Anda di halaman 1dari 13

HEAT STERILISATION

MAKALAH TEKNOLOGI PEGOLAHAN PANGAN DAN HASIL PERTANIAN

oleh: Kelompok 4 Sadewa Aziz D Erna Setyowati Dessy Eka Kuliahsari Siti Tausyatul Maulidiya

(1317101010) (1317101010) (1317101010) (1317101010)

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2014

BAB 1. PENDAHULUAN

Pangan merupakan salah satu kebutuhan primer yang sangat penting bagi kehidupan. Manusia tidak dapat hidup apabila tidak ada yang dapat dikonsumsinya, Sehingga Pengolahan pangan sangat penting untuk kita ketahui serta bagaimana pengaruhnya terhadap pemenuhan gizi dalam masyarakat, Sehingga tidak mengherankan jika semua negara baik negara maju maupun yang sedang berkembang seperti negara Indonesia, selalu berusaha untuk menyediakan bahan pangan yang cukup, aman, dan bergizi. Salah satu caranya dengan melakukan berbagai cara pengolahan dan pengawetan pangan yang dapat memberikan perlindungan terhadap bahan pangan yang akan dikonsumsi. Dengan berkembangannya zaman dan seiring kemajuan teknologi, manusia mulai melakukan perubahan-perubahan cara mengolah makanan menjadi lebih baik dari sebulmnya, Hal ini bisa dikarenakan semakin lama kehidupan manusia semakin sibuk sehingga tidak mempunyai waktu untuk melakukan pengolahan dan saat sekarang manusia lebih menyukai makanan yang instan. Salah satu cara pengolahan bahan pangan yaitu dengan penggunaan panas, tujuan dari penggunaan panas agar makanan enak dimakan dan mempunyai daya simpan yang lebih lama. Banyak cara pengolahan panagan dengan panas yang bisa dilakukan, misalnya blansing, pasteurisasi dan sterilisasi. Sterilisasi dengan panas adalah unit operasi pengolahan pangan dengan memanaskan makanan pada suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama untuk menghancurkan mikroba dan aktivitas enzim. Sehingga makanan memiliki umur simpn yang lebih lama.

BAB 2. REVIEW

2.1 Prinsip Heat Sterilisasi Proses sterilisasi merupakan proses utama pada proses produksi pangan steril komersial, khususnya untuk menjamin tercapainya keamanan pangan steril komersial. Sterilisasi (Processing) pada pengalengan adalah proses pemanasan wadah serta isinya pada suhu dan jangka waktu tertentu untuk menghilangkan atau mengurangi faktor-faktor penyebab kerusakan makanan, tanpa menimbulkan gejala lewat pemasakan (over cooking) pada makanannya. Waktu dan suhu yang diperlukan untuk proses sterilisasi biasanya tergantung pada konsistensi atau ukuran partikel bahan, derajat keasaman isi kaleng, ukuran headspace, besar ukuran kaleng, kemurnian uap air (steam) yang digunakan, dan kecepatan

perambatan panas. (Kannan A, Gourisankar P.Ch., Sandaka 2008 . Heat Transfer Analysis of canned food Sterilization in a Still Retort. Journal of Food Engineering 88 213- 228) Sterilisasi adalah proses pemanasan yang dilakukan untuk mematikan semua bentuk organisme (Purnawijayanti, 2001). Suatu benda yang steril, dipandang dari sudut mikrobiologi, artinya bebas dari mikroorganisme hidup yang tidak diinginkan. Peranan sterilisasi pada pembuatan makanan dan obat-obatan, sterilisasi berfungsi untuk menjamin keamanan terhadap pencemaran oleh mikroorganisme (Gupte, 1990). Sterilisasi panas adalah unit operasi dimana makanan dipanaskan pada suhu yang cukup tinggi dan waktu yang cukup lama untuk membunuh mikroba dan mematikan aktivitas enzim. Dengan demikian makanan yang telah disterilkan memiliki umur simpan yang lebih lama yaitu lebih dari enam bulan apabila disimpan pada suhu kamar. Perlakuan yang terlalu panas dapat merubah substansi sensori dan kualitas gizi makanan. Oleh karena itu, perkembangan teknologi pengolahan pangan bertujuan untuk mengurangi kerusakan nutrisi dan komponen sensorik, dan mengurangi waktu pengolahan dalam wadah atau pengolahan makanan sebelum kemasan ( pengolahan aseptik ).

