain pihak kondisi lingkungan lokal dan jarak dari Teluk Jakarta lebih berpengaruh terhadap struktur komunitas karang. Tulisan lengkap dan informasi lebih lanjut : www.terangi.or.id coral.science@terangi.or.id

Riset :

Suhu Permukaan Air Laut di Kepulaun Seribu


Semenjak bulan Mei 2006, Yayasan TERANGI memantau suhu permukaan air laut di Kpuluan Seribu. Bulan Mei 2006 tercatat sebagai bulan terpanas, dengan suhu rata-rata mencapai 30,3oC. Berikut ini hasil pengambilan data hingga bulan Oktober 2006.

Data Dasar :

Mei 2006 Juni 2006 Juli 2006 Agustus 2006 Oktober 2006

30,3OC 29,6OC 28,8OC 28,5OC 29OC


Grak hasil analisis komponen utama menunjukkan tidak adanya hubungan pula struktur komunitas karang dengan zonasi (out = diluar TNKpS, inha=pemukiman, tour=wisata, core=inti, prot=lindung)

September 2006 28,5OC

Vol 2 No 1, Januari - Juli 2007

RISET
Ekosistem Pesisir di Pulau Petondan Timur dan Sekitarnya
hidup yang berkisar antara 29- memantau kondisi ekosistem terumbu 77% dengan rata-rata 57%. karang. Kelimpahan karang cukup Pada bulan April 2006 terjadi banyak, hingga mencapa 327 fenomena yang cukup mengkhawatirkan. koloni/are. Saat itu, terjadi perubahan musim dan Anemon tabung (Ceriantharia), salah satu biota yang bisa Kekayaan jenis biota di sebelumnya terdapat insiden tumpahnya ditemukan di Petondan Timur Petondan Timur dan sekitarnya minyak mentah yang mencemari ternyata cukup tinggi. Setidaknya Kepulauan Seribu. Pengamatan saat itu Hingga saat ini, pengamatan secara 218 jenis karang keras (Scleractinia), menunjukkan kemunculan penyakit berkala dan berkesinambungan terhadap 34 jenis karang lunak (Octocorallia), karang white syndrome dan pemutihan ekosistem pesisir di sebuah pulau masih 202 jenis ikan, 24 jenis makroalga, karang. Sebanyak 3,9% karang terserang jarang dilakukan, terutama di kawasan 1 jenis udang (Crustacea), 11 jenis white syndrome dan 2,1% memutih. Kepulauan Seribu. Untuk mengisi Tunicata, 7 jenis Cnidaria non karang, Sebanyak 20 marga dari 13 suku kekosongan informasi tersebut, sebuah 31 jenis Echinodermata, 6 jenis cacing terpengaruh oleh kedua gejala stress penelitian dilakukan oleh Yayasan (Polychaeta), 37 jenis spons (Porifera), 1 tersebut. TERANGI pada bulan Juli 2005, hingga jenis mangrove, dan 6 jenis lamun. Ikan Tekanan antropogenik berikut April 2006 di Pulau Petondan Timur dari suku Pomacentridae dan Labridae tekanan alami secara signikan telah dan sekitarnya. Pengamatan dilakukan mendominasi struktur komunitas ikan mempengaruhi ekosistem pesisir di pada tanggal 25-29 Juli 2005 untuk karang, sedangkan biota bentos yang kawasan ini. Oleh sebab itu hasil dari mewakili musim timur, 3-7 Februari mendominasi adalah Parazoanthus penelitian ini, diharapkan dapat menjadi 2006 untuk mewakili musim barat, (Zoanthidae), Capillaster (Crinoidea), acuan bagi pengelolaan kawasan pesisir dan 17-22 April 2006 untuk mewakili dan Discosoma (Corallimorpharia). secara lestari. musim Perlaihan. Topik pengamatan Mangrove yang ditemukan ternyata yang diangkat meliputi struktur hanya terdiri dari tegakan komunitas karang, lamun, ikan karang, tunggal Rhiziphora dan makrobentos; juwana ikan padang mucronata. Tidak lamun; analisis vegetasi mangrove; ditemukan jenis mangrove pemutihan dan penyakit karang; dan lainnya. Sisi bagian Timur kekayaan jenis biota. Petondan merupakan Hasil pengamatan menunjukkan lokasi satu-satunya yang tidak adanya perubahan struktur ditumbuhi mangrove, komunitas biota di Petondan Timur dengan persentase tutupan walaupun terjadi perubahan musim tajuk hanya 10,99%. yang mengakibatkan perubahan faktor Hal lain yang cukup lingkungan. Hal ini menunjukkab menarik untuk diperhatikan bahwa biota di kawasan tersebut adalah, ikan kepe-kepe strip memang sudah teradaptasi dengan 8 (Chaetodon octofasciatus) perubahan musim. Perubahan yang dapat digunakan sebagai cukup signikan terjadi pada ekosistem indikator kesehatan padang lamun. Tutupan lamun berkisar terumbu karang. Ikan Karang yang memutih pada bulan April 2006. antara 5-70%. Penurunan persentase ini terbukti sebagai ikan tutupan terjadi saat musim peralihan pemakan karang sejati. Hal tersebut ketika air surut jauh, sehingga lamun dapat dilihat dari adanya korelasi positif banyak yang terpapar sinar matahari. Tulisan lengkap dan informasi lebih antara kelimpahan ikan tersebut dengan Kondisi ekosistem terumbu karang lanjut : persentase tutupan karang. Karena ikan juga tergolong baik. Hal tersebut dapat www.terangi.or.id ini mudah sekali untuk dikenali, maka dilihat dari persentase tutupan karang coral.science@terangi.or.id ia dapat dijadikan alternatif untuk

