Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH IDK II BIOAKUSTIK

OLEH : KELOMPOK 2 Elum nur risman Fanny luthfiani Feni fadilla Gita apri lonia Husna kholIda

Ilhanda Putri LOKAL : IA Dosen Pembimbing : Drs.Mulyadi.DT Basa,M.Si PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKES YARSI SUMBAR BUKITTINGGi 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami,sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya yakni dengan judul BIOAKUSTIK Makalah ini berisikan tentang apa itu penyakit jantung bawaan sianotik dan juga apa gejala dari penyakit jantung bawaan sianotik,diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang materi tersebut. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.Akhir kata,kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita,aamiin.

Bukittinggi,22 April 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1. Latar Belakang ......................................................................................... 2. Rumusan Masalah .................................................................................... 3. Tujuan ......................................................................................................

i ii 1 1 1 1

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................... Bioakustik ...................................................................................................... Gelombang Bunyi .......................................................................................... Kecepatan Bunyi / Cepat Rambat Bunyi ....................................................... Sifat Sifat Gelombang Bunyi ...................................................................... Klasifikasi Gelombang Bunyi ........................................................................ Sumber Bunyi ................................................................................................ Intensitas Bunyi ............................................................................................. Kebisingan ..................................................................................................... Suara .............................................................................................................. Vibrasi ............................................................................................................ Doppler .......................................................................................................... Undang-Undang Bioakustik...........................................................................

2 2 3 3 4 4 5 6 12 14 16 18 19

BAB III PENUTUP .................................................................................................. 3.1Kesimpulan .............................................................................................. 3.2Saran ......................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA
ii

11 11 12

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Membahas Bioakustik berarti berusaha mengurai keterkaitan antara bunyi dan gelombang bunyi, getaran dan sumber bunyi dengan kesehatan.... Bunyi atau suara merupakan salah satu jenis gelombang yang dirambatkan pada medium udara. Bunyi atau suara itu timbul akibat vibrasi yang ditimbulkan dari materi sumber bunyi tersebut. Getaran ini akan menyebabkan merambatnya gelombang dalam medium, yang dalam hal ini adalah udara, dan perambatannya berupa perubahan tekanan secara merambat dan merenggang. Sehingga kita mengenal gelombang bunyi sebagai gelombang longitudinal yang berupa rapatan dan renggangan dimana bentuknya juga khas. Setiap benda memiliki karakteristik material yang berbeda, sehingga jika sebuah benda digetarkan dapat menyebabkan bunyi yang terdengar akan terasa berbeda pula jika dibandingkan dengan benda lainnya. Selain itu setiap benda yang bergetar juga memiliki kekhasan dalam bentuk getaran atau frekuensinya. Dan gelombang bunyi ini dapat berbentuk sinyal periodik yang sederhana (frekuensi tunggal) maupun yang kompeks (kombinasi banyak frekuensi).

1.2. Tujuan Pembahasan Adapun tujuan makalah ini : a. Untuk mengetahui beberapa prinsip gelombang b. Untuk mengetahui sifat bunyi dalam kehidupan c. Mempelajari jenis bunyi berdasarkan frekuensinya d. Serta membahas tentang kemampuan telinga menerima bunyi, pembagian telinga, & proses pendengaran.

1.3. Rumusan Masalah a. Bagaimana cara merambatnya bunyi ? b. Apa manfaat gelombang dalam kesehatan ? c. Bagaimana proses pendengaran itu terjadi ?
1

BAB II PEMBAHASAN

Bioakustik
Bioakustik berasal dari kata bio dan akustika, bio artinya hidup atau hayat dan akustika berarti kajian getaran dan bunyi. Sedangkan menurut istilah akustika berarti bagian pisis pendengaran yang tercakup dalam suatu bidang. Bioakustik adalah suatu perubahan mekanik terhadap zat gas, zat cair atau zat padat yang sering menimbulkan gelombang bunyi. Gelombang bunyi ini merupakan vibrasi atau getaran molekul molekul dan saling beradu satu sama lain namun demikian zat tersebut terkoordinasi menghasilkan gelombang, jadi Bioakustik yaitu ilmu yang mempelajari tentang proses penerimaan pendengaran yang timbul oleh mahluk hidup.

A.Gelombang Bunyi Gelombang bunyi yaitu gelombang yang dihasilkan akibat adanya vibrasi atau getaran dari suatu bunyi, sedangkan bunyi itu adalah rambatan, usikan elastis dalam medium konibue ( tiga dimensi ). Gelombang bunyi timbul akibat terjadi perubahan mekanika pada gas, zat cair atau gas yang merambat kedepan dengan kecepatan. Gelombang bunyi menjalar secara tranversal atau secara longitudinal. Secara tranversal arahnya tegak lurus dengan arah getaran sedangkan secara longitudinal arah rambatnya sejajar dengan arah getaran. Gelombag bunyi mempunyai sifat memantul, diteruskan dan diserap oleh benda. Gelombang bunyi merupakan gelombang longitudinal yang tidak tampak, cara merambat gelombang bunyi mirip merambatnya gelombang dipermukaan air. Jadi gelombang bunyi merambat ke segala arah, bunyi hanya dapat merambat melalui medium perantara misalnya udara, air dan kayu. Tanpa medium perantara gelombang bunyi tidak dapat merambat sehingga tidak terdengar. Bunyi tidak dapat terdengar diruang hampa udara ( vakum ), diangkasa luar dan di bulan.

B.Kecepatan Bunyi / Cepat Rambat Bunyi Kecepatan bunyi yaitu jarak yang ditempuh bunyi dalam waktu satu sekon. Bunyi memerlukan waktu untuk merambat melalui medium udara dari satu tempat ke tempat lain. Cepat rambat bunyi diudara pertama diselidiki oleh Fisikiawan Belanda yaitu Moll dan Van Beek, selain itu ilmuwan yang pernah melakukan penyelidikan cepat rambat bunyi didalam zat padat, zat cair dan zat gas adalah Otto Von Guericke ( 1602-1686 ). Dia merupakan seorang Fisikiawan berkebangsaan Jerman. Kesimpulannya, zat padat merupakan medium perambatan bunyi yang paling baik dibandingkan zat cair dan gas. Untuk merambat melalui suatu medium, bunyi memerlukan waktu tertentu yang disebut cepat rambat bunyi ( v ), waktu tempuh ( t ), dan jarak tempuh ( s ).