a. Sterilisasi dalam kemasan Lamanya dipengaruhi oleh: ketahanan panas mikroorganisme atau enzim yang ada dalam makanan kondisi pemanasan pH makanan ukuran wadah keadaan fisik makanan. Untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk membunuh mikroorganisme, maka terlebih dahulu harus mengetahui ketahanan mikroorganisme terhadap panas. 1. Ketahanan panas mikro-organisme Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan panas mikroorganisme atau enzim dan di karakterisasi oleh nilai-nilai D dan z. Kebanyakan spora tahan panas memiliki nilai az sekitar 10 C. Kenaikan suhu ini akan menghasilkan pengurangan sepuluh kali lipat dalam waktu pemrosesan yang dibutuhkan untuk mencapai kematian yang sama. Dalam makanan rendah asam (diatas pH 4,5), tahan panas, tidak membentuk spora mikro-organisme, Clostridium botulinum adalah patogen paling berbahaya yang kemungkinan akan hadir. Dalam kondisi anaerob dalam wadah tertutup dapat tumbuh untuk menghasilkan eksotoksin yang kuat, botulin, yang ampuh menjadi 65% dan fatal bagi manusia.. karena bahaya yang luar biasa dari botulin, mikroorganisme ini harus dihancurkan dan sterilisasi merupakan syarat minimun yang harus dilakukan. Ketika Cl. botulinum tumbuh dan menghasilkan toksin dalam wadah tertutup ada produksi karakteristik gas yang dapat menyebabkan terlihat pembengkakan wadah (meskipun ini bukan satu-satunya penyebab pembengkakan). Oleh karena itu, langkah-langkah jaminan meliputi observasi untuk kaleng bengkak atau kembung. Selain informasi mengenai tahan panas, perlu untuk mengumpulkan data yang menggambarkan waktu yang dibutuhkan untuk mensterilkan makanan

laju penetrasi panas ke dalam makanan untuk menghitung waktu pemrosesan yang dibutuhkan untuk sterilitas komersial.

2. Tingkat penetrasi panas Panas ditransfer dari uap atau air bertekanan melalui wadah dan ke makanan. Umumnya koefisien perpindahan panas permukaan sangat tinggi dan bukan merupakan faktor pembatas dalam transfer panas. Faktor-faktor berikut berpengaruh penting pada tingkat penetrasi panas menjadi makanan : Jenis produk. Cairan atau partikel makanan (misalnya kacang polong dalam air garam) di mana arus konveksi alami ditetapkan panas lebih cepat dari pada makanan padat yang panas ditransfer oleh konduksi (misalnya pasta daging dan kornet). Jadi, konduktivitas termal rendah dari makanan adalah keterbatasan utama untuk memanaskan transfer pemanasan konduksi makanan. Ukuran wadah. Penetrasi panas ke pusat lebih cepat dalam wadah kecil dibandingkan kontainer besar. Agitasi wadah. Akhir -over -end agitasi dan , pada tingkat lebih rendah , agitasi aksial meningkatkan efektivitas arus konveksi alami dan dengan demikian meningkatkan laju penetrasi panas dalam makanan kental atau semi-padat (misalnya kacang-kacangan dalam saus tomat). Suhu. Perbedaan suhu yang lebih tinggi antara makanan dan media pemanas menyebabkan penetrasi panas lebih cepat. Bentuk wadah. Wadah tinggi mempromosikan arus konveksi di konvektif pemanasan makanan. Tipe kontainer. Penetrasi panas lebih cepat melalui logam dari pada melalui kaca atau plastik karena konduktivitas termal berbeda.