Riset :

Vol 2 No 1, Januari - Juli 2007

BERITA
Status Terumbu Karang di Negara-Negara Yang Terkena Dampak Tsunami
Rangkaian gelombang tsunami yang berlangsung pada 26 Desember 2004 terjadi secara mengejutkan dan merupakan hal baru bagi kebanyakan masyarakat yang terkena musibah tersebut di wilayah Samudera Hindia. Kejadian tersebut berlangsung tanpa peringatan pada hari dengan cuaca cerah; sehingga banyak masyarakat setempat dan wisatawan yang berada di pantai berjalan diatas rataan terumbu pada saat air laut menyurut agar dapat mengamati alam yang biasanya tersembunyi. Dalam beberapa menit saja, serangkaian gelombang kuat datang menyapu mereka dan menghempas daratan. Rangkaian tsunami tersebut mengakibatkan lebih dari 250.000 orang meninggal dunia atau hilang serta rusaknya infrastruktur dan sumberdaya pesisir. Sesungguhnya tsunami bukan merupakan hal baru, karena terdapat sejarah panjang tentang tsunami dan gempa bumi yang pernah terjadi di Samudera Hindia. Sejarah ini tertanam secara mendalam pada cerita rakyat dan budaya masyarakat adat; yang berlari ke daratan tinggi sebelum gelombanggelombang datang; sayangnya, masyarakat yang menjadi korban jiwa, tidak memiliki pengetahuan megenai dampak gempa bumi dan tsunami. Gelombang-gelombang tsunami tersebut datang dengan kekuatan yang dahsyat melewati terumbukarang dan menghantam daratan, yang mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan yang amat banyak. Kerusakan pada terumbu karang di Samudera Hindia tidak merata, bergantung pada lokasinya dan kondisi lingkungan setempat seperti bathimetri pesisir dan kerusakan pada daratan. Sebagian besar kerusakan yang terjadi pada terumbu karang merupakan akibat dari terlemparnya sedimen dan patahan karang oleh ombak, dan penyelimutan dari puing-puing yang tersapu dari daratan Di Indonesia, kerugian bersih gempa bumi primer di mencapai US$ dampak manusia lepas pantai Sumatra 332,4 juta, namun telah melebihi menimbulkan demikian, hanya tsunami dahsyat terdapat sedikit kerusakan yang dengan serangkaian informasi dasar ditimbulkan akibat ombak yang tingginya mengenai keadaan tsunami mencapai 30 m, terumbu karang menghantam pesisir di Sumatra bagian yang terdekat dan utara. mengakibatkan kerusakan luar biasa pada Terumbu yang terletak berdekatan kehidupan dan infrastruktur masyarakat dengan pusat gempa di Pulau Simeulue Aceh. Perkiraan jumlah kematian terangkat keluar dari air dan mati, berkisar antara 170.000 sampai 220.000. sementara terumbu berdekatan yang Kerusakan yang paling parah menimpa terletak di laut dalam tidak terpengaruhi. Propinsi Aceh terjadi di Meulaboh Pada terumbu lainnya terjadi kerusakan sampai Banda Aceh, Aceh Besar, dan sik yang cukup parah, yang sebagian Aceh Jaya. Hampir separuh dari nelayan besar disebabkan oleh puing-puing Aceh meninggal dan sekitar 40.000 dan sedimen yang tersapu dari daratan. rumah lenyap. Sekitar 65-70% dari Kerusakan tsunami menambah kapal nelayan hilang, dan bisa dikatakan kerusakan yang sebelumnya disebabkan seluruh wilayah budidaya hancur. oleh kegiatan manusia, seperti Pemerintah Indonesia telah mendata praktik penangkapan merusak seperti bahwa terdapat kerusakan terhadap 30% pengeboman ikan. Di sebagian besar dari 97.250 hektar terumbu karang dan wilayah tersebut, dampak manusia telah melebihi kerusakan yang ditimbulkan akibat tsunami. Diperkirakan 600 hektar padang lamun ikut rusak, bersamaan dengan mangrove yang luas, yang mungkin mencapai 85.000 hektar. Diduga kebanyakan dari terumbu dan padang lamun akan pulih dalam kurun waktu 10 tahun dengan catatan kegiatan manusia ditekan dan mangrove ditanam kembali. Institusi Anda membutuhkan publikasi ini? Hubungi kami di: clearinghouse@terangi.or.id Publikasi ini juga tersedia secara online di : www.terangi.or.id

Resensi :

Vol 2 No 1, Januari - Juli 2007

Anda mungkin juga menyukai