Rumus : V = S t Ket : V = Kecepatan ( meter / sekon ) S = Jarak ( Jarak ) t = Waktu ( Sekon ) Cepat rambat bunyi pada berbagai medium perantara berbeda-beda seperti terlihat pada table berikut : No 1 2 3 4 5 6 7 8 Medium Perantara Kaca Besi Alumunium Emas Air Udara ( 20oC ) Kayu Karbon dioksida ( CO2 ) Cepat Rambat Bunyi ( m/s ) 5.170 5.120 5000 2030 1446 343 500 267

Cepat rambat bunyi diudara dipengaruhi oleh suhu udara. Makin tinggi suhu udara, makin cepat rambat bunyi pada suhu 0oC cepat rambat bunyi diudara, 334 m/s , pada suhu 15oC sebesar 340 m/s , pada suhu 20oC sebesar 343 m/s dan pada suhu 25oC sebesar 347 m/s. Besar cepat rambat bunyi dalam suatu tertentu dapat dihitung seperti rumusan dibawah ini : V = Vo + 0,6 T Ket : V = Cepat rambat bunyi pada suhu To C ( m/s ) Vo = Cepat rambat bunyi pada suhu 0o C ( m/s ) T = Suhu ( oC ) C.Sifat Sifat Gelombang Bunyi a. Memantulkan, misalnya seorang yang sedang berteriak diatas bukit maka sesaat kemudian akan terdengar bunyi pantulan yang dihasilkan dari teriakannya itu. b.Diteruskan misalnya orang yang sedang memandang adzan suaranya akan diteruskan oleh udara, contoh lainnya kita bisa mengetahui arah datangnya kereta api melalui rel kereta api. c.Diserap misalnya sekelompok anak muda yang sedang bermain musik distudio yang memakai penyadap suara maka bunyi musik tersebut tidak akan terdengar keluar.

D.Klasifikasi Gelombang Bunyi Gelombang bunyi dapat diklasifikasikan berdasarkan frekuensi yaitu Infrasonic ( bunyi infra ), Audiosonik ( bunyi jangkauan pendengaran ) dan Ultrasonic ( Bunyi ultra ). 1. Infrasonik Gelombang bunyi yang memiliki frekuensi kurang dari 20 Hz bunyi pada frekuensi ini tidak dapat didengar manusia. Pada frekuensi ini gelombang bunyi hanya dapat didengar oleh binatang tertentu seperti jangkrik. 2. Audiosonik

Frekuesi gelombang bunyi audiosonik berkisar antara 20 Hz 20.000 Hz bunyi pada rentang frekuensi inilah yang dapat didengar manusia rentang frekuensi ini dinamakan jangkauan pendengaran. 3. Ultrasonik Gelombang bunyi ultrasonik memiliki frekuensi diatas 20.000 Hz. Bunyi pada frekuensi ini tidak dapat didengar manusia. Binatang yang dapat mendengar ultrasonic antara lain anjing dapat mendengar frekuensi 50.000 Hz, kelelawar dapat mendeteksi frekuensi sampai 100.000 hz.

E. Sumber Bunyi Sumber bunyi adalah sesuatu yang bergetar dan menghasilkan bunyi. Bunyi merupakan vibrasi atau getaran dari molekul molekul zat dan saling beradu satu sama lain, namun demikian zat tersebut terkoordinasi menghasilkan gelombang serta mentransmisikan energi bahkan tidak pernah terjadi pemindahan partikel. Syarat terdengarnya bunyi ada 3 faktor yang menentukan bunyi dapat didengar yaitu : 1.Sumber bunyi adalah segala sesuatu yang bergetar, kuat lemahnya bunyi yang dihasilkan sumber getar tergantung pada : a. b. Besar / kecil amplitudo getaran. Jauh / dekatnya sumber bunyi dengan pendengar.

2.Zat antara ( medium ) adalah gelombang bunyi dapat didengar bila ada zat antara untuk merambat sampai ke pendengar. Bunyi merambat melalui zat antara berupa gas ( udara ), zat cair, dan zat padat. Bunyi yang senantiasa kita dengar berasal dari sumber bunyi merambat melaui udara. Oleh sebab itu diruang hampa gelombang bunyi tidak dapat didengar.

3.Pendengar adalah bunyi dapat didengar bila ada pendengar dan bunyi dapat didengar jika memenuhi syarat sebagai berikut : a.Alat pendengar normal b.Pendengar dalam keadaan sadar, dan

c.Frekuensi antara gelombang bunyi 20 Hz 20.000 Hz

Sumber bunyi bisa berasal dari alam dan perbuatan manusia. Contoh bunyi dari Alam : Bunyi yang ditimbulkan dari dahan karena angina. Bunyi yang ditimbulkan dari deburan ombak. Bunyi yang ditimbulkan dari hujan. Bunyi yang diditimbulkan dari halilintar. Contoh bunyi yang berasal dari Perbuatan Manusia : *Bunyi yang dihasilkan dari instrument musik, misalnya : Gitar, Piano, Biola dll. *Bunyi yang dihasilkan ruang mulut dan ruang hidung manusia.

F.Intensitas Bunyi Intensitas bunyi adalah energi bunyi tiap satuan waktu yang menembus secara tegak lurus bidang persatuan luas.