3. Retort (pengolahan panas) Empat jenis utama dari panas sterilisable wadah adalah :

Kaleng logam Stoples kaca atau botol Kantong fleksibel Nampan kaku Sebelum wadah diproses, perlu pengeluaran udara. Hal ini untuk

mencegah perluasan udara dengan panas. Penghapusan oksigen juga mencegah korosi internal dan perubahan oksidatif dalam beberapa makanan. Uap menggantikan udara dan pendinginan bentuk parsial vakum dalam wadah. Wadah yang habis oleh : Panas mengisi makanan ke dalam wadah (umum digunakan karena juga makanan pra - seleksi yang mengurangi waktu pemrosesan). Dingin mengisi makanan dan kemudian pemanasan wadah dan isi untuk 80-95 C dengan tutup sebagian disegel . Penghapusan mekanik udara menggunakan pompa vakum Penutupan aliran steam , di mana ledakan uap ( pada 34-41,5 derajat celcius 103 Pa) membawa udara dari permukaan makanan segera sebelum wadah tertutup. Metode ini cocok untuk makanan cair di mana ada sedikit udara yang terjebak dalam produk dan permukaan datar dan tidak mengganggu aliran steam. Macam-macam sterilisasi yang dapat digunakan : a. Sterilisasi panas dengan tekanan atau sterilisasi uap (autoklaf) Sterilisasi Panas Lembab : Sterilisasi panas lembab adalah sterilisasi dengan menggunakan uap panas dibawah tekanan berlangsung didalam autoklaf, umumnya dilakukan dalam uap jenuh dalam waktu 30 menit dengan suhu 115 C 116 C, lama dan suhu tergantung bahan yang disterilisasi, untuk mengetahuinya lihat farmakope indonesia Pada saat melakukan sterilisasi uap, kita sebenarnya memapakan uap jenuh pada tekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek, sehingga terjadi pelepasan energi laen uap yang mengakibatkan denaturasi atau koagulasi

protein sel. Sterilisasi demikian merupakan sterilisasi paling efektif dan ideal karena uap merupakan pembawa (carrier) energi tertanal paling efektif dan semua lapisan pelindung luar mikroorganisme dapat dilunakan, sehingga memungkinkan terjadinya koagulasi, selain itu bersifat nontosik, mudah diperoleh dan relatif mudah dikontrol. (Stefanus, 2006). Dan menurut Sumarsih (2010), Sterilisasi menggunakan autoklaf merupakan cara yang paling baik karena uap air panas dengan tekanan tinggi menyebabkan penetrasi uap air ke dalam sel-sel mikroba menjadi optimal sehingga langsung mematikan mikroba.

b.

Sterilisasi panas kering (Oven) Sterilisasi Panas Kering : metode sterilisasi dengan menggunakan oven

pada suhu160-170 C selama 1-2 jam. umumnya sterilisasi panas dilakukan pada jenis minyak, serbuk yang tidak stabil terhadap uap air, dan alat-alat gelas ukur yang tidak digunakan untuk pengukuran (Bukan alat ukur). Proses sterilisasi panas kering terjadi melalui mekanisme konduksi panas. Panas akan diabsorpsi oleh permukaan luar alat yang disterilkan, lalu merambat ke bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk sterilisasi tercapai. Sterilisasi panas kering biasanya digunakan untuk alat-alat atau bahan dengan uap tidak dapat penetrasi secara mudah atau untuk peralatan yang terbuat dari kaca. Pada sterilisasi panas kering, pembunuhan mikroorganisme terjadi melalui mekanisme oksidasi sampai-sampai terjadinya koagulasi protein sel. Karena panas dan kering kurang efektif dalam membunuh mikroba dari autoklaf, maka sterilisasi memerlukan suhu yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang (Stefanus. 2006).

4. Pemanasan dengan steam jenuh Panas laten ditransfer ke makanan ketika uap jenuh mengembun di luar kontainer. Jika ada udara di dalam retort, maka akan membentuk sebuah film batas di sekitar kaleng yang mencegah uap dari kondensasi dan menyebabkan underprocessing makanan . Hal ini juga menghasilkan suhu yang lebih rendah dari

yang diperoleh dengan steam jenuh. Yang menjadi masalah pada makanan padat atau kental adalah tingkat penetrasi rendah panas ke pusat termal. Akibatnya, menyebabkan kerusakan pada nutrisi dan karakteristik sensorik dari makanan .

Pemanasan dengan air panas Makanan diproses dalam wadah kaca atau kantong fleksibel di bawah air

panas dengan over pressure udara. Wadah kaca yang tebal dari pada kaleng logam untuk memberikan kekuatan yang memadai. Makanan dalam nampan polimer kaku atau fleksibel kantong panas lebih cepat karena bahan lebih tipis dan penampang yang lebih kecil dari wadah. Hal ini memungkinkan penghematan energi dan menyebabkan overheating minimum di dekat dinding kontainer.

Pemanasan oleh api Pemanasan oleh api merupakan sterilisasi pada tekanan atmosfir

menggunakan pemanasan api langsung dari kaleng berputar menurut Beauvais et al. (1961), Casimir (1975) dan Anon. (1984). Tingginya tingkat panas transfer yang mungkin pada suhu nyala 1770C ,pengolahan singkat berakibat memproduksi makanan berkualitas tinggi dan mengurangi energi sebesar 20% dibandingkan dengan pengalengan konvensional. Namun, tekanan internal yang tinggi (275 - 103Pa pada 130C) membatasi metode ini untuk kaleng kecil. Hal ini digunakan, misalnya untuk memproses jamur, jagung manis, kacang hijau, pir dan daging sapi potong dadu. 2.2 2.3 Efek Heat Sterilisation pada Makanan Proses sterilisasi dengan menggunakan panas dapat memberikan efek pada makanan sendiri. 1. Warna Kombinasi suhu waktu yang digunakan dalam pengalengan memiliki efek besar pada sebagian besar pigmen alami dalam makanan. Misalnya, dalam daging

yang pigmen oxymyoglobin merah diubah menjadi metmioglobin coklat, dan mioglobin keunguan diubah menjadi myohaemichromogen merah-coklat. Maillard browning dan caramelisation juga berkontribusi pada perubahan warna pada daging disterilkan menggunakan heat sterilization. Dalam buah-buahan dan sayuran, klorofil diubah menjadi pheophytin, antosianin terdegradasi untuk pigmen coklat. Dengan perubahan warna tersebut, maka diijinkan penggunaan pewarna sintetis untuk memperbaiki warnanya. Perubahan warna makanan kaleng selama penyimpanan, misalnya, ketika besi atau timah bereaksi dengan anthocyanin untuk membentuk pigmen ungu, atau ketika leucoanthocyanins membentuk kompleks antosianin merah muda di sayuran seperti pir dan quince. Dalam susu yang disterilkan perubahan warna yang disebabkan caramelisation, Maillard browning dan perubahan reflektifitas misel kasein. Dalam pengolahan UHT, pigmen daging berubah warna, tapi ada sedikit caramelisation atau Maillard browning. Karoten dan betanin yang hampir tidak terpengaruh, dan klorofil dan antosianin lebih baik dipertahankan. Ada peningkatan keputihan dalam warna susu. 2. Rasa dan aroma Dalam daging kalengan ada perubahan yang kompleks, misalnya pirolisis, deaminasi dan dekarboksilasi asam amino, degradasi, reaksi Maillard dan caramelisation dari karbohidrat untuk furfural dan hydroxymethylfurfural, dan oksidasi dan dekarboksilasi lipid. Interaksi antara komponen ini menghasilkan lebih dari 600 rasa senyawa dalam sepuluh kelas kimia. Dalam buah-buahan dan sayuran, perubahan yang disebabkan reaksi kompleks yang melibatkan degradasi, rekombinasi dan volatilisasi dari aldehida, keton, gula, lakton, asam amino dan asam organik. Dalam susu yang dimasak, pengembangan rasa terjadi karena denaturasi protein whey untuk membentuk hidrogen sulfida dan pembentukan lakton dan metil keton dari lipid. di makanan aseptik disterilkan perubahan yang terjadi tidak parah, dan rasa alami susu, jus buah dan sayuran yang lebih baik dipertahankan.

3.