I= P = P A 4 r2 Ket : A = Luas alas P = Energi yang dimiliki I = Intensitas bunyi

Perbedaan Intensitas yang dapat didengar oleh 2 ditektor bunyi yang memiliki jarak berbeda dari sebuah sumber bunyi ditentukan sebagai berikut : I2 : I1 = r12 : r22 Untuk menghitung intensitas bunyi perlu mengetahui energi yang dibawa oleh gelombang bunyi. Energi gelombang bunyi ada 2 yaitu : 1. Energi Potensial Bunyi 2. Energi Kinetik

Intensitas gelombang bunyi ( I ) yaitu energi yang melewati medium I m2 / detik atau watt / m2. Rumusnya adalah : I = 1 /2 v A2 ( 2 f )2 = 1 /2 2 ( A )2 Ket : I = Massa jenis medium ( kg / m3 ) v = Kecepatan bunyi ( m / detik ) = 2 = Impedansi Akustik A = Maksimum amplitude atom atom / molekul F = Frekuensi W = 2 f = Frekuensi sudut Intensitas ( I ) dapat pula dinyatakan sebagai berikut : I = PO2 2Z PO = Perubahan Tekanan Maksimum ( N / m2 )

Taraf Intensitas Bunyi Taraf intensitas bunyi adalah logaritma perbandingan intensitas bunyi terhadap intensitas ambang pendengaran. TI = 10 log satuan deciBell (dB)

Dalam materi ini akan dibahas telinga sebagai organ pendengaran, gelombang ultrasonik dan manfaatnya serta kebisingan pada tulisan berikutnya mencakup hilang pendengaran (tuli), test pendengaran dan materi pelengkap Telinga sebagai alat pendengaran telinga merupakan organ untuk pendengaran dan keseimbangan, yang terdiri dari telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam telinga luar menangkap gelombang suara yang dirubah menjadi energi mekanis oleh telinga tengah. telinga tengah merubah energi mekanis menjadi gelombang saraf, yang kemudian dihantarkan ke otak. telinga dalam juga membantu menjaga keseimbangan tubuh.

telinga luar telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna atau aurikel) dan saluran telinga (meatus auditorius eksternus). telinga luar merupakan tulang rawan (kartilago) yang dilapisi oleh kulit, daun telinga kaku tetapi juga lentur. suara yang ditangkap oleh daun telinga mengalir melalui saluran telinga ke gendang telinga. gendang telinga adalah selaput tipis yang dilapisi oleh kulit, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga luar.

telinga tengah teling tengah terdiri dari gendang telinga (membran timpani) dan sebuah ruang kecil berisi udara yang memiliki 3 tulang kecil yang menghubungkan gendang telinga dengan telinga dalam. ketiga tulang tersebut adalah: 1. maleus (bentuknya seperti palu, melekat pada gendang telinga) 2. inkus (menghugungkan maleus dan stapes) 3. stapes (melekat pda jendela oval di pintu masuk ke telinga dalam). getaran dari gendang telinga diperkuat secara mekanik oleh tulang-tulang tersebut dan dihantarkan ke jendela oval. telinga tengah juga memiliki 2 otot yang kecil-kecil: otot tensor timpani (melekat pada maleus dan menjaga agar gendang telinga tetap menempel) otot stapedius (melekat pada stapes dan menstabilkan hubungan antara stapedius dengan jendela oval. jika telinga menerima suara yang keras, maka otot stapedius akan berkontraksi sehingga rangkaian tulang-tulang semakin kaku dan hanya sedikit suara yang dihantarkan. respon ini disebut refleks akustik, yang membantu melindungi telinga dalam yang rapuh dari kerusakan
8

karena suara tuba eustakius adalah saluran kecil yang menghubungkan teling tengah dengan hidung bagian belakang, yang memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga tengah. tuba eustakius membuka ketika kita menelan, sehingga membantu menjaga tekanan udara yang sama pada kedua sisi gendang telinga, yang penting untuk fungsi pendengaran yang normal dan kenyamanan.

telinga dalam telinga dalam (labirin) adalah suatu struktur yang kompleks, yang terjdiri dari 2 bagian utama: koklea (organ pendengaran) kanalis semisirkuler (organ keseimbangan). koklea merupakan saluran berrongga yang berbentuk seperti rumah siput, terdiri dari cairan kental dan organ corti, yang mengandung ribuan sel-sel kecil (sel rambut) yang memiliki rambut yang mengarah ke dalam cairan tersebut. getaran suara yang dihantarkan dari tulang pendengaran di telinga tengah ke jendela oval di telinga dalam menyebabkan bergetarnya cairan dan sel rambut. sel rambut yang berbeda memberikan respon terhadap frekuensi suara yang berbeda dan merubahnya menjadi gelombang saraf. gelombang saraf ini lalu berjalan di sepanjang serat-serat saraf pendengaran yang akan membawanya ke otak. walaupun ada perlindungan dari refleks akustik, tetapi suara yang gaduh bisa menyebabkan kerusakan pada sel rambut. jika sel rambut rusak, dia tidak akan tumbuh kembali. jika telinga terus menerus menerima suara keras maka bisa terjadi kerusakan sel rambut yang progresif dan berkurangnya pendengaran. kanalis semisirkuler merupakan 3 saluran yang berisi cairan, yang berfungsi membantu menjaga keseimbangan. setiap gerakan kepala menyebabkan ciaran di dalam saluran bergerak. gerakan cairan di salah satu saluran bisa lebih besar dari gerakan cairan di saluran lainnya; hal ini tergantung kepada arah pergerakan kepala. saluran ini juga mengandung sel rambut yang memberikan respon terhadap gerakan cairan. sel rambut ini memprakarsai gelombang saraf yang menyampaikan pesan ke otak, ke arah mana kepala bergerak, sehingga keseimbangan bisa dipertahankan. jika terjadi infeksi pada kanalis semisirkuler, (seperti yang terjadi pada infeksi telinga tengah atau flu) maka bisa timbul vertigo (perasaan berputar).
9

ULTRASONIK Untuk mempelajari ultrasonik, kita harus mengingat terlebih dahulu tentang penggolongan frekuensi bunyi. Ultrasonik adalah gelombang bunyi dengan frekuensi lebih dari 20.000 Hz. Ultrasonik dapat diproduksi dengan piranti magnet listrik dan kristal piezoelektrik dengan frekuensi di atas 20.000 Hz.