Texture atau viskositas

Dalam daging kalengan, perubahan tekstur disebabkan oleh koagulasi dan hilangnya water holding kapasitas protein, yang menghasilkan penyusutan dan pengerasan jaringan otot. Pelunakan disebabkan oleh hidrolisis kolagen, solubilisasi dari gelatin yang dihasilkan, dan mencair dan akan terjadi dispersi lemak melalui produk. Polifosfat ditambahkan ke beberapa produk untuk mengikat air. Hal ini meningkatkan kelembutan produk dan mengurangi susut. Dalam buah-buahan dan sayuran, pelunakan disebabkan oleh hidrolisis pectic bahan, gelatinisation pati dan solubilisasi sebagian hemiselulosa, dikombinasikan dengan hilangnya turgor sel. Garam kalsium dapat ditambahkan ke air Blancher, atau air garam atau sirup, untuk membentuk larutan kalsium Pektat dan dengan demikian untuk meningkatkan ketegasan dari produk kalengan. Garam yang berbeda diperlukan untuk berbagai jenis buah (misalnya kalsium hidroksida untuk ceri, kalsium klorida untuk tomat dan kalsium laktat untuk apel ) karena perbedaan proporsi pektin. Perubahan kecil dalam viskositas susu disebabkan oleh modifikasi K-kasein, menyebabkan peningkatan sensitivitas kalsium presipitasi dan koagulasi. Viskositas susu dan buah yanag disterilisasi tidak berubah. Tekstur potongan buah dan sayuran padat adalah lebih lembut daripada makanan yang belum diproses karena solubilisasi dari bahan pectic dan hilangnya turgor sel tetapi jauh lebih kuat daripada produk kalengan. Waktu yang relatif lama diperlukan untuk hidrolisis kolagen dan relatif rendah suhu yang dibutuhkan untuk mencegah ketangguhan serat daging yang ditemukan dalam kondisi pengalengan tapi tidak dalam pengolahan UHT. Oleh karena itu mungkin di bawah UHT kondisi. Tekstur daging murni ditentukan oleh pengurangan ukuran dan blending operasi dan tidak substansial dipengaruhi oleh pengolahan sterilisasi panas.

4. Nilai gizi Canning menyebabkan hidrolisis karbohidrat dan lipid, tetapi nutrisi dan nilai gizi tetap ada dan tidak terpengaruh. Protein akan digumpalkan dalam daging kaleng, sehingga menyebabkan kehilangan asam amino sebesar 10-20 %. Penurunan lisin akibat tingkat keparahan pemanasan tidak melebihi 25%.

Hilangnya tryptophan dan pada tingkat lebih rendah, terjadi kehilangan metionin yang akan mengurangi nilai biologis protein sebesar 6-9%. Dalam buah-buahan dan sayuran kaleng, kerugian yang signifikan dapat terjadi dalam semua vitamin larut air, khususnya asam askorbat. Namun, ada perbedaan yang terjadi karena perbedaan jenis makanan, kehadiran oksigen dalam wadah, dan metode persiapan (mengupas dan mengiris) atau blansing. Dalam beberapa makanan, vitamin ditransfer ke air garam atau sirup sehingga kerugian gizi pada produk lebih kecil. Kehilangan unsur hara juga terjadi selama periode penyimpanan lama, dan ini juga harus dipertimbangkan ketika menilai pentingnya makanan disterilkan dalam makanan. 2.4 Contoh produk Heat Sterilization 2.4.1 In-container sterilisation ( ikan dalam kemasan kaleng ) Sterilisasi pada sebagian besar makanan kaleng biasanya dilakukan secara komersial. Sterilisasi komersial adalah sterilisasi yang biasanya dilakukan terhadap sebagian besar makanan di dalam kaleng, plastik, atau botol. Bahan pangan yang disterilkan secara komersial berarti semua mikroba penyebab penyakit dan pembentuk racun (toksin) dalam makanan tersebut telah dimatikan, demikian juga mikroba pembusuk. Spora bakteri non-patogen yang tahan panas mungkin saja masih ada di dalam makanan setelah proses pemanasan, tetapi bersifat dorman (tidak dalam kondisi aktif berproduksi), sehingga keberadaannya tidak membahayakan jika produk tersebut disimpan dalam kondisi normal (Hariyadi, 2000). Makanan yang telah dilakukan sterilisasi komersial memiliki daya simpan yang tinggi. Produk pangan yang mengalami sterilisasi dan dikombinasikan dengan kemasan yang kedap udara dapat mencegah terjadinya rekontaminasi. Kondisi pengemasan yang kedap udara ini dapat menyebabkan terbatasnya jumlah udara yang ada, sehingga bakteri yang bersifat aerob tidak akan mampu tumbuh pada produk pangan tersebut. Umumnya, proses pengemasan bagi bahan pangan yang disterilisasi dikombinasikan dengan teknik pengemasan yang akan menyebabkan kondisi anaerobik. Kondisi ini akan memberikan beberapa keuntungan, antara lain