Magnet listrik Jika batang ferromagnetik diletakkan pada medan magnet listrik maka akan timbul gelombang ultrasonik pada ujung batang ferromagnetik tersebut. Demikian pula jika batang ferromagnetik tersebut dilingkari kawat, kemudian dialiri listrik.

Alat diagnostik USG menggunakan gelombang ultrasonik yang mempunyai frekuensi 110 MHz. Kecepatan gelombang suara didalam suatu medium akan berbeda dari medium lainnya. Sifat akustik medium menentukan perbedaan ini. Frekuensi dan daya ultrasonik yang dipakai dalam bidang kedokteran disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk diagnostik digunakan frekuensi 1 5 MHz dengan daya 0,01 W/cm2. untuk terapi daya ditingkatkan menjadi 1 W/cm2, bahkan untuk menghancurkan kanker daya yang diperlukan sebesar 103 W/cm2.

Pengurangan intensitas merupakan atenuasi, yang dapat disebabkan oleh mekanisme, refleksi, refraksi, absorpsi dan scattening.

10

Pengaruh atenuasi dalam pemeriksaan USG : 1.Atenuasi akan membatasi kemampuan alat USG dalam memeriksa truktur jaringan tubuh hanya sampai batas ke dalaman tertentu. 2. Adanya atenuasi yang berbeda pada jaringan tubuh akan memberikan gambaran USG yang berbeda pula. 3. Alat USG sulit digunakan untuk memeriksa struktur jaringan tulang organ yang berisi gas. Dasar penggunaan ultrasonik adalah efek Dopler, yaitu terjadi perubahan frekuensi akibat adanya pergerakan pendengar atau sebaliknya dan getaran yang dikirim ke obyek akan direfleksikan oleh obyek itu sendiri.

Efek Gelombang Ultrasonik Gelombang ultrasonik dapat memberikan efek baik mekanik, panas, kimiawi maupun biologis. Atau perubahan perubahan siklik yang terjadi pada perambatan gel ultrasonik : getaran partikel, perubahan tekanan, peruabahan densitas, dan perubahan suhu. Semua perubahan diatas bersifat sementara dan penagruhnya sangat kecil, banyaknya panas yang timbul didalam jaringan tubuh ditentukan oleh : intensitas, lamanya pemaparan, dan koefisien absorpsi jaringan. Pemakaian gel ultrasonik dan intensitas tinggi dapat menimbulkan fenomena kavitasi pada medium yang berupa cairan. Faktor yang menambah keamanan penggunaan USG yang banyak dipakai saat ini mempunyai intensits <10 MW/Cm2.

Mekanik Membentuk emulsi asap/awan dan disintegrasi beberapa benda padat. Ini bisa digunakan untuk mendeteksi lokasi batu empedu. Panas Sebagian ultrasonik mengalami refleksi pada titik yang bersangkutan, dan sebagian lagi pada titik tersebut mengalami perubahan panas. Pada jaringan bisa terjadi pembentukan rongga dengan intensitas tinggi.

11

Kimia Gelombang ultrasonik menyebabkan oksidasi dan hidrolisis ikatan polyester.

Biologis Efek ini sebenarnya merupakan gabungan antara efek-efek di atas, misalnya panas menimbulkan dilatasi pembuluh darah. Ultrasonik juga meningkatkan permeabilitas membran sel dan kapiler serta merangsang aktifitas sel. Otot mengalami paralisis dan sel-sel hancur, bakteri dan virus dapat pula hancur. Keletihan akan terjadi jika frekuensi ultrasonik ditingkatkan. G. Kebisingan Bising ialah bunyi yang tidak dikehendaki yang merupakan aktivitas alam (bicara, pidato) maupun buatan (bunyi mesin) dan dapat menggangu kesehatan, kenyamanan serta dapat menimbulkan ketulian yang bersifat relatif. Alat ukur kebisingan adalah sound level meter. Baku tingkat kebisingan terdapat dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996. 1. Pembagian Kebisingan Berdasarkan frekuensi, tingkat tekanan, tingkat bunyi dan tenaga bunyi, maka bising dibagi dalam 3 katagori : a. Audible noise (bising pendengaran) Bising ini disebabkan oleh frekuensi bunyi antara 31,5 8.000 Hz b. Occupational noise ( bising yang berhubungan dengan pekerjaan) Bising ini disebabkan oleh bunyi mesin di tempat kerja, bising dari mesin ketik. c. Impuls noise (impact noise = bising impulsif) Bising yang terjadi akibat adanya bunyi yang menyentak, misalnya pukulan palu, ledakan meriam, tembakan dan lain lain Berdasarkan waktu terjadinya, maka bising dibagi dalam beberapa jenis : a. b. c. d. Bising kontinyu dengan spektrum luas, misalnya karena mesin, kipas angin Bising kontinyu dengan spektrum sempit, misalnya bunyi gergaji, penutup gas Bising terputus putus, misalnya lalu lintas, bunyi kapal terbang di udara Bising sehari penuh (full noise time)
12

e. f. g. 2. a. b. c. d.

Bising setengah hari (part time noise) Bising terus menerus (steady noise) Bising impulsive (impuls noise) ataupun bising sesaat (letupan)

Pengaruh Bising pada Kesehatan Hilangya pendengran sementara Kebal atau imun terhadap bising Telinga berdengung Kehilangan pendengaran menetap, biasanya dimulaidari frekuensi 4000 Hz

3.