mikroba tidak tahan panas sehingga lebih mudah dimusnahkan pada proses pemanasan dan kondisi anaerobik ini dapat mengurangi reaksi oksidasi yang mungkin terjadi selama proses pemanasan maupun selama proses penyimpanan setelah proses. Untuk mempertahankan kondisi anaerobik ini, bahan pangan perlu dikemas dalam kemasan kedap udara. Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan retort. Dalam satu kali proses sterilisasi dapat mensterilkan 4 keranjang besi produk ikan kalengan atau setara dengan +6.800 kaleng kecil atau 3.400 kaleng besar. Suhu yang digunakan antara 115 117 0C dengan tekanan 0,8 atm, selama 85 menit jika yang disterilisasi adalah kaleng kecil dan 105 menit untuk kaleng besar. Sterilisasi dilakukan dengan memasukkan keranjang besi kedalam menggunakan bantuan rel. Sterilisasi dilakukan tidak hanya bertujuan untuk menghancurkan mikroba pembusuk dan pathogen, tetapi berguna untuk membuat produk menjadi cukup masak, yaitu dilihat dari penampilan, tekstur dan cita rasanya sesuai dengan yang diinginkan. 2.4.2 Ultra High Temperature / Uht (Susu Uht) Susu merupakan bahan pangan alami dengan nilai nutrisi yang lengkap dan telah dikonsumsi oleh hampir seluruh lapisan masyarakat namun hingga saat ini kualitas dan manfaatnya belum banyak dipahami oleh masyarakat (Eirry, 2005). Tingginya kandungan bakteri didalam susu disebabkan oleh kontaminasi sebagai akibat penanganan susu yang tidak hygienis. Kontaminasi bakteri pada susu tidak dapat dihindari kecuali dengan memperkecil kemungkinan

terkontaminasi dan menghambat pertumbuhan bakteri. Susu UHT (Ultra High Temperature) merupakan susu yang diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang singkat (135145 derjat Celcius) selama 2-5 detik. Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme (baik pembusuk maupun patogen) dan spora. Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidakberubah seperti susu segarnya.

Susu UHT dikemas secara higienis dengan menggunakan kemasan aseptik multilapis berteknologi canggih, Kemasan multilapis ini kedap udara sehingga bakteri pun tak dapat masuk ke dalamnya. Karena bebas bakteri perusak minuman, maka susu UHT pun tetap segar dan aman untuk dikonsumsi. Selain itu kemasan multilapis susu UHT ini juga kedap cahaya sehingga cahaya ultra violet tak akan mampu menembusnya dengan terlindungnya dari sinar ultra violet maka kesegaran susu UHT pun akan tetap terjaga. Setiap kemasan aseptik multilapis susu UHT disterilisasi satu per satu secara otomatis sebelum diisi dengan susu. Proses tersebut secara otomatis dilakukan hampir tanpa adanya campur tangan manusia sehingga menjamin produk yang sangat higienis dan memenuhi standar kesehatan internasional. Kelebihan-kelebihan susu UHT adalah simpannya yang sangat panjang ada susuh kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak perlu dimasukkan ke lemari pendingin. Jangka waktu ini lebih lama dari umur simpan produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain itu susu UHT merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada. Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi, relatif tidak berubah. Dengan demikian teknologi UHT dan kemasan aseptic multilapis

menjamin susu UHT bebas bakteri dan tahan lama tidak membutuhkan bahan pengawet dan tak perlu disimpan di lemari pendingin hingga 10 bulan setelah diproduksi.