Daftar Skala Intensitas Kebisingan Tingkat kebisingan Menulikan Intensitas (dB) 100-120 Batas dengar tertinggi Halilintar Meriam Mesin uap Sangat hiruk pikuk 80-90 Jalan hiruk pikuk Perusahaan sangat gaduh Pluit polisi Kuat 60-70 Kantor gaduh Jalan pada umumnya Radio Perusahaan Sedang 40-50 Rumah gaduh Kantor umunya Percakapan kuat Radio perlahan Tenang 20-30 Rumah tenag Kantoer perorangan Auditorium Percakapan
13

Sangat tenang

0-10

Bunyi daun Berbisik Batas dengar terendah

4.

Pencegahan Ketulian dari Proses Bising Prinsip pencegahan ketulian dari proses bising adalah menjauhi dari sumber bising.

Untuk tujuan itu dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. a. b. c. Memberikan pelumas dan peredam pada mesin yang menghasilkan bising Menggunakan tembok pemisah antara sumber bising dengan tempat kerja. Menggunakan pelindung telinga

H. Suara Suara dihasilkan oleh getaran suatu benda. Selama bergetar, perbedaan tekanan terjadi di udara sekitarnya. Peningkatan tekanan disebut kompresi, sedangkan penurunannya disebut rarefaction. Suara adalah fenomena fisik yang dihasilkan oleh getaran benda, getaran suatu benda yang berupa sinyal analog dengan amplitudo yang berubah secara kontinyu terhadap waktu. Pada hakekatnya suara dan bunyi adalah sama. Hanya saja kata suara dipakai untuk makhluk hidup, sedangkan bunyi dipakai untuk benda mati. a. Aliran udara yang dihasilkan dorongan otot paru-paru bersifat konstan. Ketika pita suara dalam keadaan berkontraksi, aliran udara yang lewat membuatnya bergetar. b. Aliran udara tersebut dipotong-potong oleh gerakan pita suara menjadi sinyal pulsa yang kemudian mengalami modulasi frekuensi ketika melewati pharynx, rongga mulut ataupun pada rongga hidung. Sinyal suara yang dihasilkan pada proses ini dinamakan sinyal voiced sound. c. Suara bicara normal merupakan hasil dari modulasi udara yang keluar dari dalam tubuh. d. Beberapa bunyi ayang dihasilkan melalui mulut tanpa menggunakan pita suara disebut Unvoiced sound, merupakan aliran udara melalui penciutan/konstriksi yang dibentuk oleh lidah, gigi, bibir dan langit-langit. Misalnya p, t, k, s, dan ch, secara perinci: e. p, t, dan k suara/bunyi letupan (plosive sound)
14

f.

S, f, dan ch suara/bunyi frikatif (fricative sound)

Proses produksi suara pada manusia dapat dibagi menjadi tiga buah proses fisiologis, yaitu : o pembentukan aliran udara dari paru-paru, o perubahan aliran udara dari paru-paru menjadi suara, baik voiced, maupun unvoiced yang dikenal dengan istilah phonation, dan artikulasi yaitu proses modulasi/ pengaturan suara menjadi bunyi yang spesifik. o Organ tubuh yang terlibat pada proses produksi suara adalah : paru-paru, tenggorokan (trachea), laring (larynx), faring (pharynx), pita suara (vocal cord), rongga mulut (oral cavity), rongga hidung (nasal cavity), lidah (tongue), dan bibir (lips).

PEMBENTUKAN SUARA (FONASI) Pada pembentukan suara vokal, pita suara tertarik saling mendekat oleh otot, udara di paru dihembuskan, tekanan dibawah pita suara meningkat dan pita suara yang tertutup dipaksa membuka. Terjadi aliran cepat udara ke atas yang menyebabkan penurunan tekanan di antara pita, menyebabkan pita suara bergerak bersama, menghambat keluarnya udara secara parsial. Rongga mulut berubah bentuk akibat garakan lidah, rahang bawah, palatum lunak, dan pipi untuk menentukan suara yang diucapkan. Kadang-kadang hilangnya suara, gangguan bicara, atau rasa sakit timbul akibat obstruksi di pita suara. Hal tersebut perlu dilakukan pemeriksaan, salah satu metode yang digunakan adalah laringoskopi. Metode lain juga yang digunakan adalah MRI, USG, dan berbagai prosedur radiologis misalnya sinar-X, CT-scan, dan sebagainya.

Frekuensi dasar dari hasil vibrasi yang kompleks tergantung dari massa dan tegangan dari pita suara.
15

Laki-laki mempunyai frekuensi suara 125 Hz. Wanita mempunyai frekuansi suara 250 Hz. Suara berhubungan erat dengan rasa mendengar.

Pada sistem pengenalan suara oleh manusia terdapat tiga organ penting yang saling berhubungan yaitu : telinga yang berperan sebagai transduser dengan menerima sinyal masukan suara dan mengubahnya menjadi sinyal syaraf, jaringan syaraf yang berfungsi mentransmisikan sinyal ke otak, dan otak yang akan mengklasifikasi dan mengidentifikasi informasi yang terkandung dalam sinyal masukan.

I. Vibrasi Vibrasi adalah getaran, dapat disebabkan oleh getaran udara atau getaran mekanis lainnya.Dibedakan menjadi: Vibrasi karena getaran udara yang pengaruhnya pada akustik Vibrasi karena getaran mekanis mengakibatkan timbulnya resonansi/ turut bergetarnya alat-alat tubuh dan pengaruh terhadap alat alat tubuh.

1.Penjalaran Vibrasi Udara dan Efek yang Timbul Vibrasi udara oleh karena benda bergetar dan diteruskan melalui udara akan mencapai telinga. Getaran dengan frekuensi 1-20 Hz tidak akan terjadi gangguan penguatan pendengaran tetapi pada intensitas lebih dari 140 dB akan terjadi gangguan vestibuler yaitu gangguan orientasi,kehilangan keseimbangan dan mual-mual. Akan timbul nyeri telinga,nyeri dada dan bisa terjadi getaran seluruh tubuh. 2.Penjalaran Vibrasi Mekanik dan Efek yang Timbul Penjalaran vibrasi mekanik melalui sentuhan atau kontak dengan permukaan benda yang bergerak,sentuhan ini melalui daerah yang terlokalisasi (tool-hand vibration) atau mengenai seliruh tubuh (whole body vibration). Bentuk tool hand vibration merupakan bentuk yang terlazim dalam proses pekerjaan.

16

Efek vibrasi terhadap tubuh tergantung besar kecilnya frekuensi yang mengenai tubuh. Pada frekuensi : 3-9 Hz : akan timbul resonansi pada dada dan perut 6-10 Hz :dengan intensitas 0.6 g tekanan darah,denyut jantung,pemakaian O2 dan volume perdenyut sedikit berubah. Pada intensitas 1.2 g terlihat banyak perubahan system peredaran darah. 10 Hz : leher,kepala,pinggul,kesatuan otot dan tulang akan beresonansi. Tenggorokan akan mengalami resonansi.

Pada frekuensi kurang dari 20 Hz,tonus otot akan meningkat, akibat kontraksi statis ini otot menjadi lemah,rasa tidak enak dan kurang ada perhatian. Pada frekuensi diatas 20 Hz otototot menjadi kendor dan frekuensi 30-50 Hz digunakan dalam kedokteran olahraga untuk memulihkan otot-otot sesudah kontraksi luar biasa.

Efek vibrasi terhadap tangan : Getaran dalam jangka waktu cukup lama akan menimbulkan kelainan pada tangan berupa : Kelainan pada persyarafan dan peredaran darah. Gejala kealinan ini mirip dengan phenomena Raynaud yaitu keadaan pucat dan biru dari anggota badan,pada saat anggota badan kedinginan, tanpa ada penyumbatan pembuluh darah tepid an tanpa kelainankelainan gizi. Phenomena Reynaud ini terjadi pada frekunsi sekitar 30-40 Hz. Kerusakan-kerusakan pada persendian tulang

Sikap Tubuh Terhadap Getaran Mekanis Badan merupakan susunan elastic yang kompleks dengan tulang sebagai penyokong alatalat dan landasan kekuatan serta kerja oto. Kerangka,alat-alat,urat danotot memiliki sifat elastic yang bekerja secara serentak sebagai peredam dan penghantar getaran. Pengaruh getaran terhadap tubuh ditentukan sekali oleh posisi tubuh atau sikap tubuh. Pada tungkailurus akan mengahanta 100% getaran ke dalam badan, sedangkan dalam posisi duduk tungkai akan berlaku sebagai peredam. Mencegah getaran mekanis :

17

Getaran suatu benda dapat dihindari dengan meletakkan bahan peredam dibawah benda yang bergetar. Bhan peredam sebaiknya sekitar 1 Hz. Selain itu tempat duduk atau alas kaki diletakkan bahan peredam. Tebal tempat duduk dan alas kaki sangat menentukan besar redaman.

j. Doppler Efek Doppler, dinamakan mengikuti tokoh fisika, Christian Andreas Doppler, adalah perubahan frekuensi atau panjang gelombang dari sebuah sumber gelombang yang diterima oleh pengamat, jika sumber suara/gelombang tersebut bergerak relatif terhadap pengamat/pendengar. Untuk gelombang yang umum dijumpai, seperti gelombang suara yang menjalar dalam medium udara, perhitungan dari perubahan frekuensi ini, memerlukan kecepatan pengamat dan kecepatan sumber relatif terhadap medium di mana gelombang itu disalurkan. Efek Doppler total, f, dapat merupakan hasil superposisi dari gerakan sumber dan/atau gerakan pengamat, sesuai dengan rumusan berikut:

di mana adalah kecepatan gelombang dalam medium adalah kecepatan sumber gelombang relatif terhadap medium; positif jika pengamat mendekati sumber gelombang/suara. adalah kecepatan pengamat (receiver) relatif terhadap medium; positif jika sumber menjauhi pengamat.

18

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP-48/MENLH/11/1996 TENTANG BAKU TINGKAT KEBISINGAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP

Menimbang a. bahwa untuk menjamin kelestarian lingkungan hidup agar dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, setiap usaha atau kegiatan perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau perusakan lingkungan. b. bahwa salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Baku Tingkat Kebisingan.

Mengingat 1.Undang-undang gangguan (Hinder Ordonnantie) Tahun 1926, Stbl. Nomor 226,setelah diubah dan ditambah terakhir dengan Stbl. 1940 Nomor 450. 2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan lembaran Negara 2831) 3.Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara 2918) 4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara 3037) 5. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara 3215) 6. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara 3274)

19

7. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara 3480) 8.Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100 , Tambahan Lembaran Negara 3495) 9.Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara 3501) 10.Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara 3538) 11. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan VI. 12. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara.

Memutuskan dan Menetapkan

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG BAKU TINGKAT KEBISINGAN

Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1.Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. 2.Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang dinyatakan dalam satuan decibel yang disingkat dengan db. 3.Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. 4. Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa. 5. Menteri adalah Menteri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup.
20

Pasal 2 Baku Tingkat Kebisingan, metoda pengukuran, perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan adalah sebagaimana tersebut dalam Lampiran I dan Lampiran II Keputusan ini.

Pasal 3 Menteri menetapkan baku tingkat kebisingan untuk usaha atau kegiatan di luar peruntukan kawasan/lingkungan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran keputusan ini setelah memperhatikan masukan dari instansi teknis yang bersangkutan.

Pasal 4 (1) Gubernur dapat menetapkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan sebagaimana tersebut dalam Lampiran I. (2) Apabila Gubernur belum menetapkan baku tingkat kebisingan maka berlaku ketentuan sebagaimana tersebut dalam Lampiran Keputusan ini.

Pasal 5 Apabila analisis mengenai dampak lingkungan bagi usaha atau kegiatan mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan dalam Lampiran Keputusan ini, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan.

Pasal 6 (1) Setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan wajib : a. mentaati baku tingkat kebisingan yang telah dipersyaratkan; b. memasang alat pencegahan terjadinya kebisingan c. menyampaikan laporan hasil pemantauan tingkat kebisingan sekurang - kurangnya 3 bulan sekali kepada Gubernur, Menteri, Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan dan instansi Teknis yang membidangi kegiatan yang bersangkutan serta instansi lain yang dipandang perlu.

21

(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan dalam izin yang relevan untuk mengendalikan tingkat kebisingan dari setiap usaha atau kegiatan yang bersangkutan.

Pasal 7 Bagi usaha atau kegiatan yang telah beroperasi, maka : a.baku tingkat kebisingan lebih longgar dari ketentuan dalam Keputusan ini, wajib disesuaikan dalam waktu selambat-lambatnya 2 tahun terhitung sejak ditetapkan Keputusan ini. b. baku tingkat kebisingan lebih ketat dari Keputusan ini, dinyatakan tetap berlaku.

Pasal 8 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal : 25 November 1996

Menteri Negara Lingkungan Hidup, Ttd. Sarwono Kusumaatmadja.

LAMPIRAN I

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP-48/MENLH/11/1996 TANGGAL :25 NOVEMBER 1996

BAKU TINGKAT KEBISINGAN Peruntukan Kawasan/ Lingkungan Kegiatan Tingkat kebisingan DB (A) a.Peruntukan kawasan 1.Perumahan dan pemukiman
22

2.Perdagangan dan Jasa 3.Perkantoran dan Perdagangan 4.Ruang Terbuka Hijau 5.Industri 6.Pemerintahan dan Fasilitas Umum 7.Rekreasi 8.Khusus: - Bandar udara - Stasiun Kereta Api - Pelabuhan Laut - Cagar Budaya

b.Lingkungan Kegiatan 1.Rumah Sakit atau sejenisnya 2.Sekolah atau sejenisnya 3.Tempat ibadah atau sejenisnya Keterangan : disesuaikan dengan ketentuan Menteri Perhubungan

LAMPIRAN II KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP-48/MENLH/11/1996 TANGGAL :25 NOVEMBER 1996 METODA PENGUKURAN,PERHITUNGAN DAN EVALUASI TINGKAT KEBISINGAN LINGKUNGAN

1.Metoda Pengukuran Pengukuran tingkat kebisingan dapat dilakukan dengan dua cara : 1) Cara Sederhana Dengan sebuah sound level meterbiasa diukur tingkat tekanan bunyi dB (A) selama 10 menit untuk tiap pengukuran.
23

(B) Pembacaan dilakukan setiap 5 (lima) detik. 2) Cara Langsung Dengan sebuah integrating sound levelmeter yang mempunyai fasilitas pengukuran LTM5, yaitu Leq dengan waktu ukur setiap 5 detik, dilakukan pengukuran selama 10 menit. Waktu pengukuran dilakukan selama aktifitas 24 jam (LSM) dengan cara pada siang hari tingkat aktifitas yang paling tinggi selama 16 jam (LS) pada selang waktu 06.00 22.00 dan aktifitas malam hari selama 8 jam (LM) pada selang waktu 22.00 06.00. Setiap pengukuran harus dapat mewakili selang waktu tertentu dengan menetapkan paling sedikit 4 waktu pengukuran pada siang hari dan paling sedikit 3 waktu pengukuran pada siang hari, sebagai contoh : - L1 diambil pada jam 07.00 mewakili jam 06.00 09.00 - L2 diambil pada jam 10.00 mewakili jam 09.00 11.00 - L3 diambil pada jam 15.00 mewakili jam 14.00 17.00 - L4 diambil pada jam 20.00 mewakili jam 17.00 22.00 - L5 diambil pada jam 23.00 mewakili jam 22.00 24.00 - L6 diambil pada jam 01.00 mewakili jam 24.00 03.00 - L7 diambil pada jam 04.00 mewakili jam 03.00 06.00

Keterangan : - Leq : Equivalent Continuous Noise Level atau Tingkat Kebisingan Sinambung Setara ialah nilai tingkat kebisingan dari kebisingan yang berubah ubah (fluktuatif) .

24

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONSIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : KEP51/MEN/I999 TENTANG NILAI AMBANG BATAS FAKTOR FISIKA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA

Menimbang a.Bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 3 ayat (1) huruf g Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. perlu ditetapkan Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di tempat Kerja. b. Bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri.

Mengingat

1.Undang - Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang ketentuan - ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja. 2. Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. 3. Keputusan Presiden R.I. Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan. 4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER 05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP 28/MEN/1994 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Tenaga Kerja.

Memutuskan dan Menetapkan

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA TENTANG NILAI AMBANG BATAS FAKTOR FlSIKA DI TEMPAT KERJA

25

Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan : 1.Tenaga Kerja adalah tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 2.Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya. 3.Nilai Ambang Batas yang selanjutnya disingkat NAB adalah standar faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. 4. Faktor fisika adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat tisika yang dalam keputusan ini terdiri dari iklim kerja, kebisingan, getaran, gelombang mikro dan sinar ultra ungu. 5.Iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban. kecepatan gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya. 6.Suhu kering (Dry Bulb Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh termometer suhu kering. 7.Suhu basah alami (Nat Wet Bulb Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh thermometer bola basah alami (Natural Wet bulb Thermometer). 8.Suhu bola (Globe Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh termometer bola (Globe Thermometer). 9. Indeks Suhu Basah dan Bola (Wet Bulb Globe Temperature Index) yang disingkat dengan ISBB adalah parameter untuk menilai tingkat iklim kerja yang merupakan hasil perhitungan antara suhu udara kering, suhu basah alami dan suhu bola. 10. Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat- alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

26

11.Getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau media dengan arah bolak- balik dari kedudukan keseimbangannya. 12.Radiasi frekuensi radio dan gelombang mikro (microwave) adalah radiasi elektro magnetik dengan frekuensi 30 kilohertz sampai 300 Giga Hertz. 13.Radiasi ultra ungu (Ultraviolet) adalah radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang 180 nano meter sampai 400 nano meter (nm). 14.Pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri. 15.Pengusaha adalah : a. Orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik sendiri dan untuk keper!uan itu menggunakan tempat kerja. b. Orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan sesuatu usaha bukan miliknya dan untuk keperluan itu menggunakan tempat kerja. c.Orang atau badan hukum, yang di Indoncsia mewakili orang atau badan hukum sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b jikalau yang diwakili berkedudukan di luar wilayah Indonesia. 16.Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan adalah Pegawai teknis berkeah!ian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri. 17.Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. Pasal 2 NAB iklim kerja menggunakan parameter ISBB sebagaimana tercantum dalam lampiranI.

Pasal 3 (1) NAB kebisingan ditetapkan sebesar 85 desi Bell A (dBA). (2) Kebisingan yang melampaui NAB, waktu pemajanan ditetapkan sebagaimana tercantum dalam lampiran II.

Pasal 4 (1) NAB getaran alat kerja yang kontak langsung maupun tidak langsung pada lengan dan tangan tenaga kerja ditetapkan sebesar 4 meter per detik kuadrat (m/det2).
27

(2) Getaran yang melampaui NAB, waktu pemajanan ditetapkan sebagaimana tercantum dalam lampiran III.

Pasal 5 NAB radiasi frekuensi radio dan gelombang mikro ditetapkan sebagaimana tercantum dalam lampiran IV.

Pasal 6 (1) NAB radiasi sinar ultra ungu ditetapkan sebesar 0,1 mikro Watt persentimeter persegi (.uW/crn2). (2) Radiasi sinar ultra ungu yang melampaui NAB waktu pemajanan ditetapkan sebagaimana tercantum dalam lampiran V.

Pasal 7 (1) Pengukuran dan penilaian faktor fisika di tempat kerja dilaksanakan oleh Pusat dan atau Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja atau pihak-pihak lain yang ditunjuk. (2) Persyaratan pihak lain untuk dapat ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. (3) Hasil pengukuran dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pimpinan perusahaan atau pengurus perusahaan dan kantor Departemen Tenaga Kerja setempat.

Pasal 8 Pelaksanaan pengukuran dan penilaian faktor fisika di tempat kerja berkoordinasi dengan kantor Departemen Tenaga Kerja setempat.

Pasal 9 Peninjauan NAB faktor fisikadi tempat kerja dilakukan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

28

Pasal l0 Pengusaha atau pengurus harus melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini.

Pasal 11 Dengan berlakunya Keputusan Menteri ini. maka Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja transmigrasi dan Koperasi Nomor SE-01/MEN/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) Untuk iklimKerja dan Nilai Ambang Batas (NAB) Untuk Kebisingan di tempat kerja dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pasal 12 Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Diletapkan di : Jakarta Pada tanggal : 16 April 1999

LAMPIRAN I: KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : KEP. 51/MEN/1999 TANGGAL : 16 APRIL 1999 NILAI AMBANG BATAS IKLIM KERJA INDEKS SUHU BASAH DAN BOLA (ISBB) YANG DIPERKENANKAN ISSB ( oC ) Pengaturan waktu kerja setiap jam Beban Kerja ,Waktu Kerja ,Waktu Istirahat : Ringan,Sedang, Berat, Bekerja terus menerus (8 jam/hari). * 75% kerja *25% istirahat *50% kerja *50% istirahat *25% kerja *75% istirahat

29

Indek Suhu : *32,2 *31,1 *30,0

*Indeks Suhu Basah dan Bola untuk di luar ruangan dengan panas radiasi : ISBB : 0,7 Suhu basah alami + 0,2 Suhu bola + 0, I Suhu kering. *lndeks Suhu Basah dan Bola untuk di dalam atau di luar ruangan tanpa panas radiasi: ISBB = 0,7 Suhu basah alami + 0,3 Suhu bola. Catatan: -Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100 -200 Kilo kalori/jam -Beban kerja sedang membutuhkan kalori > 200 -350 Kilo kalori/jam -Beban kerja berat membutuhkan kalori > 350 -500 Kilo kalori/jam

Diletapkan di : Jakarta Pada tanggal : 16 April 1999

LAMPIRAN II KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR KEP.51/MEN/1999 TANGGAL 16 A PR I L 1999 NILAI AMBANG BATAS KEBISINGAN

Waktu pemajanan per hari Intensitas Kebisingan dalam dBA, adalah : 8 Jam 30Menit Catatan: Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dBA, walaupun sesaat.

Diletapkan di : Jakarta Pada tanggal : 16 April 1999

30

LAMPIRAN III

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : KEP.51/MEN/I999 TANGGAL : 16 APRIL 1999

NILAI AMBANG BATAS GETARAN UNTUK PEMAJANAN LENGAN DAN TANGAN

Nilai percepatan pada frekuensi dominan Jumlah waktu pemajanan per hari kerja Meter per detik kuadrat Gram ( m/det2 ) Gram ,4 jam dan kurang dari 8 jam dan kurang dari 4 jam 60 menit, 1 jam dan kurang dari 2 jam Catatan: 1 Gram= 9,81 ml/det2

Diletapkan di : Jakarta Pada tanggal : 16 April 1999

LAMPIRAN IV KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR KEP. 51/MEN/1999 TANGGAL 16 APRIL 1999 NILAI AMBANG BATAS FREKUENSI RADIO/GELOMBANG MIKRO

*Frekuensi Power Density ( mW/cm2 ) * Kekuatan Medan listrik ( V/m ) *Kekuatan medan magnet ( A/m ) Rata-rata Waktu Pemajanan (menit) adalah : 30 kHz -100 kHz

31

Keterangan : *kHz : Kilo Hertz *MHz : Mega Hertz GHz : Gega Hertz *f : frekuensi dalamMHz *mW/cm2 : mili Watt per senti meter persegi *VIm: Volt per Meter *A/m : Amper per Meter

Diletapkan di : Jakarta Pada tanggal : 16 April 1999

32